Anda di halaman 1dari 28

MODUL

MATEMATIKA DASAR

OLEH:

NAMA : MARDIAN SAPUTRA

NIM : 05021281621040

PRODI : TEKNIK PERTANIAN

JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN

PRODI TEKNIK PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2017
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan Modul
Matematika Dasar dalam rangka memenuhi tugas akhir dari praktikum pengantar teknologi
pertanian.
Modul Matematika Dasar ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan laporan ini. Untuk
itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi
dalam pembuatan laporan ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki
Modul Matematika Dasar ini.
Akhir kata kami berharap semoga Modul Matematika Dasar dalam rangka
memenuhi tugas akhir dari praktikum pengantar teknologi pertanian ini dapat memberikan
manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Indralaya, juni 2017

Penulis
DAFTAR ISI

COVER
KATA PENGANTAR ......................................................................................
DAFTAR ISI ....................................................................................................
BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang .....................................................................................
1.2. Tujuan ..................................................................................................
BAB II.LANDASAN TEORI
2.1. Sistem bilangan dan bilangan riil / real ...............................................
2.2. Pertidaksamaan dan nilai mutlak .........................................................
2.3. Sistem koordinat rektangular ...............................................................
2.4. Fungsi dan relasi .................................................................................
2.5. Limit ....................................................................................................
2.6. Integral .................................................................................................
2.7. Matriks .................................................................................................
BAB III. PENUTUP
3.1. Kesimpulan .........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Matematika sebagai salah satu ilmu dasar, memegang peranan penting dalam
mempercepat penguasaan ilmu teknologi.1 Hal itu dikarenakan matematika merupakan
sarana berpikir untuk menumbuhkembangkan cara berpikir logis, sistematis, dan kritis.
Sampai batas tertentu, matematika perlu dikuasai oleh segenap warga Indonesia, baik yang
terkait dengan penerapannya maupun dengan pola pikirnya. Penguasaan ilmu pengetahuan
dan teknologi harus didasari oleh penguasaan matematika, karena penguasaan matematika
merupakan kunci utama dalam menguasai pengetahuan.
Pelajaran matematika di sekolah sering menjadi salah satu pelajaran yang ditakuti oleh
sebagian besar siswa. Menurut Ruseffendi menyatakan bahwa, Matematika (ilmu pasti)
bagi kebanyakan orang pada umumnya merupakan mata pelajaran yang tidak disenangi,
kalau bukan pelajaran yang dibenci. Selain itu, Menurut Sriyanto menyatakan bahwa
anggapan anggapan negatif dari sebagian besar siswa atau pun mahasiswa mengenai
pelajaran matematika yang sulit tidak terlepas juga dari persepsi yang berkembang dalam
masyarakat
tentang matematika sebagai pelajaran yang sulit. Persepsi negatif itu ikut dibentuk oleh
anggapan bahwa matematika merupakan ilmu yang kering, abstrak, teoritis, penuh dengan
lambang-lambang dan rumus yang sulit dan membingungkan, yang muncul atas
pengalaman kurang menyenangkan ketika belajar matematika di sekolah. Akibatnya
pelajaran matematika tidak dipandang secara objektif lagi. Sehingga dengan membuat
modul matematika dasar ini di harapakan agar dapat membantu rekan-rekan seperjuangan
sebagai mahasiswa atau pun sebagai pelajar yang kesulitan di dalam mata pelajaran
matematika dasar
1.2.Tujuan
1. Sebagai bahan untuk menyelesaikan Tugas Uts Matematika Dasar.
2. Sebagai media untuk membantu pelajar yang kesulitan untuk memahami
matematika dasar.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. SISTEM BILANGAN DAN BILANGAN RIIL / REAL
Terlebih dahulu perhatikan diagram berikut:

Berdasarkan diagram tersebut, terlihat bahwa terdapat konsep bilangan lain selain
bilangan real, yang dinamakan bilangan kompleks. Himpunan bilangan kompleks
dinotasikan dengan c dimana c = {z|z = x + yi, x,y R, i = 1 . Lebih lanjut x
disebut bagian real dari z (Re(z)), y disebut bagian imajiner dari z (Im(z)), sedangkan i
adalah bilangan imajiner yang besarnya sama dengan 1 .
Berkut ini diberikan himpunan-himpunan penting dari sistem bilangan real.
a. Himpunan bilangan asli atau himpunan bilangan bulat positif; {1, 2, 3, ...},
dinotasikan dengan = {1, 2, 3, ...}. Bilangan asli biasa digunakan untuk
menghitung.
b. Himpunan bilangan bulat; {..., -2, -1, 0, 1, 2, ...}, dinotasikan dengan = {..., -2, -
1, 0, 1, 2, ...}.
c. Himpunan bilangan rasional; misalnya {16/2, 2/3, dsb}, dinotasikan dengan .

