Anda di halaman 1dari 10

Air Sebagai Komponen Tumbuhan

Anisyah Ayu Suryaningsih


(1610421020)
1b Kelas A
Email: anisyahayu@gmail.com

ABSTRAK
Pratikum tentang air sebagai komponen tumbuhan dilaksanakan pada hari Selasa, 29
Agustus 2017, di Laboratorium Pendidikan IV, Universitas Andalas, Padang. Dengan tiga
percobaan yaitu percobaan pertama plasmolisis dan deplasmolisis pada jaringan
epidermis untuk melihat peristiwa plasmolisis dan deplasmolisis pada jaringan epidermis
Rhoeo discolor, percobaan kedua penentuan tekanan osmotik cairan sel untuk
menghitung tekanan osmosis cairan sel, percobaan ketiga mengukur potensial air
jaringan dengan metode chardakov untuk mengetahui cara mengukur potensial air
dengan metode chardakov . Pada percobaan pertama dimana Rhoeo discolor ditetesi
sukrosa 1 M, plasmolisis lebih lama terjadi dari pada deplasmolisis. Percobaan kedua sel
yang mengalami insipient plasmolisis sempurna yaitu 100% pada konsentrasi 0,16 M.
Percobaan ketiga larutan sukrosa yang di tetesi methilen blue maka terjadi terjadi arah
pergerakan yang berbeda. 0,2 M melayang, 0,1 M, 0,3 M, 0,4 M, 0,5 M memantul dan
0,6 M tenggelam.

Kata kunci : plasmolisis dan deplasmolisis, tekanan osmotik, potensial air


chardakov, dan Rhoeo discolor.

