Anda di halaman 1dari 6

Nama :

Bunga Mutiara Putri NIM P17324212006


Nining Rusmianti NIM P17324212034

MASALAH YANG LAZIM TERJADI PADA NEONATUS


DIAPER RASH, SEBORREA, FURUNKEL

I. DIAPER RASH
1. Pengertian
Diaper rash yang dikenal juga dengan istilah eskim popok, dermatitis popok,
napkin dermatitis, diaper dermatitis, adalah kelainan kulit yang timbul di daerah
kulit yang tertutup popok, terjadi setelah penggunaan popok. (Diana, IA, 2006)
Eskim popok yang juga disebut dermatitis popok adalah kelainan kulit (ruam
kulit) yang timbul akibat radang di daerah yang tertutup popok yaitu di alat
kelamin, sekitar dubur, bokong, lipat paha dan perut bagian bawah. penyakit ini
sering terjadi pada bayi dan balita yang menggunakan popok, biasanya pada usia
kurang dari tiga tahun, paling banyak pada usia 9-12 bulan. (Titi LS, 2000)
Dermatitis popok atau diaper dermatitis adalah dermatitis yang terjadi pada
daerah yang tertutup popok biasanya disebabkan iritasi okeh urine dan feses.
(Dharmadi HP, 2006)
Angka kejadian dermatitis pada usia 3-18 bulan, puncaknya pada usia 6-9
bulan. Pada suatu penelitian di Inggris, ditemukan 25% dari 12.000 orang tua
mendapati ruam popok pada bayi mereka yang berusia 4 minggu.
2. Faktor-faktor Penyebab
Penyakit ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti faktor fisik, kimiawi,
enzimatik dan biogenik (kuman dari urine dan feses). Tetapi penyabab diaper rash
terutama disebabkan oleh iritasi terhadap kulit yang tertutup oleh popok oleh
karena cara pemakaian popok yang tidak benar, seperti :
Penggunaan popok yang lama
Perlu diketahui bahwa jenis popok nayi ada dua macam, yaitu :
- Popok yang disposable. Bahan yang digunakan pada popok ini adalah
bukan bahan tenunan, tetapi bahan yang dilapisi dengan lembaran yang
tahan air dan lapisan dengan bahan penyerap, berbentuk popok kertas
maupun plastik. Namun diaper rash banyak ditemui pada bayi yang
memakai popok ini, karena :
kontak yang terus-menerus antara popok kertas dengan kulit bayi
serta dengan urine dan feses
Kontak bahan kimia yang terdapat dalam kandungan si ibu
Di udara panas, bakteri dan jamur lebih mudah berkembang biak dari
bahan plastik/kertas daripada bahan katun
- Popok yang dapat digunakan secara berulang (seperti popok yang terbuat
dari katun)
Feses dan Urine
Feses dan urin merupakan bahan yang sifatnya mengiritasi kulit. Feses
yang tidak segera dibuang, bila bercampur dengan urine akan menyebabkan
pembentukan amonia. Amonia terbantuk dari urin dan enzim yang berasak
dari feses akan meningkatkan keasaman kulit dan akhirnya menyebabkan
iritasi kulit. Pada bayi yang diberi ASI lebih sedikit menderita diaper rash
bila dibandingkan dengan bayi yang hanya diberikan susu formula. Hal ini
disebabkan oleh karena ASI telah terbukti menurunkan pH feses.
Kelembaban Kulit
Kelembaban yang berlebihan dikarenakan oleh penggunaan popok
yang bersifat menutup kulit, sehingga menghambat terjadinya penyerapan
dan menyebabkan kulit menjadi lembab. Kulit dapat lembab dan
menyebabkan kulit mudah lecet dan mudah iritasi, dan mempermudah
pertumbuhan kuman dan jamur.
Gesekan
Gesekan dengan pakaian, selimut dapat menimbulkan luka lecet yang
akan memperberat diaper rash.
Suhu
Peningkatan suhu kulit juga merupakan faktor yang memperberat
diaper rash. Hal ini disebabkan oleh karena popok yang menghambat
penyerapan sehingga hilangnya panas juga berkurang. Bila bayi demam,
juga dapat memperberat diaper rash. Suhu yang meningkat akan
mengakibatkan pembuluh darah melebar dan mudah terjadi peradangan.
Jamur dan Kuman
Beberapa mikroorganisme seperti jamur candida albicans dan
kuman/bakteri staphylococcus aureus merupakan faktor penting yang
berperan dalam timbulnya diaper rash. Hal ini disebabkan oleh karena