Secara umum, bentuk bilangan rasional dituliskan sebagai Q = { |m, n Z, dan n

0}
d. Himpunan bilangan irasional; misalnya { 2,37 , , dsb}, merupakan bilangan yang
tidak rasional. Bilangan irasional tidak dapat ditulis dalam bentuk m n dengan m
dan n bilangan bulat dan n 0.
Himpunan bilangan real sendiri dinotasikan dengan R merupakan kumpulan dari
semua bilangan rasional dan irasional yang dapat digunakan untuk mengukur panjang,
beserta negatif dari bilangan-bilangan tersebut, dan nol. Bilangan yang dimaksud
dinamakan koordinat dari titik tersebut dan garis koordinat yang dihasilkan disebut
garis real.
2. Operasi pada Bilangan Real Misalkan a, b, dan c adalah bilangan real. Maka berlaku
sifat berikut:
a. Tertutup terhadap penjumlahan dan perkalian Hasil operasi a + b dan ab adalah
bilangan bulat real.
b. Komutatif terhadap penjumlahan dan perkalian a + b = b + a dan ac = ca
c. Assossiatif terhadap penjumlahan dan perkalian a + (b + c) = (a + b) + c dan a(bc) =
(ab)c.
d. Distributif a ( b + c ) = ab + ac
e. Memiliki elemen identitas (0 adalah elemen identitas terhadap penjumlahan, dan 1
adalah elemen identitas terhadap perkalian). a + 0 = 0 + a = a, dan 1a = a1 = a
f. Memiliki invers
Terhadap penjumlahan; Untuk setiap a R terdapat x R sedemikian sehingga x +
a = a + x = 0. Dalam hal ini x = -a. Jadi, invers dari bilangan real a terhadap operasi
penjumlahan adalah a.
Terhadap perkalian; Untuk setiap a R terdapat x R sedemikian sehingga x a = a
x = 1. Dalam hal ini x = 1 a . Jadi, invers dari bilangan real a terhadap operasi
1
Perkalian adalah . Dari sifat bilangan real tersebut maka didefinisikan operasi


pengurangan dan pembagian sebagai a b = a + (-b) dan = ab-1..

2.2. PERTIDAK SAMAAN DAN NILAI MUTLAK


Pertidaksamaan adalah kalimat terbuka yang menyatakan hubungan dua hal tidak
mempunyai kesamaan atau tidak sama dengan. Hubungan tidak sama dengan dapat
dinotasikan dengan tanda:
< (kurang dari)
(kurang dari atau sama dengan
> (lebih dari)
(lebih dari atau sama dengan)
Jika ada pertidaksamaan x < a maka niai x yang memenuhi adalah lebih kecil dari a dan
dalam garis bilangan dilukiskan seperti

Jika ada pertidaksamaan matemati x a maka nilai x yang memenuhi adalah lebih besar
dari a dan dalam garis bilangan dilukiskan

Sifat-sifat Pertidaksamaan Matetamatika


Sobat hitung menjadi sangat penting untuk mengetahui sifat pertidaksamaan sebagai hal
mendasar untuk mengerjakan berbagai macam soal. Berikut sifat-sifat dari pertidaksamaan
matematika
1. Tanda pertidaksamaan tidak akan berubah jika sobat menambahkan atau
mengurangkan suatu pertidaksamaan dngan bilangan atau suatu ekspresi
matemtaika tertentu
Jika a > b maka:
a+c > b+c ; a-c > b-c
Jika a<b maka:
a+c < b+c ; a-c < b-c
misalnya
x + 6 > 8 x+6-6 > 8-6
x>2
2. Tanda pertidaksamaan tidak akan berubah jika kita mengalikan atau membaginya
dengan bilangan POSITIF. Jika a > b dan c > 0 maka ac > bc dan a/c > b/c,
milsalkan 4x 12, Jika sobat membagi masing masing ruas dengan angka 4
(positif) 4x/4 12/ 4 x 3
3. Tanda pertidaksamaan akan berbalik jika dikali atau dibagi dengan sebuah bilangan
NEGATIF Jika a > b dan c < 0 maka:
ac < bc dan a/c < b/c (amati bahwa tanda berbalik)
Banyak sobat hitung yang mungkin lupa dengan keharusan membalik tanda.
Contohnya seperti berikut:
-3x 9 untuk menyelesaikan pertidaksamaan tersebut sobat harus membagi tiap
ruas kanan dan kiri dengan -3 atau dengan kata lain mengalikan tiap ruas dengan -
1/3. Karena dikali dengan bilangan negatif maka tanda wajib berbalik.
-3x 9 -3x/-3 9/-3 x -3 (amati tanda berbalik)
4. Eksponen (Pemangkatan) Pertidaksamaan
Ada yang unik dari pemangkatan pertidaksamaan matematika, tanda
pertidaksamaan berbalik tergantung dari ganjil atau genapanya pangkatnya.
jika a > b > 0 maka
a2 > b2 > 0
a3 > b3 > 0
a4 > b4 > 0
a5 > b5 > 0
dan seterusnya. Secara umum an > bn ; a bilangan asli, jika a < b < 0 maka
a2 > b2 > 0
a3 < b3 < 0
a4 > b4 > 0
a5 < b5 < 0
dan seterusnya. Secara umum an > bn, jika n genap dan an < bn jika n ganjil
Contoh
x < -2 jika sobat pangkatkan dua didapat x2 > (-2)2 (tanda berubah jika n genap
akan selalu an > bn) dan logikanya masuk jika x saja kurang dari -2 (-3, -4, -5, dst)
pasti x2 hasilnya akan selalu lebih dari 4, -32 = 9; -42 = 16, dst.
5. Bentuk-Bentuk Pertidaksamaan Kuadrat
Selama ini ada beberapa bentuk pertidaksamaan kuadrat, diantaranya:
- Pertidaksamaan Linier
- Pertidaksamaan dengan vaiable berpangkat 1
Contoh
Tentukan nilai x yang memenuhi pertidaksamaan 3x -2 < x +8
Jawab
3x -2 < x +8
3x -x < 8 +2
2x < 10
x<5
5.1. Pertidaksamaan Kuadrat
Cobat sobat tentukan nilai x dari pertidaksamaan kuadrat berikut x2 x -6 0
Jawab:
x2 x -6 0
(x-3) (x+2) 0
x1 = 3 dan x2 = -2
garis bilangan dari pertidaksamaan (x-3) (x+2) 0

