Anda di halaman 1dari 7

TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi

Tumor adalah pertumbuhan atau tonjolan abnormal ditubuh kita. Tumor sendiri dibagi menjadi
jinak dan ganas. Tumor mata merupakan penyakit dengan multifactor yang terbentuk dalam jangka
waktu lama dan mengalami kemajuan melalui stadium berbeda-beda. Faktor nutrisi merupakan satu
aspek yang sangat penting, komplek, dan sangat dikaitkan dengan proses patologis tumor. Infeksi
virus seperti pada Papilloma dan neoplasia intraepitel pada konjungtiva juga merupakan penyebab
utama. Selain itu radiasi sinar UV juga menyebabkan terjadinya tumor pada bagian tertentu di mata.
Tumor konjungtiva yaitu tumor yang tumbuh pada lapisan konjungtiva yang melapisi mata
bagian depan.Tumor konjungtiva terbagi menjadi tumor ganas dan jinak. Tumor konjungtiva jinak
yaitu nevus, papiloma konjungtiva,granuloma, dermolimpoma, fibroma dan angioma.Sementara
tumor konjungtiva ganas terdiri dari karsinomadan melanoma.

Anatomi Konjungtiva

Konjungtiva adalah membrane mukosa transparan dan tipis yang membungkus permukaan
posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan permukaan anterior sklera (konjungtiva bulbaris).
Konjungtiva bersambungan dengan kulit pada tepi palpebral (suatu sambungan mukokutan) dan
dengan epitel kornea di limbus.
Konjungtiva palpebralis / tarsalis melapisi permukaan posterior kelopak mata dan melekat
erat ke tarsus. di tepi superior dan inferior tarsus, konjungtiva melipat ke posterior (pada forniks
superior dan inferior) dan membungkus jaringan episklera menjadi konjungtiva bulbaris.
Konjugtiva bulbaris melekat longgar ke septum orbitale di fornices dan melipat berkali-kali.
adanya lipatan-lipatan ini memungkinkan bola mata bergerak dan memperbesar permukaan
konjungtiva sekretorik.(Duktus-duktus kelenjar lakrimal bermuara ke forniks temporal superior).

(Gambar 1. Anatomi Konjungtiva)

Histologi Konjungtiva

Lapisan epitel konjungtiva terdiri atas dua hingga lima lapisan sel epitel silindris bertingkat,
superfisial dan basal.
Sel-sel epitel superfisial mengandung sel-sel goblet bulat atau oval yang mensekresi mucus.
mucus yang terbentuk mendorong inti sel foblet ke tepid an diperlukan untuk disperse lapisan air mata
prakornea secara merata.
Sel-sel epitel basal berwarna lebih pekat dibandingkan dibandingkan sel-sel superfsial dan di
deket limbus dapat mengandung pigmen.
Stroma konjungtiva dibagi menjadi satu lapisan adenoid (superfisial) dan satu lapisan fibrosa
(profundus).
Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid dan di beberapa tempat dapat mengandung
struktur semacam folikel tanpa sentrum germinativum. lapisan adenoid tidak berkembang sampai
setelah bayi berumur 2 atau 3 bulan.
Lapisan fibrosa tersusun dari jaringan penyambung yang melekat pada lempeng tarsus.
Lapisan fibrosa tersusun longgar pada bola mata.
Lapisan lakrimal aksesorius (kelenjar Krause dan Wolfring), yang struktur dan fungsinya
mirip kelenjar lakrimal, terletak di dalam stroma. Sebagian besar kelenjar Krause berada di forniks
atas, sisanya ada di forniks bawah. Kelenjar Wolfring terletak di tepi atas tarsus atas.

Fisiologi Konjungtiva

Konjungtiva mengandung sel goblet yang berfungsi dalam produksi mukus yang merupakan
salah satu lapisan tear film. Selain itu, konjungtiva juga memiliki fungsi dalam melindungi mata dari
patogen melalui mekanisme pertahanan fisik, biokimia, dan imunologis.

2. Klasifikasi

Tumor konjungtiva dibagi menjadi 2:


Tumor jinak primer konjungtiva
Tumor ganas primer konjungtiva

TUMOR JINAK PRIMER KONJUNGTIVA

Nevus
Sepertiga nevus melanositik di konjugtiva tidak berpigmen. Lebih dari setengahnya
mempunyai inklusi epithelial kistik yang bisa terlihat secara klinis.
Secara histologis, nevus konjungtiva terdiri atas sekumpulan atau lembaran sel-sel nevus.
nevus konjungtiva, seperti nevus lain, jarang menjadi ganas. banyak nevus dibuang dengan alasan
estetika atau bila kemungkinan melanoma tidak bisa disingkirkan secara klinis.
Nevus konjungtiva berpigmen harus dibedakan dari melanosis konjungtiva didapat primer.
yang terakhir ini timbul pada usia yang lebih tua (setelah dekade ketiga), biasanya unilateral,
cenderung bertambah atau berkurang pigmentasinya, dan tergantung derajat atipia selulernya,
mempunyai risiko menjadi ganas sekitar 0-90%.

