Anda di halaman 1dari 9

1.

jelaskan tiga tujuan utama mengapa manajemen perlu merancang pengendalian internal yang efektif
Jawab:tiga tujuan utama dalam merancang suatu pengendalian internal yang efektif
Keandalan pelaporan keuangan entitas, seperti telah dibahas pada bab sebelumnya, manajemen bertanggung
jawab untuk menyususn laporan keuangan bagi investor, kreditur dan pihak-pihak lainnya.
Efektivitas dan efisiensi operasi entitas. Pengendalian dalam suatu entitas akan mendorong efektivitas dan
efisiensi penggunaan sumber-sumber secara optimal untuk mencapai tujuan entitas.
Kesesuaian dengan undang-undang dan peraturan-peraturan. Entitas-entitas, non public, dan organisasi nirlaba
berkewajiban untuk menaanti banyak undang-undang dan peraturan-peraturan

2. dari ketiga kategori tujuan pengendalian tersebut pada pertanyaan 8-1, manakah yang dipandang penting
oleh auditor dalam pengauditan laporan keuangan ?
Jawab: manajemen merancang system pengendalian internal untuk mencapai ketiga tujuan diatas. Dalam
pengauditan atas laporan keuangan dan audit atas pengendalian internal, auditor focus pada reliabilitas laporan
keuangan dan pengendalian atas operasi, serta kesesuaian dengan undang-undang dan peraturan-peraturan yang
dapat secara material mempengaruhi laporan keuangan

3. memperkenalkan delapan tahapan perencanaan audit. Tahapan manakah yang bersangkutan dengan
mendapatkan pemahaman pengendalian internal dan menilai risiko pengendalian? Tahapan manakah yang
mendahului tahapan mendapatkan pemahaman dan menilai risiko pengendalian dan tahapan mana yang
mengikutinya?
Jawab: tahapan pada 6 yaitu memahami pengendalian internal dan menilai risiko pengendalian .tahapan yang
mengikutinyai dan menilai risiko yaitu mengumpulkan informasi untuk menilai risiko kecurangan, dan menyusun
strategi audit keseluruhan dan program audit. Tahapan yang mana mendahului yaitu menetapkan, materialitas dan
menilai risiko audit yang dapat diterima dan risiko inheren, melaksanakan prosedur analitis pendahuluan, menilai
risiko bisnis klien, memperoleh pemahaman tentang bisnis dan bidang usaha klien dan penerimaan klien dan
pembuatan rencana audit awal.

4. apakah tanggung jawab auditor dalam mendapatkan pemahaman tentang pengendalian internal
Jawab: mengingat betapa pentingnya pemahaman auditor tentang pengendalian internal, maka hal ini dituangkan
dalam butir tersendiri dalam standar auditing. Standar auditing menyatakan tanggung jawab auditor yang berkaitan
dengan pengendalian internal entitas sebagai berikut: auditor harus memperoleh suatu pemahaman atas
pengendalian internal yang relevan dengan audit kemungkinan berhubungan dengan pelaporan keuangan, namun
tidak semua pengendalian yang berhubungan dengan pelaporan keuangan relevan dengan audit.

5. sebutkan enam tujuan audit golongan transaksi


Jawab: enam tujuan audit golongan transaksi
1. Adanya transaksi yang dicatat (keberadaan),2 Transaksi yang ada telah dicatat (kelengkapan), 3. Transaksi
yang tercatat dinyatakan pada jumlah yang benar (akurasi), 4. Transaksi digolongkan dengan benar
(klasifikasi), 5. Transaksi dapat dicatat pada tanggal yang benar (penentuan waktu), 6. Transaksi yang
dicatat kemudian disertakan dengan benar dalam arsip induk dan diikhtisarkan dengan benar (diposkan dan
diringkaskan)

6. sebutkan lima komponen pengendalian internal


Jawab: 1. lingkungan pengendalian, 2. proses penilaian risiko entitas, 3. System informasi yang relevan dengan
pelaporan keuangan, termasuk proses bisnis yang terkait; dengan komunikasi, 4. Aktivitas pengendalia; dan 5.
pemantauan terhadap pengendalian

