Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH EVALUASI PEMBELAJARAN DAN HASIL BELAJAR

Kaitan asesmen dengan evaluasi

OLEH:

KELOMPOK : IX (SEMBILAN)

KELAS : FISIKA DIK-B 2015

NAMA : DINNI ARINI NIM:4151121019

HIDAYAT PRADANANTA NIM:4153121023

INDAH NURFIANI NIM:4152121022

INDRI DAMAYANTI NIM: 4151121029

DOSEN PENGAMPU : Dr. Betty M Turnip, M.Pd

Teguh Febri Sudarma, S.Pd., M.Pd

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2017
KATA PENGA/NTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat-Nya sehingga
tugas ini dapat diselesaikan dengan baik. Penyusunan makalah ini dilakukan sebagai salah
satu syarat untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah evaluasi pembelajaran dan hasil belajar.

Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, baik dari cara penulisan
maupun isi yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik
dan saran yang bersifat membangun sehingga kami dapat berkarya dengan lebih baik di masa
yang akan datang.

Akhirnya dengan satu harapan dari kami, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
kita khususnya dan bagi rekan-rekan pembaca umumnya.

Medan, 28 Agustus 2017

Penyusun

Kelompok IX

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1.2 Rumusan Masalah 1
1.3 Tujuan Penulisan 1
1.4 Manfaat Penulisan 1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN, TUJUAN, FUNGSI, DAN PRINSIP ASESMEN 2


A. Pengertian Asesmen 2
B. Tujuan Asesmen 2
C. Fungsi Asesmen 4
D. Prinsip Asesmen 5
E. Perbedaan Asesmen dan Evaluasi 7
F. Instrument Asesmen dan Evaluasi 8
2.2 EVALUASI 9
A. Definisi Evaluasi 9
B. Peranan dan Tujuan Evaluasi 9
C. Prinsip-Prinsip Evaluasi dalam Pendidikan 10
2.3 Pengukuran Dan Penilaian 11
A. Pengukuran 11
B. Penilaian 11
2.4 Hubungan Antara Asesmen dan Evaluasi 12

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan 15

DAFTAR PUSTAKA 16

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Di dalam kehidupan sehari-hari tidak semua orang menyadari bahwa setiap saat kita
selalu melakukan penilaian serta melakukan evaluasi. Dalam beberapa kegiatan sehari-hari,
kita jelas-jelas mengadakan pengukuran dan asesmen (penilaian). Hal ini dapat dilihat mulai
dari berpakaian, setelah berpakaian kemudian dihadapkan ke kaca apakah penampilannya
sudah baik atau belum.

Di dalam dunia Pendidikan proses pengukuran, asesmen dan evaluasi sangat dibutuhkan.
setiap pembelajaran, pendidik harus berusaha mengetahui hasil dari proses pembelajaran
yang ia lakukan. Hasil yang dimaksud adalah baik atau tidak baik, bermanfaat, atau tidak
bermanfaat, dll. Apabila pembelajaran yang dilakukannya mencapai hasil yang baik, pendidik
tentu dapat dikatakan berhasil dalam proses pembelajaran dan demikian sebaliknya.Salah
satu cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui hasil yang telah dicapai oleh pendidik
dalam proses pembelajaran adalah melalui assesmen dan evaluasi. Dalam makalah ini
membahas tentang pengukuran serta kaitan asesmen dengan evaluasi

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka kami merumuskan masalah sebagai
berikut:

1. Apa pengertian pengukuran, asesmen (penilaian), dan evaluasi?


2. Apa perbedaan antara asesmen dan evaluasi?
3. Apa prinsip dan tujuan asesmen dan evaluasi?
4. Apa kaitan antara asesmen dan evaluasi?

1.3 TUJUAN

Adapun tujuan dari makalah kami, antara lain sebagai berikut:

1. Mengetahui pengertian pengukuran, asesmen (penilaian), dan evaluasi


2. Mengetahui perbedaan antara asesmen (penilaian), dan evaluasi
3. Mengetahui prinsip tujuan pengukuran, asesmen dan evaluasi
4. Mengetahui kaitan antara asesmen dan evaluasi

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN, TUJUAN, FUNGSI DAN PRINSIP ASESMEN

A. Pengertian Asesmen
Asesmen adalah proses mengumpulkan data bukti dan menelaah kebutuhan,
keunggulan, kemampuan/abilitas dan deskripsi pencapaian perkembangan dan belajar anak
didik dalam kegiatannya di lembaga pendidikan anak usia dini, antara lain: di TPA, KB,
Posyandu dan TK.
Asesmen merupakan istilah umum yang meliputi semua metode yang biasanya dipakai
untuk menjajagi untuk kerja anak didik secara perseorangan atau kelompok kecil. Asesmen
dapat juga secara luas merujuk pada banyak sumber bukti dan aspek dari pengetahuan,
pengertian, sikap dan keterampilan anak didik. Atau bisa juga merujuk pada suatu kejadian
atau instrumen tertentu, misalnya asesmen portofolio.

