Anda di halaman 1dari 6

AIR SEBAGAI KOMPONEN TUMBUHAN, KOMPOSISI KIMIA MEMBRAN SEL DAN

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMEABILITAS

Lasyitha Anandita

1310421010

Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas

ABSTRAK

Praktikum ini bertujuan untuk melihat proses plasmolisis dan deplasmolisis pada
jaringan epidermis daun Rhoe discolor, menghitung tekanan osmosis cairan sel, serta
mengetahui pengaruh suhu dan senyawa kimia terhadap permeabilitas membran. dengan
menggunakan potongan umbi Daucus carota. Saat preparat daun Rhoe discolor ditetesi
NaCl dengan konsentrasi 1M, terjadi peristiwa (plasmolisis) dari sel Rhoe discolor . Dan
ketika preparat ditetesi dengan air maka terjadi deplasmolisis, selain itu juga dilihat
insipient plasmolisis (potensial osmosis) pada sayatan epidermis daun Rheo discolor dan
lautan sukrosa 0,1M,0,12M,0,14M,0,16M,0,18M,0,20M,0,22M dan 0,24M. Umbi Daucus
carota digunakan untuk melihat pengaruh suhu dan senyawa kimia terhadap
permeabilitas membran sel.

Kata kunci : Epidermis daun Rhoe discolor,potongan tipis umbi Daucus


carota,Sukrosa,NaCl, ,Plasmolisis,Deplasmolisis,tekanan osmosis,tekanan osmosis,
insipien plasmolisis, permeabilitas membran sel.

Pendahuluan

Fisiologi merupakan kajian tentang bergbagai proses dalam organisme, salah satu
cabangnya adalah fisiologi tumbuhan. Fisiologi tumbuhan adalah ilmu yang kajiannya
banyak terkait dengan air. Hal ini diakibatkan karna banyak nya peran air bagi tumbuhan.
Banyak aktivitas tumbuhan yang ditentukan oleh sifat air dan bahan yang terlarut dalam
air itu sendiri. Sehingga pengetahuan mengenai air akan membantu untuk memahami ilmu
fisiologi tumbuhan (Salisbury and Cleon, 1995)

Pada sistem tanah-tanaman-udara, air mengalir menembus tanah ke permukaan akar


tanaman, melalui akar ke saluran xylem, ke atas saluran xylem ke daun, melalui daun ke
permukaan yang menguapkan dan akhirnya melalui fase uap ke udara turbulen.
Disepanjang perjalanan ini berbagai hambatan terhadap gerakan ini dihadapi dan tentu
saja ada gaya-gaya yang menggerakkan air (Wilkins, 1989).

Air mempunyai karakteristik yang unik, akibat rangkaian kedua atom O dan H (H-O-H)
tidak membentuk garis lurus, tetapi membentuk sudut 105o. Keseluruhan air bersifat
netral, tetapi sisi atom H agak bermuatan positif sedangkan sisi atom O bermuatan agak
negatif, sehingga bersifat polar. Karna berlawanan muatan, sisi bermuatan positif akan
saling tarik menarik dengan sisi yang bermuatan negatif dari molekul air lainnya, disebut
juga dengan ikatan hidrogen. Air berbentuk cair pada suhu ruang, dikarnakan adanya
ikatan hidrogen antara molekul-molekul air, sehingga tiap molekul air akan tidak mudah
lepas dan berubah menjadi bentuk gas. Memiliki panas spesifik yang tinggi, yaitu jumlah
energi. yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu 1 g air murni setinggi 1oC. Memiliki gaya
kohesi dan adhesi karna air bersifat polar. Adhesi merupakan daya tarik menarik antara
molekul yang tak sejenis, sementara kohesi merupakan daya tarik menarik antara molekul
yang sejenis (antar sesama air). Gaya kohesi memungkinkan air diangkut dalam
pembuluh xylem dari akar ke daun (Lakitan, 1995).

Air memiliki banyak peran bagi tumbuhan, karna air merupakan faktor utama lingkungan.
Jika kekurangan air tentu setiap organisme termasuk tumbuhan akan mati. Selain itu air
merupakan komponen utama sitoplasma, air juga merupakan pelarut yang dapat
membawa nutrisi dari dalam tanah. Air juga merupakan medium untuk terjadinya reaksi
biokimia dan merupakan komponen utama dalam proses fotosintesis (Kimball, 1994).

