Anda di halaman 1dari 21

Kode/Nama Rumpun Ilmu* : 307 /Ilmu Kedokteran Dasar

& Biomedis

USULAN
PENELITIAN TIM PASCASARJANA

ADAPTASI MOLEKULER YANG TERJADI DI JARINGAN OTAK


TIKUS WISTAR SEBAGAI RESPON TERHADAP LATIHAN FISIK
AEROBIK DAN ANAEROBIK

TIM PENGUSUL

Dr. Rostika Flora., S.Kep., M.Kes., AIF (NIDN:0227097101)


Dr.dr. Moh. Zulkarnain, Sp.KK M.Med.Sc.PKK (NIDN: 0003096103)
Dr. Drs. Sukirno (NIDN: 0010085501)

UNIVERSITAS SRIWIJAYA
DESEMBER 2016
HALAMAN PENGESAHAN
PENELITIAN TIM PASCASARJANA

Judul Kegiatan : ADAPTASI MOLEKULER YANG TERJADI DI


JARINGAN OTAK TIKUS WISTAR SEBAGAI
RESPON TERHADAP LATIHAN FISIK AEROBIK
DAN ANAEROBIK

Kode/Nama Rumpun Ilmu : 307/Ilmu Kedokteran Dasar & Biomedis


Ketua Peneliti
A. Nama Lengkap : Dr. Rostika Flora., S.Kep., M.Kes., AIF
B. NIDN : 0227097101
C. Jabatan Fungsional : Asisten Ahli
D. Program Studi : Ilmu Biomedik
E. Nomor HP : : 082110351971
F. Surel (e-mail) : rostikaflora@gmail.com

Anggota Peneliti (1)


A. Nama Lengkap : Dr. Drs. Sukirno
B. NIDN : 0010085501
C. Perguruan Tinggi : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Lama Penelitian Keseluruhan : 3 Tahun


Penelitian Tahun ke-1 : Rp. 100.000.000,-
Penelitian Tahun ke-2 : Rp. 110.000.000,-
Penelitian Tahun ke-3 : Rp. 150.000.000,-
Biaya Penelitian Keseluruhan : Rp 360.000.000,-
Biaya Tahun Berjalan : - diusulkan ke DIKTI Rp 150.000.000,-

Palembang, 13 Desember 2016


IDENTITAS DAN URAIAN UMUM

1. Judul Penelitian : Adaptasi Molekuler Yang Terjadi di Jaringan Otak Tikus Wistar
Sebagai Respon Terhadap Latihan Fisik Aerobik dan Anaerobik

2. Tim Peneliti :
No. Nama Jabatan Bidang Instansi Asal Alokasi
Keahlian waktu
(jam/minggu)

1. Dr. Rostika Flora, M.Kes Ketua Biomedik FK Unsri 18

2. Dr.dr. Moh. Zulkarnain Anggota 1 FK FK Unsri 12

3. Dr.Drs. Sukirno Anggota 1 Olahraga FKIP Penjas 12


Unsri

3. Objek Penelitian : Jaringan Otak Tikus Wistar Jantan


4. Masa Pelaksanaan:
Mulai : bulan Januari Tahun : 2015
Berakhir : bulan Desember Tahun : 2017
5. Usulan Biaya DRPM Ditjen Penguatan Risbang :
Tahun ke-1 : Rp. 100.000.000,-
Tahun ke-2 : Rp. 110.000.000,-
Tahun ke-3 : Rp. 150.000.000,-
6. Lokasi Penelitian : Laboratorium dan Animal House
7. Instansi lain yang terlibat : Laboratorium Bio Sains Riset Palembang
Laboratorium Bio Sain Riset Palembang menyediakan animal house, animal treadmill
dan pemeriksaan laboratorium yang diperlukan dalam pelaksanaan penelitian ini
(pembuatan homogenat jaringan otak).
8. Temuan yang ditargetkan : Didapatkannya teori molekuler tentang respon adaptasi
jaringan otak terhadap latihan fisik aerobik dan anaerobik
9. Kontribusi mendasar pada suatu bidang ilmu : Penelitian molekuler di bidang olahraga
masih sangat terbatas. Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjelaskan repon adaptasi
molekuler yang terjadi pada jaringan otak selama latihan fisik. Diharapkan hasil
penelitian berkontribusi dalam menetapkan kebijakan pentingnya olahraga tidak hanya
untuk orang yang sehat tetapi juga untuk pasien jiwa dan lansia.
10. Jurnal ilmiah yang menjadi sasaran untuk setiap mahasiwa peserta : Medical Journal
Indonesia dan Neurobehavioural Journal
11. Rencana luaran : Tesis bagi mahasiswa peserta (tahun 2017) dan buku ajar (tahun 2017)
Daftar nama mahasiswa yang terlibat dalam dana Hibah Penelitian Program Pasca
Sarjana Universitas Sriwijaya 2017, yaitu :

