Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH DASAR-DASAR AGRONOMI

PENANAMAN

DOSEN : Prof. Dr. Ir. Raudha Thaib, MP

KELAS : E

KELOMPOK : VII (TUJUH)

AMIDA CIITRA PUTRI 1510212006

FILA SAFITRI 1510211103

ROZI NAUFAL JULIANRI 1510212003

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS ANDALAS

PADANG

2016
BAB I. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pada dunia pertanian, yang seringkali terlintas dipikiran kita yakni kegiatan bercocok
tanam. Kegiatan bercocok tanam dimulai dengan memperhatikan lahan yang hendak digarap,
hingga pada proses pasca panen. Seluruh tahapan yang dilakukan harus dilakukan dengan baik
dan benar.

Meningkatkan produksi pertanian suatu negara adalah suatu tugas yang kompleks, karena
banyaknya kondisi yang berbeda yang harus dibina atau diubah oleh orang ataupun kelompok
yang berbeda pula. Seperti halnya permasalahan pertumbuhan penduduk yang tinggi yang
mengimbangi permintaan atas kebutuhan pangan meningkat pesat, namun hal tersebut tidak
diimbangi dengan produksi hasil pertanian yang mampu untuk memenuhi permintaan kebutuhan
akan bahan pangan.

Namun hal itu juga mendorong para petani untuk mencoba menanam jenis-jenis tanman
baru, dan dengan bantuan para peneliti untuk mengembangkan varietas tanaman tersebut dengan
menemukan teknik penggunaan pupuk, mengatur kelembapan tanah yang lebih maju serta
meggunakan teknologi pertanian yang lebih maju untuk mengembangkan pembangunan
pertanian ke arah yang lebih baik sehingga mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan dari
jumlah masyrakat yang terus meningkat.

Pada dasarnya pembangunan pertanian di Indonesia sudah berjalan sejak masyarakat


Indonesia mengenal cara bercocok tanam, namun perkembangan tersebut berjalan secara lambat.
Pertanian awalnya hanya bersifat primitif dengan cara kerja yang lebih sederhana. Seiring
berjalannya waktu, lama kelamaan pertanian berkembang menjadi lebih modern untuk
mempermudah para petani mengolah hasil pertanian dan mendapatkan hasil terbaik dan banyak.

Dengan demikian pembangunan pertanian mulai berkembang dari masa ke masa. Dalam
proses pembangunan pertanian tersebut, bantuan para ahli di bidang pertanian dan pemerintah
sangat dibutuhkan untuk mendukung dan memberi fasilitas maupun pegetahuan kepada para
petani untuk memberi metode baru kepada para petani dan mengubah cara berpikir mereka
menjadi lebih kompleks sehingga mampu untuk meningkatkan produksi pertanian dalam negri
ini.

Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, termasuk mengenai budidaya, telah banyak


penelitian mengenai teknik budidaya yang tentu saja akan lebih menguntungkan para petani.
Khusunya pada kegiatan penanaman tidak hanya menanam asal suatu tanaman, dalam ilmu
pertanian memiliki teknik atau cara yang harus diketahui dan dikuasai agar hasil produksi yang
dihasilkan maksimal dan berkualitas tinggi. Dalam makalah ini akan membahas mengenai apa
saja yang harus diketahui pada saat penanaman.

B. PERMASALAHAN
Berdasarkan latar belakang di atas serta permasalahan yang dijumpai dalam kegiatan
pertanian, maka dapat ditarik beberapa permasalahan sebagai berikut:
Kurangnya pengetahuan mengenai penanaman bibit
Minimnya penguasaan mengenai cara-cara penanaman bibit serta apa saja yang harus
diperhatikan dalam penanaman bibit

C. PEMECAHAN MASALAH
Diharapkan makalah ini dapat membantu dalam menambahkan pengetahuan mengenai
penanaman, serta dapat mengetahui cara-cara yang benar dan yang lebih baik dalam
melakukan penanaman.
D. TUJUAN
Adapun tujuan penulisan makalah mengenai Penanaman adalah untuk menngetahui cara-
cara penanaman bibit serta hal-hal lainnya yang perlu diperhatikan dalam melakukan
penanaman. Selain itu, penulisan makalah ini juga bertujuan untuk melatih penulis dalam
pembuatan makalah serta membuka wawasan penulis mengenai penanaman bibit.
BAB II. PEMBAHASAN

