Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM

HIRDROLIKA II IL 2101

MODUL 07

HIDROLIKA SUNGAI

Nama Praktikan : Abdul Karim

NIM : 15715002

Kelompok/Shift : II/8.30-9.30

Tanggal Praktikum : 12 Mei 2017

Tanggal Pengumpulan : 21 Mei 2017

PJ Modul : Aji Mustiaji

Asisten : Kania Salmaa

PROGRAM STUDI REKAYASA INFRASTRUKTUR LINGKUNGAN

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

2017
I. Tujuan Percobaan
1. Menghitung debit aliran sungai

2. Menghitung distribusi kecepatan di seluruh penampang sungai

3. Menghitung jari-jari hidrolis sungai

4. Menentukan penampang melintang sungai

5. Menentukan metode pengukuran debit yang sesuai.

II. Prinsip Percobaan

Percobaan dilakukan dengan menggunakan dua metode, yakni velocity area method
dan float area method. Untuk velocity area method, dilakukan dengan membagi sungai
secara melintang ke dalam beberapa segmen dengan tali rafia merah yang tiap
segmennya memilki lebar yang sama. Setelah itu dilakukan pengukuran kecepatan aliran
menggunakan current meter pada titik kedalaman sesuai SNI 8066:2015. Untuk float
area method, digunakan suatu benda apung yang diikatkan tali kemudian dihitung waktu
benda apung dihanyutkan sampai tali tegang. Dari kedua metode ini didapatkan data
untuk menentukan profil penampang sungai dan debit alirannya.

III. Teori Dasar

Debit pada sebuah sungai berhubungan dengan volume air yang mengalir pada
saluran terbuka dalam waktu tertentu. Informasi ini akan menjadi penting dan menjadi
dasar pada skala yang luas termasuk keseimbangan global air, desain struktur, perkiraan
banjir, navigasi, penyediaan air, dan managemen lingkungan. Selain itu, untuk menjadi
sangat berguna, data aliran sungai harus dikumpulkan sesuai standar dengan perkiraan
akurasi yang terkait dan ketidakpastian (Pelletier, 1988; Herschy, 1995).
Estimasi debit adalah kombinasi antara data yang kontinu dengan pengukuran debit
manual untuk membuat kurva debit yang membiarkan data debit dapat diperkirakan
untuk waktu yang lebih lama (Richard, 2015).
Aliran debit secara sederhana dapat diperhitungkan menggunakan persamaan di
bawah ini :

Q=v x A ...... (1)


Dengan keterangan :
Q : debit air (m3/s)
v : kecepatan aliran (m/s)
A : luas penampang basah (m2)
Ada tiga metode yang biasanya digunakan untuk mengukur adalah velocity-area
method, float-area method, dan continue method. Velocity-area method merupakan
metode yang paling umum digunakan untuk mengukur debit (Richard, 2015). Teknik ini
membutuhkan pengukuran kecepatan aliran, lebar saluran, dan kedalaman air pada
segmen vertikal tertentu (Herschy, 1995). Pengukuran debit dilakukan dari penjumlahan
rata rata kecepatan aliran dan luas penampang saluran.

Gambar 3.1 Penampang


Saluran Sungai
(Sumber : Richard, 2015)

Pada pengukuran ini digunakan alat bernama current meter dengan tipe propeller
untuk membantu mengukur kecepatan aliran. Menurut Herschy, 1995 teknik pengukuran
dengan current meter terbagi menjadi 4 kelompok, antara lain :
a. Metode distribusi kecepatan
b. Metode 0,6 kedalaman
c. Metode dua titik
d. Metode tiga titik
Pada percobaan ini akan dilakukan metode tiga titik, yaitu mengukur kecepatan
pada 3 titik lokasi, yaitu 0,2 kedalaman, 0,6 kedalaman, dan 0,8 kedalaman. Rata rata
dari ketiga pengukuran kedalaman akan digunakan sebagai rata rata kecepatan vertikal
(Herschy, 1995).
Gambar 3.2
Lokasi Pengukuran Menggunakan Current Meter
(Sumber : SNI 8066:2015)

