Anda di halaman 1dari 16

REFERAT

DIAGNOSIS BANDING MATA MERAH

Oleh:
Alifah Taqiyyaa
Assica Permata A.H
Ekky Nabhania Fikry

Program Studi Profesi Dokter


Periode 28 Agustus 14 September 2017

Preseptor :
Primawita Oktarima, dr., SpM., Mkes
Dr. Karmelita Sari, dr., SpM(K)

PROGRAM STUDI PROFESI DOKTER


BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN
RUMAH SAKIT MATA CICENDO
BANDUNG
2017
Pendahuluan
Mata merah merupakan keluhan utama yang paling sering muncul pada penderita
penyakit mata. Keluhan mata merah ini bervariasi dari yang ringan sampai yang disertai
penurunan visus. Mata terlihat merah bila sklera yang ditutupi oleh konjungtiva menjadi merah.
Hiperemi konjungtiva terjadi akibat pelebaran atau pembendungan pembuluh darah superfisial
mata. Pada konjungtiva terdapat pembuluh darah :
1. Arteri konjungtiva posterior yang memperdarahi konjungtiva
2. Arteri siliar anterior yang memberikan cabang:
- Arteri episklera yang terletak diatas sklera masuk ke dalam bola mata dan
bergabung dengan arteri siliaris posterius longus membentuk arteri sirkularis mayor.
- Arteri perikornea yang memperdarahi kornea.

Tabel 1. Perbedaan injeksi berdasarkan tanda klinisnya


Injeksi konjungtiva Injeksi siliar / Injeksi episklera
perikorneal
Asal konjungtiva posterior Siliar Siliar longus
Memperdarahi konjungtiva bulbi kornea segmen anterior intraocular

ungu
Warna merah ke sentral merah gelap
Arah aliran ke perifer tidak bergerak ke perifer
Konjungtiva ikut bergerak tidak ikut bergerak
digerakkan kornea / iris
Kelainan konjungtiva - glaukoma
Sekret + -
menurun
Penglihatan normal sangat turun
tidak menciut
Diberi epinefrin menciut tidak menciut
1:1000

Selain melebarnya pembuluh darah, mata merah dapat terjadi karena pecahnya salah satu dari
kedua pembuluh darah diatas sehingga darah tertimbun di bawah konjungtiva.Keadaan ini
disebut perdarahan subkonjungtiva.
Keluhan mata merah memiliki banyak diagnosis banding, sehingga untuk penegakan
diagnosis perlu diperhatikan gambaran klinisnya.Keluhan mata merah dibagi menjadi mata
merah dengan visus normal dan mata merah dengan visus terganggu akibat keruhnya media
penglihatan.
Mata merah dengan visus normal :
1. Mata merah tidak merata / sebagian:
a. Episkleritis dan skleritis d. Pseudopterigium
b. Perdarahan subkonjungtival e. Konjungtivitis flichten
c. Pterigium f. Pinguekula iritans
2. Mata merah merata:
a. Konjungtivitis akut - konjungtivitis hemoragik
i. Konjungtivitis bakterial akut
- konjungtivitis blenore - Demam
- konjungtivitis gonore faringokonjungtiva
ii. Konjungtivitis viral iii. Konjungtivitis jamur
- keratokonjungtivitis iv. Konjungtivitis alergi
epidemik - Konjungtivitis vernal
- keratokonjungtivitis - Konjungtivitis flikten
herpetik b. Konjungtivitis kronik
- keratokonjungtivitis new - Trachoma
castle
Mata merah dengan visus menurun
1. Keratitis
a. Bakterial
b. Viral:
- keratitis herpetic
- keratitis herpes zoster
- keratitis dendritik
- keratitis disiformis
c. Jamur
d. Lagoftalmus
e. Neuroparalitik
f. Keratokonjugtivitis sika
2. Ulkus kornea
a. sentral : bakterial, viral, jamur
b. Marginal : katarak simplek, ulkus cincin, ulkus mooren
3. Glaukoma akhir akut
4. Iridosiklitis
5. Endoftalmitis
6. Panoftalmitis