PENDAHULUAN Tanaman herba menyerap air lebih


Air merupakan komponen utama banyak dibandingkan tanaman
tanaman, yaitu membentuk 80-90 % perdu. Tumbuhan golongan xerofit
bobot segar jaringan yang sedang yang hidup di daerah gurun, akan
tumbuh aktif. Air sebagai komponen memanfaatkan hujan yang datang
esensial tanaman memiliki peranan sekali setahun untuk mulai hidup
antara lain: (a) sebagai pelarut, di dan berkecambah, berbunga,
dalamnya terdapat gas, garam, dan berbuah dan mati sebelum air yang
zat terlarut lainnya, yang bergerak ada dalam tanah habis
keluar masuk sel (b) sebagai (Dwijoseputro, 1994).
pereaksi dalam fotosintesis dan Pentingnya air sebagai pelarut
pada berbagai proses hidrolisis (c) dalam organisme tampak jelas,
air esensial untuk menjaga turgiditas misalnya pada proses osmosis.
diantaranya dalam pembesaran sel, Dalam satu daun, volume sel
pembukaan stomata dan dibatasi oleh dinding sel dan relatif
menyangga bentuk daun-daun muda hanya sedikit aliran air yang dapat
atau struktur lainnya (Levitt, 1980). diakomodasi oleh elastisitas dinding
Kuantitas air yang dibutuhkan sel. Konsekuensi tekanan hidrostatis
oleh tanaman sangat berbeda-beda (tekanan turgor) berkembang dalam
sesuai dengan jenis dan lingkungan vakuola menekan sitoplasma
dimana tumbuhan itu hidup. melawan permukaan dalam dinding
sel dan meningkatkan potensial air melekul-molekul air secara cepat,
vakuola. Dengan naiknya tekanan tetapi menghalangi molekul yang
turgor, sel-sel yang berdekatan lebih besar (Dwidjoseputro,1984).
saling menekan, dengan hasil Tekanan osmosis cairan
bahwa sehelai daun yang mulanya dapat ditentukan dengan cara
dalam keadaan layu menjadi mencari suatu larutan yang
bertambah segar (turgid). Pada mempunyai tekanan osmosis sama
keadaaan seimbang, tekanan turgor dengan cairan tersebut. Dalam cara
menjadi atau mempunyai nilai ini kita dapat mengambil patokan
maksimum dan disini air tidak pada terjadinya peristiwa plasmolisis
cenderung mengalir dari apoplast ke sel.dalam keadan insipien
vakuola (Fitter dan Hay, 1991). plasmolisis tekanan osmosis cairan
Berbeda dengan sel hewan, sel sel adalah sama dengan tekanan
tumbuhan mempunyai dinding sel, osmosis larutan dalam massa
hal ini mengakibatkan timbulnya jaringan sel tersebut direndam.
tekanan hidrostatik yang disebut Plasmolisis dapat dilihat dibawah
turgor, hasil dari perimbangan air mikroskop sebagai suatu percobaan
tersebut. Tekanan turgor sangat (Lakitan, 2004).
penting untuk berbagai proses Adanya potensial osmosis
fisiologis, antara lain pembesaran cairan sel air murni cenderung untuk
sel, pertukaran gas pada daun, memasuki sel, sedangkan potensial
transpor dalam floem, serta proses turgor yang berada di dalam sel
transpor melintasi membran. mengakibatkan air untuk cenderung
Tekanan turgor juga berperan dalam meninggalkan sel. Saat pengaturan
kekakuan serta kestabilan mekanis potensial osmosis maka potensial
jaringan tanaman (Steudle, 2001). turgor harus sama dengan 0. Agar
Secara sederhana dapat potensial turgor sama dengan 0
dikatakan bahwa osmosis adalah maka haruslah terjadi plasmolisis.
difusi air melalui selaput yang Plasmolisis adalah suatu proses
permeabel secara differensial dari lepasnya protoplasma dari dinding
suatu tempat berkonsentrasi tinggi sel yang diakibatkan keluarnya
ketempat berkonsentrasi rendah. sebagian air dari vakuola (Salisbury
Pertukaran air antara sel dan and Ross, 1992). Penentuan nilai
lingkungan adalah suatu faktor yang osmotic cairan sel dapat pula
sangat penting sehingga dilakukan dengan metode
memerlukan suatu penamaan Chardakov.
khusus yaitu osmosis( Plasmolisis adalah suatu
Salisbury,1995). proses lepasnya protoplasma dari
Suatu percobaan yang dinding sel yang diakibatkan
menunjukan proses osmosis adalah keluarnya sebagian air dari vakuola
suatu percobaan yang mengamati (Salisbury and Ross, 1992). Menurut
suatu lubang bawah dari tabung Tjitrosomo (1987), jika sel
gelas ditutup dengan selaput. dimasukan ke dalam larutan gula,
Selaput itu berfungsi sebagai maka arah gerak air neto ditentukan
membran permeabel secara oleh perbedaan nilai potensial air
diferensiasi, yang meloloskan larutan dengan nilainya didalam sel.
Jika potensial larutan lebih tinggi, air Tapi konsentrasi medium dibuat
akan bergerak dari luar ke dalam hipotonis sehingga yang terjadi
sel, bila potensial larutan lebih adalah cairan memenuhi ruang antar
rendah maka yang terjadi dinding sel dengan membran sel
sebaliknya, artinya sel akan bergerak keluar, sedangkan air yang
kehilangan air. Apabila kehilangan berada di luar bergerak masuk ke
air itu cukup besar, maka ada dalam dan dapat menembus
kemungkinan bahwa volume sel membran sel karena membran sel
akan menurun demikian besarnya mengizinkan molekul-molekul air
sehingga tidak dapat mengisi untuk masuk ke dalam. Masuknya
seluruh ruangan yang dibentuk oleh molekul ari ke dalam tersebut
