Anda di halaman 1dari 21

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan

rahmat, hidayah, serta karunia-Nya kepada kami semua sehingga kami dapat

menyelesaikan makalah agama ini dengan baik.

Penulisan makalah yang bersifat sederhana ini, dibuat berdasarkan tugas

kelompok yang di berikan oleh guru pembimbing kami yaitu Ibu Susilowati,

S.Ag dalam materi yang berjudul Akhlak Tercela.

Dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah, kami semua dapat

menyusun, menyesuaikan, serta dapat menyelesaikan sebuah makalah ini. Di

samping itu, kami mengucapkan rasa terima kasih kepada semua pihak yan telah

banyak membantu kami dalam menyelesaikan pembuatan sebuah makalah ini,

baik dalam bentuk moril maupun dalam bentuk materi sehinggadapat terlaksana

denan baik.

Kami, sangat menyadari sepenuhnya bahwa makalah kami ini memang

masih banyak kekurangan serta amat jauh dari kata kesempurnaan. Namun, kami

semua telah berusaha semaksimal mungkin dalam membuat sebuah makalah ini.

Di samping itu, kami sangatt mengharapkan kritik serta saran nya dari semua

teman-teman demi tercapainya kesempurnaan yang di harapkan dimasa akan

datang.

Pariaman, Juli 2017

Penulis,

i
1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................i

DAFTAR ISI ...................................................................................................ii

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ....................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah ...............................................................................2

1.3 Tujuan Masalah ...................................................................................2

1.4 Manfaat Masalah.................................................................................3

BAB II. PEMBAHASAN

2.1 Buruk Sangka .....................................................................................4

2.2 Gibah ..................................................................................................6

2.3 Larangan Berbuat Boros......................................................................9

2.4 Hasad...................................................................................................14

2.5 Namimah ............................................................................................16

BAB III. PENUTUP

3.1 Simpulan .............................................................................................19

3.2 Saran ...................................................................................................19

DAFTAR PUSTAKA

ii
2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perilaku Tercela adalah perbuatan yang tidak Diridhoi oleh Allah.

Seorang Menganiaya berarti menyiksa, menyakiti dan berbagai bentuk

ketidakadilan seperti menindas, mengambil hak orang lain dengan paksa dan

lain-lainnya. Aniaya termasuk perbuatan tercela yang dibenci Allah SWT

bahkan sesama manusia. Berbuat Aniaya berarti berbuat dosa. Oleh karena

itu, aniaya akan mendatangkan akibat-akibat buruk yang akan diterima oleh

pelakunya. Dewasa ini banyak sekali perilaku aniaya bahkan telah menjadi

trend dikalangan orang yang memiliki kedudukan tinggi. Mereka selalu

menilai seseorang dan memperlakukan seseorang sesuai dengan status

sosialnya. Bila seorang pejabat telah menilai seseorang itu jauh lebih rendah

dari status sosial yang di jabatnya, bukan tidak mungkin ia akan berbuat

seenaknya sendiri. Sungguh moral manusia sudah sangat rusak akibat

perilaku tercela tersebut.

Disisi lain, Al-Quran juga mengemukakan dan memberi peringatan

tentang akhlak-akhlak buruk atau tercela yang dapat merusak iman seseorang

dan pada akhirnya akan merusak dirinya serta kehidupan masyarakat. Akhlak

buruk itulah yang disampaikan oleh rasulullah yang ditunjukkan oleh kaum

Quraisy dahulu untuk memojokkan kebenaran yang disampaikan rasulullah

sebagaimana yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Quraisy seperti Abu jalal,

Walid bin mugirah, Akhnas bin syariq, Aswad bin abdi Yaquts. Oleh karena

1
itu, iman merupakan suatu pengakuan terhadap kebenaran dan harus

dipelihara serta di tingkat kan kualitas nya melalui sikap dan perilaku terpuji.

Sifat terpuji dan tercela yang tertanam dalam diri manusia selalu

berdampingan dan terlihat dalam perilaku sehari-hari. Apabila perilaku

seseorang menampilkan kebaikan, maka terpujilah sikap orang tersebut.

