Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG
Transportasi atau perangkutan adalah perpindahan dari suatu tempat ke tempat
lain dengan menggunakan alat pengangkutan, baik yang digerakkan oleh
tenaga manusia, hewan (kuda, sapi, kerbau), atau mesin. Konsep transportasi
didasarkan pada adanya perjalanan (trip) antara asal (origin) dan tujuan
(destination). (Sukarto, 2006).
Kendaraan bermotor bagi manusia merupakan salah satu alat yang paling
dibutuhkan sebagai media transportasi dalam menunjang dan mendukung
aktivitas sehari-harinya baik yang digunakan secara pribadi maupun secara
umum. Kendaraan bermotor membuat efisiensi waktu dan tenaga karena
diciptakan memang untuk membantu aktivitas manusia. Hal ini membuat
kendaraan bermotor menjadi sarana transportasi yang paling dominan di
perkotaan Indonesia ditandai dengan peningkatan penjualan produk kendaraan
bermotor diPusatan. Seiring dengan meningkatnya perkembangan tersebut,
membawa dampak negatif bagi kehidupan manusia.
Padatnya arus lalu lintas dapat menurunkan kualitas lingkungan yang
diakibatkan oleh transportasi tersebut, antara lain polusi suara (kebisingan)
Kebisingan berasal dari kata bising yang artinya semua bunyi yang
mengalihkan perhatian, mengganggu atau berbahaya bagi kegiatan sehari-hari,
bising pada umumnya didefinisikan sebagai bunyi yang tidak diinginkan dan
juga dapat menyebabkan polusi lingkungan (Cornwell 1998 dalam Djalante,
2012).
Umiati (2011) dalam penelitiannya, menyatakan bahwa kebisingan lalu lintas
yang tinggi dalam waktu yang cukup lama akan menimbulkan
ketidaknyamanan dan membuat lingkungan sekitar menjadi terganggu.
Peningkatan jumlah perpindahan atau pergerakan menggunakan sarana
pengangkutan berupa kendaraan yang dalam pengoperasiannya menimbulkan
suara-suara seperti suara mesin yang keluar melalui kenalpot maupun
kelakson. Pada level kebisingan suara-suara masih dapat ditolerir dalam arti
bahwa akibat yang ditimbulkannya merupakan suatu gangguan akan tetapi
pada tingkat yang lebih tinggi suara yang ditimbulkan oleh kendaraan tersebut
sudah merupakan gangguan polusi yang disebut kebisingan (Djalante, 2012 ).
Menurut UU No 22 tahun 2009 pasal 210 ayat 1 yaitu Setiap Kendaraan
Bermotor yang beroperasi di Jalan wajib memenuhi persyaratan ambang batas
emisi gas buang dan tingkat kebisingan.
Menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-
48/MENLH/11/1996 yaitu pemerintah Indonesia telah menetapkan baku
tingkat kebisingan untuk lingkungan perkantoran dan perdagangan serta
fasilitas umum adalah sebesar 60-65 dB. Oleh karena itu penulis tertarik untuk
meneliti tingkat kebisingan pada ruas jalan raya cawang sutoyo calilitan
tepatnya pada simpang empat Pusat grosir cililitan jakarta timur. karena
simpang empat PGC merupakan jalan umum yang berfungsi melayani
angkutan utama yang dilalui oleh kendaraan bermotor sehingga akan
menghasilkan bunyi/suara yang disebut kebisingan. Berdasarkan paparan latar
belakang tentang kemacetan dan kepadatan kendaraan bermotor yang terjadi
pada beberapa ruas jalan cawang cililitan yang menyebabkan kebisingan.
Maka penelitian ini berjudul Tingkat Kebisingan Lalu Lintas Kendaraan
Bermotor pada Ruas Jalan Simpang Empat Pusat Grosir Cililitan
Jakarta Timur.

