Anda di halaman 1dari 23

METODE PELAKSANAAN

PEKERJAAN SUPERVISI PEMBANGUNAN BENDUNGAN PIDEKSO

Sesuai dengan tugas dan tanggung jawab Konsultan Supervisi, dalam


pelaksanaan tugasnya akan memberikan patokan-patokan/rambu-rambu
bagi pelaksana pekerjaan (Kontraktor Pelaksana) dalam melaksanakan suatu
item pekerjaan di lapangan. Semua ini akan dilaksanakan agar pelaksanaan
pembangunan Bendungan Pidekso dapat dikerjakan sesuai tepat biaya, tepat
mutu dan tepat waktu.

Sehubungan dengan hal itu untuk mencapai hal tersebut di atas diperlukan
pola pendekatan dan metodologi yang baku dan rencana kerja yang matang.
Semua itu akan dapat dilaksanakan dengan baik jika masing-masing pihak
dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan sesuai prosedur yang ada.

Pada bagian berikut akan dipaparkan hal-hal penting yang sangat erat
hubungannya dengan metode pelaksanaan dari pekerjaan Konsultan
Supervisi Pembangunan Bendungan Pidekso di Kab. Wonogiri untuk Tahun
Anggaran 2014 s/d 2017.

Hal-hal tersebut diantaranya adalah :

A. Standart Operasional Pelaksanaan (SOP)


B. Rencana Kerja Konsultan Supervisi

D. Jalur Koordinasi

A. Standart Operasional Pelaksanaan (SOP)

Hasil pekerjaan yang baik hanya dapat dijamin tercapai sesuai rencana
apabila pelaksanaan proyek dikerjakan dengan mengacu dan menerapkan
standar operasional pelaksanaan suatu item pekerjaan. Kontraktor dalam
melaksanakan pekerjaannya harus mengacu pada Standar Operasional
Pelaksanaan (SOP) dan menerapkan SOP tersebut dalam setiap item
pekerjaan yang dilaksanakannya. Standart Operasional Pelaksanaan (SOP)
akan dipersiapkan oleh Konsultan Supervisi.

Bagan alir Standart Operasional Pelaksanaan (SOP) dari masing-masing


lokasi/item pekerjaan seperti telihat pada Lampiran-1.

Pada prinsipnya dalam pelaksanaan pembangunan Bendungan Pidekso nanti


setiap item pekerjaan yang dilaksanakan oleh Kontraktor harus mendapat
persetujuan dari Tim Konsultan Supervisi dan diketahui oleh Direksi
0
Pekerjaan. Setiap item pekerjaan akan diperiksa/diinspeksi oleh Tim
Konsultan Supervisi sesuai dengan tahapan dari pekerjaan itu dan hasilnya
akan dilaporkan kepada Direksi Pekerjaan. Beberapa contoh bagan alir
pekerjaan supervisi untuk item-item pekerjaan utama (major item) dapat
dilihat pada Lampiran-2.

Dalam pelaksanaan teknisnya, Tim Konsultan Supervisi akan menyediakan


format-format resmi dalam rangka untuk pelaksanaan inspeksi tersebut.
Untuk kemudahan pengawasan, setiap item pekerjaan akan dibuatkan format
khusus yang berkenaan dengan pekerjaan tersebut. Contoh format untuk
pengawasan pekerjaan (joint inspection) seperti terlihat pada Lampiran-3.

B. Rencana Kerja Konsultan Supervisi

Seperti yang tertuang dalam Dokumen Kerangka Acuan Kerja Pekerjaan


Supervisi Pembangunan Bendungan Pidekso di Kab. Wonogiri, berikut ini
adalah tugas-tugas yang akan dilakukan oleh Konsultan Supervisi,
diantaranya:

