Anda di halaman 1dari 47

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Gereja adalah persekutuan para orang beriman yang percaya kepada

Yesus Kristus. Dalam gereja terdapat pembinaan warga gereja. Pembinaan

warga gereja bertujuan membina warga gereja bertumbuh dalam iman kristiani.

Tujuan dasar dari pembinaan warga gereja adalah menuntun orang percaya

kepada jalan kebenaran dan keselamatan dalam Kristus. Allah menginginkan

supaya umat-Nya bertumbuh di dalam segala hal kearah Dia, Kristus yang

adalah kepala (Ef. 4: 11-15). Dengan demikian, gereja bertanggung jawab

memberikan pengajaran Pendidikan Agama Kristen kepada jemaat sebagai

bentuk pembinaan warga gereja.

Menurut Marthin Luther dalam Boehlke (2005: 413) Pendidikan

Agama Kristen adalah pendidikan yang melibatkan warga jemaat untuk belajar

teratur dan tertib agar semakin menyadari dosa mereka serta sukacita di dalam

firman Yesus Kristus yang memerdekakan orang percaya. Disamping itu,

Pendidikan Agama Kristen memperlengkapi mereka dengan pengalaman

berdoa, firman Tuhan (Alkitab) dan rupa-rupa kebudayaan, sehingga mereka

mampu melayani sesama termasuk masyarakat dan negara serta mengambil

bagian dengan bertanggung jawab dalam persekutuan Kristen.


2

Dalam pelayanan yang berkaitan dengan Pendidikan Agama Kristen,

terdapat tiga komponen penting yaitu gereja sebagai lembaga organisasi,

keluarga dan sekolah (Ismail, 2004: 34). Gereja dalam hal ini memiliki otoritas

sebagai pengajaran iman dalam pembinaan warga gereja. Salah satu tugas dan

tanggung jawab gereja sebagai pembinaan warga gereja adalah pendidikan

terhadap anak-anak. Pengajaran Pendidikan Agama Kristen dimulai dari anak-

anak, agar anak dapat mengenal dan menerima Yesus Kristus sebagai

juruselamat pribadinya. Dengan demikian, pengajaran Pendidikan Agama

Kristen untuk anak-anak menjadi begitu penting.

Pentingnya memberikan Pendidikan Agama Kristen kepada anak-anak

banyak terdapat dalam Alkitab, salah satunya kitab Ulangan 6:7 yang berbunyi

haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan

membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang

dalam perjalanan, apabila engkau berbaring, dan apabila engkau bangun. Hal

ini menunjukkan betapa pentingnya Pendidikan Agama Kristen diajarkan

kepada anak-anak. Oleh karena itu, salah satu tugas dan tanggung jawab gereja

sebagai pembinaan warga gereja mengajarkan Pendidikan Agama Kristen

terhadap anak-anak dalam Sekolah Minggu. Sekolah Minggu merupakan

kegiatan gereja untuk menjangkau dan membawa setiap orang kepada Yesus

Kristus serta mengajarkan Alkitab untuk mengubah kehidupan mereka menjadi

murid Yesus yang penuh pengharapan (Leo, 2013: 2). Dalam Sekolah Minggu

anak-anak akan diajarkan oleh guru Sekolah Minggu. Guru Sekolah Minggu
3

mempunyai tugas dan tanggung jawab dari Pendidikan Agama Kristen di

gereja untuk mengajarkan dan mendidik anak-anak Sekolah Minggu.

Anak-anak Sekolah Minggu harus mendapat perhatian khusus dari

gereja, karena anak-anak akan menjadi generasi penerus keluarga, gereja dan

negara. Dalam hal ini, gereja harus menyediakan lingkungan yang baik bagi

guru dan anak Sekolah Minggu dalam pembelajaran Pendidikan Agama

Kristen. Melalui pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Minggu

anak-anak akan dididik untuk disiplin, misalnya bangun pagi, hadir tepat

waktu, berdoa, membaca Alkitab, memberi persembahan dan memuji nama

Tuhan. Sekolah Minggu juga melatih anak-anak untuk saling memperhatikan,

mengasihi, toleran, dapat berbagi, menghargai dan bertanggung jawab

(Siswanto, 2015: 14). Bila proses Pendidikan Agama Kristen dalam Sekolah

Minggu seperti ini terus dikembangkan, maka anak-anak akan belajar

bertumbuh dengan baik, dapat mandiri, serta semakin dewasa baik dari

perkataan, pikiran, perbuatan dan iman. Hasil pendidikan Sekolah Minggu

akan memberikan manfaat bagi anak Sekolah Minggu, keluarga, masyarakat

dan gereja.

Dalam mengikuti kegiatan di Sekolah Minggu, untuk memperoleh

hasil pendidikan yang bermanfaat bagi anak-anak bukanlah hal yang mudah.

Ada berbagai masalah yang dapat terjadi di Sekolah Minggu, salah satunya

seperti di Sekolah Minggu GKE Agape Resort Palangka Raya Hilir. Kerinduan

anak-anak untuk datang ke Sekolah Minggu kian lama cenderung kian

menurun. Anak-anak kurang termotivasi untuk mengikuti pembelajaran


4

Pendidikan Agama Kristen. Hal ini dapat dilihat dari daftar hadir Sekolah

Minggu pada minggu ketiga bulan Januari - bulan April, dari 80 anak rata-rata

kehadiran hanya 29%. Hal ini menunjukkan bahwa banyak anak yang tidak

hadir ke Sekolah Minggu. Bukan hanya itu saja, anak-anak yang hadir saat

mengikuti kegiatan Sekolah Minggu kurang menunjukkan ketertarikan untuk

belajar, pasif, ingin cepat pulang, ada yang ribut, bosan, sibuk sendiri,

menganggu temannya, bermain handphone, mengantuk, berlari kesana-kemari,

tidak memperhatikan cerita firman Tuhan dengan baik dan tidak semangat

dalam memuji Tuhan. Pada saat anak-anak diberikan tugas untuk minggu

depan, hanya beberapa orang anak saja yang mengerjakan tugasnya, misalnya

saat diberi tugas untuk menghapal murid Tuhan Yesus, hukum kasih, nast

Alkitab dan lain-lain. Berdasarkan angket yang disebarkan kepada guru

Sekolah Minggu, 72.7% guru Sekolah Minggu setuju bahwa anak Sekolah

Minggu kurang termotivasi mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama

Kristen di GKE Agape.

Kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Minggu

nampaknya kurang menarik dan berkesan bagi anak-anak. Salah satu penyebab

kondisi ini adalah strategi pembelajaran yang kurang kreatif dan bervariasi. Hal

ini disebabkan kurangnya kreativitas dan persiapan guru-guru Sekolah Minggu

untuk mengajar, kurangnya kerja sama yang baik antara guru-guru Sekolah

Minggu untuk rencana pengajaran, alat peraga yang kurang lengkap, serta

kurangnya bahan ajar khusus dan kurikulum Sekolah Minggu yang menjadi

pedoman dalam mengajar. Sehingga pengajaran ke anak-anak belum dapat


5

disampaikan dengan baik dan menarik. Akibatnya, motivasi anak-anak untuk

hadir ke Sekolah Minggu semakin berkurang.

Dalam mengatasi kondisi seperti ini, maka harus disikapi dengan bijak

oleh guru Sekolah Minggu. Guru Sekolah Minggu harus mengembangkan diri

agar kegiatan Sekolah Minggu menjadi kreatif dan menarik bagi anak-anak.

Guru Sekolah Minggu yang kreatif dan menarik tidak hanya mengajarkan

pengetahuan, tetapi juga mengajarkan kehidupan, dengan begitu mereka akan

selalu dinanti- nantikan oleh anak-anak. Guru yang selalu dinantikan oleh

anak-anak adalah guru yang selalu menemukan dan mengundang (Siswanto,

2015: 3). Guru yang selalu mengundang hati anak-anak adalah guru yang

mengutamakan kecintaannya melihat kegembiraan anak-anak, karena seperti

yang tertulis dalam Firman Tuhan hati yang gembira adalah obat yang manjur,

tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang (Amsal 17: 22). Salah satu

cara agar guru Sekolah Minggu dapat menemukan dan mengundang anak-anak

adalah dengan menggunakan strategi kreatif untuk menyambut anak, memuji

Tuhan, mempelajari firman Tuhan dan membuat aktivitas (4M).

Strategi 4M adalah salah satu cara, teknik atau strategi kreatif

mengajar di Sekolah Minggu yang terdiri dari menyambut anak, memuji

Tuhan, mempelajari firman Tuhan dan membuat aktivitas. Strategi ini

menggunakan konsep belajar aktif dan menyenangkan dalam mempelajari

firman Tuhan. Strategi ini dapat memotivasi anak aktif dalam mengikuti

kegiatan di Sekolah Minggu, dan menjadi kegiatan yang aktif, menarik dan

menyenangkan.
6

Berdasarkan masalah yang terjadi di atas, maka penulis tertarik untuk

melakukan penelitian tentang strategi kreatif tersebut dalam pembelajaran

Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Minggu GKE Agape Palangka Raya.

Dengan demikian, judul penelitian yang ditetapkan oleh penulis adalah:

Pengaruh Strategi Menyambut Anak, Memuji Tuhan, Mempelajari Firman

Tuhan dan Membuat Aktivitas (4M) Terhadap Motivasi Anak Pada Kelas

Besar Mengikuti Sekolah Minggu di GKE Agape Palangka Raya.

B. PERUMUSAN MASALAH

1. Apakah ada pengaruh strategi Menyambut Anak, Memuji Tuhan,

Mempelajari Firman Tuhan dan Membuat Aktivitas (4M) terhadap

motivasi anak pada kelas besar mengikuti Sekolah Minggu di GKE Agape

Palangka Raya ?