Menurut SNI 8066 2015 untuk menghitung kecepatan aliran dengan current meter
menggunakan persamaan di bawah ini :
N < ni, v =p x N +q ............ (3)
N > ni, v =r x N + s ............ (4)
Dengan keterangan :
R
N : jumlah propeller per satuan waktu ( N= )
T
R : jumlah putaran baling baling
T : waktu pengukuran
ni : batas jumlah putaran baling baling
v : kecepatan aliran (m/s)
p, q, r, s : koefisien berdasarkan kalibrasi current meter alat ukur arus

Selanjutnya, perhitungan kecepatan dengan metode 3 titik dapat ditentukan


dengan rumus sebagai berikut :

v= (v 0,2 + v 0,8
2 )
+ v 0,6 x
1
2
............ (5)

Dengan keterangan :
v : kecepatan aliran rata rata sumbu vertikal (m/s)
v0,2 : kecepatan aliran pada titik 0,2 d
v0,6 : kecepatan aliran pada titik 0,6 d
v0,8 : kecepatan aliran pada titik 0,8 d

Float-area method merupakan metode dengan pengukuran kecepatan pada


permukaan aliran sungai. Rata rata kecepatan ditentukan menggunakan faktor koreksi.
Konsep dasarnya adalah dengan menghitung waktu yang diperlukan pada objek yang
dibiarkan mengambang pada jarak tertentu. Persamaan kecepatan yang diperoleh
adalah :
S
v pi = .......... (2)
t
Dengan keterangan :
vpi : kecepatan tiap segmen (m/s)
S : jarak yang diperlukan (m)
t : waktu (s)

Selanjutnya, metode kontinu merupakan gabungan dari float area method dan
velocity area method. Oleh karena itu, dalam pengukuran akan dilakukan dua cara, yaitu
pengukuran dengan current meter dan dengan pengukuran permukaan.
Dari berbagai metode yang telah disebutkan di atas, estimasi kecepatan tidak pasti
dengan perhitungan selama waktu tertentu. Pada kenyataannya, waktu yang diperlukan
untuk mengukur seharusnya dapat mencerminkan level akurasi yang diinginkan
(Pelletier, 1988). Di bawah ini merupakan faktor faktor yang mempengaruhi
pengukuran debit :
a. Topografi (luas per tingkat kemiringan lereng)
b. Tanah (luas per jenis tanah peka erosi)
c. Curah hujan
d. Kondisi vegetasi
IV. Pengolahan Data dan Perhitungan

A. Data Awal

Waktu pengamatan : 08.00-11.00 WIB

Lebar sungai : 13 m
Lokasi : Sungai Teras Cikapundung, Bandung

Tabel 4.1 Data Awal Pengamatan Sungai


Segmen (i) 1 2 3 4 5 6 7
Titik Segmen ABC CDE EFG GHI IJK KLM MNO
Titik Tengah Segmen B D F H J L N
Lebar Segmen (x,m) 1 1 1 1 1 1 1
Kedalaman sisi kiri (Di,m) 0 1.02 1.06 0.98 0.96 1.03 0.42
Kedalaman sisi kanan (Dii,m) 1.02 1.06 0.98 0.96 1.03 0.42 0.61
Kedalaman titik tengah
0.34 1.02 1.04 1 0.96 0.64 0.77
segmen (H,m)
0,2H 0.068 0.204 0.208 0.2 0.192 0.128 0.154
0
0,6H 0.204 0.612 0.624 0.576 0.384 0.462
.6
0,8H 0.272 0.816 0.832 0.8 0.768 0.512 0.616
vp S (m) 1 1 1 1 1 1 1
(m/s) t (s) 2.07 2.8 1.94 1.81 1.73 1.57 3.11
Putara
38 30 52 69 70 76 48
N0,2H n (R)
(rps) Waktu
30 30 30 30 30 30 30
(s)
Putara
vH 41 56 64 70 72 72 69
N0,6H n (R)
(m/s)
(rps) Waktu
30 30 30 30 30 30 30
(s)
Putara
42 63 77 72 76 70 55
N0,8H n (R)
(rps) Waktu
30 30 30 30 30 30 30
(s)