Penanaman merupakan proses pemindahan benih kedalam tanah dengan tujuan agar
tanaman tumbuh dan berkembang dengan baik. Untuk memperoleh pertanaman yang baik
sebelumnya harus dilakukan pengolahan tanah yang sempurna, penentuan jarak tanam yang
tepat, penentuan jumlah benih perlobang tanam dan benih yang akan di tanam adalah benih yang
bermutu tinggi dan terlebih dahulu diberi perlakuan benih dengan methalaksil. Keberhasilan
tanam sangat dipengarruhi oleh factor manusia, seperti pengetahuan dan keterampilan yang
dimilki dalam melakukan cocok tanam. Dalam melakukan penanaman, banyak hal yang perlu
diperhatikan, mulai dari persiapan penanaman hingga pelaksanaan penanaman.
Dalam bercocok tanam diperlukan sarana yang harus dipenuhi, seperti bahan dan alat
penanaman:
1) Benih atau bibit
Benih berbeda dengan bibit. Benih berbentuk biji, sedangkan bibit sudah berbentuk
tanaman yang masih kecil. Benih harus mempunyai kualitas tinggi, baik mutu genetik, fisik,
maupun fisiologinya. Benih atau bibit unggul juga harus berasal dari varietas unggul (daya
tumbuh besar, murni, tidak mengandung kotoran, tidak tercemar hama dan penyakit). Benih
yang terjamin adalah benih bersertifikat.

2) Pupuk

Pupuk digunakan untuk menambah dan melengkapi kandungan unsur hara yang
kurang dari tanah. Pupuk dapat berupa pupuk organik (pupuk kandang dan hijau) dan pupuk
anorganik (NPK, Urea, KCL, dan ZA). Pupuk kandang berasal dari kotoran hewan, biasanya
yang digunakan adalah pupuk kandang sapi, ayam dan kambing. Pupuk kandang memiliki
kandungan unsur hara lengkap seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K). Pupuk
kandang yang digunakan sebaiknya yang sudah matang yang ditandai dengan warna hitam
pekat dan tidak berbau. Hal ini bertujuan untuk mencegah munculnya bakteri dan cendawan
yang dapat merusak tanaman.

3) Pestisida

Pestisida berguna untuk mengendalikan serangan organisme pengganggu tanaman


(OPT). Pestisida dapat berupa pestisida alami dan buatan.

4) Media tanam
Media tanam berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman. Komposisi media tanam
perlu disesuaikan dengan jenis tanaman yang dibudidayakan. Media tanam umumnya berupa
tanah.Aneka media tanam antara lain : arang, batang pakis, kompos, moss, pupuk kandang,
sabut kelapa, sekam padi, dan humus.

5) Alat

Peralatan tanam digunakan untuk mempermudah proses/kegiatan budidaya. Nama alat


pertanian pada setiap daerah dapat berbeda, namun biasanya memiliki fungsi yang sama.
Berikut ini pengenalan berbagai alat yang diperlukan dalam kegiatan budidaya tanaman
sayuran.
- Alat pengolahan tanah (garpu, sekop, dan cangkul)

- Alat pemeliharaan tanaman (gembor, kored, dan sprayer)

