Anda di halaman 1dari 43

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2017

MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN


TEKNIK ELEKTRONIKA KOMUNIKASI

BAB VII
SISTEM KOMUNIKASI ANALOG DAN DIGITAL

SATRIYO AGUNG DEWANTO M.Pd

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
2017
BAB VII
SISTEM KOMUNIKASI ANALOG DAN DIGITAL

Kompetensi Inti:
Menguasai materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran
yang diampu

Kompetensi Dasar:

7.1. Mengkreasi dan instalasi sistem komunikasi analog dan digital

Indikator Pencapaian Kompetensi:


7.1.1. Merancang sistem komunikasi analog
7.1.2. Merancang sistem komunikasi digital

1
Materi Pembelajaran

7.1. Mengkreasi dan instalasi sistem komunikasi analog dan digital


1. Pengertian Komunikasi
Komunikasi data pada prinsipnya adalah proses komunikasi berupa pertukaran
data/informasi. Hal ini dimaksudkan terjadinya transfer informasi dari pengirim kepada
penerima sehingga informasi dapat dimengerti oleh kedua pihak. Ibarat orang mengirimkan
surat, maka surat tersebut tidak hanya sampai pada orang yang dikirimi, tetapi juga dibaca
dan dimengerti maksudnya oleh orang yang menjadi tujuan surat tersebut. Secara umum,
elemen komunikasi dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 7.1. Elemen Komunikasi


Penjelasannya sebagai berikut:
a. Sumber informasi
Yang dimaksud dengan sumber informasi adalah penghasil pesan yang akan dikirimkan.
Pesan tersebut dapat berupa informasi apa saja misalnya suara percakapan, tulisan
(teks), gambar diam atau bergerak. Sumber informasi ini termasuk transduser, yang
berfungsi mengubah sinyal non elektrik menjadi sinyal elektrik. Hal ini berkaitan dengan
ruang lingkup komunikasi yang dibicarakan adalah komunikasi elektrik/elektronik. Sinyal
informasi elektrik yangdimaksud dapat berupa sinyal analog maupun dijital. Sehingga
dikenal dengan data analog dan data digital.
b. Pemancar
Pemancar atau pengirim, berfungsi melakukan proses modulasi dan menyediakan daya
yang cukup untuk transmisi sehingga jangkauan komunikasi menjadi lebih jauh. Modulasi

2
sangat diperlukan dalam proses komunikasi karena secara teknis sinyal informasi sangat
sulit dikirim secara langsung. Modulasi adalah proses menitipkan pesan pada pembawa.
Contoh modulasi juga terjadi pada pengiriman surat menggunakan merpati, sehingga
jangkauan pengiriman menjadi lebih jauh dan lebih cepat. Surat sebagai sinyal informasi,
merpati sebagai sinyal pembawa dan penitipan surat pada seekor merpati identik dengan
modulasi. Modulasi yang digunakan komunikasi konvensional adalah modulasi amplitudo
(AM: amplitude modulation) dan modulasi frekuensi (FM: frequency modulation).
Sedangkan untuk komunikasi dijital modulasi yang digunakan adalah FSK (frequency shift
keying), PSK (phase shift keying) dan QAM (quadrature amplitude modulation).
c. Saluran
Saluran merupakan media untuk mengirimkan sinyal pembawa, seperti kabel, udara atau
serat optik. Bandwidth saluran merupakan hal yang sangat mahal dalam proses
komunikasi. Untuk komunikasi percakapan biasanya menggunakan badwidth yang sangat
sempit yaitu 3 10 KHz. Dalam komunikasi dijital, bandwidth saluran terkait langsung
dengan besarnya laju bit yang dapat dikirimkan. Shannon dan Hartley merumuskan teori
kaitannya antara kapasitas saluran, bandwidth dan noise pada proses komunikasi, dan
ditulis dengan persamaan:
C = B2 (1 + S N) 2
dimana:
C = kapasitas saluran (bit/s)
B = bandwidth (Hz)
S/N = perbandingan daya sinyal terhadap noise
Contoh penggunaan rumus Shannon-Hartley adalah menghitung kapasitas maksimum
saluran telepon. Bandwidth saluran telepon adalah 3100 Hz, dengan S/N = 30 dB. Untuk
menghitung kapasitas maksimum saluran telepon adalah dengan mengubah S/N dengan
satuan dB (deciBell) menjadi satuan daya (watt):
dB = 10 log P
sehingga:
P = antilog dB/10

3
= antilog 30/10
= 1000
Dengan demikian kapasitas saluran (C) dapat dihitung:
C = B2 (1 + S/ N)
= 3100 2 (1 + 1000)
= 31002 1001
sedangkan,
log 1001 = 3.3210 1001
= 9,97
= 10
sehingga:
C = 3100 (10)
= 31.000 bit/s
d. Sumber gangguan
Noise merupakan penggangu dalam proses komunikasi. Usaha mati-matian dalam
membangun sistem komunikasi adalah menangani gangguan akibat noise. Noise ini dapat
mengakibatkan pesan yang sampai tujuan tidak sama dengan pesan yang dikirim. Dalam
komunikasi radio, protokol manual untuk meyakinkan pesan yang dikirim dengan yang
diterima tidak terjadi kesalahan akibat noise adalah dengan cara mengirimkan kembali
(laporan balik) dari penerima ke pengirim pesan. Konsep ini juga diterapkan dalam
komunikasi dijital namun dengan sedikit perubahan yang lebih modern.
e. Penerima
Penerima bertugas menangkap sinyal yang ditransmisikan oleh pengirim dan selanjutnya
melakukan proses demodulasi atau memisahkan kembali sinyal informasi dari sinyal
pembawa.
f. Tujuan
Tujuan akan menerima sinyal informasi dan mengartikan isi informasi yang dikirimkan
oleh pemancar. Proses komunikasi terjadi apabila pesan yang dikirim dapat dimengerti
oleh tujuan.

