Anda di halaman 1dari 17

1

Komplikasi Toksoplasmosis
Beberapa komplikasi yang bisa terjadi pada penderita toksoplasmosis adalah:
Toksoplasmosis okular. Peradangan dan luka pada mata yang diakibatkan oleh parasit. Penyakit
ini bisa menyebabkan gangguan penglihatan, muncul floater (seperti ada benda kecil yang
melayang-layang menghalangi pandangan) pada mata, hingga kebutaan.
Toksoplasmosis kongenital terjadi ketika janin yang dikandung ikut terinfeksi toksoplasmosis.
Hal ini bisa menyebabkan berbagai gangguan kesehatan pada janin. Misalnya hidrosefalus,
epilepsi, kehilangan pendengaran, kerusakan otak, gangguan kemampuan belajar, penyakit
kuning, toksoplasmosis okular, dan cerebral palsy.
Toksoplasmosis serebral. Jika penderita gangguan sistem kekebalan tubuh terinfeksi oleh
toksoplasmosis, maka infeksi tersebut bisa menyebar ke otak dan bisa mengancam nyawa
penderita. Beberapa gejalanya adalah sakit kepala, kebingungan, gangguan koordinasi, kejang-
kejang, demam tinggi, bicara tidak jelas, toksoplasmosis okuler.
Pencegahan Toksoplasmosis
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko terkena infeksi toksoplasmosis,
yaitu:
Gunakan sarung tangan saat berkebun atau memegang tanah.

Hindari mengonsumsi daging mentah atau setengah matang.

Cucilah tangan sebelum dan sesudah memegang makanan.

Cucilah semua peralatan dapur dengan bersih setelah memasak daging mentah.

Selalu cuci buah dan sayuran sebelum dikonsumsi.

Hindari meminum susu kambing non-pasteurisasi atau produk-produk yang terbuat darinya.

Hindari kotoran kucing pada wadah kotoran kucing atau tanah, terutama bagi Anda yang
memelihara kucing.

Berikan kucing makanan kering atau kalengan daripada daging mentah.

Tutuplah bak pasir tempat bermain anak-anak.

Bagi orang yang memelihara kucing, beberapa hal di bawah ini bisa mengurangi risiko terkena
toksoplasmosis yaitu:
2

Jagalah kesehatan kucing peliharaan.

Hindari untuk memungut serta memelihara kucing liar.

Gunakan sarung tangan dan masker muka saat membersihkan wadah kotoran.

Di Indonesia, toksoplasmosis digolongkan sebagai salah satu jenis penyakit tular vektor dan
binatang pembawa penyakit. Sesuai dengan Pasal 11 Peraturan Menteri Kesehatan No. 82 tahun
2014, untuk mencegah penularan toksoplasmosis ke janin, biasanya para dokter di Indonesia
menganjurkan pemeriksaan bagi pria dan wanita yang sering berinteraksi dengan hewan
peliharaan dan ingin memiliki anak.

Infeks memang bisa fatal bagi janin. Cek lingkungan Anda.


Toxoplasma gondii adalah parasit yang menumpang hidup pada hewan induk semang seperti
kucing, anjing, kelinci, kambing, atau babi.

Anda mungkin saja terinfeksi parasit ini jika berjalan tanpa alas kaki di permukaan tanah yang
kebetulan tercemar parasit tersebut. Begitu juga bila Anda mengonsumsi daging yang kurang
sempurna pematangannya, atau sayuran dan buah-buahan mentah tanpa dicuci bersih.

Gejala. Penderita mengalami demam, sakit kepala, badan lemah, pembengkakan kelenjar getah
bening, penghlihatan terganggu, disorientasi, gemetar, kejang, bahkan perubahan kepribadian.

Deteksi. Melalui pemeriksaan darah di laboraturium.

Ada antibody immunoglobulin M (IgM), berarti di dalam tubuh sedang terjadi infeksi
toksoplasma akut (belum lama terjadi).
Kadar immunoglobulin G (IgG) meningkat empat kali lebih tinggi dari hasil pemeriksaan tiga
minggu sebelumnya, juga menunjukkan aktifnya infeksi.

Memang, meski seseorang dinyatakan positif terinfeksi toksoplasma, belum tentu langsung
tampak gejala sakit. Bila daya tahan tubuh orang tersebut kuat, parasit tidak aktif, hanya tidur.
3

Setelah kondisi tubuh orang itu lemah, infeksi menjadi aktif.

Dampak. Risiko terjadinya kelainan berat pada janin lebih besar bila terinfeksi di trimester
pertama dan kedua. Namun, kemungkinan tertular di trimester ini lebih rendah dibanding di
trimester akhir.
Bila terinfeksi, janin mengadapi risiko seperti:

Kelainan sistemik, seperti kuning, pembesaran hati dan limpa, juga pendarahan.
Kelainan saraf mata.
Gangguan fungsi saraf pusat (gangguan kecerdasan dan keterlamabatn bicara).
Cacat bawaan, seperti pembesaran kepala (hydrocephalus).
Keguguran.

