Anda di halaman 1dari 14

TUGAS 1 (EVALUASI PEMBELAJARAN DAN HASIL BELAJAR)

KAITAN ASESMEN DENGAN


EVALUASI

Oleh :
(Kelompok 8)
Julia Maysarah Rosha (4153121028)
Eka Puspita Sari (4151121021)
Elgita Tarigan (4153121017)
Ersano Ndruru (4152121017)

Kelas : Fisika Dik B 2015

Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam


Universitas Negeri Medan
2017
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Allah yang Maha Esa, karena berkat rahmat
dan karunia-Nya kami dapat menyelesaiakan makalah Kaitan Asesmen dengan Evaluasi ini
dengan baik. Makalah ini di susun dengan tujuan untuk mempermudah pembelajaran dalam
Matakuliah Evaluasi Proses dan Hasil Belajar. Materi Kaitan Asesmen dengan Evaluasi ini di
ambil beberapa sumber sebagai penunjang.
Terlepas dari semua itu kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan dari
segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu, dengan tangan terbuka kami
menerima segala saran dan kritik dari pembaca. Semua saran yang bersifat membangun
diucapkan trimakasih.
Medan, 28 Agustus 2017
Penulis

Kelompok 8

ii
Daftar Isi
Cover
Kata Pengantar ii

Daftar Isi iii

BAB I Pendahuluan

I.1 Latar Belakang 1


I.2 Rumusan Masalah 1
I.3 Tujuan 2
I.4 Manfaat 2

BAB II Pembahasan

II.1 Pengertian Asesmen 3


II.2 Fungsi, Tujuan, Dan Prinsip Asesmen 5
II.3 Pengertian Evaluasi 9
II.4 Hubungan antara Asesmen, Evaluasi, Pengukuran dan Tes 9

BAB III Penutup


Kesimpulan 11

Daftar Pustaka 12

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Melakukan penilaian merupakan salah satu tugas guru selain menyusun program
pembelajaran dan mengimplementasikannya di dalam kelas. Guru juga harus dapat
menetapkan apa yang dapat diperoleh atau dicapai dari proses pembelajaran yang telah
diselenggarakan. Selanjutnya guru harus dapat menetapkan apakah program yang ia
rencanakan dapat terlaksana sesuai harapan, dalam arti bahwa kompetensi yang
dikembangkan pada diri siswa sesuai dengan harapan. Semua ini dapat diketahui dan
terjawab, jika guru melakukan asesmen dan evaluasi dengan baik. Asesmen sangat
berperan dalam menentukan arah pembelajaran dan kualitas pendidikan.
Penilaian ini tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan kognitif, tetapi juga
mencakup ranah afektif dan psikomotorik. Guru umumnya merasa sudah aman dan selesai
tugasnya jika telah melaksanakan semua kewajiban kurikuler meskipun murid-muridnya
tidak memahami apa yang diajarkan. Dengan demikian pendidikan yang tidak
menghasilkan lulusan yang bermutu bukanlah merupakan investasi SDM (sumber daya
manusia), melainkan pemborosan beaya, tenaga dan waktu. Kalau seorang siswa
dikatakan berhasil dalam belajarnya, maka keberhasilan itu haruslah diukur dengan alat
ukur yang sesuai dengan tujuan belajarnya atau kompetensi yang harus dicapainya.
Dengan kata lain informasi yang diperoleh dari asesmen harus komprensif dan telah
dilakukan pada saat-saat yang tepat selama dan setelah siswa belajar. Artinya pengukuran
harus dilakukan di sepanjang proses belajar yang dijalani siswa. Oleh karena itu,
diperlukan pengetahuan lebih tentang hubungan asesmen dan evaluasi.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang tersebut dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1.2.1 Apakah pengertian asesmen?
1.2.2 Apakah fungsi, tujuan, dan prinsip asesmen?
1.2.3 Apakah pengertian evaluasi?
1.2.4 Bagaimanakah kaitan antara asesmen dan evaluasi?
1.3. TUJUAN PENULISAN
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian asesmen.
1.3.2 Untuk mengetahui fungsi asesmen, tujuan, prinsip asesmen