C. TUJUAN PENELITIAN

1. Menguji pengaruh strategi Menyambut Anak, Memuji Tuhan, Mempelajari

Firman Tuhan dan Membuat Aktivitas (4M) terhadap motivasi anak pada

kelas besar mengikuti Sekolah Minggu di GKE Agape Palangka Raya.

D. MANFAAT PENELITIAN
7

Berdasarkan tujuan tersebut, penelitian ini diharapkan dapat

memberikan manfaat yaitu:

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk

menambah wawasan, pengalaman, dan pengetahuan.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Penulis

Menambah pengetahuan dan kreatifitas penulis tentang strategi

pembelajaran yang kreatif untuk digunakan dalam dunia Pendidikan

Agama Kristen, agar proses pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan

tujuan yang diharapkan.

b. Bagi Anak Sekolah Minggu

Supaya setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan

strategi kreatif Menyambut Anak, Memuji Tuhan, Mempelajari Firman

Tuhan dan Membuat Aktivitas (4M), anak-anak diharapkan termotivasi

hadir Sekolah Minggu dan memiliki antusias belajar firman Tuhan.

c. Bagi Gereja

Memberikan pengaruh positif dan informasi untuk

meningkatkan mutu dan kualitas Pendidikan Agama Kristen yang

diterapkan dalam proses pembelajaran di Sekolah Minggu.


8

E. PEMBATASAN MASALAH

Agar penelitian lebih fokus dan tidak meluas dari pembahasan, maka

penulis memberikan pembatasan masalah pada motivasi anak Sekolah Minggu

lingkungan Agape kelas besar yang berusia 8-12 tahun.

F. ASUMSI

Asumsi adalah anggapan peneliti dari situasi yang ada dalam konteks

penelitian. Asumsi yang penulis ajukan dalam penelitian ini adalah motivasi

belajar anak Sekolah Minggu tidak hanya terbentuk dari dalam diri individu,

tetapi dapat juga dipengaruhi dengan adanya strategi pembelajaran kreatif dan

menarik yang digunakan oleh guru Sekolah Minggu. Salah satu strategi

pembelajarannya adalah strategi Menyambut Anak, Memuji Tuhan,

Mempelajari Firman Tuhan dan Membuat Aktivitas (4M)

G. HIPOTESIS

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah yang akan

diteliti dan disusun dalam suatu pertanyaan yang menghubungkan antara dua

variabel atau lebih. Hipotesis dalam penulisan terdiri dari hipotesis kerja (H1)

dan hipotesis nihil (H0).

Agar penulisan ini dapat mencapai sasaran dan maksud yang

diinginkan maka penulis mengajukan hipotesis, sebagai berikut :

1. H0: Tidak ada pengaruh strategi menyambut anak, memuji tuhan,

mempelajari firman tuhan dan membuat aktivitas (4m) terhadap motivasi


9

anak pada kelas besar mengikuti Sekolah Minggu Di GKE Agape Palangka

Raya

H1: Ada pengaruh strategi menyambut anak, memuji tuhan, mempelajari

firman tuhan dan membuat aktivitas (4M) terhadap motivasi anak pada

kelas besar mengikuti Sekolah Minggu di GKE Agape Palangka Raya.

H. ALASAN PEMILIHAN JUDUL

Adapun yang menjadi alasan pemilihan judul penulisan ini adalah:

1. Karena penulis ingin mengetahui apakah strategi Menyambut Anak, Memuji

Tuhan, Mempelajari Firman Tuhan dan Membuat Aktivitas (4M)

memiliki pengaruh terhadap motivasi anak Sekolah Minggu khususnya

kelas besar dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di GKE Agape

Palangka Raya.

2. Karena masalah motivasi belajar anak Sekolah Minggu yang kurang dalam

mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di GKE Agape

Palangka Raya.

I. DEFINISI ISTILAH

1. Strategi 4M merupakan salah satu cara/ teknik mengajar di Sekolah

Minggu yang dikelompokkan ke dalam empat bagian yaitu menyambut

anak, memuji Tuhan, mempelajari firman Tuhan dan membuat aktivitas,

sebagai sebuah kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dalam

Sekolah Minggu, agar anak termotivasi untuk mengetahui, mencintai,


10

menginginkan dan mengerjakan setiap kegiatan pembelajaran. (Siswanto,

2015: 8)

2. Motivasi adalah dorongan yang terjadi dari dalam atau luar diri individu

yang digerakkan oleh keinginan, perhatian, kemauan atau sebuah cita-cita,

sehingga membuat terjadinya perubahan diri individu yang

diwujudnyatakan dalam sebuah tindakan atau tingkah laku. (Sardiman,

2012: 73)

J. SISTEMATIKA PENULISAN

Bab I Pendahuluan: terdiri dari Latar Belakang Masalah, Rumusan

Masalah, Tujuan Penulisan, Manfaat Penulisan, Pembatasan Masalah, Alasan

Pemilihan Judul, Asumsi, Hipotesis, Definisi Istilah, dan Sistematika

Penulisan.

Bab II Kerangka Teoritis: Yang menyajikan kajian teori secara

terperinci mengenai Strategi 4M, Motivasi, Sekolah Minggu.

Bab III Metode Penelitian: terdiri dari Pendekatan Penulisan, Jenis

Penulisan, Lokasi Penelitian, Waktu Penulisan, Sumber Data Penulisan

(Populasi dan Sampel), Teknik Pengumpulan Data, Teknik Analisa Data, dan

Teknik Uji Hipotesis.

Bab IV: Hasil Penelitian dan Pembahasan yang meliputi Gambaran

Umum Lokasi Penelitian dan Hasil Penelitian dan Analisa Data (sesuai dengan

rumusan masalah dan tujuan penelitian).

Bab V: Penutup yang meliputi kesimpulan dan saran-saran.


11

BAB II

LANDASAN TEORITIS

A. STRATEGI 4M

1. Pengertian Strategi 4M

Strategi adalah pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik

dalam perwujudan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah

ditentukan (Djamarah & Zain, 2002: 5). Menurut (Siswanto, 2015: 8)

strategi 4M merupakan salah satu cara/ teknik mengajar dengan

menggunakan aktivitas sebagai sarana untuk menyampaikan bahan ajar

yang dikelompokkan dalam proses belajar mengajar di Sekolah Minggu

/pelayanan anak menjadi empat bagian, yaitu menyambut anak, memuji

Tuhan, mempelajari firman Tuhan dan membuat aktivitas yang dijelaskan di

bawah ini:

a. Menyambut Anak

Menyambut Anak merupakan kegiatan paling awal dalam suatu

ibadah anak/ pelayanan anak. Menyambut Anak berarti menerima

kedatangan/ kehadiran anak-anak sebelum ibadah Sekolah Minggu

dimulai. Kegiatan ini penting dilakukan karena selain mereka akan

merasa diterima kehadirannya, kegiatan ini dapat membangun jembatan

komunikasi yang baik antara guru Sekolah Minggu/ pelayan dengan

anak-anak maupun di antara anak-anak itu sendiri (Siswanto, 2015: 8).

12
12

Kegiatan dalam Menyambut Anak meliputi beberapa hal, seperti

sapaan dan salam saat anak-anak datang, mengantarkan anak-anak ke

ruang ibadah dan mempersilakan mereka duduk, serta ice breaker (Istilah

yang dipakai untuk mencairkan suasana, bisa berupa permainan atau

aktivitas lainnya). Bahkan M1 ini bisa dilakukan sampai anak-anak siap

memasuki ibadah (Siswanto, 2015: 8). Bentuk-bentuk kreasi yang dapat

dilakukan untuk menyambut anak Sekolah Hari Minggu supaya siap

memasuki ibadah, yaitu kreasi tepuk tangan, kreasi yel-yel, kreasi

tangkap jari, kreasi apa kabar, kreasi gerakan motorik dan kreasi kereta.

Menyambut Anak sama saja seperti menyambut tamu, yaitu

suatu pelayanan yang menuntut pertanggungjawaban terhadap gereja dan

kepada Tuhan. Menurut (Selan, 2006: 63) ada beberapa alasan yang perlu

dipertimbangkan dalam Menyambut Anak, yaitu:

1) Kesan pertama yang diterima seorang anak ialah apa yang diberikan

guru Sekolah Minggu selama kegiatan pembelajaran Pendidikan

Agama Kristen dalam ibadah Sekolah Minggu berlangsung.

Sebaliknya, jika anak merasa malu, segan dan takut, maka ia tidak

dapat beribadah dengan sesungguhnya kepada Tuhan (Selan, 2006:

63).

2) Guru Sekolah Minggu perlu bekerja sama dengan anggota gereja,

karena gereja adalah ibarat sebuah rumah tangga. Apabila ada tamu,

yang menyambutnya bukan hanya orang tua, tetapi semua anggota

keluarga. Sama halnya dengan di gereja. Menyambut Anak bukan


13

hanya tugas guru Sekolah Minggu, melainkan setiap anggota gereja

dalam menciptakan suasana kekeluargaan dengan anak-anak selama

ibadah berlangsung maupun sesudahnya (Selan, 2006:63).

3) Tugas Menyambut Anak tidak berakhir setelah mengucapkan,

Silakan duduk dan selamat beribadah. Sebenarnya kegiatan itu

berlangsung sebelum, selama, dan sesudah ibadah. Selama anak-anak

dalam gereja, selama itu pula tugas guru Sekolah Minggu

berlangsung. Bercakap-cakap dengan anak-anak setelah kebaktian

selesai, akan memberikan kesan yang baik bagi mereka (Selan, 2006:

64).