4
2. Sinyal Analog dan Digital
System telekomunikasi dengan sinyal analog dimulai pada tahun 1840 saat telegraph
ditemukan. Selanjutkanya berkembang pada tahun 1876 telekomunikasi analog berkembang
seteleh ditemukannya telepon hingga tahun 1960. Saat komunikasi publik berkembang
menjadi digital tetapi beberapa jaringan layanan telepon masih menggunakan perangkat
analog. Hal ini sama dengan sinyal TV dan jalur telepon dari rumah rumah ke pusat
pengendali pada perusahaan telekomunikasi masih masih menggunakan system analog.
Seiring dengan kebutuhan komunikasi yang semakin meningkat maka volume dan
kualitas komunikasi menjadi pertimbangan. Akibat dari hal itu, system analog menjadi
kurang efisien untuk mengendalikan traffic dalam komunikasi. Untuk mengatasi hal itu,
maka pengendalian bergeser ke system digital dikarenakan lebih cepat, kapasitas lebih besar
dan lebih sedikit kesalahan dibandingkan system analog. Contohnya, sinyal sinyal dengan
kecepatan tinggi dikirim menggunakan layanan ISDN melalui serat optic selain itu adalah
penggunaan system digital pada pemancar televisi yang menghasilkan signal televisi dengan
kualitas High Defiition dengan suara yang lebih baik dibanding dengan analog.
Dalam lingkup komunikasi data, data (informasi/pengetahuan) merupakan entitas
(benda) yang memiliki bentuk yang dapat dijangkau (diindra) dan diukur, seperti voice, bit,
dll. Sistem telekomunikasi terdiri dari 2 jenis sinyal yang berbentuk analog dan digital.
Berikut definisinya:
i. Data analog
voice, noise (data asli)
ii. Data digital
data yang berbentuk biner (olahan komputer).
Data analog bersifat continuous (berkelanjutan), sementara data digital bersifat diskrit
(White, 2009). Skema modulasi yang digunakan juga berbeda, untuk komunikasi analog
menggunakan modulasi konvensional (AM atau FM) sedangkan komunikasi dijital
menggunakan modulasi FSK, PSK atau QAM beserta turunan masing-masing jenis modulasi

5
tersebut.

Gambar 7.2. (a) Sinyal Analog dan (b) Sinyal Digital

Dalam sebuah sinyal, ada istilah amplitudo, periode dan frekuensi, panjang gelombang,
serta fase sinyal. Gambaran tentang istilah-istilah sinyal tersebut adalah sebagai berikut:

Gambar 7.3. Parameter gelombang(Amplitudo, periode, dan frekuensi)

Amplitudo adalah besarnya sinyal atau besarnya ayunan sinyal tersebut. Yang disebut
dengan satu gelombang terdiri dari sebuah bukit dan sebuah lembah. Sehingga Panjang
gelombang adalah jarak antara satu bukit dengan bukit berikutnya atau jarak lembah dengan
lembah berikutnya dengan satuan meter. Periode adalah waktu yang diperlukan. Untuk
menempuh satu bukit dengan satu lembah dalam satuan detik. Banyaknya gelombang tiap
detik disebut dengan frekuensi dengan satuan Hertz. sehingga hubungan antara frekuensi
dengan periode dapat dinyatakan:
1
f (hz) = ()

Fase sinyal adalah sudut yang ditempuh dalam satu periode. Satu periode dinyatakan
sebagai 360. Sehingga fase pada saat awal gelombang ( t = 0) adalah 0 dan fase pada saat
menempuh satu periode ( t = T ) adalah 360.

6
Gambar 7.4. Satuan periode dan frekuensi

Gambar 7.5. Pengertian fase sinyal (0o, 90o, dan 180o)

Berdasarkan pengertian amplitudo, frekuensi, dan fase tersebut diatas, maka sebuah
sinyal analog periodik dapat dinyatakan dengan: s(t) = Asin(2p ft + f ) Sebagai contoh, sebuah
sinyal dengan amplitudo (A) = 4, frekuensi (f) = 4 Hz, dan sudut fase (f ) = 0 dapat
digambarkan sebagai berikut:

Gambar 7.6. Sebuah sinyal analog periodek s(t t


Sinyal digital biasanya amplitudo dinyakan dengan nilai 0 dan 1 (dapat juga -1 dan 1
tergantung jenis pengkodeannya), dan periode adalah waktu untuk satu pulsa sinyal dengan
amplitudo 0 atau 1 tersebut. Dengan demikian satu gelombang sinyal digital hanya terdiri
dari pulsa yang memiliki amplitudo 0 atau 1. Gambaran yang lebih jelas adalah sebagai

7
berikut:

Gambar 7.7. Sinyal Digital

Pengertian laju bit (bit rate) adalah banyaknya pulsa kotak dalam tiap detik, atau
kecepatan bit ini identik dengan frekuensi sinyal analog. Periode sinyal digital biasanya
disebut dengan interval bit, sehingga banyaknya pulsa kotak tiap detik menunjukkan laju bit
sinyal digital. Gambar berikut ini menunjukkan laju bit berdasarkan bit intervalnya.

Gambar 7.8. Interval bit dan laju bit

Berdasarkan pengertian frekuensi dalam sinyal analog dan laju bit pada sinyal digital,
maka hal yang perlu diingat adalah:
frekuensi tidak sama dengan laju bit
Contoh nyata ditunjukkan pada gambar berikut ini, dimana laju bit = 6 untuk sinyal
digital dibandingkan dengan frekuensi 0 Hz dan 6 Hz dari sinyal analog.

8
Gambar 7.9. Perbedaan pengertian laju bit da frekuensi

Selain itu, ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan bahwa, meskipun secara sekilas
sinyal digital mirip dengan sinyal analog dengan satu frekuensi, sebenarnya sinyal digital
merupakan gabungan beberapa frekuensi. Istilah yang tepat adalah pulsa kotak dalam sinyal
digital memeliki komponen lebih dari satu frekuensi, atau untuk membetuk sebuah pulsa
kotak diperlukan gabungan beberapa buah frekuensi. Banyaknya frekuensi ini nanti akan
sangat penting dalam kebutuhan bandwidth saat sinyal digital akan dikirimkan melalui
sebuah saluran. Pendek kata, sebuah sinyal analog akan membutuhkan bandwidth yang lebih
kecil dibanding sinyal digital jika frekuensi sinyal analog sama dengan laju bit sinyal digital.
Bandwidth saluran untuk sinyal analog dinyatakan dengan Hertz dan bandwidth saluran
untuk sinyal digital dinyatakan dengan bit per second (bps).

9
7.1.1. Merancang sistem komunikasi analog
1. Transmisi Analog
Transmisi analog adalah Sistem yang mentransmisikan sinyal-sinyal analog yaitu
time signal yang berada pada nilai kontinu pada interval waktu yang terdefinisikan. Sinyal
yang besaran powernya bisa berubah-ubah atau dikenal dengan nama amplitude dan
banyaknya perubahan besaran power didalam satu siklus waktu tertentu dikenal dengan
nama frequency.
A. Karakteristik transmisi analog :
1. Sinyal analog ditransmisikan tanpa memperdulikan content
2. Bisa data analog atau digital
3. Mengalami redaman terhadap jarak
4. Menggunakan amplifier untuk memperkuat sinyal
5. Juga memperkuat noise

Gambar 7.10. Sinyal Analog


Sinyal analog:
1. Cara dimana data dipropagasikan
2. Analog
3. Secara kontinyu berubah
4. Macam-macam media
5. Kawat, serat optik (fiber optic), udara
6. Bandwidth suara (speech) 100Hz sd 7kHz
7. Bandwidth telepon 300Hz sd3400Hz
8. Bandwidth video 4MHz

10
Perbandingan Data Analog dan Data Digital
1. Analog
2. Nilainya kontinyu dalam suatu interval
3. Digital
4. Nilainya diskrit

B. Spektrum daya analog

Gambar 7.11. Spektrum daya analog

Sebuah transmisi analog hampir mempunyai kemampuan yang tak terbatas dalam
berkomunikasi. Sebagai contoh: Pada saat kita menggunakan analog sinyal dalam
berkomunikasi secara verbal (lisan).
Suara kita yang kita hasilkan akan bergetar diudara pada frekewensi dan amplitudo
yang berbeda. Getaran ini diterima oleh eardrum (gendang telinga) dan di interprestasikan
sebagai kata. Perubahan-perubahan kecil pada suara dan volume secara dramatis akan
mengubah maksud dari apa yang kita katakan.
Gambar dibawah menunjukkan perbandingan dari transmisi analog dan transmisi
digital.

