Anda di halaman 1dari 29

KEBIJAKAN DAN PROSEDUR

PENERAPAN ANTI PENCUCIAN UANG DAN


PENCEGAHAN PENDANAAN TERORISME
PADA PENYELENGGARA KEGIATAN USAHA PENUKARAN
VALUTA ASING (KUPVA) BUKAN BANK
PT BARUMUN ABADI RAYA

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sehubungan telah dikeluarkannya Peraturan Bank Indonesia Nomor 12/3/PBI/2010


tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan
Terorisme pada Pedagang Valuta Asing Bukan Bank maka Direksi dengan persetujuan
Dewan Komisaris menetapkan kebijakan dan prosedur Penerapan Program Anti
Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme pada Pedagang Valuta Asing
Bukan Bank. Kebijakan ini diambil dengan pertimbangan sebagai berikut:
1. Adanya peningkatan risiko yang dihadapi Penyelenggara KUPVA Bukan Bank, perlu
diimbangi dengan peningkatan kualitas kehati-hatian dalam bertransaksi, yaitu
dengan melakukan Penerapan Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan
Terorisme (APU dan PPT) pada Penyelenggara KUPVA Bukan Bank, sekaligus untuk
mencegah industri Penyelenggara KUPVA dimanfaatkan sebagai media tindak
pidana pencucian uang;
2. Mendukung implementasi program Anti-Money Laundering and Combating the
Financing of Terrorism (AML/CFT) dari lembaga internasional the Financial Action
Task-Force on Anti-Money Laundering (FATF) 40 + 9 Recommendations, yang
merupakan lembaga penilaian suatu negara atas komitmennya dalam penerapan
program AML/CFT;
3. Keikutsertaan industri Penyelenggara KUPVA dalam mendukung program
pemerintah Gerakan Anti Pencucian Uang.
Kebijakan dan prosedur APU dan PPT ini merupakan penyesuaian dan penyempurnaan
Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer - KYC) yang telah lama dikenal dalam
industri keuangan.

Halaman 1 dari 29
Maksud dan Tujuan

1. Sebagai wujud dari PT Barumun Abadi Raya mematuhi dan menerapkan Anti
Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU dan PPT) sebagaimana
diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
2. Sebagai upaya untuk melindungi Penyelenggara KUPVA Bukan Bank tidak dijadikan
sebagai sarana atau sasaran tindak pidana pencucian uang dan/atau pendanaan
terorisme baik yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung oleh pelaku
tindak pidana.
3. Dalam rangka pengawasan dan monitoring intern, sehingga kegiatan usaha
dijalankan secara sehat dan bertanggung jawab.

PENERAPAN APU DAN PPT

Penerapan APU dan PPT pada Penyelenggara KUPVA Bukan Bank merupakan bagian
dari penerapan manajemen risiko Penyelenggara KUPVA Bukan Bank, yang paling
kurang mencakup :
1. Tanggung jawab Direksi dan pengawasan aktif Dewan Komisaris;
2. Kebijakan dan prosedur APU dan PPT:
a. Pelaksanaan Customer Due Diligence (CDD)
b. Beneficial Owner
c. Pelaksanaan Enhanced Due Diligence (EDD), terkait dengan nasabah, bidang
usaha dan negara berisiko tinggi
d. Anti Tipping off
e. Transaksi Keuangan Tunai Yang Dikecualikan dari Kewajiban Pelaporan ke
PPATK
f. Sanksi Tidak Menyampaikan Laporan Kepada PPATK
g. Penolakan Transaksi
h. Pengkinian Informasi dan Dokumen
i. Penatausahaan Dokumen
j. Pelaporan kepada PPATK
k. Tata Cara Pemberian Keterangan Terkait Dugaan Perkara TPPU
l. Perlindungan Hukum bagi Pelapor dan Saksi Dugaan TPPU
3. Pengendalian intern; dan
4. Sumber daya manusia.

Halaman 2 dari 29
BAB II
MANAJEMEN

Dalam rangka mendukung pelaksanaan Penerapan Anti Pencucian Uang dan


Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU dan PPT) pada Penyelenggara KUPVA Bukan
Bank, dibutuhkan perhatian dan pemahaman (awareness) dari Direksi dan Dewan
Komisaris. Untuk itu, Direksi dan Dewan Komisaris menetapkan pedoman penerapan
APU dan PPT pada Penyelenggara KUPVA Bukan Bank.

Dalam penerapan APU dan PPT, merupakan tanggung jawab Direksi dan
pengawasan aktif Dewan Komisaris dalam menciptakan efektivitas penerapan APU dan
PPT. Mengingat peranan Direksi dan Dewan Komisaris akan mempengaruhi tingkat
pencapaian tujuan organisasi dalam penerapan APU dan PPT. Selain itu, peranan
Direksi dan Dewan Komisaris juga dapat memotivasi karyawan dan unit kerja dalam
mendorong terbentuknya budaya kepatuhan di seluruh jajaran organisasi.

A. Penerapan APU dan PPT


Penerapan APU dan PPT dilaksanakan di Kantor Pusat Penyelenggara KUPVA
Bukan Bank, sesuai dengan kebijakan dan prosedur tertulis yang ditetapkan oleh
Direksi dengan persetujuan Dewan Komisaris.

B. Tanggung Jawab Direksi dan Pengawasan Aktif Dewan Komisaris


Direksi dan Dewan Komisaris memiliki peran aktif dan bertanggung jawab dalam
penerapan APU dan PPT di kantor PT Barumun Abadi Raya menunjuk Saudara
NurLaila Sari Hasibuan, sebagai Direktur di Kantor Pusat yang bertanggung jawab
dalam pelaksanaan APU dan PPT dan petugas yang terdaftar sebagai penghubung
pada sistem pelaporan LTKT dan LTKM di PPATK .

Tanggung Jawab Direksi Penyelenggara KUPVA Bukan Bank

Tanggung jawab Direksi Penyelenggara KUPVA Bukan Bank, paling kurang


mencakup:
a. menetapkan kebijakan dan prosedur tertulis penerapan APU dan PPT
berdasarkan persetujuan Dewan Komisaris;
b. memastikan penerapan APU dan PPT dilaksanakan di kantor pusat maupun
di kantor cabang sesuai dengan kebijakan dan prosedur tertulis yang telah
ditetapkan;
Halaman 3 dari 29
c. melakukan penyesuaian kebijakan dan prosedur tertulis mengenai penerapan
APU dan PPT sejalan dengan perubahan ketentuan yang berlaku terkait
dengan penerapan APU dan PPT;
d. melaporkan Transaksi Keuangan Mencurigakan dan Transaksi Keuangan
Tunai kepada PPATK;
e. memastikan bahwa seluruh pegawai telah memperoleh pengetahuan
dan/atau pelatihan mengenai penerapan APU dan PPT; dan
f. melakukan pengkinian profil nasabah dan profil transaksi nasabah.

1. Pengawasan aktif Dewan Komisaris Penyelenggara KUPVA Bukan Bank

Pengawasan aktif Dewan Komisaris, paling kurang mencakup:


a. memberikan persetujuan atas kebijakan penerapan APU dan PPT; dan
b. mengawasi pelaksanaan tanggung jawab Direksi terhadap penerapan APU
dan PPT.

