Anda di halaman 1dari 36

PENGARUH VARIASI WAKTU PENYINARAN SINAR ULTRAVIOLET (UV)

TERHADAP FREKUENSI PERISTIWA GAGAL BERPISAH (NONDISJUCTION)


PADA PERSILANGAN Drosophila melanogaster STRAIN N >< wa

LAPORAN PROYEK

Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Genetika II

Yang dibina oleh Prof. Dr. Hj. Siti Zubaidah, M.Pd dan Andik Wijayanto M.Si

Disusun Oleh:
Kelompok 14
Elya Khunazatus Shima
(140342604275)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

JURUSAN BIOLOGI

November 2016
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulilah penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
limpahan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan yang
berjudul Pengaruh Variasi Waktu Penyinaran Sinar Ultraviolet (UV) Terhadap Frekuensi
Peristiwa Gagal Berpisah (Nondisjuction) Pada Persilangan Drosophila Melanogaster Strain
N >< Wa.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa pembuatan laporan ini tidak lepas dari peran serta
beberapa pihak yang telah memberikan saran, bimbingan, pengarahan, dan petunjuk serta
fasilitas. Oleh karena itu, didalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Hj. Siti Zubaidah, M.Pd dan Andik Wijayanto M.Si selaku Dosen Matakuliah
Genetika II beserta seluruh Asisten Dosen yang telah memberikan pengarahan,
bimbingan, serta petunjuk dalam penyelesaian makalah ini.
2. Petugas perpustakaan pusat Universitas Negeri Malang dan Biologi Referensi yang
telah menyediakan referensi untuk penulis.
3. Teman-teman dan semua yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas ini.

Penulis menyadari bahwa laporan yang telah penulis buat ini tidak lepas dari kekurangan
dan jauh dari sempurna, maka dengan segala kerendahan hati penulis mengharap kritik,
saran, dan masukan dari semua pihak demi perbaikan.
Semoga apa yang penulis sajikan dapat bermanfaat guna menambah ilmu pengetahuan
dan wawasan.

Malang, 14 November 2016

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Drosophila melanogaster atau lalat buah kecil. Lalat-lalat ini panjangnya 3-4 mm dan
normalnya bertubuh kuning kecoklatan. Mereka biasanya terdapat disekitar tumbuh-
tumbuhan dan buah-buahan yang membusuk. D. Melanogaster adalah anggota famili
Drosophilidae yang paling umum ditemukan. D. Melanogaster sering kali menjadi hama
rumah tangga apabila ditemukan pada buah atau sayuran. Larvae dari lalat buah kecil ini
terdapat di dalam buah busuk. Lalat jenis ini digunakan secara meluas dalam penelitian
genetik karena waktu hidupnya yang pendek, memiliki kromosom-kromosom ludah raksasa
dan mudah dipelihara (Borror dkk, 1992).
Persilangan pada Drosophila melanogaster antara individu betina bermata putih dan
jantan bermata merah menghasilkan keturunan jantan bermata putih dan betina bermata
merah, sebagaimana yang pertama kali dilaporkan T. H. Morgan dan Bridges, dilaporkan
pula bahwa salah satu di antara 2000 turunan F1 tersebut mempunyai warna mata yang
menyimpang, entah betina bermata putih atau jantan bermata merah. Bridges menduga bahwa
penyimpangan itu terjadi karena peristiwa gagal berpisah pada kromosom kelamin X. Dalam
hal ini kedua kromosom X gagal berpisah selama meiosis sehingga keduanya menuju ke
kutub yang sama, dan terbentuklah telur yang memiliki dua kromosom kelamin X maupun
yang tidak memiliki kromosm kelamin X (Corebima, 2003).
Peristiwa gagal berpisah pada makhluk hidup dapat menyebabkan perubahan-
perubahan jumlah kromosom yang merupakan salah satu bentuk mutasi kromosom. Syndrom
Down adalah salah satu contoh kelainan pada manusia yang diakibatkan oleh peristiwa
nondisjunction (Burns, 1983). Peristiwa gagal berpisah dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu
faktor luar dan faktor dalam. Faktor luar meliputi energi radiasi yang tinggi, karbondioksida,
zat kimia tertentu dan suhu, sedangkan faktor dalam meliputi umur induk dan gen mutan
(Novitasari, 1997). Nondisjunction pada kromosom seks dan senyawa kromosom kedua pada
telur Drosophila melanogaster dapat diinduksi melalui radiasi dan perlakuan suhu. Kedua
perlakuan tersebut menunjukkan mekanisme nondisjunction yang berbeda. Nondisjunction
merupakan perubahan genetik yang pertama kali dilaporkan dapat diinduksikan melalui
radiasi sinar X (Leigh, 1979).
Sinar UV merupakan salah satu sinar yang radiasinya ke bumi dapat menimbulkan
dampak buruk. Selama ini bumi terlindungi oleh lapisan ozon dari radiasi sinar UV, namun
terjadinya kerusakan alam dan banyaknya kegiatan negatif manusia menyebabkan rusaknya
ozon dan mendukung terjadinya global warming. Global warming adalah fenomena
meningkatnya suhu di bumi yang diakibatkan semakin tingginya radiasi sinar UV ke bumi.
Meskipun intensitas sinar UV yang sampai ke bumi relatif rendah, namun akumulasi dari
sinar tersebut melalui efek rumah kaca dapat memberi dampak buruk bagi kehidupan di bumi
(Wijaya dkk, 2006).
Sinar UV dapat menyebabkan mutasi pada Drosophila, demikian juga dengan
Altenburg yang melakukan irradiasi telur Drosophila. Sinar UV diserap olah substansi ADN
(purin dan pirimidin) yang menyebabkan lebih reaktif atau dalam keadaan tereksitasi.
Penyerapan sinar UV oleh pirimidin menyebabkan terbentuknya primidin hidrat dan
pirimidin dimer. Beberapa peristiwa menunjukkan bahwa dimerisasi timin (studi in vitro)
mungkin merupakan akibat mutagenik sinar UV (Gardner dkk, 1991). Wang et al (2008)
dalam penelitiannya membuktikan bahwa radiasi sinar UV dapat menyebabkan mutasi yang
mempengaruhi kesuburan, usia hidup dan beberapa hal lain pada Drosophila melanogaster.
Dalam hal ini peneliti ingin mengkaji lebih lanjut pengaruh radiasi sinar UV terhadap
peristiwa gagal berpisah, dimana pada penelitiansebelumnya telah dilakukan pengkajian
mengenai pengaruh radiasi sinar X terhadap peristiwa gagal berpisah. Dengan mengkaji
faktor penyebab peristiwa gagal berpisah, diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan
kajian lebih lanjut untuk meminimalisir berbagai dampak buruk peristiwa nondisjunction di
kehidupan manusia.
Berdasarkan uraian diatas, penulis ingin mengkaji lebih lanjut tentang Pengaruh
Variasi Waktu Penyinaran Sinar Ultraviolet (UV) Terhadap Frekuensi Peristiwa Gagal
Berpisah (Nondisjuction) Pada Persilangan Drosophila Melanogaster Strain N >< Wa.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah yang muncul adalah
sebagai berikut.

1. Adakah pengaruh variasi waktu penyinaran sinar ultraviolet terhadap frekuensi


gagal berpisah (nondisjuction) pada persilangan Drosophila melanogaster strain N
>< wa?
2. Adakah perbedaan frekuensi gagal berpisah (nondisjunction) pada F1 hasil
persilangan Drosophila melanogaster strain N >< wa dengan perlakuan UV 0
menit, 2 menit, 4 menit, 6 menit dan 8 menit?
3. Bagaimanakah fenomena gagal berpisah (nondisjunction) pada persilangan
Drosophila melanogaster strain N >< wa?

1.3 Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat atau kegunaan bagi
berbagai pihak sebagai berikut.
1. Pihak Peneliti
a. Memberikan informasi, bukti dan pemahaman konsep tentang pengaruh variasi
waktu penyinaran sinar ultraviolet terhadap frekuensi gagal berpisah
(nondisjuction) pada persilangan Drosophila melanogaster strain N >< wa.
b. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, logis dan ilmiah untuk dapat
menganalisis fenomena-fenomena pewarisan sifat terutama pada penelitian yang
dilakukan.
c. Melatih kemampuan menulis ilmiah dalam melakukan suatu penelitian sehingga
dapat menjadi bekal sebagai ilmuan.
2. Pihak Pembaca
a. Memberikan informasi, bukti dan pemahaman konsep kepada pembaca tentang
pengaruh variasi waktu penyinaran sinar ultraviolet terhadap frekuensi gagal
berpisah (nondisjuction) pada persilangan Drosophila melanogaster strain N ><
wa.
b. Menambah referensi bagi pembaca yang akan melakukan penelitian lebih lanjut.
c. Memberikan motivasi bagi pembaca untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

1.4 Ruang Lingkup dan Batasan Masalah


Penelitian yang dilakukan memiliki ruang lingkup dan batasan masalah, antara lain.
1. Strain Drososphila melanogaster yang digunakan dalam penelitian ini adalah strain N dan
wa, yang diperoleh dari Laboratorium Genetika Jurusan Biologi FMIPA UM.
2. Pengamatan fenotip dilakukan meliputi warna tubuh, keadaan sayap, warna mata dan faset
mata.
3. Pengambilan data diperoleh dari pengamatan pada hasil fenotip persilangan F1 Drosophila
melanogaster pada strain N >< wa.
4. Variasi waktu penyinaran sinar ultraviolet (UV) yang digunakan adalah 0 menit, 2 menit, 4
menit, 6 menit dan 8 menit.
5. Penelitian hanya dilakukan pada generasi F1.
6. Data yang diperoleh berupa hasil pengamatan fenotip serta jumlah F1.