keadaan kulit yang basah dan lembab, serta pemakaian popok yang
berlangsung lama.
3. Gejala
Gejala diaper rash bervariasi dari yang ringan sampai dengan yang berat. Secara
klinis dapat terlihat sebagai berikut :
a. Gejala yang biasa ditemukan pada diaper rash oleh kontak dengan iritan,
seperti : kemerahan yang meluas, berkilat, kadang mirip luka bakar, timbul
bintik-bintik merah, lecet atau luka bersisik, kadang membasah dan
bengkak pada daerah yang paling lama berkontak dengan popok, seperti
pada paha bagian dalam dan lipatan paha (bagian cembung bokong)
b. Gejala yang terjadi akibat gesekan yang berulang pada tepimpopok, yaitu :
bercak kemerahan yang membentuk garis di tepi batas popok pada paha
dan perut.
c. Gejala diaper rash oleh karena jamur Candida yang ditandai dengan bercak
atau bintil kemerahan warna merah terang, nasah, dengan lecet-lecet pada
selaput lendir anus dan kulit sekitar anus, lesi berbatas tegas dan terdapat
lesi lainnya di sekitarnya.
Skema terjadinya Diaper Rash :
4. Pencegahan
Tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan mengetahui penyebab dan faktor
yang berperan dalam menimbulkan diaper rash, yaitu seperti:
a. Mengurangi kelembaban dan gesekan kulit, antara lain dengan:
- Segera mengganti popok setelah bayi BAK dan BAB. Dengan sering
mengganti popok dapat mencegah terjadinya diaper rash.
- Pada saat mengganti popok, bersihkan kulit bayi secara lembut dengan
air hangat, kemudian keringkan. Untuk mengganti popok pada bayi yang
BAB, gunakan sabun bayi, kemudian bilas dengan air sampai bersih.
Keringkan dengan kain/handuk yang lembut, angin-anginkan sebentar,
baru dipakaikan popok yang baru.
- Bila menggunakan popok disposable, pakaikan sesuai dengan daya
tampung dan segera ganti.
- Hindari pemakaian popok yang ketat, tebal, terbuat dari plastik, bahan
terlalu kasar, kaku, dan terlalu menutup.
b. Memilih popok yang baik :
Sebenarnya, popok sekali pakai atau popok yang dipakai berulang yang
terbuat dari bahan kain katun sama baiknya dalam penggunaannya, asalkan
orangtua mengetahui penggunaannya yang baik dan mencegah terjadinya
diaper rash, seperti : popok harus diganti sesering mungkin dan segera
setelah kotor. Popok sekali pakai yang beredar di pasaran biasanya
mengandung bahan yang dapat menyerap cairan sehingga kulit menjadi
lebih kering dan dapat mempertahankan pH kulit mendekati normal
sehingga mengurangi timbulnya diaper rash.
5. Penatalaksanaan
Daerah yang terkena ruam popok, tidak boleh terkena air dan harus
dibiarkan terbuka dan tetap kering.
Gunakan kapas halus yang mengandung minyak untuk membersihkan
kulit yang iritasi.
Atur posisi tidur bayi agar tidak menekan daerah yang iritasi.
Usahakan memberikan makanan tinggi kalori protein (TKTP) dengan
porsi cukup.
Perhatikan kebersihan kulit dan tubuh secara keseluruhan.
Jagalah kebersihan pakaian dan alat-alat untuk bayi.
Rendamlah pakaian atau celana yang terkena urin dalam air yang
dicampur acidum borium, setelah itu bersihkan tetapi jangan
menggunakan sabun cuci, segera bilas dan keringkan.
II. SEBHORREA
1. Pengertian
Sebhorrea adalah radang berupa sisik yang berlemak dan eritema pada daerah
yang memiliki banyak kelenjar sebaseanya, biasanya di daerah kepala.
2. Penyebab
Penyebab sebhorrea masih belum diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa ahli
yang menyatakan beberapa faktor penyebab sebhorrea, yaitu sebagai berikut :
a. Faktor hereditas, yaitu bisa disebabkan karena adanya faktor keturunan
dari orang tua.
b. Intake makanan yang tinggi lemak dan kalori
c. Asupan minuman beralkohol
d. Adanya gangguan emosi
3. Penatalaksanaan
Walaupun secara kausal masih belum diketahui, tetapi penyembuhannya bisa
dilakukan dengan obat-obat topikal, seperti sampo yang tidak berbusa
