Anda di halaman 1dari 29

CBD

Sinusistis Maksilaris Duplex e.c Odontogen


Kronik Eksaserbasi Akut

Diajukan untuk Melengkapi Tugas Kepaniteraan Klinik


Bagian Ilmu Kesehatan THT-KL di RST dr. Soedjono Magelang

Disusun oleh:

Sylvia Rachman

30101206803

Pembimbing:

Kolonel Purn (Ckm) dr. Budi Wiranto, Sp. THT-KL

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTANAGUNG
SEMARANG
2017
LEMBAR PENGESAHAN
CBD
Sinusistis Maksilaris Duplex e.c Odontogen Kronik Eksaserbasi Akut

Disusun dan diajukan untuk memenuhi persyaratan tugas

Kepaniteraan Klinik Departemen THT Rumah Sakit Tk.II

dr. Soedjono Magelang

Oleh :

Sylvia Rachman

30101306803

Magelang, Agustus 2017

Telah dibimbing dan disahkan oleh,

Pembimbing,

(Kolonel Purn (Ckm) dr. Budi Wiranto, Sp.THT-KL )


BAB I

PENDAHULUAN

Hidung dan sinus paranasalis merupakan struktur berongga dalam cranium


yang berhubungan satu sama lain. Kedudukan dan hubungan cavum nasi dengan
sinus paranasalis serta terhadap organ di sekitarnya (orbita, gigi, fossa cranii
media dll) sangat penting dalam menjelaskan patofisiologi penyakit di bidang
THT.1
Sinusitis adalah radang pada mukosa sinus paranasalis. Sinusitis maksila
paling sering ditemukan, kemudian diikuti oleh sinusitis ethmoidalis, sinusitis
frontalis dan sinusitis sphenoidalis. Hal ini disebabkan sinus maksila merupakan
sinus paranasalis terbesar yang apabila mengalami infeksi akan lebih jelas
menimbulkan gangguan. Dasar sinus maksila adalah dasar akar gigi (prosesus
alveolaris), infeksi pada gigi dapat menyebabkan sinusitis maksilaris. Letak
ostium sinus letaknya lebih tinggi dari dasar menyebabkan drainase sinus hanya
tergantung pada gerakan silia, disamping itu letak ostium yang berada di meatus
nasi media, sekitar hiatus semilunaris yang sempit juga menyebabkan ostium
sering tersumbat. Secara klinis, sinusitis dibagi menjadi dua yaitu sinusitis akut
dan sinusitis kronik.1
Faktor predisposisi terjadinya sinusitis baik akut maupun kronik diantaranya
obstruksi mekanik pada hidung, infeksi saluran nafas atas, rhinitis kronik dan
alergi. Disamping itu faktor lingkungan juga dapat berpengaruh antara lain:
lingkungan berpolusi, udara dingin serta kering dapat mengakibatkan perubahan
pada mukosa serta kerusakan silia. Kuman penyebab tersering adalah
streptokokus atau stafilokokus, infeksi akibat penjalaran gigi maka kuman
penyebabnya adalah bakteri anaerob. 1
Diagnosa sinusitis maksilaris ditegakkan melalui anamnesis yang tepat
pemeriksaan status lokalis (THT), serta pemeriksaan penunjang lainnya untuk
menyingkirkan kemungkinan penyakit lain dengan gejala sama ataubahkan untuk
mencari penyebab terjadinya sinusitis tersebut. 1
Penanganan yang diberikan antara lain antibiotika golongan penicillin,
dekongestan local berupa tetes hidung, mukolitik dan analgetik.1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. ANATOMI SINUS PARANASAL


Sinus paranasal merupakan salah satu organ tubuh manusia yang
sulit dideskripsi karena bentuknya sangat bervariasi pada tiap individu. Ada
empat pasang sinus paranasal, mulai dari yang terbesar yaitu sinus maksila,
sinus frontal, sinus etmoid dan sinus sfenoid kanan dan kiri. Sinus paranasal
merupakan hasil pneumatisasi tulag-tulang kepala, sehingga terbentuk rongga
di dalam tulang. Semua sinus mempunyai muara (ostium) ke dalam rongga
hidung.
Secara embriologik, sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa
rongga hidung dan perkembangannya dimulai pada fetus usia 3-4 bulan,
kecuali sinus sfenoid dan sinus frontal. Sinus maksila dan sinus etmoid telah
ada saat bayi lahir, sedangkan sinus frontal berkembang dari sinus etmoid
anterior pada anak yang berusia kurang lebih 8 tahun. Pneumatisasi sinus
sfenoid dimulai pada usia 8-10 tahun dan berasal dari bagian postero-superior
rongga hidung. Sinus-sinus ini umumnya mencapai besar maksimal pada usia
antara 15-18 tahun.
Dindingnya terdiri atas tulang kompakta dengan dilapisi muco-
endosteum yang berhubungan dengan mucosa respiratoria pada cavitas nasi.
Sinus paranasal diinervasi oeleh cabang-cabang n.ophthalmicus dan
n.maxillaris. Sinus merupakan penonjolan/evaginasi dari cavitas nasi sehinga
drainage keluar dari cairannya menuju cavitas nasi secara langsung atau tidak
langsung. Dengan adanya hubungan ini maka rhinitis atau radang pada
cavitas nasi dapat menjalar ke sinus menyebabkan sinusitis. Sinus pada waktu
lahir kecil tapi mengalami perkembangan pada waktu pubertas atau dewasa.2

Kompleks Osteo-Meatal (KOM)


Pada sepertiga tengah dinding lateral hidung yaitu di meatus media,
ada muara-muara saluran dari sinus maksila, sinus frontal dan sinus etmoid
anterior. Daerah ini rumit dan sempit, dan dinamakan komples osteo-meatal
(KOM) yang terdiri dari infundibulum etmoid yang terdapat di belakang
prosesus unsinatus, resesus fontalis, bula etmoid, dan sel-sel etmoid anterior
dengan ostiumnya dan ostium sinus maksila.1