I. Mata merah dengan visus normal


A. Mata merah dengan visus normal dan merah tidak merata
1. Episkleritis
Merupakan reaksi radang jaringan ikat vaskular yang terletak antara konjungtiva dan
permukaan sklera
Anamnesis: mata merah, mengganjal, mata kering, nyeri, dapat ada keluhan silau.
Pemeriksaan:
Penatalaksanaan:
Serangan awitan 48 jam, steroid topikal per 30menit pada 2hari pertama, 4x/hari
selama 1 hari, 2x/hari selama 1 hari, dan 1x/hari selama 2 hari. Jika serangan berulang
ringan dapat diberikan tetes mata artifisial dan dapat diberikan obat anti-inflamasi non
steroid sistemik seperti ibuprofen 3x200 mg selama10 hari.

2. Skleritis
Merupakan reaksi peradangan dari sklera, biasanya disebabkan kelainan atau penyakit
sistemik. Lebih sering disebabkan penyakit jaringan ikat, pasca herpes, sifilis dan gout.
Skleritis diklasifikasikan menjadi skleritis anterior dan posterior. Skleritis anterior
dibagi lagi menjadi tipe difus, nodular dan nekrotikans. Tipe nekrotikans dibagi lagi
sesuai dengan ada atau tidaknya peradangan.
Anamnesis: mata merah, bilateral, nyeri hebat (lebih hebat daripada episkleritis) yang
dapat menyebar ke dahi, alis dan dagu,dapat disertai fotofobia, pedih dan lakrimasi.
Pemeriksaan:
Kemerahan setempat atau generalisata, chemosis, dan dapat berwarna biru saat edema
hilang (pada tipe difus); terdapat nodul (pada tipe nodular), terdapat injeksi dekat
limbus dan terangkatnya episklera, sklera, konjungtiva, dan kornea secara ireguler pada
tipe granulomatous nekrotikans.
Penatalaksanaan:
- Steroid topical: untuk gejala dan edema non-necrotizing
- Obat anti-inflamasi non steroid sistemik: pada non-necrotizing
- Injeksi steroid periokular: pada non-necrotizing dan necrotizing
- Steroid sistemik (prednisolone 1-1,5 mg/kg/hari)

3. Perdarahan subkonjungtiva
Dapat terjadi pada keadaan dimana pembuluh darah rapuh (umur, hipertensi,
arteriosclerosis, konjungtivitis hemoragik, anemia, pemakaian antikoagulan, dan batuk
rejan).
Dapat juga terjadi akibat trauma.
Anamnesis: mata merah tanpa penurunan penglihatan,lambat, Kadang didahului
serangan batuk berat atau bersin yang terlalu kuat.
Pemeriksaan:
Pada konjungtiva bulbi terdapat area warna merah terang
Penatalaksanaan:
Tidak diperlukan pengobatan, perdarahan akan hilang sendiri dalam waktu 2-3 minggu.
4. Pterigium
Merupakan pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat degeneratif dan
invasif.
Anamnesis: terdapat selaput pada mata berbentuk segitiga, biasanya di sisi nasal atau
temporal konjungtiva meluas kedaerah kornea.
Pemeriksaan:
Pada konjungtiva bulbi tampak pterigium yang tumbuh menyebar ke kornea,daerah
pterigium berwarna merah jika terjadi iritasi dan meradang akibat dari faktor risiko
seperti paparan debu,udara panas dan sinar matahari.
Penatalaksanaan:
Jika terjadi gangguan penglihatan : operatif
Pencegahan rekurensi: penderita menggunakan kacamata untuk mengurangi paparan,
jika terdapat tanda radang dapat diberikan airmata buatan dan jika perlu dapat diberikan
steroid.