11
Gambar 7..12. Perbedaan transmisi analog dan digital

Perhatikan bahwa amplitudo puncak gelombang signal analog berubah-ubah setiap


siklus waktu. Setiap puncak gelombang dari beberapa amplitudo itu digunakan untuk
menyampaikan informasi yang berbeda sesuai dengan karakter alpanumerik yang kita ucapkan.
Merupakan cara yang sangat efisien dalam menyampaikan informasi, setiap siklus gelombang
bisa digunakan untuk menyampaikan informasi tambahan.
Permasalahan yang sering terjadi pada transmisi analog adalah mudah sekali terkena
gangguan Noise, atau interferensi. Noise adalah sinyal tambahan yang tidak dinginkan.
Sehingga bisa menghasilkan sejumlah retransmission data, dan mengakibatkan lambatnya
suatu pengiriman (transfer) informasi.

12
Gambar 7.13. Noise

Contoh suatu percakapan di dalam ruang kelas yang crowded (ramai). Setiap orang
berbicara sehingga menghasilkan noise, sehingga sangat sulit membedakan atara suatu diskusi
dengan pembicaraan yang lain dalam suatu ruang kelas itu. Sehingga seorang moderator musti
mengulang suatu pertanyaan dengan pertanyaan apa? atau apa yang anda katakan?
sehingga memperlambat transfer/pengiriman informasi dan ini dikenal dengan istilah
Retransmision Data.
Apabila sinyal analog terpengaruh noise, maka akan sangat sulit menentukan amplitudo
yang sebenarnya dari tiap bentuk gelombang. Ini bisa menghasilkan informasi yang salah atau
membutuhkan retransmission data untuk mendapatkan informasi yang benar.
Ini merupakan bentuk yang simpel, digital communication lebih resistant/tahan
terhadap noise, tapi juga mempunyai kelemahan yang besar. Pada sinyal analog penyampaian
informasi untuk ASCII karakter A bisa ditransmisikan dengan single gelombang analog atau
single vibration (getaran), tetapi pentransmisian dengan menggunakan binari atau digital
membutuhkan delapan gelombang atau vibration (untuk mentransmisikan 01000001),
Meskipun mempunyai kelemahan, biasanya lebih efisien menggunakan digital communication
pada saat yang diperlukan. Rangkaian analog membutuhkan lebih banyak overhead pada saat
mendeteksi dan memperbaiki noisy transmission. Inilah mengapa jaringan moderen
menggunakan digital communications.

13
Overhead-adalah banyaknya informasi tambahan yang harus ditransmisikan pada suatu
circuit untuk memastikan sistem penerima dalam mendapatkan data yang benar dan data itu
bebas dari kesalahan. Secara tipikal ketika suatu circuit membutuhkan lebih banyak overhead,
bandwidth yang tersedia untuk mengirim data yang sebenarnya menjadi berkurang.
Ini seperti kemasan yang digunakan pada saat kita ingin mengirimkan suatu barang,
tentu kita tidak menginginkan seratus styrofoam yang kecil, tapi lebih menginginkan agar
barang tersebut disimpan didalam kotak yang bisa memuat semuanya dan memastikan barang
yang akan kita kirimkan aman.
C. Penyebab Noise
Noise bisa dibagi dalam dua kategori:

1. Electromagnetic interference (EMI)


2. Radio frequency interference (RFI)
EMI dihasilkan oleh circuit yang menggunakan Alternating Signal (Sinyal
bolakbalik). Sebagai contoh jika anda menyambungkan kabel pada sebuah aki mobil
maka arus listrik akan mengalir pada kabel tersebut dan jika anda mengukurnya
dengan alat multitester maka besar tegangan tetap konstan 12 volts. Aki mobil
merupakan contoh dari Direct Current Circuit (arus searah).
Dan jika anda memasang kabel pada sebuah stop kontak listrik rumah, dan
arus listrik mengalir pada kabel itu dan anda mengukur dengan menggunakan
multitester maka anda akan melihat jarum berubah antara +120 volts dan -120 volts.
Besarnya tegangan secara konstan berubah. Besaran tegangan akan menyerupai
analog signal seperti pada gambar diatas. Ketika tegangan berubah dan arus mengalir
pada kabel, elektron secara dominant akan mengalir pada permukaan. Pada inti kabel
hampir tidak ada elektron yang mengalir.
Jika kita menaikkan frekwensi dari siklus power maka elektron yang mengalir
pada permukaan akan lebih banyak sehingga hampir tidak ada yang mengalir pada inti
kabel. Contoh dari peristiwa ini adalah permainan Sky Air, jika kecepatan boat
ditambah maka Sky Air yang ditarik cenderung meninggalkan permukaan dan
menjauhi dasar air.

14
Ketika siklus power dinaikkan energi akan memulai radiasi pada sudut 90
derajat dari arah arus. Radiasi ini secara langsung berhubungan dengan signal pada
kabel: Jika tegangan atau frekwensi dinaikkan, maka besarnya energi yang meradiasi
juga akan meningkat
D. EMI yang terjadi antar kabel yang berdekatan
Energi ini mempunyai sifat magnetik dan menjadi dasar bagaimana
electromagnet dan transformator (trafo) bekerja. Radiasi elektromagnetik bisa
menghasilkan sinyal elektris ke kabel lain jika berdekatan. Interferensi ini
mempengaruhi sinyal yang ada dan menjadi noise.

EMI bisa menyebabkan sinyal menjadi Loss. Energi yang menjadi EMI adalah
energi tidak bisa digunakan untuk membawa sinyal mengalir pada kabel.