C. Pegawai yang Menangani Penerapan APU dan PPT

Memperhatikan PT Barumun Abadi Raya memiliki skala usaha yang kompleks dan
risiko usaha yang tinggi, maka PT Barumun Abadi raya telah menunjuk pegawai
khusus yang menangani penerapan APU dan PPT atas dasar persetujuan Direksi.
Pegawai yang menangani Penerapan APU dan PPT yang ditunjuk :
1. Bp. Nugroho Widyatmoko yang merangkap tugas lain, yaitu tugas sebagai
Manager Operasional
2. melapor dan bertanggung jawab kepada salah satu anggota Direksi, yaitu
Direktur yang bertanggungjawab atas penerapan APU dan PPT.
3. Pegawai dimaksud memiliki tugas pokok sebagai berikut :
a. memantau pelaksanaan kebijakan dan prosedur penerapan APU dan PPT;
b. memantau pengkinian profil Nasabah dan profil transaksi Nasabah;
c. melakukan penataausahaan dokumen nasabah dan transaksi nasabah;
d. melakukan koordinasi pelaksanaan kebijakan dan prosedur APU dan PPT
dengan unit kerja terkait yang berhubungan dengan Nasabah;
e. memantau kesesuaian kebijakan dan prosedur dengan perkembangan
penerapan APU dan PPT terkini, kegiatan dan kompleksitas usaha
Penyelenggara KUPVA Bukan Bank, dan volume transaksi Penyelenggara
KUPVA Bukan Bank;

Halaman 4 dari 29
f. menerima laporan transaksi keuangan yang berindikasi mencurigakan (red
flag) dari bagian/unit kerja terkait (misalnya teller atau kantor cabang) yang
berhubungan dengan Nasabah;
g. mengidentifikasikan transaksi yang memenuhi kriteria mencurigakan;
h. menyusun Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan, Laporan Transaksi
Keuangan Tunai dan laporan lainnya sebagaimana diatur dalam Undang-
Undang Tindak Pidana Pencucian Uang untuk disampaikan kepada PPATK
berdasarkan persetujuan Direksi ;
i. dengan surat kuasa dari Direksi, melakukan pelaporan kepada PPATK untuk
Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan, Laporan Transaksi Keuangan
Tunai dan laporan lainnya.
j. memantau, menganalisis, dan merekomendasi kebutuhan pelatihan
penerapan APU dan PPT bagi pegawai Penyelenggara KUPVA Bukan Bank
secara berkala dan berkesinambungan; dan
k. berperan sebagai contact person bagi otoritas yang berwenang terkait dengan
kebijakan penerapan APU dan PPT antara lain Bank Indonesia, PPATK, dan
Penegak Hukum.

Halaman 5 dari 29
BAB III
KEBIJAKAN DAN PROSEDUR

Direksi berdasarkan persetujuan Dewan Komisaris menetapkan kebijakan dan


prosedur tertulis dalam penerapan APU dan PPT yang mencakup hal-hal sebagai
berikut:

A. PELAKSANAAN CUSTOMER DUE DILIGENCE (CDD)

Customer Due Diligence (CDD) adalah kegiatan berupa identifikasi, pencocokan,


dan pengkinian informasi yang dilakukan pegawai/teller untuk memastikan bahwa
transaksi tersebut sesuai dengan profil Nasabah. Pegawai/teller wajib melakukan
prosedur CDD pada saat:
1. melakukan transaksi dengan dan/atau memberikan jasa kepada Nasabah
dan/atau Beneficial Owner; atau
2. meragukan kebenaran informasi yang disampaikan oleh Nasabah dan/atau
Beneficial Owner.

Pada saat melakukan transaksi dengan dan/atau memberikan jasa kepada


Nasabah, pegawai/teller wajib :
1) meminta dan mencatat informasi Nasabah.
Informasi Nasabah tersebut dicocokkan terhadap dokumen pendukung yang
memuat informasi Nasabah dimaksud.
2) memperoleh informasi bahwa Nasabah bertindak untuk diri sendiri atau untuk
dan atas nama Beneficial Owner (BO). Pada saat meragukan kebenaran
informasi yang disampaikan oleh Nasabah dan/atau Beneficial Owner,
pegawai/teller wajib meminta informasi tambahan lain dari Nasabah untuk
mendukung identifikasi Nasabah.

Pelaksanaan CDD oleh pegawai/teller paling kurang mencakup hal-hal sebagai


berikut:

1. Penerimaan dan Permintaan Data Nasabah


Penerimaan dan permintaan data Nasabah dilakukan sesuai dengan kebijakan
dan prosedur penerimaan dan permintaan data Nasabah yang paling kurang
mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Bagi Nasabah yang melakukan transaksi dengan dan/atau menggunakan
jasa dengan nilai kurang dari Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) atau

Halaman 6 dari 29
ekuivalen dalam mata uang asing, paling kurang mencakup permintaan
informasi antara lain:
1) bagi Nasabah perorangan:
a) identitas Nasabah yang memuat:
(1) nama lengkap termasuk alias apabila ada;
(2) nomor dokumen identitas yang dibuktikan dengan
menunjukkan dokumen dimaksud; dan
(3) alamat tempat tinggal yang tercantum pada kartu identitas;
b) informasi mengenai Beneficial Owner, apabila Nasabah mewakili
Beneficial Owner; dan
c) nilai dan tanggal transaksi.

2) bagi Nasabah selain perorangan:


a) nama badan usaha;
b) nomor izin usaha dari instansi yang berwenang;
c) alamat kedudukan badan usaha;
d) informasi mengenai Beneficial Owner, apabila Nasabah mewakili
Beneficial Owner; dan
e) nilai dan tanggal transaksi.

b. Bagi Nasabah yang melakukan transaksi dengan dan/atau menggunakan


jasa dengan nilai Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) atau lebih atau
ekuivalen dalam mata uang asing, yang dilakukan dalam 1 (satu) kali
maupun beberapa kali transaksi dalam 1 (satu) hari kerja, paling kurang
mencakup:

1) bagi Nasabah perorangan:


a) identitas Nasabah yang disertai dengan fotokopi dokumen yang
memuat:
(1) nama lengkap termasuk alias apabila ada;
(2) nomor dokumen identitas yang dibuktikan dengan
menunjukkan dokumen dimaksud;
(3) alamat tempat tinggal yang tercantum pada kartu identitas;
(4) alamat tempat tinggal terkini termasuk nomor telepon apabila
ada;
(5) tempat dan tanggal lahir;
(6) kewarganegaraan;
(7) pekerjaan;

Halaman 7 dari 29
(8) jenis kelamin; dan
(9) NPWP apabila ada;

b) informasi mengenai Beneficial Owner, apabila Nasabah mewakili


Beneficial Owner; nilai dan tanggal transaksi; maksud dan tujuan
transaksi dan/atau penggunaan jasa; dan informasi lain yang
memungkinkan Penyelenggara KUPVA Bukan Bank untuk dapat
mengetahui profil Nasabah.

2) bagi Nasabah selain perorangan:

a) identitas badan usaha disertai dengan fotokopi dokumen


pendukung yang memuat:
(1) nama badan usaha;
nomor izin usaha dari instansi yang berwenang;
NPWP badan usaha;
(2) alamat kedudukan badan usaha;
jenis atau bidang usaha;
b) informasi mengenai Beneficial Owner, apabila Nasabah mewakili
Beneficial Owner;
c) nilai dan tanggal transaksi;
d) maksud dan tujuan transaksi dan/atau hubungan usaha; dan
e) informasi lain yang memungkinkan Penyelenggara KUPVA Bukan
Bank untuk dapat mengetahui profil Nasabah.