7. apakah yang dimaksud dengan lingkungan pengendalian? Factor-faktor apakah yang harus dievaluasi
auditor untuk memahaminya?
Jawab: Lingkungan pengendalian terdiri dari tindakan, kebijakan, dan prosedur yang mencerminkan keseluruhan
sikap dari manajemen puncak, para direktur, dan pemilik dari suatu entitas mengenai pengendalian internal dan arti
penting nya bagi entitas itu.
Untuk kepentingan pemahaman dan penilaian lingkungan kendali, yang berikut adalah subkomponen yang paling
utama yang perlu dipertimbangkan oleh auditor.
8. Apakah hubungan antara kelima komponen pengendalian internal
Jawab: Lingkungan kendali adalah payung untuk keempat komponen lainnya. Tanpa suatu lingkungan kendali yang
efektif, keempat komponen lainnya tidak mungkin menghasilkan pengendalian internal yang efektif, dengan
mengabaikan mutu mereka
9. sebutkan tipe-tipe aktivitas pengendalian spesifik dan berilah satu contoh spesifik pengendalian dalam area
penjualan untuk setiap aktivitas pengendalian
Jawab:
1 Penisahan kewajiban yang memadai
2. Otorisasi yang sesuai dari transaksi dan aktivitas
Bila ada orang dalam suatu organisasi yang bias memperoleh atau membelanjakan asset dengan sesuka
hati, akan dihasilkan kekacauan sepenuhnya.
3. Dokumen dan catatan yang memadai
Jika departemen penerimaan mengisi suatu laporan penerimaan ketika material diperoleh, departemen
utang dagang dapat memverifikasi jumlah dan urutan pada faktur pemasok dengan membandingkannya dengan
informasi pada laporan penerimaan.
4. Pengendalian fisik atas asset dan catatan
Jika asset dibiarkan tidak terlindung, mereka bias dicuri. Jika catatan tidak cukup terlindung, mereka bias
dicuri, rusak, atau hilang. Kejadian tersebut merupakan proses akuntansi dan operasional normal bisa sangat
terganggu.
5. Pemeriksaan independen atas penampilan
System akuntansi terkomputerisasi dapat dirancang sedemikian sehingga banyak prosedur verifikasi
internal dapat diotomatisasi sebagai bagian dari system

10. pemisahan antara pertanggungjawab operasional dari pemegang buku dimaksudkan untuk mencegah
terjadinya berbagai tipe kesalahan penyajian yang berbeda dari tujuan pemisahan antara pemegang asset
dari pemegang buku. Jelaskan perbedaan tujuan kedua tipe pemisahan tugas tersebut.
Jawab:
pemisahan tugas. Pemberian tanggungjawab kepada individu dalam pengotorisasian dan pencatatan transaksi. Serta
penyimpanan asset. Pemisahan tugas dimaksudkan untuk mengurangi peluang kemungkinan individu manapun
untuk berada dalam suatu posisi yang memungkinkannya untuk melakukan dan menyembunyikan kesalahan atau
tugas dalam tugas normalnya.

11. untuk setiap pos di bawah ini berilah satu contoh pengendalian fisik yang dapat digunakan klien untuk
melindungi asset atau catatan:
1. Kas kecil
2. Penerimaan kas dalam penjualan eceran
3. Catatatan piutang usaha
4. Persediaan bahan baku
5. Peralatan pabrik
6. Surat berharga
Jawab:

pengendalian fisik kas kecil yang baik adalah cara menympan dana pada tempat yang benar-benar aman seperti
lemari besi, peti penyimpangan atau laci kas yang dikunci . penerimaan setiap bank harus dikirimkan ke bank
sepraktis mungkin.

12. apa yang dimaksud dengan pengecekan independen kinerja dan berilah lima contoh spesifik
Jawab: Pengecekan independen terhadap kinerja. Semua catatan mengenai aktiva yang ada harus dibandingkan (dicek)
secara periodik dengan aktiva yang ada secara fisik. Pengecekkan ini harus dilakukan oleh suatu unit organisasi
yang independen (selain unit fungsi penyimpanan, unit fungsi operasi dan unit fungsi pencatatan) untuk menjaga
objektivitas pemeriksaan. Contoh: 1.pengecekan independen atas kinerja dan penilaian ketepatan secara harta
kekayaan mencakup secara klerikal, 2 rekonsiliasi dapat membandingkan aktiva dengan catatan, 3 pengendalian
program komputer,4 tinjauan manajemen atas laporan rincian saldo rekening seperti : (laporan saldo,umur piutang
dan tinjauan penggunaan atas laporan yang dihasilkan komputer).