Papiloma
Papiloma konjngtiva terdapat dalam 2 bentuk. papilloma infeksiosa, yang disebabkan oleh
papovavirus, ditemukan pada anak dan dewasa muda, terutama di forniks inferior dan di dekat kantus
medialis. jenis yang satunya berasal dari dasar yang luas, sering kali di dekat limbus, pada dewasa
yang lebih tua, dan mungkin sulit dibedakan dari neoplasia intraepitel konjungtiva.

Radang Granulomatosa
Radang granulomatosa timbul di sekitar benda asing mengelilingi ekstravasasi substansi
sebasea pada kalazion, dan menyertai penyakit seperti coccidioidomycosis dan sarcoidosis. Fokus
peradangan ini bisa membentuk plak-plak atau noduli yang menonjol di kulit atau konjungtiva
palpebrae.
Tumor Dermoid
Tumor kongenital ini tampak berupa massa meninggi kekuningan, yang bulat dan licin, sering
dengan rambut. sebuah tumor dermoid bisa tetap tenang, walaupun ukurannya dapat membesar.
pengangkatan hanya diindikasikan jika deformitasnya jelas atau jika penglihatan terganggu atau
terancam. Dermoid limbus dan dermolipoma adalah lesi tunggal yang paling sering ditemukan, tetapi
kelainan-kelainan tersebut sesekali merupakan bagian dari sindrom dysplasia okuloaurikulovertebral
(sindrom Goldenhar).

Dermolipoma
Dermolipoma adalah tumor kongenital yang sering di jumpai dan umumnya tampak sebagai
pertumbuhan bulat licin di kuadran temporal-atas konjungtiva bulbaris di dekat kantus lateralis. terapi
umumnya tidak diindikasikan, tetapi pembuangan sebagian lesi bisa dilakukan jika pertumbuhannya
semakin besar atau buruk secara kosmetik. Diseksi posterior hendaknya dilakukan dengan sangat hati-
hati (jika dilakukan) karena lesi ini sering menyatu dengan lemak orbita dan otot-otot ekstraokular,
kekacauan orbita dapat menimbulkan parut dan sejumlah komplikasi yang jauh lebih serius dari lesi
awalnya.

Limfoma & Hiperplasia Limfoid


Keduanya adalah lesi konjungtiva yang dapat timbul pada orang dewasa tanpa adanya penyakit
sistemik atau houngan dengan limfoma sistemik atau berbagai diskrasia darah. tampilan klinis
hyperplasia limfoid jinak dapat serupa dengan limfoma maligna sehingga biopsy penting untuk
menegakkan diagnosis. karena banyak di antara tumor-tumor limfoid ini yang mengenai orbita,
mungkin diperlukan pemeriksaan MRI atau CT scan untuk menentukan besar tumor yang sebenarnya.
Kebanyakan limfoma konjungtiva primer merupakan limfoma sel B derajat rendah (limfoma MALT).
Radioterapi meripakan terapi terbaik untuk lesi jinak maupun ganas.

Lesi Vaskular
Angioma konjungtiva dapat berupa hemangioma kapiler soliter berbatas tegas atau berupa
tumor vascular yang lebih difus-yang sering disertai dengan komponan orbita atau palpebra yang lebih
luas. Hemangioma harus dibedakan dari teleangiekstasis yang mengenai kapiler-kapiler konjungtiva.
Pembuluh konjungtiva telangiektatik mungkin berupa lesi tersendiri atau mungkin berkaitan dengan
hamartoma vascular sistemik pada penyakit Rendu-Osler-Weber atau pada telengiektasia-ataksia
(sindrom Louis-Bar)
Granuloma piogenik adalah variasi dari hemangioma kapiler polypoid. granuloma ini sering
tumbuh di konjungtiva palpebralis di atas kalazion atau pada daerah yang baru dibedah.
Pada sarkoma Kaposi yang berhubungan dengan AIDS, mula-mula terlihat nodul nodul
vaskular biru-merah di konjungtiva. Nodul ini ditimbulkan oleh herpesvirus. Radioterapi adalah terapi
paling efektif.
Angiomatosis basilar adalah lesi proliferative vaskular lain yang tampilannya bisa mirip
sarkoma Kaposi. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri gram-negatif dari genus bartonella: B
henselae dari kucing pada pasien-pasien AIDS dan B Quintana dari badan kutu pada tunawisma
berpenghasilan rendah. Tumor-tumor ini berespons terhadap terapi antibiotik.