1. Melakukan supervisi pengawasan pekerjaajn fisik dan konstruksi


pembangunan Bendungan Pidekso dan fasilitas-fasilitasnya.
2. Memberikan saran, masukan dan dukungan teknis serta administrasi
kepada Pengguna Jasa.
3. Mengevaluasi teknis setiap tahapan pelaksanaan pekerjaan konstruksi dan
permasalahan yang terjadi dalam kegiatan pelaksanaan pembangunan
Bendungan Pidekso tersebut.
4. Memberikan saran teknis/review disain/alternatif disain kepada
Pengguna Jasa.
5. Membantu dan mendukung Pengguna Jasa dalam penyusunan serta
kelengkapan sertifikasi Bendungan Pidekso.
6. Mengevaluasi perilaku Waduk Pidekso sebelum berfungsi dan selama
proses pengisian untuk mendapatkan sertifikasi pengisian (imponding).
7. Menyusun rencana dasar pola operasi dan pemeliharaan (O&P) dari
Waduk Pidekso.
8. Mendokumentasikan setiap tahapan dan kegiatan konstruksi selama
pelaksanaan.
9. Memberikan bimbingan teknis kepada Pengguna Jasa dan Buku Panduan
dalam mengoperasikan seluruh alat/peralatan bendungan.
10. Pembuatan dan menyusun dokumentasi Peta Foto Udara Kondisi Akhir
pembangunan dengan skala 1 : 10.000 sebanyak 1 set (terdiri dari atas 6
SP, 1 SP = 1.500 Ha).

1
Sehubungan dengan tugas dari Konsultan Supervisi seperti pada poin (1) di
atas, berikut akan dipaparkan metode pelaksanaan dari pekerjaan supervisi
pembangunan Bendungan Pidekso ini untuk masing-masing item pekerjaan
mulai dari awal pelaksanaan pekerjaan.

1. Pekerjaan Persiapan

1.1. Mobilisasi personil dan peralatan dari Konsultan Supervisi untuk


melaksanakan pekerjaan persiapan.

1.2. Melaksanakan joint survey di lapangan :


- Memeriksa Bench Mark { B.M )
- Membuat Peta Topografi secara akurat dengan skala sama dengan
Peta yg diberikan oleh Pemilik Proyek
- Mencocokan hasil pemetaan tersebut dengan Peta Topografi dari
Pemilik Proyek meliputi As Bendungan, Lokasi Bangunan-
bangunan Pelengkap seperti Bangunan Pengelak, Bangunan
Pengambilan dan Bangunan Pelimpahan.

Gambar 1

2
Gambar- 2

1.3. Kalau semua hasil pemetaan sudah sesuai dengan dengan Peta
Topografi dari Pemilik Proyek, langsung dibuat Cross Section
( Potongan melintang ) dari semua rencana lokasi bangunan untuk
menentukan MC-0 .

1.4. Kalau ternyata hasil pemetaan tidak sama dengan peta yg diberikan
oleh Pemilik Proyek maka dibuatkan usulan kepada Pemilik Proyek
untuk diadakan Revisi Desain.

1.5. Dari Peta Topografi tersebut mulai di-plotting-kan gambar/denah


lokasi bangunan-bangunan fasilitas seperti perkantoran, gudang,
laboratorium, bengkel, motor pool, crushing dan batching plant, jalan-
jalan hantar, borrow area disekitar daerah Bendungan, tempat-tempat
pembuangan hasil galian ( disposal area/Spoil bank ), tempat-tempat
penimbunan sementara (Stock Pile), lokasi power supply, lokasi water
supply, serta bangunan sementara untuk para karyawan dan pegawai (
mes, dapur umum dan bedeng-bedeng kerja).

1.6. Merencanakan Struktur Organisasi Konsultan Supervisi disesuaikan


dengan kebutuhan dan tahap-tahap pelaksanaan proyek.

1.7. Merencanakan Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Pengawasan (Supervisi)


dari paket pekerjaan tersebut.

1.8. Merencanakan mobilisasi personil dan peralatan.

2. Melaksanakan Pekerjaan Awal

2.1. Mobilisasi personil dan peralatan disesuaikan dengan kebutuhan,


termasuk tenaga penunjang.

2.2. Mulai memeriksa gambar-gambar kerja/Shop Drawing yang diajukan


oleh Kontraktor Pelaksana untuk bangunan-bangunan yang akan
dikerjakan secara bertahap.

