Anda di halaman 1dari 6

Fungsi Test Treadmill Dalam Mendiagnosa Penyakit

Jantung Koroner

Tes treadmill adalah pemeriksaan yang paling umum dilakukan oleh dokter jantung untuk
deteksi penyakit jantung koroner.

Tes treadmill juga dilakukan pada pasien pasca perawatan serangan jantung, untuk menilai
tingkat resiko untuk mengalami kejadian akut koroner di kemudian hari dan menentukan
penanganan lebih lanjut. Tes treadmill juga untuk menentukan tingkat aktivitas yang dapat
dilakukan pasien setelah terkena serangan jantung.

Bagaimana Cara Melakukan Test Treadmill Dalam Mendiagnosa Penyakit


Jantung Koroner ?

Pertama-tama, pasien akan dibawa ke ruang treadmill dimana nadi dan tekanan darah saat
istirahat akan direkam. Kemudian elektroda yang berbentuk bulat akan ditempelkan pada
dada dan dihubungkan dengan EKG pada mesin pemeriksaan.Tes ini memakan waktu sekitar
20-40 menit tergantung dari kapasitas latihan Anda dan waktu munculnya gejala. Berikut
merupakan cara melakukan test treadmill dalam mendiagnosa penyakit jantung koroner :

Setalah peralatan di hubungkan untuk memonitor jantung, anda akan di suruh berjalan
perlahan di tempat di atas treadmill.

Kemudian kecepatan akan semakin meningkat, untuk kecepatan yang lebih cepat,
treadmill dimiringkan untuk menghasilkan efek naik sebuah bukit kecil.

Kemudian mungkin anda diminta untuk bernapas ke dalam tabung selama beberapa
menit

Anda juga dapat menghentikan tes setiap saat jika diperlukan

Setelah itu akan duduk atau berbaring untuk memiliki jantung dan tekanan darah
mereka diperiksa.

Ada beberapa pertimbangan yang harus diikuti apabila tes ini akan dihentikan dan Anda tidak
perlu menyelesaikan semua tahapan. Tes ini akan dihentikan apabila target denyut nadi telah
tercapai, atau apabila Anda mengalami gejala seperti nyeri dada, pusing, kenaikan tekanan
darah yang berlebihan, atau kelelahan yang ekstrim.

Bagian kedua dari tes ini adalah periode pemulihan atau fase slowing down.
Kecepatan akan diturunkan secara bertahap dalam 10 menit. Tekanan darah, denyut
jantung, dan EKG Anda akan tetap dipantau selama bagian kedua ini berlangsung.

Meskipun penyakit jantung adalah pembunuh terbesar di Indonesia, kini telah ada kemajuan
luar biasa dalam teknologi medis dalam beberapa tahun terakhir dalam membantu
menyembuhkan dan mencegah penyakit jantung koroner. Jika terdeteksi dalam waktu sedini
mungkin, kebanyakan orang didiagnosis dengan kondisi jantung dapat kembali ke kehidupan
normal.

Fungsi Test Treadmill Dalam Mendiagnosa Penyakit Jantung Koroner

Diposkan oleh Konsultasi Herbal di 10.12


PENGARUH LUMBROKINASE PADA
PENYAKIT ARTERI PERIFER
A PILOT STUDY
Suzanna Ndraha, Henny Tannady, Helena Fabiani, Fendra Wician
Staf Penyakit Dalam FK Ukrida Jakarta