Pada umumnya air dan bahan yang terlarut di dalamnya masuk dan keluar dari dalam sel
dengan satu per satu molekul, bukan sebagai aliran masa. Proses ini disebut dengan
difusi, yaitu pergerakkan dari satu tempat ke tempat lain akibat aktivitas kinetik acak atau
gerak termal dari molekul atau ion. Difusi bukanlah suatu kejadian yang mudah diamati,
hal ini dikarnakan difusi zat cair yang menempuh jarak makroskopik tersebut bergerak
lambat (Salisbury & Cleon, 1995).

Sel dapat mengalami peristiwa plasmolisis, atau peristiwa mengkerutnya bagian dari sel
karena pengaruh beberapa faktor. Sebuah sel yang protoplasmanya memperlihatkan
suatu derajat pengerutan dinding sel disebut sedang berplasmolisis. Penyebab langsung
dari peristiwa plasmolisis adalah adanya larutan luar yang lebih pekat (Hipertonis) dari
pada cairan dalam sel. Peristiwa ini disebabkan cairan sel yang bersifat hipotonis
(konsentrasi rendah atau mengandung sedikit solut) berpindah ke larutan yang bersifat
hipertonis (konsentrasi tinggi atau mengandung banyak solut). Jika sel yang telah
berplasmolisis dipindahkan ke air murni , maka membran sel akan kembali kebentuk
semula, air disebut juga hipotonik terhadap cairan sel. Sebuah sel yang dindingnya
memperlihatkan suatu derajat ketegangan, dikatakan turgid atau dalam keadaan turgor,
dan sel yang telah mencapai titik kejenuhan air adalah turgid sekali atau dalam keadaan
torgor penuh. Sebagaimana adanya derajat-derajat pada plasmolisis, maka ada pila
derajat turgor yang berkisar dari turgor nol sampai turgor penuh (Loveles,1991).

Osmosis merupakan bagian dari difusi, dimana pada osmosis terjadi perpindahan zat-zat
melalui suatu membran. Membran ada yang bersifat permeable, semipermeable, dan
selektif permeable. Membran sel dikatakan bersifat permiabel apabila membran sel dapat
dilalui oleh seluruh partikel tanpa adanya seleksi. Semi permeabel berarti membran sel
hanya dapat dilalui oleh partikel tertentu yang dibutuhkan sel guna kelangsungan
metabolisme sel , pada umumnya proses ini di bantu dengan protein chanel yang terdapat
pada membran bilayer, sedangkan selektif permiabel hanya dapat dilalui oleh molekul-
molekul tertentu (Dwijoseputro, 1985).

Pelaksanaan Praktikum

Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah daun Rhoe discolor, Daucus carota,
aquades, larutan NaCl 1M, larutan sukrosa 0.1M, 0.12M, 0.14M, 0.16M, 0.18M, 0.20M,
0.22M, 0.24M. alat yang digunakan yaitu silet, cork borer, tabung reaksi, pipet tetes, rak
tabung reaksi, kaca objek dan cover glass.
Plasmolisis dan Deplasmolisis pada Jaringan Epidermis Rheo discolour

Perlakuan A. Epidermis daun Rheo discolour disayat tipis membujur pada bagian bawah
daun, ditempatkan pada kaca objek dan ditetesi dengan aquades. Diamati bentuk sel dan
komponen sel pada miroskop.

Perlakuan B. kemudian tetesi kembali sayatan epidermis daun Rhoe discolour dengan
NaCl 1M, diamati dan dicatat beapa lama proses plasmolisis terjadi pada sayatan
epidermis daun. Setelah jaringan terplasmolisis, sayatan epidermis daun tersebut ditetesi
kembali dengan aquades, diamati berapa waktu yang dibutuhkan untuk jaringan daun ter
desplasmolisis.

Penentuan Tekanan Osmotik Cairan Sel

Perlakuan A. disediakan sembilan tabung reaksi dan diisi dengan aquades dan sukrosa
sebanyak 10 ml. tabung pertama diisi dengan aquades, tabung selanjutnya diisi sukrosa
dengan konsentrasi 0,1M, 0,12M, 0,14m, 0,16M, 0,18M, 0,20M, 0,22M, 0,24M. Epidermis
daun Rheo discolour di sayat dan diperiksa dibawah mikroskop berapa banyak selnya
yang utuh, lalu dimasukkan pada masing-masing tabung reaksi, ditunggu samapai 30
menit.

Perlakuan B. setelah 30 menit, diperiksa berapa banyak sel yang terplasmolisis, dan cari
berapa konsentrasi sukrosa yang menjadi insipient plasmolisis (mendekati 50%).