5. Pseudopterigium
Merupakan perlekatan konjungtiva dengan kornea yang cacat.
Anamnesis: terdapat kelainan kornea sebelumnya, seperti ulkus kornea.
Pemeriksaan:
- Perlekatan konjungtiva dengan kornea hanya pada apexnya.
- Letak pseudopterigium pada daerah konjungtiva yang terdekat dengan proses
kornea sebelumnya.
6. Pinguekula iritans
Pinguekula merupakan benjolan pada konjungtiva bulbi yang ditemukan pada orang
tua terutama yang matanya sering mendapat rangsang sinar matahari, debu, dan angin.
Anamnesis :
Benjolan kecil kuning pada konjungtiva bulbi yang mata sering mendapat rangsangan
dan mengalami iritasi.
Pemeriksaan :
Benjolan pada konjungtiva bulbi dekat dengan limbus,biasanya lebih banyak terjadi
pada limbus nasal daripada temporal. Dapat terlihat kalsifikasi.
Penatalaksanaan:
Umumnya tidak diperlukan pengobatan, tetapi dapat diberikan obat anti radang jika
terjadi peradangan.

7. Konjungtivitis flikten
Merupakan konjuntivitis nodular yang disebabkan alergi terhadap bakteri atauantigen
tertentu.
Anamnesis:
Mata merah unilateral/bilateral, bintikputih dikelilingi hiperemis,nyeri,berair, fotofobia.
Terdapat riwayat blefaritis aktif, konjungtivitis bakteri akut dan defisiensi dietetic
(factor pencetus).
Terdapat penyakit yang mendasari: tuberculosis, infeksi Staphylococcus aureus.
Pemeriksaan:
Pada konjungtiva terdapat bintikputih yang dikelilingi daerah hiperemis,sekumpulan
pembuluh darah yang mengelilingi suatu tonjolan bulat warna kuning kelabu seperti
microabses yang biasanya terletakdidaerah limbus. Biasanya abses ini menjalar kearah
sentral atau kornea dan terdapat tidak hanya satu.

B. Mata merah dengan visus normal dan merah merata


Konjungtivitis
Konjungtivitis adalah peradangan pada kornea.Etiologinya dapat disebabkan oleh bakteri,
jamur, virus, iritatif (kimiawi) ataupun karena reaksi alergi.Gejala penting konjungtivitis
adalah sensasi benda asing yaitu sensasi tergores atau panas, sensasi penuh di sekitar mata,
gatal dan fotofobia.
Tanda Klinis :
- Hiperemia (injeksi konjungtiva): dilatasi fokal / difus dari pembuluh darah konjungtiva
- Chemosis (edema konjungtiva)
- Lakrimasi (berair mata)
- Sekret (eksudat pada permukaan konjungtiva, mukoid serosa / kataralis mukopurulen,
purulent): serosa pada infeksi virus, mukopurulen pada infeksi bakteri, purulen pada
infeksi gonokokus.
- Papil (nodul pembuluh darah dikelilingi oleh edema dan sel radang)
Folikel (nodul limfoid dengan vaskularisasi)
Pseudomembran (koagulan inflamasi)
- Granuloma (nodul berisi sel radang kronis dengan proliferasi fibrovaskular)
- Phlycten (nodul berisi sel radang kronis dekat limbus)

