Anda di halaman 1dari 10

BAB II

TINJAUAN UMUM

2.1 Sejarah Singkat PT Freeport Indonesia


Sejarah keberadaan PT Freeport Indonesia di Papua dimulai dari laporan hasil
eksplorasi yang dilakukan oleh seorang ahli geologi New Guinea asal Belanda
yang bernama Jean Jaques Dozy pada tahun 1936 yang menemukan cadangan
Gunung Bijih Timur (Ertsberg) di sekitar Pegunungan Jayawijaya Papua.
Sejarah perkembangan PT Freeport Indonesia dilanjutkan dengan eksplorasi
detail pada tahun 1960 hingga 1967 yang dilakukan oleh Forbes Wilson seorang
ahli geologi dari Freeport Sulphur Company. Forbes Wilson melakukan
eksplorasi detail berdasarkan laporan eksplorasi Jean Jaques Dozy yang berjudul
Leidsche Geoloische Mededeelingan - 1939. PT Freeport Indonesia
Incorporation merupakan anak perusahaan PT Freeport Mcmoran yang berada di
New Orleans. PT Freeport Indonesia Incorporate merupakan suatu perusahaan
yang mengkhususkan usaha pada eksploitasi sumber daya mineral berupa emas,
perak dan tembaga. Berdasarkan temuan tersebut, maka dilanjutkan dengan
Kontrak Karya Generasi I selama 30 tahun dengan pemerintah Indonesia pada
tanggal 7 April 1967 yang dilanjutkan dengan kegiatan eksplorasi dan studi
kelayakan hingga tahun 1972. Pada tahun 1970 juga dilakukan konstruksi secara
besar-besaran dalam upaya pra-penambangan. Pada tahun 1972, PT Freeport
Indonesia sudah memulai mengekspor komoditas konsentratnya.

Setelah Ertsberg, sejarah PT Freeport Indonesia berlanjut dengan ditemukannya


cadangan bijih baru di Grasberg yang merupakan cadangan bijih kelas dunia.
Cadangan bijih Grasberg ditemukan oleh seorang ahli geologi pada tahun 1988.
Cadangan emas Grasberg merupakan cadangan emas terbesar dunia, sedangkan
untuk cadangan tembaganya menduduki peringkat ketiga dunia. Dengan
ditemukannya cadangan Grasberg, Kontrak Karya PT Freeport Indonesia
diperpanjang dengan ditandatanganinya Kontrak Karya II dengan pemerintah
Indonesia pada 30 Desember 1991 dengan luas area Kontrak Karya seluas
10.000 Ha. Pada tanggal 26 Desember 1991, PT Freeport Indonesia

5
Incorporated yang semula berbadan hukum di New Orleans, Amerika Serikat
melebur menjadi PT Freeport Indonesia yang berbadan hukum di Indonesia.
Pada tahun 2001, PT Freeport Indonesia telah mampu memproduksi konsentrat
sebesar 1,5 juta pon tembaga dan 2,3 juta pon emas.

Gambar 2.1
Peta Lokasi PT Freeport Indonesia

Gambar 2.2
Wilayah Kontrak Kerja PT Freeport Indonesia

6
2.2 Lokasi dan Ketersampaian Daerah
Secara geografis, lokasi penambangan Grasberg berada pada posisi 04 03 25
sampai 04 08 37 LS dan 137 07 02 sampai 137 13 11 BT pada jajaran
Pegunungan Sudirman dengan ketinggian rata-rata 3800 4000 meter di atas
permukaan laut. Secara administratif, lokasi penambangan Grasberg berada di
Kecamatan Mimika, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua. Kegiatan operasi PT
Freeport Indonesia dengan luas Kontrak Karya seluas 10.000 Ha membentang
dari lokasi penambangan Grasberg hingga ke Pelabuhan Amamapare yang
berjarak kurang lebih 125 km.