2.3. Melaksanakan pengawasan supervisi pekerjaan striping/grubbing


yang meliputi :
- Rencana lokasi bangunan-bangunan fasilitas
- Rencana inlet dan outlet dari bangunan pengelak
- Daerah sepanjang As Bendungan untuk persiapan pekerjaan boring
dan grouting pondasi Bendungan.
- Daerah borrow area/rencana pengambilan batu (Quarry)

3
2.4. Melaksanakan pengawasan supervisi pembangunan bangunan
fasilitas, termasuk bangunan-bangunan di Quarry, Gudang bahan
peledak, tannggul pengaman dan pagar, Kantor, Pos Penjagaan,
Tempat Penyampuran.

Gambar 3

Gambar- 4

2.5. Melaksanakan pengawasan supervisi pekerjaan Grouting Test pada As


Bendungan.

2.6. Melaksanakan pengawasan supervise pelaksanaan Mix Design untuk


bermacam-macam mutu beton.

2.7. Melaksanakan pengawasan supervise eksploitasi di Quarry (Pekerjaan


Quarrying) dan melaksanakan eksploitasinya.

4
2.8. Setelah Bahan Peledak siap ditempat dan disimpan dalam gudang
bahan peledak, dilaksanakan pengawasan supervise pekerjaan Test
Peledakan di Quarry.

2.9. Melaksanakan pengawasan supervisi penyelidikan untuk Material


Timbunan, terutama untuk timbunan Inti Bendungan (Lapisan Kedap
Air) di daerah sekitar rencana waduk yg telah ditetapkan dalam
Tender Dok. Hal ini dilakukan untuk mengetahui baik kuantitas
maupun kualitas dari maerial yang ada di Borrow Area.

2.10. Melaksanakan pengawasan supervisi kegiatan penyelidikan material


di Quarry Area yang telah ditentukan untuk material beton (daerah
pengambilan pasir dan kerikil), untuk mengetahui baik kualitas
maupun kuantitasnya.

3. Melaksanakan Pengawasan Supervisi Pekerjaan Utama, meliputi:

3.1. Pengawasan Supervisi Bangunan Pengelak (Terowongan atau Conduit)


- Galian terbuka di bagian inlet dan outlet.
- Jaringan Power Supply
- Water Supply untuk pengeboran/tandon air di atas terowongan
atau conduit.
- Air Compressor untuk pengeboran
- Mesin bor / leg drill
- Ssteel support / steel legging
- Peralatan untuk sprey mortal/gunite dan rock angker.
- Peralatan untuk hasil peledakan : rocker shovel, lori, locomotif, rail,
wheel loader, dump truck
- Peralatan penghisap hasil peledakan (blower)
- Peralatan penahan longsoran di bagian depan inlet dan outlet
terowongan atau conduit
- Penentuan drilling patern, dalamnya lubang bor, jumlah lubang
bor, jumlah dynamite masing-masing lubang bor dan nomer-nomer
detonator untuk masing-masing lubang bor
- Pengawasan supervisi pelaksanaan pengalian trowongan dengan
cara dan urut-urutan sebagai berikut: pengeboran dan pembersihan
lubang bor, pengisian dynamite dan detonator, menyambung
kabel-kabel detonator, meledakkan dengan mesin peledak (Blasting
machine ), mempercepat pengeluaran gas hasil peledakan dengan
menyemprot memakai angin dari compressor dan blower,
mengeluarkan hasil galian, memasang steel support. Demikian
seterusnya sampai selesai pekerjaan penggalian.

5
Gambar 5

Gambar- 6

- Kalau Trowongan sudah agak dalam + >10 m dipasang penerangan, kabel


listrik diikatkan pada penyangga ( steel support).
- Kalau terdapat sumber-sumber air, dibuat saluran pengering / pengumpul
air kemudian dipompa keluar memakai sumpump atau pompa listrik yg kecil
2" lewat air hose / pipa diameter 2"
- Setelah selesai penggalian trowongan, dilaksanakan pembetonan dinding
trowongan, biasanya dimulai dari bagian dalam kearah inlet dan outlet
(mundur). Sekali pembetonan sepanjang 6.0 m - 9.0 m tergantung dari
diameter trowongan. Pembetonan bisa sekaligus untuk dinding trowongan
dan invert (lantai) , bisa juga diselesaikan dinding trowongan 2-3 seksi,
disusul dengan lantai/invert.