1. Konjungtivitis bakterial hiperakut (dan subakut)


a. Konjungtivitis purulen (disebabkan N.gonorrhoeae, N.kochii dan N.meningitidis)
ditandai banyak eksudat purulen. Yang paling sering dan berbahaya adalah
konjungtivitis gonore. Gonokokus merupakan kuman yang sangat patogen, virulen dan
bersifat invasif sehingga reaksi radang terhadap pennyakit ini sangat berat. Dapat
ditemukan pembengkakan palpebra dan konjungtiva, copious purulent discharge dan
gejala konstitusi. Ulkus dapat terjadi di bagian manapun di kornea. Terapi dilakukan
dengan memberikan antibiotik topical dan sistemik. Kedua mata diirigasi dnegan air
hanget an larutan crystalline benzylenicilin bila ada discharge purulen dan harus
langsung proteksi mata sebelah yang sehat
b. Konjungtivitis mukopurulen (catarrhal) akut ditandai timbulnya hiperemia
konjungtiva secara akut dan jumlah eksudat mukopurulen sedang yang mengakibatkan
kedua kelopak melekat terutama waktu bangun pagi. Penyebab paling umum adalah
Streptococcus pneumoniae pada iklim sedang dan Haemophilus aegyptus pada iklim
panas.
2. Konjungtivitis viral
Konjungtivitis yang disebabkan oleh virus sering ditemukan dan biasanya disebabkan
adenovirus atau suatu infeksi herpes simpleks.Keadaan ini berkisar antara penyakit berat
yang dapat menimbulkan cacat sampai infeksi ringan yang cepat sembuh sendiri.
Demam faringokonjungtival
Ditandai oleh demam 38,3-40o C (102-104oF), sakit tenggorokan dan konjungtivitis
folikuler pada satu atau dua mata.Yang khas adalah limfadenopati preaurikuler (tidak
nyeri tekan).Sindrom ini mungkin tidak lengkap hanya terdiri atas satu atau dua tanda
utama (demam, faringitis dan konjungtivitis).Umumnya disebabkan oleh adenovirus
tipe 3 dan kadang-kadang oleh tipe 4 dan 7.Keadaan ini lebih sering pada anak-anak
daripada orang dewasa dan dapat menular melalui kolam renang yang berchlor. Tidak
ada pengobatan spesifik karena akan sembuh sendiri umumnya sekitar 10 hari.
Konjungtivitis virus herpes simpleks
Biasanya merupakan penyakit anak kecil, merupakan keadaan luar biasa yang ditandai
pelebaran pembuluh darah unilateral, iritasi , sekret mukoid, sakit dan fotofobia ringan.
Yang khas adalah terdapat sebuah nodus preaurikuler yang nyeri tekan.
Pada neonatus, setiap infeksi HSV harus diobati dengan antivirus sistemik (acyclovir)
dan dipantau di rumah sakit.Jika terdapat pada anak diatas 1 tahun atau pada orang
dewasa umumnya sembuh sendiri dan tidak perlu terapi.Namun antivirus topikal dan
sistemik harus diberikan untuk mencegah terkenanya kornea.
Konjungtivitis New Castle
Penyakit yang jarang didapat, ditandai perasaan terbakar, gatal, sakit, merah, lakrimasi,
dan (jarang) penglihatan kabur.Keadaan ini dijumpai berupa epidemi kecil diantara
pekerja peternakan unggas atau ayam yang menangani unggas yang sakit atau diantara
dokter hewan atau petugas laboratorium yang bekerja dengan vaksin hidup atau virus.
Keratokonjungtivitis epidemika
Disebabkan oleh adenovirus tipe 8,19,29 dan 37.Pada orang dewasa terbatas pada
bagian luar mata, namun pada anak-anak mungkin terdapat gejala sistemik infeksi virus
seperti demam, sakit tenggorokan, otitis media dan diare.
3. Konjungtivitis jamur
Konjungtivitis candida
Konjungtivitis yang disebabkan Candida spp (biasanya Candida albicans) adalah
infeksi yang jarang terjadi.Umumnya tampak sebagai bercak putih.Keadaan ini dapat
timbul pada penderita diabetes atau pasien yang terganggu kekebalannya, sebagai
konjungtivitis ulseratif atau granulomatosa.
4. Konjungtivitis alergi
Radang akibat reaksi alergi terhadap non infeksi, dapat berupa reaksi cepat seperti
alergi biasa dan reaksi lambat sesudah beberapa hari kontak. Merupakan riwayat antibodi
humoral terhadap alergen.Biasanya dengan riwayat atopi.
` Gejala utama : radang (merah, sakit, bengkak dan panas, gatal, selalu berulang dan
menahun. Karakteristik lainnya terdapat papil besar pada konjungtiva, datang bermusim
dan dapat mengganggu penglihatan.Hasil pemeriksaan laboratorium dapat ditemukan sel
eosinofil, plasma, limfosit dan basofil.
Pengobatan dengan cara menghindari faktor pencetus alergi dan memberikan astringen,
sodium kromolin, steroid topikal dosis rendah. Dapat pula kompres dingin untuk mengatasi
edema. Pada kasus berat beri antihistamin dan steroid sistemik.