4) Setiap anak akan merasa senang jika diperhatikan dan dihargai.

Apabila dalam Menyambut Anak, guru Sekolah Minggu berhasil

menanamkan perasaan tersebut, kemungkinan besar anak-anak akan

aktif ibadah untuk mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Kristen

di Sekolah Minggu. Sebaliknya, apabila ia merasa terasing, anak-anak

tidak akan kembali lagi untuk ibadah Sekolah Minggu (Selan, 2006:

64).

b. Memuji Tuhan

Memuji Tuhan adalah salah satu unsur penting di dalam ibadah

anak. Memuji Tuhan atau menyanyi juga merupakan sarana komunikasi

yang diekspresikan lewat lagu. Tujuannya adalah untuk menolong anak-

anak merasakan kasih dan anugerah Tuhan dalam kehidupan mereka.

Jika dilakukan dengan sungguh-sungguh maka memuji Tuhan dengan


14

menyanyi dapat menyentuh dan mengubah hati anak-anak (Siswanto,

2015: 8).

Agar tujuan dalam menyanyi dapat tercapai, maka menyanyi

dapat dikreasikan sedemikian rupa oleh guru Sekolah Minggu, baik

melalui gerakan maupun alat peraga, sehingga lagu yang dinyanyikan

menjadi bersemangat dan ceria. Seperti firman Tuhan tertulis Bersorak-

soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi! Beribadahlah kepada TUHAN

dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!

(Mazmur 100: 1-2). Selain itu, kreasi dengan lagu dapat memudahkan

anak-anak untuk memahami isi dan makna dari lagu yang dinyanyikan.

Lagu yang ingin dibawakan dalam ibadah hendaknya sesuai dengan

tema, mudah dinyanyikan dan dipahami oleh anak, dan panjang baitnya

pun sesuai dengan usia anak (Siswanto, 2015: 9). Beberapa kreasi yang

dapat digunakan dalam memuji Tuhan yaitu kreasi nabi asli dan nabi

palsu, kreasi kereta surgawi, kreasi hati yang gembira, dan kreasi tebak

lagu.

c. Mempelajari Firman Tuhan

Firman Allah adalah makanan rohani kita. Tuhan berkata,

Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala

yang diucapkan TUHAN (Ul. 8:3). Dengan mempelajari firman Tuhan

anak-anak akan mendapatkan makanan rohani. Dengan demikian hidup

anak-anak akan bertambah kuat dan semakin berkembang (Selan, 2006:

76). Mempelajari firman Tuhan merupakan salah satu unsur penting


15

dalam ibadah anak/pelayanan anak. Pada bagian ini, anak-anak diajak

untuk membaca dan mendengar firman-Nya. Mereka juga diajak

menggali dan merenungkannya agar firman Tuhan dapat meresap dalam

hati sanubari mereka sehingga mereka dapat meneladani nilai kristiani

dari firman Tuhan tersebut.

Firman Tuhan dalam ibadah anak biasanya disampaikan melalui

cerita dan berbagai aktivitas lainnya. Cerita merupakan media yang

sangat baik dan efisien dalam proses pembelajaran iman kristen di

Sekolah Minggu. Guru Sekolah Minggu/ pelayan anak harus berkreasi

dan bereksplorasi agar cerita yang disampaikan dapat menarik

perhatian anak-anak, menumbuhkan rasa ingin tahu mereka, dan tidak

terkesan monoton. Cerita yang dikisahkan dengan baik dapat

menginspirasi suatu tindakan, membantu perkembangan apresiasi

budaya, dan memperluas pengetahuan anak. Menurut (Siswanto, 2015:

9) beberapa contoh media yang dapat digunakan untuk menyampaikan

cerita kepada anak-anak adalah panggung boneka, alat peraga,

permainan, dan kreasi bercerita lainnya. Alat bantu bukanlah hal pokok

atau hal yang paling penting, tetapi firman Tuhan yang menjadi inti dari

bagian ini dan menjadi hal yang utama. Bentuk-bentuk kreasi yang

dapat digunakan dalam mempelajari firman Tuhan yaitu kreasi tanya

jawab perseorangan, kreasi sulap, kreasi jari tangan, kreasi tebak kata

dan peragakan.
16

d. Membuat Aktivitas

Membuat aktivitas merupakan bagian terakhir dari metode 4M.

Bagian ini menjadi sarana penunjang yang dapat menolong anak-anak

lebih memahami ketiga M sebelumnya, khususnya M yang ketiga, yaitu

Mempelajari firman Tuhan. Aktivitas bukan saja membuat anak-anak

makin kreatif dan bertumbuh dalam segi motorik, kognitif dan afektifnya,

mereka juga akan bertumbuh dalam segi spiritualitasnya. Aktivitas pada

bagian ini dapat berupa gunting-menggunting, melipat, dan membuat

kreativitas lainnya. Oleh karena itu, pembelajaran dapat berjalan afektif

apabila melibatkan otak kiri dan otak kanan. Beberapa kreasi yang dapat

digunakan dalam membuat aktivitas yaitu, kreasi plastisn/ Play Doh,

kreasi batu, kreasi kertas, kreasi korek api, dan kreasi kotak ayat.

Menurut Megawangi dalam Zakiah Daradjat (1990: 44) 4M

dalam pendidikan karakter adalah mengetahui, mencintai, menginginkan

dan mengerjakan (knowing the good, loving the good, desiring the good,

and acting the good). Menurut Dewi (2015: 5) 4M adalah salah satu

strategi sebagai bentuk tempat bermain sambil belajar yang dapat

mengembangkan kreativitas anak yaitu menggambar, mewarnai,

menggunting, menempel. Kegiatan ini dapat menarik perhatian anak,

asalkan guru dapat menyajikannya dengan baik dan tepat, serta kegiatan

menempel mempunyai tujuan meningkatkan motorik halus anak karena

dapat diukur dari hasil karya keterampilan kreativitas anak (Dewi, 2015:

5).
17

Dari beberapa pengertian tentang 4M di atas dapat penulis

simpulkan bahwa 4M merupakan salah satu cara, teknik atau strategi

mengajar di Sekolah Minggu yang dikelompokkan ke dalam empat

bagian yaitu menyambut anak, memuji Tuhan, mempelajari firman

Tuhan dan membuat aktivitas, sebagai sebuah kegiatan pembelajaran

Pendidikan Agama Kristen dalam Sekolah Minggu, agar anak termotivasi

untuk mengetahui, mencintai, menginginkan dan mengerjakan setiap

kegiatan pembelajaran.

2. Manfaat Strategi 4M

Strategi pembelajaran yang digunakan guru Sekolah Minggu

bertujuan untuk menolong pelayanan anak agar makin berkembang, baik

dari segi pengajaran maupun dari segi keterampilan guru Sekolah Minggu,

serta membuat ibadah menjadi menarik sehingga anak-anak termotivasi

untuk beribadah. Menurut (Siswanto, 2015: 11) strategi 4M mempunyai

manfaat bagi guru Sekolah Minggu/ pelayan anak, dan anak Sekolah

Minggu.

a. Manfaat bagi guru Sekolah Minggu:

1) Pola ibadah anak atau kegiatan Sekolah Minggu memiliki tahapan dan
struktur yang jelas dan mudah dipahami.
2) Memudahkan guru menyiapkan materi pelajaran.
3) Guru akan didorong dan ditantang untuk terus berkreasi menjadi
seorang guru yang kreatif dan dinamis.

b. Manfaat bagi anak Sekolah Minggu:


1) Ibadah anak atau kegiatan Sekolah Minggu menjadi menyenangkan,
dinamis dan tidak membosankan.
18

2) Menolong anak-anak untuk menangkap, mencerna dan memahami


bahan yang diajarkan oleh guru Sekolah Minggu.
3) Memotivasi anak-anak untuk mewujudkan karakter dan nilai kristiani
di dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Adapun karakter dan nilai kristiani yang menjadi tujuan akhir dari

strategi 4M dan ingin dikembangkan dalam diri anak-anak Sekolah Minggu

adalah peduli, lemah lembut, tulus, murah hati, gembira, cinta Tuhan,

perhatian, taat, jujur, memaafkan, sabar, tekun, bertanggungjawab, toleran,

dapat bekerja sama dan kreatif (Siswanto, 2015: 11).

3. Berkreasi dengan Strategi 4M

Dalam strategi menyambut anak, memuji Tuhan, mempelajari

firman Tuhan dan membuat Aktivitas (4M) guru Sekolah Minggu dapat

membuat berbagai kreasi agar proses pembelajaran di Sekolah Minggu

menjadi menarik dan menyenangkan. Menurut (Siswanto, 2015: 14) kreasi

yang dapat dilakukan oleh guru Sekolah Minggu dalam strategi 4M adalah:

a. Kreasi Menyambut Anak

1) Kreasi Tepuk Tangan

Ajarlah anak-anak melakukan gerakan tepuk Yesus, tepuk

diam atau mengunci mulut. Kreasi tepuk tangan dapat dimulai dari

satu jari, dua jari, tiga jari, empat jari kemudian lima jari. Kreasi ini

dapat melatih konsentrasi anak Sekolah Minggu sebelum memulai

ibadah.

2) Kreasi Yel-Yel

Guru Sekolah Minggu dapat membuat slogan tertentu seperti

Sekolah Minggu dan anak-anak menjawab, Yes, yes, yes! dan


19

berbagai macam kreasi yel-yel yang dapat membuat anak semangat

mengikuti Sekolah Minggu (anak-anak juga bisa membuat sendiri

kreasi yel-yel untuk Sekolah Minggu mereka).