1.5 Asumsi Penelitian


Adapun asumsi dari penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut.
1. Pisang yang digunakan untuk medium dan tempat bertelurnya Drosophila
melanogaster dianggap sama yaitu pisang rajamala.
2. Kondisi medium yang diberikan kepada Drosophila melanogaster dianggap sama.
3. Umur Drosophila melanogaster yang digunakan dianggap sama, berumur sekitar
2-3 hari.
4. Suhu, kelembaban dan intensitas cahaya yang diberikan pada Drosophila
melanogaster dianggap sama.
5. Panjang gelombang sinar UV dianggap sama sekitar 254-269 nm.

1.6 Definisi Operasional


Untuk memudahkan memahami beberapa bahasan yang ada, terdapat beberapa definisi
sebagai berikut :
1. Drosophila melanogaster merupakan lalat buah.
2. Individu nondisjunction adalah individu yang mengalami gagal berpisah pada
kromosomnya dan dapat dideteksi melalui rekonstruksi kromosom.
3. Frekuensi gagal berpisah atau frekuensi nondisjunction adalah jumlah individu
yang mengalami nondisjungtion dibagi total jumlah individu dan dikali 100%.
4. Strain N merupakan Drosophilla yang normal, tidak mengalami mutasi dengan
fenotipe mata berwarna merah, sayap lebih panjang daripada tubuhnya, serta tubuh
berwarna kuning kecoklatan.
5. Stran wa merupakan Drosophilla yang mengalami mutasi, dengan fenotipe mata
berwarna oranye, sayap lebih panjang daripada tubuhnya, serta tubuh berwarna
kuning kecoklatan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka


A. Sistematika dan Daur Hidup Drosophila melanogaster
Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai keanekaragaman hayati
yang tinggi di dunia. Keanekaragaman hayati meliputi dari kekayaan keanekaragaman
jenis flora dan fauna. Jenis-jenis fauna yang ada di Indonesia diperkirakan berjumlah
sekitar 220.000 jenis, dengan 200.000 jenisnya terdiri dari jenis serangga. Salah satu
kekayaan fauna di Indonesia yang memiliki daya tarik tinggi untuk objek penelitian
adalah serangga khususnya Drosophila. Drosophila merupakan jenis lalat buah yang
dapat ditemukan pada buah-buahan busuk (Annisa, 2014).
Menurut Borror et al (1992) klasifikasi dari Drosophila melanogaster adalah
sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Phyllum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
Famili : Drosophilidae
Genus : Drosophila
Spesies : Drosophila melanogaster
Drosophila melanogaster merupakan jenis lalat buah, dimasukkan dalam filum
antropoda kelas insekta diptera, anak bangsa cyclophorha (pengelompokan lalat yang
pupanya terdapat kulit instar 3, mempunyai jaws hooks, seri acaliptra (imago menetas
dengan keluar dari bagian anterior pupa), suku drosophilidae, jenis drosophila
melanogeser di indonesia terdapat sekitar 600 jenis, pulau jawa sekitar 120 jenis dari
suku drosophilidae (wheeler, 1981)
Drosophila memiliki ciri morfologi yang berbeda antara jantan dan betinanya.
Pada Drosophila jantan Memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil bila dibandingkan
dengan yang betina. Memiliki 3 ruas dibagian abdomennya dan memiliki sisir
kelamin.Sedangkan pada yang betina ukuran relatif lebih besar,memiliki 6 ruas pada
bagian abdomen dan tidak memiliki sisir kelamin (Soemartono, 1979).
Drosophilla adalah lalat kecil (small dipteras fly) dan termasuk dalam kelompok
serangga holometabola. Mereka dapat kawin lebih dari sekali seumur hidupnya. Total
generasi yang dihasilkan bergantung pada waktu dan temperatur. Waktu yang diperlukan
selama perkembangan kurang lebih 10 - 14 hari. Sedangkan suhu yang dibutuhkan agar
Droshopilla melanogaster dapat tumbuh adalah 250C. Satu hari diperlukan untuk
embriogenesis. Empat hari lainnya diperlukan untuk melewati tahap larva. Empat hari
lainnya lagi digunakan untuk melalui masa pupasi. Sedangkan lalat dewasa baru
terbentuk setelah 9 (sembilan) hari dari fase telur. Diperlukan 1 2 hari untuk
menghasilkan lalat yang fertil. Massa hidup dari Drosophilla melanogaster adalah 4
(empat) minggu. Dalam kurun waktu tersebut, Drosophilla melanogaster betina mampu
menghasilkan telur sebanyak 300 buah (Borror, 1992).
Drosophila memiliki empat stadium metamorfosis yaitu sebagai berikut :

1. Telur
Menurut percobaan M. Bownes dan K. Sander pada tahun 1976, tentang
perkembangan embrio Drosophila melanogaster setelah diberi sinar UV menunjukkan
bahwa perkembangan embrio setelah diberi sinar UV mengalami ketidaknormalan.

Anterior Posterior
Gambar 2.1 Proses Mutasi pada telur D. Melanogaster (Nelson, 2005)

Telur Drosophila dilapisi oleh dua lapisan, yaitu satu selaput vitellin tipis yang
mengelilingi sitoplasma dan suatu selaput tipis tapi kuat (Khorion) di bagian luar dan di
anteriornya terdapat dua tangkai tipis. Pada ujung anterior terdapat mikrophil, tempat
spermatozoa masuk ke dalam telur (Gambar 2.1). Walaupun banyak sperma yang
masuk ke dalam mikrophil tapi hanya satu yang dapat berfertilisasi dengan pronukleus
betina dan yang lainnya segera berabsorpsi dalam perkembangan jaringan embrio
(Borror, 1992).

2. Larva
Setelah 2 hari telur menetas menjadi larva yang berwarna putih keruh, berbentuk
bulat panjang dengan salah satu ujungnya runcing. Larva berwarna putih keruh atau
putih kekuningan, berbentuk bulat panjang dengan salah satu ujungnya runcing. Larva
lalat buah terdiri atas 3 bagian; yaitu kepala, toraks (3 ruas), dan abdomen (8
ruas). Kepala berbentuk runcing dengan dua buah bintik hitam yang jelas dan
mempunyai alat kait mulut. Ada 3 jenis larva yaitu :1) Larva 1 yaitu berbentuk lonjong
pipih, berwarna putih bening, berukuran 1 mm, bersegmen, berbentuk dan bergerak
seperti cacing, belum memiliki spirakel anterior,2) Berbentuk lonjong pipih, berwarna
putih, berukuran 2 mm, bersegmen, berbentuk dan bergerak seperti cacing, memiliki
mulut dan gigi berwarna hitam untuk makan, memiliki spirakel anterior dan 3)
berbentuk lonjong pipih, berwarna putih, berukuran 3-4 mm, bersegmen, berbentuk
dan bergerak seperti cacing, memiliki mulut dan gigi berwarna hitam lebih besar dan
jelas terlihat dibanding larva instar 2, memiliki spirakel anterior dan terdapat beberapa
tonjolan pada spirakel anteriornya (Borror, 1992).
3. Pupa
Larva Drosophila membentuk cangkang pupa, tubuhnya memendek, kutikula
menjadi keras dan berpigmen, tanpa kepala dan sayap disebut larva instar 4. Formasi
pupa ditandai dengan pembentukan kepala, bantalan sayap, dan kaki. Puparium (bentuk
terluar pupa) menggunakan kutikula pada instar ketiga. Pada stadium pupa ini, larva
dalam keadaan tidak aktif, dan dalam keadaan ini, larva berganti menjadi lalat dewasa
(Ashburner, 1985). (Gambar 2.2)

Gambar 2.2 Pupa Drosophilla melanogaster (Beers. 2010)