Pengobatan. Mengingat risiskonya yang besar pada ibu hamil dan janin, dokter akan memberinya
obat khusus untuk membunuh parasit dan mencegah infeksi toksoplasma aktif atau bertambah
parah. Sementara bagi yang pernah menderita infeksi toxoplasma, hendaknya terus memantau
kondisi tubuhnya dna mengonsumsi obat untuk mencegah aktifnya kembali toxoplasma, hingga
tubuh benar-benar dinyatakan bersih dari parasit.

Latar Belakang
Toxoplasma atau Toxoplasmosis sering menjadi hal yang sangat ditakuti dan
dikhawatirkan bagi wanita hamil dan yang sedang merencanakan kehamilan.Toxoplasmosis
sendiri merupakan suatu infeksi protozoa Toxoplasmosa gondii, yang biasanya terjadi melalui
kontak dengan tinja kucing, makan makanan mentah, atau makanan daging yang terkontaminasi
dengan toxo ini. Bila infeksi toxo terjadi saat hamil maka akan dapat menyebabkan keguguran,
atau bila anak lahir maka dapat timbul dengan beberapa masalah kesehatan, seperti kelainan
kongenital cacat, pembesaran hati dan limpa, kekuningan pada kulit dan mata (jaundice), infeksi
mata yang berat, dll. Pengobatan akan memperendah resiko kelainan pada bayi dalam kandungan
anda. Namun bila Anda sedang merencanakan kehamilan, ada baiknya Anda memeriksakan diri
ke dokter dan bisa diikuti pula dengan menghindari makanan atau aktivitas yang memiliki risiko
tinggi terinfeksi Toxoplasmosis. Diantaranya adalah makan makanan mentah atau yang dimasak
setengah matang, sayuran yang tidak dicuci bersih dan dimakan mentah serta minum susu yang
4

tidak dipasteurisasi. Selain itu hindari pula kotoran kucing, terutama kucing yang kemungkinan
besar mengkonsumsi daging mentah, burung ataupun tikus.
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi infeksi toxoplasmosis
2. Untuk mengetahiui tanda dan gejala toxoplasma
3. Untuk mengetahui patofisiologi infeksi toxoplasmosis
4. Untuk mengetahui cara mendiagnosa infeksi toxoplasmosis
5. Untuk mengetahui dampak infeksi toxoplasmosis dan cara penularan dalam kehamilan
6. Untuk mengetahui pencegahan dan penatalaksanan infeksi toxoplasmosis dalam kehamilan
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii, yang
telah diketahui dapat menyebabkan cacat bawaan (kelainan kongenital) pada bayi dan keguguran
(abortus) pada ibu hamil. Infeksi toksoplasma dapat bersifat tunggal atau dalam kombinasi
dengan infeksi lain dari golongan TORSH-KM.
Sumber penularannya adalah kotoran hewan berbulu, terutama kucing. Cara penularan-
nya padamanusia melalui:
1. Makanan dan sayuran/buah-buahan yang tercemar kotoran hewan berbulu (kucing).
2. Makan daging setengah matang dari binatang yang terinfeksi.
3. Melalui transfusi darah atau transplantasi organ dari donor yang terinfeksi toksoplasma.
4. Secara kongenital (bawaan) dari ibu ke bayinya apabila ibu hamil terinfeksi pada bulan-bulan
pertamakehamilannya.
Toksoplasma pada ibu hamil dapat menyebabkan keguguran, lahir prematur, lahir mati,
lahir cacat atau infeksi toksoplasma bawaan. Bilamana ibu hamil terkena infeksi tokso-plasma
maka risiko terjadinya toksoplasmosis bawaan pada bayi yang dikandungnya berkisar antara 30-
40%. Infeksi toksoplasma bawaan ini dapat mengakibatkan anak yang dilahirkan mengalami
kerusakan mata, perkapuran otak, dan keterbelakangan mental, namun seringkali gejala ini tidak
terlihat pada bayi yang baru lahir (neonatus). Beberapa faktor yang mungkin berperan atas
munculnya gejala adalah fungsi plasenta sebagai sawar (barrier), status kekebalan (imunitas) ibu
5

hamil, dan umur kehamilan ketika terjadinya infeksi pada ibu. Makin besar umur kehamilan
ketika terjadinya infeksi, makin besar pula kemungkinan terjadinya infeksi toksoplasma bawaan
pada janin. Pada pihak lain, makin dini terjadinya infeksi pada janin, makin berat kerusakan
(kelainan) yang dapat terjadi pada janin dan makin besar kemungkinan abortus.
D.

E. Cara mendiagnosa infeksi toxoplasmosis

Toksoplasma dapat ditegakkan dengan mengidentifikasi parasit di sekresi


jaringan, cairan tubuh atau adanya peninggian titer antibodi yang sangat tinggi sampai delapan
kali.