E. Radio frequency interference (RFI)


Radio Frequency Interference (RFI) dihasilkan jika dua signal mempunyai
properti yang sama. Bentuk gelombang bisa bergabung, sehingga bisa mengubah
frekwensi dan amplitude dari sinyal yang asli. Inilah mengapa secara geogrfis dua
stasiun radio tidak boleh mengirim sinyal pada frekwensi yang berdekatan, jika terjadi
radio penerima tidak bisa menerima sinyal dengan baik. Kebanyakan penyebab RFI
pada networking ini diakibatkan oleh suatu kondisi yang dikenal sebagai reflection.
Reflection terjadi ketika sinyal dipantulkan kembali oleh beberapa komponen
sepanjang jalur transmisi itu. Sebagai contoh connector yang rusak didalam suatu
circuit bisa memantulkan kembali sinyal itu ke pengirimnya. Inilah mengapa setiap end
point pada pada network harus mempunyai kemampuan tidak hanya menerima sinyal,
tetapi juga mampu mengabsorbsi seluruh energi sinyal.

F. Communication Synchronization
Hal penting lainnya dalam komunikasi adalah dengan membuat sistem
penerima mengetahui ketika transmisi data dimulai. Jika sebuah sistem penerima
tidak bisa menentukan permulaan dari suatu transmisi data, sistem itu mungkin
akan melakukan kesalahan dalam menerima sebuah transmisi data.

15
1. Signal to noise ratio
Signal to noise ratio (SNR) adalah besarnya rasio/perbandingan antara
daya sinyal utama dan daya noise/derau yang mengganggu sinyal utama.
Besarnya dalam satuan decibel(db).
2. Pengaruh derau :
Pada saat pentransmisian data terdapat sinyal-sinyal distorsi
yang tidak diinginkan

Faktor yang mempengaruhi performance sistem komunikasi

a. . Derau suhu
Derau suhu diakibatkn oleh thermal elektron, muncul di semua
perangkat elektronik dan media transmisi yang diakibatkan
termperatur.
Derau suhu tidak dapat dihilangkan karena sebagai batasan
kemampuan kerja sistem komunikasi.

b. Crosstalk
Di telpon,terdengar percakapan orang lain
Terjadi karena sambungan yang kurang baik atau kabel elektrik
yang berdekatan, melalui antenna gelombang elektromagnetik

Gambar 7.14. Crosstalk

16
Evolusi perkembangan teknologi komunikasi dapat dipastikan akan menuju ke bentuk
ISDN (Integrated Service Digital Network), yaitu segala jenis pelayanan telekomunikasi akan
diberikan secara terpadu, dalam arti bahwa dalam satu sistem penyambungan dan transmisi
akan dapat disalurkan berbagai macam bentuk sinyal ( suara, gambar, data dan sebagainya ).
Faktor penunjang untuk pengembangan ke arah itu adalah pertama, karena adanya
tuntutan untuk mendapatkan sistem yang ekonomis dan efisien, dan yang kedua adalah
akibat dari perkembangan yang sangat pesat di sektor teknologi komponen yang telah
memungkinkan pembuatan sistem mampu memiliki keandalan tinggi dan murah. Unjuk kerja
sistem transmisi digital tergantung dari sifat statistik sinyal. Deretan panjang bit 0 atau 1
akan menyebabkan hilangnya sinkronisasi bit, sehingga pada penerima dapat terjadi
pendeteksian yang salah. Untuk menghindari hal tersebut, deretan sinyal data masukan
biasanya diacak terlebih dahulu sehingga deretan panjang bit 0 atau 1 dapat dihilangkan.

7.1.2. Merancang sistem komunikasi digital


1. Transmisi Digital

Bagian ini menjelaskan tentang bagaimana sebuah data ditransmisikan atau


dikirimkan melalui sebuah media komunikasi. Ada dua kategori transmisi sinyal yang
melewati sebuah media, yaitu: (1) transmisi baseband, dan (2) transmisi broadband.
Jika sinyal informasi baik analog ataupun digital dikirimkan secara langsung melalui
medium, maka komunikasi tersebut merupakan transmisi sinyal baseband. Contohnya
pengiriman sinyal yang terjadi pada Ethernet Card untuk jaringan LAN dan komunikasi
menggunakan interkom. Sedangkan komunikasi sinyal informasi menggunakan sinyal
pembawa atau sinyal termodulasi, maka komunikasi tesebut menggunakan sistim transmisi
broadband.
Sifat penting yang selalu diingat jika sebuah sinyal memasuki sebuah medium, maka
sinyal tersebut akan mengalami perubahan bentuk atau terjadi korupsi sinyal. Hal ini
disebabkan adanya pengaruh noise yang menyatu dalam sinyal tersebut dan pengaruh

17
redaman darai medium sehinga sinyal yang dihasilkan berbeda dengan sinyal aslinya. Gejala
tersebut ditunjukkan pada gambar berikut ini.

Gambar 7.15. Perubahan bentuk sinyal akibat redaman dan noise dalam medium

Perbedaan bentuk sinyal ini tentunya akan mengganggu proses komunikasi sehingga
pesan yang dikirim tidak sampai pada tujuan. Untuk itu dicari sebuah cara supaya pesan dari
pengirim tetap dapat diterima dengan baik atau benar di sisi penerima. Cara-cara untuk
mempertahankan supaya sinyal pesan yang dikirim dapat diterima dengan baik di sisi
penerima ini disebut dengan pengkodean saluran (Line Coding). Bagian berikut ini akan
menjelaskan pengkodean saluran khususnya untuk transmisi data digital yang diperlukan
dalam proses komunikasi data.
Macam pengkodean saluran ini sangat tergantung dari jenis saluran yang akan
digunakan.

Gambar 7.16. Pengkodean saluran

Proses pengkodean saluran ini pada prinsipnya mengubah informasi data menjadi
bentuk sinyal yang lain sehingga sinyal tersebut cocok dengan saluran yang digunakan.
Misalkan saja data biner 0 dan 1 dikodekan sinyal yang memiliki dua buah level dengan
amplitudo 0 volt dan 1 volt atau 0 volt dan 5 volt atau bisa dinyatakan dengan level 0 dan +V.
Contoh lain, misalkan sebuah data dengan level 0 dan 1 dinyatakan dalam bentuk sinyal
dengan tiga level yaitu V, 0V, dan +V. Aturan sinyal menjadi level V 0 V dan +V,
berdasarkan perubahan bit. Contoh kedua pengkodean saluran dapat dilihat pada gambar
berikut ini.

18
Gambar 7.17. Level sinyal

Dalam prakteknya, pengkodean saluran menghidari sinyal dengan yang meliki level
DC (0 volt dan + volt) karena sinyal ini rawan terhadap gangguan terutama jika terjadi
deretan data dengan bit 1 secara terus menerus. Untuk itu, cara yang digunakan adalah
membuat sinyal dengan level bukan DC yaitu dengan level V, 0, dan +V dengan aturan-
aturan tertentu. Aturan ini yang menjadi dasar perbedaan jenis-jenis pengkodean saluran.