dari gambar di atas sobat sudah tahu mana area yang menghasilkan nilai positif dan
negatif. Kemudian karena tanda pertidaksamaan adalah 0 maka nilai yang
memenuhi pertidaksamaan matematika (x-3) (x+2) 0 adalah yang
menghasilkan x2-x-6 0 bernilai negatif yaitu -2 x 3
5.2. Pertidaksamaan Polinom
contoh
x3 2x2 15x < 0
x (x2 2x 15) < 0
x (x-5) (x+3) < 0
x1 = 0 ; x2 = 5 ; x3 = -3
nilai x kemudian kita letakkan pada garis bilangan

Karena tanda pertidaksamaan < maka nilai yang memenuhi adalah nilai x yang
menghasilkan x3 2x2 15x < 0 bernilai negatif (-) yaitu x < -3 dan 0 < x < 5.
5.3. Pertidaksamaan Harga Mutlak
Nilai mutlak dinyatakan dengan tanda kurung pagar. Mutlak dari x dinyatakan
dengan notasi x. Yang dimaksud dengan nilai atau harga mutlak dari suatu
bilangan sama dengan nilaipositif dari bilangan tersebut. Misal nih 3= 3 dan 3 =
3, jadi dalam nilai/ harga mutlak berlaku x untuk x 0 dan -x untuk x < 0.
Pertidaksamaan harga mutlak merupakan pertidaksamaan yang variabelnya berada
di dalam tanda mutlak. Sifat-sifat dari harga mutlak sebagai berikut
Untuk a > 0 maka
x< a jika dana hanya jika -a < x < a
x> a jika dan hanya jika x<-a atau x > a
Contoh
1. tentukan nilai x yang memenuhi pertidaksamaan 2x-1 < 5
-5 < 2x-1 < 5
-5+1 < 2x-1+1 <5+1 (masing-masing ruas ditambah 1)
-4 < 2x < 6 (masing-masing ruas dibagi 2)
-2 < x < 3
jadi nilai x yang memenuhi pertidaksamaan adalah -2 < x < 3
2. Tentukan nilai x yang memenuhi peridak samaan 2x-1 3
2x-1 -3 atau 2x-1 3
2x-1 -3 atau 2x-1 3
2x -2 atau 2x 4
x -1 atau x2
Jadi nilai yang memenuhi Hp = {-1< x > 2}

2.2.2 Nilai Mutlak


Nilai mutlak dari suatu bilangan real a, dinotasikan dengan |a|, berharga a untuk a >
0, -a untuk a < 0, dan 0 untuk a = 0. Perhatikan notasi berikut: , 0 | | 0, 0 , 0 a a a a a a
Nilai mutlak tidak menimbulkan masalah dalam proses perkalian dan
pembagian, tetapi tidak sama halnya dengan proses penambahan dan pengurangan.
Perhatikan sifat-sifat nilai mutlak berikut:
a. |ab| = |a| |b|
||
b. | | ||

c. |a + b| |a| + |b|
d. |a b| ||a| |b||
e. Pertidaksamaan yang melibatkan nilai mutlak:
|x| < a -a < x < a
|x| > a x < -a atau x > a
contoh:
1. Tentukan himpunan penyelesaian dari |x 4| < 2.
Penyelesaian:
|x 4| < 2
-2 < x 4 < 2
-2 + 4 < x < 2 + 4
2<x<6
Jadi, himpunan penyelesaiannya adalah {x | 2 < x < 6} atau (2, 6).