Biasanya tanda-tanda radang otak (encephalitis) dan serebral palsi berkembang dalam
beberapa hari sampai sebulan setelah bayi lahir (Kasper and Boothroyd, 1993. Risiko seorang
ibu hamil yang terinfeksi akut dengan toksoplasma menurunkan infeksi pada bayi bila tidak
segera mendapat pengobatan sangat variatif,. Pada kehamilan trimester pertama risiko penurunan
25 %, trimester kedua 54 % dan 65 % pada trimester ketiga.

F.

G. Cara pencegahan infeksi toksoplasma dalam kehamilan

1. Penting melaksanakan pemeriksaan darah terhadap kemungkinan infeksi penyakit ini pada
masa pranikah atau sebelum kehamilan bagi kelompok yang mampu, karena penyakit ini dapat
diobati sehingga dampak negatif seperti keguguran, lahir mati atau cacat setelah lahir dapat
dihindari .

2. Hindari makan makanan yang dimasak mentah atau setengah matang.

3. Bersihkan dan cucilah buah-buahan atau sayuran sebelum dimakan dengan baik.

4. Bersihkan tangan, alat-alat dapur ( seperti; papan atau alas untuk memotong) yang dipakai
untuk mengelola daging mentah, hal ini untuk mencegah kontaminasi dengan makanan lainnya.

5. Jangan minum susu unpasteurized dari hewan..

6. Bila akan membersihkan sampah atau tempat sampah, jangan lupa menggunakan sarung
tangan, dan cucilah tangan atau sebaiknya serahkan tugas ini kepada anggota keluarga lainnya,
bila sedang hamil.
6

7. Pakailah sarung tangan bila ingin mengerjakan pekerjaan kebun atau perkarangan, untuk
menghindari kontak langsung dari kotoran hewan yang terinfeksi.

Untuk yang memelihara kucing :

a. Bila memelihara kucing, maka saat mencoba untuk hamil atau sedang hamil, serahkanlah
tugas membersihkan kotoran kucing kepada anggota yang lainnya.

b. Bersihkanlah kotoran kucing yang dipelihara setiap hari dan ingat untuk menggunakan sarung
tangan dan selalu mencuci tangan setiap selesai membersihkan.

c. Mencuci tangan setiap selesai bermain dengan kucing yang dipelihara.

d. Buanglah kotoran kucing dalam plastik ke tempat sampah, jangan menanam atau meletakanya
di dekat kebun atau taman.

e. Jangan memberi makan daging mentah untuk kucing yang dipelihara.

f. Periksakanlah ke dokter hewan bila melihat bahwa kucing yang dipelihara terdapat tanda-tanda
sakit.

g. Kucing yang dipelihara didalam rumah, yang tidak diberi daging mentah, dan tidak menangkap
burung atau tikus, biasanya tidak terinfeksi

h. Tidak dianjurkan pemeriksaan skrinig toxoplasma secara masal mengingat biaya relatif tinggi
dan masih tingginya hasil positif palsu dari laboratorium. Hindari para wanita hamil makan
daging yang tidak dimasak matang

H. PENATALAKSANAAN
1. Ibu
Prognosa pada infeksi yang akut baik, kecuali pada keadaan imonosekresi yang amat
besar. Wanta hamil dengan infeksi akut dapat dirawat dengan kombinasi pyrimethamine, asam
folimik dan sulfonamide. Dosis standar pyrimethamine adalah 25 mg/hari/oral dan 1 gr
sulfadiazine peroral 4 X/hari selam 1 tahun. Pyrimethamine adalah musuh dari asam folik dan
oleh karena itu mungkinmemberikan efek teratogenik jika diberikan pada trimester I. Asam
folimik diberikan dengan dosis 6 mg secara IM atau per oral setiap pada hari yang berbeda untuk
mengetahui apakah benar habisnya asam folat disebsbkan oleh Pyrimethamine.
Spiramycin adalah ejen lain yang digunakan pada pengobatan toxoplasma akut dan dapat
diperoleh pada pusat pengontrolan penyakit di USA.
7

2. Janin
Adanya gejala infeksi pada bayi lahir harus ditangani dengan pemberian pyrimethamine
dengan dosis 1 mg/kg/hr/oral selam 34 hari, dilanjutkan dosis 0,5 mg/kg/hr selam 21-30 hari dan
sulfadiazine dengan dosis 20 mg/kg per oral selam 1 tahun. Pada saat menginjak remaja
diberikan asam folimik 2-6 mg secara IM atau oral 3 X seminggu walaupun pada saat bayi dia
mendapatkan pyrimethamine. Infeksi congenital pada bayi baru lahir bukan merupakan
infeksius, oleh karena itu tidak perlu diisolasi. Bayi baru lahir yang tiak menunjukan infeksi dan
positif antibody IgG toxoplasma spesifiknya mungkin didapatkan dari ibunya secara
transplasetal. Pada bayi yang Tidak ditemukannya temuan yang lain yang mencurigakan
terjadinya infeksi congenital. harus dipantau,apabila tidak terinfeksi harus menunjukan adanya
penurunan titer antibody IgG terhadap toxoplasma.