Pendahuluan
Penyakit arteri perifer didefinisikan sebagai obstruksi aliran darah pada percabangan
arteri diluar sirkulasi intrakranial dan sirkulasi koroner. Obstruksi ini terjadi akibat proses
aterotrombosis. Manifestasi klinis utama yang dapat disebabkan oleh aterotrombosis adalah
[1] Strok iskemik, yaitu kematian otak akibat kekurangan pasokan oksigen dan nutrisi, [2]
Transient ischemic attack (TIA), yaitu kekurangan pasokan oksigen dan nutrisi ke otak yang
bersifat sementara, [3] Infark miokard, yaitu serangan jantung/ kematian sel di jantung akibat
kekurangan oksigen dan nutrisi, [4] Angina, yaitu rasa sakit di dada sebelah kiri yang
menjalar, disebabkan oleh kekurangan pasokan oksigen dan nutrisi ke jantung secara sesaat,
dan [5] Penyakit arteri perifer, seperti klaudikasio intermiten, rest pain dan gangren.1
Klasifikasi penyakit arteri perifer berdasarkan progesifitas perjalanan gejala klinis
menurut Fontaine dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Klasifikasi Fontaine penyakit arteri perifer3
Fontaine Classification of PAD
Stadium I Asimptomatik
Stadium II Klaudikasio intermiten
Stadium III Nyeri saat istirahat/ nyeri malam hari
Stadium IV Nekrosis/ gangrene

Faktor risiko terjadinya PAP antara lain adalah usia, rokok, hipertensi, diabetes mellitus,
kurang olah raga, dan obesitas.2, Pada survei ke-3 yang dilakukan National Health and
Nutrition Examination, dilaporkan odds ratio (OR) pada prevalensi tinggi didapatkan pada
kebiasaan merokok, etnis Afro-Amerika, glomerular filtration rate (GFR) < 60 ml/min,
diabetes melitus (DM), dan hiperkolesterolemia (OR, 1.7). Progesivitas PAD hingga stadium
III meningkat pada DM, kebiasaan merokok (OR, 3.0), ABI < 0,7 (OR, 2.0), ABI < 0,5, usia
> 65 tahun, dan hiperkolesterolemia.2
Penyakit arteri perifer sering tidak menimbulkan gejala. Kurang dari 50% pasien PAP
yang mengalami simptomnya. Gejala klinis yang sering muncul pada penyakit arteri perifer
ialah klaudikasio intermiten, yang merupakan stadium II dari klasifikasi Fontaine.3,4 Gejala
ini muncul bila lumen pembuluh darah mengalami obstruksi >50%. Pasien mengeluh merasa
sakit di kaki apabila berjalan atau menaiki tangga tetapi gejalanya hilang apabila pasien
istirahat. Klaudikasio intermiten membatasi kemampuan pasien untuk berjalan dan
beraktivitas.Rasa sakit tidak terbatas hanya pada sensasi nyeri, tetapi juga bisa berupa
langkah terasa berat, kesemutan, ketat dan lemah apabila kaki berjalan atau mendaki.12 Pada
pasien yang mempunyai gejala, sering ditemukan nyeri pada tungkai. Sebagian kecil pasien
PAP berkembang menjadinyeri tungkai walau saat beristirahat dan ulkus iskemik.13
Pengobatan yang ditujukan untuk penyakit ini ialah untuk mengatasi gejala klaudikasio
intermiten, yang meliputi revaskularisasi dan dengan pengobatan non invasif.5
Terdapat beberapa metode yang digunakan untuk mendiagnosis pasien penyakit arteri
perifer, salah satunya adalah ABI. ABI merupakan metode yang sederhana, murah, dan
noninvasive untuk mendiagnosis penyakit ini selain itu ABI juga dapat memprediksikan
resiko kardiovaskular.Pemeriksaan ini menggunakan Doppler USG untuk mengukur tekanan
darah sistolik pada kaki dan lengan atas.Normalnya tekanan darah sistolik pada kaki sedikit
lebih tinggi dibanding lengan atas.Pemeriksaan tekanan darah di kaki dapat dilakukan pada
arteri dorsalis pedis dan arteri tibia posterior. Perbandingan antara arteri brakialis dengan
arteri dorsalis pedis atau arteri tibia posterior normalnya >0.9 (tabel 2).