II. RUMUSAN MASALAH


Dari pemaparan latar belakang diatas mengenai tingkat kebisingan pada jalar
raya simpang empat pusat grosir cililitan di jalan raya cawang jakarta timur
yang berjarak sejauh 100 meter kearah Jalan Mayjen Sutoyo, 100 meter
kearah Bandara Halim perdana kusuma, 100 meter kearah Jalan Dewi Sartika ,
100 meter kearah Jalan Raya Bogor maka dapat dirumuskan suatu
permasalahan yang menjadi kajian penulis yaitu : Bagaimana tingkat
kebisingan Lalu Lintas Kendaraan Bermotor pada Ruas Jalan raya
Simpang Empat Pusat Grosir Cililitan Jakarta Timur?
III. BATASAN MASALAH
Adapun batasan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah
1. Kebisingan kendaraan bermotor yaitu antara 60-65 dB (primer)
Kebisingan lingkungan yang disebabkan oleh kebisingan kendaraan
bermotor di sekitar jalan raya simpang empat pusat grosir cililitan jakarta
timur.(sekunder)
2. Alat Pengukur Tingkat Kebisingan Suara (Sound Level Meter)
3. Lokasi pengukuran
Lokasi pengukuran dalam penelitian ini dilakukan di jalan raya simpang
empat pusat grosir cilitan jakarta timur tepatnya pada 100 meter kearah
jalan mayjen sutoyo, 100 meter kearah bandara halim perdana kusuma,
100 meter kearah jalan dewi sartika, 100 meter kearah jalan raya bogor
dengan 400 titik pengukuran.

IV. TUJUAN PENELITIAN


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kebisingan lalu lintas
kendaraan bermotor pada ruas jalan raya simpang empat pusat grosir cililitan
jakarta timur dan memberikan solusi untuk mengurangi tingginya tingkat
kebisingan yang diterima apabila kebisingan yang diterima melebihi batas
yang telah ditentukan yaitu 60-65 dB (Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Hidup No. KEP-48/MENLH/11/1996)
V. MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk Mengetahui tingkat kebisingan yang terjadi tepatnya pada 100
meter kearah jalan mayjen sutoyo, 100 meter kearah bandara halim
perdana kusuma, 100 meter kearah jalan dewi sartika, 100 meter kearah
jalan raya bogor menjadi referensi bagi mahasiswa yang ingin melakukan
penelitian tentang tingkat kebisingan lalu lintas
2. Menjadi referensi dan sumber data bagi pemerintah untuk mengatasi
kebisingan yang terjadi agar tidak melampai batas ambang tingkat
kebisingan lalu lintas kendaraan bermotor yaitu sekitar 60-65 dB.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
I. Pengertian Kebisingan
Kebisingan berasal dari kata bising yang artinya semua bunyi yang
mengalihkan perhatian, mengganggu atau berbahaya bagi kegiatan sehari-hari,
bising pada umumnya didefinisikan sebagai bunyi yang tidak diinginkan dan
juga dapat menyebabkan polusi lingkungan (Cornwell 1998 dalam Djalante,
2012). Bising merupakan bunyi yang tidak dikehendaki karena tidak sesuai
dengan konteks ruang dan waktu sehingga menimbulkan gangguan
kenyamanan dan kesehatan manusia (Huboyo, 2008).
Kebisingan menurut KEPMENAKER, 1999 adalah semua suara/bunyi
yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan atau
alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan
pendengaran. Bunyi yang ditimbulkan oleh lalu lintas adalah bunyi yang tidak
konstan tingkat suaranya. Tingkat gangguan kebisingan yang berasal dari
bunyi lalu lintas dipengaruhi oleh tingkat suaranya, seberapa sering terjadi
dalam satu satuan waktu, serta frekewnsi bunyi yang dihasilkanya. Kebisingan
lalu lintas berasal dari suara yang dihasilkan dari kendaraan bermotor,
terutama dari mesin kendaraan, knalpot, serta akibat interaksi antara roda
dengan jalan. Kendaraan berat (truk, bus) dan mobil penumpang merupakan
sumber kebisingan utama di jalan raya (Setiawan dkk, 2001).
Tingkat intensitas bunyi dinyatakan dalam satuan bel atau desibel (dB). Polusi
suara atau kebisingan dapat didefinisikan sebagai suara yang tidak
dikehendaki dan mengganggu manusia. Sehingga beberapa kecil atau lembut
suara yang terdengar, jika hal tersebut tidak diinginkan maka akan disebut
kebisingan.