Sebaliknya, apabila perilaku seseorang menmpilkan kebaikan atau kejahatan,

maka tercelalah sikap orang tersebut. Sifat tercela sangat dilarang oleh Allah

SWT dan harus dihindari dalam pergaulan sehari-hari karena akan merugikan

diri sendiri maupun orang lain.

1.2. Rumusan Masalah

1.2.1. Jelaskan pengertian dari sifat Ghibah?

1.2.2. Jelaskan pengertian dari Prasangka Buruk?

1.2.3. Jelaskan pengertian dari sifat Hasad?

1.2.4. Jelaskan pengertian dari sifat Boros?

1.2.5. Jelaskan pengertian dari sifat Namimah?

1.3. Tujuan Masalah

1.3.1. Untuk mengetahui pengertian dari sifat gibah.

1.3.2. Untukl mengetahui pengertian dari berprasangka buruk.

1.3.3. Untuk mengetahui pengertian dari sifat hasad.

1.3.4. Untukn mengetahui pengertian dari berperilaku boros.

1.3.5. Untuk mengetahui pengertian dari sifat namimah.

1.4. Manfaat Masalah

2
1.4.1. Agar kita dapat mengetahui bagaimana sifat ghibah.

1.4.2. Agar kita mengetahui bagaimana prilaku buruk.

1.4.3. Agar kita mengetahui bagaimana sifat hasad.

1.4.4. Agar kita mengetahui bagaimana sifat boros.

1.4.5. Agar kita mengetahui bagaikmana penjelasan namimah.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Buruk Sangka


Buruk sangka adalah menyangka seseorang berbuat kejelekan atau

menganggap jelek tanpa adanya sebab-sebab yang jelas yang memperkuat

sangkanya. Dan perbuatan itu dapat membuat pelakunya mendapat dosa dari

Allah SWT. Dan dapat membuat hati seseorang kotor dan itu sangat di

sayangkan karna pusat kegiatan seorang ada di hati,jika hati seseorang bersih

dari noda dan dosa maka seluruh anggota tubuhnya akan bersih pula namun

jika hatinya kotor maka tubuhnya akan ikut ter kotori karna hati itu yang

menyebarkan darah yang mengalir dari jantung ke setiap sendi-sendi dalam

tubuh manusia dan bayangkan jika darah itu telah terkotori dengan dosa dan

noda.
Dalam hadis kudsi bahwasanya dari Abu Dzar Al-Ghifari

ra.Rasulullah bersabda tentang apa yang beliau riwayatkan dari rabb-nya

Azza wa Jalla, sesungguhnya Dia berfirman,

Wahai hamba-ku, sesungguhnya aku telah mengharamkan kezaliman

itu haram di antara kamu. Oleh karna itu, janganlah kamu saling Menzalimi.

(H.R Muslim)[1][4].

Buruk sangka itu termasuk perbuatan zalim karna kita telah

memberikan perasangka tidak baik pada sesuatu padahal sesuatu/seseorang

4
itu belum tentu buruk karena yang pantas mengadili sesuatu baik atau

buruknya hanya-lah Allah semata karena kita manusia sangat banyak

kekurangan dalam segala hal dan bagaimana kita mengatakan sesuatu itu

buruk sedangkan kita sendiri tidak tahu apakah kita sudah termasuk orang

yang terbebas dari dosa dan noda serta keburukan dalam hati kita serta hidup

kita dalam sehari-hari. Dan Allah juga telah berfirman dalam Al-Quran yang

berbunyi :

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan

purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa.

Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah

menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka

memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa

jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha

Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S Al-Hujurat :12)


Apalagi kalau kita berperasangka buruk pada masalah-masalah

Aqidah yang harus di yakini apa adanya. Buruk sangka dalam hal ini adalah

haram seperti yang telah Allah gambarkan dalam Al-Quran surah Al-hujurat

di atas bahwasanya Allah sangat melarang hal demikian karna dapat

menjerumuskan kita pada perbuatan dosa dan perbuatan dosa itu akan di

mintai pertanggung jawaban di akhirat kelak oleh Allah dan sebaiknya kita

berperasangka terhadap masalah-masalah kehidupan agar memiliki semangat

untuk menyelidikinya, dan perkara seperti ini di bolehkan karna dapat

5
membawa seseorang pada sesuatu yang bermanfaat bagi hidupnya dan orang

lain untuk sumber ilmu yang baru.