2. Verifikasi Dokumen

a. Informasi yang disampaikan Nasabah beserta dokumen pendukungnya


diteliti kebenarannya dengan melakukan pencocokan terhadap dokumen
asli pendukung yang memuat informasi tersebut.

b. Dalam rangka meyakini kebenaran identitas calon Nasabah, verifikasi


dilakukan antara lain dengan:

1) Pertemuan langsung (face to face) dengan Nasabah pada waktu


Penyelenggara KUPVA Bukan Bank pertama kali melakukan transaksi
dan/atau memberikan jasa kepada Nasabah dan/atau Beneficial Owner
yang bersangkutan.

Halaman 8 dari 29
2) Mencocokkan kesesuaian antara Nasabah (pembawa identitas) dengan
foto diri yang tercantum dalam kartu identitas, dan kesamaan tanda
tangan dalam voucher/form transaksi dengan identitas.
3) Memperhatikan adanya kemungkinan hal-hal yang tidak wajar atau
mencurigakan, misalnya masa berlaku KTP.

3. Pengkinian Informasi dan Dokumen

Direksi dan/atau pegawai khusus yang ditunjuk Direksi melakukan


pengkinian informasi dan dokumen terkait dengan profil Nasabah dan profil
transaksi Nasabah sesuai hasil pemantauan terhadap informasi dan dokumen
Nasabah agar identifikasi dan pemantauan transaksi keuangan yang
mencurigakan dapat berjalan secara efektif.
Dalam rangka pemantauan informasi terkait dengan profil Nasabah dan profil
transaksi Nasabah, Direksi menetapkan prosedur pemantauan dan pengkinian
informasi yang dapat mengidentifikasi, menganalisis, memantau, dan
menyediakan laporan secara efektif sebagaimana tertuang dalam Kebijakan
dan Prosedur ini.

4. Penatausahaan Dokumen

Pegawai khusus yang ditunjuk oleh Direksi wajib menatausahakan data atau
dokumen dengan baik untuk mendukung tata kelola perusahaan dan
membantu pihak yang berwenang apabila diperlukan dalam penyelidikan
terhadap dana-dana yang diindikasikan berasal dari hasil kejahatan. Dokumen
yang ditatausahakan paling kurang mencakup:
a. dokumen yang memuat identitas Nasabah sebagaimana dimaksud pada
butir A.1; dan
b. dokumen yang memuat informasi transaksi yang antara lain meliputi jenis
dan jumlah mata uang yang digunakan, tanggal perintah transaksi, asal
dan tujuan transaksi.

Jangka waktu penatausahaan dokumen adalah sebagai berikut:


a. dokumen yang terkait dengan informasi Nasabah dengan jangka waktu
paling kurang 5 (lima) tahun sejak berakhirnya transaksi dengan dan/atau
pemberian jasa kepada Nasabah;

Halaman 9 dari 29
b. dokumen Nasabah yang terkait dengan transaksi keuangan dengan jangka
waktu sebagaimana diatur dalam Undang-Undang yang mengatur
mengenai dokumen perusahaan.

B. BENEFICIAL OWNER

Pihak-pihak yang termasuk dalam pengertian Beneficial Owner meliputi:


1) Pihak yang memiliki dana;
2) Pihak yang mengendalikan transaksi dan/atau penggunaan jasa oleh
Penyelenggara KUPVA Bukan Bank;
3) Pihak yang memberikan kuasa untuk melakukan suatu transaksi dan/atau
menggunakan jasa Penyelenggara KUPVA Bukan Bank; dan/atau
4) Pihak yang melakukan pengendalian atas terjadinya suatu transaksi dengan
dan/atau penggunaan jasa Penyelenggara KUPVA Bukan Bank melalui badan
hukum atau perjanjian.

1. Permintaan Data Beneficial Owner


Dalam hal PT Barumun Abadi Raya melakukan transaksi dengan dan/atau
memberikan jasa kepada Nasabah yang mewakili Beneficial Owner, maka
pegawai/teller wajib melakukan CDD terhadap Beneficial Owner, yang sama
dengan prosedur CDD bagi Nasabah yang mewakili Beneficial Owner, yaitu
paling kurang mencakup:
a. Bagi Beneficial Owner yang melakukan transaksi dengan dan/atau
menggunakan jasa dengan nilai kurang dari Rp100.000.000,00 (seratus
juta rupiah) atau ekuivalen dalam mata uang asing, paling kurang
mencakup permintaan informasi mengenai calon Nasabah sebagaimana
butir A.1.a;
b. Bagi Beneficial Owner yang melakukan transaksi dan/atau menggunakan
jasa dengan nilai Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) atau lebih atau
ekuivalen dalam mata uang asing, yang dilakukan dalam 1 (satu) kali
maupun beberapa kali transaksi dalam 1 (satu) hari kerja, paling kurang
mencakup Permintaan informasi mengenai calon Nasabah sebagaimana
butir A.1.b;
c. Hubungan hukum antara Nasabah dan Beneficial Owner yang ditunjukkan
dengan surat penugasan, surat perjanjian, surat kuasa atau bentuk
dokumen lainnya.

Halaman 10 dari 29
2. Verifikasi Dokumen
a. Informasi yang disampaikan Beneficial Owner beserta dokumen
pendukungnya diteliti kebenarannya dengan melakukan pencocokan
terhadap dokumen asli pendukung yang memuat informasi tersebut.

b. Dalam rangka meyakini kebenaran identitas calon Nasabah, verifikasi


dilakukan antara lain dengan:

1) Pertemuan langsung (face to face) dengan Nasabah pada waktu


Penyelenggara KUPVA Bukan Bank pertama kali melakukan transaksi
dan/atau memberikan jasa kepada Nasabah dan/atau Beneficial Owner
yang bersangkutan.
2) Mencocokkan kesesuaian antara Nasabah (pembawa identitas) dengan
foto diri yang tercantum dalam kartu identitas, dan kesamaan tanda
tangan dalam voucher/form transaksi dengan identitas.
3) Memperhatikan adanya kemungkinan hal-hal yang tidak wajar atau
mencurigakan, misalnya masa berlaku KTP.

3. Pengkinian Informasi dan Dokumen

Direksi dan/atau Pegawai khusus yang ditunjuk Direksi melakukan


pengkinian informasi dan dokumen terkait dengan profil Beneficial Owner dan
profil transaksi Beneficial Owner sesuai hasil pemantauan terhadap informasi
dan dokumen Nasabah agar identifikasi dan pemantauan transaksi keuangan
yang mencurigakan dapat berjalan secara efektif.
Dalam rangka pemantauan informasi terkait dengan profil Nasabah dan profil
transaksi Beneficial Owner, Direksi menetapkan prosedur pemantauan dan
pengkinian informasi yang dapat mengidentifikasi, menganalisis, memantau
dan menyediakan laporan secara efektif yang tertuang dalam kebijakan dan
prosedur ini.

4. Penatausahaan Dokumen

Pegawai khusus yang ditunjuk oleh Direksi wajib menatausahakan data atau
dokumen dengan baik untuk mendukung tata kelola perusahaan dan
membantu pihak yang berwenang apabila diperlukan dalam penyelidikan
terhadap dana-dana yang diindikasikan berasal dari hasil kejahatan. Dokumen
yang ditatausahakan paling kurang mencakup:

Halaman 11 dari 29
a. dokumen yang memuat identitas Beneficial Owner sebagaimana dimaksud
pada butir A.1 dan B; dan
b. dokumen yang memuat informasi transaksi yang antara lain meliputi jenis
dan jumlah mata uang yang digunakan, tanggal perintah transaksi, asal
dan tujuan transaksi.