4. Imago
Lalat dewasa yang baru keluar dari pupa sayapnya belum mengembang, tubuhnya
berwarna bening.Keadaan ini akan berubah dalam beberapa jam. Lalat betina mencapai
umur matang kelamin dalam waktu 12 hingga 18 jam dan dapat bertahan hidup selama
lebih kurang 26 hari. Ukuran tubuhnya lebih panjang daripada lalat jantan.Pada
permukaan dorsal, abdomen lalat betina berwarna lebih gelap daripada lalat jantan.
Sementara itu, pada bagian kaki lalat jantan terdapat struktur yang dinamakan sisir
kelamin atau sex comb (Borror, 1992).
B. Drosophila melanogaster dalam Kajian Nondisjunction
Drosophila melanogaster atau lalat buah kecil. Lalat-lalat ini panjangnya 3-4 mm
dan normalnya bertubuh kuning kecoklatan. Mereka biasanya terdapat disekitar tumbuh-
tumbuhan dan buah-buahan yang membusuk. D. Melanogaster adalah anggota famili
Drosophilidae yang paling umum ditemukan. D. Melanogaster sering kali menjadi hama
rumah tangga apabila ditemukan pada buah atau sayuran. Larvae dari lalat buah kecil ini
terdapat di dalam buah busuk. Lalat jenis ini digunakan secara meluas dalam penelitian
genetik karena waktu hidupnya yang pendek, memiliki kromosom-kromosom ludah
raksasa dan mudah dipelihara (Borror dkk, 1992).
Drosophila melanogaster, merupakan organisme eksperimen modern dalam bidang
genetika karena memiliki karakter fenotip yang berbeda dan terlihat nyata, mudah
mendapatkannya, murah (dapat dibiakkan dalam botol yang hanya berisi media pisang
yang difermentasi) dan mempunyai waktu perkembiakan yang tidak terlalu lama (2
minggu dengan waktu pematangan seksual awal yaitu 7 jam setelah keluar dari pupa).
Karena alasan-alasan inilah Drosophila terutama jenis Drosophila melanogaster sering
digunakan sebagai obyek studi genetika dasar, termasuk tentang mutasi (Borror dkk,
1992).
Sudah ada banyak jurnal penelitian yang menunjukkan pemanfaatan Drosophila
melanogaster sebagai obyek studi mutasi terutama tentang nondisjunction. Bahkan
penemuan pertama kali peristiwa nondisjunction berawal dari persilangan pada
Drosophila melanogaster antara individu betina bermata putih dan jantan bermata
merah, dimana persilangan tersebut menghasilkan keturunan jantan bermata putih dan
betina bermata merah. Hal tersebut pertama kali dilaporkan T. H. Morgan dan Bridges,
dilaporkan pula bahwa salah satu di antara 2000 turunan F1 tersebut mempunyai warna
mata yang menyimpang, entah betina bermata putih atau jantan bermata merah. Bridges
menduga bahwa penyimpangan itu terjadi karena peristiwa gagal berpisah pada
kromosom kelamin X. Dalah hal ini kedua kromosom X gagal berpisah selama meiosis
sehingga keduanya menuju ke kutub yang sama, dan terbentuklah telur yang memiliki
dua kromosom kelamin X maupun yang tidak memiliki kromosm kelamin X (Corebima,
2003).
Selain T. H. Morgan dan Bridges, banyak penelitian pengembangan mengenai
nondisjunction yang memanfaatkan Drosophila melanogaster sebagai obyek studinya,
salah satunya adalah H. Traut yang menuliskan hasil penelitiannya pada tahun 1970
dalam jurnal yang berjudul Nondisjunction Induced By X-Ray in Oocytes of Drosophila
melanogaster dan pada tahun selanjutnya 1971 Beliau kembali melakukan penelitian
dan menuliskan jurnal berjudul The Influence Of The Temporal Distribution Of The
X-Ray Dose On The Induction Of X-Chromosomal Nondisjunction And X-Chromosome
Loss In Oocytes Of Drosophila melanogaster. Adapun B. Leigh yang pada tahun 1979
melakukan penelitian mengenai nondisjunction menggunakan oosit Drosophila
melanogaster, hasil penelitian tersebut dituliskan dalam jurnal yang berjudul Induced
Nondisjunction in Drosophila Oocytes. Selain ketiga peneliti tersebut masih banyak lagi
yang memanfaatkan Drosophila melanogaster sebagai obyek penelitian tentang peristiwa
gagal berpisah atau nondisjunction.

C. Peristiwa Gagal Berpisah (Nondisjunction)


Gagal berpisah merupakan suatu peristiwa dimana bagian-bagian dari sepasang
kromosom yang homolog tidak bergerak memisahkan diri sebagaimana mestinya pada
meiosis I, atau dimana kromatid saudara gagal berpisah selama meiosis II, sehingga satu
gamet menerima dua jenis kromosom yang sama dan satu gamet lainnya tidak mendapat
salinan sama sekali (Campbell dkk, 2002). Dalam hal ini kedua kromosom kelamin X
gagak memisah selama meiosis sehingga keduanya menuju ke kutub yang sama dan
terbentuklah telur yang memiliki dua kromosom kelamin X maupun yang tidak memiliki
kromosom kelamin X (Corebima, 2003).
Kejadian gagal berpisah (nondisjunction) pada Drosophila melanogaster seperti
yang ditemukan pertama kali oleh Bridges tahun 1916, menjelaskan bahwa kejadian
nondisjunction tersebut dijelaskan melalui kejadian nondisjunction pada betina bermata
putih. Dalam hal ini betina bermata putih yang mengalami nondisjunction saat meiosis
akan menghasilkan telur XwXw dan 0 (tanpa kromosom seks). Jika telur XwXw dibuahi
oleh Y yang dibawa sperma, maka akan menghasilkan keturunan betina bermata putih
(XwXwY). Jika telur tanpa kromosom seks dibuahi oleh X yang diwa sperma, akan
menghasilkan keturunan jantan normal (X+0). Tipe lain dari kejadian nondisjunction
adalah telur XX yang akan dibuahi oleh X yang dibawa sperma dan telur 0 yang dibuahi
oleh Y yang akan dibawa sperma. Zigot XXX yang berfenotip XwXwX+ (betina) biasanya
mati dan lalat YO selalu mati (Novitasari, 1997). (Gambar 2.3)
Gambar 2.3 Peristiwa Nondisjunction Pada D. Melanogaster hasil persilangan betina w mata
putih dengan jantan normal bermata merah (Ayala dkk, 1984).

Peristiwa gagal berpisah dibedakan menjadi gagal berpisah primer dan sekunder.
Contoh gagal berpisah primer adalah seperti yang telah dikemukakan. Gagal berpisah
sekunder ditemukan oleh Lilian V.Morgan (istri dari T.H. Morgan) pada tahun 1922.
Peristiwa gagal berpisah itu disebut sebagai gagal berpisah sekunder karena kejadiannya
berlangsung pada turunan dari individu betina, yang keberadaannya merupakn produk
gagal berpisah primer. Dalam hal ini individu betina bermaksud memiliki dua kromosom
kelamin X dan satu kromosom Y. Frekuensi kejadian gagal berpisah sekunder
(sebagaimana yang dilaporkan) adalah sekitar 100 akli lebih tinggi (1 dalam 25 turunan)
daripada frekuensi kejadian gagal berpisah primer (1 dalam 2000 turunan) (Corebima,
2003).
Peristiwa gagal berpisah juga diketahui terjadi pada makhluk hidup (selain
Drosophila) termasuk pada manusia. Pada manusia peristiwa gagal berpisah pada
kromosom 21 menghasilkan turunan yang memiliki kromosom 21 sebanyak 3 buah; dan
individu semacam itu dikenal sebagai pengidap kelainan Down Syndrome. Di samping
itu peristiwa gagal berpisah pada kromosom kelamin terbukti berakibat munculnya
berbagai kelainan seperti klinefelter syndrome dan sebagainya. Peristiwa gagal berpisah
juga diketaui selama miosis (Corebima, 2003).