Gambar 7.18. Sinyal dengan level (a) DC dan tanpa level DC (b)

19
Banyaknya level sinyal untuk merepresentasikan data biner 0 dan 1 akan
menentukan laju bit dalam saluran tersebut. Besarnya laju bit (bps) terhadap level sinyal L
dapat dinyatakan: laju bit = laju pulsa x log2 L
dimana laju pulsa = 1/durasi pulsa, dan durasi pulsa dalam satuan detik.
Sebagai contoh,
Sebuah sinyal dengan 2 level (L = 2) memiliki durasi pulsa tp= 1ms.
Tentukan laju pulsa dan laju bit ratenya.
Laju pulsa = 1 tp = 1000 pulsa/detik, sehingga,
Laju bit = 1000 x log2 2 = 1000 bps.
Suatu hal yang perlu diperhatikan saat data dikirim melalui sebuah medium adalah
sinkronisasi mengingat antara pengirim dengan penerima tidak memiliki sinkronisasi yang
sama. Contoh terjadinya perbedaan sinkronsasi antara pengirim dan penerima terhadap
keberhasilan pengiriman pesan ditunjukkan pada gambar berikut ini.

Gambar 7.19. Kesalahan penerimaan data akibat kesalahan sinkronisasi

20
Gambar 7.20. Macam Line Coding

2. Macam Pengkodean Saluran

Representasi level sinyal dari pengkodean saluran akan menentukan jenis


pengkodean saluran. Macam pengkodean saluran secara umum dapat dikelompokkkan
menjadi: (1) Unipolar; (2) Polar; (3) Bipolar, seperti yang digambarkan pada bagan
berikut ini.
Pengkodean saluran jenis polar tunggal (unipolar) hanya menggunakan sebuah 1
(satu) buah level tegangan yaitu 0 V (tidak ada tegangan) dan +V untuk menyatakan data
biner 0 dan 1. Sedangkan pengkodean polar menggunakan 2 (dua) buah level tegangan
yaitu V dan +V. Dan terakhir, jenis pengkodean bipolar menggunakan 3 (tiga) buah level
tegangan yaitu V, 0V, dan +V.
Contoh pengkodean saluran jenis polar tunggal digambarkan sebagai berikut.

Gambar 7.21. Unipolar

21
Sedangkan pengkodean saluran dalam kelompok polar, dibagi-bagi lagi menjadi
beberapa jenis yaitu: (1) Non-Return to Zero (NRZ); (2) Return to Zero (RZ); (3)
Manchester; dan (3) Differential Manchester. Jenis pengkodean polar menggunakan 2
(dua) buah level tegangan yaitu V dan +V (tegangan positif dan negatif) untuk
menyatakan data biner dengan nilai 0 dan 1. Bagan klasifikasi pengkodean saluran jenis
polar digambarkan sebagai berikut ini. Perbedaan dari masing-masing jenis pengkodean
saluran dari kelompok polar ini dapat dijelaskan sebagai berikut.

Gambar 7.22. Unipolar

Pengkodean saluran jenis Non-Return to Zero (NRZ) dibedakan menjadi dua yaitu
NRZ dan NRZ-I (Non-Return to Zero Inverted). NRZ-L menggunakan level +V digunakan
untuk menyatakan data biner 0, sedangkan level tegangan V digunakan untuk
menyatakan data biner 1 seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2-22 bagian atas.
Sedangkan NRZ-I representasi level V atau +V menyatakan adanya perubahan data
biner dari menuju logika 1. Artinya, setiap ada perubahan urutan data biner dari 0 ke 1
atau 1 ke 1, maka level tegangan akan berubah dari sebelumnya. Misalkan level
sebelumnya +V maka perubahan bit 0 ke 1 atau 1 ke 1 menyebabkan levelnya menjadi V
dan sebaliknya jika level sebelumnya V maka perubahan data biner dari 0 ke 1 atau 1 ke
1 menyebabkan levelnya berubah menjadi +V. Perubahan data dari 0 ke 0 dan 1 ke 0
tidak akan menyebabkan perubahan level tegangan. Contoh pengkodean saluran jenis
NRZ-I ditunjukkan pada Gambar 2-22 bagian bawah.

22
Gambar 7.23. Sistem pengkodean saluran NRZ dan NRZ-I

Pengkodean saluran jenis Return to Zero (RZ) menggunakan level V dan +V


dengan transisi di pertengahan bit data biner. Data biner 0 dinyatakan dengan transisi
dari level V menuju 0V, sedangkan data biner 1 dinyatakan dengan transisi dari level 0V
menuju +V. Contoh pengkodean saluran jenis RZ ditunjukkan pada gambar berikut ini.

Gambar 7.24. Pengkodean saluran jenis RZ

23
Jenis terakhir dari pengkodean saluran kelompok polar adalah pengkodean
Manchester yang digunakan jaringan LAN, dan Differential Manchester yang digunakan
pada jaringan token-ring. Pengkodean Manchester dan Differential Manchester ini
dikembangkan untuk memenuhi persyaratan dalam pengkodean yang menyatakan:
Pengkodean sinyal digital yang baik harus memiliki fasilitas untuk keperluan
sinkronisasi.
Pengkodean Manchester menggunakan level V dan +V dengan transisi
ditengah-tengah bit data biner. Data biner 0 dinyatakan dengan transisi level tegangan
dari +V menuju V, sedangkan data biner 1 dinyatakan dengan transisi level tegangan
dari V menuju +V.
Pengkodean Differential Manchester merupakan modifikasi pengkodean
Manchester, dimana letak transisi level tegangan dari V menuju +V atau sebaliknya
yaitu +V menuju V dipengaruhi oleh data biner. Data biner 0 ditandai dengan transisi
level tegangan terletak di awal interval data bit, sedangkan data biner 1 ditandai dengan
transisi level tegangan terletak ditengah interval bit dari data. Contoh pengkodean
Manchester dan Differential Manchester ditunjukkan pada Gambar berikut ini.

24
. a n h e s t e r d n D i f f r e n t i a l Ma n c h e s t r

Gambar 7.25 Pengkodean Manchester dan Differential Manchester

Kelompok pengkodean yang terakhir adalah jenis pengkodean bipolar yaitu


pengkodean dengan menggunakan 3 (tiga) buah level tegangan yaitu V, 0V, dan +V
untuk menyatakan data biner. Ada dua contoh pengkodean jenis bipolar, yaitu bipolar-
AMI dan 2B1Q.
Pengkodean bipolar-AMI menggunakan level tegangan 0V untuk menyatakan
data biner 0, sedangkan data biner 1 dinyatakan dengan level tegangan V dan +V
secara bergantian. Contoh pengkodean bipolar adalah pengkodean bipolar-AMI seperti
yang ditunjukkan pada Gambar 2-25.