Rasulullah SAW bersabda :

"Hindarilah prasangka, karena prasangka itu berita yang paling bohong."

(HR. Muslim).

2.2 Gibah
Secara bahasa, gibah (menggunjing) adalah menceritakan keburukan

(keaiban) orang lain. Secara istilah berarti membicarakan kejelakan dan

kekurangan orang lain dengan maksud mencari kesalahan-kesalahannya, baik

jasmani, agama, kekayaan, akhlak ataupun bentuk lahiriyahnya. Gibah tidak

terbatas melalui lisan saja, namun bisa terjadi dengan tulisan atau gerakan

tubuh. Apabila hal itu berhubungan dengan agama seseorang, ia akan

mengatakan bahwa ia pembohong, fasik, munafik, dan lain-lain. Dalam

hadist dikatakan :

: : : .. ..

Artinya : Abu Hurairah r.a berkata Rasulullah SAW bersabda:

Tahukah kamu apakah gibah itu?Para sahabat menjawab: Allah dan

Rasulnya lebih mengetahui. Lalu Nabi bersabda: menyebut saudaranya

dengan apa yang tidak disukainya. Lalu Rasul ditanya: Bagaimanakah

pendapat engkau kalau itu memang (kejadian) sebenarnya dan apa

adanya? Nabi menjawab: Walaupun yang kamu katakan itu benar begitu,

itulah disebut Gibah. Akan tetapi jikalau menyebut apa-apa yang tidak

6
sebenarnya, berarti kita telah menuduhnya dengan kebohongan atau fitnah.

(H.R. Muslim).
Dari hadis diatas dapat kita ambil hikmah bahwasanya kita dilarang

menceritakan kejelekan saudara kita walaupun dibelakangnya, sekalipun

sesuatu itu benar-benar terjadi, sedangkan ia tidak menyukai jika ia

mendengar apa yang kita katakan kepada saudara kita yang lain dan dapat

juga mencemarkan nama baik saudara kita dalam bermasyarakat. Allah SWT

menggambarkan bahwa seseorang yang menggunjing itusama dengan

memakan daging bangkai yang tentunya sangat menjijikkan.


Apabila kita mendengar seseorang yang melakukan gibah atau

membicarakan hal-hal yang kotor lainya tentang seseorang maka kita

hendaklah menghindar karena kita dapat resiko yaitu mendapat dosa dari

Allah karena kita membiarkan suatu kemungkaran dan tanpa mencegahnya

bahkan kita ikut bergabung dalam perbuatan mungkar tersebut. Seperti

Firman Allah SWT (QS al Qhasshas ayat 55)


Islam melarang perbuatan ghibah tersebut dengan maksud untuk

menjaga keimanan serta menjaga dari perbuatan maksiat kepada Allah SWT,

karena sesungguhnya sesama muslim dilarang membuka aib


Tidak semua jenis gibah dilarang dalam agama. Ada beberapa jenis

gibah yang diperbolehkan dengan maksud untuk mencapai tujuan yang benar

dan tidak mungkin tercapai kecuali dengan gibah. Gibah yang diperbolehkan

tersebut adalah sebagai berikut:

a. Melaporkan perbuatan aniaya yang dilakukan oleh seseorang.

b. Usaha untuk mengubah kemungkaran dan membantu sesorang

keluar dari perbuatan maksiat.

c. Gibah untuk tujuan meminta nasihat.

7
d. Gibah untuk memperingatkan pada kaum muslim tentang suatu

fatwa.

e. Memberi penjelasan dengan suatu sebutan yang terkenal pada diri

seseorang meskipun itu sesuatu yang buruk, seperti si bisu, si

pincang dan lain-lain.

Contoh perilaku gibah antara lain :

a. Membicarakan kburukan orang lain melaui lisan, seperti

antartetangga yang satu dengan yang lainnya.

b. Membicarkan keburukan orang lain melalui bahasa isyarat.

c. Membicarakan keburukan orang lain melalui gerakan tubuh dengan

maksud mengolok-ngolok.

d. Membicarkan keburukan orang lain melalui media massa tanpa ada

maksud untuk kebaikan.