Sebelum melakukan penanaman perlu dilakukan persiapan terlebih dahulu, seperti melakukan
pembersihan lahan, penentuan jarak lahan, dan lain sebagainya.
a. Pembersihan Lahan
Pembersihan lahan dilakukan untuk menghilangkan ataupun mengurangi persaingan
perebutan nutrisi pada jenis-jenis yang tidak diinginkan, sehingga dapat mengurangi
gangguan pertumbuhan tanaman pokok. Disamping itu, pembersihan lahan akan
mempermudah kegiatan penetuan jarak tanam, pemasangan ajir, hingga kegiatan
penanaman. Pembersihan lahan dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:
Manual, menggunakan alat-alat tradisional, seperti parang atau sabit
Mengunakan mesin modern, seperti mesin rumput
Menyemprotkan pestisida
Membakar lahan, namun cara ini sangatlah tidak dianjurkan karena dapat mengakibatkan
kerugian bagi seluruh organisme.
b. Penentuan Jarak Tanam dan Pemasangan Ajir
Penentuan jarak tanam disesuaikan dengan tujuan penanaman. Sedangkan pemasangan ajir
disesuaikan dengan jarak tanam yang digunakan. Ajir merupakan penegak yang terbuat dari
batang babu atau tongkat bilahan bambu berfungsi sebagai penyangga batang. Ajir dapat di
pasang setelah selesai membuat pembubunan dan selesai mensterilkan kebun. Atau dapat
juga ajir dipasang sesudah bibit ditanam, dan bibit sudah mengeluarkan sulur-sulurnya kira-
kira tingginya adalah 50 cm. Ajir harus terbuat dari bahan yang kuat sehingga mampu
menahan beban buah dengan bobot kira-kira 23 kg. Tempat ditancapkannya ajir dengan
jarak kira-kira 25 cm dari pinggir guludan baik kanan maupun kiri. Supaya ajir lebih kokoh
lagi, kita bisa menambahkan bambu panjang yang diletakkan di bagian pucuk segitiga antara
bambu atau kayu yang menyilang, mengikuti barisan ajir-ajir di belakangnya.
c. Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam pada prinsipnya adalah memberikan kesempatan pertumbuhan akar tanaman
secara optimal. Lubang tanam dapat dibuat menggunakan cangkul. Semakin paddat tanah,,
maka ukuran lubang tanam sebaiknya semakin luas. Lubang tanam dibuat pada lokasi yang
telah dibuat ajir, sehingga jarak tanam akan teratur. Pada lubang tanam juga dapat diisikan
kompos.
d. Seleksi Bibit
Sebelum ditanam, bibit harus diseleksi terlebih dahulu untuk mendapatkan bibit yang layak
tanam.

Ketika menanam bibit, yang harus diperhatikan antara lain:

1. Waktu pemindahan
Waktu pemindahan bibit harus berpedoman dari jatuhnya hujan yang sudah agak cukup,
serta umur bibit telah cukup pula untuk dipindahkan. Sebaiknya saat bibit masih hidup dari
cadangan makannya, dan dilakukan pada sore hari
2. Cara pemindahan bibit.
Cara pemindahan bibit ke media tanam perlu diperhatikan juga, karena dapat
mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Cara pemindahan bibit yang salah akan
mengganggu pertumbuhan tanaman.
Ada beberapa cara pemindahan bibit yaitu :
a. Cara cabutan : yaitu bibit muda dicabut begitu saja dari tanah persemaian, tanpa
mengikutsertakan tanahnya. Pencabutan dilakukan dengan hati-hati supaya akarnya
tidak putus. Contoh dari tanaman yang menerapkan cara ini adalah tomat.

Kelebihan dari cara cabutan:


- mudah melakukannya
- mudah diangkut ketempat yg jauh & murah biayanya
- dapat diperiksa perakarannya
Kerugian dari cara cabutan:
-terjadi stagnasi pertumbuhan bibit sewaktu dilapangan
-terpaksa menyisip berulang-ulang, sehingga menambah tenaga dan biaya
-pertumbuhannya agak lambat, sehingga untuk berproduksi juga lambat
b. Cara putaran : yaitu bibit muda tersebut diambil dengan mengikutsertakan tanah
yang menutupi perakarannya. Bibit yang disemai dalam polibag, keranjang,
merupakan pemindahannya secara putaran
c. Cara Stump : yaitu bibit yang dipotong akar tunggangnya sampai tinggal lebih
kurang 20- 30 cm. Stump biasa digunakan untuk bibit yang sudah agak tua, dan
lebih cocok untuk tanaman yang betul-betul kuat. Contoh; kina, rambutan, jeru,
karet.
3. Jarak tanam
Jarak tanam sangat berperan penting dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas suatu
produksi. Jarak tanam yang sempit dapat menyebabkan turunnya produksi sehingga
mendapatkan kerugian. Walaupun tanaman tersebut mendapatkan pupuk yang cukup tetapi
tanaman tersebut berkompetisi untuk mendapatkan cahaya matahari dan air sehingga
menurunnya fotosintesi suatu tanaman tersebut.
Dalam penanaman, terdapat beberapa sistem tanam yang digunakan. System tanam ini
merupakan tata letak bibit yang hendak ditanam agar teratur. Setiap system tanam memiliki
pengaruh dan fungsi yang berbeda-beda terhadap tanaman. Adapun beberapa system tanam yang
digunakan, antara lain:
a. Sistem Bujur Sangkar
Cara pengaturan dengan cara bujur sangkar ini sangat cocok untuk daerah di dataran
rendah, dalam keadaan lapang, dengan laju kecepatan angin rendah sampai sedang.
Kelebihan cara ini adalah mempermudah cara pemeliharaan dan pemetikan hasil.
Sedangkan kelemahannya adalah bahwa penyebaran hama penyakit cepat sekali.