13. jelaskan empat tahapan yang dilakukan auditor ketika ia melakukan prosedur untuk mendapatkan
pemahaman tentang pengendalian internal?
Jawab:empat tahapan yang dilakukan auditor ketika ia melakukan prosedur untuk mendapatkan pemahaman
tentang pengendalian internal, yaitu pada tahap 1 untuk mendapatkan dan mendokumentasikan pemahaman tentang
dirancangan dan pengoperasian pengendalian internal, tahap ke 2 yaitu untuk menetapkan risiko pengendalian,
tahap ke 3 yaitu untuk merancang , melaksanakan , dan mengevaluasi pengujian pengendalian, dan yan terahir pada
tahp ke 4 yaitu menetapkan risiko dteeksi direncanakan dan pengujian substantive.
14. apa yang dimaksud dengan menelusuri jejak transaksi (transaction walkthrough)? Apa tujuannya?
Jawab: menelusuri jejak transaksi adalah suatu transaksi auditor memilih satu atau beberapa dokumen dari suatu
jenis transaksi dan menulusurnya sejak dari awal terjadinya transaksi sampai selesainya proses akuntansi. Dan
tujuannya itu pada setiap tahapan proses auditor mengajukan pertanyaan, aktivitas dan memeriksa dokumen dan
catatan yang telah dikerjakan,untuk memastikan bahwa pengendalian yang dirancang manajemen telah
dilaksanakan.