D. Faktor-Faktor Penyebab Gagal Berpisah (Nondisjunction)


Peristiwa gagal berpisah (nondisjunction) dapat dipengaruhi oleh faktor luar dan
faktor dalam. Faktor luar yang dapat menyebabkan adanya peristiwa gagal berpisah pada
Drosophila melanogaster adalah energi radiasi tinggi, karbon dioksida, zat kimia tertentu
dan suhu. Suhu tidak berpengaruh terhadap frekuensi gagal berpisah primer kromosom
kelamin X Drosophila melanogaster, akan tetapi mempunyai pengaruh terhadap
frekuensi gagal berpisah sekunder kromosom kelamin X Drosophila melanogaster
(Abidin, 1997).
Faktor dari dalam yang mempengaruhi frekuensi gagal berpisah diantaranya adalah
umur dan gen mutan. Menurut Abidin (1997), umur cenderung menigkatkan kejadian
penyimpangan meiosis yang disebut nondisjungsi pada tingkat kehidupan rendah. Faktor
internal lain yang mempengaruhi peristiwa gagal berpisah adalah gen mutan yang
menyebabkan sentromer tidak berada pada keadaan normal atau abnormal. Herskowitz
menyatakan bahwa dalam keadaan normal dua sentromer sesaudara terletak saling
menutup. Satu sentromer akan berorientasi ke salah satu kutub, sedang sentromer lain
berorientasi ke kutub yang berlawanan. Dengan adanya gen mutan, dalam hal ini gen
mei-s332, yaitu gen semi-dominan pada kromosom II D. melanogaster, maka pada
metafase II dua sentromer sesaudara akan terletak memisah, sehingga kedua sentromer
tersebut akan berorientasi ke kutub yang sama, akibatnya pada anafase II terjadi
peristiwa nondisjunction atau gagal berpisah. Jadi gen mei-S332 berfungsi sebagai agen
kohesi pada kromatid bersaudara (Novitasari, 1997).
Selain Gen mei-S332, adanya gen polo juga dapat menyebabkan terjadinya
peristiwa gagal berpisah yaitu gen polo. Gen polo mengkode protein atau enzim
polokinase yang berperan untuk memisahkan kromatid bersaudara pada saat anafase
meiosis II. Jika gen polo ini mengalami mutasi, maka gen polo ini tidak dapat
menjalankan fungsinya untuk memisahkan kromatid bersaudara, sehingga kromatid
bersaudara tidak dapat memisah dan akhirnya hanya bisa tertarik ke salah satu kutub
pembelahan saja (Clark, 2005).
Faktor internal lain yang dapat mempengaruhi terjadinya Nondisjunction yaitu
adanya transposable element yang tinggi pada Drosophila melanogasteryaitu sekitar
15% dari jumlah genom yang ada. Sehingga transposable element menjadi salah satu
penyebab mutasi yang tinggi (Gardner dkk, 1991).
Penyebab nondisjunction eksternal bersifat fisik, yaitu radiasi dan suhu. Radiasi
sebagai penyebab mutasi dibedakan menjadi radiasi pengion dan bukan pengion
(Gardner dkk, 1991). Radiasi pengion berenergi tinggi sedangkan radiasi bukan pengion
berenergi rendah. Radiasi sinar ultra violet (UV) merupakan contoh radiasi bukan
pengion (Corebima, 2000).
Mutasi dapat disebut sebagai mutasi terinduksi jika terjadinya disebabkan
perlakuan organisme dengan agen mutagenik seperti irradiasi pengionan, sinar ultraviolet
(sinar UV) atau berbagai bahan kimia yang bereaksi dengan ADN atau ARN (Garder
dkk, 1991).
ADN akan menyerap sinar UV secara maksimum pada = 254 nm, sehingga
mutagenitas maksimum juga terjadi pada panjang gelombang tersebut. Sinar UV tidak
mampu menimbulkan pengionan dan hanya sedikit menembus jaringan (umumnya hanya
pada selsel lapisan permukaan organisme multiseluler) dikarenakan memiliki energi
yang rendah. Walaupun demikian sinar UV merupakan mutagen yang potensial untuk
organisme uniseluler (Gardner dkk, 1991).
2.2 Kerangka Konseptual

Penelitian ini dirancang untuk mengetahui frekuensi nondisjunction pada persilangan


Drosophila Melanogaster strain N >< wa.

Nondisjunction atau peristiwa gagal berpisah adalah peristiwa


dimana bagian-bagian dari sepasang kromosom yang homolog
tidak bergerak memisahkan diri sebagaimana mestinya

Faktor eksternal yang mempengaruhi nondisjunction dapat


berupa suhu dan radiasi.

Sinar UV adalah salah satu faktor Radiasi sinar UV dapat menyebabkan


penyebab mutasi, yaitu mutasi terinduksi. terjadinya perubahan materi genetik
Dengan panjang gelombang 254-269 nm.

Lama penyinaran sinar UV yang berbeda memberikan dampak


yang berbeda pula terhadap frekuensi nondisjunction.

Diberikan penyinaran sinar UV terhadap telur Drosophila


strain N dan wa, dengan variasi waktu penyinaran 0
menit, 2 menit, 4 menit, 6 menit, dan 8 menit.

Setelah telur menetas dilakukan persilangan N>< wa dari


perlakuan yang sama, dan dilakukan analisis frekuensi
nondisjunction pada F1 dari setiap perlakuan waktu

3.3 Hipotesis
1. Terdapat pengaruh variasi waktu penyinaran sinar ultraviolet terhadap frekuensi
gagal berpisah (nondisjuction) pada persilangan Drosophila melanogaster strain N
>< wa.
2. Terdapat perbedaan frekuensi gagal berpisah (nondisjunction) pada F1 hasil
persilangan Drosophila melanogaster strain N >< wa dengan perlakuan UV 0
menit, 2 menit, 4 menit, 6 menit dan 8 menit.
3. Fenomena gagal berpisah pada persilangan Drosophila melanogaster strain N ><
wa ditunjukkan oleh adanya anakan F1 dengan fenotip yang tidak sesuai dengan
rekonstruksi kromosom.
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan dan Jenis Penelitian

Penelitian yang dilakukan ini termasuk penelitian eksperimental, karena penelitian ini
dilakukan dengan pengamatan secara langsung pada obyek, yaitu pada hasil F1 berdasarkan
persilangan Drosophila melanogaster N>< wa yang dilakukan 5 kali ulangan. Kemudian
melakukan pengamatan fenotip pada turunan F1. Dalam penelitian ini digunakan Racangan
Acak Kelompok (RAK), dimana hanya terdapat satu variabel bebas dan ulangan tidak
dilakukan dalam waktu yang homogen.

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Genetika gedung O5 lantai 3 ruang 310,


Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang pada bulan September-November 2016.

3.3 Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh spesies Drosophila melanogaster yang
ada di laboratorium Genetika ruang 310, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Drosophila melanogaster strain N dan wa.

3.4 Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini antara lain adalah sebagai berikut.

1. Variabel bebas : waktu penyinaran sinar ultraviolet.


2. Variabel terikat : frekuensi nondisjungtion.
3. Variabel kontrol : bahan medium, panjang gelombang sinar UV, usia Drosophila
melanogaster yang disilangkan.

3.5 Alat dan Bahan

Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah botol selai, mikroskop
stereo, selang plastik, gelas arloji, set alat UV, kain kasa, neraca, kompor, pisau, dan
blender. Sedangkan bahan yang dibutuhkan adalah pisang raja mala, fermipan, tape
singkong, air, gula merah, alkohol 70%, tissue, D. melanogaster, kertas pupasi, spons, dan
cotton but.
3.6 Prosedur Kerja

A. Prosedur Pembuatan Medium dalam Satu Resep


1) Disiapkan pisang rajamala sebanyak 700 gram, tape singkong sebanyak 200
gram, dan gula merah sebanyak 100 gram. (perbandingan pembuatan resep
7:2:1).
2) Pisang dan tape singkong yang sudah ditimbang kemudian diblender dan
ditambahkan dengan air secukupnya.
3) Gula merah dipotong kecil-kecil di dalam panci yang ditambahkan air
secukupnya kemudian dipanaskan sampai meleleh dengan menunggu
blenderan pisang dan tape singkong sampai halus.
4) Setelah pemblenderan pisang dan tape sudah selesai, dituang pada panci dan
ditambahkan gula merah tadi yang sudah dilelehkan.
5) Dinyalakan kompor, awalnya untuk ukuran api dengan ukuran besar tapi untuk
selanjutnya ukuran api semakin kecil.
6) Diaduk bahan-bahan yang sudah tercampur tersebut selama 45 menit tanpa
berhenti.
7) Setelah 45 menit, medium dimasukkan pada botol selai kemudian ditutup
dengan spons penutup.
8) Ditunggu hingga dingin, setelah dingin medium pun siap digunakan.
9) Apabila medium masih sisa, dapat dimasukkan dalam wadah plastik kemudian
disimpan dalam lemari pendingin dengan lama penyimpanan maksimal selama
3 hari. Jika ingin menggunakan kembali medium yang disimpan,
menggunakannya dengan dipanaskan terlebih dahulu selama 15 menit dan
medium siap untuk digunakan.

