Anda di halaman 1dari 13

SURVEILLANCE PENCATATAN, PELAPORAN KESELAMATAN

PASIEN, MONITORING DAN EVALUASI KESELAMATAN PASIEN

Di Susun Oleh :
1. Erika Ana Pratiwi
2. Ihsan Nur Huda
3. Khayun Wismantara
4. Novian Dwy Prayogi
5. Pratama Indriyani Saputri
6. Rasika Wiguna
7. Riska Dwi Agustin
8. Sarlina Mento Ambarita
9. Siti Nur Kholifah

PRODI S1 TERAPAN KEPERAWATAN ALIH JENJANG


JURUSAN KEPERAWATAN
POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena
limpahan rahmat dan hidayahnya penulis dapat menyelesaikan penyusunan
makalah ini dengan baik dan tepat waktu.
Makalah yang berjudul Surveillance Pencatatan, Pelaporan
Keselamatan Pasien, Monitoring dan Evaluasi Keselamatan Pasien disusun
untuk memenuhi tugas Keselamatan Pasien dan Keselamatan Kesehatan Kerja
tahun ajaran 2017/2018.
Penulis menyadari dalam penyusunan makalah ini tanpa adanya bimbingan,
dorongan, motivasi, dan doa, makalah ini tidak akan terwujud. Untuk itu penulis
mengucapkan terima kasih kepada :
1. Pak Mugi Hartoyo, MN, selaku dosen mata kuliah Keselamatan Pasien dan
Keselamatan Kesehatan Kerja yang telah membimbing dalam kegiatan belajar
mengajar.
2. Semua pihak yang telah membantu penulis untuk menyelesaikan makalah yang
tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.
Akhir kata penulis menyadari makalah ini masih banyak kesalahan, baik
dalam penulisan maupun informasi yang terkandung didalam makalah ini, oleh
karena itu penulis mengharapkan kritik maupun saran yang membangun demi
perbaikan dan kesempurnaan dimasa yang akan datang.

Semarang, 22 Agustus 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL......................................................................................i

KATA PENGANTAR......................................................................................ii

DAFTAR ISI....................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN...............................................................................1

A. Latar Belakang......................................................................................1
B. Rumusan Masalah.................................................................................2
C. Tujuan Penulisan...................................................................................2

BAB II TINJAUAN TEORI...........................................................................3

A. Definisi Surveilans................................................................................3
B. Tujuan Surveilans.................................................................................3
C. Komponen Kegiatan Surveilans di Rumah Sakit.................................4
1. Pencacatan......................................................................................4
2. Pelaporan Keselamatan Pasien.......................................................4
3. Monitoring dan Evaluasi................................................................8

DAFTAR ISI....................................................................................................10

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pelayanan global dalam Kesehatan adalah Keselamatan Pasien (Patient
Safety). Isu ini praktis mulai dibicarakan kembali pada tahun 2000-an, sejak
laporan dan Institute of Medicine (IOM) yang menerbitkan laporan: to err is
human, building a safer health system. Keselamatan pasien adalah suatu disiplin
baru dalam pelayanan kesehatan yang mengutamakan pelaporan, analisis, dan
pencegahan medical error yang sering menimbulkan Kejadian Tak Diharapkan
(KTD) dalam pelayanan kesehatan.
Organisasi kesehatan dunia WHO juga telah menegaskan pentingnya
keselamatan dalam pelayanan kepada pasien: Safety is a fundamental principle
of patient care and a critical component of quality management. (World Alliance
for Patient Safety, Forward Programme WHO, 2004), sehubungan dengan data
KTD di Rumah Sakit di berbagai negara menunjukan angka 3 16% yang tidak
kecil.
Frekuensi dan besarnya KTD tak diketahui secara pasti sampai era 1990-
an, ketika berbagai Negara melaporkan dalam jumlah yang mengejutkan pasien
cedera dan meninggal dunia akibatmedical error. Menyadari akan
dampak error pelayanan kesehatan terhadap 1 dari 10 pasien di seluruh dunia
maka World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa perhatian terhadap
Keselamatan Pasien sebagai suatu endemis.
Sejak berlakunya UU No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen dan
UU No. 29 tentang Praktik Kedokteran, muncullah berbagai tuntutan hukum
kepada Dokter dan Rumah Sakit. Hal ini hanya dapat ditangkal apabila Rumah
Sakit menerapkan Sistem Keselamatan Pasien. Sehingga Perhimpunan Rumah
Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) membentuk Komite Keselamatan Pasien Rumah
Sakit (KKP-RS) pada tanggal 1 Juni 2005. Selanjutnya Gerakan Keselamatan
Pasien Rumah Sakit ini kemudian dicanangkan oleh Menteri Kesehatan RI pada