Secara garis besar, wilayah operasi PT Freeport Indonesia dibagi menjadi dua
wilayah utama, yaitu :
1. Daerah Highland
Daerah Highland merupakan dataran tinggi dengan ketinggian antara 1900
4000 m di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata antara 8o 22o Celcius.
Pada daerah ini terdapat kota Tembagapura dan lokasi tambang terbuka
Grasberg serta tambang bawah tanah Big Gossan, Amole, Kucing Liar dan
juga daerah mill site.
2. Daerah Lowland
Daerah Lowland adalah daerah yang mencakup lokasi pelabuhan
Amamapare (Portsite), perumahan karyawan dan kantor administrasi di
Kuala Kencana serta beberapa lokasi pendukung lainnya.

Untuk mencapai tambang terbuka Grasberg, secara umum jika dimulai dari kota
Jakarta maka perjalanannya bisa digambarkan sebagai berikut :
Perjalanan dimulai dari Jakarta dengan menumpang pesawat udara milik
perusahaan (AIRFAST) selama sekitar 1.5 jam ke Surabaya. Di Surabaya transit
kurang lebih 1 jam, lalu perjalanan dilanjutkan ke Makassar selama kurang lebih
2 jam. Di Makassar transit sekitar 2 jam, lalu perjalanan dilanjutkan ke Timika
selama kurang lebih 2 jam. Dari Bandara Moses Kilangin di daerah Lowland
Timika perjalanan dilanjutkan dengan transportasi darat menggunakan bus atau
LV (Light Vehicle) ke kota Tembagapura di daerah Highland selama kurang
lebih 2 jam. Perjalanan melewati jalan yang menanjak hingga tiba di

7
Tembagapura. Dari kota Tembagapura, ada tiga jalur yang bisa digunakan untuk
mencapai tambang terbuka Grasberg, yaitu jalur yang pertama menggunakan
jalur bawah tanah (underground) yang memakan waktu kurang lebih 1 jam
hingga tiba di tambang terbuka Grasberg. Untuk melalui jalur ini kita harus
diperlengkapi dengan alat pengaman tambahan seperti lampu, masker dan alat
keselamatan darurat. Jalur yang kedua adalah melalui jalur HEAT (Heavy
Equipment Access Trail), jalur ini melalui sisi gunung yang berliku-liku.
Dibutuhkan waktu sekitar 1.5 jam untuk mencapai tambang terbuka Grasberg.
Jalur yang terakhir adalah jalur konvensional karyawan sehari-hari yang dimulai
dari Terminal Tembagapura dengan menumpang bis karyawan menuju ke
daerah mill site di Mile 74 selama sekitar 45 menit. Dari sini, perjalanan
dilanjutkan dengan menumpang trem menuju ke daerah GBT (Gunung Bijih
Timur) selama sekitar 10 menit. Dari GBT perjalanan dilanjutkan dengan
menumpang bis yang mengangkut karyawan ke daerah kerja masing-masing di
lokasi tambang terbuka Grasberg.

2.3 Iklim dan Curah Hujan


Suhu ratarata tahunan pada lokasi tambang terbuka Grasberg berkisar
antara 5o 15o Celcius. Hampir setiap hari turun hujan dan selalu diikuti kabut
tebal. Curah hujan yang tinggi dapat mengakibatkan jalan menjadi berlumpur
dan rusak.

Berikut di bawah ini grafik curah hujan harian dari tanggal 1 Mei 2006 hingga
7 Agustus 2006 :

8
10
9

Curah Hujan ( mm )
8
7
6
5
4
3
2
1
0

15 6

12 6

10 6
5/ 00 6

06
7/ 0 06

17 6

24 6

31 6
8/ 0 06
22 6

29 6
6/ 0 06

19 6

26 6

7/ 20 0

7/ 20 0

7/ 20 0
5/ 20 0

5/ 20 0

6/ 0 0

6/ 20 0

7/ 200
5/ 200

6/ 200

20
2

/2

/2

/2

/2
3/
5/
1/

8/

7/
/

/
5/

Tanggal

Grafik 2.1
Grafik Curah Hujan Harian Mulai 1 Mei 2006 7 Agustus 2006
(Sumber : PTFI Hydrology Department)