b. Sistem Zig Zag


Biasanya digunakan untuk tanaman yang berupa pohon (misalnya, mangga, jati, dll) karena
jarak tanamnya memang dibuat lebar. Jarak tanam yang digunakan adalah 50-60 cm jarak
antar lubang dan 60-70 cm untuk jarak antar barisan.
c. Sistem Pagar atau Barisan
Sistem pagar sangat baik digunakan pada daerah lereng, karena tata letak tanaman yang
berbaris dapat menahan turunnya laju air di dalam tanah (run off), sehingga dapat
mencegah terjadinya erosi. Cara penanaman dengan sistem pagar juga paling banyak
digunakan oleh para petani.
Ada beberapa alasan sering dipakai sistem barisan / pagar :
- Pertumbuhan tanaman lebih teratur
- Mudah dalam pemeliharaan
- Mudah membuat drainase
- Tanaman mudah dalam memperoleh cahaya
- Mudah dalam pemanenan
Tidak hanya memperhatikan aspek-aspek yang dibutuhkan sebelum pananaman. Saat
penanaman pun banyak hal yang perlu diperhatikan. Langkah langkah dalam penanaman harus
dilakukan dengan benar, mulai dari pengajiran, pemmbbuatan lubang, penanaman bibit, sampai
pada perawatan tanamannya juga harus diperhatikann agar menghasilkan produksi yang
maksimal dan berkualitas.
Pada saat penanaman, hal-hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:
a. Pengajiran
Pengajiraan dilakukan dengan menggunaka tali yang direntangkan supaya jarak tanam
yang dibuat jadi teratur. Untuk mendapatkan letak dan barisan tanaman yang teratur
terlebih dahulu diadakan pemancangan areal. Pemancangan pada areal yang rata jarak
antara barisan dan dalam barisan sesuai dengan jarak yang sebenarnya. Sedangkan
untuk areal yang berbukit dan berkontur arah barisan mengikuti arah kontur yang ada
dan jarak antara barisan adalah proyeksi jarak antar barisan.

b. Membuat Lubang Tanam


Persiapan awal yang harus dilakukan sebelum menanam selain persiapan bibit yang
baik adalah persiapan pembuatan lubang tanam yang kelihatannya merupakan hal yang
sangat sepele, namun kesalahan kecil dalam pembuatan lubang tanam akan sangat
berpengaruh terhadap kualitas pertumbuhan tanaman selanjutnya. Pengaruh tersebut
akan berlangsung dalam kurun waktu yang sangat panjang dan sangat mungkin dapat
menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak sesuai dengan yang diharapkan
(pertumbuhan lambat, mal nutrisi, waktu tunggu tanaman berproduksi menjadi lebih
lama, tanaman rentan terhadap serangan hama penyakit, dan sebagainya). Oleh karena
itu lubang tanam harus dipersiapkan dengan baik, sebaik kita mempersiapkan bibit
sebelum menanam. Pembuatan lubang tanam biasa digunakan untuk tanaman tua /
tanaman perkebunan.
c. Kebutuhan Bibit
Kebutuhan bibit suatu tanaman dipengaruhi oleh jarak tanam dan juga jenis dari
tanaman tersebut. Kebutuhan jumlah bibit yang diperlukan dalam suatu luas lahan
tertentu dan juga jarak tanam yang berbeda akan memiliki kebutuhan bibit yang bebeda
juga. Semakin besar jarak tanam yang diterapkan, maka kebutuhan bibit yang
diperlukan juga akan semakin sedikit.
Pola tanam merupakan sistem budidaya tanaman yang mempunyai kaitan erat dengan
ekosistem yang melatarbelakanginya. Dalam setiap ekosistem tanaman dapat dikembangkan
satu atau lebih sistem budidaya tanaman. Dan dalam satu sistem budidaya dapat dikembangkan
beberapa pola tanam. Pola tanam ini diterapkan dengan tujuan memanfaatkan sumber daya
secara optimal dan untuk menghindari resiko kegagalan. Namun yang penting persyaratan
tumbuh antara kedua tanman atau lebih terhadap lahan hendaklah mendekati kesamaan.

