Anda di halaman 1dari 7

REFLEKSI KASUS

ILMU KEDOKTERAN JIWA

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Kepaniteraan Klinik


Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia

Oleh :
Bunga Dewanggi
14712100

Pembimbing :
dr. Romy Novrizal, M.Kes., Sp. KJ

Pendidikan Klinik Ilmu Kedokteran Jiwa


FK UII RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso
Wonogiri
2015

Page 1
FORM REFLEKSI KASUS
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
_____________________________________________________________________________________
Nama Dokter Muda : Bunga Dewanggi NIM: 14712100
Stase : Ilmu Kedokteran Jiwa

Identitas Pasien
Nama / Inisial : Nn. P No RM : 483246

Umur : 30 tahun Jenis kelamin : perempuan


Pekerjaan : Sutradara Agama : Islam
Diagnosis/ kasus : Skizoafektif tipe depresi DD Depresi berat dengan gejala psikotik

Pengambilan kasus pada minggu ke: 4


Jenis Refleksi: lingkari yang sesuai (minimal pilih 2 aspek, untuk aspek ke-Islaman sifatnya wajib)
a. Ke-Islaman*
b. Etika/ moral
c. Medikolegal
d. Sosial Ekonomi
e. Aspek lain

Form uraian
1. Resume kasus yang diambil (yang menceritakan kondisi lengkap pasien/ kasus yang diambil ).

Pasien datang ke Poli Jiwa pada tanggal 19 Desember 2015 dengan keluhan tidak bisa
tidur. Pasien mengaku akhir-akhir ini kesulitan untuk memulai tidur, keluhan dirasakan sejak 1
bulan terakhir hingga puncaknya pada 3 minggu SMRS pasien tidak bisa tidur sama sekali
selama 5 hari. Ketika ditanya mengapa sulit tidur, pasien mengaku keasyikan bermain hp. Namun
menurut orangtuanya pasien terlihat bingung dan banyak pikiran sehingga tidak bisa tidur.
Makan/minum sedikit. Sering lupa(+). Sering melamun (+). Lemas(+). Mudah lelah(-). Nyeri
tengkuk (+) kadang2.

Pasien merasa overthingking atau terlalu memikirkan sesuatu. Contohnya ketika fokus
melihat suatu benda, ia merasa masuk kedalam benda tersebut, memikirkan susunannya lapis
demi lapis sehingga akhirnya seperti terhisap ke dalam benda itu dan kemudian pusing. Hal
Page 2
tersebut terjadi berulang-ulang di dalam pikirannya. Menurut orangtuanya, ketika fokus pasien
tampak seperti melamun dan ketika dipanggil tidak langsung menyaut. Pasien mengaku merasa
sedih dan marah tetapi tidak bisa mengungkapkan perasaannya tersebut sehingga hanya
dipendam saja selama ini.

Pasien berprofesi sebagai sutradara film di Jakarta dan Jogja, namun karena ibunya tidak
setuju dengan pekerjaannya tersebut, ia kemudian berhenti dari pekerjaannya selama 3 bulan
belakangan ini. Pasien belum pernah mendapat pengobatan. Riwayat keluhan serupa disangkal.
Riwayat mondok di RSJ (-). Riwayat trauma kepala dan kejang sebelumnya disangkal. Tidak
didapatkan riwayat penggunaan zat sebelumnya.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, kesadaran kompos mentis, tensi
120/80 mmHg. Pemeriksaan psikiatri didapatkan mood menurun, afek depresi, pembicaraan
koheren, bentuk pikir non-realistik, halusinasi auditorik, remming, blocking, though echo, dan
waham kejar.
Diagnosis multiaksial : Axis I Skizoafektif tipe depresi DD depresi berat dengan gejala
psikotik; Axis II t.a.d ; Axis IIIt.a.d ; Axis IVmasalah keluarga; Axis VGAF 60-51