2.3. SISTEM KOORDINAT RECTANGULAR


Sistem koordinat Cartesius untuk bidang terdiri dari dua sumbu koordinat, sumbu x
dan sumbu y, yang saling tegak lurus dan berpotongan di titik asal (0,0)

.
Bidang Cartesius terbagi atas empat kuadran. Setiap titik pada bidang Cartesius dapat
dinyatakan sebagai pasangan bilangan (x,y), dan sebaliknya pasangan bilangan (x,y)
menyatakan titik tertentu pada bidang.
Jarak antara dua titik P(x1,y1) dan Q(x2,y2) adalah
d(P,Q) = [(x1 x2)2 + (y1 y2)2]1/2 atau D (P, Q) = (2 1)2 + (2 1)2 ,
Persamaan lingkaran yang berpusat di (a,b) dan berjari-jari r pada bidang adalah
(x a)2 + (y b)2 = r2.
Persamaan umum garis lurus pada bidang adalah Ax + By + C = 0, dengan A, B tak
keduanya nol. Jika B 0, persamaan tadi dapat dinyatakan sebagai y = mx + c, dengan
m menyatakan gradien atau kemiringan Garis tersebut. Persamaan garis lurus yang
melalui P(x0,y0) dengan gradien m adalah
y y0 = m(x x0).

2.4. FUNGSI DAN RELASI


2.4.1. pengertian Relasi
a. Relasi antara dua himpunan
Jika A dan B dua himpunan yang tidak kosong, maka didefinisikan:
A B ( x, y ) x A dan y B, A B disebut hasil kali cartesian antara

himpunan A dan B.
Jika R (A B), maka R disebut relasi dari himpunan A ke himpunan B. Relasi
dapat diartikan sebagai aturan yang mengawankan dua himpunan.
Ada beberapa cara menyatakan relasi, yaitu:
a. diagram panah
b. himpunan pasangan berurutan
c. grafik kartesius
Contoh:
Diketahui himpunan A { 1, 2, 4, 5} dan B { 1, 2, 3, 5}, nyatakan relasi dari A
ke B dengan dua lebihnya dari
PenYelesaian:

A B
B
5

1 1 4


2 3
2
3 2

4 5 0 1 2 3 4
1 A
15
Gb. 2.1. contoh diagram panah
5 Gb 2.2. contoh grafik kartesius

2.3. himpunan pasangan berurutan
{(1,1), (4,2), (5,3)}
2.4.2. Pemetaan atau fungsi
Pemetaan atau fungsi f dari himpunan A ke himpunan B adalah suatu relasi yang
menghubungkan setiap anggota A dengan tepat satu anggota pada B. Jadi untuk suatu
fungsi diperlukan syarat:
a. Himpunan A sebagai daerah asal atau daerah definisi (domain).
b. Himpunan B sebagai daerah kawan (kodomain).
c. Himpunan R sebagai daerah hasil (range)
d. Suatu relasi dari himpunan A ke himpunan B yang memetakan setiap anggota A
dengan tepat satu anggota pada B, atau dengan kata lain setiap anggota A dipasangkan
habis tetapi tidak boleh ada satu anggota A yang punya pasangan lebih dari atau
kurang dari satu.
Domain fungsi f biasanya dilambangkan dengan Df sedangkan range fungsi f biasanya
dilambangkan dengan Rf.
Fungsi linier mempunyai persamaan y ax + b, a, b dan a 0. Grafik fungsi linier
berupa garis lurus. Untuk menggambar grafik fungsi linier ada dua cara, yaitu: dengan
tabel dan dengan menentukan titik potong pada sumbu x dan sumbu y.
Contoh:
Gambarlah grafik fungsi y 2x + 2
Penyelesaian:
1. Dengan tabel
X 1 0 1 Y
y 2x + 2
y 2x + 2 0 2 4 4
3
Dari tabel diperoleh titiktitik berupa 2
pasangan koordinat, kita gambar titik 1

tersebut dalam bidang kartesius 1 0 1 2 3 4 X
kemudian dihubungkan sehingga
tampak membentuk garis lurus. Gb. 2.6. grafik fungsi
linier
(gambar 2.6)
2. Dengan titik potong sumbu x dan sumbu y Persamaan garis y 2x + 2, Titik potong
grafik dengan sumbu x:
syarat y 0 0 2x + 2
2x 2
x 1
sehingga titik potong grafik dengan sumbu x adalah ( 1,0) Titik potong grafik
dengan sumbu y: syarat x 0 y 2.(0) + 2 2 sehingga titik potong grafik dengan
sumbu y adalah ( 0,2), Kedua titik potong tersebut digambar dalam bidang kartesius
kemudian dihubungkan sehingga tampak membentuk garis lurus (gambar 2.7).
Y