Pola tanam di daerah tropis, biasanya disusun selama satu tahun dengan memperhatikan curah
hujan, terutama pada daerah atau lahan yang sepernuhnya tergantung dari hujan. Makan
pemilihan jenis/varietas yang ditamanpun perlu disesuaikan dengan keadaan air yang tersedia
ataupun curah hujan.

Pola tanam terbagi dua yaitu pola tanam monokultur dan pola tanam polikultur. Pertanian
monokultur adalah pertanian dengan menanam tanaman sejenis. Misalnya sawah ditanami padi
saja, jagung saja, atau kedelai saja. Tujuan menanam secara monokultur adalah meningkatkan
hasil pertanian. Sedangkan pola tanam polikultur ialah pola pertanian dengan banyak jenis
tanaman pada satu bidang lahan yang terusun dan terencana dengan menerapkan aspek
lingkungan yang lebih baik.

Pengetahuan mengenai pola tanam sangat perlu bagi petani. Sebab dari usaha tani yang
dilakukan, diharapkan dapat mendatangkan hasil yang maksimal. Tidak hanya hasil yang
menjadi objek, bahkan keuntungan maksimum dapat didapat dengan tidak mengabaikan
pengawetan tanah dan menjaga kestabilan kesuburan tanah.

Faktor yang mempengaruhi pola tanam:

a. Iklim
Keadaan pada musim hujan dan musim kemarau akan berpengaruh pada persediaan air
untuk tanaman dimana pada musim hujan maka persediaan air untuk tanaman berada
dalam jumlah besar, sebaliknya pada musim kemarau persediaan air akan menurun.
b. Topografi
Topografi merupakan letak atau ketinggian lahan dari permukaan air laut, berpengaruh
terhadap suhu dan kelembaban udara dimana keduanya mempengaruhi pertumbuhan
tanaman.
c. Debit Air Yang Tersedia
Debit air pada musim hujan akan lebih besar dibandingkan pada musim kemarau,
sehingga haruslah diperhitungkan apakah debit saat itu mencukupi jika akan ditanam
suatu jenis tanaman tertentu.
d. Jenis Tanah
Jenis tanah yang dimaksud adalah mengenai keadaan fisik, biologis dan kimia tanaman
e. Sosial Ekonomi
Dalam usaha pertanian faktor ini merupakan faktor yang sulit untuk dirubah, sebab
berhubungan dengan kebiasaan petani dalam menanam suatu jenis tanaman.

Ada beberapa maccam pola tanam, antara lain adalah:

1. Monokultur

Monokultur berasal dari kata mono dan culture. Mono berarti satu. Culture berarti
pengelolaan / pengolahan. Jadi pola tanam monokultur merupakan suatu usaha pengolahan
tanah pada suatu lahan pertanian dengan tujuan membudidayakan satu jenis tanaman dalam
waktu satu tahun. Lebih ringkas, monokultur merupakan pola tanam denan
membudidayakan hanya satu jenis tanaman dalam satu lahan pertanian selama satu tahun.
Misalnya pada suatu lahan hanya ditanami padi, dan penanaman tersebut dilakukan sampai
tiga musim tanam (satu tahun).

Pemilihan pola tanam monokultur sangat dipengaruhi oleh tujuan suatu usaha tani dan
juga keberadaan akan faktor-faktor pertumbuhan khususnya air. Untuk suatu usaha tani
dengan tujuan komersial, terdapat kecenderungan untuk memilih pola tanam monokultur.
Pada usaha tani komersial, keuntungan secara ekonomi merupakan tujuan akhir yang akan
dicapai. Pada monokultur bisa mengintensifkan tanaman yang paling memiliki nilai
ekonomis sehingga hasil produksi pertanian bernilai ekonomi tinggi akan tinggi pula.
Selain itu, pada penanaman monokultur akan lebih mudah dan murah dalam perawatan
karena hanya ada satu tanaman. Kemudahan dan kemurahan ini akan semakin mengefektif
dan mengefisienkan proses produksi yang pada akhirnya dapat meningkatkan keuntungan
suatu usaha tani.