B. Tujuan Asesmen
Chittenden (1994) mengemukakan tujuan penilaian (assessment purpose) adalah keeping
track, checking-up, finding-out, and summing-up.
1. Keeping track, yaitu untuk menelusuri dan melacak proses belajar peserta didik sesuai
dengan rencana pelaksaaan pembelajara yang telah ditetapkan. Untuk itu,guru harus
mengumpulkan data dan informasi dalam kurun waktu tertentu
melalui berbagai jenis dan teknik penilaian untuk memperoleh gambaran tentang
pencapaian kemajuan belajar peserta didik.
2. Checking-up, yaitu untuk mengecek ketercapaian kemampuan peserta didik dalam
proses pembelajaran dan kekurangan-kekurangan peserta didik selama mengikuti
proses pembelajaran. Dengan kata lain, guru perlu melakukan penilaian untuk
mengetahui bagian mana dari materi yang sudah dikuasai peserta didik dan bagian
mana dari materi yang belum dikuasai.
3. Finding-out, yaitu untuk mencari, menemukan dan mendeteksi kekurangan kesalahan
atau kelemahan peserta didik dalam proses pembelajaran, sehingga guru dapat dengan
cepat mencari alternatif solusinya.
4. Summing-up, yaitu untuk menyimpulkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap
kompetensi yang telah ditetapkan. Hasil penyimpulan ini dapat

2
digunakan guru untuk menyusun laporan kemajuan belajar ke berbagai pihak yang
berkepentingan.
Adapun tujuan penilaian hasil belajar adalah :
1. Untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi yang telah
diberikan.
2. Untuk mengetahui kecakapan, motivasi, bakat, minat, dan sikap peserta didik
terhadap program pembelajaran.
3. Untuk mengetahui tingkat kemajuan dan kesesuaian hasil belajar peserta didik
dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan.
4. Untuk mendiagnosis keunggulan dan kelemahan peserta didik dalam mengikuti
kegiatan pembelajaran. Keunggulan peserta didik dapat dijadikan dasar bagi guru
untuk memberikan pembinaan dan pengembangan lebih lanjut, sedangkan
kelemahannya dapat dijadikan acuan untuk memberikan bantuan atau bimbingan.
5. Untuk seleksi, yaitu memilih dan menentukan peserta didik yang sesuai dengan
jenis pendidikan tertentu.
6. Untuk menentukan kenaikan kelas.
7. Untuk menempatkan peserta didik sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Secara rinci tujuan asesmen berbasis kelas dapat dijabarkan sebagai berikut:
Pendidik dapat mengetahui seberapa jauh siswa dapat mencapai tingkat pencapai koes yang
dipersyaratkan, baik selama mengikuti pembelajaran dan setelah prosespembelajarrlangsung.
1. Pendidik juga dapat secara langsung memberikan umpan balik kepada peserta didik,
sehingga tidak pelu lagi menunda atau menunggu ulangan semester untuk bisa
mengetahui kekuatan dan kelemahannya dalam proses pencapaian kompetensi.
2. Pendidik dapat melakukan pemantauan kemajuan belajar yang dicapai setiap
peserta didik, sekaligus anda dapat mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami
peserta didik sehingga secara tepat dapat menentukan siswa mana yang perlu
pengayaan dan siswa yang perlu pembelajaran remedial untuk mencapai
kompetensi yang dipersyaratkan.
3. Hasil pemantauan kemajuan proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan terus
menerus tersebut juga akan dapat dipakai sebagai umpan balik untuk memperbaiki
metode, pendekatan, kegiatan, dan sumber belajar yang digunakan, sesuai dengan
kebutuhan materi dan juga kebutuhan siswa.