II. Mata Merah dengan Visus Menurun


1. Keratitis
Pembentukan parut akibat ulserasi kornea adalah penyebab utama kebutaan dan
gangguan penglihatan di seluruh dunia, namun kebanyakan dapat dicegah. Radang pada
kornea biasanya diklasifikasi dalam lapis kornea yang terkena, seperti keratitis superfisial
dan interstitial atau profunda.
Etiologi:
1. Eksogen: bakteri,virus, jamur, parasit
2. Endogen: tidak ditemukan organisme, biasanya karena alergi dan kurangnya air
mata.
Dilihat secara umum maka anamnesis pada pasien keratitis adalah: mata merah, nyeri,
fotofobia/silau, penglihatan menjadi kabur terutama apabila telah terjadi kerusakan kornea
yang letaknya ditengah-tengah kornea, lakrimasi.
Pada pemeriksaan:
- Visus menurun - Pupil, lensa, iris dalam batas normal
- Konjungtiva bulbi: injeksi siliar - Pada etiologi virus: sensibilitas
- Kornea: infiltrate, fluoresin test (+/- kornea menurun
), ulkus, plak hipopion, desematocel - Pada etiologi bakteri: sekret (+)
- COA: sedang, flare (-), sel (-)
- Pada etiologi jamur: lesi satelit, plak
hipopion
Laboratorium: kerokan lesi
Pengobatan:
- Antibiotika sesuai hasil pemeriksaan laboratorium
- Sikloplegik
- Antiviral
Jenis-jenis keratitis:
1. Keratitis punctata
Adalah keratitis yang terkumpul di daerah membran bowman, dengan infiltrat
berbentuk bercak-bercak halus. Penyebabnya antara lain oleh herpes simpleks, herpes
zoster, virus, dan vaksinia. Biasanya bilateral dan dapat berjalan kronis tanpa
terlihatnya gejala kelainan konjungtiva , ataupun tanda akut, biasanya terjadi pada
dewasa muda.
2. Keratitis bakterial
Faktor predisposisi yang menyebabkan keratitis bakterial adalah pemakaian kontak
lensa, trauma, pengobatan mata yang terkontaminasi, mengubah bentuk dari permukaan
kornea.
Penyebabnya antara lain oleh Neisseria gonorrhoeae, Corynebacterium diphteriae,
Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, dan Enterobakteriacea.
3. Keratitis fungi
Biasanya terjadi karena adanya suatu trauma pada kornea oleh ranting pohon, daun, dan
bagian tumbuhan lainnya.
Penyebab dari keratitis fungi:
a. Filamentous fungal keratitis (oleh Fusarium atau Aspergillus): suatu luka berwarna
putih keabuan dengan batas yang tidak jelas
b. Candida keratitis: suatu luka berwarna kuning keputihan dengan supuratif yang
pada sehingga sulit dibedakan dengan keratitis.
Pada mata akan terlihat infiltrat yang berhifa dan lesi satelit bila terletak dalam stroma.
Diagnosis pasti dibuat dengan pemeriksaan KOH 10% terhadap kerokan kornea yang
menunjukkan adanya hifa.
4. Keratitis virus
Penyebabnya antara lain karena herpes simpleks dan herpes zoster. Yang disebabkan
herpes simpleks dibagi dalam 2 bentuk, yaitu epitelial dan stromal. Pada epitelial
kerusakan terjadi akibat pembelahan virus dalam sel epitel yang akan mengakibatkan
kerusakan sel dan membentuk tukak kornea superfisial. Stromal diakibatkan reaksi
imunologik tubuh pasien sendiri terhadap virus yang menyerang. Bila terkena ganglion
cabang oftalmik maka akan terlihat gejala-gejala herpes zoster pada mata, dimana tidak
akan melampaui garis median kepala. Biasanya mengenai orang dengan usia lanjut.
Gejala yang terlihat adalah rasa sakit pada daerah yang terkena dan badan terasa hangat.
Penglihatan berkurang dan merah. Pada kelopak akan terlihat vesikel yang tersebar
sesuai dermatom yang dipersarafi saraf trigeminus dan infiltrat pada kornea.
5. Keratitis alergika: Keratokonjungtivitis flikten
Radang kornea dan konjungtiea yang merupakan reaksi imun yang mungkin sel
mediated pada jaringan yang sudah sensitif terhadap antigen. Dapat ditemukan infiltrat
dan neovaskularisasi pada kornea. Gambaran khasnya adalah dengan terbentuknya
papul atau pustula pada kornea atau konjungtiva. Biasanya bersifat bilateral yang
dimulai dari daerah limbus, didapatkan benjolan putih kemerahan dikelilingi daerah
konjungtiva yang hiperemia.
6. Keratitis lagoftalmus
Terjadi akibat lagoftalmus yakni kelopak mata tidak dapat menutup menutup sempurna
sehingga terjadi kekeringan kornea dan konjungtiva yang memudahkan terjadinya
infeksi.1
7. Keratokonjungtivitis sika
Adalah keadaan keringnya permukaan kornea dan konjungtiva.1,3,4 Pasien akan
mengeluh mata gatal, mata seperti berpasir, silau dan penglihatan dapat kabur.