Karena gibah termasuk dosa dan sering membawa kepada permusuhan, maka

hindarilah kebiasaan bergibah. Berikut ini di antara cara supaya terhindar dari

perilaku gibah:

a. Selau mengingat bahwa perbuatan gibah adalah penyebab kemarahan

dan kemurkaan Allah SWT.

b. Selalu mengingat bahwasanya timbangan kebaikan gibah akan pindah

kepada orang yang digunjingnya.

c. Hendaknya orang yang melakukan gibah mengingat terlebih dahulu aib

dirinya sendiri dan segera berusaha memperbaikinya.

8
d. Menjauhi factor-faktor yang menimbulkan terjadinya gibah.

e. Senantiasa mengingatkan orang-orang yang melakukan gibah.

Adapun cara taubat bagi orang yang melakukan gibah, yakni sebagai

berikut :

a. Menarik kembali kabar bohong yang dia sampaikan dahulu.

b. Meminta maaf atau meminta untuk di halalkan kepada yang di fitnah.

c. Meminta ampun pada Allah atas perbuatanya (melakukan gibah).

Adapun pengaruh negatif yang ditimbulkan dari perilaku ghibah antara lain:

a. Menimbulkan fitnah

b. Menyebabkan perpecahan dan permusuhan

c. Merusak nama baik pada diri sendiri dan orang lain

d. Dapat merusak keimanan

2.3 Larangan Berbuat Boros (Konsumtif)


Boros adalah Perbuatan boros adalah gaya hidup gemar berlebih-

lebihan dalam menggunakan harta, uang maupun sumber daya yang ada demi

kesenangan saja. Dengan terbiasa berbuat boros seseorang bisa menjadi buta

terhadap orang-orang membutuhkan di sekitarnya,sulit membedakan antara

yang halal dan yang haram,mana boleh mana tidak boleh dilakukan, dan lain

sebagainya. Alloh SWT menyuruh kita untuk hidup sederhana dan hemat,

karena jika semua orang menjadi boros maka suatu bangsa bisa rusak/hancur.

Menurut para sahabat pengertian sikap boros dalam pandangan islam :


Ibnu Masud dan Ibnu Abbas mengatakan, Tabdzir (pemborosan)

adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.


Mujahid mengatakan, Seandainya seseorang menginfakkan seluruh

hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Namun

9
jika seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada

jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).


Qotadah mengatakan, Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah

mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang

keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan. (Tafsir Al Quran Al Azhim,

8: 474-475).
Ibnul Jauzi berkata bahwa yang dimaksud boros ada dua pendapat di

kalangan para ulama:

1. Boros berarti menginfakkan harta bukan pada jalan yang benar. Ini

dapat kita lihat dalam perkataan para pakar tafsir yang telah

disebutkan di atas.

2. Boros berarti penyalahgunaan dan bentuk membuang-buang harta.

Abu Ubaidah berkata, Mubazzir (orang yang boros) adalah

orang yang menyalahgunakan, merusak dan menghambur-

hamburkan harta. (Zaadul Masiir, 5: 27-28)

Dalam hadist Rasulullah saw bersabda :


:.. : ..

() .
.

Artinya : Abu Hurairah r.a berkata bahwa Rasulullah

SAW.bersabdasesungguhnya Allah SWT.menyukai tiga macam yaitu,kalau

10
kamu menyembah kepadan-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu

apapun.Dan supaya kamu berpegang teguh dengan ikatan Allah,dan

janganlah bercerai-berai.Dan Dia membenci bila kamu banyak bicara dan

banyak bertanya dan memboroskan harta. (H.R Muslim).

Dari hadist di atas mengandung enam hal ; tiga hal yang Allah sukai

dan tiga hal yang Allah di benci-Nya,yaitu :

1. Allah suka bila hamba-Nya menyembah padan-Nya dan tidak

menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

2. Allah suka kalau hamba-Nya berpegang teguh dengan ikatan Allah;

3. Allah suka kalau hamban-Nya tidak bercerai-berai

4. Allah membenci hamba-Nya yang banyak bicara

5. Allah membenci hamba-Nya yang banyak bertanya sesuatu tidak

berguna.