(keramasilah kepala bayi sebanyak 2-3 kali/minggu) dan krim selenium
sulfida/Hgpresipitatus albus 2%.
III. FURUNKEL
1. Pengertian
Furunkel (boil atau bisul) adalah peradangan pada folikel rambut, kulit, dan
jaringan sekitarnya yang sering terjadi pada daerah bokong, kuduk, aksila, badan,
dan tungkai. Furunkel dapat terbentuk pada lenih dari satu tempat yang biasa
disebut sebagai furunkulosis.
2. Penyebab
Furunkel dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah :
a. Iritasi pada kulit
b. Kebersihan kulit yang kurang terjaga
c. Daya tahan tubuh yang rendah
d. Infeksi oleh Staphylociccus aureus
3. Patofisiologi
Infeksi dimulai dari peradangan pada folikel rambut di kulit (folikulitis) yang
menyebar pada jaringan sekitarnya. Radang pus (nanah) yang dekat sekali dengan
kulit disebut pustula . Pustula ini menyebabkan kulit di atasnya sangat tipis,
sehingga pus di dalam dapat dengan mudah mengalir keluar. Sementara itu,
bisulnya (furunkel) sendiri berada pada daerah kulit yang lebih dalam. Terkadang
pus yang berada dalam bisul diserap sendiri oleh tubuh, tetapi lebih sering
mengalir sendiri melalui lunang yang ada di kulit.
4. Tanda dan Gejala
Gejala yang timbul dari adanya furunkel bervariasi, bergantung pada beratnya
penyakit. Gejala yang sering ditemui pada furunkel adalah :
a. Nyeri pada daerah ruam
b. Ruam pada daerah kulit berupa nodus eritematosa yang berbentuk kerucut
dan memiliki pustul
c. Nodul dapat melunak menjadi abses yang berisi pus dan jaringan nekrotik
yang dapat pecah membentuk fistel lalu keluat melalui lobus minorus
resistensiae
d. Setelah seminggu, umumnya furunkel akan pecah sendiri dan sebagian
dapat menghilang dengan sendirinya.
5. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang diberikan pada neonatus dengan furunkel bergantung pada
keadaan penyakit yang dialaminya. Asuhan yang biasanya diberikan adalah :
1) Kebanyakan furunkel tidak membutuhkan pengobatan dan akan sembuh
dengan sendirinya
2) Jaga kebersihan daerah yang mengalami furunkel serta daerah sekitarnya
3) Berikan pengobatan topikal dengan kompres hangat untuk mengurangi
nyeri dan melunakkan nodul. Kompres hangat dapat dilakukan sambil
menutup ruam untuk mencegah penularan ke daerah lainnya.
4) jangan memijit furunkel, terutama yang letaknya di daerah hidung dan
bibir atas karena dapat menyebabkan penyebaran kuman secara
hematogen.
5) Bila furunkel terjadi di daerah yang tidak umum, seperti pada hidung atau
telinga, maka berkolaborasilah dengan doker untuk melakukan insisi.
6) Jika memungkinkan untuk membuka furunkel, maka lakukanlah dengan
cara berikut:
- Beri penjelasan pada keluarga mengenai tindakan yang akan
dilakukan atau berikan informed consent
- Minta seseorang untuk memegangi anak
- Ambilah sebuah pisau bedah steril dan insisi furunkel dengan
segera pada puncaknya saja. Kemudian masukkan penjepit dalam
luka dan bukalah penjepitnya untuk membuat jalan keluar bagi pus.
Dengan cara ini, pus akan keluar tanpa mangganggu sesuatu.
Perhatikanlah pisau bedah, jangan sampai masuk ke dalam karena
dapat melukai pembuluh darah saraf
- Berikan analgesik, misalnya aspirin atau parasetamol untuk
mengatasi nyeri
- Tutuplah luka dengan kasa kering, usahakan agar satu sudut dari
kasa dimasukkan, agar jalan tetap terbuka, sehingga pus dapat
keluar.
- Bersihkan alat-alat
- ingatkan keluarga untuk mengganti perbannya secara periodik
7) Terapi antibiotik dan antiseptik diberikan bergantung pada luas dan
beratnya penyakit, misalnya dengan pemberian Achromycin 250mg
sebanyak 3 atau 4 kali/hari
8) Bila furunkel terjadis ecara menetap atau berulang atau dalam jumlah yang
banyak, maka kaji faktor predisposisi adanya diabetes melitus.

IV. DAFTAR PUSTAKA


Nanny, Vivian. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta: Salemba
Medika