6
- Peralatan pembetonan meliputi ; center form untuk form setting, concrete
pump lengkap dengan pipa-pipanya untuk penyaluran beton, serta agitator
truck untuk mengirimkan beton dari batching plant ke concrete pump,
- Setelah pembetonan selesai dilaksanakan pekerjaan grouting yaitu Back Fiil
Grouting dan Consolidation Crouting, melalui lubang-lubang yg telah
disiapkan selama pekerjaan pembetonan, yaitu dengan jalan menanam pipa
pipa dalam dinding beton baik dibagian atas maupun samping. Peralatan
Grouting dimasukkan dalam trowongan.

Gambar 7

Gambar- 8

3.2. Bangunan Pengelak Open Channel dan Conduit


- Untuk Bendungan yg tidak terlalu tinggi sekitar 20 - 30 meter, serta
lembahnya cukup lebar dan relative landai, untuk Bangunan Pengelak dipilih

7
berbentuk Open Channel. Setelah Bendungan selesai open channel ini di
timbun kembali sehingga rata dengan Timbunan Bendungan.
- Pekerjaan penggalian dan penimbunan tidak ada hal-hal yg khusus, baik
penggalian maupun penimbunan seperti biasanya saja. Selama penggalian
hasil galian distock untuk nantinya digunakan untuk timbunan/menimbun
kembali. Pelaksanaan penimbunan syarat-syaratnya sama dengan timbunan
bendungan
- Untuk open channel yg nantinya berfungsi sebagai irrigation facility dlmana
open channel tersebut akan tertimbun oleh bendungan, dipasang conduit dari
beton bertulang. Dimensi dan jumlahnya disesuaikan dengan kedua fungsi.
Biasanya untuk Irrigation Facility cukup satu saja dan lainnya diplug/ditutup
dengan beton secara permanen. Bagian inlet dilengkapi dengan Intake
Structure ada tower, sliding gate dan Hollow Jet Valve.

3.3. Main Cofferdam


- Setelah selesainya Bangunan Pengelak dan air sungai di belokkan lewat
Bangunan Pengelakdengan membbuaut primary cofferdam didepan lokasi
Main Cofferdam kemudian dilanjutkan dengan pembangunan Main
Cofferdam baik dibagian hulu bendungan maupun dibagian hilir bendungan
bila diperlukan. Fungsi dari Cofferdam bersama saluran Pengelak baik
Trowongan maupun Open Channel adalah melindungi lokasi Bendungan
Utama dari banjir selama penimbunan / pembangunan Bendungan Utama.
- Main Cofferdam dibagian Upstream Bendungan bisa berdiri sendiri (diluar
Tubuh Bendungan) dan bisa juga merupakan bagian dari bagian Upstream
Tubuh Bendungan Utama.
- Penimbunan Main Cofferdam dilaksanakan setelah penggalian fondasi baik
didasar sungai maupun dikanan kiri tebing sungai mencapai batuan yg keras,
jadi tidak ada treatmen khusus seperti fondasi Bendungan Utama. Material
untuk Timbunan Bendungan Utama lebih-lebih bila Main Cofferdam tersebut
merupakan bagian dari bagian Upstream Bendungan Utama. Cara
pemadatannyapun sama dengan pemadatan Bendungan Utama. Pada
umumnya pembangunan Cofferdam baik Upstream maupun Downstream
harus diselesaikan dalam satu musim kering.

3.4. Bendungan Utama

3.4.1. Pekerjaan Grouting


- Pelaksanaan Grouting pada Bendungan Tipe Urugan biasanya dilakukan
didaerah sepanjang As Bendungan dibawah lapisan kedap air/inti
bendungan/CIay Core.
- Ada 2 macam Grouting yaitu : Curtain Grouting yg berfungsi menahan
sembesan air/seepage yg berasal dari waduk dan Blangket Crouting yg