II. Kebisingan Jalan Raya


Klasifikasi jalan menurut Undang-undang 38/2004 beserta PP No.34/2006
tentang jalan dan Undang-undang 14/ 1993 tentang lalu-lintas dan angkutan
jalan beserta PP 43/ 1993 tentang prasarana transportasi, yang sesuai dengan
karakter perjalanan dan karakter kendaraan pengguna jalan ditinjau dari sisi
dimensi kendaraan, fungsi jalan yang direpresentasikan melalui kecepatan
perjalanan kendaraan, dan berat kendaraannya. Klasifikasi tersebut pada
dasarnya menjadi ukuran standar minimum untuk mewujudkan keselamatan
transportasi darat yang menggunakan jalan.

III. KENDARAAN BERMOTOR


Kendaraan diklasifikasikan karena kendaraan menghasilkan spektrum bunyi
yang berbeda, yang dimaksud kendaraan adalah unsur lalu lintas di atas roda.
Kendaraan yang beroperasi di jalan raya dapat dikelompokkan dalam beberapa
kategori
1. Kendaraan berat
Kendaraan berat adalah kendaraan bermotor dengan lebih dari 4 roda
meliputi bis dan truk
2. Kendaraan ringan
Kendaraan ringan adalah kendaraan dengan empat roda, kendaraan ini
meliputi mobil penumpang, microbus, pick up, dan truk kecil.
3. Sepeda motor
Kendaraan bermotor dengan 2 atau 3 roda, meliputi sepeda motor dan
kendaraan roda tiga

IV. ALAT UKUR KEBISINGAN.


Alat standar untuk pengukuran kebisingan adalah Sound Level Meter (SLM).
SLM dapat mengukur tiga jenis karakter respon frekuensi, yang ditunjukkan
dalam skala A, B, dan C. Skala A ditemukan paling mewakili batasan
pendengaran manusia dan respons telinga terhadap kebisingan, termasuk
kebisingan akibat lalu lintas, serta kebisingan yang dapat menimbulkan
gangguan pendengaran. Skala A dinyatakan dalam satuan dBA.
Gabriel (1999) dalam Feidihal (2007) menyebutkan bahwa alat untuk
mengukur kebisingan antara lain :
1. Sound Level Meter (SLM). Alat yang mengukur kebisingan antara 30-
130 dB(A) dan frekuensi 20-20.000 Hz.
2. Octave Band Analyzer. Alat yang digunakan untuk menganalisa
frekuensi suatu kebisingan yang dilengkapi dengan filter-filter menurut
Octave.
3. Narrow Band Analyzer. Alat ini digunakan untuk mengukur analisa
frekuensi yang lebih lanjut, disebut juga analisa spektrum singkat.
4. Tape Recorder High Quality. Alat ini digunakan untuk mengukur
kebisingan yang terputus-putus, dan bunyi yang diukur, direkam dan
dibawa ke laboratorium untuk dianalisa. Alat ini mampu mencatat
frekuensi antara 20-20.000 Hz.
5. Impact Noise Analyzer. Alat ini digunakan untuk mengukur kebisingan
impulsif.
6. Noise Logging Dosimeter. Alat ini mengukur kebisingan selama 24
jam yang dapat dianalisa dengan menggunakan komputer sehingga
langsung didapat grafik tingkat kebisingan.