2. Latar belakang /alasan ketertarikan pemilihan kasus

Pasien dengan gangguan jiwa seringkali mendapat stigma negative dari masyarakat,
terutama kasus-kasus dengan gejala psikotik seperti skizofrenia maupun skizoafektif.
Skizofrenia mempunyai prevalensi sekitar 1% dari populasi dunia dengan angka insiden 1
per 10.000 orang. Dengan semakin berkembangnya perekonomian, kasus-kasus gangguan jiwa
mengalami peningkatan angka kejadian dikarenakan semakin banyak stressor yang harus
dihadapi di masyarakat. Hal ini tentunya menjadi beban karena pembiayaan dari pengobatan
psikotik membutuhkan jumlah yang tidak sedikit. Ditambah lagi pasien psikotik biasanya
mengalami gangguan kognitif sehingga tidak mampu bekerja seperti sebelumnya.
Di Indonesia sendiri, pengetahuan mengenai pasien gangguan jiwa jenis psikotik masih
sangat minim. Hal ini kemudian menyebabkan keluarga memperlakukan pasien dengan kurang
layak karena menganggap mereka hanya sebagai beban sepanjang hidupnya.
Padahal dengan pengobatan kejiwaan yang semakin maju saat ini, pasien psikotik dapat
mencapai perbaikan yang signifikan. Lima belas-dua puluh persen diantaranya bahkan berhasil
mendapatkan remisi sehingga dapat menjalankan fungsi kehidupannya secara mandiri.

Page 3
Pada kasus Nn.P ini, pasien sebelumnya memiliki pekerjaan yang cukup baik yakni sebagai
sutradara film. Karenanya menjadi tantangan sendiri mengenai pilihan pengobatan agar nantinya
efek samping dari pengobatan tidak mengganggu fungsi kognitif pasien. Selain itu, penting juga
untuk memberi edukasi dan konseling bagi pasien dan keluarganya agar kondisi pasien dapat
teratasi dengan baik.
Alasan tersebut menimbulkan ketertarikan pada saya untuk membahas kasus ini pada
refleksi kasus.

3. Refleksi dari aspek medikolegal

Beneficence
Beneficence yang memiliki arti mengutamakan kepentingan pasien merupakan salah satu prinsip
dari profesionalisme profesi dokter yang harus dijalankan dalam praktek sehari-hari. Pada kasus
Nn.P, sebagai dokter tindakan kita harus dimaksudkan untuk kepentingan penyembuhan pasien.
Begitu juga dengan pemilihan terapi yang akan diberikan serta bagaimana kita memotivasi
pasien untuk menjalani pengobatan tersebut. Pada kasus Nn.P , terapi utama yang perlu
dilakukan adalah pengobatan dengan antipsikotik atipikal dan juga antidepresan guna menangani
gejala psikotik dan menstabilkan mood pasien. Selain itu juga perlu dilakukan terapi kognitif yakni
berupa konseling kepada pasien dan keluarganya agar mampu mengatasi stressor dengan baik
sehingga tidak bergantung pada obat-obatan seumur hidup.

Autonomi
Prinsip autonomi memiliki arti bahwa pasien berhak memutuskan nasibnya sendiri. Tugas dokter
sebagai penyedia layanan kesehatan adalah memberikan informasi kepada pasien terkait
penyakit, pilihan pengobatan yang tersedia, risiko dari setiap tindakan medis yang dilakukan
serta prognosis dari penyakitnya tersebut. Sedangkan pada akhirnya yang akan memilih
pengobatan adalah pasien sendiri.
Pada kasus Nn.P, dengan mempertimbangkan berbagai kondisi, diajukan rencana pengobatan
secara medikamentosa dengan kontrol rutin sembari melihat perkembangan pasien. Pada kasus
ini pengobatan rutin menjadi suatu keharusan, karenanya kita perlu menjelaskan kepada pasien
dan keluarganya mengenai penyebab hal tersebut serta konsekuensi yang dapat terjadi jika
pengobatan dihentikan sepihak tanpa petunjuk dokter. Namun pada akhirnya dokter tetap harus
menghargai keputusan pasien dan keluarganya mengenai keputusan untuk melanjutkan
pengobatan atau tidak apalagi meskipun pasien berasal dari keluarga yang tergolong mampu,

Page 4
namun mengingat biaya yang diperlukan pada pengobatan jangka panjang tidak sedikit, kita
harus dapat mengerti hal tersebut.

Justice

Memperlakukan pasien sama rata dan tidak membeda-bedakan merupakan maksud dari prinsip
justice pada praktek kedokteran sehari-hari. Kita tidak boleh mengistimewakan pasien hanya
karena kedudukan sosial-ekonominya karena sesungguhnya hak pasien untuk mendapatkan
pelayanan medis adalah sama.