8
berfungsi memperbaiki bagian atas fondasi dari retakan-retakan dlseluruh
Contact Core Area.
- Kedalaman Curtain Grouting tergantung dari kedalaman air waduk yg
menimbulkan "hydrostatic pressure. Secara empiris ditentukan ditentukan
dengan dengan rumus : d - 0.4S - 0.60 H, atau d= 0,5H+C tergantung dari
kondisi geologi batuan fondasi dan hasil grouting test dan water pussure
test / permeability test. Jarak Curtain grouting antara 0.75 - 1.25 m dan
biasanya terdiri dari 2-3 baris dengan jarak baris antara 1.0 - 1.50 meter.
dimungkinkan adanya tambahan lubang grouting hingga mencapai
permeability yg direncanakan.
- Blanket grouting dilaksanakan dengan kedalaman sekitar 5.0 - 6.0 meter
dengan jarak antara 2.50 -3.0 meter diseluruh Contact Core Area.
- Material grouting terdiri dari campuran cemen dan air dengan perbandingan
berat mulai dari 1 : 5 sampai 1:1. Untuk daerah yg permeabilitynya masih
tinggi kekentalan injeksi : 1 ; 0.8 - 1 : 0.6.
- Curtain grouting dilaksanakan dengan cara stage grouting dengan
kedalaman 5 m setiap tahap/stage. Sedangkan untuk Blanket Grouting
dilaksanakan dalam 1 stage/tahap. Pelaksanaan pengeboran Curtain
grouting dilaksanakan langsung dari grout cap (terutama untuk didasar
sungai) atau memakai perancah untuk daerah sepanjang tebing sungai ;

3.4.2. Penyiapan fondasi / Foundation Preperation di daerah Core Contac Area


- Untuk daerah dipalung sungai penyiapan pondasi dimulai begitu aliran
sungai sudah dibelokkan lewat bangunan pengelak, bersamaan dengan
pembersihan dasar sungai untuk pembangunan Cofferdam.
- Setelah pembersihan dilanjutkan dengan galian Cutt-off sedalam sesuai
rencana, kemudian dilanjutkan dengan pembetonan dasar sungai, yg
berfungsi sebagai Concret Cap untuk pelaksanaan grouting. Lebar dasar
sungai yg di beton sesuai dengan lebar dasar rencana timbunan core &r
{ Contact Core Area ) sepanjang dari tebing kiri -kanan sungai.
- Kalau didasar sungai dijumpai adanya palung yg cukup dalam, maka palung
tersebut dibersihkan dari timbunan/endapan lumpur dan pasir sampai
menampakkan lapisan batuan yg keras. Kemudian palung ditutup/diisi
dengan beton yg biasa untuk concrete cap.
- Untuk perbaikan pondasi didaerah tebing sungai kanan kiri dilaksanakan
setelah pekerjaan grouting selesai, kemudian dilanjutkan dengan penggalian
dan pembersihkan. Pada bagian yg tidak ratadan banyak cekungan ditutup
dengan dental concrete atau dengan slush grout/gunite. Pada bagian yg
terdapat tonjolan-tonjolan dipotong untuk diratakan. Ini semua dilaksanakan
agar terjadi contact yg rapat antara core material dengan permukaan pondasi
untuk menhindari terjadinya rembesan didaerah Core Contact Area tersebut.

9
- Pada saat pembersihan dasar sungai kadang-kadang dijumpai sumber air
yang besar baik di daerah Contac Core Area maupun diluar Contac Core
Area, baik dibagian Upsteam maupun Downstream.
- Untuk mengatasi sumber air ini, cara yang bisa ditempuh adalah membuat
Pit ( tempat berkumpulnya air ) kemudian dipasang buis beton berdiameter
80 cm 100 cm dan dipasang pompa ( biasanya submergible pump ). Selama
pekerjaan fondasi air yang terkumpulkan dodalam buis beton tersebut
dipompa dan dibuang kearah Downstream. Kalau pembersihan fondasi
selessai dan siap dilaksanakan penimbunan, maka air yang terkumpul
tersebut tidak perlu dipompa da tingginya buis beton terus ditambah sejalan
dengan tingginya timbunan. Kalau sewaktu-waktu air dalam buis beton
tesebut tidak bertambah, ini berarti airnya sudah seimbang, maka buis beton
tersebut ditimbun dengan pasir dan batu kemudian digrouting.
- Treatment tersebut terutama dilaksanakan dibagian Core Area maupun
dibagian Upstream. Untuk daerah Downstream Core Contact Area, cukup air
dialirkan kevagian luar Downstream Slope Bendungan.