Jangka waktu penatausahaan dokumen adalah sebagai berikut:


a. dokumen yang terkait dengan informasi Beneficial Owner dengan jangka
waktu paling kurang 5 (lima) tahun sejak berakhirnya transaksi dengan
dan/atau pemberian jasa kepada Nasabah; dan
b. dokumen Beneficial Owner yang terkait dengan transaksi keuangan dengan
jangka waktu sebagaimana diatur dalam Undang-Undang yang mengatur
mengenai dokumen perusahaan.

C. PELAKSANAAN ENHANCED DUE DILIGENCE DAN NASABAH BERISIKO TINGGI

1. Enhanced Due Diligence

Pegawai/teller wajib melakukan Enhanced Due Diligence (EDD) atau tindakan


CDD lebih mendalam pada saat:
a. melakukan transaksi dengan dan/atau memberikan jasa kepada Nasabah
dan/atau Beneficial Owner yang tergolong berisiko tinggi termasuk
Politically Exposed Persons (PEP); atau
b. terdapat transaksi yang tidak wajar yang diduga terkait dengan pencucian
uang dan/atau pendanaan terorisme.

Dalam hal PT Barumun Abadi Raya melakukan transaksi dengan dan/atau


memberikan jasa kepada Nasabah dan/atau Beneficial Owner tergolong
berisiko tinggi termasuk PEP atau terdapat transaksi yang tidak wajar,
pegawai/teller wajib melakukan EDD yang paling kurang mencakup :
a. informasi mengenai Nasabah dan/atau Beneficial Owner sebagaimana
dimaksud pada huruf A.1.b dan huruf B;
b. sumber dana;
c. maksud dan tujuan transaksi;
d. kewajaran profil transaksi; dan
e. informasi lainnya mengenai hubungan usaha dengan pihak-pihak yang
terkait Nasabah atau Beneficial Owner.

Halaman 12 dari 29
Dalam mengelompokkan Nasabah berdasarkan tingkat risikonya, Direksi atau
Pegawai khusus yang ditunjuk Direksi, berpedoman pada ketentuan PPATK
yang mengatur mengenai Pedoman Identifikasi Produk, Nasabah, Usaha, dan
Negara Berisiko Tinggi bagi Penyedia Jasa Keuangan.

2. Nasabah Berisiko Tinggi

Kriteria Nasabah berisiko tinggi dalam pedoman ini, selain didasarkan pada
Pedoman Identifikasi Produk, Nasabah, Usaha, dan Negara Berisiko Tinggi bagi
Penyedia Jasa Keuangan, juga didasarkan pada referensi lainnya yang
dikeluarkan oleh otoritas berwenang atau yang telah menjadi international best
practice. Pihak-pihak yang termasuk dalam nasabah berisiko tinggi
sebagaimana keputusan Kepala PPATK Nomor KEP-47/1.02./PPATK/06/2008
tanggal 2 Juni 2008 Tentang Pedoman Identifikasi Produk, Nasabah, Usaha Dan
Negara Yang Berisiko Tinggi Bagi Penyedia Jasa Keuangan antara lain:

a. PEP, yaitu orang yang populer secara politis antara lain :


1) Kepala Negara atau Kepala Pemerintahan;
2) Wakil Kepala Negara atau Kepala Pemerintahan;
3) Pejabat setingkat Menteri;
4) Eksekutif Senior perusahaan Negara : Direktur BUMN;
5) Eksekutif dan ketua partai politik;
6) Pejabat senior di bidang militer dan atau kepolisian;
7) Pejabat senior di lingkungan Mahkamah Agung dan Kejaksaan Agung;
8) Pejabat yang diangkat berdasarkan Keputusan Presiden;
9) Anggota keluarga (pasangan, orang tua, saudara, anak, menantu, cucu)
dari kategori di atas; dan
10) Siapapun orang yang tidak termasuk di atas namun karena posisinya
yang tinggi di masyarakat, pengaruhnya yang signifikan, status selebriti
dan/atau kombinasi dari posisinya dapat menempatkan Penyedia Jasa
Keuangan (PJK) dalam posisi berisiko harus masuk dalam kategori
berisiko tinggi;

b. Pegawai instansi pemerintah yang terkait dengan pelayanan publik;

c. Orang-orang yang tinggal dan/atau mempunyai dana yang berasal dari


negara-negara yang diidentifikasi oleh sumber-sumber terpercaya memiliki

Halaman 13 dari 29
standar anti pencucian uang yang tidak mencukupi atau mewakili tindak
pidana tingkat tinggi dan korupsi;

d. Orang-orang yang terlibat dalam jenis-jenis kegiatan atau sektor usaha yang
rentan terhadap pencucian uang, seperti pegawai PJK; dan/atau

e. Pihak-pihak yang disebutkan dalam daftar PBB atau daftar lainnya yang
dikeluarkan oleh organisasi internasional sebagai teroris, organisasi teroris
ataupun organisasi yang melakukan pendanaan atau melakukan
penghimpunan dana untuk kegiatan terorisme.

3. Bidang Usaha dan Negara Berisiko Tinggi

Pegawai/teller wajib memperhatikan bidang-bidang usaha berisiko tinggi karena


berpotensi untuk digunakan oleh pelaku pencucian uang. Berdasarkan
Pedoman Identifikasi Produk, Nasabah, Usaha, dan Negara Berisiko Tinggi bagi
Penyedia Jasa Keuangan yang dikeluarkan oleh PPATK, bidang-bidang usaha
berisiko tinggi dimaksud antara lain:
a. Jasa keuangan, seperti money changer (Penyelenggara KUPVA), money
remittance (Usaha Jasa Pengiriman Uang);
b. Offshore company termasuk PJK yang berlokasi di tax and/or secrecy havens
dan yurisdiksi yang tidak secara memadai melaksanakan rekomendasi
FATF;
c. Dealer Mobil;
d. Agen perjalanan;
e. Pedagang perhiasan, batu permata dan logam berharga;
f. Perusahaan perdagangan ekspor/impor;
g. Usaha yang berbasis tunai seperti minimarket, jasa pengelolaan parkir,
rumah makan, SPBU, dan pedagang isi ulang pulsa;
h. Penjualan grosir dan pengecer barang eletronik (khususnya di zona
perdagangan bebas);
i. Pengacara, akuntan atau konsultan keuangan;
j. Dealer barang antik dan seni; dan/atau
k. Agen properti.

Selain itu, pegawai/teller perlu memperhatikan negara-negara yang


dikategorikan berisiko tinggi antara lain:
a. Negara yang diketahui secara luas sebagai tempat penghasil dan pusat
perdagangan narkoba;

Halaman 14 dari 29
b. Negara yang dikenal memiliki tingkat korupsi yang tinggi;
c. Negara yang dianggap merupakan sumber kegiatan terorisme, seperti yang
diidentifikasikan oleh Office of Foreign Asset Control (OFAC); dan/atau
d. Negara yang terkena sanksi PBB.