B. Pengolahan Data

Menentukan kedalaman 0.2 H, 0,6H, dan 0,8H


Dengan mengambil data segmen 1 sebagai contohnya dan untuk perhitungan
seterusnya juga, maka perhitungan datanya sebagai berikut:
y0.2=0.2
=0.2 0.34
=0.068

y0.6=0.6
=0.6 0.34
=0.204

y0.8=0.8
=0.8 0.34
=0.272

Menentukan panjang melintang tiap segmen

= [(Dii abcDi abc )2 + x 2 ]


= [(1.020)2+ 0,342 ]
=1.4284

Menentukan luas penampang basah tiap segmen

x
= (+ )
2
1
= (1.02+ 0)
2
=0.51 2

Menentukan kecepatan putaran propeller pada kedalaman 0.2 H, 0,6H, dan 0,8H

R 0.2 H
0.2=
t

38
=
30

=1.2667

R 0.6 H
0.6 =
t

41
=
30

=1.3667
R 0.8 H
0.8 =
t

42
=
30
=1.4

Menentukan kecepatan aliran dengan pendekatan float area method

S
=
t abc
1
=
2,07
=0.4831 /

Menentukan kecepatan aliran pada kedalaman 0,2 H, 0,6H dan 0,8H

Untuk 0.65maka 0.2 =(0.20850.2 )+0.030


Untuk 0.65 10.16 maka 0.2 =(0.24550.2 )+0.006
Karena 0.65 10.16, maka
=(0.2455 1.2667)+0.006
=0.317 /
=(0.2455 1.3667)+0.006
=0.3415 /
=(0.2455 1.4)+0.006
=0.3497 /

Menentukan kecepatan rata-rata tiap segmen

= 0,3375 m/s

Menentukan perhitungan error


maka

=1.2126 %

=1.2126 %
Menentukan debit tiap segmen
=
1= 0.3375 / 0.51 2
=0.1721 3/
Menentukan debit total aliran

=
= 0.1721+0.4424+0.5424+0.5635+0.5963+0.4345+0.2570
= 3.008156229 3/
Menentukan luas total penampang basah

=
=0.51+1.04+1.02+0.97+0.995+0.725+0.515
= 5.775 2
Menentukan panjang melintang sungai total

=
= 1.4284+ 1.0008 + 1.0032 + 1.0002 + 1.0025 + 1.1713 + 1.0179
= 7.624323967 m
Menentukan jari-jari hidrolis

= 0.757444204 m
C. Data Akhir
Tabel 6.1 Hasil Perhitungan Data Sungai
Segmen (i) 1 2 3 4 5 6 7
Titik Segmen ABC CDE EFG GHI IJK KLM MNO
Titik Tengah Segmen B D F H J L N
Lebar Segmen (x,m) 1 1 1 1 1 1 1
Jarak ke titik tengah segmen
0.5 1.5 2.5 3.5 4.5 5.5 6.5
(xH, m)
Kedalaman sisi kiri (Di,m) 0 1.02 1.06 0.98 0.96 1.03 0.42
Kedalaman sisi kanan (Dii,m) 1.02 1.06 0.98 0.96 1.03 0.42 0.61
Kedalman titik tengah
0.34 1.02 1.04 1 0.96 0.64 0.77
segmen (H,m)
0,2H 0.068 0.204 0.208 0.2 0.192 0.128 0.154
0,6H 0.204 0.612 0.624 0.6 0.576 0.384 0.462
0,8H 0.272 0.816 0.832 0.8 0.768 0.512 0.616
Panjang melintang sungai : m
1.428426 1.0008 1.003195 1.0002 1.002447 1.171367 1.01789
(m)
A (m^2) 0.51 1.04 1.02 0.97 0.995 0.725 0.515
N0,2H (rps) 1.266667 1 1.733333 2.3 2.333333 2.533333 1.6
N0,6H (rps) 1.366667 1.866667 2.133333 2.333333 2.4 2.4 2.3
N0,8H (rps) 1.4 2.1 2.566667 2.4 2.533333 2.333333 1.833333
Vp (m/s) 0.483092 0.357143 0.515464 0.552486 0.578035 0.636943 0.321543
V0,2H (m/s) 0.316967 0.2515 0.431533 0.57065 0.578833 0.627933 0.3988
V0,6H (m/s) 0.341517 0.464267 0.529733 0.578833 0.5952 0.5952 0.57065
V0,8H (m/s) 0.3497 0.52155 0.636117 0.5952 0.627933 0.578833 0.456083
Vr (m/s) 0.337425 0.425396 0.531779 0.580879 0.599292 0.599292 0.499046
Er1 (%) 1.212615 9.137568 -0.38471 -0.3522 -0.68275 -0.68275 14.34821
Er2 (%) -1.21262 -9.13757 0.384715 0.352196 0.68275 0.68275 -14.3482
Qsegmen (m^3/s) 0.172087 0.442412 0.542415 0.563453 0.596295 0.434486 0.257009
Qtotal (m^3/s) 3.008156229
Atotal (m^2) 5.775
m total (m) 7.624323967
Rh (m) 0.757444204