Gambar 9

10
Gambar- 10

Gambar- 11

3.4.3. Perbaikan / Penyiapan Pondasi diluar Core Concret Area


- Setelah penggalian dan pembersihan, pada umumnya tidak ada special
treatment untuk daerah diluar Core Contact Area, termasuk didasar sungai
maupun ditebing kanan kiri sungai.
- jadi baik didaerah timbunan filter, transition maupun daerah timbunan
rockfill dan riprap tidak diperlukan perbaikan khusus, kecuali penggalian
dan pembersihan untuk menghilangkan tanah-tanah yg lunak, rerumputan
dan pepohonan.
- Perbaikan dan pembersihan didaerah tebing sungai dilaksanakan sesuai
dengan kemajuan timbunan, kecuali kalau terdapat patahan atau retakan.
Kalau dijumpai patahan atau retakan didaerah tebing sungai, maka daerah
tersebut dikupas / digalisampai mendapatkan lapisan yg masif. Patahan atau

11
retakan ini dijumpai / diketahui setelah dilaksanakan striping (pengupasan)
lapisan tanah dibagian pondasi.

3.4.4. Pelaksanaan penimbunan Core


- Sebelum dilaksanakan penimbunan untuk tubuh bendungan dilaksanakan
Trial Embankment disuatu tempat untuk menentukan tebalnya lapisan,
kepadatan dan permeabilitasnya, termasuk jumlah lintasan pemadatan guna
mencapai kepadatan yg direncanakan.
- Tergantung dari tersedianya material disekitar proyek/di sekitar bendungan
serta karakteristiknya, Core material bias terdiri dari Natural Core (Tanah
Asli) atau Campuran tanah dengan pasir yg disebut Blended Core.
- Kalau diperlukan Blended Core, mak untuk mencampur diperlukan stock
pile yg terdiri dari lapisan pasir dan tanah liat dengan perbandingan I pasir
dan 4 tanah liat atau 1 : 3 tergantung dari hasil test yg memenuhi syarat
sesuai dengan yg direncanakan.
- Bilamana Natural Core sudah memenuhi persyaratan maka hasil galian dari
borrow area iagsung diangkut dengan Dump Truck dan dihampar ditempat
penimbunan, diratakan dengan Bulldozer LGP / Swamp Dozer pada
ketebalan

- sekitar 20 - 25 cm dan dipadatkan dengan Compactor / Sheefoot Roller


menjadi 1 S cm. Demikian pula bila diperlukan Blended Core, maka dah
tempat pencampuran dimuat dengan Back hoe atau Power shovel, di angkut
dengan Dump Truck ketempat penimbunan, dihampar dengan Swamp Dozer
dan dipadatkan dengan Sheefoot Roller Baik Nature Core maupun Blended
Core pelaksanaan penimbunan dilakukan pada musim kering saja, ini
berkaitan dengan dengan optimum rnoister content yg diijinkan. Kalau
sewaktu penghamparan dan pemadatan kondisi core terlalu kering dan sukar
dipadatkan, maka dilaksanakan penyiraman sehingga mencapai moister
content yg diijinkan.
- Setelah pemadatan, sebelum ditimbun lapisan berikutnya, dilaksanakan
pengambilan sample secara echo sonder untuk dilakukan test di
laboratorium.
- Untuk diperhatikan bahwa penimbunan Core pada lapisan pertama diatas
Concrete pad perataan dan pemadatannya tidak boleh menggunakan
Bulldozer, tetapi menggunakan Whell Loader dan atau Tire Roller untuk
mencegah rusaknya dasar sunga/ concrete pad.
- Karena pemadatannya menggunakan Tire Roller, maka setiap kali
penimbunan untuk layer berikutnya, maka permukaan layer pertama perlu
dikasarkan menggunakan rake dari motor grader, untuk mendaparkan ikatan
yang kuat antara layer lama dengan yang baru.
- Timbunan pada bagia abutment dilaksanakan harus dengan hati-hati dan
dijaga agar terjadi kontak yang rapat untuk mencegah terjadinya
12
rembesan(seepadge) dengan jalan pemadatannya menggunakan Tire Roller
dari Whell Loader, atau menggunakan tamping rammer dengan ketebalan
1.0 m dari abutment dengan ketebalan layer antara 15 cm 20 cm. Biasanya
menggunakan bahan Clay Core yang agak plastis.
-