B. Prosedur Peremajaan Lalat Strain N, wa


1) Disiapkan botol stok yang berisi lalat strain N dan wa
2) Disiapkan botol selai dengan jumlah tertentu yang sudah diisi dengan medium
yang telah dingin, fermipan serbanyak 5-7 butir dan kertas pupasi.
3) Lalat yang ada pada masing-masing stok dipindahkan pada botol yang baru
dengan disedot menggunakan selang, dalam satu botol peremajaan minimal 2-
3 pasang lalat.
4) Lalat yang sudah ada pada botol baru dibiarkan untuk berkembang biak.
C. Prosedur Mengampul Pupa Drosophila malanogaster
1) Dipotong pipa selang dengan gunting sepanjang 7cm, kemudian dibersihkan.
2) Diiris buah pisang dengan secara melintang.
3) Pisang irisan tadi dicetak menggunakan pipa selang yang telah dipotong tadi.
4) Pisang yang sudah dicetak dimasukkan ke dalam pipa selang sampai ketengah.
5) Ujung kuas dibasahi dengan air bersih.
6) Pupa yang sudah menghitam ada pada stok diambil untuk dipindahkan di pipa
selang kemudian ditutup dengan potongan spons. (dalam satu potongan selang
diisi dengan dua pupa yang sudah menghitam).
7) Selang yang sudah diisi dengan pupa diberi kertas label untuk penamaan strain
dan tanggal mengampul.
8) Ampulan ditunggu sampai menetas, umur lalat dalam ampulan maksimal tiga
hari untuk disilangkan.

D. Prosedur Persilangan Drosophila malanogaster untuk Persiapan Stok


1) Sebanyak 3-5 pasang lalat sesama strain (wa>< wa dan N><N) hasil
ampulan dimasukkan ke dalam botol berbeda yang berisi medium irisan
melintang pisang rajamala (tebal 2-2,5 cm).
2) Setelah 3 hari, indukan jantan dan betina dilepaskan..
3) Medium irisan melintang pisang rajamala yang telah mengandung telur
dipindahkan ke cawan petri yang telah disterilisasi menggunakan alkohol 70%.
4) Cawan petri beserta medium irisan pisang dimasukkan ke dalam alat Uv dan
diradiasi dengan waktu yang berbeda-beda, yaitu 0 menit, 2 menit, 4 menit, 6
menit, dan 8 menit..
5) Setelah diberi perlakuan UV, irisan melintang pisang yang mengandung telur
kemudian dipindahkan ke dalam medium cair tanpa pupasi.
6) Setelah muncul pupa yang menghitam, kemudian diampul untuk mendapat
indukan persilangan.

E. Persilangan N>< wa
1) Lalat hasil ampulan dari stok yang telah diUV disilangkan dengan beda strain
(N>< wa) yang memperoleh perlakuan UV sama di dalam medium
lengkap, dalam persilangan ini hanya dibutuhkan sepasang lalat.
2) Botol persilangan dilabeli sebagai botol A.
3) Setelah 3 hari indukan jantan dilepas dan betina dipindah ke dalam botol B,
kemudian betina dari botol B dipindah ke dalam botol C setelah muncul larva.
4) Setelah muncul larva di dalam botol C, betina dilepaskan.
5) Diamati fenotip anakan yang muncul di dalam setiap botol hingga 7 hari.
6) Seluruh prosedur diulangi hingga diperoleh 5 ulangan.

3.7 Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara melakukan
pengamatan pada F1. Kemudian data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel
pengamatan sebagai berikut.

Perlakuan Ulangan Botol Fenotip Hari ke-


1 2 3 4 5 6 7
1 A N
N
wa
wa
B N
N
wa
wa
C N
N
wa
wa
2 A N
N
wa
wa
B N
N
wa
wa
C N
N
wa
wa
3 A N
N
wa
wa
B N
N
wa
wa
C N
N
wa
wa
4 A N
N
wa
wa
B N
N
wa
wa
C N
N
wa
wa
5 A N
N
wa
wa
B N
N
wa
wa
C N
N
wa
wa

3.8 Teknik Analisis Data

Jumlah keturunan F1 yang mengalami nondisjunction pada pengamatan yang


dilakukan dianalisis mengginakan Analisis Varian Tunggal dengan Rancangan Acak
Kelompok, karena hanya terdapat satu variabel bebas dan ulangan dilakukan dalam waktu
yang tidak homogen. Namun sebelum dilakukan analisis lanjut, data mentah ditransformasi
terlebih dahulu menggunakan transformasi akar kuadrat.
Presentase gagal berpisah (nondisjunction) dihitung dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:
individu NDJ
% frekuensi NDJ= X 100%
total
BAB IV
DATA DAN ANALISIS DATA

4.1 Data Hasil Pengamatan Fenotip


Strain Drosophila melanogaster yang digunakan dalam penelitian ini adalah strain N,
dan wa dengan ciri ciri sebagai berikut :

1. Strain N (Wild-Type)
a. Warna tubuh kuning kecoklatan
b. Keadaan sayap menutupi tubuh dengan
sempurna
c. Mata berwarna merah
d. Faset mata halus

2. Strain wa (white-apricot)
a. Warna tubuh kuning kecoklatan
b. Keadaan sayap menutupi tubuh dengan
sempurna
c. Mata berwarna merah
d. Faset mata halus

4.2 Data Hasil Perhitungan Fenotip


Dari hasil persilangan N >< wa diperoleh data fenotip pada F1 sebagai berikut:
Persilangan Ulangan Fenotip Perlakuan UV
F1 0 menit 2 menit 4 menit 6 menit 8 menit
N >< wa 1 N 0 0 0 0 0
N 37 0 0 26 65
wa 37 0 0 35 60
wa 0 0 0 0 2
Jumlah 74 0 0 61 127
2 N 0 0 0 0 0
N 69 0 0 47 47
wa 45 0 0 42 52
wa 0 0 0 0 1
Jumlah 114 0 0 89 100
3 N 0 0 0 0 0
N 80 0 0 64 0
wa 51 0 0 68 0
wa 0 0 0 0 0
Jumlah 131 0 0 132 0
4 N 0 0 0 0 0
N 65 0 0 0 0
wa 42 0 0 0 0
wa 0 0 0 0 0
Fr.NDJ 0 0 0 0 0
5 N 0 0 0 0 0
N 34 0 0 0 0
wa 32 0 0 0 0
wa 0 0 0 0 0
Fr.NDJ 66 0 0 0 0

4.3 Rekonstruksi Kromosom


Berikut adalah rekonstruksi kromosom dari persilangan N >< wa.
1. Rekonstruksi persilangan yang tidak mengalami nondisjunction (NDJ)
P1 : N >< wa
w a w a
Genotip : ><
w a
Gamet : wa+, wa-, wa
F1


wa - wa -

w a w a
wa+ (N) (N)
w a w a

wa wa
( wa) ( wa)

Fenotip yang muncul adalah N, wa

2. Rekonstruksi persilangan yang mengalami non disjunction (NDJ)


P1 : N >< wa
w a w a
Genotip : >< w a
Gamet : wa+, wa-, wa wa , 0
F1

wa wa wa 0

w a wa wa wa
wa+ (N) ( super letal) ( N)
w a wa 0

w a wa wa 0
( wa) (wa) (letal)

Fenotip yang muncul adalah N, N, wa, wa

4.4 Data Perhitungan Frekuensi Nondisjunction Pada D.melanogaster

Apabila data dari kelima perlakuan dengan masing-masing 5 ulangan telah selesai
dikumpulkan, maka dilakukan analisis statistik menggunakan ANAVA tunggal. Akan tetapi
data yang diperoleh masih sebagian saja, sehingga untuk analisis hanya dilakukan
penghitungan frekuensi nondisjunction dalam bentuk persen menggunakan rumus %
individu NDJ
frekuensi NDJ= total
X 100%. Berikut ini merupakan perhitungan frekuensi
nondisjunction pada persilangan N >< wa dengan variasi waktu penyinaran sinar UV 0, 2,
4, 6, dan 8 menit pada ulangan 1-5.