Gambar 1: Kompleks osteomeatal

Sistem Mukosiliar
Seperti pada mukosa hidung, di dalam sinus juga terdapat mukosa
bersilia dan palut lendir di atasnya.Di dalam sinus silia bergerak secara teratur
untuk mengalirkan lendir menuju ostium alamiahnya mengikuti jalur-jalur
yang sudah tertentu polanya.1

2.1.1. Sinus Maxilla


Merupakan sinus paranasal yang terbesar. Terdapat dalam corpus
maxillae. Saat lahir sinus maksila bervolume 6-8 ml, sinus kemudian
berkembang dengan cepat dan mencapai ukuran maksimal yaitu 15 ml
saat dewasa.1 Sinus maksilaris berbentuk pyramid dengan basis di medial
yaitu dinding lateral cavum nasi dan apeknya pada prosesus zygomaticus
ossis maxillaris. Atap sinus dibentuk oleh dasar orbita sedangkan dasar
sinus merupakan prosesus alveolaris ossis maxillaries. Dinding
anteriornya memisahkan sinus dengan fasies, sedangkan dinding
posteriornya memisahkan dengan fossa pterigopalatina.1,2
Muara sinus maxillaris pada meatus nasi medius yaitu pada hiatus
semilunaris. Saluran ini terdapat pada dinding medial sebelah
anterosuperior.1,2,3 Dinding anterior sinus ialah permukaan fasial os maksila
yang disebut fosa kanina, dinding posteriornya adalah permukaan infra-
temporal maksila, dinding medialnya ialah dinding lateral rongga hidung,
dinding superiornya ialah dasar orbita dan dinding inferiornya ialah
prossesus alveolaris dan palatum. Ostium sinus maksila berada di sebelah
superior dinding medial sinus dan bermuara ke hiatus semilunaris melalui
infundibulum etmoid.
Sinus maksilaris disebut juga antrum High-more, merupakan sinus
yang sering terinfeksi, oleh karena 1) merupakan sinus paranasal yang
terbesar, 2) letak ostiumnya lebih tinggi dari dasar, sehingga aliran sekret
(drainase) dari sinus maksilaris hanya tergantung dari gerakan silia, 3)
dasar sinus maksilaris adalah dasar akar gigi (prosesus alveolaris), hanya
dipisahkan dengan lamina tulang yang sangat tipis dan bahkan sama sekali
tidak dipisahkan oleh tulang, sehingga infeksi gigi geligi mudah naik
keatas menyebabkan sinusitis, 4) ostium sinus maksilaris terletak dimeatus
medius, disekitar hiatus semilunaris yang sempit sehingga mudah
tersumbat oleh karena drainase kurang baik. 5) Sinusitis maksilaris dapat
menimbulkan komplikasi orbita melalui duktus nasolakrimalis.1,2
Simon berpendapat bahwa ostium sinus maksilaris berupa satu
saluran karena dia menemukan ukuran dari ujung medial sampai lateral
lebih panjang 3 mm dari panjang rata-rata 5,55 mm. Hal ini penting karena
berhubungan dengan patofisiologi terjadinya sinusitis maksilaris, dimana
drainasenya mengandalkan pergerakan silia pada dinding sinus.2
Vaskularisasi sinus maksilaris sebagian besar berasal dari a. maksilaris dan
cabang-cabangnya yang menembus tulang sinus. Drainase vena pada sinus
mulai v.maksilaris dan v.facialis anterior menuju v.jugularis interna. Selain
itu v.maksilaris juga menuju pleksus pterygoid. Sedangkan drainase cairan
limfe ke limfonodi submandibular.2 Sinus maksilaris mendapat inervasi
dari n. infraorbital, n. maxillaries (n.V2). Inervasi sekretomotorik mukosa
sinus berasal dari nucleus intermediate n.fascialis. Membran mukosa sinus
menerima inervasi dari postganglionik parasimpatetik untuk sekresi
mukus.2

Gambar 2. Sinus Paranasalis.

2.2. FISIOLOGI
Sampai saat ini belum ada penyesuaian pendapat mengenai fisiologi
sinus paranasal. Tetapi beberapa teori mengemukakan fungsinya sebagai
berikut :
a. Sebagai pengatur kondisi udara
Pada inspirasi, udara masuk melalui nares anterior, lalu naik ke atas
setinggi konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring,
sehingga aliran udara ini berbentuk lengkungan atau arkus. Pada ekspirasi,
udara masuk melalui koana dan kemudian mengikuti jalan yang sama
seperti udara inspirasi. Akan tetapi di bagian depan aliran udara memecah,
sebagian lain kembali ke belakang membentuk pusaran dan bergabung
dengan aliran dari nasofaring.
b. Sebagai penahan suhu
Fungsi hidung sebagai pengatur kondisi udara perlu untuk
mempersiapkan udara yang akan masuk ke dalam alveolus. Fungsi ini
dilakukan dengan cara :(4)
1) Mengatur kelembaban udara. Fungsi ini dilakukan oleh palut lendir.
Pada musim panas, udara hampir jenuh oleh uap air, penguapan
dari lapisan ini sedikit, sedangkan pada musim dingin akan terjadi
sebaliknya.
2) Mengatur suhu. Fungsi ini dimungkinkan karena banyaknya
pembuluh darah di bawah epitel dan adanya permukaan konka dan
septum yang luas, sehingga radiasi dapat berlangsung secara
optimal.Dengan demikian suhu udara setelah melalui hidung
kurang lebih 37o C.
c. Membantu keseimbangan kepala
Mengurangi berat tulang muka Jika sinus diganti dengan tulang
penambahan berat sebesar 1%
d. Membantu resonansi suara
Penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi.
Sumbatan hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang,
sehingga terdengar suara sengau.
e. Peredam perubahan tekanan udara
Berjalan bila terdapat perubahan tekanan yang besar dan mendadak
misalnya bersin atau membuang ingus
f. Membantu produksi mukus untuk membersihkan rongga hidung
Mukus yang dihasilkan sinus paranasal lebih sedikit dari rongga
hidungmembersihkan partikel yang turut masuk dengan udara inspirasi
keluar dari meatus medius.

