Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

SISTEM HUKUM SOSIALIS

DISUSUN OLEH :
ARGA YUGAN DARU NIM. 13222717
ARIF YULIYANTO NIM. 13222718

DIPLOMA IV PERTANAHAN
SEKOLAH TINGGI PERTANAHAN NASIONAL
YOGYAKARTA
2013/2014
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Konsep hukum sosialis sulit didefinisikan. Istilah sosialisme memiliki arti
berbeda bagi masing-masing orang. Meskipun semua gerakan sosialis mempunyai
karakteristik umum, yaitu lebih mementingkan kebaikan kolektif diatas kepentingan
individu.
Dasawarsa terakhir kehidupan sosialisme Eropa Timur, di mata Barat hukum
sosialis lebih sering diasosiasikan dengan penindasan, bukan dengan dua karakteristik
utama aktualnya, yaitu bahwa hukum sosialis berpijak pada teori hukum Marxis
Leninis dan memiliki hubungan saling terkait dengan ekonomi terencana.
Dalam kehidupan sehari hari kita kerap kali menyamakan persepsi pengertian
sosialis dan komunis. Kita perlu mempelajari hal ini lebih dalam padahal kedua paham
itu berbeda meskipun memiliki beberapa kesamaan.

1.2. Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang diatas, maka dapa dirumuskan beberapa


permasalahan, yaitu :

1. Apakah yang dimaksud Teori Hukum Sosialis Marxis-Leninis?


2. Bagaimana proses terbentuknya Sistem Hukum Sosialis?
3. Bagaimanakah persebaran Sistem Hukum Sosialis?
4. Apakah perbedaan Sosialis dan Komunis?
5. Apakah keuntungan dan kerugian dari Sistem Hukum Sosialis?

1.3. Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah untuk mengetahui apakah
itu sistem hukum sosialis, bagaimana ciri dari sistem hukum tersebut, dimana sajakah
sistem hukum tersebut diterapkan, apa perbedaan sosialis dan komunis dan apa
keuntungan dan kerugian sistem hukum tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN

1
2.1. Teori Hukum Marxis Leninis

Ideologi hukum resmi Marxis-Leninis memegang kontrol tunggal di semua


negara sosialis Eropa Timur, meski dalam masa-masa tertentu dan di negara-negara tertentu
ideologi ini ditafsirkan secara relatif ortodoks. Teori tersebut dibangun pada sesuatu yang
dinamakan materialisme historis (pemahaman materialistis akan sejarah). Menurut ajaran itu,
perkembangan-perkembangan dimasyarakat pada umumnya, termasuk perkembangan
hukum, ditentukan oleh tingkat perkembangan ekonomi masyarakat, yang pada gilirannya
ditentukan oleh perkembangan sarana produksi, terutama kemajuan-kemajuan teknologi1.
Dengan agak disederhanakan, dapat dikatakan prinsip utama teori ini berarti bahwa
masyarakat secara sadar atau secara naluri dibangun dan diorganisasi sedemikian rupa agar
sesuai dengan utilisasi optimal sarana produksi yang ada. Masyarakat budak kuno
berkembang menjadi sistem produksi feodalistis ketika budak tanam bagi hasil memberikan
produksi lebih banyak dari pada budak biasa. Sistem feodalistis digantikan oleh Kapitalisme
ketika kemajuan-kemajuan teknologi memungkinkan produksi industri dengan tenaga kerja
yang dibayar, yang ternyata lebih efektif dari pada metode-metode produksi feodalistis. Dan,
terutama karena kebutuhanlah maka ekonomi terencana sosialis pada akhirnya akan dapat
menggantikan kapitalisme, bukan karena fakta bahwa sosialisme lebih bermoral dari pada
kapitalisme, tetapi lebih karena sosialisme lebih produktif. Marx sendiri tegas-tegas
mengkritik yang disebut sosialis-sosialis utopia, yang berpandangan bahwa pengadopsian
sosialisme terutama adalah persoalan etika atau agama. Marx, Engels, dan Lennin sama
sekali tidak ragu bahwa sosialisme sebagai cara produksi akan lebih unggul dari pada
kapitalisme, bahwa karenannya sosialisme pasti akan menang. Hal ini nyaris dianggap
sebagai manifestasi sejenis hukum alam. Partai komunis berperan sebagai bidan, yaitu
membantu kelahiran revolusioner masyarakat baru, yang tak mungkin dielakkan lagi.