D. ANTI TIPPING OFF

Pasal 12 UU No. 8 Tahun 2010 tentang PP TPPU menyatakan bahwa:

1. Direksi, komisaris, pengurus atau pegawai PVA dilarang memberitahukan


kepada Nasabah atau pihak lain, baik secara langsung maupun tidak langsung,
dengan cara apapun mengenai Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan
yang sedang disusun atau telah disampaikan kepada PPATK.
2. Ketentuan mengenai larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
berlaku untuk pemberian informasi kepada lembaga pengawas dan pengatur.
3. Pelanggaran atas ketentuan sebagaimana dimaksud pada angka 1, dipidana
penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

E. TRANSAKSI KEUANGAN TUNAI YANG DIKECUALIKAN DARI KEWAJIBAN


PELAPORAN KE PPATK
Berdasarkan Keputusan Kepala PPATK No.3/9/KEP.PPATK/2004 Tanggal 25 Mei
2004 tentang Transaksi Keuangan Tunai yang Dikecualikan dari Kewajiban
Pelaporan ke PPATK dan Pasal 23 ayat (4) dan ayat (5) dan Pasal 24 UU No. 8
Tahun 2010 tentang PP TPPU) :

1. Transaksi Keuangan Tunai yang dikecualikan dari kewajiban pelaporan adalah:


a. Transaksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa Keuangan dengan pemerintah
dan bank sentral;
b. Transaksi untuk pembayaran gaji atau pensiun; dan
c. Transaksi lain yang ditetapkan oleh Kepala PPATK atau atas permintaan PJK
yang disetujui oleh PPATK.
2. Berdasarkan angka 1 huruf c, PT Barumun Abadi Raya tidak dikenakan
kewajiban menyampaikan laporan Transaksi Keuangan Tunai dalam jumlah
kumulatif Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) atau lebih atau dalam
mata uang asing yang nilainya setara, dengan persyaratan:

Halaman 15 dari 29
a. transaksi antar penyedia jasa keuangan dalam rangka kegiatan usahanya
masing-masing;
b. transaksi rutin yang dilakukan secara harian, mingguan, dan bulanan dari
jenis usaha atau pihak tertentu.
3. PT Barumun Abadi Raya dapat mengajukan permintaan pengecualian kewajiban
pelaporan Transaksi Keuangan Tunai kepada Kepala PPATK dengan kriteria
sebagai berikut:
a. Transaksi Keuangan Tunai dilakukan oleh nasabah yang telah menjadi
nasabah penyedia jasa keuangan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan terus
menerus;
b. Transaksi Keuangan Tunai yang merupakan transaksi rutin yaitu transaksi
yang dilakukan secara harian, mingguan atau bulanan; atau
c. Transaksi Keuangan Tunai yang terkait secara langsung dengan kegiatan
usaha nasabah dan sesuai dengan karakteristik usaha yang umumnya
dilakukan secara tunai.

4. Permintaan sebagaimana dimaksud pada angka 3, dengan melengkapi dokumen


pendukung sebagai berikut:
a. Profil lengkap nasabah sesuai dengan persyaratan minimal yang diatur
dalam ketentuan tentang Prinsip Mengenal Nasabah yang meliputi identitas
nasabah, pekerjaan atau bidang usaha, jumlah penghasilan, rekening yang
dimiliki, aktivitas transaksi normal dan tujuan pembukaan rekening;
b. Data salinan transaksi atau rekening koran 3 (tiga) bulan terakhir;
c. Pertimbangan yang mendasari permintaan pengecualian Laporan Transaksi
Keuangan Tunai yang didasarkan kepada hasil analisis dan due-dilligence
oleh PJK.

5. Terhadap Transaksi Keuangan Tunai yang dikecualikan, PT Barumun Abadi


Raya wajib :
a. membuat dan menyimpan daftar transaksi yang dikecualikan;
b. memelihara dan melakukan pengkinian profil nasabah sesuai dengan
ketentuan tentang Prinsip Mengenal Nasabah dan Penerapan APU dan PPT;
c. melakukan monitoring atau review secara berkala terhadap transaksi
keuangan tunai yang dikecualikan tersebut;
d. memelihara dokumentasi transaksi sesuai dengan perundang-undangan
yang berlaku agar dimungkinkan penelusuran transaksi apabila diperlukan.

Halaman 16 dari 29
6. PJK berkewajiban untuk melaporkan Transaksi Keuangan Tunai yang
Dikecualikan tersebut kepada PPATK sebagai Laporan Transaksi Keuangan
Mencurigakan (Suspicious Transaction Report) apabila transaksi tersebut
memenuhi salah satu dari unsur Transaksi Keuangan Mencurigakan.

F. SANKSI TIDAK MENYAMPAIKAN LTKM DAN LTKT

UU No. 8 Tahun 2010 tentang PP TPPU Pasal 25 ayat (4) dan 30 dan Pasal 20 PBI
Nomor 12/3/PBI/2010 tentang Penerapan Anti Pencucian Uang dan Pencegahan
Pendanaan Terorisme Pada Penyelenggara KUPVA Bukan Bank

1. Penyampaian Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan dilakukan sesegera


mungkin paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah PT Barumun Abadi Raya
(pegawai/teller atau Direksi) mengetahui adanya unsur Transaksi Keuangan
Mencurigakan.
2. Penyampaian Laporan Transaksi Keuangan Tunai dilakukan paling lama 14
(empat belas) hari kerja terhitung tanggal Transaksi dilakukan.
3. Berdasarkan Pasal 25 ayat (4) dan Pasal 30, dalam hal PT Barumun Abadi Raya
tidak menyampaikan LTKM dan LTKT ke PPATK akan dikenakan sanksi
administratif berupa :
a. peringatan;
b. teguran tertulis;
c. pengumuman kepada publik mengenai tindakan atau sanksi; dan/atau
d. denda administratif
4. Bank Indonesia mengenakan sanksi peringatan khusus dalam hal PT Barumun
Abadi Raya melaksanakan kewajiban penyampaian laporan Transaksi Keuangan
Mencurigakan, laporan Transaksi Keuangan Tunai dan laporan lain kepada
PPATK sebagaimana diatur dalam UU No. 8 Tahun 2010 tentang PP TPPU.

G. PENOLAKAN TRANSAKSI
Pegawai/teller wajib menolak melakukan transaksi dengan dan/atau memberikan
jasa kepada Nasabah, dalam hal Nasabah :

1. tidak memenuhi permintaan informasi sebagaimana dimaksud dalam huruf A,


huruf B, dan/atau huruf C; dan/atau
2. diketahui menggunakan identitas dan/atau memberikan informasi yang tidak
benar.

Halaman 17 dari 29
H. PENGKINIAN INFORMASI DAN DOKUMEN

1. Direksi dan/atau Pegawai khusus yang ditunjuk Direksi melakukan pengkinian


informasi dan dokumen terkait dengan profil Nasabah dan profil transaksi
Nasabah sesuai hasil pemantauan terhadap informasi dan dokumen Nasabah
agar identifikasi dan pemantauan transaksi keuangan yang mencurigakan dapat
berjalan secara efektif.
2. Pengkinian informasi dan dokumen Nasabah dilakukan secara berkala
berdasarkan tingkat risiko Nasabah atau transaksi.
3. Dalam rangka pemantauan informasi terkait dengan profil Nasabah dan profil
transaksi Nasabah, Direksi menetapkan prosedur pemantauan dan pengkinian
informasi yang dapat mengidentifikasi, menganalisis, memantau dan
menyediakan laporan secara efektif.
4. Direksi menetapkan kegiatan pemantauan dilakukan paling kurang sebagai
berikut:
a. Pemantauan terhadap kesesuaian antara transaksi dengan profil transaksi
Nasabah, dengan cara:
1) melakukan identifikasi atas kesesuaian antara transaksi Nasabah
dengan profil Nasabah; dan
2) melakukan analisis terhadap seluruh transaksi Nasabah yang tidak
sesuai dengan profil transaksi Nasabah yang bersangkutan.
b. Pemantauan profil Nasabah terkait dengan daftar teroris, dengan cara:
1) Melakukan pengecekan secara berkala terdapat atau tidaknya nama-
nama Nasabah yang memiliki kesamaan atau kemiripan dengan nama
yang tercantum dalam database daftar teroris.
2) Dalam hal terdapat kemiripan nama Nasabah dengan identitas yang
tercantum dalam database daftar teroris, Direksi dan/atau Pegawai
yang ditunjuk oleh Direksi melakukan pengecekan lebih lanjut
kemiripan identitas Nasabah tersebut dengan informasi lain yang
terkait.
3) Dalam hal terdapat kesamaan nama Nasabah atau kesamaan informasi
lainnya dengan nama yang tercantum dalam database daftar teroris,
Direksi melaporkan Nasabah tersebut dalam Laporan Transaksi
Keuangan Mencurigakan (LTKM) kepada PPATK.

