Anda di halaman 1dari 6

HUBUNGAN KEJAHATAN DENGAN KONDISI EKONOMI

Biasanya faktor ekonomi yang menyebabkan tingkah laku seseorang menjadi berubah, entah dia akan
berbuat baik, atau dia akan menjadi jahat. Karena faktor ekonomi adalah faktor yang paling penting
bagi semua orang yang ingin hidup sejahtera.

Semakin besar tingkat ekonomi pada daerah tersebut, maka semakin besar pula tingkat kejahatan
disitu terjadi. Biasanya ini terjadi di kota-kota besar. Jika terjadinya perilaku kejahatan yang dilakukan
secara terus menerus, maka otomatis akan berpengaruh pada tingkat perekonomian pada daerah-
daerah yang bersangkutan. Tingkat perekonomian tersebut tidak akan berkembang, dan akan selalu
mengalami goncangan.

Tingkat kejahatan berhubungan erat dengan tingkat kesenjangan sosial-ekonomi. Makin tinggi tingkat
kesenjangan sosial-ekonomi, maka makin tinggi pula tingkat kejahatan. Dengan kata lain, tingkat
kejahatan tergantung dari tingkat kesejahteraan masyarakat.

Kriminalitas, Rendahnya Tingkat Upah, dan Pengangguran

Penurunan upah meningkatkan hasil relatif (relative payoff) dari kegiatan kriminal. Ini tampak jelas
bahwa kondisi ekonomi pasti memiliki dampak pada kejahatan.

di antara orang yang berpendidikan rendah, upah lebih rendah dan tingkat pengangguran yang lebih
tinggi di negara-negara di mana mereka tinggal membuatnya lebih mungkin berpartisipasi dalam
kejahatan.

Kemelaratan miningkatkan kejahatan. Bahkan kemelaratanlah yang menyebabkan kejahatan.


Kemunduran kemakmuran baik secara individu maupun pada kelompok dapat meningkatkan tingkat
kriminalitas.

Rekreasi dapat menjadi faktor kriminogen dan anti-kriminogen. Melalui rekreasi akan diperoleh rasa
puas dan lepas dari ketegangan. Perasaan yang demikian akan mengurangi kriminalitas. Sedangkan di
sisi yang lain rekreasi merupakan pengeluaran. Bisa jadi pendapatan tidak dapat mengejar rekreasi
yang diinginkan. Bentuk rekreasi dapat pula mengarah pada kriminalitas seperti berburu, dan
permainan ketrampilan yang mengarah pada perjudian.
KEJAHATAN DAN MASYARAKAT

Perkembangan dan perubahan-perubahan yang terjadi baik secara institusional maupun intelektual
dalam kriminologi menunjukkan terjadinya hubungan-hubungan dialektis antara pengetahuan dan
pemikiran dengan realitas sosial, serta juga tahap-tahap pencapaian hasil-hasil yang diantisipasikan
dalam praktik sosial bidang

pengetahuan ilmiah ini. kriminolgi masa lalu beranjak dari pemahaman yang dangkal mengenai
kejahatan, padahal kejahatan tak hanya bisa ditilik dari segi fenomenalnya saja, melainkan merupakan
aspek yang tidak terpisah dari konteks politik, ekonomi dan sosial masyarakatnya, termasuk dinamika
sejarah kondisi-kondisi yang melandasinya (yakni struktur-struktur sosial yang ditemukan secara
historis).

Kejahatan sebagai suatu gejala adalah selalu kejahatan dalam masyarakat (crime in society), dan
merupakan bagian dari keseluruhan proses-proses sosial produk sejarah dan senantiasa terkait pada
proses-proses ekonomi yang begitu mempengaruhi hubungan antar manusia. Pemahaman kejahatan
pada masa lampau serimgkali kehilangan makna oleh karena meninggalkan konsep total masyarakat
(the total concept of society).

Semangat kritis yamg mewarnai kriminologi seperti dikemukakan pada halaman-halaman muka dapat
dikatakan pada umumnya memahatkan suatu pandangan yang melihat kejahatan dari perspektif
pemerataan keadilan dan kemakmuran.

Jangkar posisi yang terpancang adalah mengidentifikasikan diri dengan mereka yang tertindas dan
diterbelakangkan; suatu hal yang didahului oleh kesadaran bahwa penindasan dan penghisapan baik
yang nyata atau langsung maupun yang lebih halus sifatnya terjadi melalui struktur sosial, ekonomi,
dan politik yang dialami oleh mayoritas populasi dunia. Hal itu telah menimbulkan keadaan-keadaan
tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan dasar manusia serta hak untuk menentukan nasib sendiri.
Kesadaran ini telah menyingkirkan berbagai bentuk kesadaran palsu.
Kejahatan kerah putih

Kejahatan kerah putih (white collar crime) merupakan tipe kejahatan yang mengacu kepada
kejahatan yang dilakukan oleh oaring-orang terpandang atau orang-oarang yamg berstatus tinggi
dalam rangka pekerjaannya. Pelakunya umumnya orang-orang terpelajar dan berkedudukan sosial
terpandang dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan motif untuk mencari
keuntungan dari segi ekonomi. Contohnya; penghindaran pajak, penggelapan uang perusahaan oleh
pemilik peusahaan, atau pejabat negara yang melakukan korupsi.