3) Kreasi Tangkap Jari

Mintalah anak-anak berpasangan. Satu anak menengadahkan

satu telapak tangannya seperti meminta sesuatu dan satu anak lainnya

meletakkan ujung jarinya di telapak tangan temannya. Pada hitungan

ketiga, telunjuk yang diletakkan di telapak tangan temannya harus

diangkat dengan cepat dan jangan sampai tertangkap oleh telapak

tangan. Kreasi ini berfungsi untuk meningkatkan konsentrasi anak dan

melatih motorik halus anak.

4) Kreasi Apa Kabar (Siswanto, 2015: 15).

Kreasi apa kabar adalah kreasi yang memadukan lagu dengan

permainan sebelum beribadah. Kreasi ini dapat membuat anak-anak

gembira dan semangat.

Cara :

Ajaklah anak-anak menyanyikan lagu Apa Kabar.

Saat menyanyikan lagu, mintalah anak-anak berpasangan, sambil

melakukan gerakan sesuai teks lagu.

Berilah aba-aba. Pada teks putar-putar cari yang lain bisa diganti

dengan putar-putar cari bertiga, berempat, dan seterusnya.


20

Saat guru Sekolah Minggu memberikan perintah cari berempat,

maka anak-anak harus mencari teman sehingga terbentuk

kelompok yang beranggotakan masing-masing empat orang.

5) Kreasi Gerakan Motorik

Salah satu yang dapat dikreasikan oleh guru Sekolah Minggu dalam

mencairkan suasana adalah dengan kreasi gerakan motorik, yang

berupa gerakan lucu. Melalui gerakan lucu ini akan membantu

penguatan otot-otot motorik halus dan kasar anak-anak, contohnya:

Cara 1:

Mintalah anak-anak memegang hidung dengan tangan kiri.

Lalu, mintalah mereka menyilangkan tangan kanan pada tangan

kiri untuk memegang telinga kiri.

Berilah aba-aba. Pada hitungan ketiga posisi tangan harus

berpindah. Tangan kanan memegang hidung dan tangan kiri

memegang telinga kanan.

Lakukan beberapa kali, hingga dirasa cukup.

Cara 2 :

Mintalah anak-anak mengulurkan tangan kiri ke depan dan

menggerakkannya ke atas dan ke bawah sambil berkata, Ke

sinilah Kasih. Lalu, mintalah mereka mengulurkan tangan kanan

ke depan dan menggerakkannya ke kiri dan ke kanan sambil

berkata Pergilah Benci.

Berilah aba-aba.
21

Lakukan beberapa kali, hingga dirasa cukup.

6) Kreasi Kereta (Siswanto, 2015: 18).


Salah satu yang dapat dikreasikan guru Sekolah Minggu untuk

menyambut anak dengan kreasi kereta. Kreasi ini dilakukan secara

berkelompok sambil dipadukan dengan pujian agar anak-anak

mempunyai semangat mengikuti Sekolah Minggu.

Cara 1 :

Bagilah anak-anak dalam beberapa kelompok.

Pilihlah satu orang sebagai pemimpin kelompok. Pilihlah anak

yang paling besar atau kalau guru Sekolah Minggu cukup banyak,

bisa menjadi pendamping kelompok.

Mintalah anak-anak berbaris dengan bahu teman di depannya.

Ketua kelompok akan berdiri paling depan.

Kemudian, barisan akan berjalan mengitari ruangan sambil diiringi

lagu Kereta Surgawi, Kereta Apiku, Jalan Serta Yesus atau

Berjalan Ke Kanaan.

Setelah berkeliling sejenak, guru dapat menghentikan pujian kapan

saja. Saat pujian berhenti, barisan paling depan (ketua) akan

mendekati ketua barisan yang lain untuk melakukan suit

jamkempong, yaitu batu (mengepalkan tangan), kertas (membuka

kelima jari), gunting (membuka dua jari, telunjuk dan tengah). Jika

batu ketemu kertas maka pemenangnya kertas. Jika kertas ketemu


22

gunting, penemunya gunting. Jika gunting ketemu batu,

pemenangnya batu.

Kelompok yang kalah suit harus menyambung ke barisan

kelompok yang menang.

Ulangi permainan hingga tersisa satu barisan panjang.

Kelompok yang punya barisan paling panjang, jadi pemenang.

Berilah nilai kepada kelompok yang pemenang.

b. Kreasi Memuji Tuhan


1) Kreasi Nabi Asli dan Nabi Palsu (Siswanto, 2015: 23).
Cara bermain :
Siapkan kertas ukuran 5x10 cm sebanyak dua lembar.
Tuliskan pada lembar pertama kata NABI ASLI, dan kedua kata
NABI PALSU, lalu lipat agar anak-anak tidak mengetahui isinya.
Mintalah dua anak untuk berperan sebagai Nabi Asli dan Nabi
Palsu.
Bagikan secara acak kertas yang berisi tulisan kepada kedua anak
tersebut.
Mintalah kepada mereka untuk mencari pengikut sebanyak-
banyaknya tanpa melihat tulisan di kertas.
Katakan kepada anak-anak untuk berhati-hati saat menentukan
pilihan.
Mintalah kedua anak itu berkeliliing mencari pengikut sambil
diiringi lagu Yesus Itulah Satu-satunya.
Sesudah itu, hitunglah nabi mana yang pengikutnya paling
banyak. Lalu, mintalah anak-anak membuka kertas yang dia
pegang. Apakah bertuliskan nabi asli atau nabi palsu.
2) Kreasi Kereta Surgawi
Cara bermain:
Ajaklah anak-anak berbaris seperti kereta.
Mintalah dua pasang anak menjadi pintu gerbang tersebut sambil
menyanyikan KERETA API SURGAWI.
Guru Sekolah Minggu dapat dengan tiba-tiba memberikan aba-
aba stop, dan kedua pasang anak akan menangkap barisan yang
berhenti.
Dua anak yang tertangkap akan membentuk PINTU gerbang baru.
Ulangi permainan ini hingga dirasa cukup.
3) Kreasi Hati yang Gembira (Siswanto, 2015: 24).
Caranya:
23

Mintalah seorang anak ke depan kelas dan memimpin teman-


temannya menyanyikan lagu Hati yang Gembira.
Sambil menyanyi, anak itu membuat gerakan yang akan diikuti
teman-temannya.
Ulangi pergantian pemimpin berapa kali hingga dirasa cukup.
Guru Sekolah Minggu bertugas sebagai wasit yang memberi aba-
aba kapan saatnya boleh ganti teman.
4) Kreasi Tebak Lagu (Siswanto, 2015: 26).
Bagilah anak-anak dalam beberapa kelompok.
Lalu, guru hanya mengalunkan nada lagu tanpa syair, misalnya
lagu Hati yang Gembira. (Bisa dengan menyebut na, na.....
dst).
Berilah kesempatan kelompok menebak judul lagunya.
Jika judul lagu dapat ditebak, kelompok harus menyanyikan
bersama.
Jika judul lagu dapat di tebak, kelompok harus menyanyikannya
bersama.
Berilah nilai dalam adu tebak lagu ini. Kelompok yang sering
menebak dan menyanyikan lagu jadi pemenangnya.

c. Kreasi Mempelajari Firman Tuhan


Cara terbaik yang dapat dilakukan Guru Sekolah Minggu agar
penyampaian firman Tuhan menjadi menarik, adalah:
1) Kreasi Tanya Jawab Perseorangan (Siswanto, 2015: 30).
Cara bermain :
Siapkan dua kertas warna merah dan hijau.
Potonglah kertas tersebut dengan ukuran 3 x 5 cm.
Bagikan kertas kepada tiap anak @10 lembar.
Guru bercerita hingga selesai.
Sesudah bercerita, guru memberikan pertanyaan. Mintalah anak-
anak menjawab atau menanggapi cerita. Jawabannya hanya benar
atau salah. Jika benar, anak-anak harus mengangkat kertas hijau.
Jika salah, kertas merah.
Contoh pertanyaan tentang cerita :Yesus memberi makan 5000
orang. Benarkah saat Yesus memberi makan 5000 orang sisanya
ada 13 bakul? ( Jawaban yang benar adalah 12 bakul).
Jika ada yang menjawab dengan mengangkat kertas hijau, guru
harus mengambil kertas hijau itu karena jawabannya tidak tepat.
Selesai bermain, mintalah anak-anak menghitung jumlah kertasnya.
Anak-anak yang sering menjawab tidak tepat, kertasnya pasti akan
sedikit atau bahkan habis.

