Anda di halaman 1dari 11

Permasalahan pembuatan Basement

1.Tuntutan akan basement yang berlapis-lapis membuat galian semakin dalam.


Keadaan ini akan menuntut struktur dinding penahan tanah (retaining wall) dan
penunjangnya harus kukuh.

2.Kondisi tanah yang umumnya lunak dibagian atas biasanya akan menimbulkan
beban letral yang lebih besar ke dinding akan cenderung tertekan secara lateral
lebih besar. Selain itu, hal ini akan menyulitkan pemasangan angkur tanah karena
tanahnya lembek sehingga akur tanah yang diharapkan dapat menjangkar dengan
kukuh malahan sebaliknya tidak mampu bekerja maksimal.

3.Muka air yang relatife tinggi menyebabkan pekerjaan de-watering tidak dapat
dihindari. Pengurasan air tanah akan lebih dalam, paling tidak 1-2 meter di bawah
permukaan galian dasar sesuai rencana. Lebih menyulitkan lagi bila sifat tanah
cukup porous sehingga dibutuhkan pompa dengan kapasitas lebih besar.

4.Ada bangunan tinggi di sekitar area proyek yang bila di lakukan pengurasan air
pada galian tanah akan terjadi penurunan muka air tanah di sekeliling proyek.
Akibatnya, keseimbangan tegangan efektif tanah di bawah bangunan di sekitarnya
akan terganggu. Keadaan ini dapat memunculkan penurunan ataupun pergeseran
bangunan yang ada. Prinsipnya, pekerjaan galian yang dalam di sekitar bangunan
yang sudah ada tidak diperbolehkan.

5.Adanya perbedaan sifat tanah akan terjadi pula perbedaan pelaksaaan pondasi.
Semakin dalam adanya tanah keras maka akan semakin mahal jenis pekerjaan
pondasi tiangnya.
Basement Dan Kegunaanya

Basement adalah sebuah tingkat atau beberapa tingkat dari bangunan yang
keseluruhan atau sebagian terletak di bawah tanah. Basement adalah ruang bawah
tanah yang merupakan bagian dari bangunan gedung. Pada masa ini basement
dibuat sebagai usaha untuk mengoptimalkan penggunaan lahan yang semakin
padat dan mahal. Tidak semua bangunan memiliki basement. Untuk bangunan yang
memilikinya, tungku perapian (furnace), alat pemanas air (water heater), pelataran
mobil dan sistem pengaturan suhu dari satu rumah atau bangunan secara khas
terlokasi pada tingkatan terbawah bangunan ini; sehingga menjadi suatu
kenyamanan tersendiri untuk pemasangan dan aplikasi bagian seperti sistem
distribusi elektrik, dan titik distribusi televisi kabel .

Basement memberikan satu kesempatan untuk ahli bangunan untuk mencapai


suatu titik balik dalam pengeluarannya, dan customer/klien untuk mendapatkan
keuntungan dengan membangun sebuah bagunan yang bernilai potensi lebih.
Dalam pelaksanaan konstruksi basement, ada tiga hal penting yang perlu
diperhatikan, yakni metode konstruksi, retaining wall dan dewatering.
DINDING BASEMENT

Pembuatan dinding basement ini pada dasarnya adalah juga merupakan


diniding penahan tanah, yang sekaligus dapat berfungsi untuk dewatering dan
penahan gaya horizontal untuk pelat lantai basement. Pembuatan dinding basement
dengan bored-pile dari beton yang diselingi dengan bored-pile dari bentonite, yang
disebut contiguous-pile atau ada yang menyebut soldier-pile, atau dapat juga
dengan cara seperti pelaksanaan diaphragm-wall. (Amien Sajekti dalam bukunya
Metode Kerja Bangunan Sipil)
Pembuatan dinding basement dengan bored-pile beton dan bentonite,
dengan cara slang-seling. Bored-pile diisi dengan bentonite, sebelum bentonitenya
terlalu keras, di antaranya harus segera dibor untuk diselingi dengan bored-pile yang
diisi dengan beton. Untuk menghindari longsornya tanah yang terlalu banyak
sewaktu pengeboran, cara pengeboran dari bored-pile yang sejenis, dibuat dengan
cara loncat selang satu titik bored-pile yang sejenis pula. Kedalaman dan diameter
dari bored-pile tergantung dari perhitungan kekuatan, berdasarkan ketinggian
basement, jenis tanah, dan perkiraan beban horizontal yang ada dari bangunan
disebelahnya.

Cara lain untuk pembuatan dinding penahan tanah pada basement, adalah seperti
pembuatan diaphragm-wall dengan metode kerja pelaksanaannya, yaitu dengan
penggalian dan pengecoran betonnya loncat selang selebar clam-shell. Untuk
menjaga longsornya tanah, lubang galian diisi dengan bentonite cair dengan
permukaan air tanah yang ada. Cairan bentonite akan membentuk lapisan di
permukaan tanah galian dan juga cairan bentonite akan selalu menekan ke
permukaan tanah galian, karena posisi permukaan cairan bentonite selalu dibuat
lebih tinggi dari permukaan air tanah yang ada. Beton yang akan digunakan dengan
slump yang tinggi atau sangat encer, karena di dalam tanah tidak mungkin lagi untuk
memadatkan. Shingga perlu menggunakan beton dengan kandungan semen yang
lebih banyak. Tetapi sekarang sudah ada admixture yang berfungsi sebagai platizer,
sehingga beton mempunyai warkability yang sangat tinggi, dengan tidak
menurunkan kekuatan betonnya.
LANTAI BASEMENT
Pekerjaan Tanah Galian Pada Basement