TUMOR GANAS PRIMER KONJUNGTIVA BULBARIS

Karsinoma
Karsinoma konjungtiva paling sering muncul di limbus, di daerah fossura palpebralis dan lebih
jarang pada daerah konjungtiva yang tertutup. beberapa tumor ini bisa menyerupai pterygium.
kebnyakan memiliki permukaan gelatinosa.Pertumbuhannya perlahan dan sangat jarang terjadi invasi-
dalam serta metastasis sehingga eksisi total dapat menyembuhkan.
Displasia konjungtiva
Adalah suatu keadaan jinak yang timbul sebagai lesi tersendiri atau kadang-kadang di atas
pterygia dan pingekuela dan dapat menyerupai karsinoma in situsecara klinis bahkan secara histologis.
Biopsi eksisi akan menegakkan diagnosis sekaligus menyembuhkan kebanyakan lesi ini.

Melanoma Maligna
Melanoma maligna konjungtiva jarang ditemukan. sebagian besar kelainan ini muncul dari
lokasi melanosis di dapat primer; beberapa dari nevus konjungtiva; sebagian kecil, tampaknya tumbuh
de novo. bebrapa diantaranya bersifat melanotic, sisanya sangat terpigmentasi. penggunaan krioterapi
atau mitomycin C pasca-eksisi tumor melanotic dapat membantu mencegah kekambuhan.

3. Etiologi

1. Paparan UV kronis
UV.A (320 400 nm)
UV.B (280 - 320 nm) Berperan menginduksi keganasan
UV.C (200 280 nm)
SEL NORMAL UV RADIASI MUTASI GEN SEL GANAS UV RADIASI
2. Luka bakar
3. Mutasi gen pengendali pertumbuhan
4. Malformasi congenital
5. Kelainan metabolisme
6. Penyakit vaskuler
7. Inflamasi intraokuler
8. Neoplasma. dapat bersifat ganas atau jinak Neoplasma jinak tumbuh dengan batas tegas dan tidak
menyusup, tidak merusak tetapi menekan jaringan disekitarnya dan biasanya tidak mengalami
metastasis
9. Trauma

4. Epidemiologi

5. Patofisiologi

Tumor konjungtiva meningkatkan volume intraokular dan mempengaruhi massa. Meskipun


masa secara histologis jinak, itu dapat mengganggu pada struktur orbital atau yang berdekatan dengan
mata. Dan bisa juga dianggap ganas apabila mengenai struktur anatomis. Ketajaman visual atau
kompromi lapangan, diplopia, gangguan motilitas luar mata, atau kelainan pupil dapat terjadi dari
invasi atau kompresi isi intraorbital sekunder untuk tumor padat atau perdarahan. Tidak berfungsinya
katup mata atau disfungsi kelenjar lakrimal dapat menyebabkan keratopati eksposur, keratitis, dan
penipisan kornea. Pertumbuhan tumor ini dapat menyebabkan metastasis dengan invasi tumor melalui
nervus optikus ke otak, melalui sklera ke jaringan orbita dan sinus paranasal, dan metastasis jauh ke
sumsum tulang melalui pembuluh darah. Pada fundus terlihat bercak kuning mengkilat, dapat
menonjol ke dalam badan kaca. Di permukaan terdapat neovaskularisasi dan pendarahan. Warna iris
tidak normal.
Gambar Patofisiologi tumor konjungtiva

6. Manifestasi Klinis

Gejala dan Tanda Tumor Mata (Lita, 2005):


a) Nyeri orbital: jelas pada tumor ganas yang tumbuh cepat, namun juga merupakan gambaran
khas 'pseudotumor' jinak dan fistula karotid-kavernosa
b) Proptosis: pergeseran bola mata kedepan adalah gambaran yang sering dijumpai, berjalan
bertahap dan tak nyeri dalam beberapa bulan atau tahun (tumor jinak) atau cepat (lesi ganas).
c) Pembengkakan kelopak: mungkin jelas pada pseudotumor, eksoftalmos endokrin atau fistula
karotid-kavernosa
d) Palpasi: bisa menunjukkan massa yang menyebabkan distorsi kelopak atau bola mata, terutama
dengan tumor kelenjar lakrimal atau dengan mukosel.
e) Gerak mata: sering terbatas oleh sebab mekanis, namun bila nyata, mungkin akibat
oftalmoplegia endokrin atau dari lesi saraf III, IV, dan VI pada fisura orbital (misalnya sindroma
Tolosa Hunt) atau sinus kavernosus
f) Ketajaman penglihatan: mungkin terganggu langsung akibat terkenanya saraf optik atau retina,
atau tak langsung akibat kerusakan vaskuler.
7. Diagnosis