2) Kreasi Sulap
Trick Gospel atau lazim disebut Sulap Rohani sangat disukai anak-
anak. Cara ini bisa digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan
24

firman Tuhan dengan cara yang unik dan menarik (Siswanto, 2015:
33).
Contohnya : Yesus Air Hidup
Tulislah dengan spidol kata PERCAYA, HIDUP, dan tanda
( <<<<<< ) pada karton ukuran 10 x 15) cm.
Letakkan gelas atau toples bening yang kosong di antara kedua
tulisan (kata PERCAYA di sebelah kiri dan kata HIDUP di sebelah
kanan).
Rekatkan tanda ( <<<<<< ) di belakang tabung/gelas. Dengan
demikian, saat tabung masih kosong posisi panah menunjuk ke
tulisan PERCAYA.
Ajaklah anak-anak membaca Yoh. 7: 38, Barangsiapa percaya
kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam
hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.
Jelaskan bahwa Yesus adalah Air Hidup atau Firman. Dan tiap
orang yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa, melainkan
beroleh hidup yang kekal.
Mintalah orang dewasa atau Guru Sekolah Minggu menuangkan air
ke dalam tabung/gelas sampai penuh. Anak panah yang tadinya
mengarah ke tulisan PERCAYA akan berubah arah dan menunjuk
tulisan HIDUP.
3) Kreasi Jari Tangan (Siswanto, 2013: 38).
Cara bermain :
Mintalah anak menjiplak telapak tangan di atas kertas kosong
dengan spidol. Lalu, berilah mata, hidung, dan mulut pada tiap jari.
Tulislah ayat Alkitab pada bagian telapak tangan misalnya, 1 Kor.
12:27 Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-
masing adalah anggotanya.
Bagi anak yang sudah bisa menulis, mintalah mereka menuliskan
sebuah cerita di sisi pola telapak tangan yang kosong. Jika tidak
cukup dalam satu telapak tangan, bisa dibuat menjadi beberapa
gambar telapak tangan sedangkan bagi anak yang belum bisa
menulis, alat peraga ini bisa digunakan untuk bercerita
Langkah bercerita :
Tunjukkanlah kelima jari kepada anak-anak. Katakan bahwa jari
jemari kita tidak sama. Tiap jari punya kelebihan dan kekurangan.
Begitu pula dengan anak-anak yang Tuhan ciptakan berbeda dan
punya keunikan masing-masing. Tuhan ingin agar tiap orang saling
menghargai. Ilustrasikan lima jari ini sebagai sekumpulan anak
yang sedang berdialog.
Contoh cerita :
Jempol :
Teman-teman lihat aku. Aku selalu dipakai orang untuk
menyebutkan sesuatu yang hebat. Jika seseorang bilang hebat
maka dia akan mengacungkan jempol, aku......
25

Telunjuk :
Yee. Segitu aja sudah sok. Aku nih.... selalu dipakai orang untuk
menunjukkan sesuatu. Misalnya, Tuh, lihat ada anak yang
kereenn. Tuh, ada nasi goreng eenaaakk.
Jari Tengah :
Ahh..... lihat di antara kalian siapa yang paling tinggi. Pasti aku !
Apalagi kau jempol, sudah pendek, gendut, jelek lagi.
Jari Manis :
Kalian boleh menyombongkan diri. Tetapi lihat di antara kalian.
Siapa yang paling kaya ? Pasti aku karena aku selalu pakai
perhiasan emas.
Jari Kelingking :
Jari kelingking hanya tertunduk diam. Dia tak mau
menyombongkan diri karena merasa kecil, kurus, dan tak punya
apa-apa. Tetapi teman-temannya minta dia berbicara, Ayo
kelingking tunjukkan kelebihanmu. Lalu dengan suara pelan,
kelingking angkat suara. Teman-teman, biarpun kalian hebat,
tetapi ketahuilah jika aku tidak ada, maka kalian disebut tidak
sempurna. Coba kalian memegang sesuatu tanpa menyertakan aku,
pasti tidak sekuat kalau aku ada.

4) Kreasi Tebak Kata dan Peragakan (Siswanto, 2013: 38)


Kreasi ini mengajarkan anak-anak untuk mentaati Firman
Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Ketaatan anak dilatih melalui
permainan simulasi dengan kata kunci Tuhan berfirman.
Cara bermain :
Guru menyiapkan beberapa kata kunci yang berkaitan dengan
cerita.
Berilah penjelasan kepada anak-anak bahwa di dalam cerita yang
akan disampaikan ada beberapa kata yang harus mereka peragakan.
Berilah contoh beberapa kata, seperti Tuhan berfirman tetaplah
berdoa, dll.
Tetapi jika kata kunci tersebut tidak lengkap, misalnya Tuhan
berfirman saja, maka anak-anak tidak akan melakukan apa-apa.
Mintalah anak-anak berkonsentrasi saat cerita dimulai.

d. Kreasi Membuat Aktivitas


1) Kreasi Plastisin/Play Doh (Siswanto, 2013:42).
Bermain Plastisin sangat menyenangkan bagi anak-anak.Selain dapat
melatih motorik halus dan otot-otot kecil tangan anak-anak, bermain
plastisin ternyata juga menguatkan otot-otot mata anak melalui
warna-warna primer (merah, kuning, biru) yang mencolok.
Cara membuat :
26

Siapkan plastisin dalam berbagai warna.


Guru bisa membagikan plastisin kepaad anak-anak atau anak-
anak bebas memilih warna kesukaannya.
Mintalah anak-anak membuat satu bentuk benda, binatang atau
bebas berkreasi menurut tema hari itu.
Dampingi anak-anak saat membuat aktivitas dengan plastisin
sehingga mereka dapat berkreasi sesuai petunjuk.
Hasil kreasi dapat digunakan sebagai alat peraga cerita Alkitab
untuk disampaikan kepada anak-anak.

2) Kreasi Batu (Siswanto, 2013: 42).


Dalam aktivitas ini, anak-anak diajak berkreasi dengan
menggunakan batu sebagai medianya. Tujuan kreasi ini untuk
mengingatkan anak-anak tentang cerita Daud dan Goliat.
Cara membuat:
Siapkanlah batu kerikil sebanyak lima buah (empat batu
berukuran sama dan satu batu berukuran lebih besar).
Warnailah kelima batu dengan warna berbeda dengan
menggunakan cat (Bisa juga dengan merekatkan kain planel pada
batu).
Tuliskan huruf G di atas batu yang besar dan D di atas salah satu
batu yang kecil.
Buatlah garis kotak di lantai dengan selotip agar mudah
dibersihkan atau dilepas.
Cara bermain:
Letakkan batu dengan huruf G di dalam kotak.
Jentikkan batu lainnya dari luar kotak kearah batu G. berikan
kesempatan empat kali jentikan kepada tiap anak.
Sambil bermain atau setelah bermain, ceritakanlah tentang
pertarungan Daud dan Goliat.

3) Kreasi Kertas (Siswanto, 2013:44)


Kreasi ini untuk mengingatkan anak-anak tentang cerita Hawa
yangdiperdaya oleh ular untuk makan buah yang dilarang oleh
Allah.Dalam kreasi ini anak-anak diajak untuk membuat ular yang
dibuat dari kertas.Bahan yang diperlukan yaitu kertas karton
atauorigami, lem kertas dan spidol.
Cara membuat:
Potong kertas karton atau origami dengan bentuk seperti
dibawah ini (jumlahnya sesuai kebutuhan).
Rangkailah dan rekatkan tiap potongan kertas dengan tali atau
lem.
Buatlah bentuk kepala ular (Bentuknya bisa dikreasikan.
Misalnya bentuk hati, bulatan, persegi, dll.
27

Lalu, buatlah mulut dan mata di bagian kepala denmga spidol.


Kemudian, tambahkan lidah dan hiaslah.
Jika ular mainan sudah selesai dibuat, gunakan untuk bercerita
tentang ular dalam kisah penciptaan dan jatuhnya manusia ke
dalam dosa.
4) Kreasi Gelang Sedotan Ayat Alkitab

Siapkan sedotan, peraut pensil, kertas, spidol warna-warni dan


ceklik
Rautlah sedotan dengan peraut pensil
Gunting kertas dan tulislah ayat Alkitab yang kita sukai.
Tempelkan kertas yang bertuliskan ayat Alkitab tersebut ke
sedotan dengan menggunakan ceklik.
Setelah itu masukkan gelang sedotan nast Alkitab tersebut ke
pergelangan tangan.

5) Kreasi Korek Api (Siswanto, 2013:44).


Kreasi ini melatih motorik halus dan kasar, serta melatih ketelitian
dan kesabaran anak-anak, hasil kreasi ini dapat sebagai alat peraga
atau hiasan yang mengandung cerita Alkitab.
Bahan yang diperlukan:
Pola pohon Natal, salib, gereja, binatang dll.
Korek api
Kertas karton/manila
Lem kertas/fox
Pensil warna/krayon/glitter
Cara membuat:
Gambarlah atau jiplakan pola sederhana seperti pohon Natal,
salib, gereja, bintang, di atas kertas karton.
Olesi bidang gambar dengan lem secara merata lalu rekatkan
batang korek api satu per satu hingga memenuhi gambar.
Sesudah lem kering, gambar dapat diwarnai dengan krayon atau
glitter.
Tambahkan ayat-ayat hafalan atau kata-kata motivasi untuk
anak-anak.
Hasil kreasi dapat digantung di kamar atau diletakkan di meja
belajar anak.

6) Kreasi Kotak Ayat (Siswanto, 2013: 52).


28

Kreasi ini dapat digunakan sebagai tempat hadiah yang diberikan


ayat-ayat dari Alkitab. Tema yang bisa diangkat melalui kreasi ini
adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan pemberian atau
persembahan.
Cara membuat:
Siapkan karton yang sudah dipotong seperti contoh gambar.
Untuk anak yang lebih kecil, sediakan pola kotak yang sudah
jadi. Sedangkan untuk anak kelas besar bisa diajarkan cara
membuat pola kotak dan memotongnya.
Berikan ayat-ayat Alkitab yang sudah ditulis pada potongan
kertas lalu digulung atau dilipat. Untuk anak yang sudah besar,
mintalah mereka untuk menuliskan sendiri.
Masukkan potongan kertas ke dalam kotak dan bungkuslah.
Kemudian, hiasilah kotak dengan pita atau hiasan lainnya.