2.4 Tipe Material Tambang Terbuka Grasberg


Pada tambang terbuka Grasberg, terdapat delapan jenis material yang
penamaannya dilakukan oleh Departemen Geologi Grasberg sebagai berikut :
1. Stockwork
Merupakan material yang terdiri dari 10% kuarsa yang teruratkan dan 1.2 %
ekivalen tembaga. Sering teruratkan dan termineralisasi.
2. Coarse Dalam
Tidak ada urat sulfur, terdapat sedikit urat anhydrite, berwarna hijau coklat
pada permukaan asli, tekstur batuan beku asli dapat dilihat.
3. Fine Dalam
Semua jenis batuan dalam tanpa terkecuali.
4. Hard Zone
Merupakan material yang sangat keras, terdiri dari anhydrite, andalusite,
biotite, quartz, Kais yang bersatu dan saling mengikat satu sama lain.
Memiliki urat sulfur gypsum yang menonjol.
5. Heavy Sulfide Zone
Merupakan material yang berada di sekeliling zona intusif Grasberg.

9
6. Kali
Berwarna cerah, mengandung banyak plagioklas (45-55%), bertekstur padat,
hornblende besar.
7. Pokerchip
Merupakan hasil pelindian (leaching) dari anhydrite, andalusite, biotie,
quartz yang bersatu dan menyerap satu sama lain yang menghasilkan
material biotit kwarsa yang rapuh.
8. Sedimen
Merupakan material yang memperlihatkan berbagai tingkat kandungan
sulfida, alterasi marble hornfels & skarn dan memiliki sedikit urat kwarsa
pirit - kalkopirit.

2.5 Kegiatan Penambangan


Kegiatan penambangan di PT Freeport Indonesia dilakukan menggunakan dua
metode bergantung pada posisi bijih yang akan ditambang, yaitu dengan
metode tambang bawah tanah (Underground Method) dan juga metode tambang
terbuka (Open Pit Method). Tambang Grasberg menggunakan metode tambang
terbuka (Open Pit).

Kegiatan penambangan di tambang terbuka Grasberg dimulai dengan kegiatan


pengeboran (drilling) berupa pembuatan lubang ledak sebagai upaya sebelum
dilakukan peledakan. Alat bor yang digunakan adalah jenis rotary drill (bor
putar) dan rotary percussion drill (bor putar dan tekan).

Berikutnya adalah kegiatan peledakan (blasting) yang terdiri dari dua jenis yaitu
peledakan produksi (Production Blasting Parameters) dan peledakan untuk
membuat bench (Buffer Blasting Parameters).

Dan yang terakhir adalah kegiatan pemuatan (loading) dan pengangkutan


(hauling). Kegiatan pemuatan bertujuan untuk memuat material yang telah
terberaikan setelah diledakkan dengan menggunakan alat muat power shovel ke
dalam bak penampungan haul truck. Sedangkan kegiatan pengangkutan

10
(hauling) bertujuan untuk mengangkut material yang telah dimuat menuju ke
waste dump atau ke crusher untuk diproses lebih lanjut.

2.6 Waste Dump (Tempat Pembuangan Tanah Penutup)


Material penutup (overburden) merupakan material yang tidak cukup
mengandung logam berharga yang harus disingkirkan untuk mengambil bijih.
Pada tambang terbuka Grasberg, secara geokimia material penutup ini
diklasifikasikan dalam beberapa jenis.

Berdasarkan material potensi penyebab air asam tambang, tanah penutup akan
ditimbun ke beberapa lokasi penimbunan, yaitu :
Koteka 4225 C ( ketinggian 4225 m dpl)
Jenis material yang dibuang pada area ini yaitu : green coarse waste, red
coarse waste, red medium coarse waste, green medium coarse waste.
Batu Bersih 4255 R (ketinggian 4255 m dpl)
Jenis material yang dibuang pada area ini yaitu : red waste, red coarse
waste, mud waste, red medium coarse waste.
Batu Bersih 4255 F (ketinggian 4255 m dpl)
Jenis material yang dibuang pada area ini yaitu : red waste, green coarse
waste, green medium coarse, red medium coarse.
Bali 4030 F ( ketinggian 4015 m dpl)
Jenis material yang dibuang yaitu : red coarse waste, green medium coarse
waste.
Bali 4030 O ( ketinggian 4030 m dpl)
Jenis material yang dibuang pada area ini yaitu : mud waste dan red medium
coarse.
Bali 3970 N (ketinggian 3970 m dpl)
Jenis material yang dibuang pada area ini yaitu : blue waste, red waste,
green medium coarse.
Bali 3940 F (ketinggian 3940 m dpl)
Jenis material yang dibuang pada area ini yaitu : green coarse waste, red
coarse waste, green medium coarse waste, red medium coarse waste.