4 y 2x + 2

2

1. Gradien 1 0 1 2 3 4 X
1
Persamaan garis biasa juga ditulis y mx + c, dengan m, c . Dalam hal ini m
dan c adalah konstanta, dengan m melambangkan gradien (koefisien arah) garis lurus.
Gb. 2.7. Grafik fungsi linier
Gradien adalah konstanta yang menunjukkan tingkat kemiringan garis. Dilihat dari gambar
2.8 maka m dapat dicari sebagai berikut:

y2 y y 2 y1 f x 2 f x1
m
y x x 2 x1 x 2 x1

y1
x m = tan

O x1 x2 X
Pada gambar 2.8, misalkan adalah sudut antara garis horisontal (sejajar sumbu x)
dan grafik fungsi linier dengan arah putaran berlawanan arah dengan arah putaran
Gb. 2.8. Gradien y
jarum jam, maka gradien dapat pula didefinisikan dengan m tan .
x
Jadi Sebagai catatan bahwa
a) Jika m 0 maka grafik sejajar dengan sumbu x dan ini sering disebut sebagai
fungsi konstan.
b) Jika m 0 maka grafik miring ke kanan (0 90)
c) Jika m 0 maka grafik condong ke kiri (90 180)

2. Menentukan persamaan garis melalui satu titik dan bergradien m


Misalkan garis y mx + c melalui titik P(x1,y1), setelah titik (x1,y1) disubstitusikan
ke persamaan garis tersebut diperoleh:
y mx + c
y1 mx1 + c

y y1 m (x x1)
Jadi rumus persamaan garis melalui titik P(x1,y1) dan bergradien m adalah
Contoh:
y y1 m (x x1)
Tentukan
persamaan garis yang melalui P(3,9) dan bergradien 6.
Penyelesaian:
Titik P(3,9) dan gradien m 6 disubstitusikan ke persamaan diatas
y y1 m(x x1)
y 9 6(x 3)
y 6x 18 +9
y 6x 9
Jadi persamaan garisnya adalah y 6x 9.
3. Menentukan persamaan garis melalui dua titik
Persamaan garis melalui dua titik A(x1,y1) dan B(x2,y2) dapat dicari dengan langkah
sebagai berikut:
persamaan garis melalui titik A(x1,y1) dan dengan memisalkan gradiennya m adalah
y y1 m (x x1) . (i)
karena garis ini juga melalui titik B(x2,y2), maka y2 y1 m (x2 x1), sehingga
diperoleh gradien
y y1
m 2 . (ii)
x 2 x1
y y1 x x1
persamaan (ii) disubstitusikan ke (i) diperoleh
y 2 y1 x 2 x1
Jadi persamaan garis melalui dua titik A(x1,y1) dan B(x2,y2) adalah

y y1 x x1

y 2 y1 x 2 x1
2.5. LIMIT
Dengan teorema limit pusat, maka didapatlah 8 sifat limit fungsi, Misalkan n
bilangan bulat positif, f dan g fungsi-fungsi yang mempunyai limit di titik a, dan c suatu
konstanta, berlaku, sebagai berikut :
1. lim x a c = c
2. lim x a xn = an
3. lim x a c f(x) = c lim x a f(x)
4. lim x a ( f(x) + g(x)) = lim x a f(x) + lim x a g(x)
5. lim x a ( f(x) x g(x)) = lim x a f(x) x lim x a g(x)
6. lim x a f(x)/g(x) = (lim x a f(x))/(lim x a g(x))
7. lim x a f(x)n = (lim x a f(x))n
8. lim x a n f(x) = nlim x a f(x)
1. Contoh sifat lim x a c = c
Tentukan nilai lim x 2 7 ??
Jawab :
Dik :
a = 2, c = 7
Masukan semua hal yang diketahui ke dalam rumus lim x a c = c, maka :
lim x 2 7 = 7
Jadi nilai dari lim x 2 7 adalah 7

2. Contoh sifat lim x a xn = an


Tentukan nilai lim x 2 x3 !!!
Jawab :
Dik :
a = 2, n = 3
Masukan semua hal yang diketahui ke dalam rumus lim x a xn = an , maka :
lim x 2 x3 = 23
lim x 2 x3 = 8
Jadi nilai dari lim x 2 x3 adalah 8