2.3. SINUSITIS MAKSILA


2. 3.1. DEFINISI
Sinusitis adalah radang mukosa sinus paranasal. Sesuai
anatomi sinus yang terkena, dapat dibagi menjadi sinusitis maksila,
sinusitis etmoid, sinusitis frontal, dan sinusitis sphenoid. Bila
mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila
mengenai semua sinus paranasal disebut pansinusitis. Yang paling
sering ditemukan ialah sinusitis maksila dan sinusitis etmoid, sinusitis
frontal dan sinusuitis sfenoid lebih jarang. Sinusitis maksilaris dapat
terjadi akut, berulang atau kronis. Sinusitis maksilaris akut
berlangsung tidak lebih dari tiga minggu.Sinusitis akut dapat sembuh
sempurna jika diterapi dengan baik, tanpa adanya residu kerusakan
jaringan mukosa.Sinusitis berulang terjadi lebih sering tapi tidak
terjadi kerusakan signifikan pada membran mukosa. Sinusitis kronis
berlangsung selama 3 bulan atau lebih dengan gejala yang terjadi
selama lebih dari dua puluh hari.1
2. 3.2. ETIOLOGI
Dalam keadaan fisiologis, sinus dalam keadaan steril. Etiologi
dari sinusitis maksilaris yakni Virus, bakteri atau infeksi jamur dari
saluran pernafasan: 2, 4
a. Virus
Virus merupakan penyebab tersering sinusitus maksilaris akut.8
Virus yang didapat dari hasil kultur kavum sinus diantaranya :
rhinovirus, virus influenza A dan B, coronavirus, respiratory
syncytial virus, adenovirus, enterovirus, and virus parainfluenza.
Umumnya sinusitis maksilaris akibat virus gejalanya ringan dan
jarang datang untuk berobat.
b. Bakteri
Infeksi bakteri sering menjadi komplikasi dari infeksi virus,
superinfeksi ini dapat terjadi sepanjang perjalanan infeksi virus
pada saluran nafas atas. Bakteri yang sering ditemukan pada
sinusitis akut diantaranya : Pneumococcus, Streptococcus
pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan Moraxella catarrhalis
dan Staphylococcus aureu,streptokokus lain, dan anaerobes juga
dapat dtemukan. Sedangkan pada sinusitis kronis biasanya
ditemukan infeksi campuran oleh berbagai macam mikroba seperti
kuman aerob S.aureus, S.viridans, H.influenza dan kuman anaerob
Peptostreptokokus dan Flusobakterium. Resistansi bakteri sangat
penting dalam mempengaruhi terapi antimikroba yang dapat
diberikan.8 Streptokokus yang resisten terhadap penicillin
diperkirakan 25% sampai dengan lebih dari 50% dan resistensi
pneumokokus terhadap makrolide dapat mencapai 31%.
c. Jamur
Jamur dapat berkoloni pada sinus paranasal menyebabkan sinusitis
akut maupun kronis, namun jarang pada pasien yang
imunokompeten.8,9 Pada pasien dengan gangguan imunitas dan
diabetes, sering didapatkan Aspergillus dan zygomicoses serta
jamur lain seperti : phaeohyphomycosis, Pseudallescheria, dan
hyalohyphomycosis.
Faktor predisposisi sinusitis maksilaris yakni: 2,4
a. Penularan dari infeksi sinus di dekatnya, seperti faringitis, tonsilitis
atau radang pada gigi geraham atas (odontogen).
b. Rhinitis alergi dan rhinitis kronik. Pada keadaan ini terjadi
hipersekresi cairan mukus yang dapat menyumbat osteum sinus dan
menjadi media bagi pertumbuhan kuman
c. Obstruksi mekanik seperti kelainan septum (spina septum, deviasi
septum, dislokasi septum), hipertropi konka media, benda asing
dalam hidung, polip dan tumor di rongga hidung akan
menyebabkan salah satu atau kedua rongga hidung menjadi lebih
sempit
d. Trauma kapitis yang melibatkan sinus maksilaris.
e. Polusi udara.
Kasus odontogen bisa disebabkan oleh: 2.4
a. Granuloma pada akar gigi sebagai fokal infeksi yang menuju sinus
maksilaris.
b. Ekstrasi gigi yang menyebabkan akar gigi masuk ke dalam sinus.
c. Tindakan yang menyebabkan akar gigi masuk ke dalam sinus.
d. Adanya alat yang merusak lapisan epitel sinus.
e. Tindakan pada gigi impaksi M3, bicuspid atau yang masuk kedalam
sinus.
f. Fraktur prosesus maksilaris yang melibatkan beberapa gigi
sehingga sinus terbuka.
g. Adanya radicular cyst yang menyangkut kedalam sinus.
h. Adanya dry socket akibat pencabutan gigi, dimana socketnya tidak
terisi bekuan darah, sehingga mudah kemasukan sisa makanan
yang menyebabkan infeksi dan menjalar ke dalam sinus.
i. Abses akar gigi yang mengalami gangren.
2. 3.3. PATOFISIOLOGI
Bila terjadi edema di kompleks osteomeatal, mukosa yang
letaknya berhadapan akan saling bertemu, sehingga silia tidak dapat