BAB III
PENUTUP

Penyakit toxoplasmosis merupakan penyakit kosmopolitan dengan frekuensi tinggi di


berbagai negara juga di Indonesia karena gejala klinisnya ringan maka sering kali Input dari
pengamatan dokter. Padahal akibat yang ditimbulkannya memberikan beban berat bagi
masyarakat seperti abortus, lahir mati maupun cacat kongenital. Diagnosis secara laboratoris
cukup mudah yaitu dengan memeriksa antibodi kelas IgG dan IgM terhadap toxoplasmagondii
akan dapat diketahui status penyakit penderita.
Dianjurkan untuk memeriksakan diri secara berkala pada wanita hamil trimester pertama
akan kemungkinan terinfeksi dengan toxoplasmosis.
1. Toxoplasmosis berbahaya bagi janin bila ibu terinfeksi pada saat hamil,
khususnya pada Trimester I
2. Gejalanya tidak spesifik perlu pemeriksaan laboratorium pada awal kehamilan
3. Bila IgG & IgM negatif, hindarilah sumber infeksi yang dapat menyebabkan ibu
tertular dan selanjutnya perlu dilakukan pemantauan sepanjang kehamilan.
8

4. Bila IgG dan IgM positif belum tentu terinfeksi, tes lanjutan IgG avidity dapat
memperkirakan kapan infeksi terjadi (sebelum atau pada saat hamil)

A. SPESIFIKASI TOXOPLASMA GONDII


Gambar :

Toxoplasma gondii adalah parasit protozoa dalam genus Toxoplasma dengan sifat alami
dan perjalanan akut atau menahun. Toxoplasma gondii juga merupakan parasit pada manusia,
kucing, anjing, ayam, babi, marmot, kambing, ternak dan merpati, dan pada manusia
menimbulkan penyakit toxoplasmosis.

Toksoplasmosis, suatu penyakit yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii, merupakan


penyakit parasit pada manusia dan juga pada hewan yang menghasilkan daging bagi konsumsi
manusia. Infeksi yang disebabkan oleh T. gondii tersebar di seluruh dunia. Pada hewan berdarah
panas dan mamalia lainnya termasuk manusia sebagai hospes perantara, sedangkan kucing dan
berbagai jenis Felidae lainnya sebagai hospes definitif. Infeksi Toxoplasma tersebar luas dan
sebagian besar berlangsung asimtomatis, meskipun penyakit ini belum digolongkan sebagai
penyakit parasiter yang diutamakan pemberantasannya oleh pemerintah, tetapi beberapa
penelitian telah dilakukan di beberapa tempat untuk mengetahui derajat distribusi dan
prevalensinya. Indonesia sebagai negara tropik merupakan tempat yang sesuai untuk
perkembangan parasit tersebut. Keadaan ini ditunjang oleh beberapa faktor seperti sanitasi
lingkungan dan banyak sumber penularan terutama kucing dan sebangsanya (Felidae). Manusia
9

dapat terkena infeksi parasit ini dengan cara didapat (Aquired toxoplasmosis) maupun diperoleh
semenjak dalam kandungan (Congenital toxoplasmosis). Diperkirakan sepertiga penduduk dunia
mengalami infeksi penyakit ini.
Sebagai parasit, T. gondii ditemukan dalam segala macam sel jaringan tubuh kecuali sel
darah merah. Tetapi pada umumnya parasit ini ditemukan dalam sel retikulo endotelial dan
sistem syaraf pusat.
Kejadian Toxoplasmosis
Toxoplasmosis merupakan penyakit zoonosis yang secara alami dapat menyerang
manusia, ternak, hewan peliharaan lain seperti hewan liar, unggas dan lain-lain. Kejadian
toxoplasmosis telah dilaporkan dari beberapa daerah di dunia ini yang geografiknya sangat luas.
Survei terhadap kejadian ini memberi gambaran bahwa toxoplasmosis pada suatu daerah bisa
sedemikian hebatnya hingga setiap hewan memperlihatkan gejala toxoplasmosis. Survei yang
telah diadakan di Amerika Serikat.
Toxoplasmosis juga sering terjadi melalui jalur atau rute makanan yaitu bentuk jaringan
dari parasit (kista mikroskopis terdiri dari bradyzoites) dapat ditularkan kepada manusia oleh
makanan. Manusia menjadi terinfeksi karena :
Makanan setengah matang, atau daging yang terkontaminasi (terutama daging babi, domba, dan
daging rusa).
Menelan makanan setengah matang, memegang daging yang terkontaminasi dan tidak mencuci
tangan dengan bersih (Toxoplasma tidak dapat diserap melalui kulit utuh).
Makan makanan yang terkontaminasi oleh pisau, peralatan, talenan, atau makanan lain yang
pernah kontak dengan daging mentah yang terkontaminasi.