[1] Michael Bagdan, Pengantar Perbandingan Sistem Hukum, Bandung : Penerbit Nusa
Media, 2010, Hlm.259
Meski begitu, Marxis-Lennis tidak menganggap sosialisme sebagai tahap
akhir dalam perkembangan manusia. Tahap akhir ini adalah tahap komunisme, yang akan
tercapai bila sarana produksi menjadi sangat maju sehingga segala esuatu diperoleh secara
berlimpah dan akibatnya ekonomi uang serta mekanisme-meknisme pendistribusian dan
penjatahan barang dan jasa lainnya tidak diperlukan lagi. Dalam masyarakat komunis, rakyat

2
akan mampu mengembangkan sifat mulianya, dan bila diperlukan, dengan sukarela akan
bekerja demi kebaikan bersama tanpa memerlukan imbalan. Tentu saja akan ada aturan
tentang intervensi yang diperlukan disertai penggunaaan pemaksaan umum, misalnya
menentang kekerasan terhadap pasien-pasien jiwa, tetapi aturan ini tidak punya karakter
hukum.

Satu lagi karakteristik penting bahwa menurut definisinya paham ini


menganggap baik negara maupun hukum sebagai alat kediktatoran kelas. Terminologi ini
kerap disalahpahami. Ucapan lenin bahwa negara sosialis adalah negara kediktatoran kadang
ditafsirkan sebagai pemerintahan yang dilandasi teror dan dicirikan dengan tiadanya hak dan
kebebasan individu2.

Ringkasnya, Marxis-Leninis menganggap hukum sebagai superstruktur yang


ditentukan oleh sarana produksi. Kemenangan bagi masyarakat tipe sosialis dianggap sudah
ditentukan terlebih dahulu oleh perkembangan sarana produksinya, sebab, berdasarkan bahwa
sarana produksi dimiliki oleh masyarakat dan diatur dalam hubungannya dengan kebutuhan-
kebutuhan masyarakat itu, bukan oleh kepentingan para penikmat keuntungan individu, maka
diharapkan ekonomi sosialis terencana rasional dan ilmiah, berkat tercapainya teknologinya,
akan lebih efektif dan produktif dari pada ekonomi pasar kapitalis3.

[2] Ibid, Hlm.260


[3] Ibid, Hlm.261

2.2. Proses Terbentuknya Sistem Hukum Sosialis

Proses terbentuknya sistem hukum sosialis tidak lepas dari kondisi buruk yang
dialami rakyat dibawah sistem Kapitalisme. Kondisi buruk ini terutama dialami oleh kaum
buruh pada waktu itu. Sehingga munculah berbagai gerakan yang menamakan dirinya
sosialisme. Gejala sosialis pada waktu itu masih sangat muda dan awalnya dihadapi dengan

3
ketiadaan pengetahuan dan pemahaman dipihak pengamat, pengulas dan cendekiawan.
Kemudian muncullah tokoh-tokoh cendekiawan pemikir sosialis. Banyak pendapat dan teori
dari berbagai cendekiawan dari tahun ke tahun hingga sampailah pada masa Karl Marx.

