Anda di halaman 1dari 13

NASKAH KERJASAMA

Antara
UPTD PUSKESMAS DTP CIBATU KABUPATEN GARUT
Dengan
KANTOR URUSAN AGAMA KECAMATAN CIBATU KABUPATEN GARUT
Tentang
PELAYANAN KESEHATAN CALON PENGANTIN

Nomor : 441/TU-35/I/2015
...

Pada hari ini, Sabtu tanggal dua bulan januari tahun dua ribu enam belas (02-01-2016) kami
yang bertanda tangan di bawah ini :

I. dr. LELI YULIANI : Kepala UPTD Puskesmas DTP Cibatu, berkedudukan


di Desa Cibatu Kecamatan Cibatu Kabupaten Garut,
jalan kihajar dewantara, dalam hal ini bertindak untuk
dan atas nama UPTD Puskesmas DTP Cibatu,
selanjutnya disebut sebagai PIHAK KEDUA
II. . : Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Cibatu,
berkedudukan di Jalan Kecamatan Cibatu
Kabupaten Garut. Dalam hal ini bertindak untuk dan
atas nama Kantor Urusan Agama, selanjutnya di sebut
sebagai PIHAK KESATU.

PIHAK KESATU dan PIHAK KEDUA secara bersama-sama disebut PARA PIHAK.

PARA PIHAK sepakat mengadakan perjanjian kerjasama untuk melaksanakan peningkatan


mutu Pelayanan Kesehatan Calon Pengantin dengan ketentuan sebagai berikut :

PARA PIHAK terlebih dahulu menerangkan hal-hal sebagai berikut :


1. Puskesmas suatu unit organisasi yang bergerak dalam bidang pelayanan kesehatan yang
berada di garda terdepan dan mempunyai misi sebagai pusat pengembangan pelayanan
kesehatan, yang melaksanakan pembinaan dan pelayanan kesehatan secara menyeluruh
dan terpadu untuk masyarakat di suatu wilayah kerja tertentu yang telah ditentukan secara
mandiri dalam menentukan kegiatan pelayanan namun tidak mencangkup aspek
pembiayaan.
2. Kantor Urusan Agama (disingkat: KUA) adalah kantor yang melaksanakan sebagian
tugas kantor Kementerian Agama Indonesia di kabupaten dan kotamadya di bidang
urusan agama Islam dalam wilayah kecamatan
3. Keberadaan KUA (Kantor urusan Agama) merupakan bagian dari institusi pemerintah
daerah yang bertugas memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sebagai ujung tombak
pelaksanaan tugas umum pemerintahan, khususnya di bidang urusan agama Islam, KUA
telah berusaha seoptimal mungkin dengan kemampuan dan fasilitas yang ada untuk
memberikan pelayanan yang terbaik
4. Pemberian pendidikan kesehatan reproduksi yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang
didampingi oleh penyuluh agama kecamatan
5. Imunisasi Tetanus Toksoid adalah proses untuk membangun kekebalan sebagai upaya
pencegahan terhadap infeksi tetanus (Idanati, 2005).
6. Vaksin Tetanus yaitu toksin kuman tetanus yang telah dilemahkan dan kemudian
dimurnikan (Setiawan, 2006).
7. Suntik TT adalah salah satu persyaratan wajib bagi calon pengantin. Itulah mengapa saat
mengurus berkas, kita harus menyertakan surat keterangan suntik TT dari puskesmas.
8. Suntik TT (Tetanus Toksoid) disebut juga vaksin TT, adalah tindakan memasukkan racun
tetanus yang telah dinonaktifkan. Cara ini akan membuat tubuh lebih kebal terhadap
tetanus karena sudah belajar membuat antibody terhadapnya.
9. HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus ini menyerang sistem
kekebalan tubuh. Virus ini melemahkan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi dan
penyakit.
10. Voluntary Counselling and Testing, atau VCT atau Konseling dan tes HIV secara
sukarela - KTS (atau disebut juga sebagai Client-initiated HIV testing and counselling)
adalah layanan konseling dan tes HIV yang dibutuhkan oleh klien secara aktif dan
individual. Pada KTS ini biasanya menekankan pengkajian dan penanganan faktor
11. Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya di sebut Puskesmas adalah fasilitas
pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya
kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan
preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di
wilayah kerjanya ( Permenkes 75/2014 tentang Pusat Kesehatam Masyarakat )
12. Sistem rujukan adalah suatu sistem jaringan fasilitas pelayanan kesehatan yang
memungkinkan terjadinya penyerahan tanggungjawab secara timbal-balik atas masalah
yang timbul ke fasilitas pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau, rasional dan tidak di
batasi oleh wilayah administrasi
13. Untuk mewujudkan hal tersebut dilakukan sistem rujukan, peningkatan mutu Pelayanan
Kesehatan Calon Pengantin untuk menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian
bayi di wilayah Kabupeten Garut Khususnya wilayah UPTD Puskesmas DTP Cibatu.
14. Dalam rangka melaksanakan pelayanan sebagai mana dimaksud pada angka 12 dan 13,
PIHAK KESATU telah melakukan koordinasi dengan PIHAK KEDUA untuk
peningkatan mutu kesehatan Program Kesehatan ibu dan bayi baru lahir dipuskesmas
15. PIHAK KEDUA akan menetapkan kebijakan tentang Program Kesehatan Ibu dan
Pelayanan KB.
16. PARA PIHAK sepakat untuk menyelenggarakan penyerahan tanggung jawab secara
timbal-balik atas masalah yang dialami Pasien atau yang disebut dengan Pelayanan
Rujukan.

