Anda di halaman 1dari 1

Wicaksono Abdinur Muhamad

PPAK A- 17/414081/EE/07246
Tugas 2 : Teori etika mana yang lebih baik
Semua pendekatan etika yang sudah saya baca di buku Business & Professional Ethics,
mengasumsikan bahwa teori tersebut bersifat imparsial. Maksudnya semua hubungan khusus antara
seseorang dengan individu tertentu harus dikesampingkan saat menentukan apa yang harus dia lakukan.
Akan tetapi ada teori yang menurut saya penting agar kita bisa memahami apakah sebuah tindakan atau
keputusan sudah etis atau belum yaitu teori deontologi. Immanuel Kant (1724-1804) berargumen bahwa
satu-satunya yang baik tanpa pengecualian adalah iktikad baik. Saya sebagai umat yang beragama
meyakini secara pasti bahwa akan menjalankan suatu perbuatan berdasarkan apa yang Dia perintahkan
(kewajiban) tanpa harus berpikir terlebih dahulu karena perbuatan tersebut pasti baik begitu pula
sebaliknya. Bagaimana dengan teori lain seperti utilitarianisme ?

Untuk teori utilitarianisme saya coba mengilustrasikan kejadian sebagai berikut : Orang tua saya
dan seorang manusia asing yang tidak saya kenal terperangkap api dalam suatu kebakaran di suatu
gedung. Kondisi mengatakan bahwa saya hanya mempunyai kesempatan untuk menyelamatkan salah satu
dari mereka. Orang asing tersebut ternyata seorang dokter spesialis andal yang mampu menyelamatkan
banyak orang. Para pendukung pandangan utilitarianisme mengklaim bahwa saya harus memiliki
kewajiban moral untuk menyelamatkan orang asing tersebut dan membiarkan orangtua saya terbakar. Hal
tersebut menurut saya pribadi adalah sesuatu yang salah dan tidak adil. Teori etika kebajikan
mempertimbangkan aspek kebaikan atau memandang karakter moral seseorang (Sunardi dan Primastiwi,
2015). Berdasarkan pengertian diatas, teori ini lebih menyoroti sesuatu perbuatan dari segi positif, tidak
bisa hanya melihat jenis berdasarkan tindakan pelakunya saja. Menurut saya jika seseorang ingin
memiliki karakter moral atau akhlak yang baik seperti yang dikatakan teori kebajikan maka seseorang
harus bekerja keras dan berlatih karena kebaikan moral atau akhlak bukanlah hal yang termasuk
karakteristik alami. Seseorang harus melakukan usaha-usaha yang maksimal untuk mengembangkan
kebaikan moral tersebut seperti memiliki kejujuran, keberanian, keadilan, kebijaksanaan dan lain-lain.

Menurut Bertens Kees (2016), Bagi hukum yang penting hanya legalitas perbuatan sedangkan
dalam konteks etika, legalitas perbuatan tidak cukup, tapi harus diperhatikan juga moralitas perbuatan.
Saya mengambil kesimpulan bahwa suatu perbuatan yang baik dari segi hukum, belum tentu baik juga
dari segi etika. Jika saya berbicara dalam hati merencanakan pencurian untuk minggu depan maka sudah
merupakan perbuatan yang tidak baik akan tetapi tidak bertentangan dengan hukum karena tidak ada
bukti (lahiriah). Maka dari itu teori etika yang paling baik menurut saya adalah teori deontologi karena
deontologi selalu menekankan, perbuatan adalah baik jika dilakukan karena harus dilakukan atau
jika dilakukan karena kewajiban contohnya tidak boleh mencuri atau berdusta karena dilarang
oleh Tuhan. Kewajiban tersebut bagi penganut paham deontologi tidak bisa lagi ditawar-tawar.