1. Frekuensi nondisjungtion pada perlakuan 0 menit


0
Ulangan 1 = 74 X 100%

= 0%
0
Ulangan 2 = 114 X 100%

= 0%
0
Ulangan 3 = 113 X 100%

= 0%
0
Ulangan 4 = 107 X 100%

= 0%
0
Ulangan 5 = 66 X 100%

= 0%
2. Frekuensi nondisjunction pada perlakuan 6 menit
0
Ulangan 1 = 61 X 100%

= 0%
0
Ulangan 2 = X 100%
89

= 0%
0
Ulangan 3 = 132 X 100%

= 0%
3. Frekuensi nondisjunction pada perlakuan 8 menit
2
Ulangan 1 = 127 X 100%

= 0,16%
1
Ulangan 2 = 100 X 100%

= 1%

3
Frekuensi nondisjunction total pada perlakuan 8 menit = 227 X 100% = 1,3%
4.5 Grafik Hubungan Frekuensi Nondisjunction dengan Perlakuan UV Pada D.
Melanogaster

Grafik Hubungan frekuensi dengan Lama


Penyinaran UV
1%
Frekuensi nondisjunction

1%

1%
ulangan 1
1% ulangan2
ulangan 3
0%
ulangan 4
0%
ulangan 5
0%
0 menit 2 menit 4 menit 6 menit 8 menit
variasi lama penyinaran sinar UV

Berdasarkan data pengamatan dan penelitian yang telah dilakukan pada persilangan
D. melanogaster strain N >< wa, diketahui jumlah anakan pada F1 yang muncul berbeda-
beda pada perlakuan 0 menit, 2 menit, 4 menit, 6 menit dan 8 menit. Data yang diperoleh
tidak dapat dianalisis secara statistik menggunakan ANAVA tunggal, hal ini dikarenakan data
yang diperoleh belum lengkap sehingga hanya dapat disajikan data perhitungan frekuensi
gagal berpisah (nondisjunction).
Berdasarkan analisis rekonstruksi kromosom pada persilangan N >< wa, peristiwa
nondisjunction ditandai dengan munculnya anakan bukan harapan yaitu N dan wa dimana
seharusnya anakan yang muncul berfenotip N dan wa saja. Pada data yang diperoleh
dilakukan perhitungan frekuensi nondisjunction. Pada perlakuan 0 menit tidak ada anakan
bukan harapan yang muncul, sehingga frekuensi nondisjunctionnya adalah 0% pada kelima
ulangan. Pada perlakuan 2 menit dan 4 menit, peneliti belum mendapat data sama sekali.
Pada perlakuan 6 menit, anakan bukan harapan tidak ditemukan pada ulangan 1 sampai 3,
sehingga frekuensi nondisjunctionnya pada ulangan 1-3 adalah 0%. Sedangkan pada
perlakuan 8 menit ditemukan adanya nondisjunction pada ulangan 1 dan 2, ditandai dengan
munculnya anakan bukan harapan yaitu wa. Pada ulangan 1 perlakuan 8 menit diperoleh
frekuensi nondisjunction sebesar 0,16% dan pada ulangan 2 sebesar 1%. Sehingga nilai
frekuensi nondisjunction yang tertinggi pada perlakuan 8 menit, ulangan kedua.
BAB V
PEMBAHASAN
5.1 Pengaruh Variasi Waktu Penyinaran Sinar Ultraviolet Terhadap Frekuensi Gagal
Berpisah (Nondisjuction)

Berdasarkan analisis data yang dilakukan pada persilangan D. melanogaster strain N


>< wa yang diberi perlakuan penyinaran UV selama 0 menit, 2 menit, 4 menit, 6 menit dan
8 menit, menghasilkan keturunan F1 dengan fenotip N, wa, dan wa. Pada perlakuan 0
menit dan 6 menit hasil keturunan F1 berfenotip N dan wa, berdasarkan analisis
rekonstruksi kromosom pada kedua perlakuan ini tidak ditemukan fenomena gagal berpisah
(nondisjunction). Sedangkan pada perlakuan 8 menit hasil F1 memiliki fenotip N, wa, dan
wa pada ulangan 1 dan 2, sehingga berdasarkan rekonstruksi kromosom dapat dikatakan
bahwa ditemukan fenomena gagal berpisah pada perlakuan ini, ditandai dengan munculnya
keturunan bukan harapan yaitu wa. Untuk perlakuan 2 menit dan 4 menit, peneliti belum
mendapatkan data sama sekali. Kurangnya data yang diperoleh menyebabkan peneliti tidak
dapat melakukan analisis secara statistik, sehingga belum dapat disimpulkan apakah variasi
waktu penyinaran sinar ultraviolet berpengaruh terhadap frekuensi gagal berpisah pada
persilangan D. melanogaster strain N >< wa atau tidak.
Dari hasil tersebut maka terdapat dua kemungkinan jawaban, yaitu variasi waktu
penyinaran sinar ultraviolet berpengaruh dan variasi waktu penyinaran sinar ultraviolet tidak
berpengaruh terhadap frekuensi gagal berpisah (nondisjunction) pada persilangan D.
melanogaster strain N >< wa.
Pada idealnya, benang-benang mitosis mendistribusikan kromosom pada sel-sel anak
tanpa kesalahan. Namun adakalanya terjadi kecelakaan yang disebut nondisjunction, dimana
bagian-bagian dari sepasang kromosom yang homolog tidak bergerak memisahkan diri
selama meiosis I, atau dimana kromatid sesaudara gagal berpisah selama meiosis II. Pada
kasus ini, satu gamet menerima dua jenis kromosom yang sama dan satu gamet lainnya tidak
mendapat salinan sama sekali. Kromosom-kromosom lainnya biasanya terdistribusi secara
normal (Campbell, 2002).
Seperti yang telah dijelaskan, bahwa variasi waktu penyinaran sinar UV mungkin
berpengaruh terhadap frekuensi gagal berpisah. Dalam penelitian ini pemberian perlakuan
lama radiasi UV pada setiap persilangan yaitu 2, 4, 6, dan 8 menit. Jika lama radiasi UV
berpengaruh, sinar ultraviolet dapat menginduksi proses mutasi karena purin dan pirimidin
bisa menyerap sinar ultraviolet. Pirimidin (terutama timin) menyerap panjang gelombang 254
nm dan menjadi sangat reaktif. Dua produk utama absorbsi pirimidin yaitu hidrat pirimidin
dan dimer pirimidin. Beberapa bukti mengindikasikan bahwa dimer timin merupakan
penyebab utama mutasi dari faktor sinar ultraviolet. Dimer timin menyebabkan mutasi
dengan dua cara, yaitu dimer mengacaukan DNA untai ganda dan mengganggu replikasi
DNA; serta kadang-kadang kesalahan terjadi selama proses perbaikan DNA. Hubungan
antara laju mutasi dengan dosis sinar ultraviolet yang diberikan sangat bervariasi, tergantung
pada tipe mutasi, organisme dan kondisinya (Gardner dkk., 1991).
Akibat pada DNA dengan adanya radiasi sinar ultraviolet yang mengenainya adalah
pembentukan ikatan kovalen stabil karbon-karbon antara pirimidin yang berdekatan pada
unting DNA double helix yang sama atau antara pirimidin pada unting yang berhadapan.
Ikatan yang abnormal tersebut biasanya terbentuk antara dua timin sehingga dikenal sebagai
dimer timin, namun mungkin juga dimer dua sitosin maupun campuran dimer timin dan
sitosin. Bentuk dimer tersebut dapat menyebabkan terjadinya semacam bonggol yang
menganggu dupleks pada tapak dimer unting dan perlengkapan sintesis unting DNA maupun
RNA menjadi terhalang dengan adanya tapak-tapak yang ditempati oleh dimer tadi. Bentukan
dimer tersebut dapat menyebabkan terjadinya semacam bonggol yang mengganggu duplex
pada tapak dimer. Unting dan perlengkapan sintesis unting DNA maupun RNA menjadi
terhalang dengan adanya tapak-tapak yang ditempati dimer tadi. Hal ini dapat menyebabkan
keletalan apabila tidak ada perbaikan (Corebima, 2000).
Jadi dapat disimpulkan bahwa jika berpengaruh, hal ini disebabkan karena radiasi sinar
UV bersifat mutagenik. Sinar UV yang diradiasikan dapat mengenai gen yang mana saja
termasuk gen pengatur pembelahan, misalnya gen mei-S332 dan gen polo. Apabila gen
pengatur pembelahan sel termutasi akibat UV, akibatnya kromosom tidak dapat memisah
pada saat anafase. Gagal berpisahnya kromosom saat tahap anafase meiosis inilah yang
disebut nondisjunction.
Kemungkinan kedua adalah variasi waktu penyinaran sinar UV tidak berpengaruh
terhadap frekuensi gagal berpisah (nondisjunction). Sinar UV memiliki energi radiasi yang
rendah. Sehingga tidak memiliki cukup energi untuk menginduksi suatu ionisasi pada gen
terutama gen yang mengkode pembelahan sel. Akibatnya pembelahan sel berjalan normal.
Selain itu, jika meskipun radiasi UV telah mengenai gen, tetapi gen itu segera diperbaiki oleh
suatu mekanisme perbaikan DNA. Sehingga gen sudah kembali menjadi normal kembali dan
pembelahan sel tetap berjalan normal. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Russel (1992)
yang menyatakan bahwa sebelum terjadi kerusakan yang parah pada jaringan telur, telah
terjadi mekanisme perbaikan DNA akibat mutasi induksi yang disebabkan sinar ultraviolet
tersebut. Sel-sel prokariot dan eukariot memiliki sejumlah sistem perbaikan yang
berhubungan dengan kerusakan DNA. Semua sistem itu melakukan perbaikan secara
enzimatis. Kerusakan DNA akibat radiasi sinar ultraviolet dapat diperbaiki antara lain dengan
cara fotoreaktivasi dimmer pirimidin dan perbaikan melalui excision repair yang berjenis
nucleotide excision repair.
Ada 2 jenis dari Excision repair yaitu base excision repair yang berfungsi untuk
mengganti basa DNA yang abnormal dan nucleotide excision repair yang memperbaiki
kerusakan besar seperti dimer timin. Nucleotide excision repair memindahkan dan
menghilangkan bonggolan yang terbentuk akibat dimer timin . Proses ini dikatalisasi oleh
sebuah enzim nuklease unik yang dapat memotong bagian yang mengalami kerusakan pada
nukleotida, enzim ini disebut eksinuklease untuk membedakannya dari endonuklease dan
eksonuklease yang berperan dalam metabolisme DNA yang lain.Adapun mekanisme dari
nucleotide excision repair adalah sebagai berikut (Gardner dkk, 1991):
1. DNA repair endonuklease atau endonuklease adalag enzim kompleks yang mengikat
dan memotong basa DNA yang mengalami kerusakan.
2. DNA polimerase mengisi celah yang terpotong menggunakan unting komplementer
baru yang tidak mengalami kerusakan sebgagai cetakan.
3. DNA ligase menggabungkan bagian yang belum tersambung untuk melengkapi
proses perbaikan DNA.
Aktifitas eksinuklease membutuhkan peranan dari 3 gen yaitu uvrA, uvrB dan uvrC
(uvr = uv repair). Sebuah protein trimer mengandung 2 polipeptida uvrA dan satu polipeptida
uvrB yang dapat mengenali kerusakan DNA. Protein timer tersebut akan mengikat pada
bagian DNA yang rusak dan menggunakan energi berupa ATP untuk membengkokkan DNA
pada tempat yang rusak. Kemudian uvrA dimer terlepas dan digantikan dengan protein uvrC
yang mengikat uvrB/Kompleks DNA.Protein uvrC memotong 4 sampai 5 ikatan fosfodiester
dari nukleotida yang rusak pada ujung 3 dan menghubungkan 8 ikatan fosfodiester pada
ujung 5. Setelah itu gen uvrD menghasilkan DNA helicase II untuk melepaskan dodecamer.
Dua tahapan terakhir pada mekanisem ini yaitu DNA polimerase I mengisi celah yang
kosong dengan menggunakan unting komplementer sebagai cetakan dan DNA ligase
menggabungkan celah yang belum bergabung pada molekul DNA (Gardner dkk, 1991).
Jadi sinar UV dapat tidak berpengaruh terhadap frekuensi nondisjunction karena dua
hal, pertama adalah karena energi UV yang terlalu rendah sehingga tidak mampu
menginduksi peristiwa gagal berpisah. Kedua, karena DNA memiliki daya perbaikan diri dari
mutasi akibat paparan UV. Lama penyinaran UV yang terlalu singkat dapat memungkinkan
DNA untuk memperbaiki diri dari mutasi.