Pada suatu lahan dengan irigasi teknis yang memadai, hampir bisa dipastikan kalau pola
tanam yang digunakan adalah monokultur tanaman padi. Hingga saat ini, padi merupakan
makanan pokok bagi lebih dari tiga perempat penduduk di Indonesia. Padi merupakan
salah satu komoditas yang harganya tidak terlalu fluktuatif seperti komoditas yang lainnya.
Menanam padi secara monokultur pada lahan dengan irigasi yang memadai seperti menjadi
penjamin kehidupan petani karena harga padi yang akan selalu memadai. Selain itu, padi
merupakan salah satu tanaman yang tahan terhadap genangan sehingga menjadi primadona
pada lahan sawah yang irigasinya baik (air tersedian sepanjang tahun).

Pola monokultur merupakan suatu pola tanam yang bertentangan dengan aspek
ekologis. Penanaman suatu komoditas seragam dalam suatu lahan dalam jangka waktu
yang lama telah membuat lingkungan pertanian yang tidak mantap. Ketidak mantapan
ekosistem pada pertanaman monokultur dapat dilihat dari masukan-masukan yang harus
diberikan agar pertanian dapat terus berlangsung. Masukan-masukan yang dimaksud
adalah pupuk ataupun obat-obatan kimia untuk mengendalikan organisme pengganggu
tanaman. Ketidakmantapan ekosistem juga dapat dilihat dari meledaknya poulasi suatu
jenis hama yang sulit dikendalikan karena musuh alami untuk setiap jenis hama yang
menyerang terbatas jumlahnya.

Pada intinya, kelebihan usaha tani dengan pola monokultur adalah dapat
mengintensifkan suatu komoditas pertanian serta lebih efisien dalam pengelolaan yang
nantinya diharapkan mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Kelemahan dari pola
monokultur ini adalah perlunya mendapatkan input yang banyak agar didapatkan hasil
yang banyak. Selain itu, pola monokultur menyebabkan meledaknya populasi hama yang
membuat berkurangnya hasil pertanian. Kerugian lain adalah tidak adanya nilai tambah
komoditas lain karena tidak adanya komoditas lain yang ditanam bersama dengan
komoditas utama.

2. Polikultur

Polikultur berasal dari kata poly dan culture. Poly berarti banyak dan culture berarti
pengolahan. Jadi, pola tanam polikultur adalah penanaman lebih dari satu jenis tanaman
pada suatu lahan pertanian dalam waktu satu tahun. Penanaman lebih dari satu jenis
tanaman ini bisa dalam satu waktu atau juga bisa dalam beberapa waktu tetapi dalam satu
tahun. Dalam satu waktu contohnya adalah penanaman jagung bersamaan dengan kacang
tanah dalam satu lahan dalam satu waktu tanam. Dalam beberapa waktu misalnya
penanaman padi pada musim pertama kemudian dilanjutkan penanaman jagung pada
musim kedua.
Pemilihan pola polikultur dipengaruhi oleh aspek lingkungan dan juga sosial ekonomi
masyarakat pelaku usaha tani. Aspek lingkungan yang paling berpengaruh adalah
ketersiediaan air. Umumnya, pada daerah pertanian yang curah hujan tidak merata
sepanjang tahun dan irigasi teknis tidak tersedia, pola yang digunakan adalah pola
polikultur. kebutuhan air untuk setiap jenis tanaman sangat beragam. Curah hujan yang
tidak merata mungkin tidak akan mencukupi kebutuhan air untuk tanaman yang
membutuhkan banyak air seperti padi. Untuk meminimalisir gagal panen, maka pada
musim di mana hujan sangat minim, lahan ditanami dengan tanaman yang hanya
membutuhkan sedikit air, seperti jagung atau kacang hijau.

Dari sisi sosial ekonomi masyarakat, polikultur umunya merupakan pola tanam yang
banyak dilakukan oleh masyarakat pedesaan yang tujuan usaha taninya adalah untuk
memenuhi kebutuhan sendiri (subsisten). Pada sistem sosial yang demikian, terdapat
kecenderugan bahwa yang paling penting adalah tetap memperoleh hasil panen daripada
mendapatkan keuntungan secara ekonomi. Menanam lebih dari satu jenis tanaman menjadi
semacam penjamin untuk tetap mendapatkan hasil panen. Ketika salah satu komoditas
tidak bisa dipanen, maka masih ada komoditas yang lain yang bisa dipanen.