1
Seminar Nasional PERSI pada tanggal 21 Agustus 2005, di Jakarta Convention
Center Jakarta.
KKP-RS telah menyusun Panduan Tujuh Langkah Menuju Keselamatan
Pasien bagi staf RS untuk mengimplementasikan Keselamatan Pasien di Rumah
Sakit. Di samping itu pula KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit) Depkes telah
menyusun Standar Keselamatan Pasien Rumah Sakit yang akan menjadi salah
satu Standar Akreditasi Rumah Sakit.
Pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan RI mengeluarkan Permenkes
1691 tahun 2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit sebagai pedoman bagi
penerapan Keselamatan Pasien di rumah sakit. Dalam permenkes 1691 tahun 2011
dinyatakan bahwa rumah sakit dan tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit
wajib melaksanakan program dengan mengacu pada kebijakan nasional Komite
Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
(1) Setiap rumah sakit wajib membentuk Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit
(TKPRS) yang ditetapkan oleh kepala rumah sakit sebagai pelaksana kegiatan
keselamatan pasien.
(2) TKPRS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggung jawab kepada
kepala rumah sakit.
(3) Keanggotaan TKPRS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari
manajemen rumah sakit dan unsur dari profesi kesehatan di rumah sakit.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan beberapa
rumusan masalah yaitu:
1. Apakah yang dimaksud dengan surveilans?
2. Apakah tujuan dari surveilans?
3. Bagaimana Komponen Kegiatan Surveilans di Rumah Sakit?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian surveilans.
2. Untuk mengetahui tujuan surveilans.
3. Untuk mengetahui Komponen Kegiatan Surveilans di Rumah Sakit.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Definisi Surveilans

2
Surveilans adalah proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan
interpretasi data secara sistemik dan terus menerus serta penyebaran informasi
kepada unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan. Berdasarkan
definisi diatas dapat diketahui bahwa surveilans adalah suatu kegiatan
pengamatan penyakit yang dilakukan secara terus menerus dan sistematis
terhadap kejadian dan distribusi penyakit serta faktor-faktor yang
mempengaruhinya pada masyarakat sehingga dapat dilakukan penanggulangan
untuk dapat mengambil tindakan efektif (WHO, 2004).

B. Tujuan Surveilans
Secara umum surveilans bertujuan untuk pencegahan dan
pengendalian penyakit dalam masyarakat sebagai upaya deteksi dini terhadap
kemungkinan terjadinya kejadian luar biasa (KLB), memperoleh informasi
yang diperlukan bagi perencanaan dalam hal pencegahan, penanggulangan
maupun pemberantasannya pada berbagai tingkat administrasi (Depkes RI,
2004).
Surveilans bertujuan memberikan informasi tepat waktu tentang masalah
kesehatan populasi, sehingga penyakit dan faktor risiko dapat dideteksi dini
dan dapat dilakukan respons pelayanan kesehatan dengan lebih efektif. Tujuan
khusus surveilans, antara lain:
1. Memonitor kecenderungan (trends) penyakit.
2. Mendeteksi perubahan mendadak insidensi penyakit, untuk mendeteksi
dini outbreak.
3. Memantau kesehatan populasi, menaksir besarnya beban penyakit (disease
burden) pada populasi.
4. Menentukan kebutuhan kesehatan prioritas, membantu perencanaan,
implementasi, monitoring, dan evaluasi program kesehatan.
5. Mengevaluasi cakupan dan efektivitas program kesehatan.
6. Mengidentifikasi kebutuhan riset (Giesecke, 2002).