V. Analisis

a. Analisis A
Pada percobaan hidrolika sungai ini, data awal yang diukur adalah suhu awal
sungai dan dengan data suhu ini dapat diperoleh massa jenis fluida. Kemudian setelah
itu dibentangkanlah tali secara melintang terhadap sungai dengan menerawas sungai
sehingga sekaligus mengetahui kedalaman sungai kiranya seperti apa. Kemudian dari
tali tersebut dibagi menjadi 7 segmen dengan lebar 1 m dan ditandai oleh tali raffia
sebagai penandanya yang kemudian pada tiap segmennya diukur kedalamannya yakni
pada sis kiri, tengah dan kanan tiap segmen sehingga dari sini dapat diketahui bentuk
penampang sungai. Setelah itu pada sisi tengah tiap segmen, diukur kecepatan
alirannya dengan current meter pada kedalaman 0,2H, 0,6H dan 0,8H sesuai SNI
8066:2015. Pergantian tiap titik kedalaman harus agar propeller tepasang dengan benar
dan kuat dengan dekencangkan dengan semacam obeng dan pastikan arah propeller
menghadap hulu sungai dengan dipegang kokoh lurus dan tidak ada gangguan pada
aliran sebelum ke propeller misal pengamat yang harus sesudah propeller agar tidak
mengganggu aliran sungai, guna hasil yang lebih akurat. Pengukuran kecepatan aliran
dilakukan dengan memencet tombol pada semacam ukur yang membaca berapa
banyak putaran pada propeller yang alat ini terhubung dengan propeller langsung
dengan kabel, diukur selama 30 detik dan didapatlah hasil pembacaannya. Dalam
praktikum ini, terdapat kesalahan yakni pada penentuan kedalaman 0,2H, 0,6H dan
0,8H bahwa dilapangan, titik tersebut diukur dari bawah (0,2H dari bawah misalnya)
yang hal ini tidak sesuai dengan SNI8066:2015. Hal ini terjadi Karena
kesalahpahaman bahwa seharusnya titik pengukuran 0,2H itu dari atas yang berarti
kedalaman. Jika diukur dari bawah, namanya ketinggian. Untuk mengakali kesalahan
pada penentuan titik pengukuran tadi, pada perhitungan dapat dilakukan dengan dua
titik yakni 0,2H dan 0,8H yang dibalik, agar tetap sesuai SNI8066:2015. Kemudian
berlanjut ke float areamethoddengan menggunakan bola pingkpong yang terikat pada
tali dengan panjang tertentu, untuk diposisikan ujung tali dan bola pingpong terikat
pada titik tengah tiap segmen kemudian bola pingpong dilepaskan dan diukur
waktunya sampai talu tegang dengan stopwatch.Posisi pengamat juga tidak boleh
mengganggu aliran airnya. Kemudian setelah itu diukur suhu akhir.
Penampang Melintang Sungai
0
0 1 2 3 4 5 6 7 8
-0.1
-0.2
Kedalaman (m)

-0.3
-0.4
-0.5
-0.6
-0.7
Lebar Sungai (m)

Gambar 7.1

Dari grafik pada gambar diatas, tergambar profil penampang melintang sungai dari
hubungan kedalaman dan jarak tiap segmen, pada pengukuran di sungai Cikapundung. Grafik
ini didapat dari pengukuran kedalaman pada 13 segmen dengan tiap segmen diukur pada tepi
kiri, bagian tengah dan tepi kanan. Bagian tengah cenderung lebih dalam dari yang lainnya
karena ada pengikisan permukaan tanahnya oleh kecepatan aliran sungai yang lebih cepat
disbanding bagian lainnya. Pada segmen 7 pada grafik, terlihat ada bagian memuncak seperti
gunung Karena kenyataan di lapangan bahwa memang ada bagian tanah yang meninggi
karena di daerah tersebut terdapat pipa besar.

