Anda di halaman 1dari 8

TAFSIR SURAH AL-QALAM

(Sesi I, ayat 1-33)

A. Muqaddimah
Surah ini populer dengan nama Surah al-Qalam atau Surah Nun ada juga yang
menggabung kedua kata itu yaitu Surah Nun Wal Qalam. Mayoritas ulama menyatakan
bahwa keseluruhan ayat-ayatnya adalah Makkiyah, diturunkan sebelum Nabi saw. berhijrah
ke Madinah. Sebagian ulama dengan mengutip Riwayat Ibn Abbas r.a menyatakan bahwa
awal surah ini sampai ayat 16 adalah Makkiyah, lalu ayat 17 sampai ayat 33 adalah
Madaniyyah, selanjutnya ayat 34 sampai 47 adalah Makkiyah lagi, dan selebihnya ayat 48
sampai 50 adalah Madaniyyah lagi.
Isu sentral surah ini sebagai hiburan terhadap Nabi saw. setelah beliau dihina oleh
kaum musyrikin sebagai orang gila. Dengan surah ini Allah swt. Menenangkan hati beliau
melalui janji serta pujian atas akhlak mulia beliau sambil mengingatkan agar tidak mengikuti
keinginan kaum musyrikin atau melunakkan sikap dalam menghadapi mereka.
Sahabat Nabi saw., Jabir Ibn Abdillah ra. menyatakan bahwa surah al-Qalam adalah
surah kedua yang diterima Nabi saw., setelahnya surah al-Muzzammmil baru al-Muddatstsir.
Sayyid Quthub berpendapat lain. Menurutnya, tidak dapat ditentukan kapan persisnya
surah ini turun. Menurutnya, banyak riwayat-riwayat yang menyatakan bahwa surah ini
adalah surah kedua turun setelah surah Iqra, tetapi tema surah dan uslub (gaya) bahasa yang
digunakan dalam surah tersebut membuat beliau berpandangan lain, bahkan menurutnya,
hampir dapat dikatakan bahwa surah ini turun setelah kurang lebih 3 tahun dakwah Nabi
saw. yang diarahkan kepada perorangan. Ia turun pada saat kaum musyrikin Mekkah menolak
dan memerangi dakwah Nabi itu, sehingga menuduh Nabi dengan tuduhan orang gila, maka
al-Quran membantah dan menafikan serta mengancam mereka yang menghalangi dakwah
sebagaimana diungkap pada awal surah.
Sayyid Quthub juga menolak pendapat yang menyatakan bahwa sebagian surah ini
Makkiyah dan sebagiannya lagi Madaniyyah. Beliau menegaskan bahwa semua ayat-ayatnya
adalah Makkiyyah, dengan alasan bahwa ciri uraian ayat-ayatnya adalah ciri Makkiyyah yang
sangat menonjol.
Apapun perbedaan pendapat itu, kesemuanya memiliki alasan masing-masing. Yang
pertama berdasarkan riwayat-riwayat yang banyak dan kedua berdasarkan analisis surah. Kita
dapat berkata bahwa dalam konteks sejarah, maka yang diandalkan adalah kebenaran riwayat
orang-orang yang menyaksikannya, sedang akal hanya berperan dalam memilih peristiwa jika
riwayatnya telah dinilai shahih. Banyaknya riwayat yang menyatakan surah ini merupakan
surah keduasebagaimana diakui juga oleh Sayyid Quthub-membuat sebagian ulama
mengenyampingkan pendapat Sayyid Quthub di atas, tetapi argumentasi Sayyid Quthub pun
sungguh sangat logis sehingga bertawaqquf (tidak menerina atau menolak salah satu dari
pendapat yang berbeda) adalah salah satu cara yang ditempuh.
Jumlah ayat-ayat surah ini menurut perhitungan semua ulama sebanyak 52 ayat.

B. Tafsir Ayat
AYAT 1-4
Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis, berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad)
sekali-kali bukan orang gila. Dan Sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar
yang tidak putus-putusnya. dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang
agung.
Nun adalah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat
Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya.
Diantara Ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena
dipandang termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. Golongan
yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang
berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para pendengar
supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu
diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. Kalau mereka
tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w.
semata-mata, maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.