1
1.3.3 Untuk mengetahui pengertian evaluasi
1.3.4 Untuk mengetahui kaitan antara asesmen dan evaluasi
1.4. MANFAAT PENULISAN
1.4.1 Mengetahui pengertian asesmen.
1.4.2 Mengetahui fungsi, tujuan, dan prinsip asesmen
1.4.3 Mengetahui pengertian evaluasi
1.4.4 Mengetahui kaitan antara asesmen dan evaluasi

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Asesmen


Secara umum, asesmen dapat diartikan sebagai proses untuk mendapatkan informasi
dalam bentuk apapun yang dapat digunakan untuk dasar pengambilan keputusan tentang siswa
baik yang menyangkut kurikulumnya, program pembelajarannya, iklim sekolah maupun
kebijakan-kebijakan sekolah. Keputusan tentang siswa ini termasuk bagaimana guru mengelola
pembelajaran di kelas, bagaimana guru menempatkan siswa pada program- program
pembelajaran yang berbeda, tingkatan tugas-tugas untuk siswa yang sesuai dengan kemampuan
dan kebutuhan masing-masing, bimbingan dan penyuluhan, dan saran untuk studi lanjut.
Asesmen secara sederhana dapat diartikan sebagai proses pengukuran dan non
pengukuran untuk memperoleh data karakteristik peserta didik dengan aturan tertentu. Dalam
pelaksanaan asesmen pembelajaran, guru akan dihadapkan pada 3 (tiga) istilah yang sering
dikacaukan pengertiannya, atau bahkan sering pula digunakan secara bersama yaitu istilah
pengukuran, penilaian dan test. Untuk lebih jauh bisa memahami pelaksanaan asesmen
pembelajaran secara keseluruhan, perlu dipahami dahulu perbedaan pengertian dan hubungan
di antara ketiga istilah tersebut, dan bagaimana penggunaannya dalam asesmen pembelajaran.
Dengan berlandaskan pada uraian di atas, dapat di jelaskan bahwa asesmen pembelajaran yaitu:
1. Asesmen merupakan bagian integral dari proses pembelajaran, sehingga tujuan
asesmen harus sejalan dengan tujuan pembelajaran; sebagai upaya utuk
mengumpulkan berbagai informasi dengan berbagai teknik; sebagai bahan
pertimbangan penentuan tingkat keberhasilan proses dan hasil pembelajaran; oleh
karenanya asesmen hendaknya dilakukan dengan perencanaan yang cermat.
2. Asesmen harus didasarkan pada tujuan pembelajaran secara utuh dan memiliki
kepastian kriteria keberhasilan, baik kriteria dari keberhasilan proses belajar yang
dilakukan siswa, ataupun kriteria keberhasilan dari kegiatan mengajar yang dilakukan
oleh pendidik, serta keberhasilan program pembelajaran secara keseluruhan.
3. Untuk memperoleh hasil asesmen yang maksimal yang dapat menggambarkan proses
dan hasil yang sesungguhnya, asesmen dilakukan sepanjang kegiatan pengajaran
ditujukan untuk memotivasi dan mengembangkan kegiatan belajar anak, kemampuan
mengajar guru dan untuk kepentingan penyempurnaan program pengajaran.
4. Terkait dengan evaluasi, asesmen pada dasarnya merupakan alat (the means) dan
bukan merupakan tujuan (the end), sehingga asesmen merupakan sarana yang

3
digunakan sebagai alat untuk melihat dan menganalisis apakah siswa telah mencapai
hasil belajar yang diharapkan serta untuk mengetahui apakah proses pembelajaran
telah sesuai dengan tujuan atau masih memerlukan pengembangan dan perbaikan.