bergerak dan lendir tidak dapat dialirkan. Maka terjadi gangguan
drainase dan ventilasi didalam sinus, sehingga silia menjadi kurang
aktif dan lendir yang di produksi mukosa sinus menjadi lebih kental
dan merupakan media yang baik untuk tumbuhnya bakteri patogen.
Bila sumbatan berlangsung terus, akan terjadi hipoksia dan retensi
lendir sehingga timbul infeksi oleh bakteri anaerob.1 Bakteri yang
sering ditemukan pada sinusitis kronik adalah Streptococcus
pneumoniae, Haemophilus influenzae, Moraxella
catarrhalis,Streptococcus B hemoliticus, Staphylococcus aureus,
kuman anaerob jarang ditemukan.Selanjutnya terjadi perubahan
jaringan menjadi hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan
kista.
Infeksi gigi yang kronik infeksi bakteri (anaerob)
menyebabkan karies profunda sehingga jaringan lunak gigi dan
sekitarnya rusak, pada pulpa terbuka kuman akan masuk mengadakan
pembusukan pada pulpa membentuk gangren pulpa. Infeksi ini
meluas mengenai selaput periodontium menjadi periodontitis dan
iritasi akan berlangsung lama terbentuk pus. Abses periodontal ini
dapat meluas dan mencapai tulang alveolar menyebabkan abses
alveolar. Tulang alveolar membentuk dasar sinus maksila memicu
inflamasi pada sinus maksila menjadi sinusitis maksilaris .
2. 3.4. GEJALA KLINIS
Gejala subyektif terdiri dari gejala sistemik dan gejala
lokal.Gejala sistemik ialah demam dan rasa lesu. Gejala lokal pada
hidung terdapat ingus kental yang kadang-kadang berbau dan
dirasakan mengalir ke nasofaring. Dirasakan hidung tersumbat,
Seringkali terdapat nyeri pipi khas yang tumpul dan menusuk, serta
nyeri di tempat lain karena nyeri alih (referred pain). Sekret
mukopurulen dapat keluar dari hidung dan terkadang berbau
busuk. Batuk iritatif non-produktif juga seringkali ada Nyeri alih
dirasakan di dahi dan di depan telinga. Penciuman terganggu dan ada
perasaan penuh dipipi waktu membungkuk ke depan. Terdapat
perasaan sakit kepala waktu bangun tidur dan dapat menghilang hanya
bila peningkatan sumbatan hidung sewaktu berbaring sudah
ditiadakan. Gejala obyektif, pada pemeriksaan sinusitis maksila akut
akan tampak pembengkakan di pipidan kelopak mata bawah. Pada
rinoskopi anterior tampak mukosa konka hiperemis dan edema. Pada
sinusitis maksila, sinusitis frontal dan sinusitis etmoid anterior tampak
lendir atau nanah di meatus medius. Pada rinoskopi posterior tampak
mukopus di nasofaring (post nasal drip). Di samping itu, adanya
kelainan apikal atau periodontal mempredisposisi kepada sinusitis tipe
dentogen.
2. 3.5. DIAGNOSIS
a. Anamnesis
Sinusitis akut apabila terjadi infeksi saluran nafas yang
menetap dalam 7-10 hari, terutama jika infeksinya berat dan
disertai demam tinggi, sekret purulen dari hidung, atau edema
periorbital. Batuk pada malam hari adalah gejala nomor 2 tersering
atau tanda dari sinusitis yang diikuti oleh rhinitis purulen. Sakit
kepala, nyeri wajah atau edema tidak sering ditemukan. 2 Gejala
dari sinusitis kronik adalah tidak spesifik dan bervariasi. Bila ada
demam , suhu badan tidak begitu tinggi. Malaise, cepat lelah dan
anoreksia mungkin ada. Sekret dari hidung bervariasi dari tipis
sampai tebal, dari serus sampai purulen. Bau mulut dilaporkan
lebih sering pada orangtua daripada anak. Obstruksi hidung
ditandai dengan bernafas melalui mulut dan adanya nyeri
tenggorok.2
Beberapa anak kecil dengan sinusitis maksilaris kronik,
orang tuanya mungkin menemukan secara kebetulan pada pagi
hari, mata yang bengkak dan tanpa rasa nyeri. Anak yang lebih
besar mungkin mengeluh hilangnya kemampuan perasa oleh
karena hubungannya dengan obstruksi nasal dan anosmia. Gejala
pada malam hari mungkin juga termasuk mengorok dan batuk oleh
karena hubungannya dengan post nasal drip.2
b. Pemeriksaan fisik
1) Rhinoskopi anterior, tampak mukosa hidung hiperemis dan
edema, terlihat pus pada meatus nasi media.
2) Rhinoskopi posterior, tampak sekret kental di nasofaring (post
nasal drip)
3) Transiluminasi. Pada sinus normal tampak gambaran bulan sabit
yang terang di bawah mata, dan bila ada sinusitis, sinus yang
sakit akan menjadi suram atau gelap. Pemeriksaan
transiluminasi bermakna apabila salah satu sisi sinus yang sakit,
sehingga tampak lebih suram dibandingkan sisi yang normal.