Gambar 7.2Profil Penampang Melintang Ideal Sungai


(Sumber: http://courses.missouristate.edu/)
Gambar 7.2 menunjukan bagaimana gambaran profil penampang melintang sungai
yag ideal. Di bagian tengah sungai merupakan bagian dimana kecepatannya maksimum
Karena friksi dengan dinding sungai paling kecil sehingga kedalamannya juga yang paling
rendah. Profil hasil praktikum menunujukan hasil yang demikian seperti pada gambar 7.1
karena mungkin pernah terjadi altivitas pengerukan maupun pendangkalan dan juga
revitalisai mengingat lokasi pengukuran dekat dengan lokasi wisata teras Cikapundung.

Hubungan Kecepatan dan


Kedalaman Tiap Segmen
0.6
0.5
Kecepatan (m/s)

0.4
0.3
0.2
0.1
0
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 0.4 0.45
Kedalaman (m)

Segmen 1 Segmen 2 Segmen 3 Segmen 4


Segmen 5 Segmen 6 Segmen 7
Gambar 7.3 Hubungan Kecepatan danKedalaman pada Tiap Segmen

Grafik pada gambar di atas menggambarkan hubungan antara kecepatan dan kedalaman
pada tiap segmen.Dari grafik terdapat 3 titik setiap garisnya yang menunjukan titik kedalaman
pengukuran yakni itik 0,2H, 0,6H, dan 0,8H. Dari grafik terlihat bahwa distribusi kecepatannya
cenderung tinggi untuk segmen 4, 5 dan 6 karena letaknya di bagian tengah yang memang nilai
kecepatannya memang lebih tinggi disbanding bagian yang lain.Dari bentuk tren garis, cenderung
kebanyakan garis lurus dan hasil ini bukan yang ideal.Hasil di segmen 7 menunjukan hasil yang
mendekati ideal yakni titik 0,6H memiliki kecepatan paling tinggi. Hasil yang tidak beraturan ini
mungkin terjadi karena ada gangguan atau kesalahan pada saat pengukuran seperti adanya
sampah yang mengalir bersama aliran sungai yang pastinya mengganggu saat pengukuran
ataupun sebelumnya ada objek-objek yang tenggelam di dasar sungai.

0.7

0.6

0.5
Kecepatan (m/s)

0.4

0.3

0.2

0.1

0
0 1 2 3 4 5 6 7
Jarak Ke Tiap Segmen (m)

Vp Vr
Kecepatan Aktual terhadap Bentang Sungai
0.5
0.45
0.4
Kecepatan Aktual (m^3/s)

0.35
0.3
Float Area Method
0.25
Velocity Area Method
0.2
0.15
0.1
0.05
0
0 1 2 3 4 5 6 7 8
Bentang Sungai (m)

Gambar 7.4 Hubungan Kecepatan dan Jarak ke Tiap Segmen dengan Dua Metode Pegukuran

Grafik diatas menunjukan hubungan kecepatan dan jarak tiap segmen untuk kedua
metoda pengukuran. Pada metoda pengukuran dengan float area methodyang pada grafik
diwakili Vp dan area velocity method yang diwakili Vr, terlihat hasil bahwa hasilnya
menunjukan kondisi bagian tengah sungai yang kecepatannya tinggi dan pada tepinya
kecepatannya kecil. Namun untuk area velocity method hasilnya lebih bagus karena tren
garisnya yang lebih teratur. Maka, pengukurandengan pendekatan area velocity method
memberikan hasil yang representative. Hal inikarena pengukuran dilakukan di 3 titik
kedalaman untuk tiap segmen, yang tidak seperti float area method hanya pada bagian
permukaan air saja, yang hasil keduanya pun pasti berbeda.
Gambar 7.5 Distribusi Kecepatan Sungai dengan Pendekatan Float Area Method

