Anda di halaman 1dari 9

KOMPOSISI KIMIA MEMBRAN SEL DAN

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMEABILITAS

Jurusan Biologi, Fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam


Universitas Andalas

ABSTRAK

Membran sel pada umbi akan mengalami kerusakan jika diberikan perlakuan
suhu yang ekstrim. Praktikum ini dilakukan untuk melihat pengaruh berbagai
perlakuan fisik dan kimia terhadap permeabilitas membran serta pengaruh asam dan
basa terhadap permeabilitas membran jaringan. Pengaruh perlakuan panas dan dingin
terhadap permeabilitas sel menyebabkan semakin tinggi atau terlalu terlalu
rendahnya suhu yang diberikan pada jaringan umbi maka nilai absorban yang
diperoleh akan semakin besar. Hal ini menyebabkan membran semakin rusak
akibatnya semakin banyak pula isi sel yang ke luar dan larutan menjadi keruh.
Pelarut pada percobaan ini seperti etanol, methanol, KOH, NH4OH dan HCL akan
mempengaruhi permeabilitas membran. Semakin tinggi kosentrasi pelarut maka nilai
absorbannya juga semakin tinggi.

Kata kunci : Membran sel, absorban, permeabilitas.

PENDAHULUAN memungkinkan beberapa zat untuk


menembus membran tersebut secara
Sel tumbuhan dibatasi oleh dua
lebih mudah dari pada zat zat yang
lapisan pembatas yang sangat berbeda
lain. Lipid dan protein adalah bahan
komposisi dan strukturnya. Lapisan
penyusun utama membran disamping
terluar adalah dinding sel yang
karbohidrat. Lipid yang paling
tersusun atas selusosa, lignin dan
melimpah disebagian besar membran
polisakarida lain. pada dinding sel
adalah fosfolipid. Kemampuan
tumbuhan terdapat lubang yang
fosfolipid ung pada untuk membentuk
berfungsi sebagai saluran antara satu
membran merupakan sifan inheren
sel dengan sel yang lain yang disebut
dalam struktur molekularnya
dengan plasmodesmata. Lapisan
(Campbell,2002)
dalam sel tumbuan adalah membran
Membran sel adalah lapisan
sel atau membran plasma. Membran
yang melindungi inti sel dan
plasma adalah tepi kehidupan,
sitoplasma, serta membungkus
pembatasan yang memisahkan sel
organel-organel didalam sel. Membran
hidup dari lingkungan sekelilingnya.
sel merupakan lapisan semi permeable
Membran plasma menunjukkan
permeabilitas selektif artinya yang mengotrol pertukaran zat-zat
antara bagian dalam sel dan yang normal kurang atau lebih lumid
lingkungan luar (Subowo,1999) karena tingkat volumenya dari
Membran plasma merupakan protoplas yang diplasmolisi sulit
batas kehidupan, batas yang diukur dengan tiap terjadinya.
memisahkan sel hidup dari (Willking, 1989).
sekelilingnya yang mati. Lapisan tipis Adanya sifat hidrofobik di
yang luar biasanya ini tebalnya kira- bagian tengah lapisan lipid membran
kira hanya 8 nm dibutuhkan lebih dari plasma menyebabkan membran
8000 membran plasma mengontrol tersebut tidak mudah ditembus oleh
lalu lintas ke dalam dan ke luar sel molekul polar, sehingga membran sel
yang dikelilinginya. Seperti semua mencegah keluarnya komponen-
membran biologis, membran plasma komponen dalam sel yang larut dalam
memiliki permeabilitas selektif, yakni air. Namun, sel juga memerlukan
membran ini memungkinkan beberapa bahan-bahan nutrisi dan membuang
substansi dapat melintasinya limbahnya ke luar sel. Untuk
dengannya lebih mudah dari pada memenuhi kebutuhan ini, sel harus
substansi yang lainnya. Salah satu mengembangkan suatu sistem atau
episode yang paling awal dalam mekanisme khusus untuk transpor
evolusi kehidupan mungkin berupa melintasi membran sel. (Subowo,
pembentukan membran yang 1995).
membatasi suatu larutan yang