Pengaruh Suhu, Senyawa Kimia Terhadap Permeabilitas Membran Sel

Perlakuan A. disediakan enam buah

tabung reaksi yang diisi 10 ml aquades ke dalam tabung reaksi, masing-masing di


panaskan pada suhu 40oC, 500C, 600C, 700c, 800c, Masing-masing air di panaskan di
penangas air, diamkan selama 1 menit dan dimasukkkan kembali ke dalam aquaes,
kemudian permeabilitas membran dapat di ukur dengan spectronic.

Perlakuan B. pengaruh senyawa kimia terhadap permeabilitas yaitu di gunakan zat kimia
metanol dan aseton, masing-masing diisi dengan kadar 15 ml, di biarkan selama 1 jam,
kemudian di ukur dengan menggunakan spectronic.

Hasil Dan Pembahasan

Tabel 1. plasmolisis dan deplasmolisis jaringan epidermis pada daun Rheo discolor.

Perlakuan Deskripsi Rentang Waktu

Air Tdk terplasmolisis -


NaCl (1M) Terplasmolisis 3 menit
Air Terdeplasmolisis 2 menit

Setelah melakukan percobaan , di dapatkan hasil yaitu, ketika jaringan epidermis daun
Rheo discolor yang ditetesi dengan air, akan terlihat kumpulan dari sel epidermis yang
utuh. Kemudian di tetesi dengan NaCl 1M, lalu diamati dengan menggunakan mikroskop,
terlihat bahwa sel epidermis terplasmolisis dalam rentang waktu 3 menit. Hal ini ditandai
dengan mengkerutnya dinding sel pada jaringan epidermis tersebut. Sedangkan saat sel
yang sudah terplasmolisis tadi ditetesi dengan air, maka sel yang awalnya mengkerut
kembali ke bentuk semula dalam rentang waktu 2 menit. Peristiwa ini disebut dengan
deplasmolisis.

Menurut Lakitan (1995), Sel tumbuhan dapat mengalami kehilangan air, apabila
potensial air diluar sel lebih rendah daripada potensial air didalam sel. Jika sel kehilangan
air cukup besar, maka ada kemungkinan volume isi sel akan menurun besar sehingga
tidak dapat mengisi seluruh ruangan yang dibentuk oleh dinding sel. Sitoplasma biasanya
bersifat hipertonis (potensial air tinggi), dan cairan diluar sel bersifat hipotonis (potensial
air rendah), karena itulah air bisa masuk kedalam sel sehingga antara kedua cairan
bersifat isotonus. Apabila suatu sel diletakkan dalam suatu larutan yang hipertonus
terhadap sitoplasma, maka air didalam sel akan berdifusi ke luar sehingga sitoplasma
mengkerut dan terlepas dari dinding sel, hal ini disebut plasmolisis. Bila sel itu kemudian
dimasukkan ke dalam cairan yang hipotonis, maka air akan masuk kedalam sel dan
sitoplasma akan kembali mengembang hal ini disebut deplasmolisis.

Tabel 2. Penentuan tekanan osmotik cairan sel

No Konsentrasi Sukrosa Jumlah Sel %


Awal akhir
1 - (Kontrol) 120 120 -
2 0,1 110 100 9
3 0,12 90 -
4 0,14 140 132 5,7
5 0,16 60 50 16
6 0,18 85 65 23
7 0,20 150 125 16
8 0,22 120 110 8
9 0,24 90 40 55

%Plasmolisis =Sel awl Sel akh x100%


Sel awal
Percobaan penentuan tekanan osmotik dilakukan dengan melihat nilai insipient
plasmolisis (mendekati 50%). Dapat dilihat pada tabel, pemberian air atau tanpa larutan
sukrosa tidak menyebabkan sel terplasmolisis. Hal ini disebabkan larutan air yang isotonis
atau potensial air sama dengan potensial cairan sel. Sedangkan pemberian larutan
sukrosa dengan kadar 0,1M didapatkan hasil potensial osmosinya sebesar 9%.
Pemberian larutan sukrosa dengan kadar 0,12% tidak dapat diamati, hal ini dikarnakan
kesalahan praktikan saat melakukan praktikum, sehingga jaringan yang direndam pada
larutan sukrosa hilang sehingga tidak dapat diamati. Pemberian larutan sukrosa 0,14%
menyebabkan 5,7% sel epidermis terplasmolisis. Pemberian larutan sukrosa dengan
kadar 0,16% menyebabkan 16% terplasmolisis. Sedangkan pemberian lautan sukrosa
dengan kadar 0,18% menyebabkan 23% sel terplasmolisis. Pemberian lautan sukrosa
dengan kadar 0,20 menyebabkan 16% sel teplasmolisis, penurunan potensial osmosis
terjadi pada kadar 0,22%, dimana larutan sukrosa dengan kadar ini menyebabkan hanya
5% sel terplasmolisis. Sedangkan yang mendekati nilai insipient plasmolisis (mendekati
50%) adalah larutan sukrosa dengan kadar 0,24%. Dimana sel terplasmolisis 55%, artinya
potensial osmotik larutan sama dengan cairan sel.