(profil 2 dimensi dan 3 dimensi)


Dari gambar 7.5 yang merupakan profil dari distribusi kecepatan sungai pada penampang
melintangnya dengan tampilan 2 diemensi dan 3 dimensi pengukuran float area method. Hasil
yang terlihat menunjukan kecepatan maksimum ada pada segmen 6 dan kecepatan minimum pada
segmen 7. Hasil ini kurang representatif. Sesuai dengan literatur, seharusnya sisi paling kiri dan
paling kanan sungai memiliki nilai kecepatan minimum, namun hal ini tidak nampak pada
gambar, dengan kecepatan di segmen 2 malah lebih kecil dari kecepatan di segmen 1. Hal ini
mungkin terjadi Karena kesalahan pengukuran saat praktikum dengan adanya selang waktu antara
bola pingpong dilepas dan stopwatch dinyalakan dan pada saat berhentinya bola pingpong dan
stopwatch dimatikan.
Gambar 7.6 Distribusi Kecepatan Sungai dengan Pendekatan Velocity Area Method

(profil 2 dimensi dan 3 dimensi)

Dari gambar 7.6 yang merupakan profil dari distribusi kecepatan sungai pada penampang
melintangnya dengan tampilan 2 diemensi dan 3 dimensi pengukuran area velocity method.Hasil
yang terlihat menunjukan kecepatan maksimum ada pada segmen 5 dan 6, serta kecepatan
minimum pada segmen 1.Hasil ini lebih representatif dibanding float area method untuk
menggambarkan kondisi distribusi kecepatan sungai.

Tabel 7.1 Debit Maksimum Air Tahunan DAS Cikapundung Kota Bandung
Debit hasil pengukuran mendapat hasil yang relative kecil yakni 3.008156229 m3/s
dibanding referensi tabel di atas, Hal ini terjadi karena selama kurun waktu 13 tahun ini, sungai
Cikapundung telah mengalamai perubahan baik itu karena alam, pengerukan, revitalisai,
sedimentasi,nb maupun alih fungsi guna sungai menjadi objek wisata.

Terdapat galat yang diperoleh dari perhitungan data yakni Error 1 dan Error 2, dengan
nilai galat yang sama.Perhitungan Error 1 adalah menggunakan kecepatan di titik 0.2 H dan 0.8
H sedangkan Error 2 menggunakan kecepatan di titik 0.6 H. Data yang paling baik merupakan
data dengan nilai galat terkecil, yakni pada segmen 3, segmen 4, segmen 5, dan segmen 6, karena
cenderung lebih akurat karena tidak terpengaruh gesekan dengan dinding pembatas sungai.

b. Analisis B

Sungai Cikapundung, sungai sepanjang 28 kilometer ini, melintasi 11 kecamatan di


tiga kabupaten kota, yaitu Kota Bandung, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung
Barat.Sungai Cikapundung di kanan kirinya dikepung oleh bangunan. Sebagian besar
bangunan yang merupakan permukiman berada langsung di bantaran sungai. Data BPLH
Kota Bandung menyebutkan ada sekitar 1,058 rumah yang berada dekat dengan bantaran
Sungai Cikapundung. Hampir seluruhnya membuang limbah langsung ke sungai. Karenanya
sungai Cikapundung ini menerima limbah lebih dari 2,5 juta liter setiap harinya, yang
sebagian besar berasal dari limbah rumah tangga.
Sungai Cikapundung dalam pemanfaatannya, berfungsi sebagai (1) drainase utama
pusat kota; (2) penggelontor kotoran dan pembuangan limbah domestik maupun industri
sampah kota; (3) objek wisata Bandung (Maribaya, Curug Dago, kebun binatang dll); (4)
penyedia air baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Bandung yang membangun
instalasi penyadapan di Dago Pakar, Dago, dan di Badak Singa; (5) pemanfaatan energi yang
dikelola oleh PT Indonesia Power-Unit Saguling yang mendirikan instalansi di PLTA
Bengkok dan PLTA Dago Pojok, serta (6) sebagai sarana irigasi pertanian, namun seiring
dengan pertumbuhan dan perkembangan kota, instalasi tersebut tidak berfungsi secara efektif.
(Sumber: Efektivitas Kelembagaan Partisipatoris di Hulu Daerah Aliran Sungai Citarum, Siti
Halimatusadiah)