Berdasarkan hal-hal tersebut, PARA PIHAK sesuai dengan kedudukan dan kewenangan
masing-masing, sepakat untuk menyelenggarakan Perjanjian Kerjasama peningkatan mutu
Pelayanan Kesehatan Calon Pengantin (selanjutnya disebut naskah kerjasama) di Puskesmas
Cibatu, dengan ketentuan dan syarat-syarat sebagai berikut :

DEFINISI
Pasal 1

Dalam pasal-pasal Naskah Kerjasama ini kecuali ditentukan lain, maka istilah-istilah yang
tertulis harus ditafsirkan sebagai berikut :

1. Calon pengantin adalah laki-laki dan perempuan yang akan menjalani hubungan dalam
satu tali perkawinan/Pernikahan yang sah menurut hukum agama/Negara yang
dilaksanakan di Kantor Urusan Agama, dimana harus melengkapi persyaratan sebagai
calon pengantin yang telah ditetapkan dalam aturan di KUA.
2. Pernikahan/Perkawinan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau
dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma
agama, norma hukum, dan norma sosial. Upacara pernikahan memiliki banyak ragam dan
variasi menurut tradisi suku bangsa, agama, budaya, maupun kelas sosial.
Penggunaan adat atau aturan tertentu kadang-kadang berkaitan dengan aturan atau
hukum agama tertentu pula.
3. Puskesmas suatu unit organisasi yang bergerak dalam bidang pelayanan kesehatan yang
berada di garda terdepan dan mempunyai misi sebagai pusat pengembangan pelayanan
kesehatan, yang melaksanakan pembinaan dan pelayanan kesehatan secara menyeluruh
dan terpadu untuk masyarakat di suatu wilayah kerja tertentu yang telah ditentukan secara
mandiri dalam menentukan kegiatan pelayanan namun tidak mencangkup aspek
pembiayaan.
4. Sistem rujukan adalah suatu sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang
melaksanakan pelimpahan tanggung jawab, timbal-balik terhadap suatu kasus penyakit
atau masalah kesehatan secara vertikal atau horizontal, dalam arti dari unit yang
berkemampuan kurang ke unit yang lebih mampu.
5. Kantor Urusan Agama (disingkat: KUA) adalah kantor yang melaksanakan sebagian tugas
kantor Kementerian Agama Indonesia di kabupaten dan kotamadya di bidang urusan
agama Islam dalam wilayah kecamatan
6. Keluarga berencana adalah usaha untuk mengukur jumlah dan jarak anak yang diinginkan.
Untuk dapat mencapai hal tersebut maka dibuatlah Cibatuapa cara atau alternatif untuk
mencegah ataupun menunda kehamilan. Penyakit adalah suatu peralihan dari keadaan
sehat dari suatu kondisi abnormal dari bagian tubuh/jiwa
7. Metode kontrasepsi bekerja dengan dasar mencegah sperma laki-laki mencapai dan
membuahi telur wanita (fertilisasi) atau mencegah telur yang sudah dibuahi untuk
berimplantasi (melekat) dan berkembang di dalam rahim.
8. Metode kontrasepsi juga dapat digolongkan berdasarkan cara kerjanya yaitu metode
barrier (penghalang), sebagai contoh, kondom yang menghalangi sperma; metode
mekanik seperti IUD; atau metode hormonal seperti pil. Metode kontrasepsi alami tidak
memakai alat-alat bantu maupun hormonal namun berdasarkan fisiologis seorang wanita
dengan tujuan untuk mencegah fertilisasi (pembuahan).
TUJUAN DAN SASARAN
Pasal 2
Tujuan ditetapkannya MOU ini adalah meningkatkan mutu Pelayanan Kesehatan Calon
Pengantin untuk menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi, tujuan khususnya
yaitu dengan cara konseling kesehatan reproduksi, Konseling Tes Sukarela (KTS) HIV/AIDS
untuk menurunkan akselerasi Program Kesehatan penanggulangan HIV/AIDS dan IMS dan
cara untuk mencapai salah satu tujuan dari program imunisasi secara nasional yaitu eliminasi
tetanus maternal dan tetanus neonatorum, konseling KB juga sebagai salah satu persyaratan
wajib bagi calon pengantin melalui berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh PARA PIHAK