Marx mengemukakan teori dan gagasan sosialis dengan dasar yang kuat dan bukan
merupakan suatu gerakan. Konsep sosialis Marx inilah yang menjadi cikal bakal sistem
hukum sosialis yang dipakai berbagai negara dunia. Sehingga pemimpin revolusi Rusia
Vladimir Lenin menafsirkan dan mengembangkan konsep sosialis Marx yang sekarang kita
kenal dengan teori Marxis dan Leninis. Marxis dan Leninis telah menginspirasi ekonomi
terencana klasik dari negara-negara sosialis di dunia yang sangat berbeda dengan ekonomi
pasar ala barat4.

[4] Peter De Cruz, Perbandangan Sistem Hukum, Bandung : Penerbit Nusa Media, 2010,
Hlm.261
2.3. Persebaran Hukum Sosialis

Tanah air hukum sosialis tentu saja Rusia Soviet, kemudian Uni Soviet, yang
selama beberapa tahun pertama menjadi satu-satunya menjadi negara sosialis di dunia.
Tatanan sosial sosialis, termasuk ekonomi terencana dan sistem hukum yang diadaptasikan
dengannya, berangsur-angsur menyebar ke negara-negara satelit Uni Soviet. Negara yang

4
pertama yang mengadopsinya adalah Mongolia, kemudian negara-negara Eropa Timur dan
sejumlah negara non Eropa. Perkembangan hukum di Yugoslavia dan Albania agak berbeda
dengan model Soviet. Dari negara-negara non Eropa itu, beberapa sudah menjadi sosialis
sepanjang generasi yaitu Cina, Korea Utara, dan bagian utara Vietnam, sementara sisanya
mengalami percobaan sosialis untuk waktu yang lebih singkat, yaitu bekas koloni-koloni
Portugis di Afrika yang menjadi negara merdeka pada tahun 1970-an 5. Hampir semua sistem
hukum sosialis dibangun diatas tradisi hukum Eropa Kontinental. Sesudah sosialisme jatuh,
bisa dipastikan sistem-sistem hukum itu akan kembali ke keluarga hukum Eropa Kontinental.

Secara lebih terperinci lagi, kelompok negara yang telah menerima hukum
sosialis dapat dibagi ke dalam dua kategori utama6 :
1. Yurisdiksi sosialis yang lebih tua, seperti Polandia, Bulgaria, Hungaria,
Cekoslowakia, Romania, Albania, Republik Rakyat Cina, Republik Rakyat Vietnam,
Republik Rakyat Demokratik Korea, Mongolia, dan Kuba.
2. Sistem hukum sosialis yang lebih baru atau baru lahir, seperti Republik Demokratik
Kamboja, Laos, Mozambik, Angola, Somalia, Libia, Etiopia, Guinea, dan Guyana.

[5] Ibid, Hlm.272


[6] Peter De Cruz, op.cit, Hlm.263-264
2.4. Perbedaan Sosialis dan Komunis
Di beberapa negara penganut sistem hukum sosialis, partai komunis adalah
satu-satunya badan perencanaan dan pemerintahan yang nyata. Begitu memutuskan suatu
kebijakan tertentu, partai ini akan mengkomunikasikan rencana-rencananya kepada semua

5
organ konstituennya dan kebijakan ini akan dilaksanakan oleh agensi-agensi legislatif,
eksekutif, dan yudikatif7.
Perbedaan utama antara sosialisme dan komunisme terletak pada sarana yang
digunakan untuk mengubah kapitalis menjadi sosialisme. Paham sosialis berkeyakinan
perubahan kapitalisme dapat dilakukan dengan cara damai dan demokratis. Paham ini juga
mengutamakan perjuangan perbaikan nasib buruh secara bertahap dalam hal keikutsertaan
dalam pemerintah yang belum seluruhnya menganut sistem sosialis. Sedangkan paham
komunis berkeyakinan bahwa perubahan atas sistem kapitalisme harus dicapai dengan cara-
cara revolusi, dan pemerintahan oleh diktator proletariat sangat diperlukan pada masa
transisi. Dalam masa transisi dengan bantuan negara di bawah diktator proletariat, seluruh
hak milik pribadi dihapuskan dan diambil alih selanjutnya oleh negara. Paham sosialisme
banyak diterapkan di negara-negara Eropa Barat. Sedangkan paham komunis pernah
diterapkan di bekas negara Uni Soviet dan negara-negara Eropa Timur. Kini paham komunis
masih diterapkan di RRC (Republik Rakyat Cina), Vietnam, dan Korea Utara.
Runtuhnya negara besar Uni Soviet yang menjadi induk komunisme tidak
diikutsertai oleh negara-negara lain yang juga menganut paham komunisme. Hal ini
disebabkan karena sebenarnya paham komunis di negara Uni Soviet berbeda dengan paham
komunis di RRC maupun negara lain yang sama-sama menganut komunis dalam penafsiran
mereka terhadap ajaran Marxisme. Contohnya, Revolusi Oktober di Uni Soviet dimotori oleh
kelompok pelopor (vanguard gropu), sedangkan revolusi di RRC dilakukan dengan cara
gerilya bersama para petani.