Tabel 1. Kriteria diagnosis sinusitis

Mayor Minor
Nyeri atau rasa tertekan pada wajah Sakit kepala
Sekret nasal dan post nasal purulen Batuk
Demam (fase akut) Rasa lelah
Kongesti nasal Halitosis
Obstruksi nasal Nyeri gigi
Hiposmia atau anosmia Nyeri atau rasa tertekan /penuh pada
telinga
Diagnosis memerlukan dua kriteria mayor atau satu kriteria mayor dengan dua kriteria
minor pada pasien dengan gejala lebih dari 7 hari.

Sumber: Boies ET. (2001) 9

c. Pemeriksaan mikrobiologik dan laboratorium


Untuk pemeriksaan mikrobiologik sebaiknya diambil sekret
dari meatus medius atau meatus superior. Pada sinusitis akut,
kemungkinan akan ditemukan bermacam-macam bakteri yang
merupakan flora normal di hidung atau kuman patogen, seperti
Pneumococcus, Sterptococcus, Sthaphylococcus dan H.influenza
atau bahkan virus/jamur. Sedangkan pada sinusitis kronis biasanya
ditemukan infeksi campuran oleh berbagai macam mikroba seperti
kuman aerob S.aureus, S.viridans, H.influenza dan kuman anaerob
Peptostreptokokus dan Flusobakterium. 8
d. Sinuskopi
Pemeriksaan endoskopi pada sinus maksilaris disebut
sinuskopi atau antroskopi. Caranya adalah kanul dan trokar
dimasukkan ke dalam antrum melalui dinding lateral meatus nasi
inferior dengan memakai anestesi lokal. Kemudian trokar dicabut
dan antroskop dimasukkan ke dalam sinus melalui kanul. Apabila
dalam sinus masih banyak terdapat cairan maka terlebih dahulu
8
dilakukan irigasi. Pemeriksaan sinoskopi ini untuk mengetahui
mukosa masih reversible atau tidak. Pada sinusitis maksilaris
kronis dijumpai gambaran mukosa yang menebal, edema atau
polipoid dan pada bagian tertentu kemungkinan terjadi fibrosis
serta dilapisi oleh sekret berupa pus atau mukopus. 8
e. Pemeriksaan radiologi
Evaluasi radiologi berguna bila diagnosis sinusitis akut
yang meragukan setelah anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan radiologi sinus (posisi waters, Caldwell,lateral dan
oblique) mempunyai nilai prediksi 72-96% dalam mendiagnosa
sinusitis akut. Posisi waters sendiri mempunyai nilai prediksi yang
sama untuk mendiagnosa sinusitis maksilaris. Pada sinusitis
maksilaris akut ditemukan penebalan mukosa, air fluid level dan
perselubungan sinus.
f. Pemeriksaan gigi
Infeksi gigi berperanan pada 10% kasus sinusitis
maksilaris, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan gigi rahang atas.
Penyebab tersering adalah gigi premolar dan molar 1 yang
mengalami gangren pulpa, abses pada apeks gigi akibat cabut gigi
dan periodontis kronis. 7,8,9

2. 3.6. DIAGNOSIS BANDING


a. Sinusitis Maksilaris Duplex e.c Odontogen Kronik eksaserbasi akut
b. Sinusitis Maksilaris Duplex e.c Rhinogen Kronik eksaserbasi akut
c. Rhinosinusitis maksilaris duplex e.c odontogen kronik eksaserbasi
akut
d. Rhinitis kronik eksaserbasi akut
2. 3.7. DIAGNOSIS SEMENTARA
Sinusitis Maksilaris Duplex e.c Odontogen Kronik eksaserbasi akut
2. 3.8. PENATALAKSANAAN
Medikamentosa
Antibiotik
- Amoksisilin tab 500 mg, dosis : 3 x 1
- Amoksisilin 500 mg + Asam klavulanat 125 mg, dosis 3 x 1.
Diberikan selama 10-14 hari
Dekongestan
- Oral
o Pseudoefedrin tab 60 mg, dosis : 3 x 1
- Topikal
o Efedrin 1 % (dewasa), 0,5 % (anak)
o Oksimetazolin hidroklorida 0,025 % (tetes hidung) anak
o Oksimetazolin hidroklorida 0,05 % (semprot hidung) dws
Kortikosteroid
- Topikal/oral
o Deksamethasone tab 0,5 mg, dosis : 3 x 1
o Mometasone furoate (nasal spray) 200 mcg, dosis : 2 x 1
selama 15 hari
Mukolitik
- Bromheksin tab 8 mg, dosis : 3 x 1
Konservatif : irigasi sinus.
Operatif. Beberapa macam tindakan bedah sinus yaitu antrostomi meatus
inferior, Caldwell-Luc, etmoidektomi intra dan ekstra nasal, trepanasi
sinus frontal, dan bedah sinus endoskopik fungsional.
2. 3.9. KOMPLIKASI
Komplikasi Orbita
a. Peradangan atau reaksi edema yang ringan. Terjadi pada isi orbita
akibat infeksi sinus ethmoidalis di dekatnya. Keadaan ini terutama
ditemukan pada anak, karena lamina papirasea yang memisahkan
orbita dan sinus ethmoidalis.
b. Selulitis orbita, edema bersifat difus dan bakteri telah secara aktif
menginvasi isi orbita namun pus belum terbentuk.
c. Abses subperiosteal, pus terkumpul diantara periorbita dan dinding
tulang orbita menyebabkan proptosis dan kemosis.
d. Abses orbita, pus telah menembus periosteum dan bercampur
dengan isi orbita. Tahap ini disertai dengan gejala sisa neuritis optik
dan kebutaan unilateral yang lebih serius. Keterbatasan gerak otot
ekstraokular mata yang tersering dan kemosis konjungtiva
merupakan tanda khas abses orbita, juga proptosis yang makin
bertambah.
e. Trombosis sinus kavernosus, merupakan akibat penyebaran bakteri
melalui saluran vena ke dalam sinus kavernosus, kemudian
terbentuk suatu tromboflebitis septik.
Komplikasi Intra Kranial
a. Meningitis akut, salah satu komplikasi sinusitis yang terberat yang
mana infeksi dari sinus paranasalis dapat menyebar sepanjang
saluran vena atau langsung dari sinus yang berdekatan, seperti
lewat dinding posterior sinus frontalis atau melalui lamina
kribriformis di dekat sistem sel udara ethmoidalis.
b. Abses dural, adalah kumpulan pus diantara dura dan tabula interna
kranium, seringkali mengikuti sinusitis frontalis. Proses ini timbul
lambat, sehingga pasien hanya mengeluh nyeri kepala dan sebelum
pus yang terkumpul mampu menimbulkan tekanan intrakranial.
c. Abses subdural, adalah kumpulan pus diantara duramater dan
arachnoid atau permukaan otak. Gejala sama dengan abses dura.
d. Abses otak, setelah sistem vena, dapat mukoperiosteumsinus
terinfeksi, maka dapat terjadi perluasan metastatik secara
hematogenke dalam otak. Terapi komplikasi intra kranial ini adalah
antibiotik yang intensif, drainase secara bedah pada ruangan yang
mengalami abses dan pencegahan penyebaran infeksi.
2. 3.10. PROGNOSIS
Prognosis sinusitis tipe dentogen sangat tergantung kepada
tindakan pengobatan yang dilakukan dan komplikasi penyakitnya.
Jika, drainase sinus membaik dengan terapi antibiotik atau terapi
operatif maka pasien mempunyai prognosis yang baik.
BAB III