dinding sel. Membran dan mengakibatkan ruang sitoplasma
sitoplasma akan terlepas dari terisi kembali dengan cairan
dinding sel, keadaan ini dinamakan sehingga membran sel kembali
plasmolisis. Sel daun Rhoeo discolor dengan cairan sehingga akibat
yang dimasukan ke dalam larutan timbulnya tekanan turgor akibat gaya
sukrosa mengalami plasmolisis. kohesi dan adhesi air yang masuk.
Semakin tinggi konsentrasi larutan Akhir dari peristiwa ini adalah sel
maka semakin banyak sel yang kembali ke keadaan semula
mengalami plasmolisis. (Ferdinan dan Ariwibowo, 2007).
Keadaan volume vakuola Percobaan ini bertujuan untuk
dapat untuk menahan protoplsma melihat peristiwa plasmolysis dan
agar tetap menempel pada dinding deplasmolisis pada jaringan
sel sehingga kehilangan sedikit air epidermis, menghitung tekanan
saja akan berakibat lepasnya osmosis cairan, dan mengetahui
protoplasma dari dinding sel. cara mengukur potensial air dengan
Peristiwa plasmolisis seperti ini metode Chardakov.
disebut plasmolisis insipien.
Plasmolisis insipien terjadi pada METODE PRAKTIKUM
jaringan yang separuh jumlahnya Waktu dan Tempat
selnya mengalami plasmolisis. Hal Praktikum ini dilaksanakan pada hari
ini terjadi karena tekanan di dalam Selasa 29 Agustus 2017 pada pukul
sel = 0. potensial osmotik larutan 13.30 WIB di Laboratorium Fisiologi
penyebab plasmolisis insipien Tumbuhan Universitas Andalas,
setara dengan potensial osmotik di Padang.
dalam sel setelah keseimbangan
Alat dan Bahan
dengan larutan tercapai (Salisbury
Alatnya adalah mikroskop, kaca
and Ross, 1992).
objek, cover glass, pisau, silet,
Kondisi sel yang
tabung reaksi, alat pengebor gabus,
terplasmolisis tersebut dapat
pipet tetes, penangas air,
dikembalikan ke kondisi semula.
termometer, alumunium foil dan
Pengembalian dari kondisi
pendingin air. Bahannya adalah
terplasmolisis ke kondisi semula ini
Rhoe discolor, Ipomea batatas, NaCl
dikenal dengan istilah deplasmolisis.
1 M, larutan glukosa dengan
Prinsip kerja dari deplasmolisis ini
konsentrasi 0,24 :0,22 :0,20 :0,18 :
hamper sama dengan plasmolisis.
0,16 :0,14 :0,12 :0,10 M :0,1 M: 0,2
M :0,3 M :0,4 M :0,5 M :0,6 M, Disiapkan 7 buah tabung reaksi, diisi
larutan Aquades, metilen blue, larutan glukosa atau sukrosa ke
methanol dan aseton. dalam tabung kira-kira 1/3 bagian,
satu tabung reaksi untuk satu
Cara Kerja konsentrasi. Kemudian disayat
Percobaan A. Plasmolisis dan selapis tipis lapisan epidermis Rhoe
deplasmolisis pada jaringan discolor dengan menggunakan pisau
epidermis. silet dan diamati pada mikroskop.
Hitung jumlah sel yang bewarna
Permukaan epidermis bawah Rhoe ungu utuh kemudian dimasukkan
discolor disayat selapis tipis dengan kembali ke tabung reaksi dan
menggunakan pisau silet yang dibiarkan selama 30 menit. Setelah
tajam. Potongan tersebut diletakkan 30 menit, hitung kembali sel
pada kaca objek dan ditetesi 2-3 bewarna ungu yang masih utuh.
tetes air, ditutup dengan cover glass Dicari konsentrasi sukrosa dimana
dan diamati dibawah mikroskop 50% dari jumlah sel epidermis tadi
dengan perbesaran rendah. Sel-sel telah terplasmolisis. Keadaan ini
yang bewarna ungu ditepi irisan disebut dengan insipient Plasmolisis.
diamati antara lain adanya sel-sel Lalu tentukan potensial osmotic sel
yang tidak berpigmen, adanya pada insipient Plasmolisis.
nucleus, dan partikel subsel lainnya
didalam sel. Kemudian ditambah 2- Percobaan C. Mengukur potensi air
3 tetes sukrosa 1 M diantara gelas dengan metoda Chardakov.
preparat dan kaca penutup melalui
salah satu sisinya. Air yang Diisi tabung reaksi dengan larutan
berlebihan di tepi kaca dilap dengan sukrosa yang telah disediakan
mengunakan tissue. Penambahan masing-masing sebanyak 10 ml.
tetesan larutan sukrosa terus Dibuat potongan umbi Ipoemea
dilakukan sehingga ikut terserap batatas dengan menggunakan
oleh kertas tissue kedalam kaca. pengebor gabus. Kemudian
Kemudian diamati penurunan dimasukkan kedalam masing-
volume protoplas dan perhatikan masing tabung reaksi 10 potongan
benang-benang sitoplasmatik tak tadi. Tabung reaksi ditutup dan
berpigmen tetap melekat pada dibiarkan selama 80 menit. Setiap
dinding sel dan dicatat waktunya. 20 menit tabung digoyangkan untuk
Lalu kertas tissue diletakkan untuk mempercepat terjadinya
menyerap sukrosa 1M dan keseimbangan. Setelah 80 menit
ditambahkan lagi beberapa tetes air potongan umbi dikeluarkan,
disisi kaca berlawanan. Diamati. kemudian larutan sisa ditetesi
Lakukan hal yang sama untuk dengan larutan asal yang
larutan sukrosa 1 M ditambahkan konsentrasinya sama dan telah
dengan air. diwarnai dengan metilen blue,
Percobaan B. Penentuan tekanan diamati gerakan larutan pengetas
osmosis cairan sel. tadi. Dilihat apakah larutan tersebut
jatuh kedasar, melayang, atau
tenggelam pada sisa larutan.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Dari praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan hasil sebagai berikut :