1) Sasaran perjanjian dalam Naskah Kerjasama ini adalah :


1. Menguatkan kemitraan antara UPTD Puskesmas DTP Cibatu dengan Kantor Urusan
Agama Kecamatan Cibatu
2. Mengefektifkan mekanisme Pelayanan Kesehatan Calon Pengantin, dengan cara
melakukan konseling kesehatan reproduksi, Pemberian Imunisasi TT pada Calon
Pengantin dan Pelayanan Klinik Lotus untuk Konseling Tes Sukarela (KTS)
HIV/AIDS antara UPTD Puskesmas DTP Cibatu dengan Kantor Urusan Agama
Kecamatan Cibatu
3. Memperbaiki Alur Pelayanan Kesehatan Calon Pengantin

OBJEK
Pasal 3

Objek perjanjian dalam Naskah Kerjasama ini adalah peningkatan mutu Pelayanan Kesehatan
Calon Pengantin untuk menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi, tujuan
khususnya yaitu dengan cara melakukan konseling kesehatan reproduksi, Pemberian Imunisasi
TT pada Calon Pengantin, konseling KB dan Pelayanan Klinik Lotus untuk Konseling Tes
Sukarela (KTS) HIV/AIDS melalui berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh para pihak yang
lebih berkualitas di UPTD Puskesmas DTP Cibatu.

RUANG LINGKUP
Pasal 4

Kerjasama ini meliputi kegiatan yang berhubungan dengan Pelayanan Kesehatan Calon
Pengantin untuk menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi, tujuan khususnya
yaitu dengan cara melakukan konseling kesehatan reproduksi, Pemberian Imunisasi TT pada
Calon Pengantin, konseling KB dan Pelayanan Klinik Lotus untuk Konseling Tes Sukarela
(KTS) HIV/AIDS, antara lain :
1. PIHAK KESATU menjadi Petugas Pengirim Calon Pengantin ke wilayah kerja PIHAK
KEDUA .
2. PIHAK KEDUA menjadi tempat Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama.
3. PIHAK KEDUA menjadi Fasilitas Pelayanan dan Tenaga Kesehatan dalam Pelayanan
Kesehatan Calon Pengantin dengan cara melakukan konseling kesehatan reproduksi,
Pemberian Imunisasi TT pada Calon Pengantin, konseling KB dan Pelayanan Klinik
Lotus untuk Konseling Tes Sukarela (KTS) HIV/AIDS bagi PIHAK KESATU.

HAK DAN KEWAJIBAN


Pasal 5

Hak dan kewajiban PARA PIHAK dalam penyelengaraan Pelayanan Kesehatan Calon Pengantin
yaitu dengan cara melakukan konseling kesehatan reproduksi, Pemberian Imunisasi TT pada
Calon Pengantin, konseling KB dan Pelayanan Klinik Lotus untuk Konseling Tes Sukarela
(KTS) HIV/AIDS yang di tuangkan sebagai tugas dan tanggungjawab peran PARA PIHAK
dalam lingkup kerjasama ini, yaitu meliputi kegiatan yang disepakati PARA PIHAK.

PIHAK KESATU :

Penyelenggara statistik dan dokumentasi.