5.2 Perbedaan frekuensi gagal berpisah (nondisjunction) dari perlakuan variasi waktu
penyinaran UV
Ketidak lengkapan data yang diperoleh peneliti, menyebabkan peneliti tidak dapat
melakukan analisis statistik. Hal ini menyebabkan peneliti tidak dapat menyimpulkan apakah
terdapat perbedaan frekuensi nondisjunction atau tidak dari berbagai perlakuan variasi waktu
penyinaran sinar UV secara statistik. Namun berdasarkan data perhitungan frekuensi
nondisjunction diketahui bahwa terdapat perbedaan hasil pada perlakuan 0 menit (kontrol), 6
menit dan 8 menit. Pada perlakuan 0 menit (kontrol) dan 6 menit tidak ditemukan adanya
peristiwa nondisjunction atau 0%, sedangkan pada perlakuan 8 menit frekuensi
nondisjunction sebesar 1,3%.
Perbedaan frekuensi nondisjunction pada perlakuan 0 menit dan 8 menit dengan
perlakuan 8 menit mungkin dikarenakan perbedaan lama penyinaran sinar ultraviolet. Seperti
yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa penyinaran yang terlalu singkat mungkin tidak
berpengaruh sehingga frekuensi nondisjunction 0%. Penyinaran UV yang terlalu singkat
memberikan waktu terhadap DNA untuk memperbaiki diri, sehingga pemisahan kromosom
dapat berlangsung normal dan nondisjunction tidak terjadi. Sedangkan pada perlakuan 8
menit dapat ditemui fenomena nondisjunction karena DNA tidak sempat memperbaiki diri
karena waktu penyinaran yang lebih lama.

5.3 Fenomena Gagal Berpisah (Nondisjunction) Pada Persilangan Drosophila


Melanogaster Strain N >< wa

Pada persilangan D. melanogaster strain N >< wa, dihasilkan keturunan N, wa


dan wa. Berdasarkan rekonstruksi kromosom persilangan N >< wa yang tidak
mengalami nondisjunction diketahui fenotip yang muncul pada f1 adalah N dan wa,
sedangkan hasil rekonstruksi kromosom yang mengalami nondisjunction diketahui fenotip
yang muncul adalah N, N, wa dan wa. Berdasarkan data dan hasil rekonstruksi, diduga
bahwa ada peristiwa gagal berpisah (nondisjunction) pada persilangan ini. Strain wa yang
wa wa
muncul diketahui merupakan anakan bukan harapan dengan genotip . wa-wa-

mengindikasi bahwa terdapat dua kromosom X, sedangkan mengindikasikan adanya
kromosom yang berbeda ukurannya. Hal ini terjadi karena pada tahap meiosis kromosom
menuju ke kutub yang sama sehingga terbentuk telur yang memiliki dua kromosom X.
Gen w mengalami mutasi pada kromosom 1 sedangkan N tidak mengalami mutasi
(Gardner dkk, 1991). wa merupakan derivat dari w, dimana gen ini terpaut kelamin. Strain wa
digunakan dalam penelitian ini karena merupakan gen yang terpaut pada kromosom kelamin.
Pemilihan strain ini dikarenakan gen yang terpaut pada kromosom kelamin memiliki pola
persilangan yang khas sehingga adanya fenomena nondisjunction dapat diidentifikasi dengan
mudah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Monroe (1985), yang menyebutkan bahwa
pewarisan sifat (fenotip) yang terpaut kromosom kelamin X mengikuti suatu pola yang khas,
yaitu crisscross pattern inheritance yang berarti pola pewarisan menyilang. Sifat yang terpaut
kromosom kelamin X yang memiliki pola demikian lebih mudah dipahami pada sifat-sifat
yang dibawa oleh gen-gen resesif.
Pada penelitian ini, penyinaran UV dilakukan pada telur Drosophila melanogaster,
dimana telur yang telah menetas disilangkan dan diamati anakan F1-nya. Fase telur pada D.
melanogaster dipilih karena telur merupakan salah satu tahapan dimana sel-selnya pada saat
itu aktif membelah dan tumbuh sehingga memiliki tingkat sensitivitas yang sangat tinggi jika
terpapar sinar ultraviolet. Pernyataan tersebut ditambah oleh Borror (1992) yang menyatakan
bahwa telur Drosophila melanogaster dilapisi oleh dua lapisan, yaitu satu selaput vitellin
tipis yang mengelilingi sitoplasma dan suatu selaput tipis tapi kuat (Khorion) dibagian luar
dan di anteriornya terdapat dua tangkai tipis sehingga memungkinkan sinar ultraviolet dapat
menembus lapisan tersebut.
Dari hasil analisis, dapat diketahui bahwa peristiwa nondisjunction merupakan
peristiwa yang tidak sengaja atau tidak selalu terjadi pada setiap perlakuan. Gagal berpisah
(nondisjucntion) adalah kegagalan sepasang kromatid atau kromosom homolog untuk
memisah selama pembelahan meiosis saat terjadinya oogenesis, sehingga keduanya menuju
ke kutub yang sama (Russel, 1992).
Pada kondisi nornal terdapat mekanisme yang menjaga pembentukan benang spindel
dan depolarisasi spindel secara tepat. Saat anafase 1 dan 2, terjadi pembogkaran protein yang
melekat pada kromatid sister sepanjang lengan kromatid dan penarikan oleh kinetokor
sehingga kromosom homolog dapat berpisah (Campbell dkk, 2010). Pada sel yang
mengalami nondisjunction terdapat kesalahan dalam pemisahan benang spindel tersebut. Hal
ini menyebabkan satu gamet menerima 2 kromosom sementara yang lainnya tidak
memperoleh kromosom. Benang spindel harusnya memisahkan kromosom, namun ketika
terjadi nondisjunction pasangan kromosom homolog gagal berpisah pada saat meiosis I atau
pada meiosis II.
Nondisjunction terjadi ketika terjadinya pristiwa meiosis pembentukan sel gamet. Sat
itu kromosom terbagi menjadi setengah set untuk setiap sel gamet yang terbentuk. Ketika
nondisjunction terjadi, maka satu sel gamet itu tidak berisi setengah dari kromosom sel induk,
tapi tetap berisi satu set lengkap, dalam hal inigamet yang harusnya haploid menjadi diploid
atau bahkan tidak berisi. Sel diploid berisi dua perangkat kromosom yang lengkap, satu
berasal dari gamet ayah dan yang lain berasal dari gamet ibu. Karena meiosis menghasilkan
gamet-gamet semacam itu, akibatnya adalah bahwa reduksi meiosis 2n menjadi n pasti
terjadi sedemikian sehingga setiap produk meiosis yang haploid diberi jatah satu perangkat
kromosom lengkap yang berisi semua informasi genetik yang berkaitan dengan jenis yang
bersangkutan.
Jadi, gagal berpisah merupakan peristiwa yang menyimpang, dimana kromosom-
kromosom atau kromatid secara normal berpisah pada waktu anafase tetap tinggal bersama,
sehingga menhasilkan sel anak dengan kebanyakan atau kekurangan kromosom. Hal ini
mengakibatkan aneuploidi pada sel-sel anak (Pai, 1992).
Peristiwa gagal berpisah dibedakan menjadi dua macam yaitu gagal berpisah primer
dan gagal berpisah sekunder. Peristiwa gagal berpisah dibedakan menjadi gagal
berpisahprimer dan sekunder. Gagal berpisah primer dapat terjadi pada induk lalat
yang belum mengalami gagal berpisah atau lalat Normal, sedangkan gagal berpisah
sekunder terjadi pada keturunan yang merupakan hasil gagal berpisah primer
(Corebima, 1997). Pada penelitian ini, indukan yang disilangkan telah mengalami
penyinaran UV, jadi peristiwa nondisjunction yang terjadi adalah hasil keturuan dari
lalat yang sudah tidak normal, dan peristiwa gagal berpisah yang terjadi tergolong
nondisjunction sekunder.
BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan Sementara