Tabel 2. Nilai Ankle Brachial Index (ABI)1

Keparahan ABI
penyakit Istirahat Latihan
Normal >0.9 >0.9
Ringan 0.8-0.9 0.5-0.9
Sedang 0.5-0.79 0.15-0.49
Berat <0.5 <0.15

Tabel 3: Kriteria diagnostik PAD berdasarkan pengukuran ABI13

Range Diagnosis
0.91-1.30 Normal
0.70-0.90 Obstruksi ringan
0.40-0.69 Obstruksi sedang
<0,4 Obstruksi berat
Gangguan kompresi

Beberapa tahun ini, cacing tanah (Lumbricus rubellasfamili Lumbricidae) digunakan


secara empiris di Indonesia, Cina, Jepang, dan daerah Asia Timur lainnya untuk mengobati
beberapa penyakit.5 Tahun 1992, Mihara menemukan bahwa cacing tanah secara langsung
dapat melarutkan fibrin dan mengaktifkan plasminogen.9
Lumbrius rubellus ditemukan dari Indonesia, cacing ini memiliki suatu enzim
fibrinolitik yaitu lumbrokinase dan didalamnya telah berhasil diekstrak suatu protein yang
dinamakan DLBS1033.11 Protein ini memiliki efek fibrinolitik, fibrinogenolitik, menurunkan
viskositas darah, menurunkan agregasi trombosit, dan mencetuskan degradasi thrombus di
dalam darah. DBS1033 merupakan agen fibrinolitik yang bekerja cepat dan panjang. Di mana
pada suatu penelitian yang menggunakan fibrin plate,proses lisis yang terjadi pada fibrin
plate mulai berlangsung dalam waktu 1 jam sejak inkubasi dan terus menunjukkan aktifitas
fibrinolitiknya sampai 12 jam.11 Lumbrokinase diserap melalui epitel usus, sehingga dapat
diberikan secara per oral. Saat ini, penggunaan lumbrokinase sebagai obat trombolitik oral
sedang diteliti secara ekstensif, terutama pada penyakit-penyakit vaskular.9,10,11

Suatu pilot study mengenai efikasi lumbrokinase pada perfusi miokard pada penyakit
arteri coroner dengan gejala angina stabil menyatakan bahwa pemberian lumbrokinase
selama 30 hari berkaitan dengan penurunan keparahan iskemik miokard secara objektif. Dari
10 sampel, 6 diantaranya dilaporkan mengalami perbaikan dalam durasi dan frekuensi
angina.Mekanisme lumbrokinase dalam perbaikan gejala ini belum diketahui dengan
jelas.Lumbrokinase mungkin memberikan efek anti iskemik pada jalur yang diketahui
berhubungan dengan agen fibrinolitik, seperti memodifikasi fungsi koagulasi, berefek
langsung pada fungsi endotel atau mencetuskan angiogenesis. Efek antiinflamasi
lumbrokinase juga diduga berpengaruh terhadap penurunan proses arterosklerosis dan
ketidakstabilan plak.5