4. Berbuah melalui Strategi 4M

Konsep belajar mengajar di Sekolah Minggu melalui Strategi

Menyambut Anak, Memuji Tuhan, Mempelajari Firman Tuhan dan

Membuat Aktivitas (4M) ini pada dasarnya bertujuan menolong anak-anak

untuk mengembangkan karakter kristiani mereka. Selain itu, melalui

strategi 4M ini anak-anak Sekolah Minggu akan makin bertumbuh secara

kognitif, afektif dan psikomotorik. Menurut (Siswanto, 2015: 54) mereka

akan dapat menghasilkan buah-buah berupa karakter kristiani yang mereka

peroleh selama mengikuti proses belajar mengajar Sekolah Minggu seperti:

a. Buah M1 Menyambut Anak

1) Ramah. Sikap ramah menjadi salah satu karakter yang ingin

ditanamkan kepada anak-anak saat guru Sekolah Minggu menyambut

mereka. Sikap ini dapat dinyatakan melalui senyuman, sapaan atau

berjabat tangan, baik secara perorangan maupun berkelompok.

Dengan begitu, anak-anak akan terbiasa untuk bersikap ramah kepada

orang lain juga (Siswanto, 2015: 54).


29

2) Bersemangat. Ibadah anak yang dilakukan dengan penuh semangat

tentu menyenangkan, terutama untuk anak-anak. Mereka dapat

mengikuti ibadah dengan antusias dan gembira. Lagu-lagu yang

gembira menolong anak untuk bergairah saat beribadah (Siswanto,

2015: 54).

3) Bersahabat. Ketika guru Sekolah Minggu menyambut anak-anak,

maka mereka akan merasa bahwa dirinya diterima dan dihargai oleh

guru dan teman-temannya. Hal ini menolong mereka untuk menerima

kehadiran dengan orang lain dengan sikap bersahabat di hati anak-

anak. Guru Sekolah Minggu dapat memberikan pelukan tulus,

mengusapkan kepala, sentuhan di pundak atau berjabat tangan kepada

mereka. Untuk anak balita/ batita, guru Sekolah Minggu dapat

memberikan ciuman hangat di pipinya (Siswanto, 2015: 54).

b. Buah M2 Memuji Tuhan

Memuji Tuhan/ menyanyi di Sekolah Minggu juga menjadi

sarana yang baik untuk menumbuhkan karakter positif dalam diri anak-

anak. Bagian ini bisa menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan

sekaligus menolong anak-anak untuk:

1) Gembira. Memuji Tuhan/menyanyi di Sekolah Minggu dengan

gembira dapat menghilangkan kesedihan dan membuat anak-anak

beribadah dengan sukacita dan senang hati. Mereka dapat berekspresi

lewat lagu dengan bertepuk tangan, menari, melompat, tersenyum, dan

lain-lain(Siswanto, 2015: 54).


30

2) Berterima kasih. Hidup yang berterima kasih perlu diajarkan kepada

anak-anak. Salah satu caranya adalah dengan memuji Tuhan melalui

lagu-lagu yang bertemakan ucapan syukur, dengan sikap penuh

hormat dan ekspresi sungguh-sungguh, serta melipat tangan dengan

khusuk. Dengan begitu, anak-anak dapat merasakan kasih-Nya yang

luar biasa (Siswanto, 2015: 54).

3) Talenta Menyanyi

Aktivitas menyanyi dapat memotivasi anak-anak yang memiliki bakat

menyanyi untuk mengembangkan bakatnya. Guru Sekolah Minggu

dapat membimbing mereka tentang cara menyanyi yang baik dan

benar. Memberi kesempatan untuk anak menyanyi di depan kelas,

vocal grup dan membentuk paduan suara merupakan cara yang dapat

ditempuh guru Sekolah Minggu untuk mencapai tujuan tersebut

(Siswanto, 2015: 55).

c. Buah M3 Mempelajari Firman Tuhan

Mempelajari firman Tuhan bertujuan untuk menambah nilai dan

moral Kristiani anak-anak sejak dini. Segala aktivitas yang dilakukan

pada M3 ini tentu disesuaikan dengan kemampuan anak-anak. Dengan

begitu, anak-anak dapat mengembangkan karakter-karakter seperti

(Siswanto, 2015: 55):

1) Menyayangi. Belajar firman Tuhan dapat menumbuhkan sikap

menyayangi dalam diri anak-anak. Mereka akan dibimbing untuk

menyayangi Tuhan dengan cara menghormati orangtua, menyayangi


31

adik dan kakak, teman temannya, dan alam semesta. Bukan itu saja,

mereka juga akan diajarkan untuk menyayangi lingkungan sekitarnya.

2) Peduli. Firman Tuhan banyak mengajarkan tentang kepedulian.

Misalnya, anak laki-laki yang memberikan lima roti dan dua ikan.

Cerita ini dapat memotivasi anak untuk belajar peduli kepada orang

lain juga. Dengan begitu, mereka akan mampu untuk berbagi kepada

orang lain, seperti berbagi makanan.

3) Taat. Tuhan menghendaki agar tiap orang menaati firman-Nya. Hal

inilah yang ingin ditekankan kepada anak-anak saat mereka

mempelajari firman Tuhan di sekolah Minggu. Dengan ketaatan,

mereka belajar patuh pada perintah-Nya dan melakukan sesuatu sesuai

dengan peraturan. Misalnya, peraturan di sekolah maupun di rumah.

4) Percaya. Di Sekolah Minggu, anak-anak mengembangkan sikap

percaya kepada Tuhan selain melalu keteladanan tokoh-tokoh Alkitab

seperti Nuh yang percaya janji Allah, mereka juga belajar percaya dari

orang dewasa, yaitu guru Sekolah Minggu/pelayan anak. Perbuatan

nyata yang mencerminkan sikap percaya menolong anak-anak

memahami sikap percaya dengan lebih muda. Misalanya, tepat janji.

5) Memaafkan. Sikap memaafkan akan menolong anak-anak untuk

melupakan kesalahan orang yang telah menyakiti mereka. Mereka

juga akan belajar unruk menghapus mendendam. Dengan memaafkan

anak-anak diajak menerima orang lain yang sudah meminta maaf

kepadanya. Mereka akan lebih mudah memulihkan relasinya dengan


32

orang lain tersebut. Misalnya, anak-anak akan mudah untuk berteman

lagi apabila mereka sudah saling memaafkan.

d. Buah M4 Membuat Aktivitas

Melakukan aktivitas sesudah mempelajari firman Tuhan, selain

bisa memperkuat pemahaman tentang firman Tuhan itu sendiri, nilai dan

moral Kristiani, juga bisa mengeksplorasi otak kanan anak-anak.

Kegiatan ini dapat menolong anak-anak mengembangkan sikap positif

antara lain (Siswanto, 2015: 57):

1) Tekun

Aktivitas di Sekolah Minggu dapat menanamkan sikap tekun dalam

diri anak-anak dengan ketekunan ini anak-anak diajak untuk tidak

mudah menyerah, terus mencoba dan berusaha hingga dapat

menyelesaikan tiap kegiatan yang mereka lakukan misalnya,

mewarnai dan bermain puzzle (Siswanto, 2015: 57).

2) Bertanggung Jawab

Tanggung jawab merupakan sikap yang perlu dikembangkan dalam

diri anak-anak sejak dini. Sikap ini akan menolong mereka untuk

memahami dan melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan.

Mereka diajarkan untuk tidak menyalahkan orang lain, mencari-cari

alasan saat melakukan sesuatu, seperti merapikan peralatan aktivitas

pada tempatnya (Siswanto, 2015: 57).

3) Toleran
33

Toleransi dalam kehidupan bersama seperti Sekolah Minggu menjadi

bagian penting yang perlu diajarkan kepada anak-anak. Sikap ini

untuk membekali mereka saat bergaul di tengah-tengah

lingkungannya. Untuk itu, melalui aktivitas di Sekolah Minggu

mereka belajar menerima pendapat temannya saat mengerjakan

aktivitas bersama, dapat mengungkapkan ketidaksepahaman dengan

sopan, dan bersosialisasi tanpa membedakan status sosial (Siswanto,

2015: 57).

4) Kreatif

Di Sekolah Minggu, guru Sekolah Minggu melatih anak-anak untuk

kreatif melalui berbagai aktivitas. Mereka diajak berpikir kritis dan

aktif. Selain itu, anak-anak juga diajarkan untuk menemukan dan

menggunakan ide-ide baru, memberikan respons dan solusi atas

situasi dan kondisi tertentu (Siswanto, 2015: 57).

5) Kerja sama

Membuat aktivitas yang dilakukan secara berkelompok dapat

mengajarkan kepada anak-anak untuk bekerja sama dengan orang lain.

Mereka dibimbing untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama

sebagai tim atau grup. Misalnya diikuti kelompok dan permainan

berkelompok (Siswanto, 2015: 57).

5. Pengaruh Strategi 4M Terhadap Motivasi Belajar

Strategi Menyambut Anak, Memuji Tuhan, Mempelajari Firman

Tuhan dan Membuat Aktivitas (4M) merupakan serangkaian cara/ teknik


34

kegiatan pembelajaran yang kreatif untuk menjadikan Sekolah Minggu

aktif, menarik dan menyenangkan. Strategi Strategi Menyambut Anak,

Memuji Tuhan, Mempelajari Firman Tuhan dan Membuat Aktivitas (4M)

dapat bermanfaat untuk memotivasi anak-anak untuk mewujudkan karakter

dan nilai kristiani di dalam kehidupan mereka sehari-hari, serta ibadah anak

atau kegiatan Sekolah Minggu menjadi menyenangkan, dinamis dan tidak

membosankan sehingga anak-anak termotivasi untuk hadir Sekolah Minggu

(Siswanto, 2015: 11). Aktivitas menyanyi dalam M3 dapat memotivasi

anak-anak yang memiliki bakat menyanyi untuk mengembangkan bakatnya

(Siswanto, 2015: 55). Hal ini menunjukkan bahwa strategi kreatif 4M

berpengaruh terhadap motivasi belajar anak.