Kejahatan kerah putih (white collar crime) adalah istilah temuan Hazel Croal untuk menyebut berbagai
tindak kejahatan di lembaga pemerintahan yang terjadi, baik secara struktural yang melibatkan
sekelompok orang maupun secara individu. Hazel Croal mendefinisikan kejahatan kerah putih sebagai
penyalahgunaan jabatan yang legitim sebagaimana telah ditetapkan oleh hukum.

Seorang kriminal kerah putih dianggap memiliki peluang kecil melakukan kejahatan lain, sehingga
pengadilan cenderung menjatuhkan hukuman lebih ringan dari kejahatan yang melibatkan kekerasan.

White collar crime dibedakan dari blue collar crime. Jika istilah white collar crime ditujukan bagi aparat
dan petinggi negara, blue collar crime dipakai untuk menyebut semua skandal kejahatan yang terjadi
di tingkat bawah dengan kualitas dan kuantitas rendah.

Kejahatan Kerah Putih (White Collar Crime) adalah Suatu tindak kecurangan yang dilakukan oleh
seseorang yang bekerja pada sector pemerintahan atau sector swasta, yang memiliki posisi dan
wewenang yang dapat mempengaruhi suatu kebijakan dan keputusan. Menurut Federal Beureau
Investigation (FBI) kejahatan kerah putih (white collar crime) adalah berbohong, curang, dan mencuri.
Istilah ini diciptakan pada tahun 1939 dan sekarang identik dengan berbagai macam penipuan yang
dilakukan oleh para profesional bisnis dan pemerintah.

Menurut Gunadi (2009) dalam kejahatan kerah putih yang juga disebut kejahatan keuangan berlaku
beberapa aksioma yaitu:

1. Kecurangan selalu tersembunyi.

2. Pelaku tidak menandatangani dokumen (memerintahkan orang lain untuk menandatangani).

3. Pelaku tidak berada di tempat kejadian perkara (TKP).

4. Pelaku ingin menikmati hasil kejahatannya.

Oleh karena itu, maka harus dilakukan investigasi yang tepat untuk merekam jejak transaksi finansial
(follow the money) untuk menghasilkan temuan yang berkualitas dan sulit untuk dipungkiri.
Korban dan kejahatab

Undang-undang No 13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, memberikan pengertian
bahwa yang dimaksud dengan korban adalah seseorang yang mengalami penderitaan fisik, mental,
dan/atau kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh suatu tindak pidana (Pasal 1 angka 2).

Korban juga didefinisikan oleh van Boven yang merujuk pada Deklarasi Prinsip-Prinsip Dasar Keadilan
bagi Korban Kejahatan dan Penyalahgunaan Kekuasaan sebagai berikut: orang yang secara individual
maupun kelompok telah menderita kerugian, termasuk cedera fisik maupun mental, penderitaan
emosional, kerugian ekonomi atau perampasan yang nyata terhadap hak-hak dasarnya, baik karena
tindakan (by act) maupun karena kelalaian (by omission).

Secara luas pengertian korban diartikan bukan hanya sekedar korban yang menderita langsung, akan
tetapi korban yang tidak langsung pun juga mengalami penderitaan yang dapat diklasifikasikan
sebagai korban. Yang dimaksud korban tidak langsung disini seperti isteri kehilangan suami, anak yang
kehilangan bapak, orang tua yang kehilangan anaknya dan lain sebagainya.

Sedangkan menurut Mandelson, berdasarkan derajat kesalahannya korban dibedakan menjadi 5


macam, yaitu:

1. Yang sama sekali tidak bersalah


2. Yang jadi korban karena kelalaiannya
3. Yang sama salahnya dengan pelaku
4. Yang lebih bersalah daripada pelaku
5. Yang korban adalah satu-satunya yang bersalah (dalam hal ini pelaku dibebaskan)

Pada umumnya dikatakan hubungan korban dengan kejahatan adalah pihak yang menjadi korban
sebagai akibat kejahatan.tentu ada asap pasti ada api. Pihak tersebut menjadi korban karena ada pihak
lain yang melakukan kejahatan.

Hal lain yang disepakati dalam hubungan ini, terpenting pihak korban adalah pihak yang dirugikan.
Pelaku merupakan pihak yang mengambil untung atau merugikan korban. Kerugian yang sering
diterima atau diderita korban (lihat pengertian-pengertian korban) misalnya fisik, mental, ekonomi,
harga diri dan sebagainya. Ini berkaitan dengan status, kedudukan, posisi , tipologi korban dan
sebagainya.

