Anda di halaman 1dari 16

5

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi dan Histologi Tulang

Tulang terdiri dari beragam bentuk dan ukuran, ada yang panjang, ada
yang pipih, ada yang bentuknya seperti biji. Secara garis besar tulang dapat di
klasifikasikan berdasarkan bentuknya yang panjang, pendek, pipih dan tidak
beraturan.

1. Tulang panjang, yaitu tulang yang berbentuk silindris, yang terdiri dari
difisis dan epifisis yang berfungsi untuk menahan berat tubuh dan
berperan dalam pergerakan.
2. Tulang pendek, yaitu tulang yang berstruktur kuboid yang biasanya
ditemukan berkelompok yang berfungsi memberikan kekuatan dan
kekompakkan pada area yang pergerakannya terbatas. Contoh tulang
pergelangan tangan dan kaki
3. Tulang pipih, yaitu tulang yang strukturnya mirip lempeng yang berfungsi
untuk memberikan suatu permukaan yang luas untuk perlekatan otot dan
memberikan perlindungan. Contoh sternum, scapulae, iga, tulang
tengkorak.
4. Tulang irreguler, yaitu tulang yang bentuknya tidak beraturan dengan
struktur tulang yang sama dengan tulang pendek. Contoh tulang vertebrae
dan tulang panggul.
5. Tulang sesamoid, yaitu tulang kecil bulat yang masuk dalam formasi
persendian yang bersambung dengan kartilago, ligamen atau tulang
lainnya. Contoh patella. (Setiadi , 2007)

Universitas Sumatera Utara


6

Gambar 2.1. Klasifikasi Tulang berdasarkan bentuk


(sumber: Marieb, E.N., Hoehn, K., 2007. Human Anatomy &
Physiology7thed.)

Tulang adalah jaringan ikat khusus yang terdiri atas materi antar sel
berkapur yaitu matriks tulang, dan 3 jenis sel yaitu osteosit, osteoblas, dan
osteoklas.(Junqueira,2007)

Universitas Sumatera Utara


7

Matriks tulang

50% dari berat matriks tulang adalah bahan anorganik, yang teristimewa
dan banyak dijumpai adalah kalsium dan fosfor, namun bikarbonat, sitrat,
magnesium, kalium, dan natrium juga ditemukan . Bahan organik dalam matriks
tulang adalah kolagen tipe I da substansi dasar, yang mengandung agregat
proteoglikan dan beberapa glikoprotein struktural spesifik. Glikoprotein tulang
bertanggung jawab atas kelancaran kalsifikasi matriks tulang. Jaringan lain yang
mengandung kolagen tipe I biasanya tidak mengapur dan tidak mengandung
glikoprotein tersebut. Karena kandungan kolagen tinggi, matriks tulang yang
terdekalsifikasi terikat kuat dengan pewarna serat kolagen (Junqueira, 2007).

Gabungan mineral dan serat kolagen memberikan sifat keras dan


ketahanan pada jaringan tulang. Setelah tulang terdekalsifikasi, bentuknya tetap
terjaga, namun menjadi fleksibel mirip tendon. Walaupun bahan organik dari
matriks tulang sudah menghilang, bentuk tulang masih tetap terjaga, namun
menjadi rapuh, mudah patah dan hancur bila dipegang. (Junqueira, 2007).

Osteoblas
Osteoblas bertanggung jawab atas sintesis komponen organik matriks
tulang (kolagen tipe I, proteoglikan, dan glikoprotein). Deposisi komponen
anorganik dari tulang juga bergantung pada adanya osteoblas aktif. Osteoblas
hanya terdapat pada permukaan tulang, dan letaknya berseblahan, mirip epitel
selapis. Bila osteoblas aktif menyintesis matriks, osteoblas memiliki bentuk
kuboid sampai silindris dengan sitoplasma basofilik. Bila aktivitas sintesisnya
menurun seltersebut dapat menjadi gepeng dan sifat basofilik pada sitoplasmanya
akan berkurang (Junqueira,2007).
Osteosit
Osteosit berasal dari osteoblas, terletak di dalam lakuna yang terletak di
antara lamela-lamela matriks. Hanya ada satu osteosit di dalam satu lakuna. Bila
dibandingkan dengan osteoblas, osteosit yang gepeng dan berbentuk kenari

Universitas Sumatera Utara


8

tersebut memiliki sedikit retikulum endoplasma kasar dan kompleks Golgi serta
kromatin inti yang lebih padat. Sel-sel ini secara aktif terlibat untuk
mempertahankan matriks tulang, dan kematiannya diikuti oleh resorpsi matriks
tersebut (Junqueira, 2007).