Efisiensi penggunaan lahan juga digunakan sebagai alasan untuk bertanam secara
polikultur. Pada komoditas tanaman yang jarak tanamnya renggang, masih ada ruang-ruang
kosong diantara baris pertanaman yang belum termanfaatkan. Polikultur merupakan usaha
untuk memanfaatkan tanah-tanah kosong tersebut.

Selain efisiensi penggunaan lahan dan diperolehnya hasil panen yang beragam, pola
tanam polikultur juga memiliki beberapa keuntungan. Yang pertama, polikultur merupakan
usaha untuk mengurangi ledakan populasi organism pengganggu tanaman. Tanaman yang
beragam dalam satu lahan membuat hama dan penyakit tidak focus menyerang pada satu
komoditas, akibatnya, organism pengganggu akan mudah dikendalikan dan tidak
mengalami ledakan. Selain itu, seringkali, suatu tanaman dapat mengusir keberadaan hama
untuk tanaman lain, misalnya adalah bawang daun yang dapat mengusir hama aphid dan
ulat pada tanaman kubis.

Selanjutnya, polikultur seringkali mampu menambah kesuburan tanah secara alami


sehingga meningkatkan hasil komoditas utamanya. Misalnya, penanaman kacang-
kacangaan di sela-sela penanaman jagung dapat meningkatkan kandungan N dalam tanah
karena kacang-kacangan mampu memfiksasi nitrogen dari udara. Dengan demikian, hasil
tanaman jagung dapat meningkat.

Selain terdapat beberapa keuntungan, pola tanam polikultur juga memiliki beberapa
kelemahan. Dengan semakin banyaknya populasi tanaman dalam satu lahan, maka
persaingan tanaman utnuk mendapatkan hara dan faktor pertumbuhan lainnya juga akan
semakin tinggi. Kompetisi yang tinggi tidak jarang juga dapat mengurangi hasil tanaman.
Semakin banyak tanaman menyebabkan semakin banyak Janis hama yang menyerang .
Dengan demikian, pengendalian hama akan menjadi semakin sulit, walaupun tidak sampai
menyebabkan ledakan populasi hama. Keanekaragaman tanaman juga akan mengurangi
efisiensi dalam melakukan perawatan sehingga diperlukan lebih banyak tenaga kerja.

Pola tanam polikultur juga terbagi menjadi beberapa bagian, seperti:

a. Tumpang sari (Intercropping)