[7] Peter De Cruz, op.cit, Hlm.264

6
Dengan adanya perkembangan pemikiran para ahli dalam mengartikan
komunisme, Khrushchev mencerminkan komunisme sebagai suatu gaya hidup yang
berdasarkan pada nilai-nilai tertentu, diantaranya8:

1. Gagasan monoisme yang menolak adanya golongan dalam masyarakat


karena apabila ada golongan-golongan dalam suatu masyarakat maka
dianggap sebagai perpecahan. Dalam hal ini, persatuan dipaksakan
dengan keotoriteran dan oposisi ditindas.

2. Kekerasan dipandang sebagai alat yang sah dan harus dipakai untuk
mencapai komunisme. Keotoriteran harus digunakan baik terhadap musuh
maupun pengikut komunisme sendiri.
3. Negara merupakan alat untuk mencapai komunisme. Oleh karenanya
semua aparatur negara dan alat kenegaraan diabadikan untuk mencapai
komunisme. Sehingga, negara ikut andil baik di bidang politik, sosial,
maupun budaya. Dengan adanya peran negara dalam berbagai aspek,
maka kebebasan masyarakat dalam berinspirasi juga dikekang oleh
negara. Hal tersebut dibuktikan dengan pembatasan pers di negara
komunis. Yang mana pers di negara komunis hanya menampakkan sisi
baik negara komunis.

[8] Miriam Budiardjo, Dasar Dasar Ilmu Politik, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2008,
Hlm.155-156
2.5. Keuntungan dan Kerugian Sistem Hukum Sosialis

7
Dalam praktiknya, sebuah sistem yang diterapkan guna mewujudkan
kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat tidak lepas dari dua sisi yang
bertolak belakang, yaitu kelebihan dan kekurangannya. Demikian juga dalam sistem ekonomi
sosialis.
Adapun kebaikan-kebaikan dari Sistem Hukum Sosialis adalah9 :
1. Disediakannya kebutuhan pokok. Setiap warga negara disediakan kebutuhan
pokoknya, termasuk makanan dan minuman, pakaian, rumah, kemudahan fasilitas
kesehatan, serta tempat dan lain-lain. Setiap individu mendapatkan pekerjaan dan
orang yang lemah serta orang yang cacat fisik dan mental berada dalam pengawasan
Negara.
2. Didasarkan oleh perencanaan negara. Semua pekerjaan dilaksanakan berdasarkan
perencanaan negara yang sempurna, di antara produksi dengan penggunaannya.
Dengan demikian masalah kelebihan dan kekurangan dalam produksi seperti yang
berlaku dalam Sistem Ekonomi Kapitalis tidak akan terjadi.
3. Produksi dikelola oleh negara. Semua bentuk produksi dimiliki dan dikelola oleh
negara, sedangkan keuntungan yang diperoleh akan digunakan untuk kepentingan-
kepentingan negara.