NO NAMA NIM BKU JUDUL PENELITIAN


1 Feblin 0411-26-81620-030 Fisiologi Pengaruh Latihan Fisik Aerobik
Versiliantina Dan Anaerobik Terprogram
Terhadap Kadar Endorfin Di
Hipotalamus Tikus Wistar Jantan
2 Herlia Elvita 0411-26-81620-025 Fisiologi Perbandingan Kadar Stres
Oksidatif dengan Kadar Beta
Endorphin Plasma Pada Tikus
Yang Diberikan Latihan Fisik
Aerobik dan Anaerobik
3 Andre 0411-26-81620-021 IKOR Pengaruh Latihan Fisik Anerobik
Akut Dan Kronik Terhadap Kadar
Endorphin Jaringan Otak Tikus
Wistar Jantan
4 Lisna Ferta Sari 0411-26-81620-008 Sains Perbandingan Kadar Beta
Reproduksi Endorphin Jaringan Otak dan
Jaringan Testis Pada Tikus Wistar
Yang Diberi Latihan Fisik Akut
Aerobik
5 Nadhiah 0411-26-81620-032 Sains Hubungan Antara Kadar Beta
Reproduksi Endorphin Jaringan Testis Dengan
Kadar Testoteron Plasma Pada
Tikus Wistar Jantan Yang
Diberikan Latihan Fisik Aerobik
Dan Anerobik Kronik
6 Mita Puspita Sari 0411-26-81620-022 Sains Pengaruh Latihan Fisik Aerobik
Reproduksi Dan Anaerobik Terhadap Kadar
Beta Endorphin Jaringan Testis
Tikus Wistar
RINGKASAN

Latihan fisik merupakan aktivitas fisik yang teratur dalam jangka waktu dan intensitas
tertentu, yang bertujuan menjaga tubuh agar dalam keadaan sehat dan bugar. Latihan fisik
selain meningkatkan kebugaran tubuh juga dapat meningkatkan fungsi kognitif . Latihan fisik
dapat meningkatkan fungsi kognitif melalui perbaikan hipocampus yang berperan pada
pembelajaran spasial, melalui plastisitas sinaptik, dan neurogenesis. Proses neurogenesis akan
terjadi apabila terdapat stimulasi dari neurotrophin, yaitu Brain Derived Neurothropic Factor
(BDNF). BDNF merupakan neurotrophin yang paling aktif menstimulasi dan mengendalikan
proses neurogenesis. Latihan fisik dapat meningkatkan sekresi BDNF melalui peran Insulin
Like Growth Factor-1 (IGF-1).
Peningkatan fungsi kognitif berdampak terhadap peningkatan kesehatan mental.
Latihan fisik yang dilakukan secara teratur dapat meningkatkan sekresi endorfin. Endorfin
adalah endogen opioid peptide yang berfungsi sebagai inhibitor neurotransmitter, diproduksi
oleh kelenjar hipofisis dari hipotalamus. Endorfin berperan dalam mengontrol persepsi rasa
nyeri secara endogen sehingga dapat berperan sebagai analgesik yang kuat untuk rasa sakit
pada tubuh selama beberapa jam, potensi analgesik senyawa ini 18-30 kali lebih kuat dari
morfin. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa, peningkatan sekresi endorfin pada latihan
fisik berat tidak hanya memberikan efek analgetik tetapi juga memperbaiki mood.
Dari berbagai hasil penelitian tersebut diketahui bahwa, latihan fisik dapat
menimbulkan respon adaptasi molekuler pada otak yang berdampak terhadap kesehatan otak
dan kesehatan mental. Akan tetapi belum diketahui apakah terdapat perbedaan respon
adaptasi molekuler yang terjadi di jaringan otak pada latihan fisik aerobik dan latihan fisik
anaerobik. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui adaptasi
molekuler yang terjadi di jaringan otak sebagai respon terhadap latihan fisik aerobik dan
anaerobik. Penggunaan hewan coba, seperti tikus wistar, sebagai model penelitian merupakan
pilihan yang tepat untuk mengembangkan penelitian molekuler sehingga dasar adaptasi
molekuler di otak selama latihan fisik dapat diketahui.

Keyword : aktivitas fisik aerobik dan anaerobik, jaringan otak, endorfin, kesehatan mental
DAFTAR ISI

Cover .................................................................................................................................. i

Daftar Isi .......................................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang .......................................................................................................... 1


1.2. Rumusan Masalah ..................................................................................................... 5
1.3. Tujuan Penelitian ...................................................................................................... 5
1.4. Manfaat Penelitian .................................................................................................... 6
1.5. Kerangka Teori ......................................................................................................... 7
1.6. Kerangka Konsep ...................................................................................................... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Otak ........................................................................................................................... 9
2.2. Konsep Latihan Fisik ................................................................................................ 6
2.2.1. Definisi ............................................................................................................ 10
2.2.2. Intensitas Latihan Fisik ................................................................................... 10
2.2.3. Durasi Latihan Fisik ........................................................................................ 11
2.3. Hypoxia Inducible Factor-1 (HIF-1) ....................................................................... 12
2.1.1. Peran HIF-1 dalam aktivitas fisik .................................................................. 12
2.4. Vascular Endhothelian Growth Factor (VEGF) ..................................................... 13
2.5. Brain Derived Neutrothopic Factor (BDNF) .......................................................... 14
2.6. Insulin Lika Growth Factor-1 (IGF-1) .................................................................... 15
2.7. Endorfin...........................................................................................................15

BAB III METODE PENELITIAN


3.1. Jenis dan Rancangan Penelitian .............................................................................. 16
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian ................................................................................. 16
3.2.1. Tempat ............................................................................................................. 16
3.2.2. Waktu ...............................................................................................................16
3.3. Populasi dan Sampel ................................................................................................16
3.3.1. Populasi ........................................................................................................... 16
3.3.2. Sampel .............................................................................................................. 16
3.4. Besar Sampel .......................................................................................................... 16
3.5. Kriteria Inklusi dan Ekslusi .................................................................................... 17
3.6. Cara Perlakuan Pada Hewan Coba ......................................................................... 17
3.7. Parameter Yang Diperiksa ...................................................................................... 19
3.8. Analisis Data ........................................................................................................... 19
3.9. Alur Penelitian ........................................................................................................ 20