25
Gambar 7.25. Pengkodean Bipolar-AMI

Sedangkan pengkodean 2B1Q digunakan untuk pengkodean dua data biner. Data
00 dinyatakan dengan level tegangan -23 V, data 11 dinyatakan dengan level
tegangan +1V, data 01 dinyatakan dengan level tegangan -21 V, data 10 dinyatakan
dengan tegangan +3 V.
Contoh pengkodean 2B1Q ditunjukkan pada Gambar 2-26 berikut ini.

Gambar 7.27. Pengkodean 2B1Q

2. Macam Transmisi Data Digital

Berdasarkan jumlah saluran yang digunakan dalam mengirimkan data digital,


transmisi data digital dapat dibedakan menjadi: (1) Pengiriman secara paralel, dan (2)
Pengiriman secara serial, dimana pengiriman secara serial dapat dibedakan menjadi

26
pengiriman secara serial sinkron dan pengiriman secara serial tak sinkron. Hirarki
transmisi data digital ditunjukkan pada Gambar 2-27 berikut ini.

Gambar 7.28. Macam-macam transmisi data

Transmisi data secara paralel adalah mengirimkan seluruh data bit secara
bersamaan. Misalkan sebuah data dinyatakan dalam 8 bit (bit = binary digit). Transmisi
data secara paralel akan membutuhkan 8 buah saluran untuk mengirimkan masing-
masing bit. Keuntungan transmisi secara paralel ini adalah setiap data 8-bit dapat
dikirimkan sekaligus sehingga proses komunikasi dapat berlangsung cepat. Namun
memiliki kelemahan yaitu boros kabel karena untuk data n-bit akan membutuhkan n
buah saluran dan sangat tidak efektif jika jarak komunikasi sangat jauh.

Gambar 7.29. Transmisi data parallel

Transmisi data digital secara serial adalah transmisi data digital yang dilakukan
dengan menggunakan sebuah saluran. Pengiriman data dilakukan per bit. Misalkan data

27
dinyatakan dalam 8 bit, maka pengiriman dilakukan mulai dari bit pertama (bit-0)
sampai dengan bit kedelapan (bit-7). Dengan demikian untuk data 8 bit membutuhkan 8
kali pengiriman. Keuntungan sistem adalah saluran komunikasi hanya membutuhkan
satu saluran sehingga sangat efektif untuk jarak komunikasi yang jauh, namun punya
kelemahan waktu pengirimannya menjadi lebih lama dan perlu pewaktuan yang tepat
(sinkronisasi) untuk menyusun bit per bit yang diterima menjadi data 8 bit kembali.
Transmisi data digital secara serial ditunjukkan pada Gambar 2-29 berikut ini.

Gambar 7.30. Transmisi data serial

Transmisi data digital secara serial dapat dibedakan menjadi transmisi data
secara serial tak sinkron dan transmisi data secara serial sinkron.
Transmisi data secara serial tak sinkron akan menambahkan bit awal yang
disebut dengan istilah start bit sebelum mengirimkan bit data yang pertama sebagai
tanda permulaan pengiriman atau permulaan data, dan menambahkan bit akhir atau
stop bit setelah pengiriman bit data yang terakhir sebagai tanda bahwa pengiriman
seluruh bit data sudah selesai dan akan dimulai dengan data berikutnya. Selain itu,
setiap pengiriman data diberikan waktu sela untuk membedakan kelompok data yang
satu dengan yang lainnya. Dengan demikian, jika data dinyatakan dengan 8 buah bit,
maka transmisi data serial tak sinkron akan membutuhkan waktu untuk melakukan
pengiriman sebanyak 10 kali pengiriman, 8 kali untuk seluruh bit data dan 2 kali untuk

28
mengirimkan start bit dan stop bit, dan masih ditambah waktu sela antar data. Transmisi
data digital secara serial tak sinkron ditunjukkan pada Gambar 2-30 berikut ini.

Gambar 7.31. Transmisi data serial tak sinkron

Transmisi data secara serial sinkron akan mengirimkan bit data yang
pertama sampai dengan bit data terakhir secara berturutan, dan antara kelompok
data yang satu dengan yang lain juga tidak ada waktu sela. Dengan demikian,
transmisi data secara serial sinkron akan mengirimkan seluruh data secara
berturutan tiap bit per bit secara terus menerus. Tugas mengelompokkan bit per
bit menjadi data diserahkan sepenuhnya kepada penerima. Transmisi data digital
secara serial sinkron ditunjukkan pada Gambar berikut ini.

Gambar 7.32. Transmisi data serial sinkron

Sebagai ringkasan, proses yang dilakukan dalam komunikasi data mulai dari data
yang berupa sinyal analog sampai dengan transmisi data digital dapat digambarkan
sebagai berikut:

29
Gambar 7.33. Pemrosesn sinyal analog menjadi kode PCM

3. Merubah Analog Menjadi Digital

Sistem transmisi digital menyalurkan informasi digital.


Proses sampling
Proses kwantisasi-
Out put adalah sinyal digital.
Jumlah sampling ~ 2 x 4000 bh/s

Jumlah bit kwantisasi = 8 / sampling

Maka jumlah bit perdetik adalah 2 x 4000x 8 = 64.000 bit /det.

30
Continous/ analog

t Time

Discrete / digital

PAM bit
t Time

Sampling kwantisasi

6 9 7 4 sampling
0110 1001 0111 0100 kwantisasi
/pengkodean

Gambar 7.34. Proses Sampling

4. Kriteria Nyquist

Pulsa-pulsa dikirimkan sebagai bagian dari deretan bit, sehingga sinyal total r(t)
yang muncul di penerima adalah penjumlahan dari semua masukan

r(t) = k Akp(t-kT).

Laju pensinyalan Nyquist didefinisikan oleh rmax = 2W pulsa/detik.

31
Gambar 7.35. Laju Pensinyalan Nyquist
Jaringan komunikasi dapat dirancang untuk mengantarkan blok informasi agar tidak
melebihi delay maksimum tertentu.

Waktu yang dibutuhkan untuk mengirimkan file dapat dikurangi dengan meningkatkan
laju bit R.

Informasi stream dapat dipandang sebagai urutan beberapa blok informasi.


- Persyaratan delay maksimum dapat diberlakukan untuk masing-masing blok
informasi didalam suatu stream, misalnya 250 ms.
- Pada saat stream melintasi jaringan, jarak antara blok informasi menjadi tidak
seragam lagi
Jitter didefinisikan sebagai variasi delay antara blok-blok berurutan.
Salah satu cara mengatasi jitter adalah penerapan playout delay disisi penerima.