Halaman 18 dari 29
c. Sumber informasi yang dapat digunakan untuk memantau profil Nasabah
yang ditetapkan sebagai status tersangka atau terdakwa terkait tindak
pidana pencucian uang dan/atau terorisme, dapat diperoleh antara lain
melalui:
1) database yang dikeluarkan oleh pihak berwenang seperti PPATK; atau
2) media massa, seperti koran dan majalah.
d. Sumber informasi mengenai daftar teroris sebagaimana dimaksud pada
huruf b antara lain dapat diperoleh melalui:
1) website PBB:
http://www.un.org/sc/committees/1267/consolist.shtml;
2) sumber lainnya yang lazim digunakan oleh perbankan dan merupakan
data publik antara lain The Office of Foreign Assets Controls List (OFAC
List) dengan alamat situs internet:
http://www.treas.gov/offices/enforcement/ofac/index.shtml; atau
3) pihak berwenang seperti PPATK atau Kepolisian.

I. PENATAUSAHAAN DOKUMEN

1. Pegawai khusus yang ditunjuk oleh Direksi wajib menatausahakan data atau
dokumen dengan baik untuk mendukung tata kelola perusahaan dan
membantu pihak yang berwenang apabila diperlukan dalam penyelidikan
terhadap dana-dana yang diindikasikan berasal dari hasil kejahatan.
2. Dokumen yang ditatausahakan paling kurang mencakup:
a. dokumen yang memuat identitas Nasabah dan Beneficial Owner
sebagaimana dimaksud pada butir A.1 dan butir B; dan
b. dokumen yang memuat informasi transaksi yang antara lain meliputi jenis
dan jumlah mata uang yang digunakan, tanggal perintah transaksi, asal dan
tujuan transaksi.
3. Jangka waktu penatausahaan dokumen adalah sebagai berikut:
a. dokumen yang terkait dengan informasi Nasabah dan Beneficial Owner
dengan jangka waktu paling kurang 5 (lima) tahun sejak berakhirnya
transaksi dengan dan/atau pemberian jasa kepada Nasabah;
b. dokumen Nasabah dan Beneficial Owner yang terkait dengan transaksi
keuangan dengan jangka waktu sebagaimana diatur dalam Undang-Undang
yang mengatur mengenai dokumen perusahaan.

Halaman 19 dari 29
J. PELAPORAN KEPADA PPATK

1. Kewajiban Pelaporan
Sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Penerapan
Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme pada Penyelenggara
KUPVA Bukan Bank, Direksi atau Pegawai khusus yang ditunjuk oleh Direksi
wajib menyampaikan laporan kepada PPATK yang terdiri dari Laporan Transaksi
Keuangan Mencurigakan dan Laporan Transaksi Keuangan Tunai.

2. Transaksi Keuangan Mencurigakan


Transaksi Keuangan Mencurigakan (suspicious transactions) pada prinsipnya
memiliki unsur-unsur sebagai berikut:
a. transaksi yang menyimpang dari profil, karakteristik atau kebiasaan pola
transaksi dari Nasabah yang bersangkutan;
b. transaksi yang patut diduga dilakukan dengan tujuan untuk menghindari
pelaporan yang wajib dilakukan Penyelenggara KUPVA Bukan Bank;
dan/atau
c. transaksi keuangan yang dilakukan atau batal dilakukan dengan
menggunakan harta kekayaan yang diduga berasal dari hasil tindak pidana.

Apabila suatu transaksi keuangan telah memenuhi satu atau lebih dari unsur-
unsur di atas, maka PT. Barumun Abadi Raya wajib menetapkannya sebagai
Transaksi Keuangan Mencurigakan dan melaporkannya kepada PPATK.

Dalam mengidentifikasi terpenuhinya satu atau lebih dari unsur-unsur


Transaksi Keuangan Mencurigakan sebagaimana tersebut di atas, Pegawai
khusus yang ditunjuk oleh Direksi dapat menggunakan indikator-indikator
Transaksi Keuangan Mencurigakan, antara lain:

a. transaksi jual beli valuta asing, meliputi:


1) transaksi yang dilakukan dalam jumlah di luar kebiasaan Nasabah
(untuk Nasabah yang seringkali melakukan transaksi dengan
Penyelenggara KUPVA Bukan Bank);
2) transaksi yang dilakukan dalam jumlah relatif kecil namun dengan
frekuensi yang tinggi;
3) transaksi yang dilakukan dengan menggunakan beberapa nama
individu yang berbeda-beda untuk kepentingan satu orang tertentu;

Halaman 20 dari 29
4) penjualan dan pembelian mata uang asing dalam jumlah relatif besar;
5) Nasabah menjual travellers cheque (TC) dalam jumlah relatif besar;
6) transaksi yang tidak ada hubungannya dengan usaha Nasabah;
7) Nasabah meminta pembayaran hasil penjualan valas dengan
menggunakan cek;
8) Nasabah meminta pembayaran hasil penjualan/pembelian valas
ditransfer ke rekening bank yang bersangkutan atau pihak lain;
9) Nasabah meminta pembayaran hasil penjualan/pembelian valas
diserahkan kepada pihak lain;
10) Nasabah meminta pembayaran hasil penjualan/pembelian valas dengan
pecahan besar; dan/atau
11) Nasabah bersedia dikenakan nilai tukar yang lebih rendah dari nilai
tukar yang berlaku.

b. perilaku Nasabah Penyelenggara KUPVA Bukan Bank, meliputi:

1) perilaku Nasabah yang tidak wajar pada saat melakukan transaksi


(gugup, tergesa-gesa, rasa kurang percaya diri, dan lain-lain);
2) Nasabah memberikan informasi yang tidak benar mengenai hal-hal yang
berkaitan dengan identitas dirinya;
3) Nasabah menggunakan dokumen identitas yang diragukan
kebenarannya atau diduga palsu seperti tanda tangan yang berbeda atau
foto yang tidak sama;
4) Nasabah mencoba mempengaruhi petugas Penyelenggara KUPVA
Bukan Bank untuk tidak melaporkan sebagai Transaksi Keuangan
Mencurigakan dengan berbagai cara; dan/atau
5) Nasabah berkeberatan atau menolak untuk memberikan
informasi/dokumen yang diminta oleh petugas Penyelenggara KUPVA
Bukan Bank tanpa alasan yang jelas.

Apabila setelah melakukan proses identifikasi Transaksi Keuangan


Mencurigakan, Direksi dan/atau Pegawai yang ditunjuk masih merasa ragu
apakah suatu transaksi dapat dikategorikan sebagai Transaksi Keuangan
Mencurigakan, maka transaksi tersebut dilaporkan kepada PPATK sebagai
Transaksi Keuangan Mencurigakan.