11
Ada beberapa dampak yang dapat disebabkan oleh penimbunan batuan penutup
yaitu :
Perubahan geomorfologi.
Bahaya longsor.
Kehilangan habitat.
Air asam tambang.

Pengelolaan batuan penutup untuk menghindari masalah masalah di atas


adalah dengan :
1. Klasifikasi tipe batuan penutup, penempatan secara selektif dan
pencampuran.
2. Pemadatan permukaan dan penudungan timbunan.
3. Pembelokan air larian.
4. Penetralan dengan gamping.
5. Pengumpulan dan pemrosesan air asam.

2.7 Kajian Geoteknik Grasberg


Secara umum geometri jenjang yang digunakan adalah sebagai berikut:

a. Geometri Jenjang Daerah Penambangan


Jenjang untuk daerah penambangan memiliki tinggi 15 m dengan
kemiringan lereng tunggal (bench face angle) sebesar 70o dan kemiringan
lereng interramp sebesar 41o - 48o.

b. Geometri Jenjang Dumping Area


Jenjang untuk dumping area memiliki tinggi 15 dan 17 meter dengan
kemiringan lereng tunggal (bench face angle) sebesar 64o - 65o dan
kemiringan lereng interramp sebesar 38o - 55o.

12
Gambar 2.3
Bentuk Desain Bench di Tambang Terbuka Grasberg
(Sumber : PTFI Geotechnical Department)

Untuk kemiringan lereng interramp berdasarkan kajian geoteknik sampai tahun


2008 dibuat dengan membagi area Grasberg berdasarkan Cross Section. Cross
Section ini dibuat berdasarkan area-area yang dianggap dapat mengakibatkan
failure. Hasil kajian geoteknik ini digunakan sebagai dasar untuk mendesain
ramp jalan terutama di tahun 2005 (PB6S), 2006 (PB6N) dan 2008 (PB7S).

Berikut ini koordinat-koordinat cross section yang digunakan :

Tabel 2.1
Koordinat Cross Section untuk Desain Geoteknik Grasberg
(Sumber : PTFI Geotechnical Department)
Location
From To
No Cross - Section
Easting (m) Northing (m) Easting (m) Northing (m)
1 A - A' 34503.00 51348.00 34503.00 52700.00
2 B - B' 34485.00 51310.00 33455.00 51310.00
3 C - C' 34774.47 51320.64 34614.69 50096.00
4 D - D' 34533.00 51277.00 35507.00 51277.00

13
Desain geoteknik yang disarankan untuk membuat interramp slope berdasarkan
Cross Section yang digunakan mulai dari tahun 2005-2008. Berikut ini adalah
tabel sudut Interamp berdasarkan Cross Section.

Tabel 2.2
Sudut Interamp Berdasarkan Cross Section
(Sumber : PTFI Geotechnical Department)

Interamp Interamp Slope Angle


o
Slope Recommended ( )
Wall Dip
Cross - Angle
NO Direction PushBack Year
Section Proposed Intrusive
( N/E ) LST HSZ Pokerchip
Design Rock
o
( )
1 A - A' 180 PB6N 2006 40 45 - 46 48 40 37 - 40
90 PB6S 2005 44 48 48 40 37 - 40
2 B - B'
90 PB7S 2006 43 48 48 40 37 - 40
9 PB6S 2005 40 48 48 40 37 - 40
3 C - C'
9 PB7S 2006 40 48 48 40 37 - 40
270 PB6S 2005 30 (Ramps) 48 48 40 37 - 40
4 D - D'
270 PB7S 2006 43 48 48 40 37 - 40
225 PB6N 2006 40 45 - 48 41 40 37 - 40
Northeast
5 225 PB6S 2005 40 45 - 48 41 40 37 - 40
Wall
225 PB7S 2008 40 45 - 48 41 40 37 - 40
135 PB6N 2006 41 46 48 40 37 - 40
Northwest
6 135 PB6S 2005 40 46 48 40 37 - 40
Wall
135 PB7S 2008 40 46 48 40 37 - 40

14