mempunyai komposisi yang berbeda METODE PRAKTIKUM
dari larutan sekelilingnya, tetapi masih
1.Pengaruh suhu dan senyawa kimia
bisa melakukan penyerapan nutrien
terhadap permeabilitas membran sel
dan pembuangan produk limbahnya.
Untuk mengamati pengaruh suhu dan
Kemampuan sel untuk membedakan
senyawa kimia terhadap permeabilitas
pertukaran kimiawinya ini dengan
membran sel maka dilakukan
lingkungannya merupakan hal yang
percobaan dengn berbagai perlakuan
mendasar bagi kehidupan, dan
menggunakan umbi seperti perlakuan
membran plasma inilah yang membuat
panas, perlakuan dingin dan perlakuan
keselektifan ini bisa terjadi.
menggunakan senyawa kimia. Dicuci
(Campbell, dkk, 2002).
bersih umbi kentang dengan sikat
Membran sel merupakan
kemudian dipotong 2 bentuk silinder
permeabel terhadap bagian pelarut
umbi dengan bantun bor dengan
larutan secara eksternal maka interaksi
ketebalan 3 cm. Umbi dicuci selama
fisiologi dapat terjadi diantara aliran-
10-15 menit.
aliran antara pelarut. Untuk mengukur
1.1 Perlakuan Panas
berbagai pelarut berbagai membran
2/3 air dipanaskan dengan gelas piala
nilella transinans bahwa membran
1000 ml diatas api atau hot plete.
terutama membran plasmolemma dan
Potongan umbi dimasukkan ke dalam
protoplasma yang telah diplasmolisis
gelas piala pada suhu 700C selama 1
mungkin sangat berbeda dengan sel
menit. Setelah 1 menit dipindahkan 1 jam kemudian diukur ilia
umbi ke dalam tabung reaksi berisi 15 absorbannya.
ml air pada suhu masingmasing 400C, 2. Permeabilitas jaringan hidup pada
500C, 600C, 700C, 800C. Setelah larutan asam basa
diinkubasi selama 1 jam, umbi Disiapkan 10 sayatan epidermis Rhoeo
dikelurkan dan tabung reaksi dikocok discolor. 10 ml Larutan penguji (air,
kemudian dihitung nilai absorbannya KOH, NH4OH, HCL, CH3COOH)
pada panjang gelombang 525 nm pada dimasukkan ke dalam tabung reaksi . 2
spektrofotometer sayatan Rhoeo discolor dimasukkan ke
1.2 Perlakuan Dingin dalam air, 2 sayatan dimasukkan ke
Umbi dipotong kemudin didinginkan dalam larutan KOH dan 6 sayatan
hingga membeku. Umbi dimasukkan dimasukkan ke dalam larutan NH4OH.
ke dalam tabung reaksi yang berisi 15 4 Sayatan dibilas dengan air kemudian
ml air. Sebagai kontrol umbu kentang 2 sayatan Rhoeo discolor yang telah
yang tidak didingainkan dimasukkan dibilas dimasukkan ke dalam larutan
ke dalam 15 ml air. Diinkubas umbi HCL dan 2 sayatan lagi dimasukkan
selama 1 jam, cek nilai absorbannya ke dalam CH3COOH. Di catat waktu
dengan spektrofotometer. perubahan warna kemudian dibilas
1.3 Perlakuan dengan senyawa kimia dan masukkan ke dalam larutan
Umbi dimasukkan ke dalam larutan NH4OH.
methanol dan aseton. Inkubasi selama
senyawa kimia terhadap permeabilitas
membran sel didapatkan hasil yang
HASIL DAN PEMBAHASAN disajikan pada tabel berikut:

Dari hasil pengamatan pada percobaan


pertama mengenai pengaruh suhu dan
Tabel 1. Perlakuan Panas
Absorban
No Perlakuan
525 (nm) 540 (nm)
1 Kontrol 0,015 0,001
2 Suhu 400C 0,008 0,004
3 Suhu 500C 0,006 0,003
4 Suhu 600C 0,017 0,004
5 Suhu 700C 0,012 0,001
6 Suhu 800C 0,008 0,002
Tabel 2.Perlakuan dingin
Absorban
No Perlakuan
525 (nm) 540 (nm)
0
1 Suhu 0 C 0,016 0,002
2 Suhu 400C 0,018 0,002

Tabel 3. Dengan perlakuan senyawa kimia


Absorban
No Perlakuan
525 (nm) 540 (nm)
1 Aseton 0,338 0,030
2 Metanol 0,001 0,005

Data yang didapatkan pada percobaan jaringan hidup pada larutan asam dan
kedua mengenai permeabilitas basa disajikan pada tabel berikut :
Tabel 4. Efek zat terlarut
Absorban
No Perlakuan
525 (nm) 540 (nm)
1 Sukrosa -0,018 0,002
2 Metanol -0,006 0,001