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. A
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 50 tahun
Alamat : Jalan Kalimantan Asrama Benglap Wates
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Status : Menikah
No. CM :-
Tanggal Masuk : 3 Juli 2017
Tanggal Pemeriksaan : 3 Juli 2017
II. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 3 Juli 2017 di

poli THT RST dr. Soedjono Magelang


2.1. Keluhan Utama:

Pasien datang dengan keluhan keluar ingus kental.

2.2. Riwayat Penyakit Sekarang:

Pasien datang dengan keluhan nyeri pada pipi kanan dan kiri sejak 3
minggu yang lalu disertai pusing. Pasien juga mengeluhkan keluar
ingus kental berwarna kuning kehijauan dan berbau busuk dari lubang
hidung kanan dan kiri . Keluhan dirasakan terus menerus dan hilang
timbul. Selain itu pasien juga merasakan adanya keluhan lubang
hidung tersumbat kanan dan kiri, pasien juga merasakan ada seperti
lendir yang mengalir ke tenggorokan terutama jika berbaring. Pasien
juga mengeluhkan adanya gangguan penciuman. Pasien juga
merasakan badan nya terasa lemas dan nyeri pada gigi kanan dan kiri
atas. Keluhan batuk (-). sakit pada telinga (-), sakit pada tenggorokan
(-).

2.3. Riwayat Penyakit Dahulu:


Riwayat penyakit serupa : pernah mengalami keluhan yang sama 5
bulan yang lalu, dan tidak dilakukan berobat ke dokter.
Riwayat trauma pada wajah: disangkal
Riwayat sakit gigi : pasien 7 bulan yang lalu mengeluhkan sakit
gigi geraham atas sampai gusinya bengkak dan terdapat gigi geraham
yang bolong sebelah kiri dan kanan. Pasien mengaku belum mencabut
gigi yang bolong.
Riwayat alergi : (-)
Riwayat penyakit sistemik : disangkal
Riwaya sakit pada telinga & tenggorokan sebelumnya : disangkal
2.4. Riwayat Penyakit Keluarga:
Tidak ada riwayat keluhan yang sama pada keluarga.
Tidak ada anggota keluarga yang memiliki riwayat alergi.
2.5. Riwayat Sosial Ekonomi:

Pasien saat ini tinggal dengan orangtua dan saudara kandung.

Biaya kesehatan ditanggung oleh BPJS Non-PBI.

Kesan ekonomi : cukup

III. PEMERIKSAAN FISIK


3.1. Status Generalis:
3.1.1. Keadaan Umum : Baik
3.1.2. Kesadaran : Compos Mentis
3.1.3. Status Gizi : BMI 25.2, overweight
3.1.4. Tanda Vital
i. Tekanan Darah: 120/80 mmHg
ii. Nadi : 80 x/menit
iii. RR : 20 x/menit
iv. Suhu : 36,7 C
3.2. Status Lokalis THT (Telinga, Hidung, Tenggorokan)
3.2.1. Kepala dan Leher
Kepala : Normocephale
Wajah : Simetri
Leher : Pembesaran kelenjar limfe (-)
3.2.2. Gigi dan Mulut:
Gigi-geligi : Tampak ada karies M1 kanan dan kiri atas
Lidah : normal, kotor (-), tremor (-)
Pipi : bengkak (-)
3.2.3. Telinga

Kanan Kiri
Auricula Bentuk normal, Bentuk normal,
nyeri tarik (-) nyeri tarik (-)
tragus pain (-) tragus pain (-)
Pre Auricular Bengkak (-), Bengkak (-),
nyeri tekan(-), nyeri tekan (-),
fistula(-) fistula (-)
Retro Bengkak (-), Bengkak (-),
Nyeri tekan(-) Nyeri tekan(-)
Auricular
Mastoid Bengkak (-), Bengkak (-),
Nyeri tekan(-) Nyeri tekan(-)
CAE Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Serumen (-) Serumen (-)
Otorea (-) Otorea (-)
Membran Warna: Putih keabu- Warna: Puti keabu-abuan
Intak (+)
Timpani abuan
Perforasi (-)
Intak (+)
Cone of light (+)
Perforasi (-)
Retraksi (-)
Cone of light (+)
Retraksi (-)

3.2.4. Hidung dan Sinus Paranasal:

Bagian Hidung Luar


Dextra Sinistra
Bentuk Normal Normal
Inflamasi atau tumor - -
Nyeri tekan & nyeri ketuk Nyeri tekan & nyeri Nyeri tekan & nyeri
sinus ketuk pipi (+) ketuk pipi (+)
Deformitas atau septum -
deviasi
Rhinoskopi Anterior
Sekret Mukopurulen (+) Mukopurulen (+)
Mukosa Hiperemis (+) Hiperemis (+)
Konka nasi media Hipertrofi (+) Hipertrofi (+)
Konka nasi inferior. Hipertrofi (+) Hipertrofi (+)
Massa (-)
Septum Deviasi (-)
Pemeriksaan Sinus