1. Variasi waktu penyinaran sinar ultraviolet mungkin berpengaruh dan mungkin
tidak berpengaruh terhadap frekuensi gagal berpisah (nondisjuction) pada
persilangan Drosophila melanogaster strain N >< wa. Jika berpengaruh, hal ini
disebabkan karena radiasi sinar UV bersifat mutagenik. Sehingga dapat
menyerang gen apa saja termasuk gen pengatur pembelahan. Jika gen pengatur
pembelahan sel terserang, akibatnya kromosom tidak dapat memisah pada saat
anafase. Kejadian ini yang disebut dengan gagal berpisah. Jika tidak berpengaruh,
hal ini dikarenakan radiasi UV itu energinya rendah. Sehingga tidak memiliki
cukup energi untuk menginduksi suatu ionisasi pada gen terutama gen yang
mengkode pembelahan sel. Akibatnya pembelahan sel berjalan normal. Selain itu
jika meskipun radiasi UV telah mengenai gen, tetapi gen itu segera diperbaiki oleh
suatu mekanisme perbaikan DNA. Sehingga gen sudah kembali menjadi normal
kembali dan pembelahan sel tetap berjalan normal.
2. Adanya perbedaan frekuensi nondisjunction pada kelima perlakuan belum dapat
diketahui secara statistik karena data yang diperoleh belum lengkap. Sehingga
kesimpulan sementara diperoleh melalui analisis perhitungan frekuensi
nondisjunction dan diketahui perbedaan nilai frekuensi pada perlakuan 0 menit
(kontrol) dan 6 menit dengan perlakuan 8 menit.
3. Fenomena gagal berpisah pada persilangan Drosophila melanogaster strain N ><
wa ditunjukkan oleh adanya anakan F1 dengan fenotip yang tidak sesuai dengan
rekonstruksi kromosom, yaitu wa yang muncul pada perlakuan penyinaran UV
selama 8 menit. Diketahui bahwa wa yang muncul merupakan anakan bukan
harapan yang sesuai rekonstruksi kromosom memiliki dua kromosom X dengan
wa wa
genotip .

6.2 Saran
1. Dalam penelitian kami terkendala oleh jamur, sehingga diperlukan sterilisasi alat
dan bahan untuk menanggulangi kendala tersebut, agar dalam penelitian
selanjutnya kendala ini dapat teratasi.
2. Penelitian ini harus dilakukan dengan teliti dan dilakukan kontrol yang baik
terhadap faktor-faktor yang mempengaruhinya.
3. Dikarenakan hasil percobaan kali ini belum dapat menggambarkan dengan jelas
melalui data yang didapat, maka sebaiknya pada percobaan serupa yang akan
dilakukan perlu dicari solusi agar segala kendala pada percobaan kali ini dapat
diminimalisir sehingga memperlancar proses percobaan selanjutnya yang serupa.
4. Kendala lain muncul saat penyusunan laporan penelitian ini. Sedikitnya sumber
terbaru mengenai penelitian nondisjunction terinduksi, membuat peneliti hanya
memiliki sedikit sumber untuk menganalisis hasil. Disarankan untuk peneliti
selanjutnya lebih mengeksplorasi peristiwa nondisjunction dan membaca lebih
banyak sumber.
DAFTAR RUJUKAN

Abidin, Khoirul. 1997. Pengaruh Sodium Siklamat Terhadap Frekuensi Nondisjunction


Kromosom X D. melanogaster. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: IKIP Malang.
Annisa, Visa. 2014. Studi Keragaman Drosophila di Kebun Botani UPI Bandung. Skripsi
tidak diterbitkan. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Ashburner, Michael. 1985. Drosophila, A Laboratory Handbook. USA : Coldspring Harbor
Laboratory Press.
Ayala, F. J. Dan Kinger, J. A. 1984. Modern Genetics 2nd Ed. Menlo Park:
Benjamin/Clunning Publish.Co., Inc.
Beers, E. 2010. (online:http://jenny.tfrec.wsu.edu/opm/displayspecies.php?pn=165) diakses
tanggal 4 April 2016.

Borror J.D. Triplehorn. 1992. Pengenalan Pengajaran Serangga. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.

Burns, George. W. 1983. The Science of Genetics: An Introduction to Heredity Fifth Edition.
New York: Macmillan Publishing Co., Inc.

Campbell, N. A. 2002. Biologi Edisi Kelima Jilid I. Jakarta: Erlangga.

Campbell, N. A. 2010. Biologi Edisi Kedelapan Jilid I. Jakarta: Erlangga.

Clark, David. P. 2005. Molecular Biology Understanding The Genetic Revolution. California:
Elsevier Inc.

Corebima, A.D. 1997. Genetika Mendel. Surabaya : Airlangga University Press.

Corebima, A.D. 2000. Genetika Mutasi dan Rekombinan. Malang: FMIPA Universitas
Negeri Malang.

Corebima. A. D. 2003. Genetekia Mendel. Surabaya : Airlangga University Press.

Gardner, E. J., Simmons, M. J.,dan Snustad, D. P. 1991. Principles of Genetic Eight Edition.
New York: Jhon Wiley & Sons, Inc.

Leigh, B. 1979. Induced Nondisjunction In Drosophila Oocytes. Journal Mutation Research,


61: 65-68.

Monroe, W. Strickberger. 1985. Genetics Third Edition. New York : Macmilan Publishing
Company.

Nilson, Laura. 2012. (Online: http://biology.mcgill.ca/faculty/nilson/research.html) diakses


tanggal 2 April 2016.

Novitasari, Dewi. 1997. Perbedaan Frekuensi dan Kecenderungan Waktu Munculnya Gagal
Berpisah Sekunder Kromosom Kelamin X antara D.melanogaster strain Yellow
dan White Apricot. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.
Pai, C. Anna. 1992. Dasar-dasar Genetika. Jakarta: Erlangga.

Russell, P. J. 1992. Fundamental of Genetics. New York: Harper Collins College Publisher.

Soemartono. 1979. Pedoman Praktikum Biologi Umum 3. Jakarta: Djambatan.

Wang, Zhe Peng., Rui Fang Liu., An Ru Wang., Lili Du, dan Xue Mei Deng. 2008.
Phototoxic Effect of UVR on wild type, ebony and yellow Mutants of Drosophila
melanogaster: Life Span, Fertility, Courtship and Biochemical Aspects. Journal Sci
China Ser C-Life Sci. Vol. 51, No. 10: 885-893.

Wheeler, MR. 1981. The Drosophilidae: a taxonomic overview. In: The genetics and biology
of Drosophila (Ashburner M, Carson HL and Thompson JN Jr, eds). New
York: Academic Press.

Wijaya, Karna., Eko Sugiharto., Is Fatimah., Sri Sudiono dan Dyan Kurniaysih. 2006.
Utilisasi TiO2-Zeolit dan Sinar UV Untuk Fotodegradasi Zat Warna Congo Red.
Journal Of Mathematics and Natural Sciences. Vol 16, No.3.