Osteoklas

Sel motil bercabang yang sangat besar. Bagian badan sel mengandung
sampai 50 inti atau bahkan lebih. Pada daerah terjadinya resorpsi tulang, osteoklas
terdapat di dalam lekukan yang terbentuk akibat kerja enzim pada matriks, yang
dikenal dengan lakuna Howsip. Osteoklas berasal dari penggabungan sel-sel
sumsum tulang belakang. Osteoklas mengeluarkan kolagenase dan enzim
proteolitik lain yang menyebabkan matriks tulang melepaskan substansi dasar
yang mengapur (Junqueira, 2007).

Gambar 2.2. Gambar Skematik Komponen Tulang


Sumber Junqueira,L., 2007. Histologi Dasar: Teks & Atlas, Ed. 10. Jakarta: EGC

Universitas Sumatera Utara


9

Tulang bagian dalam dan luar di lapisi oleh pembentuk tulang dan jaringan
ikat yang disebut periosteum dan endosteum.

Periosteum

Terdiri atas lapisan luar serat-serat kolagen dan fibroblas. Berkas serat
kolagen periosteum memasuki matriks tulang dan mengikat periosteum pada
tulang. Lapisan periosteum yang lebih banyak mengandung sel berpotensi
membelah melalui mitosis dan berkembang menjadi osteoblas. Sel ini disebut sel
osteoprogenitor dan sel ini berperan penting pada pertumbuhan dan perbaikan
tulang (Junqueira, 2007).

Endosteum

Melapisi semua rongga dalam di dalam tulang dan terdiri atas selapis sel
osteoprogenitorgepeng dan sejumlah kecil jaringan ikat. Karenanya, endosteum
lebih tipis daripada periosteum. (Junqueira,2007)

Fungsi utama periosteum dan endosteum adalah memberi nutrisi kepada


jaringan tulang dan menyediakan osteoklas beru secara kontinu untuk perbaikan
atau pertumbuhan tulang. (Junqueira,2007)

Gambar 2.3.Gambar Skematik Periosteum dan Endosteum


Sumber Junqueira,L., 2007. Histologi Dasar: Teks & Atlas, Ed. 10. Jakarta: EGC

Universitas Sumatera Utara


10

2.2. Fisiologi

Tulang berasal dari kata osteo sehingga sel tulang disebut osteosit. Matriks
tulang yang tersusun atas garam kalsium dan kolagen, yang membuatnya kuat,
keras dan tidak fleksibel. Pada bedan tulang panjang misalnya femur, osteosit
matriks dan pembuluh darah terangkai amat rapi yang disebut sistem havers.
Tulang memiliki suplai darah yang bagus sehingga berperan sebagai tempat
penimbunan kalsium, dan ketika terjadi faktur ringan, tulang dapat memperbaiki
dirinya sendiri relatif cepat. Beberapa tulang , misalnya sternum dan tulang pelvis,
mengandung sumsum tulang merah, yang berperan sebagai jaringan hemopoietik
yang menghasilkan darah (Scanlon, 2007).

Fungsi tulang antara lain adalah sebagai berikut:

1. Sebagai formasi kerangka yang menopang tubuh, membentuk tubuh dan


ukuran tubuh, dan sebagai tempat perlekatan otot sebagai alat gerak aktif.
2. Melindungi beberapa organ dalam dari kerusakan mekanis, misalnya,
rangka dada melindungi jantung dan paru-paru.
3. Mengandung dan melindungi sumsum tulang belakang yang berperan
dalam proses hematopoiesis (pembentukan sel-sel darah merah)
4. Menjadi tempat penyimpanan minelar teutama kalsium. Kalsium dapat
dipindahkan dari tulang untuk mempertahan kan kadar kalsium darah,
yang penting bagi pembekuan darah serta fungsi otot dan syaraf. (Scanlon,
2007)

2.3. Tumor Tulang

2.3.1. Definisi

Tumor tulang merupakan pertumbuhan sel abnormal pada tulang. Tumor


tulang bisa jinak ataupun ganas. Tumor tulang yang bersifat ganas dapat merusak
jaringan tulang. Pada kenyataannya tumor tulang jinak lebih sering dibanding
dengan yang ganas, tumor tulang jinak tidak bermetastasis, tidak menghancurkan
jaringan tulang dan jarang mengancam nyawa ( National Cancer Institute, 2008).