A. Plasmolisis dan deplasmolisis pada jaringan epidermis Rhoe discolor

Tabel 1. Pengamatan sel plasmolisis dan deplasmolisis.

Perlakuan Deskripsi Pengamatan Sel Waktu


Air Sel tampak normal dan pigmen warna pada sel -
destilata merata
Sukrosa Setelah ditetesi sukrosa 1M sel mengalami 12 menit
penyusutan, warna pigmen ungu pada sel terjadi
pengurangan dalam waktu yang cukup lama
Air Membran sel mengalami deplasmolisis 7 Menit
destilata

Berdasarkan praktikum yang telah selama 45 menit ternyata dapat


dilaksanakan, didapatkan hasil yaitu menyebabkan penurunan daya
pada perlakuan pertama dimana hidup kultur hingga 30% sehingga
sayatan epidermis Rhoeo discolor perlakuan tersebut tidak
yang ditambahkan aquades direkomendasikan. Perlakuan yang
menunjukkan sel berada dalam optimal adalah durasi rendam 30
keadaan normal, dimana dinding sel menit.
tidak mengalami pengkerutan dan Kembalinya kondisi sel yang
sel memiliki banyak pigmen telah terplasmolisis ke keadaan
antosianin. Kemudian sel mengalami semula disebut dengan
plasmolisis ketika ditambahkan deplasmolisis. Deplasmolisis
dengan sukrosa selama 12 menit, merupakan kebalikan dari
yaitu dinding sel mengalami plasmolisis, yaitu menyatunya
pengekerutan dan banyak sel yang kembali membran plasma yang telah
kehilangan pigmen antosianin. lepas dari dinding sel. Deplasmolisis
Selanjutnya sel akan mengalami terjadi jika sel tumbuhan diletakkan
deplasmolisis selama 7 menit, di larutan hipotonik, sel tumbuhan
dimana dinding sel mulai akan menyerap air dan juga tekanan
mengembah dan jumlah sel yang turgor meningkat. Banyaknya air
berpigmen hampir mendekati jumlah yang masuk ke dalam sel akan
sel saat keadaan normal. menyebabkan terjadinya
Menurut ((Rostika, (2007), deplasmolisis. Membran plasma
sebagaimana diketahui bahwa akan mengembang sehingga akan
plasmolisis dapat terjadi pada melekat kembali pada dinding sel
lingkungan dengan molaritas yang (Campbell, 2002).
tinggi, dan durasi yang lebih lama Hal ini menandakan bahwa
akan memperparah tingkat sel akan kembali pulih jika diberikan
plasmolisis sel. Durasi rendam penetralan atau dibilas dengan
pelarut murni seperti air. Air dapat dengan potensial osmosis 100 %.
melarutkan lebih banyak jenis bahan Hal ini dikarenakan dibutuhkan dua
kimia dibandingkan dengan zat cair kali lipat molekul air yang akan
lainnya. Sifat ini disebabkan karena terlibat dalam proses pelarutan bila
air memiliki konstanta dielektrik yang jumlah gula setara (yang tidak
sangat tinggi . Konstanta merupakan berdisosiasi) ditempatkan dalam
ukuran untuk menetralisisr daya tarik larutan. Selain itu, karena molekul-
menarik antara molekul atau atom molekul pelarut sekarang
yang bermuatan listrik berbeda berinteraksi dengan dua partikel
(Lakitan, 2004). untuk setiap satu pertemuan, lebih
banyak energi, yang berasal dari
B. Penentuan tekanan osmotik energi kinetik molekul pelarut,
cairan sel. yang akan diperlukan secara
proporsional untuk proses pelarutan.
Tabel 2. Penentuan tekanan osmotik
Semakin tinggi konsentrasi maka
cairan sel.
akan semakin tinggi jumlah sel yang
No Konsentrasi Presentase terplasmolisis. Dan mungkin
(M) plasmolisis terjadinya kesalahan dalam
praktikum sehingga hasilnya kurang
akurat.
1. 0,24 100%
Larutan yang di dalamnya
2. 0,22 76%