Gambar 12

Gambar- 13

13
Gambar- 14

Gambar- 15

3.4.5. Pelaksanaan Penimbunan Filter


- Filter material biasanya terdiri dari pasir alam yg gradasinya telah memenuhi
syarat. Sample diambil dari lokasi yg telah ditentukan pada saat pelaksanaan
survey dan investigasi. Ditinjau dari tersedianya pasir alam, bilamana disuatu
daerah terdapat sumber pasir lain, misal pasir dari laut yg biasanya lebih
halus, bias dilaksanakan campuran dan dites di laboratorium untuk
perbandingan tertentu.
- Ketebalan lapisan pasir/filter disesuaikan dengan lapisan Core material.
Dipadatkan dengan Smooih Drum Roller kecif iBaby Roller). Penimbunan
Filter selapis lebih tinggi dari lapisan Core, untuk menjaga lapisan Core tidak
melebar melebihi batas. Penghentian penimbunan Filter disamakan dengan
14
penimbunan Core, jadi penimbunan filter selagu mengikuti penimbunan
Core dan dilaksanakan pada musim kering saja.

3.4.6. Pelaksanaan Penimbunan daerah Transisi


- Material Transisi mempunyai gradasi peralihan dari filter ke Rock Fiil. Lebar
lapisan Transisi berkisar antara < 10-20) x lebar lapisan Filter dan
menyambung langsung dengan lapisan Rockfill.
- Ketebalan lapisan transisi berkisar 25 50 m, jadi biasaya lebih tinggi sekitar
24 50 cm dari lapisan Filter Core.
- Penghentian penimbunan lapisan transisi mengikuti penghentian lapisan
filter dan core.
- Material transisi berupa rockfil diambil dari Quarry dengan ukuran dari pasir
sampai boulder berukuran 50 cm.
- Pemadatan daerah Transisi cukup dengan menggunakan Spreading
Equipment saja yaitu Bulldozer 20 30 ton

3.4.7. Pelaksanaan Penimbunan daerah Rock Fill


- Material untuk timbunan Rock Fill bisa langsung diambil dari Quary atau
juga bisa diambil langsung dari Stock Pile, yaitu timbunan sementara dari
hasil galian batu pad penggalian pondasi bendungan ataupun dari
penggalian bangunan-bangunan pelenkap, seperti dari galian spillway atau
galian inlet dan outlet bangunan pengelak. Ukuran boulder batu untuk
timbunan rockfill ini disesuaikan dengan syarat-syrat ketebalan lapisan
timbunan rickfill, biasanya sekitar 1.o 1.50 meter.
- Untuk perataan/spreading menggunakan Bulldozer berukuran 20 30 ton,
sekaligus juga berfungsi untuk pemadatan dengan beberapa kali lintasan.
Ada pula persyaratan bahwa pemadatan daerah Rockfill dan transisi
disamping menggunakan spreading equipment ditambah beberapa lintasan
menggunakan Vibrating Roller kapasitas 10 15 ton.

3.4.8. Penimbunan /Pemasangan Riprap


- Riprap adalah berfungsi sebagai slope protection pada upstream dan down
stream slope dari Main Dam dan Main Cofferdam. Tebalnya berkisar antara
2.0 meter 5.0 meter, terdiri dari boulder berukuran > 1.0 meter dikunci
dengan boulder kecil-kecil.
- Pemasangan Riprap bersamaan dengan timbunan Rockfill, peralatan yang
digunakan adal Bulldozer untuk mendorong boulder yang besar-besar dan
diatur oleh Back Hoe termasuk mengisi rongga-rongga diantara boulder yang
besar dengan boulde yang lebih kecil. Tebalnya lapisan penimbunan
mengikuti tebalnya lapisan Rockfill.
- Untuk mengatur Riprap supaya kelihatan rapih dan merata diperlukan
operator Back Hoe yg sudah trampil dan berpengalaman. Dibeberapa
Bendungan pengaliran Riprap ini ada yg menggunakan Crane. Batu-batu
15
besar yg akan dipasang ditempat Riprap diikat dengan wire, kemudian
diangkat dengan Crane ( Crawler Crane / Truck Crane ) dibantu banyak
tenaga untuk mengikat dan melepaskan wire tersebut.
-