Menurut Ibnu jarir sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir mengatakan bahwa firman
Allah nun artinya adalah ikan besar di dalam gelombang besar samudra.1[1] Ikan inilah yang
memikul tujuh lapis bumi, hal ini dikuatkan oleh Ibnu Abbas, Qatadah, dan Hasan. Dari
perbedaan penafsiran di atas penafsiran yang lebih shahih hemat penulis lebih cenderung
menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang termasuk ayat-ayat
mutasyaabihaat . Hanya Allah yang mengetahui maksudnya. Itulah jawaban yang
dikemukakan oleh mayoritas ulama abad pertama hingga abad ketiga.
Kata al-qalam ( ) berarti, sejenis pena yang digunakan untuk menulis. Hal ini
sejalan dengan firman Allah:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia
dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia)
dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Dengan demikian, kalam dalan ayat ini merupakan sumpah dari Allah dan peringatan
bagi hamba-hamba-Nya tentang nikmat yang telah diberikan kepada mereka berupa pahala
menulis, yang menjadi sarana untuk mendapatkan berbagai macam ilmu. Itulah sebabnya
Allah swt berfirman: Dan apa yang mereka tulis.
Sebagian mufassir ada yang memahaminya dalam arti khusus yaitu makhluk Allah
pertama yang digunakan malaikat untuk menulis takdir baik dan buruk serta segala kejadian
dan makhluk yang kesemuanya tercatat dalam Lauh Mahfuzh, atau pena malaikat yang
digunakan malaikat menulis amal-amal baik dan buruk setiap manusia. Rasul bersabda: "
yang pertama kali diciptakan Allah adalah kalam.
Sedangkan yang dimaksud firman-Nya: dan apa yang mereka tulis, Ibnu Abbas dan
yang lainnya mengatakan adalah malaikat. Sebagian lagi ada yang menafsirkan para penulis
wahyu atau manusia pada umumnya. Siapapun yang dimaksud dalam ayat di atas, yang jelas
adalah suatu tulisan atau catatan. Dengan ayat di atas Allah swt. bersumpah dengan manfaat
dan kebaikan yang dapat diperoleh dari tulisan. Ini secara tidak langsung merupakan anjuran
tntuk membaca karena dengan membaca seseorang dapat memperoleh manfaat yang banyak
selama itu dilakukan bismi rabbika yakni demikarena Allah dan guna mencapai ridha-Nya.
Kalimat bi nimti rabbika dapat dipahami dalam arti berkat nikmat Tuhanmu engkau
bukanlah orang yang gila. Kaum musyrikin menuduh Nabi Muhammad saw. gila karena
menyampaikan ayat-ayat al-Quran yang antara lain mengandung kecaman terhadap
kepercayaan mereka. Ada juga yang memahaminya dalam arti : engkau bukan seorang yang
gila disebabkan karena menerima wahyu al-Quran itu. Ini karena kaum musyrikin ada yang
menduga Nabi terganggu oleh setan atau jin sehingga menjadi gila karena jin itulah
menurut dugaan mereka.
Kata mamnun berasal dari kata manna yang berarti putus. Allah menganugerahkan
pahala kepada Nabi saw. terus menerus tidak terputus. Siapa yang mengajarkan suatu
kebaikan, maka ia akan memperoleh pahalanya, dan pahala orang yang dia ajar itu hingga

1[1] Nuun secara bahasa adalah ikan yang sangat besar. Dapat pula berarti tempat tinta.
Kalau memang harus ditafsirkan secara bahasa, maka penafsiran dengan tempat tinta rupanya lebih
cocok apabila dikaitkan dengan pena, yang berfungsi sebagai alat untuk menulis.
hari Kiamat, tanpa berkurang pahala orang yang diajarnya itu. Kita dapat membayangkan
betapa banyak sudah orang yang diajar oleh Nabi saw., dan demikian seterusnya. Dengan
demikian pahala kebaikan yang beliau dapatkan menjadi berantai tidak ada putus-putusnya.
Kata khuluq artinya budi pekerti luhur, tingkah laku atau watak terpuji. Keluhuran
budi pekerti Nabi saw. Yang mencapai puncaknya itu bukan saja dilukiskan oleh ayat di atas
dengan kata innaka/ sesungguhnya engkau tetapi juga dengan tanwin (bunyi dengung) pada
kata (khuluqin) dan hurup lam yang digunakan untuk mengukuhkan kandungan pesan yang
menghiasai kata ala disamping kata ala itu sendiri, sehingga berbunyi laala, dan yang
terakhir pada ayat ini adalah penyifatan khuluq oleh Allah yang maha besar dengan kata
adzim/agung. Jika Allah menyifati sesuatu dengan kata agung maka tidak dapat dibayangkan
bagaimana keagungan akhlak Nabi saw.