B. MOTIVASI

1. Pengertian Motivasi

Motivasi berasal dari kata Motif yang diartikan sebagai daya

penggerak upaya mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Menurut

Sardiman (2012: 73) motif dapat dikatakan sebagai:

daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan


aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan
motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan).
Berawal dari kata motif itu, maka motivasi dapat diartikan
sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif.
35

Menurut Donald dalam Sardiman (2012: 73) motivasi adalah perubahan

energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling

yang didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Donald dalam

Sardiman (2012: 73) mengemukakan tiga elemen penting dalam motivasi

yaitu:

a. Motivasi mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap

individu manusia.

b. Motivasi ditandai dengan munculnya rasa afeksi seseorang. Dalam hal

ini motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi dan

emosi yang dapat menentukan tingkah laku dan perbuatan manusia.

c. Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Motivasi memang

muncul dari dalam diri individu, tetapi kemunculannya karena ada

rangsangan dari unsur lain.

Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakan

dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk perilaku belajar. Dalam

motivasi terkandung adanya keinginan yang mengaktifkan, menggerakkan,

menyalurkan, dan mengarahkan sikap dan perilaku individu belajar.

Menurut Dimyanti & Mudjiono, (2009: 80) ada tiga komponan utama

dalam motivasi yaitu:

a. Kebutuhan: kebutuhan terjadi bila individu merasa ketidakseimbangan

antara apa yang ia miliki dan ia harapkan.


36

b. Dorongan: dorongan merupakan kekuatan mental yang berorientasi

pada tujuan untuk melakukan kegiatan dalam rangka memenuhi apa

yang diharapkan atau yang diinginkan.

c. Tujuan: tujuan merupakan hal yang ingin dicapai oleh seorang individu,

tujuan mengarahkan perilaku dan tindakan untuk memiliki semangat

belajar.

Berbeda sedikit dengan pendapat Dimyanti & Mudjiono, Sabatini

mengatakan (2016: 22) motivasi adalah dorongan yang berasal dari diri

dan luar manusia untuk melakukan sesuatu yang disebabkan oleh

keinginan, perhatian, kemauan atau sebuah cita-cita yang diharapkan oleh

manusia.

Dari beberapa pengertian tentang motivasi di atas dapat penulis

simpulkan bahwa motivasi adalah dorongan yang terjadi dari dalam atau

luar diri individu yang digerakkan oleh keinginan, perhatian, kemauan atau

sebuah cita-cita, sehingga membuat terjadinya perubahan diri individu

yang diwujudnyatakan dalam sebuah tindakan atau tingkah laku.

2. Fungsi Motivasi

Belajar sangat diperlukan adanya motivasi. Hasil belajar akan

menjadi optimal, jika ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan,
37

akan semakin berhasil pula pelajaran itu. Motivasi berhubungan dengan

suatu tujuan. Menurut Sardiman, (2012: 80) fungsi motivasi ada tiga yaitu:

a. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau

pendorong dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.

b. Menentukan arah perbuatan dan tingkah laku kearah tujuan yang hendak

dicapai.

c. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang

harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan

perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

3. Macam-macam Motivasi

Menurut (Sardiman, 2012: 86) macam-macam motivasi adalah

sebagai berikut:

a. Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya

1) Motif-motif bawaan: motif yang dibawa sejak lahir, jadi motivasi itu

ada tanpa dipelajari.

2) Motif-motif yang dipelajari: yaitu motif-motif yang timbul karena

dipelajari. Sebab manusia hidup dalam lingkungan sosial dengan

sesama manusia yang lain, sehingga motivasi itu terbentuk.

b. Jenis motivasi menurut pembagian dari Woodworth dan Merquis

1) Motif atau kebutuhan organis, meliputi kebutuhan untuk minum,

makan, bernafas, seksual, berbuat dan kebutuhan untuk beristirahat.


38

2) Motif darurat. Yaitu dorongan untuk menyelamatkan diri, untuk

membalas, untuk berusaha, untuk memburu. Motivasi jenis ini timbul

karena rangsangan dari luar.

3) Motif objektif. Menyangkut kebutuhan untuk melakukan eksplorasi,

manipulasi, untuk menaruh minat. Motif ini muncul karena dorongan

untuk dapat menghadapi dunia luar secara efektif.

c. Motivasi jasmaniah dan rohaniah

Yang termasuk motivasi jasmani misalnya: refleks, insting

otomatis, nafsu. Sedangkan motivasi rohaniah adalah kemauan. Menurut

(Sardiman, 2012: 88) soal kemauan pada setiap diri manusia terbentuk

melalui empat momen, yaitu:

1) Momen timbulnya alasan: alasan untuk melakukan suatu kegiatan.

2) Momen pilih: dalam keadaan ada alternatif-alternatif yang

mengakibatkan persaingan diantara alternatif tersebut dengan memilih

salah satu dari alternatif yang akan dikerjakan.

3) Momen putusan: satu alterntif yang dipilih itu merupakan keputusan

untuk dikerjakan.

4) Momen terbentuknya kemauan: kalau seseorang sudah menetapkan

suatu putusan untuk dikerjakan, timbullah dorongan pada diri

seseorang untuk bertindak, melaksanakan putusan itu.

d. Motivasi intrinsik dan ekstrinsik


39

1) Motivasi intrinsik: adalah motif-motif yang menjadi aktif atau

berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap

individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Anak yang

memiliki motivasi intrinsik akan memiliki tujuan menjadi orang yang

terdidik, yang berpengetahuan, yang ahli dalam bidang studi tertentu.

2) Motivasi ekstrinsik: adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya

karena adanya perangsang dari luar. Motivasi ekstrinsik dapat juga

dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya aktivitas belajar

dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari luar.

4. Ciri-ciri dan Indikator Motivasi Belajar

Brown dalam Sabatini (2016: 25) mengemukakan bahwa anak-anak

mempunyai ciri-ciri motivasi belajar yang tinggi. Hal ini dapat dikenali

melalui proses belajar-mengajar dikelas, antara lain:

a. Tertarik kepada guru, artinya tidak membenci atau bersikap acuh tak
acuh.
b. Tertarik pada mata pelajaran yang diajarkan.
c. Mempunyai antusias yang tinggi serta mengendalikan perhatiannya
terutama kepada guru.
d. Ingin selalu bergabung dalam kelompok kelas.
e. Ingin identitas dirinya diakui oleh orang lain.
f. Tindakan, kebiasaan dan moralnya selalu dalam kontrol diri.
g. Selalu mengingat pelajaran dan mempelajaninya kembali
h. Selalu terkontrol oleh lingkungan.
Selain ciri-ciri motivasi menurut Brown, ada juga ciri-ciri motivasi

menurut Sardiman (2012: 83) yaitu:

a. Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus menerus dalam waktu yang
lama dan tidak pemah berhenti sebelum selesai).
b. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa).
c. Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah.
40

d. Lebih senang bekerja mandiri.


e. Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin (hal-hal yang bersifat mekanis,
berulang-ulang begitu saja, sehingga kurang kreatif).
f. Dapat mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu).
g. Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini itu.
h. Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.

Berbeda sedikit dari pendapat Brown dan Sardiman, menurut Leo

(2008: 138) ciri-ciri anak-anak Sekolah Minggu yang termotivasi adalah

percaya diri (tidak pemalu atau takut), tidak malas, bersemangat,

mengerjakan tugas sesuai yang diharapkan, dapat menunjukkan

kemampuannya di kelas, berani berbicara di hadapan kelompok kecil dan

kelompok besar. Sedangkan menurut Laheba (2007: 54) anak-anak yang

mempunyai motivasi belajar adalah anak-anak yang antusias melakukan

kegiatan Sekolah Minggu, ingin dihargai orang lain dan dapat bekerja sama

untuk menyelesaikan persoalan.

Menurut Uno (2011: 23) indikator motivasi belajar ada dua macam

yaitu:

1. Indikator motivasi intrinsik, yang terdiri atas adanya hasrat dan keinginan

berhasil, adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar, adanya harapan

atau cita-cita masa depan.

2. Indikator motivasi ekstrinsik, yang terdiri atas adanya penghargaan

dalam belajar, adanya kegiatan yang menarik dalam belajar, adanya

lingkungan belajar yang kondusif sehingga memungkinkan seorang anak

dapat belajar dengan baik.

Berdasarkan uraian di atas dapat penulis simpulkan ciri-ciri motivasi

belajar anak-anak Sekolah Minggu adalah:


41

a. Tertarik kepada pengajaran yang akan disampaikan dan memusatkan

perhatian kepada guru Sekolah Minggu.

b. Mempunyai antusias yang tinggi mengikuti setiap kegiatan Sekolah

Minggu.

c. Bersemangat (tidak malas dan tidak mudah bosan).

d. Tekun mengerjakan tugas dan membuat aktivitas.

e. Selalu mengingat pengajaran yang disampaikan dan mempelajarinya

kembali.

f. Senang melakukan hal yang berbeda-beda.

g. Senang dan dapat bekerja sama memecahkan persoalan.

h. Ingin dirinya dihargai dan diakui orang lain.

5. Peranan Motivasi dalam Belajar dan Pembelajaran

Motivasi pada dasarnya dapat membantu dan memahami dan

menjelaskan perilaku individu yang sedang belajar. Menurut Uno (2013:

23) ada beberapa peranan penting dari motivasi dalam belajar dan

pembelajaran antara lain ialah:

a. Menentukan hal-hal yang dapat dijadikan penguat belajar.

b. Memperjelas tujuan belajar yang hendak dicapai.

c. Menentukan ragam kendali terhadap ransangan belajar.

d. Menentukan ketekunan belajar.