Tabel 5. Tabel waktu perubahan warna Rhoeo discolor dengan berbagai larutan
No Perlakuan Waktu Perubahan warna (s) Rata-Rata
Ulangan 1 Ulangan 2 Ulangan 3
1 H2O 4 4 6 4,6
2 KOH 2 5 3 3,3
3 NH4OH 1 6 5 4
4 HCl 5 3 6 4,6
5 CH3COOH 4 4 5 4,3
6 NH4OH 5 7 7 6,3
7 NH4OH 5 4 3 4

Percobaan panas menghasilkan nilai yang diberikan maka nilai absorban


absorban dan kepekatan yang berbeda- akan semakin besar. Karena semakin
beda pada spektrofotometer. tinggi suhu, menyebabkan membran
Berdasarkan hasil pengamatan, nilai semakin rusak akibatnya semakin
absorban tertinggi untuk perlakuan banyak pula isi sel yang ke luar.
panas, diperoleh angka 0,017 pada Seperti diketahui bahwa komponen
temperatur 60C. Pada perlakuan membran tersusun atas lipid dan
panas, seharusnya semakin tinggi suhu protein. Jika suhunya terlalu tinggi,
protein akan mengalami denaturasi yang direndam dengan metanol
kemudian meyebabkan isi di dalam sel memperlihatkan bentuk umbi yang
ke luar karena protein penyusun mengembung, sementara umbi yang
membran selnya rusak. Akan tetapi direndam didalam aseton menunjukan
pada percobaan didapatkan hasil yang keadaan umbi yang mengkerut. Hal
tidak sesuai dengan literatur. Bahkan tersebut sangat berkaitan dengan nilai
pada suhu 80C nilai absorbannya permeabilitas membran sel. Umbi
adalah 0,008. Kesalahan dalam yang direndam dalam larutan aseton
percobaan ini disebabkan oleh ternyata memiliki kerusakan
beberapa hal antara lain jaringan yang permeabilitas membran yang besar
dipotong tidak sama besar. Kemudian karena larutan aseton dapat merusak
pada waktu pemanasan, waktu yang komponen membran sehingga larutan
digunakan tidak efisien karena setiap intra sel berdifusi keluar sel. Hal
kelompok menggunakan penangas air sebaliknya terjadi pada metanol,
yang sama. Jadi saat pengambilan dimana membran sel menjadi
jaringan tidak tepat waktunya 1 menit, sedikit berkurang daya
kebanyakan sudah lewat dari waktu permeabilitasnya sehingga ada cairan
semestinya karena praktikan harus yang masuk kedalam sel yang
antri. mengakibatkan sel umbi menjadi
Pada perlakuan dingan, suhu mengembung. Nilai absorban yang
0C lebih kecil absorbannya yaitu berhasil diamati, yaitu untuk metanol
0,016 jika dibandingkan dengan suhu sebesar 0,01 nm, untuk aseton sebesar
40C yaitu 0,018. Hal ini berarti pada 0,338 nm.
suhu 40C membran mengalami Menurut Bonner (1961) setiap
kerusakan yang lebih parah pemberian zat kimia yang berbeda
dibandingkan dengan suhu 0C. Suhu mempengaruhi tingkat permeabilitas
ini mungkin terlalu ekstrim bagi yang berbeda pula. Pemberian
ketahanan membran karena membran metanol, mempengaruhi tingkat
tidak tahan terhadap suhu yang terlalu kerusakan membran sel yang tinggi
tinggi atau terlalu rendah. dibandingkan dengan perlakuan
Menurut yatim (2000) dengan menggunakan aseton maupun
Pembekuan telah menyebabkan benzen. Metanol adalah senyawa
permeabilitas membran sel tinggi. alkohol yang bersifat polar, sehingga
Karena air yang berada di sekeliling mampu melarutkan senyawa organic
bit gula yg telah dibekukan berubah seperti membrane sel. Membran yang
menjadi kristal-kristal tajam dan terlarut ini kemudian kehilangan
kristal-kristal tersebut mengoyak turgiditasnya dan menyebabkan isi sel
dinding membran sel sehingga keluar. Aseton adalah pelarut yang
menyebabkan pigmen dan isi sel sangat baik untuk berbagai senyawa
lainnya keluar. organic, keluarnya isi sel hamper
Hasil yang didapatkan setelah mirip dengan yang terjadi pada
melakukan pengamatan terhadap umbi methanol. Benzen merupakan senyawa