Dalam pelaksanaannya, asesmen pembelajaran merupakan kegiatan yang berkaitan


dengan mengukur dan menilai aspek psikis yang berupa proses dan hasil belajar yang bersifat
abstrak, karena itu asesmen hendaknya dilakukan dengan cermat dan penuh perhitungan
termasuk memperhatikan berbagai keterbatasan sebagai berikut.
1. Untuk pengukuran suatu konstruk, khususnya konstruk psikologis yang bersifat
abstrak tidak ada pendekatan tunggal yang dapat diberlakukan dan diterima secara
universal, termasuk dalam kegiatan asesmen yang bertujuan untuk mengukur proses
pembelajaran dan pemahaman siswa terhadap seperangkat materi yang
dipersyaratkan, maka dalam pelaksanaannya harus digunakan bermacam pendekatan
untuk tujuan yang berbeda-beda dan dilakukan dalam berbagai kesempatan sepanjang
rentang waktu berlangsungnya proses pembelajaran.
2. Pengukuran aspek psikologis termasuk pengukuran proses dan hasil pembelajaran
pada umumnya dikembangkan berdasar atas sampel tingkah laku yang terbatas,
sehingga untuk dapat menjadi sumber informasi yang akurat, asesmen dilakukan
dengan perencanaan yang matang dan dilakukan dengan cermat, dengan
memperhatikan perolehan sampel yang memadai dari domain tingkah laku dalam
pengembangan prosedur dan alat ukur yang baik.
3. Perlu dipahami bahwa hasil pengukuran dan nilai yang diperoleh dalam asesmen
proses dan hasil belajar mengandung kekeliruan. Angka yang diperoleh sebagai hasil
pengukuran (dengan menggunakan tes ataupun nontes) berupa: Thrue score + Error,
untuk itu kegiatan pengukuran dalam prosedur asesmen yang baik harus dipersiapkan
sedemikian rupa sehingga dapat memperkecil kekeliruan (error). Kesalahan dalam
proses asesmen dapat bersumber dari alat ukur, dari gejala yang diukur, maupun
interpretasi terhadap hasil pengukuran tersebut.
4. Pendefinisian suatu satuan yang menyangkut kualitas/kemampuan psikologis pada
skala pengukuran merupakan masalah yang cukup pelik, mengingat bahwa kenyataan
hasil belajar merupakan suatu kualitas pemahaman siswa terhadap materi, sedang
dalam pelaksanaan tes pengukuran hasil belajar, pengajar diharuskan memberikan
kuantitas yang berupa angka-angka pada kualitas dari suatu gejala yang bersifat
abstrak.
4
5. Konstruk psikologis termasuk proses dan hasil pembelajaran tidak dapat didefinisikan
secara tunggal atau berdiri sendiri, tetapi selalu berhubungan dengan konstruk yang
lain. Dengan demikian dalam pelaksanaan evaluasi diperlukan adanya kesungguhan
dan kecermatan yang tinggi, sehingga berbagai keterbatasan-keterbatasan tersebut
dapat dikurangi.