3
4. Hasil dari asesmen dapat pula memberikan informasi kepada orang tua dan komite
sekolah tentang efektivitas pendidikan,tidak perlu menunggu akhir semester atau
akhir tahun. Komunikasi antara pendidik,orang tua dan komite harus dijalin dan
dilakukan terus menerus sesuai kebutuhan

C. Fungsi Asesmen
Asesmen atau penilaian merupakan bagian penting dalam dari suatu proses
belajar mengajar. Fungsi penilaian diantara:
1. Fungsi formatif, yaitu untuk memberikan umpan balik (feedback) kepada guru
sebagai dasar untuk memperbaiki proses pembelajaran dan mengadakan program
remedial bagi peserta didik.
2. Fungsi sumatif, yaitu untuk menentukan nilai (angka) kemajuan/hasil belajar
peserta didik dalam mata pelajaran tertentu, sebagai bahan untuk memberikan
laporan kepada berbagai pihak, penentuan kenaikan kelas dan penentuan lulus-
tidaknya peserta didik.
3. Penilaian berfungsi sebagai Diagnostik
Alat yang digunakan dalam penilaian maka hasilnya dapat mengetahui kelemahan
peserta didik. Jadi dengan mengadakan penilaian sebenarnya guru melakukan
diagnosis kepada siswa tentang kebaikan dan kelemahannya. Dengan mengetahui
kelemahan-kelemahan yang ada maka akan mudah mencari cara untuk mengatasinya
4. Penilaian berfungsi sebagai Penempatan
Untuk dapat menentukan dengan pasti di kelompok mana seorang siswa harus
ditempatkan, digunakan suatu penilaian. Sekolompok siswa yang mempunyai hasil
penilaian yang sama, akan berada dalam kelompok yang sama belajarnya.
5. Penilaian berfungsi sebagai Pengukur Keberhasilan
Penilaian dilakukan dengan maksud untuk mengetahui sejauh mana suatu program
berhasil diterapkan.
Sementara itu, pada asesmen berbasis kelas, fungsi penilaian diantara:
1. Fungsi Motivasi,dalam arti,penilaian yang dilakukan guru dikelas harus mendorong
motivasi siswa untuk belajar. Latihan, tugas,dan ulangan yang diberikan oleh guru harus
memungkinkan siswa melakukan proses pembelajaan baik secara individu maupun
kelompok. Bentuk tugas, latihan dan ulangan harus dirancang sedemikian rupa sehingga
siswa terdorong untuk terus belajar dan merasakan kegiatan itu menyenangkan dan menjadi
kebutuhannya. Dengan mengerjakan latihan,tugas,dan ulangan yang diberikan, siswa

4
sendiri memperoleh gambaran tentang hal-hal apa yang telah dia kuasai dan belum
kuasai. Jika siswa merasa ada hal-hal yang belum dia kuasai,ia terdorong untuk
mempelajarinya kembali.
2. Fungsi Belajar Tuntas, dimana penilaian di kelas harus diarahkan untuk memantau
ketuntasan belajar siswa. Pertanyaan yang harus selalu diajukan oleh guru adalah apakah
siswa sudah menguasai kemampuan yang diarahkan, siapa dari siswa yang belum
menguasai kemampuan tetentu, dan tindakan apa yang harus dilakukan agar siswa mampu
menguasai kemampuan tersebut. Ketuntasan belajar harus menjadi fokus dalam
perancangan materi yang harus dicakup setiap kali guru melakukan penilaian. Jika suatu
kemampuan belum dikuasai siswa, penilaian harus terus dilakukan untuk mengetahi apakah
semua atau sebagian besar siswa telah menguasai kemampuan tersebut. Rencana penilaian
harus harus disusun dengan target kemampuan yang harus dikuasai siswa pada setiap
semester dan kelas sesuai dengan daftar kemapuan yang telah ditetapkan.
3. Fungsi Sebagai Indikator Efektivitas Pengajaran, disamping untuk memantau
kemajuan belajar siswa, penilaian kelas juga dapat digunakan untuk melihat seberapa
jauh proses belajar mengajar telah berhasil. Apabila sebagian besar atau semua siswa telah
menguasai sebagian besar atau semua kemampuan yang diajarkan, maka dapat
disimpulkan bahwa proses belajar mengajar telah berhasil sesuai dengan rencana. Apabila
guru menemukan bahwa hanya seagian siswa saja yang menguasai keampuan yang
ditargetkan, guru perlu melakukan analisis dan refleksi mengapa hal ini terjadi dan apa
tindaka yang harus guru lakukan untuk meningkatkan efektivitas pengajaran.
4. Fungsi Umpan balik, hasil penilaian harus dianalisis oleh guru sebagai bahan umpan
balikbagi siswa dan guru itu sendiri. Umpan balik hasil penilaian sangat bermafaat bagi
siswa agar siswa mengetahui kelemahan yang dialaminya dalam mecapai kemampuan
yang diharapakan, dan siswa diminta melakukan latihan dan atau pengayaan yang
dianggap perlu baik sebagai tugas individu ataupun kelompok. Analisis hasil peilaiam
juga berguna bagi guru untuk melihat hal-hal apa yang perlu diperhatikan secara serius
dalam proses belajar mengajar. misalnya, analisis terhadap kesalahan yang umum dilakukan
siswa dalam memahami konsep tetentu mejadi umpan balik dari guru dan melaukan
perbaikan dalam proses belajar megajar berikutnya.