Ibnu katsir menjelaskan keagungan akhlak Nabi saw. Dengan mengutip riwayat dari
Qatadah, Dia pernah bertanya kepada Aisyah tentang akhlak Rasulullah maka ia menjawab,
Akhlak beliau adalah al-Quran, Yaitu sebagaimana yang terdapat dalam al-Quran.
Seseorang dari Bani Suwad mengatakan, Aku bertanya kepada Aisyah, Beritahukanlah
kepadaku wahai Ummul Mukminin, tentang akhlak Rasulullah saw.! Lalu dia menjawab,
Tidakkah kamu baca al-Quran, Dan sesngguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang
agung? Dia bertanya lagi, Ceritakanlah kepadaku tentang keagungan akhlaknya itu!. Dia
menjawab, Pada suatu hari aku pernah membuatkan makanan untuknya. Ternyata Hafsah
pun membuatkan makanan untuknya. Aku pun berkata kepada budakku, Pergilah, jika
Hafsah datang membawa makanan sebelum makananku, maka lemparkanlah makanan itu.
Maka, Hafsah pun datang dengan membawa makanan dan budak itu pun melemparkan
makanan tadi, sehingga piringnya terjatuh dan pecah. Rasulullah saw. Ketika itu sudah
kenyang, lalu Rasulullah saw. mengumpulkan dan mengatakan, Mintalah pengganti priring
itu kepada Bani Aswad dengan piring lain. Aisyah berkata, Dan Rasulullah saw. Sedikitpun
tidak mengomentari sedikitpun hal itu.
Arti pernyataan Aisyah bahwa akhlak Rasulullah saw. Adalah al-quran ialah bahwa
Rasulullah telah menjadikan perintah dan larangan al-Quran sebagai tabiat dan karakternya.
Setiap kali al-Quran memerintahkan sesuatu maka beliau akan melaksanakannya. Dan,
kapan saja al-Quran melarang sesuatu maka beliau akan meninggalkannya. Disamping
semua yang telah Allah nyatakan berupa akhlak-akhlak yang agung, seperti rasa malu yang
sangat tinggi, murah hati, pemberani, suka memaapkan, lemah lembut, dan semua akhlak
mulia lainnya. Sebagaimana yang telah ditegaskan dalam hadits Bukhari dan Muslim dari
Anas bin Malik, Aku telah menjadi pembantu Rasulullah selama 10 tahun, namun tidak
pernah mengatakan, Cis, walaupun satu kali saja. Dan belum pernah mengomentari
perbuatanku dengan mengatakan, Mengapa kamu lakukan itu? Dan tidak pernah
mengomentari apa yang belum aku kerjakan, Mengapa kamu belum mengerjakannya juga?
Beliau adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Beliau tidak pernah memakai pakaian
dari sutra. Tidak ada sesuatupun yang lebih lembut daripada telapak tangan Rasulullah saw.
Dan, aku tidak pernah mencium wangi-wangian yang lebih wangi daripada keringat
Rasulullah saw.
Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad bahwa Aisyah mengatakan, Rasulullah saw.
Tidak pernah memukul istri dan apapun dengan tangannya, kecuali bila beliau berjihad di
jalan Allah. Tidaklah beliau diberikan pilihan melainkan beliau memilih yang paling mudah
dan paling disukai. Beliau tidak pernah menghukum untuk kepentingan peribadi karena
sesuatu yang dilakukan kecuali bila yang dilanggar itu adalah kehormatan-kehormatan Allah,
maka beliau akan menghukum karena Allah swt. Hadits-hadits yang membicarakan masalah
ke-agungan akhlak Rasulullah banyak sekali. Imam At-Tirmidzi telah merangkumnya dalam
kitabnya yang berjudul asy-Syamil. Demikian Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya.
AYAT 5-7
Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir)pun akan melihat, siapa di
antara kamu yang gila. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang
sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah yang paling mengetahui orang-orang yang mendapat
petunjuk.