2.2.Fungsi, Tujuan, Dan Prinsip Asesmen


Implikasi dari pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan pada penilaian adalah perlunya penyesuaian terhadap model dan teknik
penilaian yang dilaksanakan di kelas. Penilaian kelas terdiri atas penilaian eksternal dan
internal. Penilaian ekternal merupakan penilaian yang dilakukan oleh pihak lain yang tidak
melaksanakan proses pembelajaran, yaitu suatu lembaga independen, yang di antaranya
mempunyai tujuan sebagai pengendali mutu. Adapun penilaian internal adalah penilaian yang
direncanakan dan dilakukan oleh pengajar pada saat proses pembelajaran berlangsung.
Pengembangan sistem penilaian berbasis kompetensi dasar mencakup beberapa hal, yaitu:
1. Standar kompetensi, adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan dalam setiap
mata pelajaran yang memiliki implikasi yang sangat signifikan dalam perencanaan,
metodologi dan pengelolaan penilaian.
2. Kompetensi dasar, adalah kemampuan minimal dalam rangka mata pelajaran yang
harus dimiliki lulusan.
3. Rencana penilaian, jadwal kegiatan penilaian dalam satu semester dikembangkan
bersamaan dengan pengembangan silabus;
4. Proses penilaian, pemilihan dan pengembangan teknik penilaian, sistem pencatatan
dan pengelolaan proses.
5. Proses implementasi menggunakan berbagai teknik penilaian.
Berikut penjabaran tentang tujuan, fungsi, prinsip, keunggulan dari penilaian berbasis
kelas:
1. Tujuan penilaian berbasis kelas adalah (berikan contoh sesuai pengalaman)
a. Saat melaksanakan asesmen, pendidik bisa langsung memberikan umpan balik
kepada peserta didik.
b. Pendidik dapat melakukan pemantauan kemajuan belajar setiap peserta didik,
sekaligus mendiagnosis kesulitan belajarnya sehingga secara tepat dapat
menentukan siswa mana yang perlu pengayaan dan siswa yang perlu
pembelajaran remedial.

5
c. Hasil pemantauan dapat dipakai sebagai umpan balik untuk memperbaiki
metode, pendekatan, kegiatan, sumber belajar yang digunakan, sesuai dengan
kebutuhan materi dan juga kebutuhan siswa, dan landasan memilih alternatif
jenis dan model penilaian mana yang tepat untuk digunakan pada materi
tertentu.
d. Memberikan informasi kepada orang tua dan komite sekolah tentang efektivitas
pendidikan, tidak perlu menunggu akhir semester atau akhir tahun.
2. Fungsi Asesmen Berbasis kelas
a. Menggambarkan sejauh mana seorang peserta didik telah menguasai suatu
kompetensi.
b. Membantu peserta didik memahami dirinya, membuat keputusan tentang
langkah pemilihan program, pengembangan kepribadian dan penjurusan.
c. Menemukan kesulitan belajar dan prestasi yang bisa dikembangkan serta
sebagai alat diagnosis perlu tidak siswa mengikuti remedial atau program
pengayaan.
d. Menemukan kelemahan dan kekurangan proses pembelajaran yang telah
dilakukan ataupun yang sedang berlangsung.
3. Prinsip Asesmen Berbasis Kelas
a. Prinsip Validitas : menilai apa yang seharusnya dinilai dan alat penilaian yang
digunakan sesuai dengan apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat
yang sesuai untuk mengukur kompetensi.
b. Prinsip Reliabilitas : dengan menjaga konsistensi (keajegan) hasil penilaian.
Penilaian yang ajeg (reliable) memungkinkan perbandingan yang reliable,
menjamin konsistensi, dan keterpercayaan.
c. Prinsip Komprehensif : penilaian yang dilakukan harus menyeluruh mencakup
seluruh domain yang tertuang pada setiap kompetensi dasar dengan
menggunakan beragam cara dan alat untuk menilai beragam kompetensi.
d. Prinsip Objektivitas : proses penilaian yang dilakukan harus meminimalkan
pengaruh-pengaruh atau pertimbangan subyektif dari penilai.
e. Prinsip Mendidik : penilaian dilakukan bukan untuk mendiskriminasi siswa
(lulus atau tidak lulus) atau menghukum siswa tetapi untuk mendiferensiasi
siswa (sejauh mana seorang siswa membuat kemajuan atau posisi masingmasing
siswa dalam rentang cakupan pencapaian suatu kompetensi).