terdapat sekumpulan sel dimana
3. 0,20 20%
50% berplasmolisis dan 50% tidak
4. 0,18 66%
berplasmolisis disebut plasmolisis
5. 0,16 100%
insipien. Plasmolisis ini terjadi
6. 0,14 100%
apabila sel berada dalam keadaan
7. 0,12 30%
tanpa tekanan. Nilai potensial
8. 0,10 100%
osmosis sel dapat diketahui dengan
menghitung nilai potensial osmosis
Berdasarkan praktikum yang telah larutan sukrosa yang isotonik
dilaksanakan, maka dapat diketahui terhadap cairan sel. Menurut
bahwa tekanan osmotik yang Salisbury dan Ross (1992), potensial
diberikan oleh masing-masing air murni pada tekanan atmosfer dan
konsentrasi akan berbeda-beda. Hal suhu yang sama dengan larutan
itu dapat dilihat pada presentase tersebut sama dengan nol, maka
plasmolisis yang terjadi pada daun potensial air suatu larutan air pada
Rhoeo discolor yang juga berbeda. tekanan atmosfer bernilai negatif.
Penentuan ini dilakukan dengan Hal ini disebabkan oleh
cara menghitung jumlah sel yang tingginya molaritas media dengan
berwarna ungu di awal dan sel yang sukrosa berkonsentrasi tinggi
berwarna ungu diakhir setelah sehingga sel mengalami plasmolisis
dilakukan perendaman dalam di mana proses keluarnya air dari
kosentrasi larutan yang berbeda. dalam sel justru lebih
Berdasarkan hasil praktikum, dominan dari pada proses
plasmolisis terjadi pada konsentrasi penyerapan nutrisi. Sebagaimana
0,10 M, 0,14 M, 0,16 M dan 0,24 M sifat membran sel yang semi
permeabel, sel akan menyerap 0,5 M ternyata larutan metilen blue
nutrisi (bersama dengan penyerapan memantul dan 0,6 M tenggelam. Hal
air) jika molaritas larutan pada ini menunjukkan bahwa larutan
lingkungannya adalah lebih rendah sukrosa tersebut telah menjadi pekat
daripada molaritas cairan di dalam karena ada air dari larutan yang
sel (Rostika, 2007). masuk ke dalam daun. Dengan kata
Dari 8 perlakuan, 7 perlakuan lain, potensial air larutan sukrosa
dengan konsentrasi sukrosa tersebut lebih besar dibandingkan
berbeda mengalami plasmolisis dengan potensial air daun Rhoeo
sedangkan 1 perlakuan yang discolor. Selanjutnya, pada larutan
dijadikan kontrol tidak mengalami sukrosa 0,2 M larutan metilen blue
plasmolisis. Hal ini sesuai dengan melayang. Hal ini menandakan tidak
pendapat Tjitrosomo (1987), bahwa terjadinya perubahan konsentrasi.
sel yang isinya air murni tidak Peristiwa ini tidak akan terjadi
mengalami plasmolisis. Jika suatu apabila tidak terdapat kesalahan
sel dimasukan ke dalam air murni, dalam proses pengerjaan, yaitu
maka struktur sel itu terdapat kecerobohan praktikan. Pada saat
potensial air yang nilainya tinggi (0), pengujian larutan, penetesan metilen
sedangkan di dalam sel terdapat blue dilakukan tanpa
nilai potensial air yang lebih rendah menghomogenkan larutan sukrosa
(negatif). Hal ini menyebabkan air terlebih dahulu sehingga larutan
akan bergerak dari luar sel masuk ke metilen blue melayang pada larutan
dalam sel sampai tercapai keadaan sukrosa. Selain itu, pinset yang
setimbang. digunakan pada saat pengambilan
daun tidak dibedakan sehingga
B. Mengukur Potensi air jaringan konsentrasi larutan sukrosa antara
dengan metoda chardakov larutan sukrosa yang lain
bercampur.
Tabel 3. Menentukan Potensial Larutan yang lebih pekat
jaringan dengan metode chardakov memiliki potensial air yang lebih