Dekstra Sinistra
Inspeksi
o Pembengkakan pada - -
pipi
o Warna kulit Sama dengan sekitar Sama dengan sekitar
Palpasi
o Nyeri tekan di pipi + +
o Nyeri tekan di atas - -
orbita
o Nyeri tekan di - -
cantus medius
Transiluminasi
o Sinus Maksila Suram Suram
o Sinus Frontal Cahaya terang Cahaya terang

3.2.5. Tenggorokan

Bibir Mukosa bibir basah, berwarna merah muda (N)


Mulut Mukosa mulut basah berwarna merah muda
Geligi Warna kuning gading, caries (+) M1 superior dextra et
sinistra
Ginggiva Warna merah muda, sama dengan daerah sekitar
Lidah Tidak ada ulkus, dalam batas normal
Uvula Bentuk normal, hiperemi (-), edema (-)
Palatum mole Ulkus (-), hiperemi (-)
Faring Mukosa hiperemi (-), reflex muntah (+), membrane (-)
Tonsila palatine Kanan Kiri
Ukuran T1 T1
Warna Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Permukaan Rata Rata
Kripte Melebar (-) Melebar (-)
Detritus (-) (-)
Post nasal drip +

IV. USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan Darah Lengkap
X-ray kepala Waters dan Lateral
CT Scan sinus potongan koronal atau aksial
Nasoendoskopi
Sinuskopi
Pemeriksaan Mikrobiologik & tes resistensi

V. RINGKASAN
5.1. Anamnesis
a. Rinore mukopurulen
b. Nyeri maksila dextra et sinistra (+)
c. Maksila dextra et sinistra terasa penuh & tertekan (+)
d. Obstruksi nasal (+)
e. Post nasal drip (+)
f. Hiposmia/anosmia (+)
g. Halitosis (+)
h. Malaise (+)
i. Sefalgia (+)
j. Nyeri gigi superior dextra dan sinistra (+)
k. RPD : Keluhan serupa 5 bulan yang lalu (+)
5.2. Pemeriksaan
a. Pemeriksaan Kepala dan Leher:Dalam batas normal
b. Pemeriksaan Gigi dan mulut : Tampak ada karies M1 superior dextra et
sinistra
c. Pemeriksaan Telinga & Tenggorokan : Dalam batas normal
d. Pemeriksaan Hidung:
Rhinoskopi Anterior Dextra dan Sinistra :
- Sekret (+) mukopurulen
- Mukosa hiperemis (+)
- Konka media dan inferior hipertrofi (+)
Rhinoskopi Posterior :

- Post Nasal Drip (+)


e. Pemeriksaan sinus :
- Nyeri tekan pipi (+)
- Nyeri ketuk pipi (+)
f. Pemeriksaan penunjang berupa Transiluminasi:
Sinus maksilaris dextra et sinistra: tampak suram pada daerah infra orbita

VI. DIAGNOSIS BANDING:

Sinusitis Maksilaris Dextra et sinistra e.c Odontogen Kronik eksaserbasi


akut
Sinusitis Maksilaris Dextra et sinistra e.c Rhinogen (Rhinosinusitis
Maksilaris Dextra et sinistra) kronik eksaserbasi akut
Rhinosinusitis maksilaris duplex e.c odontogen kronik eksaserbasi akut
Rhinitis kronik eksaserbasi akut

VII. DIAGNOSIS

Sinusitis Maksilaris Dextra et sinistra e.c Odontogen Kronik eksaserbasi


akut

VIII. USULAN TERAPI dan PENGELOLAAN


Konservatif : Irigasi sinus
Medikamentosa:
Amoxicillin tab 500 mg No. XLII stdd tab 1
Pseudoefedrine HCl 60 mg No. XLII stdd tab 1
Mometasone furoate (nasal spray) 200 mcg, 2 x 1 selama 15 hari
Asam mafenamat tab 500 mg No. XXI stdd tab 1
Bromheksin tab 8 mg, stdd tab 1
Operatif :
- Caldwell-Luc Procedure
- FESS (Functional Endoscopy Sinus Surgery)
Rencana Pengelolaan : rujuk Sp.THT-KL dan rujuk ke dokter gigi

IX. EDUKASI
Menjaga kesehatan gigi dan kebersihannya dengan kontrol ke dokter
gigi
Meminum obat yang sudah diberikan secara teratur dan kontrol ke
poliklinik
Istirahat cukup dan makan makanan bergizi