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Latihan fisik merupakan aktivitas fisik yang teratur dalam jangka waktu dan intensitas
tertentu, yang bertujuan menjaga tubuh agar dalam keadaan sehat dan bugar. Latihan fisik
sangat dianjutkan untuk program preventif, kuratif dan rehabilitatif dalam upaya menjaga dan
meningkatkan kesehatan terutama kesehatan jantung (Astrand, 2003). Selain untuk
meningkatkan kesehatan jantung, beberapa penelitian sekarang ini menyebutkan bahwa
latihan fisik mempunyai efek positif terhadap peningkatan kesehatan otak (Erickson et al.,
2013).
Latihan fisik pada lansia akan meningkatkan umur harapan hidup dan juga menurunkan
resiko terhadap penyakit alzaimer dan demensia. Latihan fisik mempunyai kemampuan
protektif terhadap neurodegeneratif pada lansia. Neuroprotektif dari latihan fisik tersebut
meningkatkan fungsi kognitif pada lansia dan memperlambat terjadinya dimensia pada lansia.
Latihan fisik menurunkan resiko dimensia atau gangguan kognitif yang muncul pada lansia
dikarenakan penurunan neurodegeneratif (Wang et al., 2013). Latihan fisik juga
meningkatkan kemampuan fungsi kognitif pada anakanak dan orang dewasa yang sehat.
High impact running meningkatkan kemampuan belajar (Winter et al., 2007), sedangkan
cycling meningkatkan performance dalam pengenalan tugas serta dalam pengenalan huruf
dan angka (Ferris et al., 2007).
Selain meningkatkan fungsi kognitif, latihan fisik juga dapat meningkatkan kesehatan
mental. Beberapa penelitian menunjukkan adanyan hubungan antara latihan fisik dengan
pengeluaran endorfin. Terjadi peningkatan endorfin setelah latihan fisik. Pengeluaran
endorfin berpengaruh terhadap rasa eforia dan menurunkan rasa nyeri (Goldfarb et al., 1998).
Endorfin berperan penting dalam depersonalization disorder. Stress dan nyeri merupakan
faktor yang berperan dalam peningkatan sekresi endorfin. Endorfin berinteraksi dengan
reseptor opiat di otak untuk mengurangi persepsi tentang rasa sakit dan bertindak seperti
obat-obatan penghilang rasa nyeri (Alkhaini et al, 2015).
Penelitian yang dilakukan oleh Pierce et al, 1993 menunjukkan bahwa, peningkatan
sekresi endorfin pada latihan fisik yang berat tidak hanya memberikan efek analgetik tetapi
juga memperbaiki mood. Penelitian yang dilakukan oleh Koseoglu (2003), untuk
mengevaluasi efek dari kadar plasma endorfin dan latihan aerobik pada sakit kepala
migrain, menyebutkan bahwa latihan fisik memiliki efek manfaat pada semua parameter
migrain (p <0,0001). Latihan fisik aerobik dapat melepaskan endorfin, suatu zat kimia
saraf yang menyebabkan efek relaks, kondisi yang mendukung kesadaran penuh, dan
mengurangi gejala depresi.
Endorfin adalah endogen opioid peptide yang berfungsi sebagai inhibitor
neurotransmitter, diproduksi oleh kelenjar hipofisis dari hipotalamus di vertebrata selama
latihan (Oswald Steward, 2000). Manfaat endorfin adalah sebagai penghilang rasa sakit
(Jonathan, 1992). Penelitian yang di buat ilmuan Skolandia menunjukkan adanya perasaan
enak setelah berolahraga 30 menit sampai 1 jam. Senyawa endorfin yang di bentuk dari
proopiocortin ini, berperan dalam mengontrol persepsi rasa nyeri secara endogen sehingga
dapat berperan analgesik yang kuat untuk rasa sakit pada tubuh selama beberapa jam, potensi
analgesik senyawa 18-30 kali lebih kuat dari morphin (Murray R.K et al,2000).
Berdasarkan hasil dari beberapa penelitian tersebut diketahui bahwa terjadi adaptasi
molekuler pada otak sebagai respon terhadap latihan fisik sehingga latihan fisik dapat
berdampak terhadap kesehatan otak dan mental. Akan tetapi belum diketahui apakah terdapat
perbedaan sekresi endorfin pada latihan fisik aerobik dan latihan fisik anaerobik. Oleh karena
itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui adaptasi molekuler yang terjadi
di jaringan otak sebagai respon terhadap latihan fisik aerobik dan anaerobik. Penggunaan
hewan coba, seperti tikus, sebagai model penelitian merupakan pilihan yang tepat untuk
mengembangkan penelitian molekuler sehingga dasar adaptasi molekuler di otak selama
latihan fisik dapat diketahui.

1.2. Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: apakah terdapat perbedaan
sekresi endorfin di jaringan otak pada latihan fisik aerobik dan anaerobik ?
1.3. Tujuan Penelitian
2.2.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui perbedaan sekresi endorfin di jaringan otak pada latihan fisik
aerobik dan anaerobik.
2.2.2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk:
a. Mengukur kadar endorfin jaringan otak pada tikus wistar yang diberi perlakuan
latihan fisik aerobik.
b. Mengukur kadar endorfin jaringan otak pada tikus wistar yang diberi perlakuan
latihan fisik anaerobik.
c. Membandingkan respon adaptasi molekuler yang terjadi di jaringan otak pada
latihan fisik aerobik dan anaerobik.