Pekerjaan tanah pada sistem semitop down dimulai dari level basement 3, basement
1 & 2 dilewati karena struktur lantai & baloknya masih menunggu konfirmasi desain
dan langsung menuju ke basement 3 karena struktur lantainya flat / rata. Lalus
ebelum dilanjutkan ke lantai berikutnya di bawah basement 3 terlebih dahulu
dilakukan pemasangan ground anchor pada dinding diaphragm wall tujuannya
menjaga dari kemungkinan runtuh sebab dinding diaphragm wall dikhawatirkan
belum stabil .Ground anchor dipasang hanya dilevel diatas basement 3. Terhadap
kemungkinan adanya air dasar galian baik waktu penggalian maupun pada waktu
pekerjaan pondasi harus disediakan pompa air atau pompa lumpur yang jika
diperlukan dapat bekerja terus menerus untuk menghindari tergenangnya air pada
dasar galian. Semua tanah kelebihan yang berasal dari pekerjaan galian, setelah
mencapai jumlah tertentu harus segera disingkirkan dari halaman pekerjaan setiap
saat yang dianggap perlu, bagian yang akan diurug kembali harus diurug dengan
tanah yang bersih bebas dari kotoran dan memenuhi syarat -syarat sebagai tanah
urug. Pelaksanannya secara berlapis - lapis dengan penimbunan lubang lubang
galian yang terletak di dalam garis bangunan harus diisi kembali dengan tanah urug
yang diratakan dan dialiri air serta dipadatkan sampai mencapai 100% kepadatan
kering maksimum yang dibuktikan dengan test laboratorium. Semua daerah urugan
dan timbunan diatur berlapis sedemikian sehingga dicapai suatu lapisan setebal 15
cm dalam 18 keadaan padat. Tiap lapis harus dipadatkan dan lolos uji CBRdan
Sand cone sebelum lapisan tanah berikutnya. Pemadatan dilakukan sampai
mencapai hasil kepadatan lapangan tidak kurang dari 95% kepadatan
maksimum hasil laboratorium. Kepadatan maksimum terhadap kadar air
optimum dari percobaan contoh tanah harus disimpan dalam tabung gelas
atau plastic untuk bukti penunjukan atau referensi dan diberi label yang
berisikan nomor contoh, kepadatan kering maksimum dan kadar
optimumnya
Tipe Tipe Basement

1.Tipe A Perlindungan Tanki (Tanked Protection)

Struktur tidak memiliki perlindungan integral untuk melawan penetrasi air tanah
dan selanjutnya sangat bergantung pada lapisan membran kedap air (waterproofing
membrane). Sistem struktur anti air yang dipilih harus dapat mengatasi tekanan
hidrostatik dari air bawah tanah, bersama dengan lapisan yang ada sesuai dengan
beban yang ditumpu.

Struktur tembok dapat menggunakan pratekan (prestressed), beton yang dikuatkan


atau beton polos ataupun batuan keras dengan sistem struktural kedap air
digabungkan secara eksternal selama konstruksi. Atau dapat diterapkan secara
internal pada basement yang telah selesai dibangun. Tembok batuan keras
(masonry) bisa jadi memerlukan penambahan semen untuk menghasilkan
permukaan yang cukup bagus untuk mendapatkan sistem kedap air yang
diharapkan.

Bentuk konstruksi ini cukup mumpuni tergantung dari sistem kedap air
(waterproofing) yang dipakai, juga menghasilkan ketahanan yang tingggi dari
pergerakan air tanah
2. Tipe B Perlindungan integral terstruktrur (structurally integral protection)

Struktur membutuhkan pembangunan struktur itu sendiri untuk dibangun sebagai


kulit integral tahan air. Pembangunan beton yang dikuatkan atau pratekan yang
tanpa alternatif lain, struktur basement haruslah dirancang dengan parameter yang
pasti dan ketat untuk memastikan ketahanan airnya. Kebanyakan rancangan harus
dibangun sesuai dengan rekomendasi BS 8007 atau BS 8110, yang memberikan
petunjuk kwalitas beton dan jarak antar tulangan.

Tanpa adanya tambahan membran yang terpisah, bentuk konstruksi ini bisa
dikatakan tidak sama tahannya terhadap air dan pergerakan uap air seperti tipe A
atau C.
3. Tipe C Perlindungan dengan pengaliran (drained protection)

Struktur menggabungkan rongga alir di antara struktur basement. Ketergantungan


permanen daripada rongga ini untuk mengumpulkan air tanah sepanjang palung
rembesan struktur dan langsung meneruskan air tersebut ke pembuangan air dari
drainase atau dengan pemompaan.

Struktur tembok dapat menggunakan pratekan (prestressed), beton yang dikuatkan


atau beton polos ataupun batuan keras. Tembok basement bagian luar harus
memiliki ketahanan yang cukup terhadap air untuk memastikan rongga air yang ada
hanya mendapatkan limpahan air yang terkontrol. Jika tidak, sistem rongga ini tidak
dapat mengatasi air bah melewati batas limpahan air terutama selama kondisi
badai/banjir.

Bentuk konstruksi ini cukup mumpuni tergantung dari sistem kedap air
(waterproofing) yang dipakai, juga menghasilkan ketahanan yang tingggi dari
pergerakan air tanah.