2. Ulkus Kornea
Ulkus kornea merupakan hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian
jaringan kornea.Penyebabnya antara lain bakteri, jamur, herpes simpleks, ulkus mooren.
Pada kokus gram positif akan memberikan gambaran tukak yang terbatas, berbentuk bulat
atau lonjong, berwarna putih abu-abu pada anak tukak yang supuratif. Bila disebabkan
oleh pseudomonas maka tukak akan terlihat melebar dengan cepat, bahan pulrulen
berwarna kuning hijau terlihat melekat pada permukaan tukak. Bila disebabkan jamur
maka infiltrat akan berwarna abu-abu dikelilingi infiltrat halus disekitarnya (fenomena
satelit).
Ulkus kornea akan memberikan gejala mata merah, sakit mata ringan hingga berat,
fotofobia, penglihatan menurun, dan kadang kotor. Bila proses pada tukak berkurang maka
akan terlihat berkurangnya rasa sakit, fotofobia, berkurangnya infiltrat pada tukak dan
defek epitel kornea menjadi bertambah kecil. Diagnosis laboratorium adalah
keratomalasia dan infiltrat sisa karat benda asing. Pemeriksaan jamur dilakukan dengan
sediaan hapus yang memakai larutan KOH. Pada pewarnaaan fluoresin defek pada kornea
akibat ulkus akan berwarna hijau ditengahnya.
Secara umum ulkus diobati sebagai berikut:
- tidak boleh dibebat, karena akan menaikkan suhu sehingga akan berfungsi sebagai
inkubator
- sekret yang terbentuk dibersihkan 4 kali sehari
- diperhatikan kemumgkinan terjadinya glaukoma sekunder
- debridement sangat membantu penyembuhan
- diberi antibiotik yang sesuai dengan penyebab. Biasanya diberi lokal kecuali berat.
Pembedahan dilakukan bila:
- dengan pengobatan tidak sembuh
- terjadinya jaringan parut yang mengganggu penglihatan