rendah (lebih negatif). Jadi air akan
No Konsentrasi Hasil berdifusi ke daerahnya atau larutan
(M) Pengujian lain sampai tekanannya naik ke atas
1. 0,1 Memantul suatu titik yaitu sampai potensial air
2. 0,2 Melayang larutan yang kurang pekat.
3. 0,3 Memantul Larutannya pekat maka potongan
4. 0,4 Memantul jaringan tenggelam dan akan
5. 0,5 Memantul melayang, jika potensial air jaringan
6. 0,6 Tenggelam sama dengan potensial larutan.
Sedangkan potongan jaringan akan
Berdasarkan praktikum yang telah mengapung, jika potensial jaringan
dilaksanakan, dilakukan perlakuan lebih besar atau encer dibandingkan
pada larutan ubi jalar (Ipomea dengan potensial air larutan. Nilai
batatas) didapatkan hasil seperti potensial osmotik pada pengetesan
pada tabel diatas pada konsentrasi larutan sisa yang melayang bernilai
larutan sukrosa 0,1 M, 0,3 M, 0,4 M, negatif yaitu sebesar -2,48 Bar.
Dimana dikatakan bahwa potensial Fitter, A.H dan R.K.M. Hay. 1998.
air negatif apabila potensial kimia air Fisiologi Lingkungan
dalam system lebih rendah daripada Tanaman.Yogyakarta :
Gadjah Mada University
potensial kimia air murni acuan dan
Press.
acuan apabila potensial kimia dalam
air tersebut lebih besar dari potensial Hayati. 2002 . http:
air murni acuan. Semakin besar //scholar.google.co.id/schol
konsentrasinya maka nilai ar?q= komposisi+kimia+
osmotiknya semakin kecil, begitupun membran + sel &hl=id
diakses pada 2 September
sebaliknya (Salisbury dan 2017
Ross,1995).
Lakitan, Benjamin. 2004. Dasar-
KESIMPULAN Dasar Fisiologi Tumbuhan.
Jakarta: PT. Raja
Berdasarkan praktikum yang telah Grafindo Persada. .
dilaksanakan maka dapat ditarik
kesimpulan yaitu: Levitt, J. 1980. Responses of plants
to environmental stresses:
1. Plasmolisis terjadi lebih lama Water, radiation, salt, and
daripada Deplasmolisis, other stresses. Vol II.
Academic Press. New York-
Plasmolisis terjadi selama 12
London;Toronto;Sydney-
menit dan deplasmolisis terjadi San Francisco.
selama 7 menit.
Rostika. 2007. Kriopreservasi
2. Plasmolisis insipient terjadi pada Tanaman Purwoceng
larutan berkonsentrasi 0,10M, (Pimpinella Pruatjan Molk.)
0,14M, 0,16 M dan 0,24 yaitu dengan Teknik Vitrifikasi.
Berita Biologi 8(6). Bogor:
100%
Balai Besar Penelitian dan
3. Potensial air berbeda-beda pada Pengembangan
Bioteknologi dan
tiap konsentrasi, terjadi arah
Sumberdaya Genetik
pergerakan berbeda. Pada Pertanian.
konsentrasi 0,2 M melayang, 0,1
M, 0,3 M, 0,4 M, 0,5 M memantul Salisbury, B. Frank dan Cleon W.
dan 0,6 M tenggelam. Ross. 1995. Fisiologi
Tumbuhan Jilid I. Bandung:
ITB.

DAFTAR PUSTAKA Salisbury, F. B dan C.W. Ross.


1992. Fisiologi Tumbuhan
Campbell, dkk. 2002. Biologi Jilid I.
Jilid 3. Terjemahan oleh
Jakarta: Erlangga.
Diah R. Lukman dan
Dwidjoseputro, D. 1984. Pengantar Sumaryono, 1995.
Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Bandung: Penerbit ITB.
Gramedia. Steudle E. 2001. The cohesion-
tention mechanism and the
Ferdinan, P. dan Ariwibowo, M. acquisition of water by plant
2007. Praktis Belajar roots. Annu. rev. Plant
Biologi.Jakarta:Visindo Media Physiol. Mol. Biol.
Persada 52:847:75.
Tjitrosomo, Siti Sutarmi. 1987.
Botani Umum 2. Bandung:
Angkasa.

LAMPIRAN

Sel Normal

Sel terplasmolisis

Sel Deplasmolisis

Gambar 1. Plasmolis dan


deplasmolisi pada daun Rheoe
discolor.