D. Prinsip Asesmen
Dalam merancang suatu penilaian pembelajaran perlu diperhatikan prinsip-
prinsip sebagai berikut.

5
1.Prinsip integral dan komprehensif yakni penilaian dilakukan secara utuh dan menyeluruh
terhadap semua aspek pembelajaran,baik pengetahuan,keterampilan,maupun sikap dan nilai.
2.Prinsip kesinambungan yakni penilaian dilakukan secara berencana, terus-menerus
dan bertahap untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan tingkah laku
peserta didik sebagai hasil dari kegiatan belajar. Untuk memenuhi prinsip ini,
kegiatan penilaian harus sudah direncanakan bersamaan dengan kegiatan penyusunan
program semester dan dilaksanakan sesuai dengan program yang telah disusun.
3. Prinsip objektif yakni penilaian dilakukan dengan menggunakan alat ukur yang
handal dan dilaksanakan secara objektif, sehingga dapat menggambarkan kemampuan yang
diukur.
4. Kemampuan membaca, menulis dan berhitung merupakan kemampuan yang harus
dikuasai oleh peserta didik, sehingga penguasaan terhadap ke tiga kemampuan tersebut
adalah prasyarat untuk kenaikan kelas.
5. Penilaian dilakukan dengan mengacu pada indikator-indikator dari masing- masing
kompetensi dasar dari setiap mata pelajaran.
6. Penilaian pembelajaran tematik mencakup penilaian terhadap proses dan hasil belajar
peserta didik. Penilaian proses belajar adalah upaya pemberian nilai terhadap kegiatan
pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan peserta didik, sedangkan penilaian hasil
belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai dengan
menggunakan kriteria tertentu. Hasil belajar tersebut pada hakekatnya merupakan
kompetensi-kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-
nilai. Kompetensi tersebut dapat dikenali melalui sejumlah indikatornya yang dapat diukur
dan diamati.
7. Hasil karya atau hasil kerja peserta didik dapat digunakan sebagai bahan masukan guru
dalam mengambil keputusan.
Pada asesmen berbasis kelas,suatu penilaian harus memperhatikan beberapa prinsip-
prinsip diantaranya:
a. Mengacu pada pencapaian kompetensi (Competency Referenced), penilaian kelas
perlu disusun dan dirancang untuk mengukur apakah siswa telah menguasai
kemampuan sesuai dengan target yang ditetapkan dalam kurikulum. Materi yang
dicakup dalam penilaian kelas harus terkait secara langsung dengan indikator pencapaian
kemampuan tersebut. Ruang lingkup materi penilaian disesuaikan dengan tahapan materi
yang telah diajarkan serta pengalaman belajar siswa yang diberikan. Materi penugasan
atau ulangan harus betul-betul merefleksiksan setiap kemampuan yang ditargetkan untuk

6
dikuasai siswa. Hanya materi yang secara esensial terkait langsung dengan kemampuan
yang perlu dicakup dalam penilaian di kelas.
b. Berkelanjutan (Continous), penilaian yang dilakukan di kelas oleh guru harus
merupakan proses yang berkelanjutan dalam rangkaian rencana mengajar guru selama
satu semester dan tahun ajaran. Rangkaian aktivitas penilaian kelas yang dilakukan guru
melalui pemberian tugas, pekerjaan rumah (PR), ulangan harian, ulangan tengah dan akhir
semester, serta akhir tahun ajaran merupakan proses yang berkesinambuangan dan
berkelanjutan selama satu tahun ajaran.
c. Didaktis, alat yang akan digunakan untuk penilaian kelas berupa tes maupun non-tes
harus dirancang baik isi, format, maupun tata letak (layout) dan tampilannya agar siswa
menyenangi dan menikmati kegiatan penilaian. Perancangan bahan penilaian yang
kreatif dan menarik dapat mendorong siswa untuk menyelesaikan tugas penilaian, baik
yang bersifat individual maupun kelompok dengan penuh antusias dan menyenangkan.
d. Menggali Informasi, penilaian kelas yang baik harus dapat memberikan informasi yang
cukup bagi guru untuk mengambil keputusan dan umpan balik. Pemilihan metode, teknik,
dan alat peniaian yang tepat sangat menentukan jenis informasi yang ingin digali dari
proses penilaian kelas
e. Melihat yang benar dan yang salah, Dalam melaksanakan penilaian, guru
hendaknya melakukan analisis teadap hasil penilaian dan kerja siswa secara seksama
untuk melihat adanya kesalahan yang secara umum terjadi pada siswa dan sekaligus melihat
hal-hal positif yang dilakukan siswa. Hal-hal positif tersebut dapat berupa, misalnya, jawaban
benar yang diberikan siswa diluar perkiraan atau cakupan yang ada pada guru. Siswa
yang memiliki kelebihan kecerdasan, pengetahuan, dan pengalaman sangat mungkin
memberikan jawaban dan penyelesaian masalah yang tidak tersedia pada bahan yang
diajarkan di kelas. Demikian juga, melihat pola kesalahan yang umum dilakukan siswa
dalam menjawab dan menyelesaikan masalah untuk materi serta kompetesi tetentu
sangat membantu guru dalam melakukan perbaikan dan penyesuaian dan penyelesaian
program belajar mengajar. analisis terhadap kesalahan jawaban dan penyelesaian
masalah yang diberikan siswa sangat berguna untuk menghindari terjadinya
miskonsepsidan ketidakjelasan dalam proses pembelajaran. Guru harus hendaknyamemberik
penekanan terhadap kesalahan-kesalahan yang bersifat umum tersebut.