3. Glaukoma
Gejala glaukoma sudut tertutup akut yakni mata merah dengan penglihatan menurun
mendadak. Kondisi ini terjadi karena tekanan intraokular meningkat mendadak. Terjadi
pada pasien dengan sudut bilik mata sempit. Pada glaukoma primer sudut tertutup akut
terdapat anamnesa yang khas sekali berupa nyeri pada mata yang mendapat seangan yang
berlangsung beberapa jam dan hilang setelah tidur sebentar. Melihat pelangi/halo sekitar
lampu dan keadaan ini merupakan stadium prodromal. Terdapat gejala gastrointestinal
berupa mual dan muntah. Kadang-kadang riwayat mata sakit disertai penglihatan yang
menurun sudah dapat dicurigai telah terjadinya glaukoma akut.Biasanya serangan ini
diprovokasi oleh lebarnya pupil (tempat gelap). Biasanya dapat terjadi bilateral.
Glaukoma akut dibangkitkan lensa merupakan glaukoma akibat katarak intumesen
dapat dalam bentuk glaukoma akut kongestif. Gejalanya sangat sama dengan gejala
glaukoma akut kongestif dengan perbedaan terdapatnya bilik mata yang dangkal pada
kedua mata sedang pada katarak intumesen kelainan sudut hanya terdapat pada satu mata.
Pada katarak intumesen sumbu anteroposterior lensa makin panjang sehingga
mengakibatkan blokade pupil, akibatnya terjadi pendorongan iris sehingga pangkal iris
akan menutup saluran trabekulum yang akan mengakibatkan bertambahnya bendungan
cairan mata sehingga terjadi glaukoma akut kongestif. Pada keadaan ini pemberian
pilokarpin bertujuan membuka bilik mata tersebut.

4. Iridosiklitis akut
Uveitis anterior merupakan peradangan pada traktus uveal anterior yaitu yang
melibatkan ris dan badan silier anterior (pars plicata). Iridosiklitis merupakan inflamasi
pada ris dan badan silier, sedangkan iritis hanya melibatkan ris saja. Dibedakan dalam
bentuk granulomatosa akut-kronis dan nongranulomatosa akut-kronis. Penyebab dari iritis
tidak dapat diketahui dengan melihat gambaran kliniknya saja. Iritis dan iridosiklitis dapat
merupakan suatu manifestasi klinik reaksi imunologik terlambat, dini atau sel mediated
terhadap jaringan uvea anterior. Pada kekambuhan atau rekuren terjadi reaksi imunologik
humoral. Bakteriemia ataupun viremia dapat menimbulkan iritis ringan, yang bila
kemudian terdapat antigen yang sama dalam tubuh akan dapat timbul kekambuhan.
Penyebab uveitis anterior akut nongranulomatosa dapat oleh trauma, diare kronis,
penyakit Reiter, herpes simpleks, sindrom Bechet, sindrom Posner Schlosman,
pascabedah, infeksi adenovirus, parotitis, influenza, dan klamidia. Nongranulomatosa
uveitis anterior kronis dapat disebabkan artritis reumatoid dan Fuchs heterokromik
iridosiklitis. Granulomatosa akut terjadi akibat sarkoiditis, sifilis, tuberkulosis, virus,
jamur (histoplasmosis), atau parasit (toksoplasmosis).
Uveitis dapat terjadi mendadak atau akut berupa mata merah dan sakit, ataupun datang
perlahan dengan mata merah dan sakit ringan dengan penglihatan turun perlahan-lahan.
Iridosiklitis kronis merupakan episoda rekuren dengan gejala akut yang ringan atau
sedikit. Keluhan pasien dengan uveitis anterior akut mata sakit, merah, fotofobia,
penglihatan turun ringan dengan mata berair, dan mata merah. Keluhan sukar melihat
dekat pada pasien uveitis akibat ikut meradangnya otot-otot akomodasi.
Pupil kecil akibat rangsangan proses peradangan pada otot sfingter pupil dan
terdapatnya edem iris. Pada proses radang akut dapat terjadi miopisasi akibat rangsangan
badan siliar dan edem lensa.
Terbentuk sinekia posterior, miosis pupil, tekanan bola mata yang turun akibat
hipofungsi badan siliar, tekanan bola mata dapat meningkat, melebarnya pembuluh siliar
dan perilimbus.Pada yang akut dapat terbentuk hipopion di bilik depan, sedang pada yang
kronis terlihat edema makula dan kadang-kadang katarak.
Diperlukan pengobatan segera untuk mencegah kebutaan. Pengobatan pada uveitis
anterior adalah dengan steroid yang diberikan pada siang hari bentuk tetes dan malam hari
bentuk salep. Steroid sistemik bila perlu diberikan dalam dosis tunggal seling sehari yang
tinggi dan kemudian diturunkan sampai dosis efektif. Steroid dapat juga diberikan
subkonjungtiva dan peribulbar. Pemberian steroid untuk jangka lama dibagi dapat
mengakibatkan timbulnya katarak, glaukoma dan midriasis pada pupil.