Tumpangsari adalah penanaman lebih dari satu tanaman pada waktu yang
bersamaan atau selama periode tanam pada satu tempat yang sama. Keuntungan
tumpang sari yaitu:
- Mencegah dan mengurangi pengangguran musim
- Memperbaiki keseimbangan gizi masyarakat petani
- Adanya pengolahan tanah yang minimal
- Jika tanaman tumpang sari berhasil semua, masih dapat diperoleh nilai tambah
- Mengurangi erosi dan jika salah satu tanaman gagal panen, dapat diperoleh
tanaman yang satu lagi.
Salah satu jenis tanaman yang dapat dijadikan sebagai tanaman sela pada pola tanam
tumpangsari tanaman jagung adalah tanaman kedelai. Tanaman jagung dan kedelai
memungkinkan untuk ditumpangsari karena tanaman jagung menghendaki nitrogen
tinggi, sementara kedelai dapat memfiksasi nitrogen dari udara bebas sehingga
kekurangan nitrogen pada jagung terpenuhi oleh kelebihan nitrogen pada kedelai.
b. Tumpang gilir ( Multiple Cropping )
Tumpang Gilir adalah teknik budidaya tanaman dengan menanam lebih dari satu
tanaman pada satu musim, kemudian dilanjutkan menanam lebih dari satu jenis
tanaman pada musim berikutnya dengan lahan yang sama dalam waktu satu tahun.
Tumpang gilir merupakan tumpang sari yang dilakukan secara berurutan dan lebih
dari satu periode tanam dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk
mendapat keuntungan maksimum. Faktor-faktor tersebut adalah :
- Pengolahan yang bisa dilakukan dengan menghemat tenaga kerja, biaya
pengolahan tanah dapat ditekan, dan kerusakan tanah sebagai akibat terlalu sering
diolah dapat dihindari
- Hasil panen secara beruntun dapat memperlancar penggunaan modal dan
meningkatkan produktivitas lahan
- Dapat mencegah serangan hama dan penyakit yang meluas
- Kondisi lahan yang selalu tertutup tanaman, sangat membantu mencegah
terjadinya erosi
- Kondisi lahan yang selalu tertutup tanaman, sangat membantu mencegah
terjadinya erosi
- Sisa komoditi tanaman yang diusahakan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hijau
Contoh: jagung muda, padi gogo, kedelai, kacang tanah, dll.
c. Tanaman Bersisipan ( Relay Cropping ),
Tanaman beersisipan merupakan pola tanam dengan menyisipkan satu atau beberapa
jenis tanaman selain tanaman pokok (dalam waktu tanam yang bersamaan atau
waktu yang berbeda).
Pada umumnya tipe ini dikembangkan untuk mengintensifikasikan lahan. Dengan
demikian kemampuan lahan untuk menghasilkan sesuatu produk pangan semakin
tergali. Oleh karena itu pengelola dituntut untuk semakin jeli menentukan tanaman
apa yang perlu disisipkan agar waktu dan nilai ekonomisnya dapat membantu dalam
usaha meningkatkan pendapatan. Contoh: jagung disisipkan kacang tanah, waktu
jagung menjelang panen disisipkan kacang panjang.
d. Tanaman Campuran ( Mixed Cropping ),
Tanaman campuran merupakan penanaman terdiri beberapa tanaman dan tumbuh
tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya, semua tercampur jadi satu. Tanaman
campuran (mixed cropping) adalah teknik budidaya tanaman yang membudidayakan
lebih dari satu tanaman pada satu lahan yang sama pada periode tanam yang sama
tetapi jarak tanam dan barisan antar tanaman tidak diperhatikan. Tanaman campuran
adalah tumpang sari yang tidak memperhatikan jarak tanam. Contoh: tanaman
campuran seperti jagung, kedelai, ubi kayu.
e. Tanaman bergiliran ( Sequential Planting)
Tanaman bergiliran merupakan penanaman lebih dari satu jenis komoditas yang
dilakukukan pada satu lahan pertanian dalam waktu yang tidak bersamaan
(bergiliran). Komoditas lain baru ditanam setelah satu komoditas dipanen. Jadi,
dalam satu periode tanam hanya menanam satu jenis komoditas.
KESIMPULAN

Penanaman merupakan proses pemindahan benih kedalam tanah dengan tujuan agar
tanaman tumbuh dan berkembang dengan baik. Dalam penanaman banyak aspek-aspek yang
perlu diperhatikan, dimulai dari sebelum penanaman, seperti memperhatikan lahan hingga pada
tahap penanaman itu senndiri. Seluruh tahapan penanaman perlu diperhatikan dengan baik agar
mengahasilkan produksi yang maksimal. Dalam memberlakukan tanaman saat penanaman
bergantung kepada jenis tanaman itu sendiri. Pola tanam adalah pengaturan penggunaan lahan
pertanaman dalam kurun waktu tertentu. Ada pola tanam monokultur dan polikultur. Pola tanam
monolultur merupakan menanam tanaman sejenis dalam satu areal tanam. Sedangkan pola tanam
polikultur adalah menanam beragam jenis tanaman pada satu areal tanam yang sama. Pola tanam
yang paling baik digunakan adalah pola tanam polikultur.
DAFTAR PUSTAKA

Harjadi, S. S. 1979. Pengantar Agronomi. Jakarta: PT Gramedia.

Karnomo,W.H, dkk. 1989. Diktat Pengantar Produksi Tanaman Agronomi. Purwokerto: Fakultas
Pertanian Universitas Jenderal Soedirman.
Sunaryo, Hendro. 1984. Pengantar Pengetahuan Dasar Hortiklutura (Produksi Hortikultura I).
Bandung: Sinar Baru Bandung.

Thahir, 1999. Tumpang Gilir. Jakarta: PCU Yasaguna.