C. Komponen Kegiatan Surveilans di Rumah Sakit


1. Pencatatan/Pengumpulan Data

3
Pengumpulan data merupakan komponen yang sangat penting
karena kualitas informasi yang diperoleh sangat ditentukan oleh kualitas
data yang dikumpulkan. Data yang dikumpulkan harus jelas, tepat dan ada
hubungannya dengan penyakit yang bersangkutan. Oleh karena itu untuk
dapat menjalankan surveilans yang baik pengumpulan data harus
dilaksanakan secara teratur dan terus-menerus.
Setiap unit kerja di rumah sakit mencatat semua kejadian terkait
dengan keselamatan pasien (Kejadian Nyaris Cedera, Kejadian Tidak
Diharapkan dan Kejadian Sentinel) pada formulir yang sudah disediakan
oleh rumah sakit. (Departemen Kesehatan R.I, 2006)
2. Pelaporan Keselamatan Pasien
a. Alur Pelaporan Insiden Kepada Tim Keselamatan Pasien di RS
(Internal)
1) Apabila terjadi suatu insiden (KNC/KTD/KTC/KPC) di rumah
sakit, wajib segera ditindaklanjuti (dicegah / ditangani) untuk
mengurangi dampak / akibat yang tidak diharapkan.
2) Setelah di tindaklanjuti, segera membuat laporan insidennya
dengan mengisi Formulir Laporan Insiden (Terlampir) pada akhir
jam kerja/shift kepada Atasan langsung (Paling lambat 2x24jam),
diharapkan jangan menunda laporan.
3) Setelah selesai mengisi laporan, segera menyerahkan kepada
Atasan langsung pelapor (Atasan langsung disepakati sesuai
keputusan Manajemen: Supervisor/Kepala Bagian/ Instalasi/
Departemen / Unit).
4) Atasan langsung akan memeriksa laporan dan melakukan grading
risiko terhadap insiden yang dilaporkan.
5) Hasil grading akan menentukan bentuk investigasi dan analisa
yang akan dilakukan sebagai berikut :
a) Grade biru : Investigasi sederhana oleh Atasan
langsung, waktu maksimal 1 minggu.
b) Grade hijau : Investigasi sederhana oleh Atasan
langsung, waktu maksimal 2 minggu
c) Grade kuning : Investigasi komprehensif/Analisis akar
masalah/RCA oleh Tim KP di RS, waktu maksimal 45 hari

4
d) Grade merah : Investigasi komprehensif/Analisis akar
masalah / RCA oleh Tim KP di RS, waktu maksimal 45 hari.
6) Setelah selesai melakukan investigasi sederhana, laporan hasil
investigasi dan laporan insiden dilaporkan ke Tim KP di RS .
7) Tim KP di RS akan menganalisa kembali hasil Investigasi dan
Laporan insiden untuk menentukan apakah perlu dilakukan
investigasi lanjutan (RCA) dengan melakukan Regrading.
8) Untuk grade Kuning / Merah, Tim KP di RS akan melakukan
Analisis akar masalah / Root Cause Analysis (RCA)
9) Setelah melakukan RCA, Tim KP di RS akan membuat laporan
dan Rekomendasi untuk perbaikan serta "Pembelajaran" berupa :
Petunjuk / "Safety alert" untuk mencegah kejadian yang sama
terulang kembali.
10) Hasil RCA, rekomendasi dan rencana kerja dilaporkan kepada
Direksi.
11) Rekomendasi untuk "Perbaikan dan Pembelajaran" diberikan
umpan balik kepada unit kerja terkait serta sosialisasi kepada
seluruh unit di Rumah Sakit
12) Unit Kerja membuat analisa kejadian di satuan kerjanya masing
masing
13) Monitoring dan Evaluasi Perbaikan oleh Tim KP di RS.

b. Alur Pelaporan Insiden Ke Kkprs-Komite Keselamatan Pasien Rumah


Sakit (Eksternal) Laporan hasil investigasi sederhana / analisis akar
masalah / RCA yang terjadi pada pasien dan telah mendapatkan
rekomendasi dan solusi oleh Tim KP di RS (internal) / Pimpinan RS
dikirimkan ke KKPRS dengan melakukan entry data (e-reporting)
melalui website resmi KKPRS : www.buk.depkes.go.id

5
Sistem pelaporan insiden kepada Komite Nasional Keselamatan
Pasien Rumah Sakit harus dijamin keamanannya, bersifat rahasia, anonym
(tanpa identitas), tidak mudah diakses oleh yang tidak berhak. Pelaporan
insiden kepada Komite Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit
mencakup KTD, KNC, dan KTC, dilakukan setelah analisis dan
mendapatkan rekomendasi dan solusi dari TKPRS.
Komite Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit melakukan
pengkajian dan memberikan umpan balik (feedback) dan solusi atas
laporan yang sampaikan oleh rumah sakit.
c. Empat Prinsip Penting Pelaporan Insiden:
1) Fungsi utama pelaporan Insiden adalah untuk meningkatkan
Keselamatan Pasien melalui pembelajaran dari kegagalan/
kesalahan.
2) Pelaporan Insiden harus aman. Staf tidak boleh dihukum karena
melapor
3) Pelaporan Insiden hanya akan bermanfaat kalau menghasilkan
respons yang konstruktif. Minimal memberi umpan balik ttg data