Uraian tersebut menegaskan yang bersangkutan sebagai korban murni dari kejahatan. Artinya
korban memang korban yang sebenar-benarnya/senyatanya. Korban tidak bersalah hanya semata-
mata hanya sebagai korban. Mengapa menjadi korban, kemungkinan penyebabnya; kealpaan, ketidak
tauan, kurang hati-hati, kelemahan korban atau mungkin kesialan korban. Dapat juga terjadi akibat
kelalaian Negara untuk melindungi warganya. Perkembangan global, factor ekonomi, politik,
sosiologis, ataupun factor-faktor negatif lain, memungkinkan adanya korban yang tidak murni. Disini
korban tersangkut atau menjadi bagian dari pelaku kejahatan, bahkan sekaligus menjadi pelakunya.
Lebih mendalam tentang masalah ini, Hentig seperti dikutip (Rena Yulia,2012: 81) beranggapan bahwa
peranan korban dalam menimbulkan kejahatan adalah:

a. tindakan kejahatan memang dikehendaki oleh si korban untuk terjadi;


b. kerugian akibat tindak kejahatan mungkin dijadikan si korban untuk memperoleh
keuntungan yang lebih besar;
c. akibat yang merugikan si korban mungkin merupakan kerja sama antara si pelaku dengan si
korban;
d. kerugian akibat tindak kejahatan sebenarnya tidak terjadi bila tidak ada provokasi si korban.

Sebenarnya banyak hubungan korban dengan pelaku, diantaranya juga dapat dikaji melalui hubungan
darah, persaudaraan, family, ataupun kekeluargaan. Misalnya pencurian dalam keluarga, pelecehan
seksual dan bahkan penganiyayaan atau pembunuhan untuk memperebutkan harta waris serta
kekuasaan/dalam pengaruh keluarga. Sejenis hubungan ini atu hubungan orang-orang dekat pelaku
ataupun korban seperti teman, sahabat, pacar, rekan bisnis dan sebagainya. Ada lagi hubungan
berdasarkan hubungan sengan sasaran tindakan pelaku (G.Widiartana, 2009:22), yaitu sebagai
berikut:

a. korban langsung, yaitu mereka yang secara langsung menjadi sasaran atu objek perbuatan
pelaku.
b. Korban tidak langsung, yaitu mereka yang meskipun tidak secara langsung menjadi sasaran
perbuatan pelaku, tetapi juga mengalami penderitaan atau nestapa. Pada kasus
pembunhan terhadap seorang laki-laki yang mempunyai tanggung jawab menghidupi istri
dan anak-anaknya, meninggalnya laki-laki tersebut merupakan korban langsung.
Sedangkan istri dan anaknya itu merupakan korban tidak langsung.

Fakta menunjukan bahwa sebagian besar korban merupakan korban yang murni atau senyatanya.
Korban-korban dimaksud terjadi dalam tindak pidana misalnya terorisme, pencurian (bisa pemberatan
dan kekerasan), dan tindak pidana lain yang sering terjadi dimasyarakat. Koban disini dalam posisi
pasif, tidak menjadi faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidana. Pihak pelaku yang mengendaki
penuh kejahatannya dan korban korban yang menjadi sasaran atau tujuan kejahatan tersebut.
Menurut Medelsohn, derajat kesalahan korban adalah yang sama sekali tidak bersalah.
Memang banyak juga korban ikut andil dalam terjadinya kejahatan. Derajat kecilnya peran korban,
misalnya korban lalai, sehingga munc ul atau terjadi tindak pidana. Dapat terjadi pula dalam hal korban
menarik perhatian pelaku, misalnya korban menyukai memperlihatkan kekayaannya, overacting, atau
perilaku lain yang dapat menggugah pelaku melakukan tindak pidana. Dapat terjadi pula bila korban
seorang perempuan sering berpakaian atau berprilaku seksi dan merangsang atau tidak sopan. Bukan
saja ikut andil, sering terjadi korban sama salahnya dengan pelaku. Disini korban berpura-pura
menjadi korban, padahal ia pelaku. Misalnya pelaku bom bunuh diri, seorang penjaga barang atau
uang yang melaporkan terjadi kejahatan padahal yang bersangkutan turut serta dalam kejahatan itu
dan sebaginya.

Kehidupan banyak dinamika antara korban dan kejahatan, akibat dorongan ekonomi, politis dan
psikis. Idealnya selalu berkurang jumlah korban dan pelaku. Jika terjadi semakin bertambah korban,
maka yang terpenting adalah pemberian hak dan perlindungan terhadap korban semaksimal mungkin.
Demikian pula bila pelaku bertambah, hendaklah diperlakukan sesuai hak-haknya. Selanjutnya bila
menjadi terpidana atau narapidana hendaknya diterapkan system pemasyarakatan. Juga tidak kalah
pentingnya bagi pelaku untuk dapat memmberi ganti kerugian atau restitusi kepada korban.

Diluar itu, ada kondisi diantar korban dan pelaku. Dalam hal ini hubungan korban dan pelaku
merupakan dwi tunggal(Romli Atmasasmita, 1992:7). Lebih lanjut dnyatakan bahwa korban dan
pelaku adalah tunggal atau satu, dalam pengertian bahwa pelaku adalah korban dan korban pemakai
atau drug users. Jenis pelanggaran hukum tersebut tidak dapat membedakan secara tegas antara
siapa korban dan siapa pelaku.

Anda mungkin juga menyukai