6
4. Keunggulan Penilaian Berbasis Kelas
a. Pengumpulan data kemajuan belajar baik formal maupun informal dilaksanakan
dalam suasana yang menyenangkan, sehingga ada kesempatan yang terbaik bagi
siswa untuk menunjukkan apa yang dipahami dan mampu dikerjakannya.
b. Hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik tidak untuk dibandingkan dengan
hasil belajar siswa lain ataupun prestasi kelompok, tetapi dengan prestasi atau
kemampuan yang dimiliki sebelumnya; atau dengan kompetensi yang
dipersyaratkan.
c. Pengumpulan informasi dilakukan dengan menggunakan variasi cara, dilakukan
secara berkesinambungan sehingga gambaran kemampuan siswa dapat lebih
lengkap terdeteksi, dan terpotret secara akurat.
d. Siswa dituntut untuk mengeksplorasi dan memotivasi diri mengerahkan
potensinya dalam menanggapi dan memecahkan masalah yang dihadapi dengan
caranya sendiri dan sesuai dengan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki.
e. Siswa diberi kesempatan memperbaiki prestasi belajarnya, dengan pemberian
bantuan dan bimbingan yang sesuai.
f. Penilaian tidak hanya dilaksanakan setelah proses belajar-mengajar (PBM)
tetapi dapat dilaksanakan ketika PBM sedang berlangsung (penilaian proses).
5. Teknik Asesmen
Dilihat dari tekniknya, asesmen proses dan hasil belajar dibedakan menjadi dua
macam yaitu dengan Teknik Tes dan Non Tes:
a. Teknik tes adalah seperangkat tugas yang harus dikerjakan oleh orang yang
dites, dan berdasarkan hasil menunaikan tugas-tugas tersebut, akan dapat ditarik
kesimpulan tentang aspek tertentu pada orang tersebut. Tes sebagai alat ukur
sangat banyak macamnya dan luas penggunaannya.
b. Teknik nontes dapat dilakukan dengan observasi baik secara langsung ataupun
tak langsung, angket ataupun wawancara. Dapat pula dilakukan dengan
Sosiometri, teknik non tes digunakan sebagai pelengkap dan digunakan sebagai
pertimbangan tambahan dalam pengambilan keputusan penentuan kualitas
hasil belajar, teknik ini dapat bersifat lebih menyeluruh pada semua aspek
kehidupan anak. Dalam KBK teknik nontes disarankan untuk banyak
digunakan.

7
2.3.Pengertian Evaluasi
Evaluasi adalah proses mengumpulkan data dasar dan menelaah misalnya tentang
efektivitas program belajar dan pembelajaran. Menurut Ralph Tyler evaluasi merupakan
sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan
bagaimana tujuan pendidikan tercapai. Defenisi yang lebih luas dikemukakan oleh dua orang
ahli lain, yakni Cronbach dan Stufflebeam. Tambahan defenisi tersebut adalah bahwa proses
evaluasi bukan sekedar mengukur sejauh mana tujuan tercapai, tetapi digunakan untuk
membuat keputusan.
Saat mengevaluasi program pembelajaran, guru perlu mengamati cara anak merespons
proses dan sumber belajarnya, misalnya dengan mempertanyakan pada diri sendiri: Mengapa
anak didik saya bersikap seperti itu? Mengapa terjadi pembelajaran yang tak diharapkan?
Bagaimana sebenarnya strategi pembelajaran yang tepat untuk si Andi? Efektifkah jika saya
manfaatkan media ini untuk belajar mengenal posisi? Selanjutnya perlu dipikirkan apa yang
harus ditindaklanjuti dari temuan berdasar pertanyaan pertanyaan tersebut. Misalnya dengan
merubah perencanaan atau pelaksanaan teknik ke arah yang lebih baik.
2.4.Hubungan antara Asesmen, Evaluasi, Pengukuran dan Tes
Kumano (2001) mengungkapkan bahwa meskipun terdapat perbedaan
makna/pengertian, asesmen dan evaluasi memiliki hubungan. Hubungan antara asesmen dan
evaluasi tersebut digambarkan sebagai berikut.