Penyelenggara surat menyurat, kearsipan, pengetikan, dan rumah tangga Kantor Urusan Agama
Kecamatan.
Pelaksana pencatatan pernikahan, rujuk, mengurus dan membina masjid, zakat, wakaf, baitul
maal dan ibadah sosial, kependudukan dan pengembangan keluarga sakinah sesuai dengan
kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Dirjen Bimas Islam berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
Berkewajiban Mengirim Calon Pengantin kepada PIHAK KEDUA dalam Pelayanan Kesehatan
Calon Pengantin yaitu dengan cara melakukan konseling kesehatan reproduksi, Pemberian
Imunisasi TT pada Calon Pengantin, konseling KB dan Pelayanan Klinik Lotus untuk
Konseling Tes Sukarela (KTS) HIV/AIDS

PIHAK KEDUA :
a. Berkewajiban menugaskan Tim Klinik Lotus untuk melakukan Konseling Tes Sukarela
(KTS) untuk pemeriksaan pada Calon Pengantin yang dikirim oleh PIHAK KESATU
b. Berkewajiban menugaskan pada Koordinator Imunisasi dan KIA dalam pemberian
Imunisasi TT dan Konseling KB ( Pemeriksaan Kesehatan Calon Pengantin).
c. Berhak Menerima rujukan pemeriksaan Calon Pengantin dari PIHAK KESATU
d. Berkewajiban memberikan Sertifikat Hasil Pemeriksaan Calon Pengantin kepada Calon
Pengantin itu sendiri
PEMBIAYAAN
Pasal 6

Pembiayaan yang ditimbulkan oleh Kesepakatan Kerjasama ini dibebankan kepada PARA
PIHAK sebagaimana peraturan perundangan yang berlaku bagi maing-masing PARA PIHAK.
Pembebanan Biaya Pelayanan Kesehatan Calon Pengantin berdasarkan Perda Kab. Garut. No. 03
Tahun 2011 tentang Tarif Retribusi Calon Pengantin sebesar Rp. 15.000 yang dibayarkan pada
PIHAK KEDUA.

JANGKA WAKTU
Pasal 7

Kerjasama ini berlaku untuk jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak ditandatanganinya
kesepakatan kerjasama ini

BERAKHIRNYA PERJANJIAN
Pasal 8

1) Dengan mengesampingkan ketentuan pasal 1266 dan 1267 kitab undang-undang Hukum
Perdata, PARA PIHAK sepakat bahwa Perjanjian dalam Naskah Kerjasama ini berakhir
bilamana :
a. Telah berakhirnya jangka waktu yang telah ditentukan; dan
b. Salah satu pihak melanggar dalam perjanjian Kerjasama ini.
2) PARA PIHAK sepakat bahwa force majeure, tidak berakibat pada perjanjian ini.

FORCE MAJEURE
Pasal 9

1) Force Majeure meliputi keadaan-keadaan :


a. Bencana alam seperti banjir, kebakaran, gempa bumi, longsor, dan kejadian-kejadian
lain di luar kemampuan manusia;
b. Huru-hara seperti kerusakan sosial, perang dan kejadian lain yang ditimbulkan oleh
manusia namun berada di luar kemampuan PARA PIHAK untuk mengatasainya; dan
c. Perubahan kebijakan Pemerintah yang secara langsung ataupun tidak langsung
mempengaruhi pelaksanaan Perjanjian dalam Naskah Kerjasama ini.
2) Dalam hal terjadi Force Majeure sebagaimana di maksud pada ayat (1), pihak yang
terkena Force Majeure harus memberitahukan pada pihak lainnya secara tertulis, paling
lambat dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari sejak terjadinya Force Majeur.
PENYELESAIAN PERSELISIHAN DALAM PELAKSANAAN
Pasal 10

1. Bilamana terdapat permasalahan, perselisihan dalam pelaksanaan Nota Kesepahaman ini,


maka untuk menyelesaikannya dilaksanakan secara musyawarah dan mufakat oleh para
pihak.
2. Apabila tidak ada kesepakatan maka penyelesaian masalah pada ayat 1 di atas akan dibawa
ke forum koordinasi yang lebih tinggi untuk difasilitasi oleh Bupati Garut.
3. Nota kesepahaman ini di buat rangkap dua dan masing-masing di tandatangani oleh para
pihak dengan mencantumkan materai Rp. 6.000,- dan masing-masing rangkap mempunyai
kekuatan yang sama.
4. Nota kesepahaman ini diberikan rangkapnya kepada masing-masing pihak.