[9] Miriam Budiardjo, op.cit, Hlm.151

Kelemahan Sistem Hukum Sosialis adalah 10:


1. Sulit melakukan transaksi tawar-menawar sangat sukar dilakukan oleh individu yang
terpaksa mengorbankan kebebasan pribadinya. Stabilitas perekonomian negara

8
sosialis lebih disebabkan tingkat harga ditentukan oleh negara, bukan ditentukan oleh
mekanisme pasar.
2. Sistem tersebut menolak sepenuhnya sifat individualistis, ini menunjukkan secara
tidak langsung sistem ini terikat kepada sistem ekonomi diktator. Buruh dijadikan
budak masyarakat yang memaksanya bekerja seperti mesin.
3. Mengabaikan pendidikan moral, sementara pendidikan moral individu diabaikan.
Dengan demikian, pencapaian kepuasan kebendaan menjadi tujuan utama dan nlai-
nilai moral tidak diperhatikan lagi.

[10] Miriam Budiardjo, op.cit, Hlm.152

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

9
1. Teori hukum Sosialis menurut Marxis-Leninis adalah suatu sistem hukum dimana
Negara memiliki penguasaan dan peran yang sangat penting dalam hukum dan sarana
sistem produksi, yang bertujuan untuk mengembangkan negara bersangkutan. Bukan
untuk kepentingan Individu.
2. Proses terbentuknya sistem hukum sosialis diawali dengan buruknya kondisi rakyat
akibat kapitalisme. Sehingga memunculkan teori dan gagasan oleh para cendekiawan
salah satunya yang paling terkenal adalah teori sosialis oleh Karl Marx. Teori Marx
menjadi dasar sistem hukum negara negara sosialis.

3. Kelompok negara yang telah menerima hukum sosialis dapat dibagi ke dalam dua
kategori utama :
a. Yurisdiksi sosialis yang lebih tua, seperti Polandia, Bulgaria, Hungaria,
Cekoslowakia, Romania, Albania, Republik Rakyat Cina, Republik Rakyat
Vietnam, Republik Rakyat Demokratik Korea, Mongolia, dan Kuba.
b. Sistem hukum sosialis yang lebih baru atau baru lahir, seperti Republik
Demokratik Kamboja, Laos, Mozambik, Angola, Somalia, Libia, Etiopia,
Guinea, dan Guyana.
4. Perbedaan utama antara sosialisme dan komunisme terletak pada sarana yang
digunakan untuk mengubah kapitalis menjadi sosialisme

5. Keuntungan Sistem Hukum Sosialis adalah Disediakannya kebutuhan pokok,


didasarkan perencanaan negara, produksi dikelola oleh negara.
Kerugian Sistem Sosialis adalah Mengabaikan pendidikan moral, menolak
sepenuhnya sifat individualistis, sulit melakukan transaksi Tawar-menawar.

DAFTAR PUSTAKA

Budiardjo, Miriam. Dasar Dasar Ilmu Politik. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. 2008

10
Bogdan, M. Pengantar Perbandingan Sistem Hukum. Bandung : Penerbit Nusa Indah. 2010

De Cruz, P. Perbandingan Sistem Hukum. Bandung : Penerbit Nusa Indah. 2010

Dirdjosisworo, Soedjono. 1983. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: CV. Rajawali.

Djamali, R. Abdul. 1993. Pengantar Hukum Indonesia. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Hariwijaya, M. 2006. Pedoman Teknis Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi, Tesis, dan Disertasi.
Yogyakarta: Citra Pustaka.

Kasil C.S.T. 1989. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia. Jakarta :
Balai Pustaka.

Mertokusumo, Sudikno. 1991. Mengenal Hukum (suatu pengantar). Yogyakarta: Liberty.

Soeroso, R. 1993. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Sinar Grafika.

Tafal, B. Bastian. 1992. Pokok-Pokok Tata Hukum di Indonesia. Jakarta : PT. Gramedia
Pustaka Utama.

11

Anda mungkin juga menyukai