1. Resiko audit dan materialitas harus dipertimbangkan pada perencanaan dan pelaksanaan saldo audit atas
laporan keuangan sesuai dengan standar auditing. Resiko audit dan materialitas juga harus
dipertimbangkan bersama-sama dalam penentuan sifat, saat dan luasnya prosedur auditing
a. Resiko Audit dan Materialitas
Resiko Audit
Yang dimaksud dengan resiko audit adalah risiko kesalahan auditor dalam memberikan pendapat wajar tanpa
pengecualian atas laporan keuangan yang salah saji secara material. Sedangkan dalam SA seksi 312 No 2
mendefinisikan risiko audit merupakan risiko yang timbul karena auditor tanpa disadari tidak memodifikasi
pendapatnya sebagaimana mestinya, atas suatu laporan keuangan yang mengandung salah saji.
Auditor tidak menjamin bahwa laporan keuangan terbebas dari salah saji material, maka terdapat beberapa
resiko bahwa laporan keuangan terdapat salah saji material yang tidak terdeteksi oleh auditor. Untuk itu, auditor
harus mempertimbangkan resiko audit dalam perencanaan dan pelaksanaan saldo audit atas laporan keuangan.
Tujuannya adalah untuk membatasi risiko audit pada tingkat saldo akun sedemikian rupa sehingga pada akhir
proses audit, risiko audit dalam menyatakan pendapat atas laporan keuangan sebagai keseluruhan akan berada pada
tingkat yang rendah. Resiko audit berbanding terbalik dengan keyakinan yang memadai, semakin tinggi kepastian
yang ingin diperoleh auditor dalam menyatakan pendapat yang benar, maka semakin rendah resiko audit yang akan
diterima.
Selain itu, resiko audit merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertimbangan auditor dalam
menetukan cukup atau tidaknya bukti audit yang dikumpulkan. Terdapat hubungan terbalik antara risiko audit
dengan jumlah bukti yang diperlukan untuk mendukung pendapat auditor atas laporan keuangan. Semakin rendah
tingkat risiko audit yang ingin diperoleh auditor, maka semakin banyak bukti audit yang diperlukan. Karena
rendahnya risiko audit berarti tingginya tingkat kepastian yang diyakini auditor mengenai ketepatan pendapat atas
kewajaran laporan keuangan. Tingginya tingkat kepastian tersebut menuntut auditor untuk menghimpun bukti yang
lebih banyak.
Materialitas
Menurut FSAB materialitas merupakan besarnya suatu pengabaian atau salah saji informasi akuntansi yang
diluar keadaan disekitarnya, memungkinkan bahwa pertimbangan seseorang yang bergantung pada informasi
tersebut akan berubah atau terpengaruh oleh pengabaian atau salah saji tersebut. Materialitas memberikan suatu
pertimbangan penting dalam menentukan jenis laporan audit mana yang tepat untuk diterbitkan dalam suatu kondisi
tertentu.
Sama halnya resiko audit, material juga merupakan mempengaruhi pertimbangan auditor dalam menetukan
cukup atau tidaknya bukti audit yang dikumpulkan. Ada hubungan terbalik antara tingkat materialitas dan kuantitas
bukti audit yang diperlukan. Semakin rendah tingkat materialitas, maka semakin banyak kuantitas bukti yang
diperlukan. Maksudnya disini adalah rendahnya salah saji yang dapat ditolerensi menuntut auditor untuk
mengumpulkan bukti sehingga auditor yakin tidak ada salah saji material yang terjadi.
Risiko Audit dan Materialitas
Materialitas mendasari penerapan standar auditing, terutama yang berkaitan dengan penerapan standar
pekerjaan lapangan dan standar pelaporan, serta tercermin dalam laporan auditor bentuk baku. Materialitas dan
risiko sangat fundamental bagi perencanaan dan pelaksanaan saldo audit atas laporan keuangan. Risiko audit dan
materialitas, bersama dengan hal-hal lain, perlu dipertimbangkan dalam penentuan sifat, saat dan luasnya prosedur
auditing.
Auditor dapat menggunakan logika model risiko audit untuk mengambil keputusan tentang sifat, saat, dan
luasnya prosedur audit. Dalam model risiko audit, pertama, auditor menilai risiko bahwa salah saji material akan
terjadi pada suatu asersi. Kedua, auditor memperoleh pemahaman tentang struktur pengendalian intern yang
relevan dengan asersi tersebut dan dapat melaksanakan pengujian tentang efektivitas pengendalian. Setelah itu,