LAIN-LAIN
Pasal 11

Pelaksanaan Perjanjian dalam Naskah Kerjasama ini tidak terpengaruhi dengan terjadinya
pergantian kepemimpinan dari PARA PIHAK.

PENUTUP
Pasal 12
Hal hal yang belum cukup diatur dalam Naskah Kerjasama ini, akan diatur oleh PARA PIHAK
berdasarkan kesepakatan yang dituangkan dalam Perjanjian Tambahan (Addendum), sebagai
bagian yang tidak terpisahkan dari Naskah Kerjasama ini .
Demikian Naskah Kerjasama ini di buat dan ditandatangani oleh PARA PIHAK di Rumah Sakit
pada hari : Sabtu, tanggal : Dua, bulan : Januari dan tahun : Dua Ribu Enam belas tersebut di atas
dalam rangkap 2 (dua) bermaterai cukup dan masing-masing PIHAK KESATU dan PIHAK
KEDUA, sah serta mempunyai kekuatan hukum yang sama setelah di tandatangani oleh PARA
PIHAK.

Garut, 02 Januari 2016

PIHAK KEDUA PIHAK KESATU

dr.LELI YULIANI.
NIP. NIP. 197612162005012005
Manfaat-manfaat tersebut adalah cara untuk mencapai salah satu tujuan dari program imunisasi
secara nasional yaitu eliminasi tetanus maternal dan tetanus neonatorum (Depkes, 2004
Suntik TT adalah salah satu persyaratan wajib bagi calon pengantin. Itulah mengapa saat
mengurus berkas, kita harus menyertakan surat keterangan suntik TT dari puskesmas.
Suntik TT (Tetanus Toksoid) disebut juga vaksin TT, adalah tindakan memasukkan racun
tetanus yang telah dinonaktifkan. Cara ini akan membuat tubuh lebih kebal terhadap tetanus
karena sudah belajar membuat antibody terhadapnya.

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus ini menyerang sistem
kekebalan tubuh. Virus ini melemahkan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi dan penyakit.
Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis, penatalaksanaan, dan sudah
berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi HIV yang tinggi. Oleh karena itu
Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu Kementerian Kesehatan
menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam melakukan konseling dan
tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini, tenaga kesehatan tidak akan
ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/ diskriminasi tidak lagi ada dalam
pelayanan kesehatan. Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi
dalam penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan
ini. Ketua Umum PB IDI Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K) ii PEDOMAN PENERAPAN
KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN memerlukan
penanganan bersama secar Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan
nasional yang KATA PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI kasus AIDS di Indonesia
mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian semua pihak, terutama para
tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk
layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang a komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir,
jumlah kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di terdapat 468 pusat layanan untuk
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien. Tes HIV
Sukarela Layanan tes dan k (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT) onseling HIV saat
ini masih dilak VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. LSM peduli AIDS. Hingga
tahun 2008 telah ukan dalam bentuk Konseling dan , yang dilakukan di sarana membutuhkan
layanan medis dan belum berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan
(dokter, perawat dan bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi Initiated Testing and
Counselling) penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di HIV yang tinggi. Jumlah cakupan
layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi memudahkan dan
mempercepat diagnosis, diketahui status HIV-nya. Layanan PITC semakin penting karena
banyak ODHA yang sejumlah negara dengan tingkat epidemi (Provider Kementerian Kesehatan
men melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan
ini, tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan. Oleh karena itu Organisasi Profesi
Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu Kami ucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah berkontribusi dalam yusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan
dalam penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan
ini. Ketua Umum PB IDI Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K) ii PEDOMAN PENERAPAN
KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN memerlukan
penanganan bersama secar Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan
nasional yang KATA PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI kasus AIDS di Indonesia
mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian semua pihak, terutama para
tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk
layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang a komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir,
jumlah kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di terdapat 468 pusat layanan untuk
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien. Tes HIV
Sukarela Layanan tes dan k (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT) onseling HIV saat
ini masih dilak VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. LSM peduli AIDS. Hingga
tahun 2008 telah ukan dalam bentuk Konseling dan , yang dilakukan di sarana membutuhkan
layanan medis dan belum berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan
(dokter, perawat dan bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi Initiated Testing and
Counselling) penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di HIV yang tinggi. Jumlah cakupan
layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi memudahkan dan
mempercepat diagnosis, diketahui status HIV-nya. Layanan PITC semakin penting karena
banyak ODHA yang sejumlah negara dengan tingkat epidemi (Provider Kementerian Kesehatan
men melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan
ini, tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan. Oleh karena itu Organisasi Profesi
Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu Kami ucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah berkontribusi dalam yusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan
dalam penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan
ini. Ketua Umum PB IDI Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K) 4 PEDOMAN PENERAPAN
KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN 3. Sasaran 1. Para
pengambil kebijakan, 2. Perencana dan pengelola program pengendalian HIV/AIDS, 3. Petugas
layanan kesehatan. 4. Ruang Lingkup Lingkup dari pedoman adalah penerapan konseling dan tes
HIV atas inisiasi petugas kesehatan dengan menekankan pemeriksaan kesehatan terkait dengan
infeksi oportunistik dan merujuk pada pelayanan berkelanjutan. Pedoman tidak membahas
konseling secara rinci dan petugas kesehatan diarahkan untuk merujuk pedoman nasional KTS
yang berlaku. Petugas kesehatan yang dimaksud dalam buku ini adalah dokter yang merawat,
perawat yang diberi wewenang oleh dokter yang bersangkutan serta bidan. C. TERMINOLOGI
Terminologi yang digunakan di dalam pedoman ini adalah sebagai berikut. Voluntary
Counselling and Testing, atau VCT atau Konseling dan tes HIV secara sukarela - KTS (atau
disebut juga sebagai Client-initiated HIV testing and counselling) adalah layanan konseling dan
tes HIV yang dibutuhkan oleh klien secara aktif dan individual. Pada KTS ini biasanya
menekankan pengkajian dan penanganan faktor
optimal mungkin dengan kemampuan dan fasilitas yang ada untuk memberikan pelayanan yang
terbaik
Padahal sesungguhnya tugas KUA tidak itu saja. Selain mempunyai tugas pokok seperti
pencatatan perkawinan, KUA juga mempunyai tanggungjawab lain. Seperti BP4, gerakan
keluarga sakinah, zakat dan wakaf, kemasjidan, pembinaan pangan halal, kemitraan umat, ibadah
sosial, juga kegiatan lintas sektoral. Diharapkan kehadiran KUA di kecamatan betul-betul
menjadi dambaan semua masyarakat