1.4. Manfaat Penelitian


Adapun manfaat penelitian ini adalah :
1. Dasar molekuler adaptasi terhadap hipoksia yang disebabkan oleh latihan fisik
aerobik dan anaerobik sangat berguna untuk memahami dan menjelaskan teori tentang
adaptasi molekuler yang terjadi pada jaringan otak selama latihan fisik.
2. Pada bidang kesehatan olahraga penelitian ini bermanfaat dalam memberikan
informasi tentang mekanisme molekuler dan pengaruh latihan fisik aerobik dan
anaerobik terhadap kesehatan otak, sehingga dapat digunakan sebagai pertimbangan
dalam menjelaskan fungsi olahraga bagi peningkatan kesehatan otak dan kemampuan
kognitif.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Otak
2.1.1. Metabolisme Energi Otak
Neuroenergetics otak adalah studi tentang energi metabolisme yang berhubungan
dengan energi yang diperoleh dari pemecahan nutrisi dalam jaringan otak. Neuroenergetics
difokuskan pada hubungan antara biokimia dari sel yang merupakan situs glukosa kerusakan
dan penggunaan oksigen dan kegiatan fungsional bahwa sel ini berpartisipasi dalam.
Pertanyaan utama termasuk masalah apakah ada khas tingkat energi otak metabolisme dan
berapa banyak dari angka ini langsung ditambah untuk pelaksanaan fungsi otak.Di bagian ini,
metabolisme energi otak ditampilkan untuk menjalani karakteristik stepwise perubahan dalam
kaitannya dengan pergeseran di antara tingkat dasar dari fungsi otak (Roland, 1987).
2.1.2. Konsumsi Oksigen Otak
Proteksi otak adalah serangkaian tindakan yang dilakukan untuk mencegah atau
mengurangi kerusakan sel-sel otak yang diakibatkan oleh keadaan iskemia. Iskemia otak
adalah suatu gangguan hemodinamik yang akan menyebabkan pemurunan aliran darah otak
sampai ke suatu tingkat yang akan menyebabkan kerusakan otak yang ireversibel. Metode
dasar dalam melakukan proteksi otak adalah dengan cara membebaskan jalan nafas dan
oksigenasi yang adekuat (Schubert, 1997).
Oxygen delivery (DO2) adalah jumlah total oksigen yang dialirkan darah ke jaringan
setiap menit. Kadar oxygen delivery tergantung dari cardiac output (CO) dan oxygen content
of the arterial blood (CaO2). Komponen dari CaO2 adalah oksigen yang berikatan dalam
serum (2-3%) yang dapat ditelusuri dengan kadar PaO2 dan oksigen yang berikatan dengan
hemoglobin (97-98%) yang dapat ditelusuri dengan SaO2 (saturasi oksigen pada pembuluh
darah arteri). Dari definisi ini dapat dijabarkan sebuah rumus : DO = CO X (Hb X 1,34 X
SaO) + (PaO X 0,0031) (Mark, 2006).
Nilai normal oxygen delivery (DO2) adalah 1000 ml O2/menit. Dari rumus diatas
dapat dilihat bahwa hemoglobin (Hb) dan saturasi oksigen (SaO2) adalah penentu utama pada
pengaliran oksigen dalam darah ke seluruh jaringan tubuh termasuk otak (Simon, 2006).
Manusia normal butuh 0,5 liter udara (bukan oksigen) untuk sekali hirup. Tepatnya adalah
450 - 500 ml udara sekali hirup. Oksigen hanyalah berjumlah 20% dari udara yang dihirup,
jadi hanya sekitar 0,1 liter oksigen sekali hirup. Komponen lain udara yang terhirup adalah
nitrogen (79%), karbon dioksida (0.04%), uap air dan gas-gas berjumlah sangat kecil lainnya
(Simon, 2006).