3. Contoh sifat lim x a c f(x) = c lim x a f(x)


Tentukan nilai lim x 2 4( x + 2 ) !!!
Jawab :
Dik :
a = 2, c = 4, f(x) = ( x + 2 )
Masukan semua hal yang diketahui ke dalam rumus lim x a c f(x) = c lim x a f(x),
maka:
lim x 2 4( x + 2 ) = 4 (lim x 2 ( 2 + 2 ))
lim x 2 4( x + 2 ) = 4 (lim x 2 4)
lim x 2 4( x + 2 ) = 16
Jadi nilai lim x 2 4( x + 2 ) adalah 16

4. Contoh sifat lim x a ( f(x) + g(x)) = lim x a f(x) + lim x a g(x)


Tentukan nilai lim x 2 ( x3 + x4) !!!!!
Jawab :
dik :
a = 2, f(x) = x3, g(x) = x4
Masukan semua hal yang diketahui ke dalam rumus lim x a ( f(x) + g(x)) =
lim x a f(x) + lim x a g(x), maka :
lim x 2 ( x3 + x4) = lim x 2 x3 + lim x a x4
lim x 2 ( x3 + x4) = 23 + 24
lim x 2 ( x3 + x4) = 8 + 16
lim x 2 ( x3 + x4) = 24
Jadi nilai lim x 2 ( x3 + x4) adalah 24

5. Contoh sifat lim x a ( f(x) x g(x)) = lim x a f(x) x lim x a g(x)


Tentukan nilai lim x 2 ( x3 . x4) !!!!!
Jawab :
dik :
a = 2, f(x) = x3, g(x) = x4
Masukan semua hal yang diketahui ke dalam rumus lim x a ( f(x) x g(x)) = lim x a f(x)
x lim x a g(x), maka :
lim x 2 ( x3 . x4) = lim x 2 x3 . lim x 2 x4
lim x 2 ( x3 . x4) = 23 . 24
lim x 2 ( x3 . x4) = 8 . 16
lim x 2 ( x3 . x4) = 128
Jadi nilai dari lim x 2 ( x3 . x4) adalah 128
6. Contoh sifat lim x a f(x)/g(x) = (lim x a f(x))/(lim x a g(x))
Tentukan nilai lim x 2 ( x4 / x3) !!!!!
Jawab :
dik :
a = 2, f(x) = x4, g(x) = x3
Masukan semua hal yang diketahui ke dalam rumus limx a ( f(x)/g(x)) =
(lim x a f(x))/(lim x a g(x)), maka :
lim x 2 ( x4/x3) = (lim x 2 x4)/(lim x 2 x3)
lim x 2 ( x4/x3) = 24/23
lim x 2 ( x4/x3) = 16/8
lim x 2 ( x4/x3) = 2
Jadi nilai dari lim x 2 ( x4/x3) adalah 2

7. Contoh sifat lim x a f(x)n = (lim x a f(x))n


Tentukan nilai lim x 2 ( x4 + 1)2 !!!!!
Jawab :
Dik :
a = 2, f(x) = x4 + 1, n =2
Masukan semua hal yang diketahui ke dalam rumus lim x a f(x)n = (lim x a f(x))n,
Maka :
lim x 2 ( x4 + 1)2 = (lim x 2 x4 + 1)2
lim x 2 ( x4 + 1)2 = (24 + 1)2
lim x 2 ( x4 + 1)2 = (16 + 1)2
lim x 2 ( x4 + 1)2 = 172
lim x 2 ( x4 + 1)2 = 289
Jadi nilai dari lim x 2 ( x4 + 1)2 adalah 289

8. Contoh sifat lim x a n f(x) = nlim x a f(x)


Tentukan nilai lim x 22x4 !!!!!
Jawab :
Dik :
a = 2, f(x) = x4, n = 2
Masukan semua hal yang diketahui ke dalam rumus lim x a n f(x) = nlim x a f(x),
maka :
lim x 22x4 = 2lim x 2 x4
lim x 22x4 = 224
lim x 22x4 = 216
lim x 22x4 = 4

2.6. INTEGRAL
Cara Menentukan Integral
Cara menentukan integral ini tentu saja bisa ditentukan dengan menggunakan rumus
integral. Rumus integral :

Keterangan :
n : Nilai pangkat pada x
c : Konstanta
xn dx : dibaca integral xn

Contoh Soal :
Tentukan integral dari f(x) = 3x4 - 2x !!
Jawab :
Untuk menentukan integralnya kita gunakan rumus diatas.