Setelah dengan ayat yang lalu Allah bersumpah dengan kesempurnaan budi pekerti
dan kepribadian Nabi Muhammad saw. Ayat di atas mengukuhkan penjelasan itu dengan
menyatakan bahwa nanti dalam waktu yang dekat engkau wahai Nabi saw. akan melihat dan
mengetahui, dan mereka orang-orang kafir itu pun akan mengetahui juga, siapa diantara
kamu yang sesat dan gila Sesunguhnya Tuhan Pemelihara dan pembimbimbngmu wahai
Muhammad saw. , Dia sajalah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya serta
siapa yang gila; dan Dia sajalah Yang Paling Mengetahui siapa yang diberi petunjuk-Nya.
Kata al-maftun terambil dari kata fitnah yang antara lain bermakna gila. Bisa juga
berarti seseorang yang kacau pikirannya, bingung, tidak mengetahui arah yang benar. Kaum
musyrikin sungguh kacau pikiran mereka. Betapa tidak, ajaran yang begitu jelas mereka tolak
dan memilih kepercayaan mereka yang sungguh tidak masuk akal. Nabi saw. yang demikian
tinggi akhlaknya dan mereka akui kejujuran dan ketajaman pikirannya sebelum kenabian,
mereka tuduh orang gila, sungguh sikap dan ucapann itu tidak mungkin datang kecuali dari
orang gila atau yang kacau pikirannya.
AYAT 8-13
Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka
mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula
kepadamu). dan janganlah kamu ikuti Setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang
banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah,. yang banyak menghalangi
perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu,
yang terkenal kejahatannya,
Ayat yang lalu mengukuhkan pernyataan ayat-ayat sebelumnya yang menegaskan
keluhuran akhlak Nabi saw. Ayat-ayat di atas menyatakan bahwa: Jika demikian itu sifat dan
kedaanmu-wahai Nabi Muhammad saw., maka janganlah engkau mengikuti orang kafir yang
menuduhmu gila, yaitu para pembangkang ayat-ayat Allah itu. Mereka sangat menginginkan
dan berangan-angan seandainya engkau bersikap lunak terhadap mereka dengan tidak
melarang mereka menyembah berhala, atau menyetujui sebagian kedurhakaan mereka lalu
mereka bersikap lunak pula kepadamu.
Untuk lebih mengukuhkan larangan tersebut, Allah mensifati mereka dengan sifat-
sifat buruk secara rinci sambil mengulangi larangan-Nya dengan berfirman: Dan janganlah
engkau ikuti orang yang sedikit-sedikit selalu bersumpah lagi hina, yaitu tidak berbudi
pekerti luhur, banyak mencela pihak lain di belakang mereka, berjalan kesana- kemari
dengan menyebarkan fitnah dan adu domba, penghalang terciptanya kebaikan , pelaku dosa
baik kepada Allah maupun manusia dan kasar, dan terkenal dengan kejahatannya.
Kata tudhinu terambil dari kata duhn/ minyak. Minyak dapat digunakan untuk
melunakkan sesuatu. Dari sini kata tersebut dapat diartikan juga lunak. Sementara Ibnu Katsir
menafsirkan ayat di atas dengan mengutip perkataan Ibn Abbas ra. Mengatakan bahwa
artinya, kalau kamu memberikan keringanan kepada mereka maka mereka akan memberikan
keringanan kepadamu. Ada juga yang memahaminya dalam arti berpura-pura menampakkan
sesuatu yang betrbeda dengan isi hatinya.
Kata kullu yang biasa diartikan semua atau setiap, maksudnya adalah janganlah kamu
ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Karena orang pendusta itu, karena
kelemahan dan kerendahannya akan melindungi dirinya dengan sumpah-sumpah palsu yang
disandarkan kepada Allah dan menggunakannya pada setiap waktu bukan pada tempatnya.
Al-Hasan mengatakan setiap orang yang suka bersumpah adalah orang yang hina dan
lemah.
Ada kaitan yang sangat erat antara orang yang banyak bersumpah dengan kehinaan.
Jika seseorang dipercaya, maka dia tidak perlu bersumpah. Tetapi jika ia banyak bersumpah,
maka pertanda bahwa ia tidak dipercaya sehingga ia diremehkan. Demikian juga sebaliknya,
jika seseorang diremehkan, maka ucapannya tidak dihiraukan, sehingga agar didengar, ia
terpaksa bersumpah walau bukan pada tempatnya.