Pada manusia, penyakit toxoplasmosis ini sering menginfeksi melalui saluran


pencernaan. Biasanya melalui perantara makanan atau minuman yang terkontaminasi dengan
agen penyebab penyakit toxoplasmosis ini, misalnya karena minum susu sapi segar atau makan
daging yang belum matang sempurna dari hewan yang terinfeksi dengan penyakit toxoplasmosis.
Penyakit ini juga sering terjadi pada sejenis ras kucing yang berbulu lebat dan warnanya indah
yang biasanya disebut dengan mink. Pada kucing ras mink penyakit toxoplasmosis sering terjadi
karena makanan yang diberikan biasanya berasal dari daging segar (mentah) dan sisa-sisa daging
dari rumah potong hewan.
10

B. SEJARAH TOXOPLASMA GONDII


Toxoplasma gondii pertama kali ditemukan oleh Nicole dan Manceaux tahun 1908 pada
limfa dan hati hewan pengerat Ctenodactylus gundi di Tunisia Afrika dan pada seekor kelinci di
Brazil. Lebih lanjut Mello pada tahun 1908 melaporkan protozoa yang sama pada anjing di Italia,
sedangkan Janku pada tahun 1923 menemukan protozoa tersebut pada penderita korioretinitis.
Lalu Wolf pada tahun 1937 telah mengisolasinya dari neonatus dengan ensefalitis dan
dinyatakan sebagai penyebab infeksi kongenital pada anak. Walaupun perpindahan intra-uterin
secara transplasental sudah diketahui, tetapi baru pada tahun 1970 daur hidup parasit ini menjadi
jelas ketika ditemukan daur seksualnya pacta kucing.

C.
D.
E. MORFOLOGI DAN KLASIFlKASI
Toxoplasma gondii merupakan protozoa obligat intraseluler, terdapat dalam tiga bentuk
yaitu takizoit (bentuk proliferatif), kista (berisi bradizoit) dan ookista (berisi sporozoit). Bentuk
takizoit menyerupai bulan sabit dengan ujung yang runcing dan ujung lain agak membulat.
Ukuran panjang 4-8 mikron, lebar 2-4 mikron dan mempunyai selaput sel, satu inti yang terletak
di tengah bulan sabit dan beberapa organel lain seperti mitokondria dan badan golgi.
Kista dibentuk di dalam sel hospes bila takizoit yang membelah telah membentuk
dinding. Ukuran kista berbeda-beda, ada yang berukuran kecil hanya berisi beberapa bradizoit
dan ada yang berukuran 200 mikron berisi kira-kira 3000 bradizoit. Kista dalam tubuh hospes
dapat ditemukan seumur hidup terutama di otak, otot jantung, dan otot bergaris. Kista tersebut
mempunyai dinding, berisi satu sporoblas yang membelah menjadi dua sporoblas. Pada
perkembangan selanjutnya kedua sporoblas membentuk dinding dan menjadi sporokista.
Masing-masing sporokista tersebut berisi 4 sporozoit yang berukuran 8 x 2 mikron dan sebuah
benda residu.
Toxoplasma gondii dalam klasifikasi termasuk kelas Sporozoasida, karena berkembang
biak secara seksual dan aseksual yang terjadi secara bergantian. Selain itu Toxoplasma gondii
terdapat dalam 3 bentuk yaitu bentuk trofozoit, kista, clan Ookista. Trofozoit berbentuk oval
dengan ukuran 3-7 um, dapat menginvasi semua sel mamalia yang memiliki inti sel. Dapat
11

ditemukan dalam jaringan selama masa akut dari infeksi. Bila infeksi menjadi kronis, trofozoit
dalam jaringan akan membelah secara lambat dan disebut bradizoit.
Bentuk kedua adalah kista yang terdapat dalam jaringan dengan jumlah ribuan berukuran
10-100 um. Kista penting untuk transmisi dan paling banyak terdapat dalam otot rangka, otot
jantung dan susunan syaraf pusat. Bentuk yang ketiga adalah bentuk Ookista yang berukuran 10-
12 um. Ookista terbentuk di sel mukosa usus kucing dan dikeluarkan bersamaan dengan feces
kucing. Dalam epitel usus kucing berlangsung siklus aseksual atau schizogoni dan siklus seksual
atau gametogeni dan sporogoni yang menghasilkan ookista dan dikeluarkan bersama feces
kucing.
Kucing yang mengandung toxoplasma gondii dalam sekali ekskresi akan mengeluarkan
jutaan ookista. Bila ookista ini tertelan oleh hospes perantara seperti manusia, sapi, kambing atau
kucing maka pada berbagai jaringan hospes perantara akan dibentuk kelompok-kelompok
trofozoit yang membelah secara aktif. Pada hospes perantara tidak dibentuk stadium seksual
tetapi dibentuk stadium istirahat yaitu kista. Bila kucing makan tikus yang mengandung kista
maka terbentuk kembali stadium seksual di dalam usus halus kucing tersebut.
o Menurut Levine (1990) klasifikasi parasit sebagai berikut :