32
5 . Modulasi dan Demodulasi
Dalam gelombang pembawa apabila arus gelombang pembawa dibuat dan
dipotong oleh kode-kode telegrap maka kodenya dimodulir oleh arus gelombang
pembawa. Proses semacam ini disebabkan karena arus gelombang pembawa
berubahubah seperti fungsi dari pada nilai gelombang kode telegrap pada saat itu yang
disebut modulasi. Proses yang mengeluarkan kode telegrap asli yang dikirim dari
modulasi arus gelombang pembawa disebut demodulasi.

A. Metoda modulasi
Apabila gelombang pembawa diumpamakan dengan gelombang sinus i = A
sin(2ftI ) , tiga kemungkinan type-type modulasi dapat diterangkan sebagai berikut :

1. Amplitudo A yang berubah-ubah - modulasi amplitudo.


2. Frekwensi f yang berubah-ubah - modulasi frekwensi.
3. Perbedaan fase yang berubah-ubah - modulasi fase.
Penjelasan dari type modulasi yang ada diatas:

a. Modulasi amplitudo
Arus gelombang pembawa yang berubah-ubah seperti yang
diperlihat kan dalam gambar 5.1 (b), oleh kode telegrap dalam gambar 5.1
(a). Ketika arus kode ada dalam status minus gelombang pembawa
dikirimkan.

a. Kode telegrap

b. Modulasi amplitude

c. Modulasi frekuensi

33
d. Modulasi fase

Gambar 7.36. Bentuk gelombang dari metoda modulasi yang berbeda-beda

b. Modulasi frekwensi
Seperti yang terlihat dalam gambar 5.1, adalah frekwensi rendah dari
gelombang pembawa sedangkan gelombang kode telegrap dalam status
minus yang berubah-ubah dan pindah tinggi pada waktu gelombang kode
menjadi plus.

Dalam telegrap gelombang pembawa seperti suatu type yang spesial dari
modulasi frekwensi, dua frekwensi gelombang pembawa yang berbeda
digunakan, satu untuk kode plus dan yang lain untuk kode minus. System
modulasi ini disebut system frekuensi shift (sistem penggeseran frekuensi)
dan disingkat menjadi FS. Nilai tengah dari kedua frekwensi disebut
frekwensi tengah.

c. Modulasi fase
Seperti yang terlihat dalam gambar 5.1 maka metoda ini merubah
fase dari gelombang pembawa kode plus dan minus. Dalam metoda ini dua
macam gelombag mempunyai amplitudo dan frekwensi yang sama, tetapi
memerlukan fase yang berbeda. Metoda ini merubah 180 atau radian
seperti yang terlihat dalam gambar yang disebut metoda fase timbale balik.

A, f dan dam A sin(2ft) untuk ketiga modulasi di atas itu tercatat


dalam daftar 5.6.1

34
Tabel 1 Perbandingan Modulasi
Polaritas kode

Jenis modulasi Perubahan notasi + -

Modulasi amplitude A =0 = A
Modulasi frekuensi = tinggi = rendah
Modulasi inversi fase = = 0

d. Struktur sirkit-sirkit untuk modulasi amplitudo dan modulasi frekwensi


Prinsip modulasi setiap sirkit amplitudo dan frekwensi akan diterangkan dalam
bagian ini.

1 Sirkit modulasi amplitudo


Seperti yang terlihat dalam gambar 5.2, dua rectifier. Apabila voltasenya
plus, maka hampir tidak ada arus gelombang pembawa yang dihasilkan
karena arah arus berlawanan dengan apa yang dilakukan rectifier dan
tahanan cukup besar. Apabila voltasenya minus arah arus dibiarkan bekerja
oleh rectifier dan tahanannyapun menjadi kecil. Jadi arus gelombang
pembawa yang ditimbulkan oleh osilator melalui transformator. Dengan
jalan ini modulasi dari gelombang pembawa dibuat oleh adanya voltase plus
dan minus dari sinyal telegrap terhadap rectifier.

2. Sirkit modulasi frekwensi


Sirkit ini adalah suatu sirkit yang orisinil yang menggunakan transistor pada
gambar 5.3 Modulasi fekwensi ini dijalankan dengan menggabungkan atau
melepaskan kondensator C atau dari sirkit osilator LC.

35
Gambar 21
Prinsip sirkit modulasi amplitudo

Gambar 7.37. Prinsip sirkit modulasi frekuensi


Frekwensi osilator f adalah:

f = 1 / 2LC

Oleh karena itu dengan merubah nilai C, maka frekwensinyapun berubah.

Umpamanya voltase sinyal telegrap dipasangkan pada sirkit dalam


gambar. Apabila voltasenya plus, arusnya akan berada pada arah yang
berlawanan dengan yang dilakukan oleh rectifier dan dengan demikian
tahanannya menjadi lebih besar. Untuk alasan ini C dikirim dari sirkit LC
dan frekwensinya akan menjadi:

f (+) = 1 / 2LC

36
Frekwensi ini agak tinggi. Sebaliknya apabila voltasenya minus arah arus
dibiarkan oleh rectifier maka tahanannyapun kecil; oleh karena itu C adalah
digandengkan dengan C yang diparalelkan dan frekwensi akan menjadi:

f (-) = 1 / L x (C + C)

dalam hal ini frekwensinya rendah. Dengan memilih nilai C yang cocok,
perbedaan antara f (+) dan f (-) .

3. Demodulasi dalam sistem modulasi amplitudo


Modulasi gelombang pembawa mempunyai bentuk, misalnya, yanr
terlihat dalam gambar 5.4(b) tetapi apabila gelombang itu diterima setelah
melewati saringan kirim dan saringan terima akan mempunyai gelombang
yang diperlihatkan dalam gambar (c). oleh sebab arus elektris biasanya
lemah, maka diperkuat oleh amplifier, misalnya oleh transistor. Gelombang
yang diperkuat direktifisir oleh full-wave type rectifier; bentuk gelombang
terlihat dalam gambar (d). Bentuk dari gelombang ini selanjutnya diratakan
dengan menggunakan kondensator dan tahanan seperti yang terlihat dalam
gambar (e). Arus yang direktifikasikan ini menggiatkan rele penerima dimana
arus bias setiap waktu mengalir. Apabila arus rektifikasi tidak mengalir, arus
(+) mengalir dalam rele seperti arus penerima dan apabila arus rektifikasi
mengalir, arus (-) penerima dan sinyal telegrap diproduksikan seperti yang
terlihat dalam gambar (f).

a. Mengirim kode telegrap

b. Bentuk gelombang modulasi

37
c. Bentuk gelombang yang diterima

d. Bentuk gelombang rektifikasi gelombang penuh/full-wave

e. Bentuk gelombang dari arus rele

f. Penerimaan kode telegrap

Gambar 7.38. Bentuk-bentuk gelombang dalam demodulasi (modulasi amplitude)