Kata hammaz terambil dari kata al-hamz yang pada awalnya berarti tekanan atau
dorongan yang keras. Huruf hamzah dalam bahasa Arab dinamai demikian karena posisi
lidah ketika mengucapkannya berada diujung tenggorokkan sehingga membutuhkan tekanan.
Lebih jauh lagi pengertiannya berkembang menjadi mendorong/menusuk dengan tangan atau
tongkat. Dari sini kata tersebut dipahami dalam arti menggunjing, mengumpat atau menyebut
sikap negatif seseorang di belakang orang yang bersangkutan. Kata lain yang semakna adalah
Ghibah.
Kata namiim adalah bentuk mashdar atau jamak dari kata namimah yaitu
penyampaian berita yang menyakitkan hati pendengarnya dan menimbulkan perselisihan
antar sesama manusia.
Ibnu Abbas ra. Mengatakan, Rasulullah saw pernah melewati dua buah kuburan, lalu beliau
bersabda, :Kedua orang yang berada dalam kubur ini tengah disiksa. Padahal tidaklah kedua
disiksa dikarenakan dosa besar. Adapun salah satu dari keduanya disiksa karena tidak
menutup diri ketika buang air kecil. Sedangkan yang lainnya karena suka mengadu domba.
(HR. Bukhari dan Muslim).
Imam Ahmad meriwayatkan secara marfu dari Hudzaifah, Tidak akan masuk
surgaorang yang suka mengadu domba.
Kata utullin terambil dari kata atalahu dalam arti menggiring dengan kasar. Kata ini
digunakan untuk menunjukkan seseorang yang keras hati, kepala batu, kasar, enggan berbuat
baik kecuali terpaksa. Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Haritsah bin Wahab bahwa
Rasulullah saw.bersabda, Maukah aku beritahukan kepadamu tentang penghuni surga.
Setiap orang yang lemah, merendahkan diri, dan kalau dia bersumpah atas nama Allah
pastilah dia melaksanakannya. Maukah aku beritahukan kepadamu tentang penghuni neraka.
Setiap yang kasar dan sombong.
Diriwayatkan Imam Ahmad bahwa Rasulullah ditanya tentang maksud kata tersebut,
lalu beliau menjawab: Dia adalah yang kasar budi pekertinya, yang luas rongganya, (yaitu)
banyak makan dan minum serta selalu berbuat aniaya.
Kata zanim terambil dari kata zanamah. Dalam bahasa Arab berarti orang yang
terkenal buruk dalam masyarakatnya. Para ulama berbeda pendapat tentang siapa orang yang
dimaksud dalam ayat di atas. Beberapa nama muncul antara lain, al-Walid Ibn al-Mughirah,
Abu Jahl Ibn Hisyam, al-Akhnas Ibn Syuraiq, serta al-Aswad Ibn Abd Yaghuts.
AYAT 14-16
Karena Dia mempunyai (banyak) harta dan anak2[2]. apabila dibacakan kepadanya ayat-
ayat Kam, ia berkata: "(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala. kelak
akan Kami beri tanda Dia di belalai(nya)3[3]
Setelah ayat-ayat yang lalu menyebutkan sekian banyak sifat buruk yang dimiliki oleh
siapa pun yang dimaksudnya, ayat-ayat di atas menyebutkan faktor yang menyebabkan sipat
buruk itu serta dampak buruk yang akan dialami oleh pelakunya. Ayat di atas bagaikan

2[2] yang mempunyai banyak anak dan harta lebih mudah Dia mendapat pengikut. tapi jika
Dia mempunyai sifat-sifat seperti tersebut pada ayat 10-13, tidaklah Dia dapat diikuti.

3[3] Yang dimaksud dengan belalai di sini ialah hidung. dipakai kata belalai di sini sebagai
penghinaan
mengatakan: sifat-sifat yang dimiliknya itu lahir karena dia adalah orang yang terkenal serta
merasa dirinya sebagai pemilik banyak harta dan anak-anak yang banyak dan terpandang,
tetapi ia mengingkari tuntunan Allah dan tidak mensyukuri nikmat-Nya itu. Apabila
dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: Ini adalah dongeng-dongeng orang-orang
dahulu kala. Sungguh bejat orang ini, Akan Kami beri tanda dia di atas belalainya- yakni
hidungnya yang panjang.
Kata asathir adalah jamak dari kata usthurah, ia adalah mitos, atau dongeng yang
diterima secara turun temurun, tetapi tidak memiliki pijakan kebenaran.