Gambar 1. Alat Pengukur Tingkat Kebisingan Suara (Sound Level Meter)

Pengukuran kebisingan yang terdapat dalam Keputusan Menteri Negara


Lingkungan Hidup (KMNLH) No. 48 tahun 1996 dapat dilakukan dengan dua
cara yaitu :
1. Cara sederhana. Dengan sebuah Sound Level Meter, biasa diukur
tingkat tekanan bunyi dB (A) selama 10 menit untuk tiap pengukuran.
Pembacaan dilakukan setiap 5 detik.
2. Cara langsung. Dengan sebuah integrating Sound Level Meter yang
mempunyai fasilitas pengukuran LTMS, yaitu Leq dengan waktu ukur
setiap 5 detik, dilakukan pengukuran selama 10 menit.
Pemerintah Indonesia, melalui SK Menteri Negara Lingkungan Hidup No:
Kep.48/MENLH/XI/1996, tanggal 25 November 1996, tentang kriteria batas
tingkat kebisingan untuk daerah pemukiman mensyaratkan tingkat kebisingan
maksimum untuk outdoor adalah sebesar 60-65 dB.
Kebisingan lalu lintas berasal dari suara yang dihasilkan dari kendaraan
bermotor,terutama dari mesin kendaraan, knalpot, serta akibat interaksi antara
roda dengan jalan.Kendaraan berat (truk, bus) dan mobil penumpang
merupakan sumber kebisingan utama di jalan raya.Secara garis besar strategi
pengendalian bising dibagi menjadi tiga elemen yaitu pengendalian terhadap
sumber bising, pengendalian terhadap jalur bising dan pengendalian terhadap
penerima bising.
Getaran yang diakibatkan oleh transportasi darat, menurut penelitian di UK,
disebabkan oleh berbagai hal seperti pada Tabel 1 dan Tabel 2.

Tabel 2. Kendaraan Getaran (UK)


No Kendaraan (%)
1 Kendaraan berat 73%
2 Bis Kota 51%
3 Bis antar kota 42%
4 Sepeda Motor 21%
5 Mobil 12%
6. Gerakan mulai beralan 12 %
Tabel 2. menjelaskan bahwa tingkat getaran penyebab terjadinya kebisingan
yang paling berpengaruh adalah pada kendaraan berat yaitu sekitar 73% pada bis
kota sekitar 51% pada bis antar kota sekitar 42% pada sepeda motor 21% dan
getaran yang paling rendah adalah pada mobil yaitu 12%

Tabel 3. Penyebab Getaran selain Kendaraan (UK)


No Lainnya (%)
1 Beban Berat 73%
2 Kecepatan Tinggi 51%
3 Percepatan Tinggi 42%
4 Permukaan Jalan 36%
5 Pengereman 21%
Pada tebel 3 penyebab getaran selain kendaraan yaitu adalah beban
berat,kecepatan tinggi,percepatan tinggi,permukaan jalan,pengereman,dan
gerakan mulai berjalan. Hal-hal yang sudah dijelaskan diatas merupakan hal yang
ditemui ruas jalan raya simpang empat Pusat Grosir Cilitan Jakarta Timur

Tabel 4 Pembagian Zona Bising Oleh Menteri Kesehatan


No Zona Tingkat Kebisingan yang dianjurkan
1 A 35 - 45 dB
2 B 45 - 55 dB
3 C 50 60 dB
4 D 60 70 dB
Sumber: Peraturan Menteri Kesehatan No. 718/Men/Kes/Per/XI/1987
Keterangan :
Zona A = tempat penelitian, rumah sakit, tempat perawatan kesehatan dsb;
Zona B = perumahan, tempat pendidikan, rekreasi, dan sejenisnya;
Zona C = perkantoran, perdagangan, Pusat, dan sejenisnya;
Zona D = industri, pabrik, stasiun kereta api, terminal bis, dan sejenisnya.
BAB III
METODE PENELITIAN

Metode penelitian menggunakan metode kuantitatif yaitu suatu proses


menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa angka sebagai alat
untuk menemukan keterangan mengenai apa yang ingin kita ketahui.
I. METODE PEMILIHAN DAERAH PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan pada Ruas Jalan Raya Simpang Empat Pusat Grosir
Cililitan Jakarta Timur tepatnya pada jarak 100 meter dari perempatan jalan ke
arah cawang 100 meter ke arah kramat jati 100 meter kea rah halim dan 100
meter kearah dewisartika , hal ini dikarenakan ruas jalan sebagai jalur utama
kendaraan umum yang menuju daerah lain sehingga banyaknya jumlah
kendaraan yang melintas pada ruas jalan utama yang menyebabkan
peningkatan jumlah kendaraan bermotor.