Hulu Sungai Cikapundung juga merupakan sumber air baku bagi penduduk Bandung.
PDAM Tirtawening Kota Bandung mengolah sekitar 2,700 liter air per detiknya. Instalasi
Pengolahan Air (IPA) Dago Pakar mengolah sekitar 600 liter air yang disuplai dari Bantar
Awi. Sedangkan IPA Badak Singa mengolah 400 liter air/detik dari intake Dago Bengkok.

Selain air minum, Sungai Cikapundung juga memiliki pembangkit listrik tenaga air.
Tenaga listrik dihasilkan dengan memanfaatkan kekuatan gravitasi air dari air terjun atau arus
air. Pembangkit listrik tenaga air di Sungai Cikapundung ini dibangun di Jaman Pemerintah
Belanda pada tahun 1923. Ada dua pembangkit yaitu di Bengkok (3 x 1050 KW) dan Dago
(1x 700 KW).Menurut data PSDA Jawa Barat, Sungai Cikapundung juga digunakan untuk
irigasi, terutama di Kabupaten Bandung dan Kota Bandung.

Aplikasi dari pengukuran debit sungai ini adalah untuk kebutuhan perencanaan dan
perancangan suatu desain bangunan misalnya IPAM. Berguna juga untuk penyusunan
dokumen AMDAL untuk suatu kegiatan industri yang membuang limbahnya ke sungai
misalnya, karena debit sungai sendiri digunakan untuk perhitungan seberapa jauh area efek
pencemaran limbah buangan ataupun indikator kualitas air lainnya.
Gambar 8.1 Dokumentasi Praktikum

c. Analisis C

Kesan dan Pesan sangat senang sekali saat praktikum karena sebentar tapi ga senang
lagi saat udah nulis laporan sampai tidak tidur, lain kali harus dicicil biar cepet beres dan
tenang terus mau ngucapin terimakasih kepada asisten hidrolika yang baik ini wkkw terutama
buat kak kania yang baik dan sabar dan mau balas chat pagi atau malam makasih ya kakk.
Pesan kalau aku indeks hidrolika nya bagus mungkin bakalan daftar asisten hidrolika 2
wkwkk :D

IX. KESIMPULAN

1.Debit aliran sungai pada lokasi percobaan adalah 3.008156229 m3/s.

2. Distribusi kecepatan di seluruh penampang sungai dapat dilihat pada grafik gambar 7.3
dan gambar 7.4.

3. Jari-jari hidrolis sungai yakni 0.757444204 m.

4. Penampang melintang sungai adalah sebagai berikut:


0
0 1 2 3 4 5 6 7 8
-0.2

Kedalaman (m)
-0.4

-0.6

-0.8

-1

-1.2
Jarak Tiap Segmen (m)

Gambar 7.1. Profil Penampang Melintang Sungai


5. Metode pengukuran dengan metode area velocity method lebih representative dibanding
float area method

X. DAFTAR PUSTAKA

Badan Standardisasi Nasional. 2015. SNI 8066:2015 Tata cara pengukuran debit aliran
sungai dan saluran terbuka menggunakan alat ukur arus dan pelampung. Jakarta:
Badan Standardisasi Nasional.
Gravelle, Richard. 2015. Geomorphological Techniques. Inggris : British Society for
Geomorphology (BSG).
Herschy, R.W. 1995. Streamflow Measurement (2nd edition). London : Taylor dan
Francis.
Pelletier, P.M. 1988. Uncertainties in The Single Determination of River Discharge : A
Literature Review. Canadian Journal of Civil Engineering.
http://courses.missouristate.edu/emantei/creative/glg110/streams.html.Diakses pada 28
April 2017
http://citarum.org/info-citarum/berita-artikel/1174-gambaran-umum-sungai-
cikapundung.html. Diakses pada 28 April 2017
http://a-research.upi.edu/operator/upload/chapter4(9).pdf. Diakses pada 28 April 2017
XI. LAMPIRAN
A

Anda mungkin juga menyukai