Daftar Pustaka
1. Garcia, LA. Epidemiology and pathophysiology of lower extremity peripheral arterial
disease. Journal of Endovascular Therapy 2006;13:113.
2. Arain, FA, Cooper LT. Peripheral arterial disease: diagnosis and treatment. Mayo Clinic
Proceedings 2008;83,8:944.
3. Scottish Intercollegiate Guidelines Network. Diagnosis and management peripheral arterial
disease: a national clinical guideline. United Kingdom: NHS Quality Improvement
Scotland:2006.
4. Anonymous. Peripheral Arterial Disease. Updated: 05/02/2008. Diunduh dari url:
http://www.ohiohealth.com/bodymayo.cfm?id=6&action=detail&ref=1341, diakses pada
November 2009.
5. Gey DC, Emil P. Lesho EP, Manngold J. Management of Peripheral Arterial Disease. Am
Fam Physician 2004;69:525-32,533
6. Hiatt WR. Pathophysiology of Intermittent Claudication in Peripheral Arterial Disease.
Cardiology Rounds 2006:10(1). Diunduh dari
http://www.cardiologyrounds.org/crus/cardus0106.pdf, diakses pada Agustus 2012.
7. Belch J, MacCuish A, Campbell I, Cobbe S, Taylor R, Prescott R. The prevention of
progression of arterial disease and diabetes (POPADAD) trial: factorial randomised placebo
controlled trial of aspirin and antioxidants in patients with diabetes and asymptomatic
peripheral arterial disease. BMJ 2008;337:a1840. Diunduh dari
http://www.bmj.com/content/337/bmj.a1840.full, diakses pada Agustus 2012.
8. Castao G, Ms R, Fernndez L, Gmez R, Illnait J. Effects of policosanol and lovastatin in
patients with intermittent claudication: a double-blind comparative pilot study. Angiology.
2003 Jan;54(1):25-38
9. Trisina J, Sunardi F, Suhartono Mt, Tjandrawinata RR. DBLS1033, a protein extract from
lumbricus rubellus, possesses antithrombotic and thrombolytic activities. Journal of
Biomedicine and Biotechnology 2011.
10. Kasim M, Kiat AA, Rohman MS, Hanifah Y, Kiat H. Improved myocardial perfusion in
stable angina pectoris by oral lumbrokinase: a pilot study. The Journal of Alternative and
Complementary Medicine 2009;15(5):539-44.
11. Kurnia F, Tjandrawinata RR. Bioactive protein fraction DLBS1033 exerts its postitive
pleiotropic effect in the vascular cells via down regulation of gene expression. Medicinus
2011;24(1):18.
12. Criqui M.H. Peripheral arterial disease - epidemiological aspects. Vascular Medicine 2001;
6(1suppl):3-7. Diunduh dari url: http://vmj.sagepub.com/cgi/content/abstract/6/1_suppl/3,
diakses pada November 2009.
13. Mahameed A.A Peripheral Arterial Disease. Diunduh dari
url:http://my.clevelandclinic.org/heart/default.aspx, diakses pada Nopember 2009
14. Carmo GAL, Mandil A, Nascimento BR, Arantes BD, Bittencourt JC, Falqueto EB, et al. Can
we measure the ankle-brachial index using only a stethoscope? a pilot study. Family Practice
Advance Access 2008;22-6
15. Lee YH, Shin MH, Kweon SS, Choi JS, Rhee JA, Ahn HR et al.Cumulative smoking
exposure, duration ofsmoking cessation, and peripheral arterial diseasein middle-aged and
older Korean men. BMC Public Health2011;11(94):1-7. Diunduh dari
http://www.biomedcentral.com/content/pdf/1471-2458-11-94.pdf. Diakses pada Agustus
2012.
16. Meijer WT, Hoes AW, Rutgers D, Bots ML, Hofman A, Grobbee DE. Arteriosclerosis,
thrombosis and vascular biology. American Hearth Association 2007;18:185-92.
17. Kugler C, Rudofsky G. The Role of comorbidity burden for patients with symptomatic
peripheral arterial disease (PAD). International Angiology 2003;22:290-301.
18. Eason SL, Petersen NJ, Suarez-Almazor M, Davis B, Collins TC. Diabetes mellitus
smooking, and the risk for asymptomatic peripheral arterial disease : Whom Should We
Screen? JABFP. 2005;18:355-61.
19. Asgeirsdottir LP, Agnarsson U, Jonsson GS. Lower extremity blood flow in healthy men :
effect of smooking, Cholesterol and Physical activity-A Doppler Study Angiology
2001;52:437-45.
20. Meijer WT, Hoes AW, Rutgers D, Bots ML, Hofman A, Grobbee DE. Arteriosclerosis,
thrombosis and vascular biology. American Hearth Association. 2007;18:185-92.
21. Teo KK. Risk Factor for peripheral arterial disease traditional and emerging, lifestyle
modification and evidence for symptom relief. Canadian Cardiovascular Society Consensus
Confrence Peripheral Arterial Disease. 2005.
22. Li S, Huang P, Fu R, et al. Clinical studies of the treatment of 48 arteriosclerosis obliterans
patients with baiao-lumbrokinase. Capital Medicine 1996

Posted by suzanna ndraha at 7:39 AM