Tanda yang diberikan pada hidungnya itu sebagian ulama memahaminya sebagai
luka yang menciderai hidung atau muka orang yang bersangkutan. Mereka berpendapat
bahwa ayat di atas berbicara tentang al-Walid Ibn al-Mughirah bahwa yang bersangkutan
terlibat dalam perang Badar dan ketika itu hidungnya patah dan ia cacat sepanjang hayatnya.
Ibnu Abbas ra. Menafsirkan, Yaitu, akan diperangi di perang Badar nanti, kemudian dalam
perang itu akan ditebas dengan pedang. Ada juga yang nenafsirkan, akan diberi tanda
dengan tanda penghuni neraka,. Penyebutan kata khurthum/ belalai dan yang dimaksud
adalah hidung bertujuan menggambarkan tersebarnya keburukan itu. Ia tidak dapat
disembunyikan. Di sisi lain penyebutan hidung merupakan penghinaan baginya, apalagi
dengan menunjukannya dengan kata lain khurthum.
AYAT 17-20

Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah
mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh
akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu
kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur, Maka
jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita.
Ayat-ayat yang lalu menyebut beberapa sifat buruk dari para pendusta ayat-ayat Allah
(baca ayat 8 dan seterusnya) kini diuraikan bahwa apa yang mereka alami itu serupa dengan
kisah kelompok pemiliki kebun yang agaknya pengalaman mereka telah dikenal luas oleh
masyarakat Mekkah waktu itu. Di sisi lain ayat yang lalu juga menguraikan sebab sifat-sifat
buruk yang dimiliki oleh kelompok orang-orang durhaka, yakni disebabkan mereka bersikap
angkuh karena kepemilikan harta yang mereka nilai banyak dan anak-anak yang mereka
banggakan. Ayat di atas mengingatkan tentang dampak buruk dari keangkuhan akibat
kepemilikan harta, dan harta pada hakikatnya adalah ujian Allah kepada manusia. Ayat di
atas mengatakan: Sesungguhnya kami telah menguji mereka dengan ujian, sebagaimana
Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika sebagian besar, yakni dua dari tiga orang
di antara mereka bersumpah bahwa mereka sunggguh akan memetik hasilnya di pagi hari
agar pakir miskin tidak melihatnya sekaligus tidak dapat mengambilnya dan dalam waktu
yang sama mereka tidak bersumpah dengan mengucapkan , Inssya Allah dalam sumpahnya
itu. Atau kalimat apapun yang menunjukkan keterikatan upaya mereka dengan kehendak
Allah, maka sebagai akibatnya kebun itu diliputi bencana besar dari Allah swt. Bencana itu
datang ketika mereka sedang terlelap tidur, maka jadilah kebun itu bagaikan malam yang
gelap gulita, atau hangus menjadi abu yang hitam atau pohon yang telah gundul setelah
dipetik semua buahnya. Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas dengan mengutip riwayat Ibnu
Masud, bahwa Rasulullah saw., bersabda, Berhati-hatilah kamu terhadap perbuatan
maksiat. Sesungguhnya seorang hamba yang melakukan perbuatan dosa, rezekinya menjadi
terhalang padahal sebelumnya telah disediakan bagi dirinya.
Kemudian Rasulullah membacakan ayat, Lalu kebun itu diliputi malapetaka dari
Tuhanmu krtika mereka sedang terlelap tidur maka jadilah kebun itu hitam seperti malam
yang gelap gulita, sehingga tidak jadi menikmati hasil baik dari kebun-kebun mereka karena
perbuatan dosa mereka.
AYAT 21-29
Lalu mereka panggil memanggil di pagi hari: "Pergilah diwaktu pagi (ini) ke kebunmu
jika kamu hendak memetik buahnya". Maka Pergilah mereka saling berbisik-bisik. "Pada
hari ini janganlah ada seorang miskinpun masuk ke dalam kebunmu". Dan Berangkatlah
mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) Padahal mereka
(menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata: "Sesungguhnya kita
benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh
hasilnya , berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka: "Bukankah aku
telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu) . mereka
mengucapkan: "Maha suci Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang
zalim".