E. Perbedaan Assesmen dan Evaluasi


Secara terperinci perbedaan antara asesmen dan evaluasi dapat dilihat di bawah ini.

7
1. Menurut Frith dan Machintosh, asesmen berkaitan tentang sejauh mana anak memperoleh
manfaat dari sebuah proses pengajaran. Evaluasi berkaitan dengan efektivitas proses
pembelajaran.
2. Evaluasi lebih abstrak dan luas dari pada asesmen, namun menurut Linn dan Gronlund
asesmen lebih luas dalam hal keberagaman prosedur pemerolehan informasi yang dapat
digunakan.
3. Menurut Terms, asesmen memakan waktu yang panjang karena menyangkut proses yang
berkelanjutan, sedang evaluasi dilaksanakan secara berkala.
4. Asesmen lebih terfokus pada mencari data tentang anak didik, sedang evaluasi dapat lebih
luas dari itu (pencapaian tujuan belajar, tingkat penguasaan guru, pengajaran kelas,
efektivitas metode/media, dan lain-lain).

F. Instrumen Asesmen dan Evaluasi


Instrumen asesmen untuk menghasilkan informasi sebagai bukti kemajuan tentang
perkembangan dan belajar anak didik bisa berupa prosedur apa pun, formal atau informal.
Secara formal misalnya dalam bentuk kuis, pedoman wawancara, perlengkapan pengukuran
(untuk fisik). Sedang secara informal misalnya berupa pengamatan, portofolio, narasi dan
catatan anekdot. Begitu pula instrumen evaluasi, dapat dilakukan secara formal maupun
informal. Untuk pembelajaran di TK, prosedur yang biasanya digunakan dalam asesmen dan
evaluasi adalah prosedur informal karena karakteristik anak TK yang masih polos lebih tepat
didekati secara informal.
Adapun proses asesmen ialah peristiwa mengoleksi, menyeleksi bukti nyata atau
indikator mengenai apa yang sudah dicapai oleh anak didik, kemudian diberikan pemaknaan
atau pendeskripsian. Pemaknaan dan pendeskripsian pencapaian hasil belajar anak tersebut
masih menjadi tugas asesmen, bukan penilaian/evaluasi. Secara harfiah, asesmen adalah
mengestimasi, memperkirakan nilai suatu kualitas berdasarkan pada seperangkat
fakta/informasi faktual; dan tidak perlu bergantung pada bentuk hasil tes, pengukuran atau
peringkat. Oleh karena itu, definisi operasional asesmen adalah suatu upaya menggambarkan
(mendeskripsikan) karakteristik seseorang atau sesuatu, biasanya berbentuk naratif-kualitatif.
Batasan pengertian asesmen tersebut dapat dihubungkan dengan tiap tahap proses
pendidikan, tidak hanya pada pencapaian akademik yang biasanya dilaporkan secara
kuantitatif. Proses pembelajaran lainnya seperti karakteristik anak didik secara perorangan
dan dalam kelompok kecil, metode pembelajaran, kurikulum, fasilitas dan administrasi
program juga dapat dilakukan asesmen karena asesmen memungkinkan dilakukan pada

8
segala hal yang berkaitan dengan proses pembelajaran dan belajar untuk digambarkan,
dideskripsikan biasanya secara kualitatif, atau campuran kuantitatif-kualitatif.