Kingdom : Animalia
Sub kingdom : Protozoa
Filum : Apicomplexa
Kelas : Sporozoasida
Sub Kelas : Coccidiasina
Ordo : Eucoccidiorida
Sub ordo : Eimeriorina
Famili : Sarcocystidae
Genus : Toxoplasma
Spesies : Toxoplasma gondii

F. DAUR HIDUP TOXOPLASMA GONDII


Siklus hidup T. gondii memiliki dua fase. Bagian seksual dari siklus hidup hanya terjadi
pada kucing, baik domestik maupun liar (keluarga Felidae), yang membuat kucing menjadi tuan
rumah utama parasit. Tahap kedua, bagian aseksual dari siklus hidup, dapat terjadi di lain hewan
12

berdarah panas, termasuk kucing, tikus, manusia, dan burung. Host dimana reproduksi aseksual
terjadi disebut hospes perantara.
Hewan Pengerat adalah hospes perantara yang khas. Dalam kedua jenis host, parasit
Toxoplasma menyerang sel dan membentuk ruang yang disebut vakuola. Di dalam vakuola
khusus yang disebut vakuola parasitophorous, bentuk parasit bradyzoites, perlahan mereplikasi
parasit.
Vakuola yang berisi kista bentuk reproduksi bradyzoites terutama dalam jaringan otot
dan otak. Karena parasit berada di dalam sel, mereka aman dari sistem kekebalan inang yang
tidak menanggapi kista.
Kucing dan hewan sejenisnya merupakan hospes definitif dari T. gondii. Di dalam usus
kecil kucing sporozoit menembus sel epitel dan tumbuh menjadi trofozoit. Inti trofozoit
membelah menjadi banyak sehingga terbentuk skizon. Skizon matang pecah dan menghasilkan
banyak merozoit (skizogoni). Daur aseksual ini dilanjutkan dengan daur seksual. Merozoit
masuk ke dalam sel epitel danmembentuk makrogametosit dan mikrogametosit yang menjadi
makrogamet dan mikrogamet (gametogoni). Setelah terjadi pembuahan terbentuk ookista, yang
akan dikeluarkan bersama kotoran kucing. Di luar tubuh kucing, ookista tersebut akan
berkembang membentuk dua sporokista yang masing-masing berisi empat sporozoit (sporogoni).
Bila ookista tertelan oleh mamalia seperti domba, babi, sapi dan tikus serta ayam atau burung,
maka di dalam tubuh hospes perantara akan terjadi daur aseksual yang menghasilkan takizoit.
Takizoit akan membelah, kecepatan membelah takizoit ini berkurang secara berangsur kemudian
terbentuk kista yang mengandung bradizoit. Bradizoit dalam kista biasanya ditemukan pada
infeksi menahun (infeksi laten).
Resistensi Toxoplasma untuk antibiotik bervariasi, tetapi kista sangat sulit untuk
diberantas sepenuhnya. Di dalam vakuola, T. Gondii itu sendiri (dengan endodyogeni) sampai
pada sel yang terinfeksi parasit dan mengisi dengan semburan, melepaskan takizoit, bentuk, dan
motil secara reproduksi aseksual parasit. Berbeda dengan bradyzoites, maka takizoit bebas
biasanya efisien dibersihkan oleh sistem kekebalan inang, meskipun beberapa dari mereka
berhasil menginfeksi sel dan bradyzoites dengan cara mempertahankan infeksi pada jaringan
kista yang tertelan oleh kucing (misalnya, dengan memberi makan pada tikus yang terinfeksi).
Kista bertahan hidup melalui perut kucing dan parasit menginfeksi epitel dari usus kecil
di mana mereka mengalami reproduksi seksual dan pembentukan ookista. Ookista berasal dari
13