Menurut Zainul & Nasution (2001) Hubungan antara tes, pengukuran, dan evaluasi
adalah sebagai berikut. Evaluasi belajar baru dapat dilakukan dengan baik dan benar apabila
menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran yang menggunakan tes sebagai
alat ukurnya. Akan tetapi tentu saja tes hanya merupakan salah satu alat ukur yang dapat
digunakan karena informasi tentang hasil belajar tersebut dapat pula diperoleh tidak melalui
tes, misalnya menggunakan alat ukur non tes seperti observasi, skala rating, dan lain-lain.
8
Zainul dan Nasution (2001) menyatakan bahwa guru mengukur berbagai kemampuan
siswa. Apabila guru melangkah lebih jauh dalam menginterpretasikan skor sebagai hasil
pengukuran tersebut dengan menggunakan standar tertentu untuk menentukan nilai atas dasar
pertimbangan tertentu, maka kegiatan guru tersebut telah melangkah lebih jauh menjadi
evaluasi.
Untuk mengungkapkan hubungan antara asesmen dan evaluasi, Gabel (1993)
mengungkapkan bahwa evaluasi merupakan proses pemberian penilaian terhadap data atau
hasil yang diperoleh melalui asesmen. Hubungan antara asesmen, evaluasi, pengukuran, dan
testing dalam hal ini dikemukakan pada gambar di bawah ini :

Gambar.1. Diagram hubungan antara peristilahan dalam asesmen & evaluasi


Sementara itu Yulaelawati (2004) mengungkapkan bahwa asesmen merupakan bagian
dari evaluasi. Apabila kita membicarakan tentang evaluasi, maka asesmen sudah termasuk di
dalamnya. Untuk lebih memperjelas hubungan antara tes, pengukuran, dan evaluasi, pada
Tabel .diberikan contoh tes, non-tes, pengukuran, dan evaluasi dalam praktek pembelajaran
sehari-hari.

9
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
1. Asesmen dapat diartikan sebagai proses untuk mendapatkan informasi dalam bentuk
apapun yang dapat digunakan untuk dasar pengambilan keputusan tentang siswa baik
yang menyangkut kurikulumnya, program pembelajarannya, iklim sekolah maupun
kebijakan-kebijakan sekolah.
2. Tujuan dari asesmen agar pendidik dapat melakukan pemantauan kemajuan belajar setiap
peserta didik, sekaligus mendiagnosis kesulitan belajarnya sehingga secara tepat dapat
menentukan siswa mana yang perlu pengayaan dan siswa yang perlu pembelajaran
remedial.
3. Fungsi asesmen, antara lain :
Menggambarkan sejauh mana seorang peserta didik telah menguasai suatu
kompetensi.
Membantu peserta didik memahami dirinya, membuat keputusan tentang langkah
pemilihan program, pengembangan kepribadian dan penjurusan.
Menemukan kesulitan belajar dan prestasi yang bisa dikembangkan serta sebagai
alat diagnosis perlu tidak siswa mengikuti remedial atau program pengayaan.
Menemukan kelemahan dan kekurangan proses pembelajaran yang telah dilakukan
ataupun yang sedang berlangsung.
4. Prinsip asesmen, antara lain prinsip validitas, realibitas, komperehensif, objektivitas,
dan mendidik.
5. Evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana,
dalam hal apa, dan bagaimana tujuan pendidikan tercapai.
6. Hubungan antara asesmen dan evaluasi adalah evaluasi merupakan proses pemberian
penilaian terhadap data atau hasil yang diperoleh melalui asesmen.

10
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsini. 2012. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Gabel, D.L. (1993). Handbook of Research on Science Teaching and Learning.
New York: Maccmillan Company.

Kumano, Y. 2001. Authentic Assessment and Portfolio Assessment-Its T


heory and Practice. Japan: Shizuoka University.

Siregar, Evelin. dan Hartini Nara. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Ghalia
Indonesia
Waseso, Ikhsan . Hakikat Evaluasi dan Asesmen.pdf

Yulaelawati, E. 2004. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Pakar Raya Jakarta.

Zainul & Nasution. 2001. Penilaian Hasil belajar. Jakarta: Dirjen Dikti.

11