2.2. Konsep Dasar Latihan Fisik


2.2.1. Definisi
Latihan fisik adalah aktivitas fisik yang direncanakan, terstruktur, berulang, dan
bermanfaat dalam arti untuk perbaikan atau pemeliharaan dari satu atau lebih komponen
kebugaran fisik pada seseorang (Astrand, 2005).
2.2.2. Intensitas latihan fisik
Intensitas latihan fisik memiliki dua prinsip utama. Pertama, intensitas latihan fisik
mempunyai ambang batas, artinya latihan fisik tidak akan mempunyai efek latihan lagi
walaupun frekuensi dan durasi latihan fisik itu ditingkatkan. Kedua, bila intensitas latihan
fisik dilakukan melebihi ambang batas, jumlah total kerja per sesi merupakan determinan
yang penting bagi respon latihan fisik. Artinya, latihan fisik intensitas tinggi dalam waktu
singkat sama efektifnya dengan latihan fisik intensitas sedang dalam waktu yang lebih lama
(Casaburi, 1992).
Terdapat tiga variabel fisiologis yang dapat digunakan untuk menentukan intensitas
latihan fisik, yaitu frekuensi denyut jantung, konsumsi oksigen, dan level laktat darah.
Menggunakan frekuensi denyut jantung untuk mengukur intensitas latihan fisik merupakan
hal yang mudah dilakukan. Akan tetapi, karena frekuensi denyut jantung mempunyai
hubungan yang jauh terhadap kondisi otot yang melakukan latihan, maka teori dasar yang
menggunakan frekuensi denyut jantung untuk menentukan intensitas latihan fisik dianggap
masih lemah.
Hal yang paling banyak dipakai untuk menentukan intensitas latihan fisik adalah
konsumsi oksigen tubuh maksimal (VO2max). Penggunaan level laktat untuk menentukan
intensitas latihan fisik dianjurkan juga oleh beberapa peneliti (Casaburi, 1992).
2.2.3. Aktivitas Fisik Aerobik dan Anaerobik
Aktivitas fisik aerobik adalah aktivitas fisik yang menggunakan energi ATP dari hasil
proses fosforilasi oksidatif glikogen dan asam lemak bebas. Proses metabolisme tergantung
dari ketersediaan oksigen. Aktivitas fisik aerobik meningkatkan aliran darah perifer dan
sentral serta meningkatkan kapasitas serabut otot untuk menghasilkan ATP dalam jumlah
besar. Sebaliknya, aktivitas fisik anaerobik adalah aktivitas fisik yang dalam proses
metabolisme pembentukan energi tidak menggunakan oksigen. Energi dihasilkan dari
pembentukan ATP melalui sumber energi yang berasal dari kreatin fosfat, glikolisis anaerob
dan glikogen. Aktivitas fisik anaerobik meningkatkan kekuatan otot dan meningkatkan
toleransi terhadap keseimbangan asam basa (Astrand et al., 2003 & Feilim, James,
Alexander, 2007).
Latihan fisik pada umumnya tidak hanya secara murni menggunakan salah satu sistem
aerobik atau anaerobik saja, sebenarnya yang terjadi adalah menggunakan gabungan sistem
aerobik dan anaerobik, akan tetapi porsi kedua sistem tersebut berbeda pada setiap cabang
olahraga. Untuk cabang olahraga yang menuntut aktivitas fisik dengan intensitas tinggi
dengan waktu relatif singkat, sistem energi redominannya adalah anaerobik, sedangkan pada
cabang olahraga yang menuntut aktivitas fisik dengan intensitas rendah dan berlangsung
relatif lama, sistem energi redominannya adalah aerobik (Astrand, 2003 & Kusmana, 2006).
Energi yang dibentuk dari metabolisme aerobik dan anaerobik di dalam sel, merupakan suatu
proses pembentukan energi yang berkesinambungan untuk suatu aktivitas yang juga
berkesinambungan. Oleh sebab itu, tidak ada suatu aktivitas yang seluruhnya bersifat aerobik.
Demikian pula tidak ada aktivitas fisik yang sepenuhnya anaerobik. Semua aktivitas fisik
selalu terdiri atas proses aerobik dan anaerobik, hanya saja persentasenya yang berbeda
beda menurut (Astrand, 2003; Kusmana, 2006; Feilim, 2007; Mooren, 2005).

2.3. Hypoxia Inducible Factor-1 (HIF-1)


HIF-1 merupakan protein heterodimer yang terdiri atas sub unit HIF-1 dan sub unit
HIF-1 (juga dikenal sebagai aryl hydrocarbon receptor nuclear translocator atau ARNT)
yang berperan dalam respon sistemik dan seluler terhadap perubahan kadar oksigen
(Zagorska, 2004 & Semenza, 2004). Protein ini diisolasi oleh Semenza pada tahun 1955.12.
HIF-1 terdiri dari dua subunit , sub unit yang diregulasi oleh hipoksia dan sub unit yang
merupakan protein konstitutif (disistesis secara terus-menerus). Sub unit terdiri dari 3
isoform, yaitu HIF-1, HIF-2 (endothelial pAS protein) dan HIF-3. HIF-1 dan HIF-2
secara struktur dan fungsi mempunyai kemiripan, namun ekspresi HIF-2 terbatas dan hanya
berperan dominan pada pengaturan ekspresi eritropoetin, serta juga ditemukan di plasenta,
paru dan sel endotel. Fungsi protein HIF-3 belum banyak diketahui, diduga potein ini
berperan sebagai inhibitor jalur HIF ( Chun, 2002 dan Chan 2002).
Pada kondisi normoksia HIF-1 akan mengalami degradasi. Hal ini terjadi karena
HIF-1 mengalami modifikasi pasca translasi, yang menyebabkan tidak stabil, sehingga
dengan cepat dan kontinyu didegradasin ( Chun, 2002).
2.3.1. Peran HIF-1 dalam aktivitas fisik
Pada saat melakukan aktivitas fisik, konsumsi oksigen di otot meningkat 50 kali
dibandingkan saat istirahat, dan aliran darah ke mikrovaskuler meningkat 25 kali untuk
mengkompensasi kebutuhan O2 yang meningkat. Jumlah O2 yang meningkat diperlukan
dalam proses metabolisme untuk memenuhi kebutuhan energi selama aktivitas fisik.
Ketidakseimbangan antara tingginya kebutuhan oksigen dan terbatasnya suplai oksigen
mengakibatkan jaringan menjasi hipoksia (Feilim, 2007).
Adanya HIF-1 dalam mekanisme adaptasi terhadap hipoksia pada aktivitas fisik
memberikan efek mengutungkan bagi atlet. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kondisi
hipoksia dapat mengakibatkan peningkatan daya tahan atlet (endurance performance).
Metode hipoksia dengan latihan di dalam chamber hipoksia atau di datran tinggi terbukti
meningkatkan daya tahan atlet. Hipoksia mengakibatkan terjasinya peningkatan eritropoetin,
jumlah sel darah merah, kadar Hb dan konsumsi oksigen yang berdampak pada daya tahan
atlet (Wilmore, 2004).