X. PROGNOSIS:

- Quo ad vitam : dubia ad bonam

- Quo ad sanam : dubia ad bonam

- Quo ad functionam : dubia ad bonam


BAB IV
PEMBAHASAN

Pada kasus ini pasien seorang perempuan berusia 50 tahun datang dengan
keluhan keluar ingus kental warna kuning kehijauan dan berbau dari lubang
hidung kanan dan kiri sejak 3 minggu yang lalu. Pasien juga mengeluh nyeri pada
pipi kanan dan kiri, merasa bagian wajah sebelah kanan dan kirinya terasa penuh
dan seperti tertekan. Selain itu pasien juga merasakan adanya keluhan hidung
tersumbat bergantian kanan dan kiri dan pasien juga merasakan ada seperti lendir
yang mengalir dari hidung yang jatuh ke tenggorokan serta adanya gangguan pada
penciuman. Keluhan-keluhan tersebut mengarah ke gejala mayor dari sinusitis.
Lokasi pipi kanan dan kiri yang terasa nyeri mengarahkan ke lokasi sinus maksila
dextra et sinistra. Keluhan hidung tersumbat menunjukan adanya obtruksi nasal.
Adanya keluhan seperti ada lendir yang mengalir dari hidung jatuh ke
tenggorokan mengarah ke Post Nasal Drip. Gangguan penciuman menunjukan
adanya hiposmia.
Terdapat juga keluhan bau busuk seperti tercium dari hidung dan nafas nya
juga berbau tidak enak, demam, badan nya terasa lemas dan kepala nya pusing
cekot-cekot. Terdapat juga keluhan nyeri pada gigi atas kanan. Keluhan tersebut
mengarah ke gejala minor dari sinusitis. Keluhan nyeri pada gigi kanan atas
mengarahkan kita ke faktor predisposisi dari sinusitis yang terjadi yaitu faktor
odontogen.
Keluhan yang disangkal berupa batuk (-), keluhan sakit pada telinga (-),
sakit pada tenggorokan (-), sesak (-) ditanyakan untuk mengarahkan kita ke faktor
predisposisi dan komplikasi yang dapat terjadi. Sehingga dari anamnesis tersebut
sudah didapatkan 5 gejala mayor dan 5 gejala minor dari sinusitis.
Pada riwayat penyakit dahulu diakui bahwa sebelumnya terdapat riwayat
atas sejak 7 bulan yang lalu memperkuat faktor odontogen sebagai predisposisi.
Tidak adanya riwayat alergi memperkuat bahwa faktor rhinogen bukan faktor
predisposisi nya.
Dari pemeriksaan fisik, didapatkan karies M1 kiri dan kanan atas. Hal
tersebut semakin memperkuat predisposisi odontogen sebagai pencetus sinusitis
nya. Pada pemeriksaan hidung, didapatkan adanya nyeri tekan & nyeri ketuk pipi
kanan dan kiri yang mengarah ke sinusitis maksilaris. Selain itu juga didapatkan
sekret yang mukopurulen dan mukosa hiperemis pada pemeriksaan rhinoskopi
anterior dextra et sinistra.
Pemeriksaan penunjang berupa transiluminasi dengan hasil terdapat
bayangan yang suram pada sinus maksilaris dextra et sinistra. Namun untuk lebih
meyakinkan lokasi sinusitis, dibutuhkan pemeriksaan penunjang berupa X-ray
kepala posisi Waters dan lateral serta sinuskopi.
Terapi yang diberikan berupa terapi konservatif (irigasi sinus), terapi
medikamentosa (antibiotik oral, dekongestan dan antihistamin oral, kortikostreoid
topikal, kortikosteroid oral, analgetik) dan terapi pembedahan yakni FESS atau
pembedahan metode Caldwell-Luc. Penanganan lain yang juga penting yaitu
terhadap masalah gigi nya dengan konsul ke bagian gigi karena hal tersebut yang
menjadi predisposisi dari sinusitis maksilaris yang terjadi.

MEKANISME KASUS
Infeksi gigi yang kronis

infeksi bakteri (anaerob)

karies profunda

jaringan lunak gigi dan sekitarnya rusak

Pulpa terbuka

kuman akan masuk

mengadakan pembusukan pada pulpa

membentuk gangren pulpa

Infeksi ini meluas

mengenai selaput periodontium

periodontitis dan iritasi akan berlangsung lama

terbentuk pus

Abses periodontal ini dapat meluas dan mencapai tulang alveolar


menyebabkan abses alveolar

Tulang alveolar membentuk dasar sinus maksila

memicu inflamasi pada sinus maksila

sinusitis maksilaris

DAFTAR PUSTAKA

1. Mangunkusumo E, Damayanti S. Sinus Paranasal. Dalam: Supardi EA,


Iskandar N, editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan
Kepala Leher. Ed 5. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI; 2001. p.115 119
2. Mangunkusumo E, Rifki N. Sinusitis. Dalam: Supardi EA, Iskandar N, editor.
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala Leher. Ed 5.
Jakarta: Balai Penerbitan FKUI; 2001. p.120-124
3. Anonymous. Anesthesia for Otorhinolaryngological Surgery. In: Morgan GE,
Mikhail MS, Murray MJ, editors. Clinical Anesthesiology. 6th ed. New York,
NY: McGraw Hill; 2006. p. 837-47
4. Rubin MA, Gonzales R, Sande MA. Infections of the Upper Respiratory Tract.
In: Kasper DL, Braunwald E, Fauci AS, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL,
editors. Harrisons Principle of Internal Medicine. 16 th ed. New York, NY:
McGraw Hill; 2005. p. 185-93
5. Higler PA. Nose: Applied Anatomy dan Physiology. In: Adams GL, Boies LR,
Higler PA, editors. Boies Fundamentals of Otolaryngology. 6 th ed.
Philadelphia, PA: WB Saunders Company; 1989. p.173-90
6. Sobol SE, Schloss MD, Tewfik TL. Acute Sinusitis Medical Treatment. August
8, 2005. Available from: http://www.emedicine.com. Accessed August 15,
2006
7. American Academy Of Pediatrics Subcommittee on Management of Sinusitis
and Committee on Quality Improvement. Clinical Practice Guideline:
Management of Sinusitis. Pediatrics 2001 Sep; 108(3):798-808
8. Boies ET. Sinusitis. In: Harwood-Nuss A, Wolfson AB, Linden CA, Shepherd
SM, Stenklyft PH. The Clinical Practice of Emergency Medicine. 3 rd ed.
Philadelphia, PA: Lippincott Williams & Wilkins Publishers; 2001
9. H, Hinthorn D. Sinusitis. January 16,2003. Available from:
http://www.emedicine.com. Accessed June 20, 2006
10. Suardana W, et al. Rhinologi. Dalam: Suardana W, Bakta M, editor. Pedoman
Diagnosis dan Terapi. Denpasar: Komite Medik RSUP Sanglah; 2000.