Setelah ayat ayat yang lalu menjelaskan sikap dan niat pemilik kebun, serta bencana
yang menimpa kebun mereka di malam hari saat mereka terlelap tidur, ayat-ayat di atas
menggambarkan keadaan mereka setelah terbangun sebelum mengetahui nasib kebun
mereka. Ayat-ayat di atas seolah-olah menyatakan: Lalu setelah kesepakatan mereka untuk
memetik hasil kebun mereka tanpa memberi fakir miskin, mereka saling panggil memanggil
dan saling di pagi hari : Pergilah di pagi dini hari ke kebun kamu jika kamu hendak memetik
hasilnya dan bertekad melakukan kesepakatan kita. Maka berangkatlah mereka sambil
berbisik-bisik dan saling berpesan: jangan ada yang memasukinya (kebun) pada hari itu
walau seorang pun, karena jika ada yang masuk ia akan mengganggu rencana mereka untuk
tidak memberi mereka. Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan tekad menghalangi
orang-orang miskin padahal mereka mampu menolong mereka. Ketika mereka melihatnya
jauh berbeda keadaannya dengan apa yang mereka harapkan, mereka berkata:
Sesungguhnya kita benar-benar orang yang sesat jalan . Ini bukan arah kebun kita Tetapi
setelah mereka yakin bahwa memang itu kebun mereka hanya keadaannya telah berubah
akibat bencana yang menimpanyamereka semua mengakui bahwa: Kita tidak sesat jalan,
bahkan kita dihalangi dari perolehan hasilnya. Ketika itu ada juga berkatalah saudara
mereka yang di tengah yakni yang paling moderat dan baik pikirannya di antara mereka:
Bukankah aku telah katakan kepada kamu, bahwa rencana kami itu tidaklah terpuji dan
mengapa kamu tidak senantiasa bertsbih menyucikan Allah dan berucap Insa Allah?
Rupanya ketika itu juga para pemilik kebun tersebut sadar , karena itu mereka berkata:
Maha suci Tuhan Pemelihara kami, sesungguhnya kami tadinya dengan rencana buruk kami
adalah orang-orang dzalim. Mestinya kami bersyukur dengan hasil panen sambil memberi
fakir miskin, tetapi justru kami melakukan sebaiknya.
AYAT 30-33
Lalu sebahagian mereka menghadapi sebahagian yang lain seraya cela mencela. Mereka
berkata: "Aduhai celakalah kita; Sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui
batas". Mudah-mudahan Tuhan kita memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang
lebih baik daripada itu; Sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dati Tuhan kita. Seperti
Itulah azab (dunia). dan Sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui.
Setelah pemilik-pemilik kebun yang diuraikan oleh ayat-ayat yang lalu menyadari
dampak buruk sikap dan kelakuan mereka maka sebagian mereka menghadap terhadap
sebagiannya lagi seraya saling mencela, sehingga pada akhirnya mereka semua mengaku
bersalah dan mereka berkata :Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita adalah orang-orang
yang melampaui batas dengan bersumpah tidak akan memberi hasil kepada fakir miskin.
Semoga Tuhan kami ganti dengan kebun atau apa saja yang lebih baik daripadanya;
sesungguhnya hanya kepadaTuhan kami selalu mengharap ampunan dan karunianya.
Sebagian ulama salaf menyebutkan bahwa mereka itu adalah penduduk Yaman pada
perkampungan yang bernama Darwan yang terletak 6 mil dari Sana. Sebagian mengatakan
bahwa mereka adalah penduduk Habsyah. Ketika mereka hendak melakukan niat mereka dan
melarang orang-orang miskin mencicipi hasilnya, mereka dihukum dengan membatalkan
maksud-maksud mereka sehinggaAllah menghilangkan semua yang berada dalam
genggaman tangan meraka. Tidak ada sedikitpun yang dapat mereka lakukan dengan jerih
payah mereka itu. Demikian Ibn Katsir menyataka dalam tafsirnya.
Setelah menguraikan bencana dan penyesalan yang dialami pemilik kebun yang
durhaka itu, Allah menutup kisahnya dengan memperingatkan semua pihak termasuk kaum
musyrikin Mekkah bahwa: Seperti itulah siksa duniawi itu. Dan sesungguhnya siksa akhirat
bagi para pendusta lebih besar dari siksa dunia.
Para mufassir menyatakan bahwa ketiga pemilik kebun itu benar-benar menyesal dan
bertaubat, sehingga Allah mengabulkan permohonan mereka, dan kebun yang tadinya binasa
subur kemba Wallahu Alam bi al shawaab.