Universitas Sumatera Utara


11

Tumor tulang yang perkembangan jaringan abnormalnya berasal dari


tulang disebut tumor tulang primer, sedangkan tumor yang bermetastase ke tulang
yang berasal dari bagian tubuh atau jaringan lain disebut tumor tulang sekunder
atau metastatic cancer (National Cancer Institute, 2008).

2.3.2. Etiologi dan Faktor Resiko

Tumor tulang sampai saat ini belum diketahui secara pasti apa
penyebabnya. Peneliti-peneliti tengah meneliti beberapa faktor yang dapat
meningkatkan insidensi terjadinya tumor ini. Faktor-faktor yang dianggap sebagai
faktor resiko terjadinya kasus tumor tulang ini adalah sering terpapar dengan
terapi radiasi atau pengobatan anti kanker, karena faktor keturunan, riwayat
pemasangan besi pada tulang (National Cancer Institute, 2008).

Akan tetapi tidak semua faktor resiko yang di sebutkan meningkatkan


angka resiko terjadinya tumor tulang. Berikut beberapa faktor yang dianggap
sebagai faktor resiko dari tumor tulang.

Usia

Pada kasus tumor tulang memang sedikit berbeda dengan kasus kanker
pada organ lainnya, insidensi tumor tulang lebih sering di jumpai pada remaja.
Seperti osteosarkoma yang secara umum dijumpai pada remaja dan dewasa muda.
Sangat jarang dijumpai pada saat sebelum usia remaja dan kelihatannya
berhubungan dengan pertumbuhan tulang pada saat remaja (Cancer Research UK,
2014)

Trauma

Orang sering berfikir bahwa trauma pada tulang dapat menyebabkan


kanker. Tapi penelitian tidak mendukung pernyataan ini. Menurut penelitian yang
di sampaikan oleh Cancer Research UK tumor terjadi karena pembangkakan atau
swelling pada jaringan, yang mana menunjukkan bahwa tumor sudah ada

Universitas Sumatera Utara


12

sebelumnya. Atau jaringan neoplasma yang ada di tulang terbangun karena nya.
(Cancer Research UK, 2014).

Riwayat kanker sebelumnya

Riwayat kanker sebelumnya dapat menjadi faktor resiko yang pasti


terjadinya kanker tulang karena dikhawatirkan sudah terjadi metastase ke tulang.
Dan apabila ini didapati tumor tulang dengan riwayat kanker maka disebut
sebagai tumor tulang yang sekunder (National Cancer Institute, 2008).

Riwayat pengobatan kanker

Terpapar radiasi dapat menyebabkan tumor pada tulang. Di sebutkan


bahwa apabila didapati riwayat radioterapi pada area tubuh yang terdapat tulang,
maka ini meningkatkan resiko untuk terjadinya osteosarcoma pada area tersebut.
Resiko ini kecil kemungkinan pada kebanyakan orang, tetapi beresiko tinggi pada
remaja yang terpapar radioterapi dengan dosis tinggi. Hanya 1 dari 100 orang
yang diobati dengan radioterapi akan menjadi tumor tulang. (Cancer Research
UK, 2014).

Penyakit tulang lainnya

Pagets disease di tulang meningkatkan resiko terjadinya osteosarcoma,


ini terjadi pada pasien dengan usia diatas 60 tahun. Kondisi langka yang disebut
Olliers disease (disebut juga enchondromatosis) meningkatkan resiko
berkembangnya chondrosarcoma. Orang dengan Olliers disease mengalami
tumor jinak pada tulang nya, dan 3 dari 10 orang yang terkena Olliers disease
akan menjadi chondrosarcoma(Cancer Research UK, 2014).

Genetik

Sebuah sindrom yang disebut sebagai Li-Fraumeni syndrome yang mana


terjadi karena kesalahan gen yang turunkan dari orang tua, meningkatkan resiko
terjadinya beberapa kanker, termasuk kanker tulang (Cancer Research UK, 2014).

Universitas Sumatera Utara


13

Suku dan ras

Sebuah penelitian tentang Ewing tumor selama lebih dari 30 tahun di


Amerika menunjukkan bahwa orang Amerika dengan kulit putih lebih beresiko
sembilan kali lebih besar dari pada orang Amerika dengan kulit hitam menderita
tumor tulang. Akan tetapi masih belum diketahui penyebabnya (Cancer Research
UK, 2014).