2.4. Vascular Endhothelial Growth Factor (VEGF)


VEGF merupakan glikoprotein pengikat heparin yang disekresi dalam bentuk
homodimer (45 kDa). Beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa heparin berinteraksi
dengan VEGF melalui pembentukan kompleks Heparin-VEGF yang menyebabkan terjadinya
perubahan konformasi molekul sehingga VEGF menjadi lebih stabil, lebih resisten terhadap
inaktivasi dan memiliki waktu paruh yang lebih panjang. Pembentukan kompleks Heparin-
VEGF juga menyebabkan terjadinya peningkatan afinitas reseptor VEGF yang terdapat pada
permukaan sel sehingga terbentuk signal intraseluler sebagai bentuk aktivasi terjadinya
proliferasi (Berman,2000).
Dalam keadaan normal, VEGF diekspresikan dalam kadar yang bervariasi oleh
berbagai jaringan, termasuk di antaranya otak, ginjal, hati, dan limpa (Polverini,2002).
Tekanan oksigen dapat berfungsi sebagai regulator VEGF. Paparan kondisi hipoksia
menginduksi ekspresi VEGF dengan cepat. Sebaliknya, dalam kondisi kadar oksigen normal
(normoksia), ekspresi VEGF menurun dan megalami stabilisasi. Tingkat ekspresi VEGF juga
bergantung pada jumlah sitokin inflamatori dan hormon pertumbuhan, termasuk di antaranya
Epidermal Growth Factor (EGF), Interleukin-1 (IL-1), platelet derived growth factor
(PDGF), tumor necrosis factor-a (TNF-), dan transforming growth factor- 1 (TGF- 1)
(Goren,1992).
VEGF beraksi sebagai mitogen yang terbatas pada sel endotel vaskular (Folkman,
1992). VEGF terlibat dalam banyak tahap respon angiogenik, antara lain menstimulasi
degradasi matriks ekstraseluler di sekitar sel endotel; meningkatkan proliferasi dan migrasi
sel endotel; membantu pembentukan struktur pembuluh darah (Folkman, 1992).

2.5. Brain Derived Neurothropic Factor (BDNF)


Brain Derived Neurothropic Factor (BDNF) adalah suatu neurotropin yang berperan
dalam perkembangan sinaps, plastisitas sinaps, dan fungsi kognitif (Pinila, 2008). BDNF
adalah protein yang dikodekan oleh gen BDNF. BDNF merupakan neurotrophin (growth
factor) yang termasuk di dalam Nerve Growth Factor (NGF) dan dapat ditemukan pada otak,
sistem saraf perifer dan plasma darah (Matsumoto, 2008). BDNF berfungsi untuk mendorong
pertumbuhan dan diferensiasi neuron baru (neurogenesis) serta mendukung kemampuan
neuron untuk bertahan hidup. BDNF aktif di otak pada area korteks, prekorteks, dan dominan
pada hipokampus. Area tersebut adalah area yang sangat penting untuk proses learning dan
memori (gorsky, 2003). BDNF dapat memengaruhi proses learning dan memori melalui
ekspresi mRNA BDNF dan sintesa protein BDNF di hipokampus. Proses neurogenesis akan
terjadi apabila terdapat stimulasi dari neurotrophin. BDNF merupakan neurotrophin yang
paling aktif menstimulasi dan mengendalikan proses neurogenesis (Jeuroski, 2008).
BDNF berperan dalam Long-term Memory (LTM), Penyimpanan informasi jangka
panjang merupakan salah satu kemampuan fungsi otak. Memori yang tersimpan dan bertahan
selama beberapa hari bahkan seumur hidup disebut sebagai LTM. LTM memerlukan ekspresi
gen dan sintesis protein untuk sebuah proses yang disebut konsolidasi. Proses konsolidasi
tersebut terjadi pada area tertentu di otak, terutama dihipokampus (Vaynman et al, 2004).
Regulasi fisiologis ekspresi gen BDNF mungkin sangat penting dalam perkembangan otak.

2.6. Insulin Like Growth Factor-1 (IGF-1)


Insulin Like Growth Factor-1 (IGF-1) adalah suatu rantai polipeptida tunggal yang
terdiri dari 70 residu asam amino dengan berat molekul 1760 Da (Cordain et al, 2002).
Sistesis IGF-1 distimulasi oleh GH dan asupan makanan (Kaymak, et al (2007). Insulin-like
growth factor-1 yang bersirkulasi dalam darah disintesis di hati. Hormon pertumbuhan
menstimulasi sintesis dan sekresi IGF-1 hepatik. Sebaliknya, IGF-1 mengatur sekresi GH dari
hipofisis melalui mekanisme umpan balik negatif (Aizawa & Nimura, 1995, Kaymak et al,
2007 dan Cordain et a, 2002). Insulin-like Growth Factor-1 mempunyai peranan penting
yang luas dalam mengatur fungsi-fungsi di dalam tubuh manusia. Hampir semua sel dalam
tubuh manusia dipengaruhi oleh IGF-1, khususnya sel otot, tulang rawan, tulang, hepar,
ginjal, saraf, kulit dan paru-paru. Peranan IGF-1 secara garis besar adalah merangsang
proliferasi dan pertumbuhan sel, anabolik protein, inhibisi apoptosis, menurunkan kadar GH
dan hormon insulin. Peranan ini akan terhambat atau berkurang bila IGF-1 berada dalam
ikatan dengan IGFBP-3 (Badger, 2009).
IGF-1 reseptor terlokalisir di berbagai jaringan otot, ovarium, hipofisis dan otak
(Bondy, 1992). IGF-1 disintesis melalui otak dan sumsum tulang belakang (Depablo, 1995).