auditor membuat pertimbangan tentang risiko salah saji yang material dalam informasi keuangan tentang asersi
yang disajikan untuk audit serta menetapkan lingkup prosedur audit yang sesuai. Selanjutnya auditor dapat
merancang suatu rencana audit yang memperbolehkan tingkat risiko deteksi yang lebih tinggi.
Bedasarkan penejelasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa resiko dan materialitas
dipertimbangkan bersama ketika melaksanakan penugasan. Resiko Audit dan materialitas digunakan dalam
perencanaan penugasan dan juga dalam mengevaluasi pengumpulan bukti.
b. Komponen-Komponen Resiko Audit yang meliputi IR, CR, dan DR
IR (Inherent Risk) atau disebut juga Resiko bawaan. Resiko bawaan merupakan kerentanan suatu saldo akun
terhadap suatu salah saji material, dengan asumsi bahwa tidak terdapat pengendalian yang terkait. Risiko ini
dipertimbangkan pada tahap perencanaan audit. Jika auditor menyimpulkan bahwa kemungkinan besar akan ada
salah saji, dengan mengabaikan pengendalian internal, auditor akan menyimpulkan bahwa risiko inheren adalah
tinggi. Pengendalian internal diabaikan dalam penetapan risiko ini karena pengendalian internal ini diperhitungkan
secara terpisah dalam model risiko audit sebagai risiko pengendalian. Akun yang terdiri dari jumlah yang berasal
estimasi akuntansi cenderung mengandung risiko lebih besar dibandingkan dengan akun yang sifatnya relatif rutin
dan berisi data berupa fakta.
CR (Control Risk) atau Risiko Pengendalian. Risiko penegndalian merupakan suatu salah saji yang material yang
dapat dalam asersi yang tidak dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu oleh pengendalian suatu
perusahaan. Risiko pengendalian tidak pernah mencapai keyakinan penuh bahwa semua salah saji material akan
dapat dideteksi ataupun dicegah. Risiko pengendalian merupakan fungsi dari efektivitas struktur pengendalian
internal suatu perusahaan. Semakin efektif struktur pengendalian internal perusahaan klien, semakin kecil risiko
pengendaliannya. Penetapan risiko pengendalian didasarkan atas kecukupan bukti audit yang menyatakan bahwa
struktur pengendalian internal suatu perusahaan adalah efektif. Pada saat perencanaan audit, auditor menentukan
besarnya risiko pengendalian yang direncanakan untuk setiap asersi yang signifikan.
DR (Detection Risk) atau disebut juga risiko deteksi. Yang dimaksud risiko deteksi risiko bahwa auditor tidak dapat
mendeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu perusahaan. Risiko deteksi merupakan fungsi efektvitas
prosedur audit dan penerapannya oleh auditor. Risiko ini timbul sebagian karena ketidakpastian yang ada pada
waktu auditor tidak memeriksa keseluruhan saldo akun untuk mengumpulkan bukti asersi lainnya, dan sebagian
lagi karena ketidakpastian lain yang ada, walaupun saldo akun tersebut diperiksa semuanya. Ketidakpastian lain
semacam itu timbul karena auditor mungkin memilih suatu prosedur audit yang tidak sesuai, menerapkan secara
keliru prosedur yang semestinya, atau menafsirkan secara keliru hasil audit. Ketidakpastian lain ini dapat dikurangi
sampai pada tingkat yang dapat diabaikan melalui perencanaan dan supervisi memadai dan pelaksanaan praktik
audit yang sesuai dengan standar pengendalian mutu.
c. Hubungan diantara komponen-komponen tersebut
Hubungan antara ketiga komponen tersebut diatas dapat dilihat melalui pengujian kuantitaif yaitu dalam
model risiko dibawah ini:
AR = IR X CR X DR
Dimana AR adalah Audit Risk (Resiko Audit). AR merupakan fungsi dari IR, unsur yang tidak dicegah
oleh pengendalian dan tidak terdeteksi oleh auditor. Konsep resiko audit terutama penting saat auditor
mempertimbangkan tingkat yang tepat untuk resiko deteksi ketika merencanakan prosedur audit untuk mengaudit
sutu asersi. Semakin rendah penilaian risiko bawaan dan risiko pengendalian, maka semakin tinggi tingkat yang
dapat diterima untuk risiko deteksi.
Sebagai contoh, asumsikan seorang auditor telah membuat penilaian risiko berikut untuk asersi saldo
akun tertentu, katakanlah akun persediaan.
AR= 10%, IR= 70%, CR=50%, maka resiko deteksi dapat dihitung sebagai berikut.