5. Endolftalmitis
Endoftalmitis merupakan peradangan berat dalam bola mata, biasanya akibat infeksi
setelah trauma atau bedah, atau endogen akibat sepsis. Berbentuk radang supuratif di dalam
rongga mata dan struktur di dalamnya. Peradangan supuratif di dalam bola mata akan
memberikan abses di dalam badan kaca. Penyebab endoftalmitis supuratif adalah kuman dan
jamur yang masuk bersama trauma tembus (eksogen) atau sistemik melalui peredaran darah
(endogen).
Endoftalmitis eksogen dapat terjadi akibat trauma tembus atau infeksi sekunder pada
tinclakan pembedahan yang membuka bola mata. Endoftalmitis endogen terjadi akibat
penyebaran bekteri, jamur, ataupun parasit dari fokus infeksi di dalam tubuh.Bakteri yang
sering merupakan penyebab adalah stafilokok, streptokok, pneumokok, pseudomonas dan
basil sublitis.Jamur yang sering mengakibatkan endoftalmitis supuratif adalah aktinomises,
aspergilus, fitomikosis sportrikum dan kokidioides.
Antibiotik topikal dan sistemik ampisilin 2 gram/hari dan kloramfenikol 3 gram/hari.
Antibiotik yang sesuai untuk kausa bila kuman adalah stafilokok adalah basitrasin
(topikal), metisilin (subkonjuntiva dan IV). Sedang bila pnemokok, streptokok dan
stafilokok adalah penisilin G (top, subkonj dan IV). Untuk Neiseria: penisilin G (top.
Subkonj. dan IV). Pseudomonas diobati dengan gentamisin; tobramisin dan karbesilin
(top. Subkonj. dan IV). Batang gram negatif dengan gentamisin; tobramisin dan
karbesilin (top. subkonj. dan IV).

6. Panoftalmitis
Panoftalmitis merupakan peradangan seluruh bola mata termasuk sklera dan kapsul
Tenon sehingga bola mata merupakan rongga abses. Infeksi ke dalam bola mata dapat
melalui peredaran darah (endogen) atau perforasi bola mata (eksogen), dan akibat tukak
kornea perforasi.
Pengobatan panoftalmitis ialah dengan antibiotika dosis tinggi dan bila gejala radang
sangat berat dilakukan segera eviserasi isi bola mata. Penyulit panoftalmitis dapat
membentuk jaringan granulasi disertai vaskularisasi dari koroid. Panoftalmitis dapat
berakhir dengan terbentuknya fibrosis yang akan mengakibatkan ftisis bulbi.
REFERENSI

1. Ilyas, S. 2005.Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.


2. Vaughan, Daniel G., et al. 2000.Oftalmologi Umum. Jakarta : Widya Medika
3. Mangione, S. 2000.Physical Diagnosis Secrets. Philadelphia : Hanley&Belfus, Inc.
4. Miller, Stephen J. 1990. Parsons Disease of The Eye. 18th Edition. New York :
Churchill Livingstone.
5. Bowling, B. 2016. Kanskis Clinical Ophthamology: A Systematic Approach. 8th
Edition. Elsevier.
6. American Academy of Ophtalmology. 2014. Intraocular Inflammation and Uveitis.