Dalam melaksanakan tugasnya, maka Kantor Urusan berfungsi sebagai:

Penyelenggara statistik dan dokumentasi.


Penyelenggara surat menyurat, kearsipan, pengetikan, dan rumah tangga Kantor Urusan Agama
Kecamatan.
Pelaksana pencatatan pernikahan, rujuk, mengurus dan membina masjid, zakat, wakaf, baitul
maal dan ibadah sosial, kependudukan dan pengembangan keluarga sakinah sesuai dengan
kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Dirjen Bimas Islam berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

Menjelang pernikahan (H-13) aku lakukan medical check up sekaligus imunisasi bagi
calon pengantin. Katanya, premarital test atau tes kesehatan pranikah adalah salah satu
yang harus dipenuhi bagi calon pengantin.

... Dan merupakan aturan wajib dari pemerintah adalah Vaksin Tetanus Toksoid (TT).
Menikah perlu banyak persiapan. Yang terutama tentu kondisi kesehatan. Salah satu
persiapan fisik bagi kaum perempuan yang berkaitan dengan administrasi adalah surat
keterangan bebas Tetanus Toksoid (TT). "Surat Sakti" tersebut diperlukan untuk
melengkapi berkas di Kantor Urusan Agama (KUA) dan hari ini aku penuhi.

Imunisasi Tetanus Toksoid adalah proses untuk membangun kekebalan sebagai upaya pencegahan
terhadap infeksi tetanus (Idanati, 2005).
Vaksin Tetanus yaitu toksin kuman tetanus yang telah dilemahkan dan kemudian dimurnikan
(Setiawan, 2006).

Manfaat-manfaat tersebut adalah cara untuk mencapai salah satu tujuan dari program imunisasi
secara nasional yaitu eliminasi tetanus maternal dan tetanus neonatorum (Depkes, 2004
Suntik TT adalah salah satu persyaratan wajib bagi calon pengantin. Itulah mengapa saat
mengurus berkas, kita harus menyertakan surat keterangan suntik TT dari puskesmas.
Suntik TT (Tetanus Toksoid) disebut juga vaksin TT, adalah tindakan memasukkan racun
tetanus yang telah dinonaktifkan. Cara ini akan membuat tubuh lebih kebal terhadap tetanus
karena sudah belajar membuat antibody terhadapnya.