Risiko deteksi sebesar 29%, berbarti auditor perlu merencanakan pengujian subtantif dengan suatu cara
yang akan menghasilkan risiko yang dapat diterima bahwa terdapat kemungkinan kegagalan sekitar sebesar 29%
dalam mendeteksi Salah saji yang material.

2. Dalam setiap penugasan audit, seorang auditor harus melakukan evaluasi terhadap Sistem Pengendalian
Internal dari auditee. Jelaskan secara singkat dan kaitkan dengan standar auditing yang ada, untuk apa
seorang auditor melakukan evaluasi tersebut dan akan menghasilkan apa kegiatan evaluasi tersebut!

Sesuai dengan SA seksi 150 yang bersumber dari PSA no 1, dalam Standar Pekerjaan Lapangan ke-2
Menyebutkan: Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh unutk merencanakan audit dan
menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.

Dan berdasar PSA no 9 (SA Seksi 319) yang memberikan panduan tentang pengimplementasian standar
pekerjaan lapangan yang kedua, dapat kita tarik beberapa tujuan seorang auditor melakukan evaluasi terhadap SPI,
antara lain adalah sebagai berikut:

Untuk memahami sikap, kesadaran, dan tindakan manajemen dan dewan komisaris terhadap lingkungan intern.

Untuk merencanakan audit dengan melaksanakan prosedur untuk memahami desain pengendalian yang relevan

dengan audit atas laporan keuangan, dan apakah pengendalian intern tersebut dioperasikan.
Pada akhirnya adalah untuk arsesi laporan keuangan.
Pengendalian yang berkaitan dengan tujuan operasi dan kepatuhan mungkin relevan dengan suatu audit jika kedua

tujuan tersebut berkaitan dengan data yang dievaluasi dan digunakan auditor dalam prosedur audit , namun terdapat
juga pengendalian yang tidak relevan. Untuk itu diperlukan adanya evaluasi pengendalian oleh auditor.
Untuk mempertimbangkan dampak pengendalian intern entitas terhadap audit

Sedangkan hal yang dihasilkan dari kegiatan evaluasi tersebut, adalah sebagai berikut:

Dengan mengevaluasi SPI, auditor dapat menghasilkan perencanaan dan peaksanaann prosedur audit yang sesuai

dengan kondisi lapangan suatu perusahaan

Setelah melakukan perencanaan, auditor dapat mengetahui risiko pengendalian untuk asersi yang terdapat dalam

saldo akun, golongan transaksi, dan komponen pengungkapan dalam laporan keuangan

Setelah memperoleh pemahaman dan menaksir risiko pengendalian, auditor dapat mencari pengurangan lebih

lanjur tingkat risiko pengendalian taksiran untuk asersi tertentu.

Dengan mengevaluasi pengendalian, auditor dapat mengetahui tipe salah saji potensia, faktor-faktor yang

berdampak terhadap risiko salah saji material, desain pengujian substantif yang cocok.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat kita lihat bahwa pengevaluasian pengendalian merupakan
langkah awal dari sebuah audit dan hal yang sangat penting. Dari hasil evaluasi tersebutlah auditor mampu
merecanakan dan melaksankan prosedur yang sesuai, mengetahui resiko audit ataupun tingkat salah sajinya, yang
akhrinya mempengaruhi pertimbangan auditor dalam mengumpulkan bukti audit yang andal dan kompeten, yang
selanjutnyan bukti audit dijadikan dasar untuk menyatakan pendapat kewajaran atas laporan keuangan.

3. Jika seorang akuntan publik diminta oleh petugas pajak/fiskus (pejabat negara) untuk mengungkapkan
informasi nilai laba yang sesungguhnya untuk dikenakan pajak yang akuntan publik ketahui sewaktu
mengaudit laporan keuangan. Apakah akuntan publik harus memenuhi permintaan fiskus tersebut?
Sementara akuntan publik harus menjaga kerahasiaan dari klien. Berikan penjelasan anda dan kaitkan
dengan undang-undang dan standar auditing yang ada!
Menurut saya, seorang akuntan publik harus memenuhi permintaan fiskus untuk mengungkapkan informasi
nilai laba yang sesungguhnya yang diketahui sewaktu mengaudit laporan keuangan. Jika dilihat dari aturan-aturan
terkait yaitu antara lain:
Dalam SA seksi 339 atau PSA no. 15 disebutkan bahwa Kertas kerja adalah milik auditor. Namun hak dan
kepemilikan atas kertas kerja masih tunduk pada pembatasan yang diatur dalam Aturan Erika Kompartemen
Akuntan Publik yang berkaitan dengan hubungan yang bersifat rahasia dengan klien.
Delapan prinsip etika akuntan atau kode etik akuntan, dapat dilihat pada prinsip ke-6 tentang kerahasiaan
menyebutkan Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan jasa
profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada
hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk mengungkapkannya. Anggota mempunyai kewajiban untuk
menghormati kerahasiaan informasi tentang klien atau pemberi kerja yang diperoleh melalui jasa profesional yang
diberikannya. Kewajiban kerahasiaan berlanjut bahkan setelah hubungan antar anggota dan klien atau pemberi jasa
berakhir
UU no 6 tahun 1983 tentang ketentuan umum dan tata cara perpajakan STTD UU No 16 tahun 2009, yaitu:
- Pasal 35 Ayat (1) Apabila dalam menjalankan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan diperlukan
keterangan atau bukti dari bank, akuntan publik, notaris, konsultan pajak, kantor administrasi, dan/atau pihak
ketiga lainnya, yang mempunyai hubungan dengan Wajib Pajak yang dilakukan pemeriksaan pajak, penagihan
pajak, atau penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan, atas permintaan tertulis dari Direktur Jenderal Pajak,
pihak-pihak tersebut wajib memberikan keterangan atau bukti yang diminta.
- Pasal 35 Ayat (2) Dalam hal pihak-pihak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terikat oleh kewajiban
merahasiakan, untuk keperluan pemeriksaan, penagihan pajak, atau penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan,
kewajiban merahasiakan tersebut ditiadakan, kecuali untuk bank, kewajiban merahasiakan ditiadakan atas
permintaan tertulis dari Menteri Keuangan
- Pasal 35A ayat (1) Setiap instansi pemerintah, lembaga, asosiasi, dan pihak lain, wajib memberikan data dan
informasi yang berkaitan dengan perpajakan kepada Direktorat Jenderal Pajak yang ketentuannya diatur dengan
Peraturan Pemerintah dengan memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2).
-Pasal 35A ayat (2) Dalam hal data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak mencukupi, Direktur
Jenderal Pajak berwenang menghimpun data dan informasi untuk kepentingan penerimaan negara yang
ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah dengan memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 35 ayat (2).
Dalam UU RI no 5 Tahun 2011 tentang akuntan publik yaitu:
- Pasal 29 ayat (1) Akuntan Publik dan/atau Pihak Terasosiasi wajib menjaga kerahasiaan informasi yang
diperolehnya dari klien, ayat (2) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan apabila digunakan
untuk kepentingan pengawasan oleh Menteri.
Berdasarkan beberapa penjelasan aturan-aturan terkait kerahasiaan klien diatas maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa walaupun dalam kode etik akuntan, seorang akuntan publik harus menjaga kerahasiaan
informasi klien dan tidak boleh mengungkapkan informasi tanpa persetujuan klien, namun kewajiban merahasiakan
informasi klien tersebut akan gugur jika bukti tersebut diperlukan untuk pemeriksaan pajak, penagihan pajak, atau
penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan, yang dalam hal diatas diperlukan untuk pengenaan pajak. Maka
seorang akuntan wajib mengungkapkan informasi yang diketahui selama proses audit laporan keuangan, meskipun
tanpa meminta ijin terlebih dahulu oleh klien. Tetapi untuk menjaga hubungan baik dengan klien. Ada baiknya jika
seorang akuntan dalam mengungkapkan informasi kepada pihak fiskus itu mengkomunikasikan atau
memberitahukan kepada klie baik secara langsung maupun via telepon.