Gambar 16

Gambar- 17

3.4.9. Pemasangan Dam Instrumentation


- Bersamaan dengan akan dimulainya penimbunan Clay Core perlu
dilaksanakan pemasangan peralatan monitoring untuk mengikuti dan
mengetahui behavior (tingkah laku ) dari Bendungan dan keadaan pondasi
serta besar kecilnya seepage/rembesan setelah pengisian waduk.
- Diantara peralatan-peralatan yg dipasang adalah :

o Sittlement Device ditanam pada pondasi untuk mengetahui terjadinya


settlement/ penurunan pondasi.
16
o Pare pressure yg dipasang dalam timbunan Clay Core (inti bendungan) dan
dalam pondasi untuk mengetahui besarnya 'Void pressure" dan rembesan
(seepage) dalam tubuh bendungan dan pondasi.
o Surface measurement points untuk mengukur settlement dara puncak
bendungan dan slope/lereng dari bendungan.
o V-notch untuk mengukurdebit rembesan yg dipasang dikaki bendungan.

3.4.10. Perkerasan/Penyelesaian Puncak Bendungan ( Crest Dam )


- Puncak Bendungan biasanya dipergunakan untuk jalan, maka
penyelesaiannya adalah seperti pada pembuatan jalan, yaitu ditimbun
dengan Base Corse dan Sub-Base Corse dan dilapisi dengan asphalt (Hot
Mix).
- Sebagai pelindung dikanan kiri dipasang Hand Rail / Parapet dilengkapi
dengan Trotoir dan Tiang-tiang Listrik dan Jaringannya untuk penerangan.

17
18
Tahap Penimbunan Bendungan Urugan

Gambar 18

17
5. Jalur Koordinasi

Pelaksanaan pembangunan Bendungan Bintang Bano akan dapat terlaksana


dengan baik jika koordinasi antara ketiga pihak yaitu PU, Konsultan MK dan
Kontraktor dapat berjalan dengan baik.

Sebagai contoh, jika Kontraktor akan memulai suatu item pekerjaan atau
meminta diadakan inspeksi pekerjaan di lapangan maka pihak Kontraktor
dalam hal ini Pelaksana & Kasi Teknik akan menyiapkan berkas-berkas
dokumen Permintaan Inspeksi (Request for Joint Inspection). Dokumen ini
akan diajukan ke Konsultan MK dengan konfirmasi waktu (hari, jam) akan
dilaksanakan inspeksi bersama-sama di lapangan. Setelah diadakan
pemeriksaan/inspeksi oleh Tim dari Konsultan MK dan diberi komentar
apakah pekerjaan tersebut bisa diterima atau tidak, perlu perbaikan atau
tidak atau pun komentar-komentar lain yang harus dilaksanakan oleh
Kontraktor. Hasil pemeriksaan/inspeksi tersebut selanjutnya akan dilaporkan
dan untuk diketahui oleh Tim dari PU.

Jalur koordinasi seperti tersebut dapat dilihat pada Lampiran-4. Pada


lampiran tersebut ada beberapa contoh jalur koordinasi untuk beberapa
tahapan pekerjaan, diantaranya adalah jalur koordinasi untuk Ijin Mulai
Kerja, Permintaan Inspeksi, Tes Material/Bahan, Laporan Harian, Laporan
Mingguan, Laporan Bulanan, MC 0%, MC 100%, PHO, FHO,
Termin/Opname, Pengjuan Gambar Kerja (Working Drawing) dan Gambar
Pelaksanaan Terpasang (As Built Drawing).

6. Struktur Organisasi Tim Manajemen Konstruksi

Agar dapat mendukung proses pelaksanaan pengawasan proyek ini berjalan


dengan baik dan optimal, maka perlu dibuat tata-laksana/prosedur
pelaksanaan yang baik dan untuk merealisasikannya perlu disusun struktur
organisasi Tim Manajemen Konstruksi Pembangunan Bendungan Bintang
Bano.
Tim Manajemen
Konstruksi
Adapun bagan dari Struktur Organisasi Tim Manajemen Konstruksi pada
Proyek Pembangunan Bendungan Bintang Bano dapat dilihat pada
Lampiran-5 berikut.

Lampiran-1 : Standart Operasional Pelaksanaan (SOP)

Tim Manajemen
Konstruksi
Tim Manajemen
Konstruksi