6. Allah membenci hamba-Nya yang memboros kan harta.

Dari isi kandungan hadis di atas kita akan kita fokuskan pada poin

enam yakni sesuai dengan pembahasan dalam topik yang akan kita bahas

tentang pemborosan harta atau lajimnya di sebut konsumtif karna

pembahasan tentang pemborosan ini sangat penting kita kaji karna dari dulu

sampai sekarang sikap pemborosan tidak pernah terlepas dalam kehidupan

manusia yang bermasyarkat karna kecenderungan manusia ingin memiliki

sesuatu walaupun kadang sesuatu itu tidak bermanfaat baginya dan melebihi

kebutuhan yang ia butuhkan,

11
Disamping mencela sikap kikir,Islam juga mencela orang yang suka

memboroskan hartanya terhadap hal-hal yang tidak berguna bagi dirinya

serta keluarganya karna dalam islam kita di anjurkan untuk senatiasan

membagikan harta kita kepada orang lain yang membutuhkan harta yang

miliki karna tidak semua manusia mendapat keberuntungan seperti manusia

lainya, jadi manusia yang memiliki harta yang lebih seharusnya membagikan

kepada saudaranya karna dalam Islam kita di ajarkan untuk saling melengkapi

dan saling memberi sehingga adanya perintah di wajibkanya jakat bagi orang-

orang yang memiliki harta yang sampai pada batas nisaf sesuai yang telah di

tentukan.
Dalam kitab Al-Quran telah di sebutkan larangan tentang bersikap

boros :

Artinya : Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat

akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan

janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan

setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. Al-Isra : 26-27)

Artinya : Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap

(memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

(QS: Al-A'raf Ayat: 31)

12
Allah sangat melarang perbuatan pemborosan yang dapat merugikan

diri sendiri secara moral dan merugikan saudara semuslim yang

membutuhkan harta dari muslim lainnya yang memiliki harta yang berlebih

dan mampu untuk ia lebih ia bagikan, namun dia lebih suka membelanjakan

hal-hal yang tidak ada manfaatnya.

Beberapa Contoh Sifat Boros dalam Kehidupan Sehari-Hari :

1. Gemar beli produk yang mahal-mahal karena gengsi

2. Suka belanja dengan kartu kredit tanpa melihat daya beli

3. Boros dalam mengunakan air bersih dan air minum

4. Pengeluaran lebih besar dari penghasilan (kecuali penghasilan rendah)

5. Suka menyisakan dan membuang-buang makanan

6. Senang membeli barang yang tidak perlu

7. Boros listrik, air, pulsa telepon, bensin, gas, dan lain-lain

8. Memiliki hobi yang mahal biayanya

Beberapa Efek/Dampak Buruk Perilaku/Gaya Hidup Boros :

1. Uang yang dimiliki cepat habis karena biaya hidup yang tinggi

2. Menjadi budak hobi (nafsu) yang bisa menghalalkan uang haram

3. Malas membantu yang membutuhkan & beramal shaleh

4. Selalu sibuk mencari harta untuk memenuhi kebutuhan

5. Menimbulkan sifat kikir, iri, dengki, suka pamer, dsb

6. Anggota keluarga terbiasa hidup mewah tidak mau jadi orang sederhana

7. Bisa stres atau gila jika hartanya habis

8. Bisa terlilit hutang besar yang sulit dilunasi

13
9. Sumber daya alam yang ada menjadi habis

10. Tidak punya tabungan untuk saat krisis

Oleh sebab itu mari kita hindari sifat boros dalam hidup kita agar kita

bisa hidup bahagia tanpa harta yang banyak bersama seluruh anggota

keluarga kita. Ada peribahasa hemat pangkal kaya, sehingga dengan menjadi

orang yang bergaya hidup sederhana walaupun kaya raya maka hartanya akan

berkah dan terus bertambahdari waktu ke waktu.