Pekerjaan

Beberapa penelitian menemukan bahwa jika salah satu orang tua bekerja
sebagai petani ketika ibu sedang hamil atau ketika ibu sedang menunggu
kelahiran, dapat meningkatkan resiko mendapatkan Ewings sarcoma pada
anaknya. Tetapi tidak semua sependapat dengan penelitian ini. Satu lagi penelitian
menunjukkan peningkatan resiko terjadinya osteosarkoma dan ckondrosarkoma
pada dewasa yang terpapar dengan pestisida pada saat bekerja. Tetapi ini di
temukan hanya satu penelitian dan kita memerlukan bukti lebih lagi untuk dapat
mengatakan terpapar atau penggunaan pestisida merupakan faktor resiko
terjadinya tumor tulang (Cancer Research UK, 2014).

2.3.3. Klasifikasi

Klasifikasi tumor tulang menurut WHO(2002)

Universitas Sumatera Utara


14

Gambar 2.4. Gambar Klasifikasi Tumor Tulang


Sumber World Heatlh Organization Classification of Tumours(2002)

Universitas Sumatera Utara


15

Tumor tulang dapat dikelompokkan sebagai tumor tulang primer dan


tumor tulang sekunder. Tumor tulang primer ini lebih jarang dijumpai daripada
yang sekunder (Kumar, 2007).

Tumor tulang primer dapat jinak atau ganas. Tumor tulang yang yang
jinak lebih sering terjadi daripada tumor primer yang ganas, dan tumor-tumor
ganas seringkali berakibat fatal. Tumor ganas cenderung tumbuh cepat, menyebar
dan menginvasi secara tidak beraturan. Tumor-tumor semacam ini paling sering
terlihat pada anak-anak remaja dan dewasa muda ( Price, 2006).

Tumor tulang sekunder merupaka tumor pada tulang akibat dari metaplasia
yang beasal dari jaringan lain, dapat menyebar melalui aliran darah. Tumor yang
sering bermetaplasia ke tulang antara lain prostat, payudara, paru, tiroid, ginjal,
dan kandung kemih. Dan tulang yang paling sering adalah vertebrae, femur
proksimal, pelvis, sternum, humerus proksimal, dan iga (Price, 2006).

Sama halnya dengan tumor lainnya, tumor tulang juga ada yang jinak dan
ada yang ganas. Berikut beberapa tumor jinak dan ganas.

Tumor Jinak

Osteoma

Merupakan lesi tulang yang bersifat jinak serta ditandai dengan


pertumbuhan tulang yang abnormal. Osteoma klasik berwujud sebagai suatu
benjolan yang tumbuh lambat dan tidak nyeri. Pada pemeriksaan radiografi,
osteoma perifer tampak sebagai lesi radioopak yang meluas dari permukaan
tulang: osteoma sentral tampak sebagai suatu massa sklerotik berbatas jelas di
dalam tulang. Kalau lesi menimbulkan gejala-gejala, membesar atau
menyebabkan ketidakmampuan, maka perawatan yang dipilih adalah eksisi
osteoma dengan pembedahan. Operasi pembuangan bagian tulang yang membesar
juga dilakukan untuk tujuan diagnostik pada lesi-lesi yang besar. Eksisi biasanya
memberikan penyembuhan pada tulang (Price, 2006).

Universitas Sumatera Utara


16

Kondroblastoma

Tumor jinak yang jarang ditemukan, dan biasanya paling sering


menyerang anak laki-laki yang berusia remaja. Tumor ini secara unik ditemukan
di epifisis. Tempat yang paling sering terserang adalah tulang humerus. Gejala
seringkali berupa nyeri sendi yang timbul dari jaringan tulang rawan. Perawatan
dilakukan dengan eksisi pembedahan. Jika kambuh di terapi dengan eksisi, bedah
beku ataupun radioterapi (Price, 2006).

Enkondroma

Adalah tumor jinak sel-sel tulang rawan displastik yang timbul pada
metafisis tulang tubular, terutama pada bagian tangan dan kaki. Pada pemeriksaan
radiografi di dapati titik-titik perkapuran yang berbatas tegas, membesar dan
menipis. Tanda ini merupakan ciri khas dari tumor. Berkembang selama masa
pertumbuhan pada anak-anak atau remaja. Keadaan ini meningkatkan
kemungkinan kejadian fraktur patologis. Perawatan untuk tumor ini adalah
pembedahan dengan kuretase dan pencangkokan tulang (Price, 2006).