Masukan f(x) = 3x4 - 2x ke dalam rumus, maka menjadi :

Maka integral dari f(x) = 3x4 - 2x adalah (3/5)x5 - x2 + c

Rumus Dasar Integral Tak Tentu


dx = x + c
k f(x) dx = k f(x)dx
[f(x) + g(x)dx] = f(x)dx + g(x)dx
axn dx =(a/(n+1))xn+1 + c
Contoh Soal :
Berapakah hasil dari x3 dx ???
a=1
n=3

Jawab :
axn dx =(a/(n+1))xn+1 +c
(1)x3 dx =((1)/(3+1))x3+1 +c
x3 dx = (1/4)x4 + c

Jadi hasil dari x3 dx adalah (1/4)x4 + c

Rumus Integral Substitusi

[ f(u) . (du/dx) ] dx = f(u) . du

Contoh Soal :

Berapakah hasil dari (5x - 2)3 dx ??

Jawab :
misal :
u = 5x - 2
du = 5 dx
dx = 1/5 du

Sehingga :
(5x - 2)3 dx = u3 1/5 du
(5x - 2)3 dx = 1/5 u3 du
(5x - 2)3 dx = 1/5 u3 du
(5x - 2)3 dx = 1/5(1/4 . u4 ) + c
(5x - 2)3 dx = (1/20) . (5x - 2)4 + c

Jadi hasil dari (5x - 2)3 dx adalah (1/20) . (5x - 2)4 + c

Sifat-sifat Integral Tertentu


() =

. () = (), =

[ () + g (x) ] dx = [ () + () dx

() dx = - () dx

() dx + () dx = () dx
Contoh soal :

Berapakah hasil dari ??
Jawab :
22 x dx
aa f(x) dx = 0
22 x dx = 0

Rumus Integral Tertentu


a
b f(x) dx = F(x)]ba = F(b) - F(a)

dengan F(x) adalah anti turunan dari f(x) dalam a < x < b. Bentuk integral di atas disebut
integral tertentu dengan a sebagai batas bawah dan b sebagai batas atas. Definisi integral di
atas dikenal sebagai Teorema Dasar Kalkulus.
Contoh soal :
Hitunglah hasil dari 03 6x2 dx ??
Jawab :
0 6x2 dx = 6 03 x2 dx
3

0
3 6x2 dx = 6 (1/3)x ]30
0
3 6x2 dx = 6 ((1/3 . 33) - (1/3 . 03))
0
3 6x2 dx = 6 (9 - 0)
0
3 6x2 dx = 54

2.7. MATRIKS
2.71. Pengertian Matriks
Dalam ilmu matematika matriks adalah susunan elemen - elemen atau entri - entri
yang berbentuk persegi panjang yang diatur dalam baris dan kolom.
Biasanya matriks dinotasikan dengan uruf capital sedangkan elemen berupa huruf
kecil. Dalam marriks ada yang di sebut dengan ordo matriks. Ordo matriks adalah
banyaknya elemen baris di-ikuti banyaknya kolom
Contoh :

Matrik di atas adalah terdiri atas 2 baris dan 4 kolom, maka matriks tersebut berordo 2 x 4.
Atau matriks tersebut bisa kita lambangkan dengan A2x4.
Jenis-Jenis Matriks
1. Matriks Nol
Matriks nol adalah matriks yang seluruh elemennya adalah 0.
Contoh :

2. Matriks Kolom
Matriks kolom adalah matriks yang terdiri atas 1 kolom saja.
Contoh :

3. Matriks Baris
Matriks baris adalah matriks yang terdiri atas satu baris saja.
Contoh :
[1 2 3]

4. Matriks persegi
Matriks persegi ialah materik yang jumla barisnya sama dengan jumlah kolomnya
Contoh :

5. Matriks Diagonal
Matriks diagonal adalah matriks yang salah satu diagonal utamanya bernilai 0
Contoh :

6. Matriks Segitiga
Ada dau macam matriks segitiga :
a. Matrik segitiga atas
Matrik segitiga atas adalah matriks yang elemen nolnya di bawah diagonal utama.
Contoh :
b. Matrik segitiga bawah
Matriks segitiga bawah adalah matriks yang elemen nolnya di atas diagonal utamnya.
Contoh :

7. Matriks Identitas
Matriks identitas adalah matriks persegi yang semua elemen pada diagonal utamanya 1 dan
elemen lainnya 0.
Contoh :

Transpose Matriks
Transpose matriks ialah proses pertukaran elemen - elemen matriks yang asalnya baris
menjadi kolom begitupun sebaliknya.
Contoh :
A = [1 2 3]
apabila mariks di atas kita tranposekan menjadi
1
AT = 2
3
Basanya transpose matriks dilambangkan dengan AT, dengan A sebagai matriksnya dan T
lambang dari transposenya.