2.6. Endorfin
Endorfin adalah endogen opioid peptide yang berfungsi sebagai inhibitor
neurotransmitter, diproduksi oleh kelenjar hipofisis dari hipotalamus di vertebrata selama
latihan (Oswald Steward, 2000). Manfaat endorfin adalah sebagai penghilang rasa sakit
(Jonathan, 1992). Penelitian yang di buat ilmuan Skolandia menunjukkan adanya perasaan
enak setelah berolahraga 30 menit sampai 1 jam. Senyawa endorfin yang di bentuk dari
proopiocortin ini, berperan dalam mengontrol persepsi rasa nyeri secara endogen sehingga
dapat berperan analgesik yang kuat untuk rasa sakit pada tubuh selama beberapa jam, potensi
analgesik senyawa 18-30 kali lebih kuat dari morphin (Murray R.K et al,2000)
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian


Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium dengan rancangan Pre
test Post Test Control Group Design (Campbell, 1963).

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian


3.2.1 Tempat
Penelitian ini dilakukan di animal hause laboratorium Biokimia Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya.
3.2.2 Waktu
Pengambilan data penelitian dilakukan pada bulan April 2017.

3.3 Populasi dan Sampel


3.3.1 Populasi
Dalam Penelitian ini menggunakan tikus Wistar jantan yang sehat, umur 6-8 minggu
dengan berat 80-100 gram. Tikus tersebut diperoleh dari Fakultas Kedokteran Hewan IPB.
3.3.2 Sampel
Dalam penelitian ini dibuat sampel yang sudah homogen yaitu tikus (Rattus sp.
Strain Wistar) jantan yang sehat, berumur 6-8 minggu dengan berat 80-100 gram, tikus diberi
makan dan minum secara ad libitum. Kandang dijaga kebersihannya, serta cahaya diatur 12
jam terang dan 12 jam gelap. Dikondisikan pada lingkungan, dan diperlakukan sama,
sebelum digunakan untuk penelitian diaklimatisasi terlebih dahulu selama 1 minggu.

3.4 Besar Sampel


Cara menentukan besar sampel (n) dengan menggunakan rumus Federer, sebagai berikut:
(t-1)(n-1) 15
(7-1)(n-1) 15
n =4
Keterangan :
t = jumlah perlakuan
n = jumlah ulangan tikus dalam tiap kelompok
Dari perhitungan besar sampel tersebut didapat jumlah sampel minimal adalah 4 ekor
tikus dan untuk menjaga agar tingkat representatifnya tinggi apabila terjadi drop out, maka
ditambah 10 % dari perhitungan besar sampel. Jadi sampel masing-masing kelompok 5 ekor
tikus, total sampel yang diperlukan dalam penelitian untuk 7 kelompok sebanyak 35 ekor
tikus.

3.5 Kriteria Inklusi dan Ekslusi


3.5.1 Kriteria Inklusi
a. Tikus (Rattus norvegicus) jantan galur wistar
b. Umur 6-8 minggu
c. Berat 80-100 gram
d. Tikus dapat mengikuti pelaksanaan penelitian
3.5.2 Kriteria Eksklusi
a. Tikus sakit
b. Tikus malas atau tidak dapat melakukan ativitas fisik dengan baik
c. Pernah dipakai sebagai hewan coba

3.6 Cara Perlakuan Pada Hewan Coba


Sesuai dengan rancangan penelitian tikus dibagi 7 kelompok yaitu P1-P7 dengan
perlakuan sebagai berikut:
a. P1 : Kelompok kontrol, tidak diberi pembebanan aktivitas fisik
b. P2 : Kelompok yang diberi pembebanan aktivitas fisik aerobik 1 kali seminggu
selama 4 minggu.
c. P3 : Kelompok yang diberi pembebanan aktivitas fisik aerobik selama 3 kali
seminggu selama 4 minggu
d. P4 : Kelompok yang diberi pembebanan aktivitas fisik aerobik selama 7 hari
berturut turut selama 4 minggu
e. P5 : Kelompok yang diberi pembebanan aktivitas fisik anaerobik selama 1 kali
seminggu selama 4 minggu
f. P6 : Kelompok yang diberi pembebanan aktivitas fisik anaerobik selama 3 kali
seminggu selama 4 minggu
g. P7 : Kelompok yang diberi pembebanan aktivitas fisik anaerobik selama 7 hari
berturut turut selama 4 minggu
Aklimatisasi hewan coba dilakukan selama 1 minggu, untuk penyesuaian tikus
dengan kondisi lingkungan tempat penelitian baik untuk kelompok kontrol maupun kelompok
perlakuan. Perlakuan aktivitas fisik anaerobik diberikan dengan cara menempatkan tikus
perlakuan kedalam animal treadmill dan menjalankan treadmill dengan kecepatan 35 m/menit
selama 20 menit untuk aktivitas fisik maksimal. Perlakuan aktivitas fisik aerobik dan
anaerobik pada penelitian ini berdasarkan peneliti terdahulu, yaitu Soya (2007), Fahrenia
(2009), Flora (2011). Sebelum perlakuan berat badan tikus ditimbang terlebih dahulu.
Setelah perlakuan berakhir, tikus dikeluarkan dari animal treadmill dan dengan cepat
ditimbang kembali berat badannya. Segera setelah ditimbang, tikus dimasukkan kedalam
tempat yang berisi eter. Dalam keadaan dianastesi rongga kepala dibuka dan dilakukan
pengambilan jaringan otak.
Tikus kelompok kontrol atau P1 ditimbang berat badannya, dimasukkan dan
dipelihara dalam kandang. Pada hari ke 7 ditimbang kembali berat badannya dan di
dekapitasi dengan menggunakan eter. Selanjutnya dilakukan pengambilan jaringan otak.