2.2 EVALUASI

A. Definisi Evaluasi

Biasanya evaluasi pendidikan selalu dihubungkan dengan hasil belajar, namun saat ini
konsep evaluasi mempunyai arti yang lebih luas dari pada itu.

Banyak definisi evaluasi dapat diperoleh dari buku-buku yang ditulis oleh ahlinya, antara
lain defenisi yang ditulis oleh Ralph Tyler, yaitu evaluasi ialah proses yang menentukan
sampai sejauh mana tujuan pendidikan dapat dicapai (Tyler, 1950, him. 69). Menyediakan
informasi untuk membuat keputusan, dikemukakan oleh Cronbach (1963), Stufflebeam
(1971), juga Alkin (1969). Maclcolm, provus, pencetus Disrepancy Evaluation (1971),
mendeskripsiksn evaluasi sebagai perbedaan apa yang ada dengan suatu standar untuk
mengetahui apakah ada selisih.

Evaluasi merupakan usaha untuk memperoleh informasi tentang perolehan belajar siswa
secara menyeluruh, baik pengetahuan, konsep, sikap, nilai, maupun keterampilan proses. Hal
ini dapat digunakan oleh guru sebagai balikan maupun keputusan yang sangat diperlukan
dalam menentukan strategi belajar mengajar. Untuk maksud tersebut guru perlu mengadakan
penilaian, baik terhadap proses maupun terhadap hasil belajar siswa.

Untuk Apa Evaluasi?

Evaluasi dapat mempunyai dua fungsi yaitu fungsi formatif , evaluasi dipakai untuk
perbaikan dan pengembangan kegiatan yang sedang berjalan (program, orang, produk,
sebagainya). Fungsi sumatif, evaluasi dipakai untuk bertanggung jawab, keterangan seleksi
atau lanjutan. Jadi evaluasi hendaknya membantu pengembangan implementasi, kebutuhan
suatu program, perbaikan program, pertanggung jawaban, seleksi, motivasi, menambah
pengetahuan dan dukungan dari mereka yang terlibat.

B. Peranan Dan Tujuan Evaluasi

Evaluasi formal telah memegang peranan penting dalam pendidikan (Worten, Blaine R,
dan james R, Sander, 1982) antara lain memberi informasi yang dipakai sebagai dasar untuk:

9
1. Membuat kebijakan dan keputusan.
2. Menilai hasil yang dicapai para pelajar.
3. Menilai kurikulum.
4. Memberi kepercayaan kepada sekolah.
5. Memonitor dana yang telah diberikan.
6. Memperbaiki materi dan program pendidikan.

Tujuan dan Fungsi Evaluasi Pendidikan

Adapun tujuan evaluasi dalam bidang pendidikan menurut Sudijono (2011:16) adalah:

1. Untuk menghimpun bahan-bahan keterangan yang akan dijadikan sebagai bukti


mengenai taraf perkembangan atau taraf kemajuan yang dialami oleh para peserta
didik, setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
2. Untuk mengetahui tingkat efektivitas dari metode-metode pengajaran yang telah
dipergunakan dalam proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.

Sedangkan fungsi evaluasi pendidikan menurut Arikunto (2010) adalah:

1. Berfungsi selektif. Dengan mengadakan evaluasi, guru dapat melakukan seleksi atau
penilaian terhadap siswanya.
2. Berfungsi diagnostik. Dengan mengadakan evaluasi, guru dapat melakukan diagnosis
tentang kebaikan dan kelemahan siswanya.
3. Berfungsi sebagai penempatan. Dengan mengadakan evaluasi, guru dapat
menempatkan siswa sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
4. Berfungsi sebagai pengukur keberhasilan. Dengan mengadakan evaluasi, guru dapat
mengetahui sejauh mana keberhasilan suatu program yang telah diterapkan.

C. Prinsip - Prinsip Evaluasi dalam Pendidikan

Menurut Arikunto (2010: 24) ada satu prinsip umum dan penting dalam kegiatan evaluasi
yaitu adanya triangulasi:

1. Tujuan pembelajaran
2. Kegiatan pembelajaran atau KBM
3. Evaluasi

10
2.3 PENGUKURAN DAN PENILAIAN
A. Pengukuran

Ahmann dan Glock dalam S.Hamid Hasan (1988 : 9) menjelaskan in the last analysis
measurement is only a part, although a very substansial part of evaluation. It provides
information upon which an evaluation can be based Educational measurement is the
process that attempt to obtain a quantified representation of the degree to which a trait is
possessed by a pupil. (dalam analisis terakhir, pengukuran hanya merupakan bagian, yaitu
bagian yang sangat substansial dari evaluasi. Pengukuran menyediakan informasi, di mana
evaluasi dapat didasarkan ... Pengukuran pendidikan adalah proses yang berusaha untuk
mendapatkan representasi secara kuantitatif tentang sejauh mana suatu ciri yang dimiliki oleh
peserta didik).