Salisbury dan Cleon (1995), menyatakan bahwa plasmolysis insipient terjadi pada jaringan
yang separuh jumlah selnya baru saja mengalami plasmolis, atau protoplas mulai terlepas
dari dinding sel), berarti tekanan-dalamnya sama dengan nol. Maka dapat dikatakan
bahwa potensial osmotik larutan penyebab plamolisis insipient setara dengan potensial
osmotik di dalam sel, sesudah kesetimbangan dengan larutan tercapai.

Tabel 3. Pengaruh suhu, senyawa kimia terhadap permebalitas membran sel.

NILAI
NO PERLAKUAN ABSORBAN
(nm)
A Panas
1 800C 0,030
2 700C 0,019
3 600C 0,025
4 500C 0,031
5 400C 0,02
B Dingin
40C 0,031
C Senyawa Kimia
Kontrol 0,011
Metanol 0,018
Aseton 0,020
Setelah dilakukan percobaan pengaruh suhu, untuk perlakuan panas didapatkan nilai
absorban untuk suhu 800C adalah 0,030 nm, suhu 700C nilai absorbannya 0,019 nm, suhu
600C nilai absorbannya 0,025 nm, suhu 500C nilai absorbannya 0,031 nm dan untuk suhu
400C di dapatkan nilai absorban 0,02 nm. Sedangkan untuk perlakuan dingin (40C)
didapatkan nilai absorban 0,031 nm. Untuk perlakuan senyawa kimia, untuk pemberian
aseton didapatkan nilai absorban 0,018 nm, sedangkan untuk metanol didapatkan nilai
absorban 0,020.

Adanya nilai absorban ini menunjukkan bahwa plasma dari sel umbi telah diserap oleh
larutan. Dengan kata lain, pigmen larutan telah terserap oleh larutan sehingga larutan
menjadi keruh. Menurut Salisbury dan Cleon (1995), semakin tinggi suhu maka protein
akan terdenaturasi sehingga membran plasma dapat menjadi rusak akibatnya banyak
cairan sel yang keluar dan nilai absorbannya tinggi. Sehingga dapat dikatakan bahwa hasil
yang didapatkan saat praktikum tidak sesuai dengan literatur. Nilai absorban yang didapat
pada perlakuan panas seharusnya semakin tinggi suhu yang diberikan pada perlakuan
panas maka akan semakin besar pula nilai absorban yang didapat, begitu juga sebaliknya.
Hal ini bisa disebabkan karna ke tidak telitian praktikan atau karna potongan umbi yang
tidak sama besar.

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan
Plasmolisis merupakan peristiwa mengkerutnya sel akibat lepasnya cairan dalam sel yang
berpotensial tinggi ke larutan yang berpotensial rendah. Peristiwa plamolisis dapat
dihentikan dengan memberikan air yang bersifat hipotonis terhadap cairan di dalam sel,
dan disebut dengan peristiwa deplasmolisis. Insipien plamolisis yang terjadi apabila
potensial osmotik larutan penyebab plamolisis insipien setara dengan potensial osmotik di
dalam sel, sesudah kesetimbangan dengan larutan tercapai terjadi pada jaringan yang
ditetesi larutan sukrosa dengan kadar 0,24%. Semakin besar suhu yang dberikan maka
semakin mudah membran plasma menjadi rusak akibatnya banyak cairan sel yang keluar
dan nilai absorbannya menjadi tinggi

Saran

Untuk praktikan selanjutnya diharapkan untuk dapat membagi waktu serta dapat
berkoordinasi dengan rekan kerjanya sehingga praktikum dapat berjalan dengan baik,
selain itu sebaiknya asisten bisa mengarahkan praktikan saat praktikum agar hasil yang
didapatkan maksimal.

Daftar Pustaka

Dwijoseputro, D. 1985. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia. Jakarta.


Kimball, J.W.1994. Biologi jilid I. UGM press : Yogyakarta

Lakitan, Benyamin. 1995. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta :PT. Raja Graf Indo
Persada

Loveless, A.R. 1987. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik 1. PT.
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Salisbury, J.W. dan Cleon W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid I. ITB.
Bandung.

Wilkins, M.B. i989. Fisiologi tanaman.Jakarta. PT Bina Aksara.