Osteoid osteoma

Salah satu neoplasma yang bersifat jinak pada tulang, paling sering
muncul pada tulang femur proksimal dan tibia selama dekade kedua dan ketiga
kehidupan.lebih sering muncul pada laki-laki dibanding perempuan dengan
perbandingan 2:1. Nyeri lokal merupakan keluhan yang hampir ada pada pasien
dengan osteoid osteoma, dan nyeri dapat diatasi dengan pemberian aspirin. Salah
satu terapi pilihan bagi penyakit ini adalah eksisi lokal, lesi yang tidak direseksi
secara tuntas dapat menimbulkan kekambuhan (Kumar, 2007).

Osteoblastoma

Osteoblastoma juga merupakan salah satu jenis neolasma jinak pada


tulang, mempunyai morfologi yang mirip dengan osteoid oesteoma, yaitu adanya
anyaman trabekular yang saling jalin. Osteoblastoma berukuran lebih besar

Universitas Sumatera Utara


17

daripada osteoid osteoma. Tempat yang paling sering timbulnya osteoblastoma


adalah kolumna vertebra meskiun dapat juga tumbuh pada daerah yang lain.
Keluhan nyeri juga merupakan keluhan dari osteoidblastoma tetapi lokasi nyeri
sulit untuk diketahui dan tidak respon dengan pemberian obat aspirin (Kumar,
2007).

Tumor Sel Raksasa

Sifat khas dari tumor ini adalah adanya stroma vaskular dan selular yang
terdiri dari sel-sel berbentuk oval yang mengandung sejumlah nukleus lonjong,
kecil dan berwarna gelap. Sel raksasa ini merupakan sel besar dengan sitoplasma
yang berwarna merah muda, sel ini menganduk sejumlah nukleus yang vesikular
dan menyerupai sel-sel stroma. Walaupun tumor ini biasanya dianggap jinak
tetapi tumor ini memiliki derajat keganasan bergantung pada sifat sarkomatosa
dari stromanya. Pada keadaan ganas tumor ini menjadi anaplastik dengan daerah
daerah nekrosis dan perdarahan (Price, 2006).

Tumor ini lebih banyak di jumpai pada orang dewasa muda dan lebih
banyak terjadi pada perempuan. Tempat yang biasa diserangnya adalah ujung-
ujung tulang panjang, terutama lutut dan ujung bawah radius. Gejala yang sering
adalah nyeri, serta ada keterbatasan gerakan sendi dan kelemahan. Setelah biopsi
untuk memastikan adanya tumor ini , biasanya di perlukan eksisi lokal yang
cukup luas, termasuk pengangkatan jaringan normal disisi tumor. Tumor ini
cendrung kambuh secara lokal sekitar 60% atau bahkan lebih, dan tumor yang
kambuh setelah suatu eksisi yang tidak bersih biasanya bersifat lebih ganas.
Dengan melakukan biopsi maka diagnosis bisa ditegakkan dan operasi lokal yang
disertai tindakan rekonstruksi segera dapat dilakukan (Price, 2006).

Universitas Sumatera Utara


18

Tumor Ganas

Multiple Mieloma

Tumor ganas yang paling sering ditemukan akibat proliferasi dari sel-sel
plasma. Tumor ini sangat jarang terlihat pada orang-orang yang berusia dibawah
40 tahun. Laki-laki lebih sering terkena dan orang Afrika Amerika memiliki
insidensi dua kali lipat dibanding dengan orang-orang Kaukasia (Price, 2006).

Gejala yang paling sering timbul adalah nyeri tulang, dan lokasi nyeri
seringkali pada tulang iga dan tulang belakang. Dapat teraba lesi tulang terutama
pada tulang tengkorak dan klavikula. Lesi-lesi tulang punggung menyebabkan
vertebra kolaps dan kadang kadang menjepit syaraf spinal. Pengobatanya
memerlukan berbagai usaha sebab multiple mieloma menyerang banyak organ.
Harapan untuk dapat hidup dalam waktu yang sama bergantung pada stadium
penyakit pada saat diagnosa ditegakkan (Price, 2006).

Osteosarkoma

Merupakan neoplasma tulang primer yang sangat ganas. Tumor ini


tumbuh pada bagian metafisis dari pada tulang. Tempat yang peling sering
diseranga adalah ujung tulang panjang, terutama lutut. Kasus sarkoma osteogenik
ini paling banyak menyerang anak remaja dan mereka yang baru menginjak massa
dewasa, tetapi dapat juga menyerang pasien dengan usia diatas 50 tahun disertai
penyakit Paget. Nyeri yang paling menyertai destruksi tulang dan erosi adalah
gejala umum dari penyakit ini (Price, 2006).