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus ini menyerang sistem
kekebalan tubuh. Virus ini melemahkan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi dan penyakit.
Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis, penatalaksanaan, dan sudah
berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi HIV yang tinggi. Oleh karena itu
Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu Kementerian Kesehatan
menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam melakukan konseling dan
tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini, tenaga kesehatan tidak akan
ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/ diskriminasi tidak lagi ada dalam
pelayanan kesehatan. Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi
dalam penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan
ini. Ketua Umum PB IDI Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K) ii PEDOMAN PENERAPAN
KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN memerlukan
penanganan bersama secar Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan
nasional yang KATA PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI kasus AIDS di Indonesia
mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian semua pihak, terutama para
tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk
layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang a komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir,
jumlah kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di terdapat 468 pusat layanan untuk
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien. Tes HIV
Sukarela Layanan tes dan k (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT) onseling HIV saat
ini masih dilak VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. LSM peduli AIDS. Hingga
tahun 2008 telah ukan dalam bentuk Konseling dan , yang dilakukan di sarana membutuhkan
layanan medis dan belum berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan
(dokter, perawat dan bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi Initiated Testing and
Counselling) penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di HIV yang tinggi. Jumlah cakupan
layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi memudahkan dan
mempercepat diagnosis, diketahui status HIV-nya. Layanan PITC semakin penting karena
banyak ODHA yang sejumlah negara dengan tingkat epidemi (Provider Kementerian Kesehatan
men melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan
ini, tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan. Oleh karena itu Organisasi Profesi
Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu Kami ucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah berkontribusi dalam yusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan
dalam penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan
ini. Ketua Umum PB IDI Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K) ii PEDOMAN PENERAPAN
KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN memerlukan
penanganan bersama secar Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan
nasional yang KATA PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI kasus AIDS di Indonesia
mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian semua pihak, terutama para
tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk
layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang a komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir,
jumlah kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di terdapat 468 pusat layanan untuk
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien. Tes HIV
Sukarela Layanan tes dan k (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT) onseling HIV saat
ini masih dilak VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. LSM peduli AIDS. Hingga
tahun 2008 telah ukan dalam bentuk Konseling dan , yang dilakukan di sarana membutuhkan
layanan medis dan belum berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan
(dokter, perawat dan bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi Initiated Testing and
Counselling) penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di HIV yang tinggi. Jumlah cakupan
layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi memudahkan dan
mempercepat diagnosis, diketahui status HIV-nya. Layanan PITC semakin penting karena
banyak ODHA yang sejumlah negara dengan tingkat epidemi (Provider Kementerian Kesehatan
men melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan
ini, tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan. Oleh karena itu Organisasi Profesi
Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu Kami ucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah berkontribusi dalam yusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan
dalam penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan
ini. Ketua Umum PB IDI Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K) 4 PEDOMAN PENERAPAN
KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN 3. Sasaran 1. Para
pengambil kebijakan, 2. Perencana dan pengelola program pengendalian HIV/AIDS, 3. Petugas
layanan kesehatan. 4. Ruang Lingkup Lingkup dari pedoman adalah penerapan konseling dan tes
HIV atas inisiasi petugas kesehatan dengan menekankan pemeriksaan kesehatan terkait dengan
infeksi oportunistik dan merujuk pada pelayanan berkelanjutan. Pedoman tidak membahas
konseling secara rinci dan petugas kesehatan diarahkan untuk merujuk pedoman nasional KTS
yang berlaku. Petugas kesehatan yang dimaksud dalam buku ini adalah dokter yang merawat,
perawat yang diberi wewenang oleh dokter yang bersangkutan serta bidan. C. TERMINOLOGI
Terminologi yang digunakan di dalam pedoman ini adalah sebagai berikut. Voluntary
Counselling and Testing, atau VCT atau Konseling dan tes HIV secara sukarela - KTS (atau
disebut juga sebagai Client-initiated HIV testing and counselling) adalah layanan konseling dan
tes HIV yang dibutuhkan oleh klien secara aktif dan individual. Pada KTS ini biasanya
menekankan pengkajian dan penanganan faktor