2.4 Hasad (Dengki)


Hasad (dengki) secara bahasa berarti menaruh perasaan benci, tidak

suka karena iri yang amatsangat kepada keberuntungan orang lain. Secara

istilah adalah usaha seseorang untuk mempengaruhi orang lain supaya tidak

senang terhadap orang yang memperoleh keberuntungan atau karunia Allah

SWT. Hasad biasanya timbul karena adanya permusuhan dan persainagn

untuk saling menjatuhkan. Hasad merupakan penyakit rohani yang sangat

berbahaya, karenanya harus dijauhi. Apabila dibiarkan, akan dapat merusak

dan menghilangkan semua amal kebaikan seseorang. Orang yang dengki

menyimpan sifat rakus, tamak,dendam, serta rasa permusuhan. Pendengki

selalu gelisah karena hatinya tidak rela jika melihat oranglain mendapat

kenikmatan dari Allah swt. Hal ini akan membahayakan kesehatan rohani

maupun jasmani.
Nabi Muhammad saw bersabda :
Artinya: dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah saw. bersabda:

Jauhkanlah dirimu dari sifat hasad karena sesungguhnya hasad itu

memakan kebaikan, ibarat api yang membakar kayu (H.R. Abu Dawud )

14
Hadist diatas memberikan pelajaran dan mengingatkan kepada kita,

betapa kejinya sifat hasad. Hasad tumbuh di hati seseorang apabila ia tidak

senang kepada keberhasilan orang lain. Sikap ini biasanya di dahului oleh

sikap yang menganggap dirinya paling hebat dan paling berhak mendapatkan

yang terbaik sehingga jika melihat ada orang lain yang kebetulan beruntung,

maka ia merasa disaingi.


Jadi, pada dasarnya hasad ini juga berasal dari sikap membesarkan diri

atau sombong. Apabila penyakit hasad (dengki) telah menghinggapi

seseorang, maka akan timbul perilaku yang berbahaya, sehingga dapat

menghancurkan nama baik diri-pribadi, orang tua, keluarga, dan sekolah.

Contoh perilaku hasad antara lain :

a. Tidak mnsyukuri setiap nikmat yang diberikan Allah SWT kepada

kita.

b. Tidak senang atas keberhasilan atau kebahagiaan orang lain.

c. Tertawa diats penderitaan orang lain.

d. Rasa tidak percaya diri atas kekurangan ataupun kelebihan yang

kita miliki.

e. Timbulnya keinginan untuk mencelakan orang lain.

Cara menghindari perialku hasad :

a. Berusaha untuk mensyukuri setiap nikmat yang diberikan Allah

SWT.

b. Menyadari bahwa perilaku hasad sangat berbahya dan harus dijauhi.

15
c. Menyadari bahwa perilaku hasad dapat menghapus segala kebaikan

yang telah dilakukan apabila masih suka menghasud.

d. Berpikir positif atas segala kejadian yang menimpa kita.

e. Tetap percaya diri dan optimis dengan kekurangan yang kita miliki.

2.5 Namimah (Mengadu Domba)

Secara bahasa, namimah berarti mengadu domba. Secara istilah,

namimah berarti mengadu domba atau menyebar fitnah antara seseorang

dengan orang lain dengan tujuan agar saling bermaafan. Menurut Imam

Zakaria Yahya bin Syarfin Nawawi dalam kitab Riyadus salihin, namimah

didefinisikan sebagai berikut :


Namimah adalah merekayasa omongan untuk menghancurkan

sesame manusia.
Namimah termasuk perbuatan tercela yang harus kita hindari dalam

kehidupan sehari-hari, sebagaimana larangan Allah SWT dalam Al Quran :


Artinya : Dan janganlah engkau patuhi orang yang suka bersumpah

dan suka menghina, suka mencela, yang kian ke mari menyebarkan fitnah,

yang merintangi segala yang baik, yang melampaui batas dan banyak dosa,

yang bertabiat kasar, selain itu juga terkenal kejahatannya, karena dia kaya

dan banyak anak.(QS. AL Qalam: 10-14)


Hadist nabi Muhammad saw juga mengancam bagi orang yang

berperilaku namimah tidak akan masuk surga.