6
KTD & analisisnya. Idealnya, juga menghasilkan rekomendasi
utk perubahan proses/SOP dan sistem.
4) Analisis yang baik & proses pembelajaran yang berharga
memerlukan keahlian/keterampilan. Tim KPRS perlu
menyebarkan informasi, rekomendasi perubahan, pengembangan
solusi.
d. Karakteristik laporan:
1) Bersifat tidak menghukum: Pelapor bebas dari rasa takut dan
pembalasan dendam atau hukuman sebagai akibat laporannya
2) Rahasia: Identitas pasien, pelapor dan institusi disembunyikan
3) Independen: sistem pelaporan yang independen bagi pelapor dan
organisasi dari hukuman.
4) Expert analysis: laporan di evaluasi oleh ahli yang menguasai
masalah klinis dan telah terlatih untuk mengenal penyebab system
yang utama.
5) Tepat waktu: Laporan dianalisa segera dan rekomendasinya
didesiminasikan secepatnya, khususnya bila terjadi bahaya serius.
6) Orientasi sistem: Rekomendasi lebih berfokus kepada perbaikan
dalam system, proses, atau produk daripada terhadap individu
7) Responsif: Lembaga yang menerima laporan merupakan lembaga
yang punya kapasitas memberikan rekomendasi.

3. Monitoring dan Evaluasi Keselamatan Pasien


a. Di Rumah Sakit
Pimpinan rumah sakit melakukan monitoring dan evaluasi
pada unit kerja-unit kerja di rumah sakit, terkait dengan pelaksanaan
keselamatan pasien di unit kerja
b. Di Propinsi
Dnas Kesehatan Propinsi dan PERSI Daerah melakukan
monitoring dan evaluasi pelaksanaan Program Keselamatan Pasien
Rumah Sakit di wilayah kerjanya.
c. Di Pusat

7
1) Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit melakukan monitoring
dan evaluasi pelaksanaan Keselamatan Pasien Rumah Sakit di
rumah sakit - rumah sakit
2) Monitoring dan evaluasi dilaksanakan minimal satu tahun satu
kali.
(Departemen Kesehatan R.I, 2006)

8
BAB III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Surveilans adalah proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan
interpretasi data secara sistemik dan terus menerus serta penyebaran
informasi kepada unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan.
Salah satu tujuan dilakukan surveilans yakni Menentukan kebutuhan
kesehatan prioritas, membantu perencanaan, implementasi, monitoring, dan
evaluasi program kesehatan.
Setiap unit kerja di rumah sakit mencatat semua kejadian terkait
dengan keselamatan pasien (Kejadian Nyaris Cedera, Kejadian Tidak
Diharapkan dan Kejadian Sentinel) pada formulir yang sudah disediakan oleh
rumah sakit. Setiap unit kerja di rumah sakit melaporkan semua kejadian
terkait dengan keselamatan pasien (Kejadian Nyaris Cedera, Kejadian Tidak
Diharapkan dan Kejadian Sentinel) kepada Tim Keselamatan Pasien Rumah
Sakit pada formulir yang sudah disediakan oleh rumah sakit.
Pimpinan rumah sakit melakukan monitoring dan evaluasi pada
unit kerja-unit kerja di rumah sakit, terkait dengan pelaksanaan keselamatan
pasien di unit kerja. Monitoring dan evaluasi dilaksanakan minimal satu tahun
satu kali.

9
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan R.I. (2006). Panduan Nasional Keselamatan Pasien


Rumah Sakit (Patient Safety).

Depkes RI. 2008, Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient
Safety), 2 edn, Bakti Husada, Jakarta.

Kemenkes RI. (2011). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


1691/MENKES/PER/VIII/2011Tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit.

Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS). (2015). Pedoman Pelaporan


Insiden Keselamatan Pasien (IKP): Jakarta.

_____. 2008, Pedoman Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien (IKP) (Patient


Safety Incident Report), 2 edn, Bakti Husada, Jakarta.
IOM, 2000. To Err Is Human: Building a Safer Health System

_____, 2004. Patient Safety: Achieving a New Standard for Care


Kemkes RI. 2010. Pedoman Teknis Fasilitas Rumah Sakit Kelas B. Pusat Sarana,
Prasarana dan Peralatan Kesehatan, Sekretariat Jenderal, KEMKES-RI

10