feses. Hewan dan manusia yang menelan ookista (misalnya, dengan makan sayuran yang tidak
dicuci) atau terinfeksi jaringan kista dalam daging yang dimasak secara tidak benar. Parasit
memasuki makrofag pada lapisan usus dan didistribusikan melalui aliran darah ke seluruh tubuh.
Serupa dengan mekanisme yang digunakan di banyak virus, toksoplasma mampu
mendisregulasi siklus sel inang dengan mengadakan pe mbelahan sel sebelum mitosis
(perbatasan G2 / M). Disregulasi siklus sel inang disebabkan oleh sekresi peka panas sel yang
terinfeksi sehingga mengeluarkan faktor yang menghambat siklus sel tetangga. Alasan untuk
disregulasi Toxoplasma tidak diketahui, tetapi penelitian telah menunjukkan bahwa infeksi
adalah khusus untuk host sel-sel dalam struktur sel S-fase dan host yang berinteraksi dengan
Toxoplasma sehingga tidak dapat diakses selama tahap-tahap lain dari siklus sel.
Infeksi tahap akut toksoplasma dapat tanpa gejala, tetapi sering memberikan gejala
seperti flu pada tahap akut awal, dan dapat menjadi flu yang fatal (kasus sangat jarang terjadi)
lalu tahap akut mereda dalam beberapa hari ke bulan, yang mengarah ke tahap laten. Infeksi
laten biasanya tanpa gejala, namun dalam kasus pasien immunocompromised (seperti mereka
yang terinfeksi HIV atau penerima transplantasi pada terapi imunosupresif), toksoplasmosis
dapat berkembang.
Manifestasi yang paling menonjol dari toksoplasmosis pada pasien immunocompromised
adalah ensefalitis toksoplasma, yang dapat mematikan. Jika infeksi T. gondii terjadi untuk
pertama kali selama kehamilan, misalkan pada kotoran kucing yang terinfeksi T. gondii, parasit
dapat melewati plasenta, mungkin menyebabkan hidrosefalus atau mikrosefali, kalsifikasi
intrakranial, korioretinitis dan kemungkinan bisa terjadi aborsi spontan (keguguran) atau
kematian intrauterin.
Gambar Daur Hidup :
14

G.

H. GEJALA
Pada garis besarnya sesuai dengan cara penularan dan gejala klinisnya, toksoplasmosis
dapat dikelompokkan menjadi : Toksoplasmosis akuisita (dapatan) dan Toksoplasmosis
kongenital. Baik toksoplasmosis dapatan maupun kongenital sebagian besar asimtomatis atau
tanpa gejala. Keduanya dapat bersifat akut dan kemudian menjadi kronik atau laten. Gejala yang
nampak sering tidak spesifik dan sulit dibedakan dengan penyakit lain.
Toksoplasmosis dapatan biasanya tidak diketahui karena jarang menimbulkan gejala.
Tetapi bila seorang ibu yang sedang hamil mendapat infeksi primer, ada kemungkinan bahwa
50% akan melahirkan anak dengan toksoplasmosis kongenital. Gejala yang dijumpai pada orang
dewasa maupun anak-anak umumnya ringan.
Gejala klinis yang paling sering dijumpai pada toksoplasmosis dapatan adalah
limfadenopati dan rasa lelah, disertai demam dan sakit kepala. Pada infeksi akut, limfadenopati
sering dijumpai pada kelenjer getah bening daerah leher bagian belakang. Gejala tersebut di atas
dapat disertai demam, mialgia, malaise. Bentuk kelainan pada kulit akibat toksoplasmosis berupa
ruam makulopapuler yang mirip kelainan kulit, sedangkan pada jaringan paru dapat terjadi
pneumonia interstisial.
15

Gambaran klinis toksoplasmosis kongenital dapat bermacam-macam. Ada yang tampak


normal pada waktu lahir dan gejala klinisnya baru timbul setelah beberapa minggu sampai
beberapa tahun. Ada gambaran eritroblastosis, hidrops fetalis dan triad klasik yang terdiri dari
hidrosefalus, korioretinitis dan perkapuran intrakranial atau tetrade sabin yang disertai kelainan
psikomotorik. Toksoplasmosis kongenital dapat menunjukkan gejala yang sangat berat dan
menimbulkan kematian penderitanya karena parasit telah tersebar luas di berbagai organ penting
dan juga pada sistem syaraf penderita.
Gejala susunan syaraf pusat sering meninggalkan gejala sisa, misalnya retardasi mental
dan motorik. Kadang-kadang hanya ditemukan sikatriks pada retina yang dapat kambuh pada
masa anak-anak, remaja atau dewasa. Korioretinitis karena toksoplasmosis pada remaja dan
dewasa biasanya akibat infeksi kongenital.
Akibat kerusakan pada berbagai organ, maka kelainan yang sering terjadi bermacam-
macam jenisnya. Kelainan pada bayi dan anak-anak akibat infeksi pada ibu selama kehamilan
trimester pertama, dapat berupa kerusakan yang sangat berat sehingga terjadi abortus atau lahir
mati, atau bayi dilahirkan dengan kelainan seperti ensefalomielitis, hidrosefalus, kalsifikasi
serebral dan korioretinitis. Pada anak yang lahir prematur, gejala klinis lebih berat dari anak yang
lahir cukup bulan, dapat disertai hepatosplenomegali, ikterus, limfadenopati, kelainan susunan
syaraf pusat dan lesi mata.