4. Demodulasi dalam sistem frekwensi modulasi


Dalam system frekwensi modulasi, plus dan minus dari arus sinyal
membuat modulasi arus gelombang pembawa dengan frekwensi tinggi dan
rendah. Demodulasi juga dilakukan oleh metoda diskriminasi frekwensi yang
membuat arus searah dari intensitas yang berbeda-beda sesuai dengan
frekwensi tinggi dan rendah. Gelombang yang melewati saringan terima
mempunyai amplitudo yang tidak teratur seperti terlihat dalam gambar 5.4
(c), oleh karena itu dengan menggunakan amplifier, amplitudonya
diseragamkan pada nilai tertentu seperti terlihat dalam gambar (d) dari
gambar yang sama. Prosedur ini disebut pembatasan amplitudo. Setelah
amplitudo duseragamkan, maka diskriminasi frekwensi dimulai. Jalan yang
umum untuk mendiskriminasikan frekwensi-frekwensi adalah penggunaan
sirkit resonansi yang sederhana. Salah satu meresonansikan dengan

38
frekwensi tinggi dan yang lain dengan frekwensi rendah. (e) dan (f) dalam
gambar memperlihatkan bentuk-bentuk gelombang yang terima seketika
gelombang modulasi frekwensi lewat. Gelombang (e) direktifikasikan dan
rektifikasi arus searah (g) diterima. Gelombang (f) direktifikasikan dan
dibalikkan, dan arus searah (h) diterima. Kemudian (g) dan (h) dijumlahkan
bersama, dan dengan demikian tercapailah bentuk gelombang resultante
yang terlihat dalam (i). arus ini menggiatkan rele dan kodekode kirim dapat
diproduksikan pada ujung penerimaan seperti gamabar (j).

5. Jenis-jenis Modulasi
Cara-cara modulasi yang diperlihat pada daftar berikut, secara garis besarnya dapat
dibagi menjadi modulasi analog dan digital. Modulasi continuous parametric berarti
modulasi amplitudo atau modulasi sudut.

Ini berati bahwa pada modulasi pulsa parametric, amplitudo dari pulsa-pulsa atau
sejenisnya dirubah secara analog. Modulasi kode Pulsa (PCM) adalah cara modulasi
pengubahan A.D (Analog-Digital), sesuai dengan ketentuan yang tetap.

A. Modulasi amplitudo
Telah dinyatakan bahwa pada modulasi amplitudo, adalah membuat suatu cara
sehingga amplitudo gelombang pembawa berubah sesuai dengan bentuk gelombang
dari informasi yang akan dikirimkan, seperti pada gambar 5.5. Dalam hal ini, sinyal
yang akan dibawa dinamakan sinyal modulasi dan gelombang radio yang membawa,
dan umumnya frekwensi gelombang pembawa yang harus lebih tinggi dari pada
sinyal modulasi, dinamakan gelombang pembawa.

Pada saluran telepon, fekwensi suara umunya terletak dibawah 3.400 Hz, sedangkan
dimpihak lain yaitu gelombang pembawa, misalnya dalam hal HF, adalah beberapa
MHz, jadi jauh lebih tinggi. Dalam hal ini pengiriman sinyal telegrap, juga demikian
seperti diperlihatkan pada gambar 24

39
Gelombang pembawa yang dimodulasi jenis ini juga dinamakan gelombang A.1.

Ini berarti bahwa amplitude a dari gelombang pembawa dirubah sehingga diperoleh:

a = ao +am sin (pt + ) (4.2.1)

Oleh karena bentuk gelombang sinyal am sin (pt + ). Kemudian bentuk gelombang
modulasi dapat dituliskan sebagai berikut:

{ ao +am sin (pt + )}sin(ct +) (4.2.2)

= ao [sin (ct +)+ k/2 {cos (c p)t + ( ) cos(c + p)t + ( + )}] Dalam
hal ini k = am/ ao yaitu factor modulasi.

Bentuk sinyal gelombang tidak berbentuk satu frekwensi seperti pada rumus 4.2.
Tetapi dengan memperhatikan teori expansi Fourier, maka bentuk gelombang sinyal
dapat dianggap sebagai superposisi. Apabila spectrum frekwensi informasi seperti
gambar 24 (a), maka gelombang yang dimodulasi menjadi seperti gambar 24 (b).

a. Gelombang sinyal b. Gelombang modulasi

Gambar 7.39. Spektrum dari modulasi amplitudo

40
B. Modulasi sudut
Modulasi sudut adalah suatu proses modulasi dimana sudut dari gelombang
pembawa yang berbentuk sinus adalah parameter subject yang dirubah-ubah. Sudut
yang dimaksud adalah keseluruhan argumen dari fungsi sinus.

Bentuk gelombang sinyal yang akan dikirimkan

( misal frekuensi suara )

Gelombang pembawa

Gelombang FM

Gambar 7.40. Modulasi Frekuensi

Baik modulasi fasa maupun modulasi frekwensi akan serupa setelah sinyalnya
masing-masing didefensir dan diintergrir. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
gelombang modulasi fasa dapat diperoleh dengan modulasi fasa, atau melakukan
dulu sinyal pada rangkaian deferensial baru kemudian diteruskan ke modulasi
frekwensi. Dengan cara yang sama. Keduanya dinamakan modulasi sudut. Tetapi
sebaliknya system FM mempunyai keuntungan-keuntungan sebagai berikut:
1. Perhubungan dapat dilaksanakan dengan gerisik yang lebih kecil.

2. Dapat dilakukan perhubungan dengan kualitas yang sama dengan system AM,
tetapi dengan tenaga yang lebih kecil.

41
3. Dapat dilakukan perhubungan tanpa timbulnya perubahan level dari bentuk
gelombang sinyal yang disebabkan oleh perubahan amplitudo akibat fading
mengingat sinyal yang ditumpangkannya terletak pada perubahan frekwensi.

Keadaan inilah yang menentukan sifat FM yang sangat penting, sehingga system FM
dipergunakan secara luas diperbagai bidang, seperti siaran musik Hi-Fi, VHF radio
mobil dan radio-relay gelombang mikro. Karena kelemahannya di bidang frekwensi
yang didudukinya, maka system tidak dipergunakan pada frekwensi-frekwensi VHF,
UHF dan SHF. Gambar 5.6 memperlihat hal terjadinya frekwensi modulasi dengan
menggunakan kode-kode telegrap. Dalam hal ini frekwensi kan dinamakan sinyal FSK
(Frequency Shift Keying).

Gambar 7.41. Sinyal FS


C. Demodulasi
Pada dasarnya demodulasi adalah kebalikan modulasi dan juga memerlukan
alatalat taklinear atau berubah-ubah peng-switch-an (penggantian) liner. Karena
rangkaianrangkaian taklinear yang digunakan pada dasarnya sama, detil-detil operasi
penemu (detector).

42