Meskipun saat ini pada sistem BPJS berlaku kelas/tingkatan, namun hal tersebut tidak
berpengaruh terhadap standar pelayanan yang diberikan secara adil dan merata pada semua
kelas. Maka, untuk kasus Nn.P yang tidak menggunakan BPJS, sebagai dokter yang profesional,
kualitas pelayanan medis yang diberikan tidak boleh dibedakan dengan pasien non-BPJS.

4. Refleksi dari aspek sosial ekonomi


Dari sisi social ekonomi, gangguan jiwa memerlukan pembiayaan yang cukup besar
dikarenakan harga obat-obatan yang digunakan tergolong mahal dan jangka waktu
pengobatannya yang panjang. Ditambah lagi pasien tidak memiliki fasilitas BPJS sehingga biaya
yang dibutuhkan harus ditanggung sendiri. Karenanya sebagai dokter kita sebaiknya
menyarankan kepada pasien untuk mendaftar sebagai peserta BPJS sehingga tidak pusing
memikirkan tanggungan pengobatannya.
Pada kasus-kasus seperti Nn.P ini, kepedulian dokter sangatlah diperlukan, terutama
karena pasien dan keluarganya meskipun berasal dari keluarga menengah ke atas dan
berpendidikan, namun pengetahuannya mengenai penyakit jiwa masih sangat minim. Merupakan
kewajiban kita untuk membantu mereka memahami hal tersebut sehingga hasil dari pengobatan
dapat dicapai semaksimal mungkin.

5. Refleksi ke-Islaman

Page 5
Dari sisi keislaman banyak hal yang dapat dijadikan pelajaran dari kasus ini :
Pertama, mengajarkan pentingnya bersabar.
Proses pengobatan pada kasus Nn.P memerlukan waktu dan usaha yang tidak sedikit,
karenanya perlu kita mengedukasikan kepada pasien dan keluarganya mengenai keutamaan
bersabar dalam menghadapi sakit yang sedang dialami tersebut. Seperti firman Allah SWT berikut
ini :

Sungguh akan dibayar upah (pahalah) orang-orang yang sabar dengan tiada batas hitungan.
(Q.S. Az-Zumar 10).

Sebegitu besarnya nilai pahala bersabar, sampai-sampai Allah menjanjikan surga sebagai
balasannya, seperti disebutkan pada hadis berikut :

Anas r.a berkata: Saya telah mendengar Rasulullah s.a.w berasabda: Allah SWT telah berfirman:
Apabila Saya menguji seorang hamba-Ku dengan buta kedua matanya, kemudian ia sabar, maka
Saya akan menggantikannya dengan surga (H.R.Buckari)

Kedua, mengajarkan pentingnya bersyukur karena kita masih diberikan kesehatan


Dari Ibnu Abbas radliyallaahu anhuma, dari Nabi shallallaahu alaihi wasallam
bahwasannya beliau berkata kepada seorang laki-laki untuk menasihatinya :

Manfaatkanlah lima (keadaan) sebelum (datangnya) lima (keadaan yang lain) : Hidupmu
sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum waktu sempitmu, masa
mudamu sebelum masa tuamu, dan kayamu sebelum miskinmu [HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi].
Sesungguhnya nikmat sehat merupakan kenikmatan yang sangat mahal dan hampir-
hampir tiada bandingannya. Sehingga di dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu alaihi wasallam
telah menjelaskan tentang betapa berharganya nikmat sehat ini dengan sabdanya:

Page 6


Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan sehat badannya, aman
pada keluarganya, dia memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia
dikumpulkan untuknya.. (HR. Ibnu Majah, no: 4141; dan lain-lain; dan derajatnya dinyatakan
HASAN oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami Ash-Shaghir, no: 5918).
Bersyukur merupakan hal yang mudah diucapkan namun pada kenyataannya seringkali
sulit dilakukan, maka dengan keseharian kita di RS bertemu pasien dan keluarganya dapat
menjadi pengingat bagi kita bahwa kesehatan merupakan rezeki yang patut untuk disyukuri.

Umpan balik dari pembimbing

Wonogiri,...
TTD Dokter Pembimbing TTD Dokter Muda

----------------------------------- --------------------------------

Page 7