Kondrosarkoma

Tumor tulang ganas yang terdiri dari kondrosit anaplastik yang dapat
tumbuh sebagai tumor tulang perifer atau sentral. Paling sering menyerang laki-
laki usia 35 tahun. Gejala yang sering adalah dijumpainya massa tanpa nyeri yang
berlangsung lama. Tempat yang sering ditumbuhi tumor ini adalah pelvis, femur,
tulang iga, gelang bahu, dan tulang-tulang kraniofasial (Price, 2006).

Universitas Sumatera Utara


19

Pada pemeriksaan radiogram, kondrosarkoma akan tampak sebagai suatu


daerah radiolusen dengan bercak-bercak perkapuran yang tidak jelas.
Penatalaksanaan terbaik yang dilakukan pada saat ini adalah dengan eksisi radikal,
tetapi bisa juga dilakukan bedah beku, radioterapi, dan kemoterapi. Untuk lesi-lesi
besar yang agresif dan kambuh berulang-ulang, penatalaksanaan yang paling tepat
mungkin adalah dengan melakukan amputasi (Price, 2006).

Sarkoma Ewing

Tumor ini paling sering terlihat pada anak-anak dalam usia belasan tahun
dan tempat yang paling sering adalah korpus tulang-tulang panjang. Penampakan
kasarnya adalah berupa tumor abu-abu lunak yang tumbuh ke retikulum sumsum
tulang dan merusak korteks tulang dari dalam. Dibawah periosteum terbentuk
lapisan-lapisan tulang yang baru diendapkan paralel dengan batang tulang
sehingga membentuk gambaran berupa kulit bawang. Tanda dan gejala yang khas
adalah nyeri, benjolan nyeri tekan, demam(38-40C), dan leukositosis (20.000
sampai 40.000/mm3) (Price, 2006).

2.3.4. Diagnosis

Sel-sel tumor tulang mengasilkan faktor-faktor yang dapat merangsang


fungsi osteoklas, sehingga menimbulkan resorpsi tulang yang dapat terlihat pada
radiogram. Juga ada beberapa tumor yang menyebabkan peningkatan aktivitas
osteoblas dengan peningkatan densitas tulang yang juga dapat terlihat pada
radiogram. Gambaran radiogram dapat membantu untuk menentukan keganasan
relatif dari tumor tumor tulang. Pada umum nya tumor ini dapat dengan mudah
dikenali dari adanya massa pada jaringan lunak di sekitar tulang, deformitas
tulang, nyeri dan nyeri tekan, atau fraktur patologis (Price, 2006). Menurut WHO
(2002) Kombinasi pemeriksaan secara radiografi dan histologi merupakan yang
paling tepat digunakan untuk melakukan penegakkan diagnosa.

Universitas Sumatera Utara


20

Konvensional X-ray

Kemungkinan
Jinak Masalah diagnostik
Ganas
(penampakan tulang )

Penanganan CT Penentuan
yang tepat Stadium

Biopsi MRI

Penatalaksan

Gambar 2.5. Grafik diagnosis


Sumber World Heatlh Organization Classification of Tumours(2002)

2.3.5. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan daripada tumor tulang ini tergantung dari tumor tulang


yang dideritanya bersifat jinak atau ganas, tingkat metastasis ke jaringan sekitar
maupun ke jaringan yang lain. Penatalaksanaannya antara lain adalah dengan cara
pembedahan, radioterapi, kemoterapi, krioterapi, dan dapat pula dengan
menggunakan terapi kombinasi misalnya pembedahan, radioterapi, dan
kemoterapi atau cara lainnya dilakukan tetapi dengan komposisi yang berbeda
(Sukardja, 2000).

2.3.6. Prognosis

Pengobatan dari tumor tulang biasanya berhasil dengan sukses, secara


garis besar bila kanker belum menyebar atau bermetastase ke bagian tubuh yang
lain, lebih dari 40 % laki-laki dan 50% perempuan yang menderita tumor tulang
mempunyai angka harapan hidup selama 5 tahun kedepan setelah didiagnosis
dengan tumor tulang primer dan di tangani. Akan tetapi prognosis untuk tumor
tulang yang sudah bermetastase ke jaringan atau organ yang lain tidak dapat di
pastikan karena bergantung pada banyak faktor salah satunya adalah stadium
kanker utama dan kanker tulangnya sendiri (Cancer Research UK, 2014).

Universitas Sumatera Utara