I. MANIFESTASI KLINIS
Infeksi T. gondii pada individu dengan imunodefisiensi menyebabkan manifestasi
penyakit dari tingkat ringan, sedang sampai berat, tergantung kepada derajat imunodefisiensinya.
Menurut Gandahusada dkk.,(1992), pada penderita imunodefisiensi, infeksi T. gondii menjadi
nyata, misalnya pada penderita karsinoma, leukemia atau penyakit lain yang diberi pengobatan
kortikosteroid dosis tinggi atau radiasi. Gejala yang timbul biasanya demam tinggi, disertai
gejala susunan syaraf pusat karena adanya ensefalitis difus. Gejala klinis yang berat ini mungkin
disebabkan oleh eksaserbasi akut dari infeksi yang terjadi sebelumnya atau akibat infeksi baru
yang menunjukkan gejala klinis yang dramati karena adanya imuno-defisiensi. Pada penderita
AIDS, infeksi T. gondii sering menyebabkan ensefalitis dan kematian. Sebagian besar penderita
AIDS dengan ensefalitis akibat T. gondii tidak menunjukkan pembentukan antibodi dalam
serum.
16

J. PENCEGAHAN
Kucing merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi timbulnya toksoplasmosis,
karena kucing mengeluarkan berjuta-juta ookista dalam tinjanya, yang dapat bertahan sampai
satu tahun di dalam tanah yang teduh dan lembab. Untuk mencegah hal ini, maka terjadinya
infeksi pada kucing dapat dicegah, yaitu dengan memberi makanan yang matang sehingga
kucing tidak berburu tikus atau burung. Bila kucing diberikan monensin 200 mg/kg melalui
makanannya, maka kucing tersebut tidak akan mengeluarkan ookista bersama tinjanya, tetapi ini
hanya dapat digunakan untuk kucing peliharaan. Untuk mencegah terjadinya infeksi dengan
ookista yang berada di dalam tanah, dapat diusahakan mematikan ookista dengan bahan kimia
seperti formalin, amonia dan iodin dalam bentuk larutan serta air panas 70oC yang disiramkan
pada tinja kucing
Anak balita yang bermain di tanah atau ibu-ibu yang gemar berkebun, juga petani
sebaiknya mencuci tangan yang bersih dengan sabun sebelum makan. Sayur mayur yang
dimakan sebagai lalapan harus dicuci bersih, karena ada kemungkinan ookista melekat pada
sayuran. Makanan yang matang harus ditutup rapat supaya tidak dihinggapi lalat atau kecoa yang
dapat memindahkan ookista dari tinja kucing ke makanan tersebut.
Kista jaringan dalam hospes perantara (kambing, sapi, babi dan ayam) sebagai sumber
infeksi dapat dimusnahkan dengan memasaknya sampai 66C atau mengasap dan sampai matang
sebelum dimakan. Bagi ibu yang memasak, jangan mencicipi hidangan daging yang belum
matang. Setelah memegang daging mentah (tukang jagal, penjual daging, tukang masak)
sebaiknya cuci tangan dengan sabun sampai bersih. Yang paling penting dicegah adalah
terjadinya toksoplasmosis kongenital karena anak yang lahir dapat menyebabkan cacat dengan
retardasi mental dan gangguan motorik.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Penyakit toxoplasmosis merupakan penyakit kosmopolitan dengan frekuensi tinggi di
berbagai negara dan juga di Indonesia karena gejala klinisnya ringan maka sering kali luput dari
pengamatan dokter. Padahal akibat yang ditimbulkan bisa memberikan beban berat bagi
masyarakat seperti abortus, lahir mati maupun cacat kongenital. Diagnosis secara laboratoris
cukup mudah yaitu dengan memeriksa antibodi kelas IgG dan IgM terhadap Toxoplasma gondii
17

akan dapat diketahui status penyakit penderita. Dianjurkan untuk memeriksakan diri secara
berkala pada wanita hamil trimester pertama akan kemungkinan terinfeksi dengan
toxoplasmosis.
Toxoplasma gondii merupakan protozoa obligat intraseluler yang dapat menyebabkan
penyakit toxoplasmosis konginetal dan toksoplasmosis akuisita. Hospes Definitif T. gondii
adalah kucing dan binatang sejenisnya (Felidae). Hospes perantaranya adalah manusia, mamalia
lainnya dan burung.

B. SARAN
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar penulisan makalah
selanjutnya bisa lebih baik lagi. Demikian penulis ucapkan terimakasih.
DAFTAR PUSTAKA
Ir. Indra Chahaya S., M.Si , 2003 , Epidemiologi Toxoplasma gondii . Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Dharmana, Edi , 2007 , Toxoplasma gondii, Musuh Dalam Selimut : Semarang . Kakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro
Blader, Ira J. , 2009 , Communication between Toxoplasma gondii and its host: impact on
parasite growth, development, immune evasion, and virulence : Okhlahoma . University of
Okhlahoma Health Sciences Center.
Schmidt, Ronald H. , 2003 , General Overview of the Causative Agents of Foodborne
Illness : Florida . University of Florida