3.7 Analisis Data


Setelah semua data terkumpul, maka dilakukan analisis data penelitian.proses ini
menggunakan sistem komputerisasi program SPSS versi 19 for windows dengan tingkat
signifikansi p < 0,05.
Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan rerata antar kelompok dilakukan uji t
berpasangan apabila data berdistribusi normal, sedangkan untuk mengetahui perbedaan
adaptasi molekuler pada kelompok aerobik dan anaerobik, dilakukan uji anova, dengan syarat
distribusi data harus normal dan varians harus sama, jika tidak memenuhi syarat uji anova
maka dilakukan uji non parametrik, yaitu Kruskal-Wallis.
BAB IV
BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN

4.1.Anggaran Biaya
1. Honor

Honor/Jam
Waktu
Honor (Rp) Minggu Jumlah
Jam/Minggu
Ketua 18.000.000
25.000,- 18 40
Anggota 1 12.000.000
25.000,- 12 40
SUB TOTAL (Rp) 30.000.000

2. Bahan Habis Pakai

Justifikasi Harga Satuan


Material Kuantitas Jumlah
Pemakaian (Rp)

Tikus Hewan coba 100 60.000,- 6.000.000,-


Pemeliharaan & Hewan coba 44 hari 75.000,- 3.300.000,-
makanan
Sewa kandang Hewan coba 44 hari 35.000,- 1.540.000,-
Sewa treadmill Aktivitas Fisik 44 hari 60.000,- 2.640.000,-
Gloves Pengambilan darah 3 box 50.000,- 150.000,-
Masker Penutup hidung 2 box 70.000,- 140.000,-
Spuit 3 cc Pengambilan drh 2 box 50.000,- 100.000,-
Tabung EDTA Pengambilan drh 1 box 150.000,- 150.000,-
Ether Pembiusan 1 btl 80.000,- 80.000,-
Pemeriksaan kognitif 100 sampel 90.000,- 9.000.000,-
Endorfin
Protein endorfin 100 sampel 65.000,- 6.500.000,-
KIT Endorfin Kognitif 3 kit 32.000.000,- 32.000.000,-
Homogenat Sampel jaringan 100 sampel 50.000,- 5.000.000,-
jaringan otak
Tube,tips dan kuvet Tempat sediaan 1 2.500.000,-,- 2.500.000,-
sampel
Sewa animal Alat untuk perlakuan 37 hari 3.500.000,-
treadmill latihan fisik
Sewa Animal Tempat 44 hari 400.000,-
House pemeliharaan hewan
coba
SUB TOTAL (Rp) 73.000.000,-
3. Belanja Perjalanan
Harga
Justifikasi
Material Kuantitas Satuan Jumlah
Pemakaian
(Rp)
Pengambilan Pengambilan
Sampel Penelitian sampel

- Transport PP 4x 1.200.000,- 4.800.000,-


Palembang-
Jakarta
- Uang Saku 4 pt 1.050.000,- 4.200.000,-

- Akomodasi & 4 pt 1.500.000,- 6.000.000,-


Konsumsi
SUB TOTAL(Rp) 15.000.000,-

4. Lain-lain
Justifikasi Harga
Kegiatan Kuantitas Jumlah
Pemakaian Satuan (Rp)
Publikasi : Jurnal Publikasi 1 pt 25.000.000,- 25.000.000,-
nasional terakreditasi
dan seminar
internasional

Administrasi Adminidtrasi 1 pt 5.000.000,- 5.000.000,-

Pelaporan penelitian Pelaporan 1 pt 2.000.000,- 2.000.000,-

32.000.000,-
SUB TOTAL (Rp)

Tabel 4.1 Ringkasan Anggaran Biaya Penelitian Tim Pascasarjana yang Diajukan Setiap Tahun
Biaya yang diusulkan (Rp)
No Jenis pengeluaran
Tahun I Tahun II Tahun III
Gaji dan Upah Rp. 30.000.000,- Rp. 30.000.000,- Rp. 30.000.000,-
1
(Maks.30%)
Bahan habis pakai Rp. 40.000.000,- Rp. 40.000.000,- Rp. 73.000.000,-
2 dan peralatan (30-
40%)
Perjalanan (15-20 Rp. 15.000.000,- Rp. 15.000.000,- Rp. 15.000.000,-
3
%)
Lain-lain : Rp. 15.000.000,- Rp. 15.000.000,- Rp. 32.000.000,-
4 publikasi, seminar,
laporan (Maks 15%)
Rp. 100.000.000,- Rp. 100.000.000,- Rp. 150.000.000,-
Jumlah
4.2. Jadwal penelitian
BULAN PADA TAHUN 2017

NO KEGIATAN J F M AP M J JU AU S O N D
A E A RI E U LI GS E K O E
N B R L I N P T P S
I
1. Persiapan
pengajuan proposal
2. Pengumuman
proposal
3. Pembuatan materi
Proposal
4 Presentasi Proposal

5 Pelaksanaan
penelitian
6. Seminar Hasil
Penelitian
7 Publikasi Hasil
Penelitian