C. SEKOLAH MINGGU
42

1. Pengertian Sekolah Minggu

Menurut Leo (2013: 2) Sekolah Minggu adalah pendidikan

nonformal yang dilaksanakan pada hari Minggu yang merupakan kegiatan

gereja untuk menjangkau dan membawa setiap orang kepada Tuhan Yesus

serta mengajarkan Alkitab untuk mengubah kehidupan menjadi murid

Yesus dan kegiatan Sekolah Minggu diladakan dalam sebuah gereja.

Menurut Laheba (2007: 4) Sekolah Minggu merupakan salah satu pelayanan

Pendidikan Agama Kristen kepada anak-anak yang berfungsi meneruskan

pemberitaan dan pengajaran Kabar Baik (Injil) tentang Kerajaan Allah.

Berdasarkan pendapat di atas tentang Sekolah Minggu, dapat

penulis simpulkan bahwa Sekolah Minggu adalah pendidikan non-formal

atau pembinaan warga jemaat yang dilaksanakan pada hari minggu di gereja

dalam memberikan pelayanan Pendidikan Agama Kristen kepada anak-

anak, untuk membawa dan menjadikan anak-anak sebagai murid Yesus,

serta generasi penerus pemberitaan dan pengajaran tentang Kabar Baik atau

Injil.

2. Sejarah Berdirinya Sekolah Minggu

Berdirinya Sekolah Minggu dimulai dari revolusi industri yang

terjadi di Inggris pada abad ke-18 yang dipelopori oleh Robert Raikers

seorang penerbit dari Gloucester, Inggris. Pada waktu itu ada banyak

penemuan yang memperbanyak produksi dengan menggantikan tenaga

manusia dan hewan dengan mesin uap, yang mengakibatkan meningkatnya


43

kemiskinan dan kejahatan di Inggris sehingga penjara-penjara dipenuhi oleh

orang malang (Boehlke, 2005: 421).

Robert Raikers sering kali melawat narapidana di penjara dan

mengarang artikel yang menggambarkan keadaan mereka yang

menyedihkan. Ia menarik kesimpulan bahwa semua tindakan kejahatan yang

terjadi oleh rendahnya pendidikan. Sekolah yang tersedia saat itu hanya

tersedia bagi mereka yang mampu membayar uang sekolah, sehingga anak-

anak yang tidak berpendidikan menjadi liar, bicara sembarangan tanpa

sopan santun dan melakukan tindakan kejahatan (Kadarmanto, 2012: 26 ).

Atas kondisi tersebut, hati Robert tergerak untuk mengumpulkan

anak-anak miskin yang tidak bersekolah di hari Minggu. Ia mengumpulkan

mereka di gereja untuk dan mengajarkan mereka membaca, menulis, serta

pelajaran agama (Kadarmanto, 2012: 26). Robert juga memakai rumahnya

sebagai tempat belajar. Anak didik Sekolah Minggu pertama diajar oleh

seorang ibu dirumahnya, dan ia sendiri yang membayar gajinya (Boehlke,

2005: 422). Kurikulumnya terdiri atas pengetahuan Alkitab, pelajaran

ketekismus, keterampilan membaca menulis, berhitung pada taraf yang

sederhana serta belajar swadisiplin terlebih dahulu (Boehlke, 2005: 422).

Banyak orang yang tertarik dan mendukung usaha Robert.

Tiga tahun kemudian di berbagai tempat bermunculan Sekolah

Minggu lain dengan pola yang dilakukan Robert Raikers (Kadarmanto,

2012: 26). Pada waktu Raikers meninggal, jumlah anak didik Sekolah

Minggu saja sudah melebihi 400.000 orang (Boehlke, 2005: 423). Sekolah
44

Minggu mengalami perkembangan yang sangat pesat bahkan ke kota-kota

lain di Inggris bahkan ke berbagai tempat di dunia.

3. Tujuan Pelayanan Anak Sekolah Minggu

Anak-anak adalah golongan yang penting dalam gereja Kristen

yang harus dididik dan diperhatikan (Efesus 6:14; Markus 10:13-16).

Tujuan Pendidikan Agama Kristen kepada anak-anak menurut

Homrighausen & Enklaar (2001: 122) adalah:

a. Supaya mereka mengenal Allah sebagai pencipta dan pemerintah seluruh

alam semesta, dan Yesus Kristus sebagai penebus, pemimpin dan

penolong mereka.

b. Supaya mereka mengerti akan kedudukan dan panggilan mereka selaku

anggota-anggotagereja Tuhan, dan turut bekerja bagi perkembangan dan

kemajuan gereja di muka bumi ini.

c. Supaya mereka mengasihi sesamanya oleh karena Tuhan telah mengasihi

mereka sendiri.

d. Supaya mereka insaf akan dosanya dan selalu mau bertobat, minta ampun

dan dipulihkan untuk pembaruan hidup pada Tuhan.

e. Supaya mereka suka belajar terus mengenai berita Alkitab, suka

mengambil bagian dalam kebaktian jemaat dan suka melayani Tuhan di

sepanjang kehidupan mereka.

Pendidikan anak yang direncanakan dengan baik adalah tindakan

untuk membesarkan anak menjadi seorang pribadi yang bertindak dengan

bertanggung jawab dan menjalani masa anak-anaknya dengan sukacita.


45

Oleh karena itu, orangtua bertanggung jawab dan mengasihi anak Sekolah

Minggu dengan mengajarkan berulang-ulang firman Tuhan baik melalui

tindakan maupun perbuatan (Ulangan 6: 4-7). Orangtua harus siap

mendampingi anak dalam tahap perkembangan dan pendidikannya.

4. Aspek-aspek Kegiatan Sekolah Minggu

Menurut (Laheba, 2007: 10) Kegiatan Sekolah Minggu di gereja

berlangsung dalam tiga aspek yaitu:

a. Ibadah

Sekolah Minggu sebagai suatu kegiatan ibadah merupakan

tempat dimana dalamnya anak-anak secara total mengekspresikan

dirinya, baik secara fisik maupun situasi, untuk berinteraksi dengan Sang

Guru Agung. Interaksi ini terjadi melalui proses doa, puji-pujian,

mendengarkan, menceritakan kisah-kisah Alkitab, maupun ritual-ritual

tertentu.

b. Persekutuan

Dalam Sekolah Minggu, anak-anak membangun relasi mereka

dengan anak-anak lainnya. Mereka berdiskusi, bernegoisasi, berdebat,

berkomunikasi, bermain bersama, atau bekerja sama menyelesaikan suatu

kegiatan. Dengan kata lain, mereka membangun komunitas yang

didasarkan pada iman, dan tujuan yang sama. Sebagai sebuah

persekutuan organisatoris, Sekolah Minggu tidak bersifat eklusif

melainkan berkomitmen kepada Kerajaan Allah yang universal.


46

c. Belajar

Di Sekolah Minggu, anak-anak belajar tentang nilai-nilai

kebenaran dan juga nilai moral kristiani. Anak-anak dididik untuk tidak

hanaya memahami nilai-nilai Kerajaan Allah, tetapi juga menjadikan

nilai-nilai itu sebagai prinsip-prinsip pribadi, gaya hidup, karakter, cara

membawa diri dan tindakan-tindakan logis.

5. Peran Sekolah Minggu

Sekolah Minggu sebagai pendidikan non-formal memiliki 4

peranan, yaitu:

a. Pusat Pendidikan Non-formal

Sebagai pusat pendidikan non-formal, Sekolah Minggu

berfungsi untuk mengubah sikap dan tingkah laku murid. Perubahan

terjadi secara bertahap dalam proses belajar memahami kebenaran firman

Tuhan (Leo, 2008: 13). Proses pendidikan terjadi sepanjang masa, ini

berarti murid Yesus tidak berhenti belajar sampai Tuhan Yesus

memanggil. Murid Sekolah Minggu belajar menjadi anggota tubuh

sampai benar-benar berfungsi sesuai pengetahuan, keterampilan, sikap,

dan talenta yang dimilikinya (Leo, 2008: 13).

b. Ujung Tombak pekabaran Injil

Murid-murid Sekolah Minggu yang sudah diubah sikapnya dan

siap menjadi pelayan Tuhan adalah ujung tombak Pekabaran Injil (PI).
47

Tujuan Pekabaran Injil (PI) yaitu menjadikan semua bangsa murid Tuhan

Yesus (Leo, 2008: 13).

c. Alat Penjangkau

Ujung tombak pekabaran Injil merupakan alat penjangkau setiap

individu yang sudah atau belum mengenal Yesus dan yang sudah atau

belum percaya kepada Yesus. Alat penjangkau yang efektif berupaya

menciptakan kegiatan yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan

untuk menarik target individu yang akan dijangkau (Leo, 2008: 20).

d. Penyalur Bakat

Kepedulian gereja terhadap masyarakat di sekitanya dapat

ditunjukkan dengan berbagai kegiatan untuk mengetaskan kemiskinan

moral dan material. Yesus datang untuk memberkati kehidupan manusia

secara rohani dan jasmani. Sekolah Minggu, mewakili jemaat gereja,

mengemban tugas ini. Kehadiran Sekolah Minggu harus dirasakan

berkatnya oleh masyarakat sekitar yang mempunyai latar belakang dan

kehidupan yang beraneka ragam. Berkat-berkat Sekolah Minggu yang

disalurkan kepada semua umat manusia dapat berupa doa, daya,

pemikiran dan dana (Leo, 2008: 22).