Arikunto (2006) mengatakan mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu


ukuran yang bersifat kuantitatif. Pendapat ini senada dengan Suryanto (2009) yang
menyatakan bahwa pengukuran adalah suatu upaya penentuan angka untuk menggambarkan
karakteristik suatu obyek. Untuk menghasilkan angka (yang merupakan hasil pengukuran),
maka di perlukan alat ukur.

Berdasarkan teori teori di atas, dapat disimpulkan bahwa mengukur atau pengukuran
adalah sebuah kegiatan/proses membandingkan suatu benda atau keadaan dengan suatu
ukuran tertentu yang hasilnya bersifat kuantitatif (angka).

B. Penilaian

Penilaian merupakan komponen penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Dalam


dunia pendidikan, penilaian (assessment) diartikan sebagai prosedur yang digunakan untuk
mendapatkan informasi untuk mengetahui taraf pengetahuan dan keterampilan siswa yang
hanya akan digunakan untuk keperluasn evaluasi (Bambang Subali, 2012).

Kegiatan penilaian dalam proses pembelajaran perlu diarahkan pada empat hal, yaitu
(Mardapi, 2008)

A. Penelusuran, yaitu kegiatan yang telah dilakukan untuk menelusuri apakah proses
pembelajaran telah berlangsung sesuai yang direncanakan atau tidak. Pendidik
mengumpulkan berbagai informasi sepanjang semester atau tahun pelajaran melalui

11
berbagai bentuk pengukuran untuk memperoleh gambaran tentang pencapaian
kemajuan belajar.
B. Pengecekan, yaitu untuk mencari informasi apakah terdapat kekurangan pada peserta
didik selama proses pembelajaran. Pendidik berusaha untuk memperoleh gambaran
menyangkut kemampuan peserta didiknya, apa yang telah dikuasainya dan apa pula
yang belum.
C. Pencarian, yaitu untuk mencari dan menemukan penyebab kekurangan yang muncul
selama proses pembelajaran berlangsung. Pendidik akan segera mencari solusi untuk
mengatasi kendala-kendala yang tmbul selama proses belajar berlangsung.
D. Penyimpulan, yaitu untuk menyimpulkan tentang tingkat pencapaian belajar yang
telah dimiliki peserta didik. Hal ini sangat penting bagi pendidik untuk mengetahui
tingkat pencapaian yang diperoleh peserta didik. Hasil penyimpulan ini juga dapat
digunakan sebagai laporan hasil tentang kemajuan belajar peserta didik.

2.4 HUBUNGAN ANTARA ASESMEN DAN EVALUASI

Rustaman (2003) mengungkapkan bahwa asesmen lebih ditekankan pada penilaian


proses. Sementara itu evaluasi lebih ditekankan pada hasil belajar. Apabila dilihat dari
keberpihakannya, menurut Stiggins (1993) asesmen lebih berpihak kepada kepentingan
siswa. Siswa dalam hal ini menggunakan hasil asesmen untuk merefleksikan kekuatan,
kelemahan, dan perbaikan belajar. Sementara itu evaluasi menurut Rustaman (2003) lebih
berpihak kepada kepentingan evaluator.

Yulaelawati (2004) mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan antara evaluasi dengan


asesmen. Evaluasi (evaluation) merupakan penilaian program Pendidikan secara menyeluruh.
Evaluasi Pendidikan lebih bersifat makro, meluas, dan menyeluruh. Evaluasi program
menelaah komponen-komponen yang saling berkaitan tentang perencanaan, pelaksanaan, dan
pemantauan, Sementara itu asesmen merupakan penilaian dalam scope yang lebih sempit
(lebih mikro) bila dibandingkan dengan evaluasi. Seperti dikemukakan Kumano (2001)
asesmen hanya menyangkut kompetensi siswa dan perbaikan program pembelajaran.

Harlen (1982) mengungkapkan perbedaan antara asesmen dan evaluasi dalam hal metode.
Evaluasi dinyatakan menggunakan kriteria dan metode yang bervariasi. Asesmen dalam hal
ini hanya merupakan salah satu dari metode yang dipilih untuk evaluasi tersebut. Selain dari

12
itu, subyek untuk asesmen hanya siswa, sementara itu subyek evaluasi lebih luas dan
beragam seperti siswa, guru, materi, organisasi, dll.