Gambar 2. Lokasi Penelitian


Gambar 3. Lokasi Titik pengukuran

II. METODE PENGAMBILAN SAMPEL


Sampel yang diambil pada penelitian adalah semua kendaraan yang melintas
pada Ruas Jalan Raya Simpang Empat Pusat Grosir Cililitan Jakarta Timur
simana data pengukuran akan diambil dalam 40 titik sejauh 100 meter kearah
Cawang, 100 meter kearah Halim, 100 meter kearah Dewisartika, 100 meter
kearah Kramatjati. Data pengukuran diambil dengan metode pengambilan
secara sederhana yaitu 10 menit pengukuran paka pkul 06:00-07:00, 12:00-
13:00 dan pukul 18:00-17:00 dimana setiap 5 detik akan dibaca data
pengukurannya.

III. METODE PENGUMPULAN DATA


Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah terdiri dari data primer dan data
sekunder. Data primer yaitu data yang diperoleh dari hasil pengukuran tingkat
kebisingan udara dengan menggunakan Sound Level Meter (SLM) di Ruas Jalan
Raya Simpang Empat Pusat Grosir Cililitan Jakarta Timur sejauh 100 meter
kearah Cawang, 100 meter kearah Halim, 100 meter kearah Dewisartika, 100
meter kearah Kramatjati. Data primer dalam penelitian diperoleh dari volume lalu
lintas, dan pengukuran tingkat kebisingan. Data sekunder adalah data yang ada
pada instansi tertentu (Arikunto, 2010), yaitu berupa studi dokumen. Data
sekunder adalah data yang berhubungan dengan penelitian yang diperoleh dari
buku yang bisa dijadikan sebagai referensi dan berbagai instansi atau lembaga
terkait. Data sekunder pada penelitian ini di ambil dari data tingkat kebisingan
kendaraan bermotor menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.
KEP-48/MENLH/11/1996.

IV. TEKNIK PENGELOLAAN DATA


a. Pencatatan
Data yang diperoleh dari hasil pengukuran kebisingan akan dilakukan
pencatatan dan membuat kesimpulan dalam penyusunan laporan
penelitian.

No Waktu Titik 1 Titik 2 Titik Titik 40


Iukur Iukur Iukur Iukur
(dBA) (dBA) (dBA) (dBA)
1 07:00-07:10
2 07:30-07:40
3 13:00-13:10
4 13:30-14:00
5 18:00-18:10
6 18:30-19:00

b. Pengklasifikasian
Data yang diperoleh kemudian dipilih dan dikelompokan sesuai dengan
ketegori kategori penelitian. Pengelompokan ini bertujuan agar
mempermudah peneliti mengolah dan menganalisis data yang diperoleh
c. Mencari nilai tingkat kebisingan

Dengan :
Leq = Nilai kebisingan equivalen
T = Total periode waktu pencatatan
n = Banyaknya pencatatan
ti = Periode waktu pencatatan
Li = Nilai hasil pembacaan
V. METODE ANALISIS DATA
Menganalisis data yang di dapat dari penelitian ini menggunakan metode
Analisis Univariat yaitu Merupakan penyajian data secara deskriptif yang
hanya mempersoalkan satu variabel yang dalam penyajian berbentuk
table distribusi frekuensi dan analisa presentase
DAFTAR PUSTAKA

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep.Men-


48/MEN.LH/11/1996 Tentang Baku Mutu Tingkat Kebisingan. Menteri Negara
Lingkungan Hidup.