Dari Khuzaifah r.a. ia mendengar bahwa Rasulullah saw bersabda:

Tidak akan masuk surga orang yang mengadu domba (menebar fitnah). (H

Muttfaqun Alaihi)
Dalam hadist lain, nabi Muhammad saw bersabda sebagai berikut :
Dari Ibnu Abbas r.a. bahwasanya Rasulullah saw melewati dua

makm (kuburan) lalu Nabi bersabda: Sesungguhnya dua orang yang ada di

16
kubur ini disiksa. Salah seorang di antaranya disiksa karena selalu mengadu

domba (menebar fitnah) dan yang satu lagi karena tidak bersih ketika

bersuci (dari buang air kecilnya). (HR. Bukhari dan Muslim)


Dari dalil-dalil diatas menunjukkan betapa besar dosa orang yang

mengadu domba (memfitnah). Sebab dengan adu domba, seseorang dapat

saling bertengkar, membunuh, bahkan berlanjut dengan permusuhan yang

berkepanjangan antarkeluarga, dan antarkelompok. Oleh karena itu, jangan

suka mengadu domba (memfitnah) dengan sesamanya.

Contoh perbuatan namimah antara lain sebagai berikut :

a. Mempunyai maksud yang tidak baik terhadap orang lain terutama

orang yang sedang diadu domba.

b. Terlalu mudah percaya pada orang lain tanpa mengetahui

kebenarannya.

c. Suka berkumpul/menggosip.

d. Menjadi provokator

Di antara cara menghindari perilaku namimah sebagai berikut :

a. Menyadari bahwa perilaku namimah menyebabkan seseorang tidak

masuk surga meskipun rajin beribadah.

b. Jangan mudah percaya pada seseorang yang memberikan informasi

negatif tentang orang lain

c. Menghindari faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perilaku

namimah, seperti berkumpul tanpa ada tujuan yang jelas, menggosip,

dan lain-lain.

17
Maka dari itu, kita sebagai manusia yang beragama janganlah mendekati

perbuatan perbuatan tercela diatas karena akamn merusak aqidah dan akhlak kita.

Dan agar kita bias selamat dunia dan akhirat.

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Berdasarkan dari referensi yang kami baca, maka dapat di simpulkan

bahwa didalam diri manusia terdapat dua sifat, yaitu sifat terpuji dan sifar

tercela. Namun pada makalah ini kami hanya membahas tentang sifat tertcela

yang di larang dalam islam. Banyak sekali sifat-sifat tercela yang ada tetapi

kami hanya mengambil beberapa diantaranya adalah buruk sangka, gibah,

boros, hasad, dan namimah. Perilaku tercela merupakan perilaku yang sangat

di benci oleh Allah Swt dan Nabi Muhammad saw karena sifat ini dapat

merusak jasmani dan rohani dari orang yang melakukan sifat tercela tersebut.

Allah telah berfirman di dalan kitab suci al-Quran dan Rasulullah saw pun

telah bersbda lewat hadist-hadistnya untuk menjauhi sifat tercela tersebut.

Karena sifat tercela dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.

3.2 SARAN

Sebaiknya kalian menjauhi sifat-sifat tercela tersebut, karena dapat

merusak aqidah kita. Dan agar kita bisa selamat dunia dan akhirat.

18
DAFTAR PUSTAKA

SyafeI Rachmat.2000. Al-hadis(Aqidah,Akhlak,Sosial dan Hukum.) Bandung. CV

Pustaka Setia

An-Nawawi.2001.Terjemahan Hadits Arbain. Jakarta.Al-Itishom Cahaya Umat.

blogspot.com/2011/06/hadits-tentang-buruk-sangka

Kamarudin. 2011. Makalah Perilaku Tercela. http//perilakutercela.com/. Di akses

pada tanggal 23 Oktober 2013

Lumrisaja. 2010. Perilaku Tercela. http://lumrisaja.blogspot.com/p/perilaku-

tercela.html. Di akses tanggal 25 Oktober 2013

Effendy, Mochtar. 2001. Ensiklopedi Agama dan Filsafat. Palembang: PT

Widyadara.

Bahreisy, Salim. 1987. Tarjamah Riadhus Sholihin II.Bandung: PT Alma Arif

Bandung.

Al-'Adawy, Musthafa. 2006.Fiqih Akhlak.Jakarta: Qisthi Press.

http://organisasi.org/allah-swt-melarang-perbuatan-boros-pemborosan-larangan-

agama-islam

19