Yulaelawati (2004) menekankan kembali bahwa scope asesmen hanya mencakup


kompetensi lulusan dan perbaikan cara belajar siswa. Jadi hubungannya lebih pada peserta
didik. Ruang lingkup evaluasi yang lebih luas ditunjukkan dengan cakupannya yang meliputi
isi atau substansi, proses pelaksanaan program Pendidikan, kompetensi lulusan, pengadaan
dan peningkatan tenaga kependidikan, manajemen Pendidikan, sarana dan prasarana, dan
pembiayaan.

Kumano (2001) mengungkapkan bahwa meskipun terdapat perbedaan makna/pengertian,


asesmen dan evaluasi memiliki hubungan. Hubungan antara asesmen dan evaluasi tersebut
digambarkan sebagai berikut.

Evaluation

to evaluate the data which was collected through


assessment

Assessment

the process of collecting data which shows the


development of learning (Aikenhead, Kumano:2001)

Untuk mengungkapkan hubungan antara asesmen dan evaluasi, Gabel (1993)


mengungkapkan bahwa evaluasi merupakan proses pemberian penilaian terhadap data atau
hasil yang diperoeh melalui asesmen. Hubungan antara asesmen, evaluasi, pengukuran, dan
testing dalam hal ini dikemukakan pada Gambar di bawah ini

13
Gambar. Diagram hubungan antara peristilahan dalam asesmen dan evaluasi

Sementara itu Yulaelawati (2004) mengungkapkan bahwa asesmen merupakan bagian


dari evaluasi. Apabila kita membicarakan tentang evaluasi, maka asesmen sudah termasuk di
dalamnya.

Antara penilaian dan evaluasi sebenarnya memiliki persamaan yaitu keduanya


mempunyai pengertian menilai atau menentukan nilai sesuatu, disamping itu juga alat yang
digunakan untuk mengumpulkan datanya juga sama. Evaluasi dan penilaian lebih bersifat
kualitatif. Pada hakikatnya keduanya merupakan suatu proses membuat keputusan tentang
nilai suatu objek. Sedangkan perbedaannya terletak pada ruang lingkup dan pelaksanaannya.
Ruang lingkup penilaian lebih sempit dan biasanya hanya terbatas pada salah satu komponen
atau aspek saja, seperti prestasi belajar. Pelaksanaan penilaian biasanya dilakukan dalam
konteks internal. Ruang lingkup evaluasi lebih luas, mencangkup semua komponen dalam
suatu sistem dan dapat dilakukan tidak hanya pihak internal tetapi juga pihak eksternal.
Evaluasi dan penilaian lebih bersifat komprehensif yang meliputi pengukuran, sedangkan tes
merupakan salah satu alat (instrument) pengukuran. Pengukuran lebih membatasi pada
gambaran yang bersifat kuantitatif (angka-angka) tentang kemajuan belajar peserta didik,
sedangkan evaluasi dan penilaian lebih bersifat kualitatif. Keputusan penilaian tidak hanya
didasarkan pada hasil pengukuran, tetapi dapat pula didasarkan hasil pengamatan dan
wawancara.

14
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
1. Asesmen merupakan suatu cara yang tepat untuk mengungkapkan proses dan kemajuan
belajar. Asesmen dapat memberikan umpan balik
2. Evaluasi dinyatakan sebagai pemberian nilai terhadap hasil berlajar berdasarkan data
yang diperoleh dari asesmen
3. Mengukur atau pengukuran adalah sebuah kegiatan/proses membandingkan suatu benda
atau keadaan dengan suatu ukuran tertentu yang hasilnya bersifat kuantitatif (angka)
4. Perbedaan antara pengukuran, penilaian dan asesmen adalah Pengukuran merupakan
proses kuantifikasi suatu objek, sifat perilaku,Penilaian (asesmen) menjelaskan dan
menafsirkan hasil pengukuran dan evaluasi pemberian nilai terhadap hasil berlajar
berdasarkan data yang diperoleh dari asesmen

DAFTAR PUSTAKA

15
Arifin, Zainal. 2012. Evaluasi Pembelajaran. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam
Kementerian Agama.

Kumano, Y.2001. Authentic Assessment and Portofolio Assessment-Its Theory and Practice.
Japan: Shizouka University

Nuriah, Nunung.2014. Evaluasi pembelajaran. Jurnal Edueksos Vol III No 1, Januari-juni


2014

Suharsimi, Arikunto. 2012. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Tayibnapis, Farida Yusuf. 2008. Evaluasi Program dan Instrumen Evaluasi. Jakarta: Rineka
Cipta

Yulaelawati, E. 2004. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Pakar Raya

16