aromatik yang tidak larut dalam air yang bersifat selektif permeabel,
dan berbentuk emulsi. melalui suatu pertukaran ion. Dimana
Perbedaan permeabilitas sangat ion-ion yang berada di dalam sel, jika
bergantung pada besar kecilnya keluar dari dalam sel akan di gantikan
molekul yang lewat dan ditentukan oleh ion-ion yang ada di luar sel.
dengan besarnya pori-pori membran. Sehingga permeabilitas membran
Tapi pada membran plasma sel hidup dapat dilalui oleh ion-ion. Secara
besarnya molekul tidak berpengaruh, kimia antosianin adalah senyawa
hal ini disebabkan adanya kaitan berbentuk glikosida yang menjadi
antara kelarutan zat dalam salah satu penyebab warna merah biru dan violet
komponen membran (Salisbury,1995). pada buah dan sayuran.
Pada percobaan kedua
absorban yang didapat pada larutan KESIMPULAN
sukrosa lebih besar yaitu -0,018 Dari hasil percobaan yang didapatkan,
dibandingkan dengan metanol yaitu dapat disimpulkan bahwa :
sebesar -0,006. Daun Rhoeo discolor 1. Membran sel akan mengalami
yang direndam kedalam larutan HCl kerusakan jika diberikan perlakuan
dan CH3COOH akan berubah menjadi suhu yang ekstrim. Semakin tinggi
memerah karena HCl dan CH3COOH suhu yang diberikan, maka kerusakan
merupakan larutan yang bersifat asam pada membran akan semakin parah
sedangkan irisan daun Rhoeo discolor karena membran sel tidak tahan
berubah menjadi berwarna agak terhadap keadaan yang terlalu panas
kebiruan setelah di masukkan kedalam ataupun terlalu dingin.
larutan NH4OH dan KOH karena 2. Perlakuan panas pada suhu 600C
kedua larutan ini berifat basa. Pada Memiliki nilai absorban paling tinggi
percobaan kedua larutan KOH akan yaitu 0,017 nm
cepat merusak membran pada daun 4. Perlakuan panas pada suhu 00C
Rhoeo discolor karena memiliki waktu Memiliki nilai absorban paling tinggi
paling cepat dalam merubah warna yaitu 0,018 nm
pada daun Rhoeo discolor yaitu hanya 5. Semakin cepat waktu yang
dalam 3,3 detik. digunakan untuk merubah warna
Menurut Subowo (1995), berarti larutan tersebut memiliki
asam dan basa akan berpengaruh absorban yang tibggi seperti NH4OH
terhadap warna antosianin dimana dalam waktu 4 detik.
pada pH rendah (asam) antosianin 6. Zat terlarut ada yang dapat
berwarna merah dan dimana pada pH melewati membran, dan ada yang
tinggi (basa) berwarna violet tidak tergantung dari sifat membran
kemudian menjadi biru. Pengaruh ion yang dilaluinnya.
terhadap membran terkait dengan
SARAN
perubahan permeabilitasnya dimana
Berdasarkan praktikum yang telah
kita ketahui bahwa ion-ion untuk
dilaksanakan sebaiknya praktikan
dapat melewati suatu membran sel
mengetahui cara kerja dari objek
praktikum dengan baik dan pada
praktikum disediakan alat yang
representatif.

DAFTAR PUSTAKA Salisbury, J.W. dan Ross. 1995.


Fisiologi Tumbuhan Jilid I. Bandung :
Bonner, J. 1961. Priciples of Plant ITB.
Physiology. Canada : Pasadena.
Yatim, W. 2000. Embriologi.
Campbell, 2002 Biologi Edisi Kelima Semarang : CV. Tarsito.
Jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Willking. 1989. Fisiologi Tanaman II.
Subowo. 1995. Biologi Sel. Bandung : Bandung : Bina Angkasa
Angkasa.
JURNAL
FISIOLOGI TUMBUHAN
KOMPOSISI KIMIA MMEMBRAN SEL DAN
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMEABILITAS

NAMA : HIDAYATUL ANNISA


NO.BP : 1210422012
KELOMPOK : VII B
ANGGOTA : ANDRI PRIMA PUTRA (1210423040)
NOVIA LIZA R (1210422042)
RIZKA WIDIYANA (1210422034)
ASISTEN : MAYOLA

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS ANDALAS

PADANG, 2014