4. Jawaban
a. Jelaskan tentang prosedur apa yang dilakukan oleh auditor untuk meyakini penyajian di akun modal di
atas!
Prosedur yang dilakukan oleh auditor untuk meyakini penyajian akun modal pada akhir periode tahun 2008
adalah pengujian substantif. Program pengujian substantif ini berisi prosedur audit yang dirancang untuk mencapai
tujuan pemeriksaan terhadap akun modal diatas,prosedur-prosedur tersebut antara lain:
I. Prosedur Awal Audit
1. Mengusut saldo ekuitas yang tercantum di neraca ke saldo akun ekuitas dalam buku besar.
2. Menghitung kembali saldo akun ekuitas di dalam buku besar.
3. Melakukan review terhadap perubahan struktur modal ditempatkan perseroan dalam jumlah dan sumber posting
dalam akun modal saham.
4. Mengusut saldo awal akun ekuitas ke kertas kerja tahun yang lalu.
5. Melakukan rekonsiliasi akun kontrol ekuitas dalam buku besar ke buku pembantu ekuitas.
II. Melakukan prosedur analitik terkait dengan akun ekuitas diatas, dalam hal ini akun saham perusahaan tahun
2008, membandingkan dengan hasil prosedur analitik data tahun lalu.
III. Pengujian terhadap transaksi rinci modal saham
1. Memeriksa dokumen yang mendukung transaksi penambahan modal dasar yang semula Rp.22.500.000.000,-
ditingkatkan menjadi Rp.67.500.000.000,-
2. Memeriksa dokumen yang mendukung transaksi penambahan modal disetor yang semula senilai
Rp.5.800.000.000,- ditingkatkan menjadi Rp.17.300.000.000,-.
3. Memeriksa dokumen yang mendukung transaksi perubahan struktur modal yang ditempatkan oleh Tuan
Christiano dan Ronaldo.
IV. Penyajian terhadap akun rinci
1. mempelajari notulen rapat pemegang saham dan direksi atas perubahan struktur modal.
2. Meminta surat atas perubahan struktur modal yang ada di tangan klien dan melakukan penghitungan dan inspeksi
terhadap sertifikat surat atas perubahan struktur modal tersebut.
3. Melakukan konfirmasi terhadap Tuan Christiano dan Ronaldo atas perubahan struktur perubahan modalnya.
4. Membandingkan metode penilaian ekuitas atas modal saham yang digunakan oleh klien dengan prinsip akuntansi
berterimas umum di Indonesia.
5. Membandingkan nilai saham dengan harga pasar surat berharga.
V. Memeriksa verifikasi mengenai penyajian dan pengungkapan atas penambahan dan perubahan struktur modal
saham diatas
b. Bukti apa saja yang harus dicollect oleh auditor untuk mendukung prosedur yang akan dilakukan!
1. Bukti yang berasal dari data akuntansi. Data-data akuntansi tersebut antara lain antara lain Jurnal atas
transaksi modal diatas (penambahan serta perubahan strukturnya); Buku besar atas modal diatas; Buku
pembantu akun modal atas nama Tuan Christiano dan Ronaldo; PSAK dan aturan-aturan terkait lainnya
yang berlaku bagi PT. IMA; Kertas Kerja; hasil perhitungan-perhitungan analitik.