Kesamaan Dua matriks


Dua matriks dikatakan sama, apabila mempunyai ordo sama dan elemen - elemen yang
seletaknya bersesuaian dari kedua matriks tersebut sama.
Contoh :

Operasi Matriks

1. Operasi Penjumlahan Matriks


Untuk lebih jelasnya perhatikan saja contoh berikut
Contoh :

A+B =
2. Operasi Pengurangan Matriks
Untuk lebih jelasnya perhatikan saja contoh berikut
Contoh :

A-B =

3. Operasi Perkalian Matriks


Perkalian dalam matriks ialah dimana kita mengalikan matrik A baris pertama dengan
kolom pertama matriks B, kemudian baris kedua matrik A dengan matriks B kolom ke 2,
begitupun seterusnya. kemudian
Untuk lebih jelasnya perhatikan saja contoh berikut
Contoh :

Determinan Matriks
1. Determinan Matriks Ordo dua
Determinan metariks ordo dua bisa kita cari dengan cara mengalikan diagonal
sebelah kiri kemudian dikurangi dengan diagonal sebelah kanan, Untuk lebih jelasnya
perhatikan saja contoh berikut:
Contoh :

determinan dari matriks di atas adalah (1 x 4) - (3 x 4) = 4 - 12 = -8

2. Determinan Matriks Ordo Tiga


Cara mencari determinan matriks ordo 3 sebenarnya hampir sama namun
perbedaannya untuk matriks ordo 3 supaya jumlah elemen perdiagonalnya sama dita
dengan 2 kolom baru yang masing masing kolom merupakan pengulangan dari elemen"
yang pertama dan kedua. Untuk lebih jelasnya perhatikan saja contoh berikut:
Contoh :
Determinan dari matriks di atas adalah
= (1x2x3 + 2x1x1 + 3x3x2) - (2x3x3 + 1x1x2 + 3x2x1)
= (6 + 2 + 18) - (18 + 2 + 6)
= 26 - 26
=0

Minor, Kofaktor, Adjoin, dan Invers Matriks


1. Minor
Minor biasanya dilambangkan dengan mab , dengan "m" adalah monor "a", adalah
baris, dan "b" adalah kolom. Maka minor adalah suatu elemen yang yang didefinisikan
sebagai determinan submatrik yang tinggal stelah baris ke-a dan setelah kolom ke-b. Untuk
lebih jelah perhatikan contoh berikut :
tentukan minor dari matrik di bawah :

Jawab :
m11 = 4, m12 = 2, m21 = 3, m22 = 1

2. Kofaktor
Kofaktor adalah 1 dipangkatkan dengan jumlah baris ke-a dan kolom ke b
kemudian dikalikan dengan minor mab. Kofaktor kofaktor bisa kita lambangkan dengan cab,
dengan "c" adalah kofaktor, "a" adalah baris, "b" adalah kolom. Untuk lebih jelah
perhatikan contoh berikut :
tentukan kofaktor dari minor matrik di bawah ini :
m11 = 4, m12 = 2, m21 = 3, m22 = 1
Jawab :
c11 = -11+1 x 4 = -12 x 4 = 1 x 4 = 4
c12 = -11+2 x 2 = -13 x 2 = -1 x 2 = -2
c21 = -12+1 x 3 = -13 x 3 = -1 x 3 = -3
c22 = -12+2 x 3 = -14 x 1 = 1 x 1 = 1

3 . Adjoin
Adjoin ialah nilai transpose dari kofaktor matriks. Untuk lebih jelah perhatikan
contoh berikut : tentukan adjoin dari kofaktor berikut :
c11 = 4, c12 = -2, c21 = -3, c22 = 1
Jawab :
Kita ubah kofaktor di atas ke bentuk matrik menjadi :
4 2
A=[ ]
3 1
Kemudian kita transposekan menjadi :
4 3
AT = [ ]
2 1
Dan yang saya tandai warna biru itu adalah adjoin.
4. Invers Matrik
Invers ialah dimana suatu matrik kita pangkat kan dengan (-1). Rumus invers
matriks : A-1 = (1/determinan (A)) x adjoin (A), dengan "A" adalah simbol dari matriks,
Sebenarnya simbol matriks bebas bisa anda beri tanda dengan apapun.
Contoh :
1 2
Jika matriks A = [ ]
3 4
Tentukan Invers A !
Jawab :
yang pertama harus kita cari adalah determinan dari A, Kemudian kita cari adjoinnya dan
tarakhir kita gunakan rumus inverse.
Determinan (A) = ( 1 x 4 ) - ( 2 x 3 )
= 4 - 6
= -2
untuk mencari adjoin (A) kita harus mencari minor kemudian kofaktor.
4 3
Minor (A) = [ ]
2 1
4 3
Kofaktor (A) = [ ]
2 1
Adjoin (A) = Kofaktor transpose A
4 2
A=[ ]
3 1
Maka Inverse dari matriks (A) adalah :
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Bilangan riil merupakan bilangan gabungan dari dua bilangan yaitubilangan
rasional dan bilangan irasional contoh bilangannya -1, 0, 2, 4, 6.
2. Pertidak samaan mempunyai
3.
4.
5.
Daftar pustaka