3. Transaksi Keuangan Tunai

Halaman 21 dari 29
Transaksi Keuangan Tunai yang wajib dilaporkan Direksi dan/atau Pegawai
yang ditunjuk oleh Direksi kepada PPATK adalah transaksi yang memenuhi
kriteria sebagai berikut:
a. merupakan penerimaan atau pembayaran dengan menggunakan uang tunai
(uang kertas dan/atau uang logam); dan
b. dalam jumlah kumulatif Rp500.000.000,00 (lima ratus juta Rupiah) atau
lebih atau dalam mata uang asing yang nilainya setara baik; dan
c. dilakukan dalam satu kali atau beberapa kali transaksi dalam satu hari
kerja pada satu atau beberapa kantor dari satu Penyelenggara KUPVA
Bukan Bank.

4. Penyampaian Laporan

a. Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan


Apabila dari hasil proses identifikasi atas suatu transaksi keuangan telah
memenuhi satu atau lebih dari unsur-unsur dan indikator sebagaimana
dimaksud pada angka 2, maka Direksi dan/atau Pegawai yang ditunjuk
oleh Direksi wajib menetapkannya sebagai Transaksi Keuangan
Mencurigakan dan melaporkannya kepada PPATK paling lambat 3 (tiga) hari
kerja setelah Penyelenggara KUPVA Bukan Bank mengetahui adanya unsur
Transaksi Keuangan Mencurigakan.
Format laporan dan tata cara pelaporan Transaksi Keuangan Mencurigakan
mengacu pada ketentuan PPATK.

b. Laporan Transaksi Keuangan Tunai


Apabila suatu transaksi keuangan telah memenuhi kriteria Transaksi
Keuangan Tunai sebagaimana dimaksud pada angka 3, Direksi dan/atau
Pegawai yang ditunjuk oleh Direksi menetapkannya sebagai Transaksi
Keuangan Tunai yang wajib dilaporkan dan melaporkannya kepada PPATK
paling lambat 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak tanggal transaksi
dilakukan.
Jangka waktu 14 (empat belas) hari kerja tersebut dihitung sejak terjadinya
Transaksi Keuangan Tunai di PJK sampai dengan tanggal diterimanya
Laporan Transaksi Keuangan Tunai oleh PPATK.
Format laporan dan tata cara pelaporan Transaksi Keuangan Tunai mengacu
pada ketentuan PPATK.

Halaman 22 dari 29
K. TATA CARA PEMBERIAN KETERANGAN TERKAIT PERKARA DUGAAN TPPU

Berdasarkan Pasal 72 UU No. 8 Tahun 2010 Ttg PP TPPU:

1. Untuk kepentingan pemeriksaan dalam perkara tindak pidana Pencucian Uang,


penyidik, penuntut umum atau hakim berwenang meminta PT Barumun Abadi
Raya sebagai pihak pelapor untuk memberikan keterangan tertulis mengenai
Harta Kekayaan dari :
a. orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada Penyidik;
b. tersangka; atau
c. terdakwa

2. Dalam meminta keterangan sebagaimana dimaksud pada angka 1, bagi


penyidik, penuntut umum, atau hakim tidak berlaku ketentuan peraturan
perundang-undangan yang mengatur kerahasiaan Transaksi Keuangan Lain.
3. Permintaan keterangan sebagaimana dimaksud pada angka 1 harus diajukan
dengan menyebutkan secara jelas mengenai :
a. Nama dan jabatan penyidik, penuntut umum atau hakim;
b. Identitas orang yang terindikasi dari hasil analisis atau pemeriksaan PPATK,
tersangka, atau terdakwa;
c. Uraian singkat tindak pidana yang disangkakan atau didakwakan; dan
d. Tempat harta kekayaan berada.
4. Permintaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus disertai dengan:
a. Laporan polisi dan surat perintah penyidikan;
b. Surat penunjukan sebagai penuntut hukum; atau
c. Surat penetapan majelis hakim.
5. Surat permintaan untuk memperoleh keterangan sebagaimana dimaksud pada
angka (1) dan angka (3) harus ditandatangani oleh:
a. Kepala Kepolisian Negara RI atau Kepala Kepolisian daerah dalam hal
permintaan diajukan oleh penyidik dari Kepolisian Negara Republik
Indonesia;
b. Pimpinan instansi atau lembaga atau komisi dalam hal permintaan diajukan
oleh penyidik selain penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia;

Halaman 23 dari 29
c. Jaksa Agung atau kepala kejaksaan tinggi dalam hal permintaan diajukan
oleh jaksa penyidik dan/atau penuntut umum; atau
d. Hakim ketua majelis yang memeriksa perkara yang bersangkutan.
6. Surat permintaan sebagaimana dimaksud pada angka 5 ditembuskan kepada
PPATK.

L. PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PELAPOR DAN SAKSI DUGAAN TPPU


Berdasarkan Pasal 84, Pasal 86 dan Pasal 87 UU No. 8 Tahun 2010 Ttg PP TPPU
serta PP RI No.57 Tahun 2003 Ttg Tata Cara Perlindungan Khusus Bagi Pelapor dan
Saksi TPPU:
1. Direksi dan/atau Pegawai khusus yang ditunjuk oleh Direksi PT Barumun
Abadi Raya yang melaporkan terjadinya dugaan tindak pidana pencucian uang
wajib diberi perlindungan khusus oleh negara dari kemungkinan ancaman yang
membahayakan diri, jiwa, dan/atau hartanya, termasuk keluarganya.
2. Direksi dan/atau Pegawai khusus yang ditunjuk oleh Direksi PT Barumun
Abadi Raya yang memberikan kesaksian dalam pemeriksaan tindak pidana
pencucian uang wajib diberi perlindungan khusus oleh negara dari
kemungkinan ancaman yang membahayakan diri, jiwa, dan/atau hartanya,
termasuk keluarganya.
3. Pelapor dan/atau saksi sebagaimana dimaksud pada angka 1 dan angka 2,
tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana
4. Perlindungan khusus sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dan angka 2
dilaksanakan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia.
5. Pelapor dan saksi sebagaimana dimaksud pada angka 1 dan angka 2 tidak
dikenakan biaya atas perlindungan khusus yang diberikan kepadanya.