2. Bukti pendukung lainnya antara lain Akta Pendirian tahun 2003; dokumen perubahan anggaran dasar tahun
2007; bukti setor saham a.n Tuan Christiano dan Ronaldo; Notulen rapat pemegang saham dan direksi pada
tahun 2007 atas perubahan Anggaran Dasar PT. IMA; Hasil konfirmasi oleh Tuan Christiano dan Ronaldo;
Observasi pada SPI PT. IMA; informasi hasil audit tahun sebelumnya.
PENGENDALIAN INTERNAL

1. Auditor harus menilai sistem pengawasan internal yang berlaku didalam perusahaan klien. Hal ini
dilakukan dengan tujuan : Sebagai dasar untuk menentukan luasnya pemeriksaan dan prosedur
pemeriksaan yang akan dilakukan
2. Tujuan utama auditor dalam mempelajari dan menilai sistempengendalian internal yang berlaku adalah :
untuk menentukan sifat, waktu dan luasnya pemeriksaan yang akan dilakukan
3. Sebelum mendasarkan dirinya pada sistem pengendalian internal, auditor harus mendapat suatu tingkat
keyakinan bahwa prosedur-prosedur pengendalian jnternal benar-benar digunakan dan beroperasi seperti
yang direncanakan. Auditor bisa mendapat keyakinan ini melalui : Compliance test (Test Kesesuaian)
4. Makanakah prosedur pengendalian dibawah ini yang paling baik untuk mencegah kecurangan atas
penerimaan kas yang berasal dari piutang yang telah dihapus? Penghapusan piutang harus dengan
persetujuan pejabat yang ditunjuk setelah mempertimbangkan rekomendasi dari bagian kredit dan
dokumen-dokumen pendukungnya
5. Berikut bukan unsur pokok sistem pengendalian internal adalah : Mutu Karyawan yang sesuai dengan
tanggungjawabnya I Praktek yang sehat I Struktur organisasi yang memisahkan tanggungjawabfungsional
secara tegas I Mendorong efisiensi dan dipatuhinya kebijakan manajemen puncak
6. Berikut cara yang biasanya digunakan oleh auditor untuk mengumpulkan informasi tentang internal control
kliennya, kecuali : Standar internal control questionre I Uraian tertulis I Analisi Jabatan I System flow chart
7. Berikut bukan tugas internal auditor adalah Memeriksa secara obyektif laporan keuangan perusahaan untuk
kepentingan pihak luar perusahaan I menentukan apakah kekayaan perusahaan telah dipertangungjawabkan
dari kerugian I menentukan sampai seberapa jauh ketaatan terhadap kriteria , kebijaksanaan, rencana dan
prosedur yang telah ditetapkan
8. Pengendalian internal atas penerimaan kas akan menjadi lemah apabila petugas penerima piutang wesel
dari langganan juga :
9. Dalam menilai sistem pengendalian internal, perhatian auditor yang paling utama akan menitikberatkan
pada :
10. Internal accounting control pada dasarnya berhubungan dengan organisasi dan prosedur2 serta catatan yang
terkait dengan pengamanan harta kekayaan dan : Bisa dipercaya catatan keuangan