Anamnesis
Pasien merasakan seperti adanya masa pada konjungtiva
Iritasi dan mata merah bisa berminggu-minggu atau tahun tetapi sering dalam bulanan
Visual hanya akan terganggu pada fase akhir dimana aksis visual juga sudah terganggu

Pemeriksaan diagnostik pada mata secara umum sebagai berikut :


a) Kartu mata Snellen/ mesin telebinokular (tes ketajaman penglihatan dan sentral penglihatan) ;
mungkin terganggu dengan kerusaakan kornea, lensa, aqueus atau vitreus
b) Lapang penglihatan ; penurunanan yang disebabkan oleh massa tumor pada hipofisis/ otak,
karotis atau patologis arteri serebral atau Glaukoma.
c) Tonografi ; mengkaji intraokuler (TIO) (normal 12-25 mmHg)
d) Oftalmoskopi ; mengkaji struktur internal okuler, mencatat atrofi lempeng optic, papiledema,
perdarahan retina dan mikroanurisme.
e) Pemeriksaan darah lengkah, laju sedimentasi (LED) ; menunjukkan anemia sistemik / infeksi.

Pemeriksaan Penunjang:
a) Pemeriksaan radiologik : untuk melihat ukuran rongga orbita, terjadinya kerusakan tulang,
terdapat perkapuran pada tumor dan kelainan foramen optik
b) Pemeriksaan ultrasonografi : untuk mendapatkan kesan bentuk tumor, konsistensi tumor,
teraturnya susunan tumor dan adanya infiltrasi tumor.
c) CT-scan : untuk menentukan ganas atau jinak tumor, adanya vaskularisasi pada tumor dan
terjadinya perkapuran pada tumor.
d) Arteriografi : untuk melihat besar tumor yang mengakibatkan bergesernya pembuluh darah
disekitar tumor, adanye pembuluh darah dalam tumor. (Sidarta, ilyas. 2005)

Tumor Jinak konjungtiva


A. Nevus
Gejala pada nevus adalah gangguan pada pertumbuhan pembuluh darah, silau, gangguan
penglihatan, dan bisa menyebabkan ablasio retina.

B. Papilloma
Papilloma terdapat 2 bentuk yaitu pedunkel dan sesil. Gejala pada papilloma bisa terjadi pada
satu atau dua mata, pada bentuk pedunkel biasanya bilateral, bisa dengan atau tanpa gangguan visus.

C. Radang Granulomatosa
Granuloma adalah tumor jinak pada konjungtiva yang terjadi pada hemangioma yang tidak
aktif. Tidak ada pus, tidak ada giant sel. Dapat ditemukan adanya pedunkel yang bewarna merah, dan
lesi yang halus.
D. Tumor Dermoid
Bersifat kongenital, morfologinya bulat halus kekuningan, terdapat elemen rambut dan tumbuh
pada pubertas. Tumor dermoid biasanya terletak di limbus kornea, sementara kista dermoid umumnya
terletak di konjungtiva atau di bawah kulit.

E. Limfoma & Hiperplasi Limfoid


Biasanya mengenai orang dewasa, tidak ada hubungan dengan penyakit sistemik, lipoma akan
memberikan gambaran kuning pada konjungtiva atas.
Tumor Ganas Konjungtiva

Karsinoma Sel Skuamosa


Ditemukan lesi seperti agar-agar (gelatinous) dengan pembuluh darah superficial, dengan
atau bentuk seperti papil, atau leukoplakia dengan plak keratin menutupi lesi.
Bisa memiliki bentuk nodular sekiranya merupakan karsinoma sel skuamosa tipe invasive
atau bisa juga timbul sebagai lesi yang difus dan menyamar sebagai konjungtivitis kronis.
Sekiranya sudah bermetastase, bisa ditemukan pembesaran KGB pada periaurikuler, servikal
dan submandibula.

Melanoma Maligna
Nodul single, abu-abu, hitam atau tidak berwarna yang tervaskularisasi yang menempel pada
episklera; seringkali di daerah limbus
Dapat bermetastasis ke kelenjar KGB, paru, hati atau otak

8. Diagnosis Banding

Lois, N, Hossain, P, & Azuara-Blanco, A 2012, Diagnostic Technologies In Ophthalmology, [United


Arab Emirates]: Bentham Science Publishers, eBook Collection (EBSCOhost), EBSCOhost, viewed
1 September 2017.

Tsai, JC 2011, Oxford American Handbook Of Ophthalmology, Oxford: Oxford University Press,
eBook Collection (EBSCOhost), EBSCOhost, viewed 1 September 2017.

Riordan, P. (2017). Vaughan & Asbury "Oftalmologi Umum" Edisi 17. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.

Sidharto B. Tumor Mata. [cited 2014 Desember 9]. Available from:


http://kedokteranebook.blogspot.com/2013/12/jenis-dan-macam-tumor-mata-eye-tumors.html