Halaman 24 dari 29
BAB IV
PENCEGAHAN PENDANAAN TERORISME

1. Berdasarkan Undang-Undang No.9 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan


Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme (UU PPTPPT):
a. Pendanaan terorisme adalah penggunaan harta kekayaan secara langsung
atau tidak langsung untuk kegiatan terorisme. Pendanaan terorisme pada
dasarnya merupakan jenis tindak pidana yang berbeda dari Tindak Pidana
Pencucian Uang (TPPU). Namun demikian, keduanya mengandung
kesamaan, yaitu menggunakan jasa keuangan sebagai sarana untuk
melakukan suatu tindak pidana.
b. Lingkup pendanaan terorisme mencakup perbuatan yang dilakukan secara
langsung atau tidak langsung dalam rangka menyediakan, mengumpulkan,
memberikan, atau meminjamkan Dana kepada pihak lain yang
diketahuinya akan digunakan untuk melakukan tindak pidana terorisme.
2. Berbeda dengan TPPU yang tujuannya untuk menyamarkan asal-usul harta
kekayaan, maka tujuan tindak pidana pendanaan terorisme adalah membantu
kegiatan terorisme, baik dengan harta kekayaan yang merupakan hasil dari
suatu tindak pidana ataupun dari harta kekayaan yang diperoleh secara sah.
3. Dalam rangka melaksanakan kewajiban Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran
Bukan Bank dan Penyelenggara KUPVA Bukan Bank terkait Daftar Terduga
Teroris dan Organisasi Teroris (DTTOT), maka perlu disusun mekanisme
pencantuman, perpanjangan dan penghapusan identitas orang atau korporasi
dalam DTTOT.
4. Berdasarkan Peraturan Bersama (Joint Regulation) Ketua Mahkamah Agung RI,
Menteri Luar Negeri RI, Kapolri, Kepala Badan Nasional Penanggulangan 2
Terorisme (BNPT) dan Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan
(PPATK) tentang Pencantuman Identitas Orang dan Korporasi dalam DTTOT dan
Pemblokiran Secara Serta Merta atas Dana Milik Orang atau Korporasi yang
Tercantum dalam DTTOT:
a. Pemblokiran adalah tindakan mencegah pentransferan, pengubahan bentuk,
penukaran, penempatan, pembagian, perpindahan atau pergerakan Dana
Halaman 25 dari 29
untuk jangka waktu tertentu.
b. Ruang lingkup Peraturan Bersama ini meliputi:
1) Pencantuman atau pembaruan pencantuman identitas orang dan
Korporasi dalam DTTOT;
2) Perpanjangan dan penetapan baru pencantuman identitas orang atau
Korporasi dalam DTTOT; dan
3) Penghapusan pencantuman identitas orang atau Korporasi dalam DTTOT.
5. Adapun hal-hal yang berkaitan dengan wewenang PT Barumun Abadi Raya
untuk melaksanakan perintah permintaan pemblokiran dan/atau pembukaan
pemblokiran sebagaimana dimaksud pada Peraturan Bersama adalah sebagai
berikut:
a. Dalam hal Pemblokiran Secara Serta Merta, maka PT Barumun Abadi Raya
1) Menerima surat penyampaian DTTOT dari Bank Indonesia;
2) Menatausahakan dan melakukan pengkinian profil orang atau Korporasi
yang tercantum dalam DTTOT ke dalam database daftar teroris;
3) Melakukan identifikasi kesesuaian profil Pengguna Jasa dengan database
daftar teroris;
4) Melakukan pemblokiran secara serta merta terhadap seluruh dana yang
dimiliki atau dikuasai, baik secara langsung maupun tidak langsung
oleh orang atau Korporasi yang tercantum dalam DTTOT;
5) Membuat Berita Acara pemblokiran secara serta merta terhadap seluruh
dana yang dimiliki atau dikuasai, baik secara langsung maupun tidak
langsung oleh orang atau Korporasi yang tercantum dalam DTTOT;
6) Menyampaikan Berita Acara pemblokiran sebagaimana dimaksud poin 3)
kepada POLRI dengan tembusan kepada Bank Indonesia (c.q
Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran).
b. Dalam hal Perpanjangan dan Penetapan Baru Pencantuman identitas orang
atau Korporasi dalam DTTOT, maka PT Barumun Abadi Raya :
1) Melakukan perpanjangan pemblokiran secara serta merta setelah
menerima surat informasi dari Bank Indonesia;
2) Menyusun laporan perpanjangan pemblokiran secara serta merta berupa
Berita Acara;
3) Menyampaikan Berita Acara perpanjangan pemblokiran sebagaimana
dimaksud poin 2) kepada POLRI dengan tembusan kepada Bank
Indonesia (c.q Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem
Pembayaran).
Halaman 26 dari 29
c. Dalam hal Penghapusan Pencantuman identitas orang atau Korporasi dalam
DTTOT, maka PT Barumun Abadi Raya:
1) Mengeluarkan identitas orang atau Korporasi yang tercantum dalam
DTTOT dari database daftar teroris setelah menerima surat penyampaian
informasi dari Bank Indonesia;
2) Melakukan pembukaan pemblokiran secara serta merta atas dana yang
dimiliki atau dikuasai, baik secara langsung maupun tidak langsung
oleh orang atau Korporasi;
3) Membuat Berita Acara pembukaan pemblokiran secara serta merta atas
dana yang dimiliki atau dikuasai, baik secara langsung maupun tidak
langsung oleh orang atau Korporasi dan disampaikan kepada POLRI dan
tembusan kepada Bank Indonesia (c.q Departemen Kebijakan dan
Pengawasan Sistem Pembayaran) dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia
yang membawahi.

Halaman 27 dari 29
BAB V
PENGENDALIAN INTERN

Dalam rangka pelaksanaan penerapan program APU dan PPT pada


PT Barumun Abadi Raya ,

Direktur yang bertanggung jawab, memastikan bahwa penerapan APU dan PPT telah
sesuai dengan kebijakan dan prosedur yang ditetapkan dan dijalankan dengan baik
dan benar.

Tugas Unit/Petugas/Anggota Direksi yang melakukan pengendalian intern sebagai


berikut :

1. Melakukan pengecekan apakah petugas yang ditunjuk untuk melaksanakan


penerapan APU dan PPT sudah melaksanakan tugas sebagaimana ditetapkan oleh
Direksi.

2. Memeriksa apakah seluruh transaksi sudah dimintakan Identitas Diri,


didokumentasikan atau disimpan di dalam database computer secara benar dan
jelas sehingga seluruh profil data nasabah selalu dapat dimonitor.

3. Melakukan pengecekan ulang apakah ada transaksi yang seharusnya dilaporkan


sebagai STR dan CTR, tetapi masih terlewati.

4. Melaporkan hasil pengawasan dan penyimpangan yang terjadi di seluruh unit kerja
langsung kepada direksi.

5. Memungkinkan memperoleh data satu nasabah yang melakukan transaksi untuk


berapa kali dalam periode tertentu

Halaman 28 dari 29
BAB VI
SUMBER DAYA MANUSIA DAN PELATIHAN PEGAWAI

A. Sumber Daya Manusia

1. Seluruh pegawai harus memiliki kemampuan dan pengetahuan dalam


penerapan program APU dan PPT.

2. Perusahaan wajib memberikan pengetahuan dan/atau memberikan


pelatihan secara berkesinambungan mengenai penerapan APU dan PPT bagi
seluruh pegawai.

B. Pelatihan

1. Seluruh pegawai harus mengikuti pengetahuan mengenai kebijakan, prosedur,


dan penerapan APU dan PPT.
2. Pegawai-pegawai yang prioritas mendapatkan pelatihan adalah:
a. pegawai yang berhadapan langsung dengan Nasabah (pelayanan Nasabah);
b. pegawai yang melaksanakan fungsi pengawasan pelaksanaan penerapan
APU dan PPT; atau
c. pegawai yang melaksanakan tugas sehari-hari terkait dengan pelaporan
kepada PPATK;

harus mengikuti pelatihan secara berkala/berkesinambungan baik melalui


seminar, workshop, training, yang diselenggarakan oleh pihak eksternal
maupun internal Penyelenggara KUPVA Bukan Bank mengenai kebijakan,
prosedur, dan penerapan APU dan PPT.

Pedoman Penerapan Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme


ditetapkan dan berlaku sejak 10 Agustus 2017 agar seluruh pegawai mengetahuinya.

Yogyakarta ,
Ditetapkan oleh Disetujui oleh
Direktur: Komisaris :

NurLaila Sari Hasibuan H. Lukman Jamal Hasibuan

Halaman 29 dari 29