Anda di halaman 1dari 37

Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer

BAB VI
PERAWATAN ORANG SAKIT

Sehat dan sakit merupakan fitrah dan Islam agama


yang sejalan dengan fitrah di satu sisi, dan agama Islam
telah memberikan ketentuan dan batasan yang
seharusnya dilakukan dan yang seharusnya tidak
dilakukan oleh orang sakit. Di sisi lain, bagaimana
tuntunan Islam dalam merawat orang sakit, apa saja
yang harus dilakukan terhadap orang sakit, baik yang
sakit ringan atau yang sudah kritis. Bagi orang yang
sakit, menurut anjuran Islam agar berobat dengan yang
halal, tetapi di sisi lain seseorang dianjurkan tawakkal
dan sabar, bagaimana mempertemukan dua hal
tersebut yang sepintas kontradiksi.

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
2

1. Hakikat Sakit
Sakit, dalam bahasa Inggris, disebut disease, illness, dan
sickness. Secara khusus, disease berdimensi biologis, illness
berdimensi psikologis, dan sickness berdimensi sosiologis. Bagi orang
Islam, sakit seharusnya dipahami sebagai ujian dan cobaan dari Allah,
sebagai rahmat dan bukti tanda kasih sayang Allah, sesuai dengan


penjelasan Nabi saw.:




) (


Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan
yang besar pula. Apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Allah
akan memberikan cobaan kepada mereka, barangsiapa yang
ridha (menerimanya) maka Allah akan meridhoinya dan
barangsiapa yang murka (menerimanya) maka Allah murka
kepadanya (HR. at-Tirmidzi).


Semakna dengan itu, dalam hadis lain Nabi bersabda:

(



)
Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya, maka
Allah menyegerakan siksaan baginya di dunia (HR. at-
Tirmidzi dari Anas bin Mlik).

1. Sakit sebagai Penebus Dosa dan Kesalahan


Dalam hadis-hadis Nabi, ditemukan dalil-dalil yang sepintas
terasa kontradiktif, ada anjuran bersabar menghadapi sakit tanpa
mengupayakan kesembuhan di satu sisi karena akan diampuni dosa-
dosanya, dan akan dimasukkan surga tanpa hisaba, dan di sisi lain
terdapat anjuran agar berobat, anjuran pindah dari satu takdir ke
takdir lain. Hadis-hadis demikian dapat dipahami sesuai dengan
konteks, ada saatnya berobat akan lebih baik dan dalam kondisi
tertentu akan lebih baik bersabar dan tidak perlu berobat.

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
3

Sakit merupakan penebus dosa dan kesalahan, dalil-dalil yang


sangat banyak, di antaranya hadits Jbir bin Abdullh r.a.
sesungguhnya ia mendengar Rasulullah Saw bersabda:

Jika seorang mukmin sakit, laki-laki dan perempuan, dan


tidaklah pula dengan seorang muslim, laki-laki dan perempuan,
maka Allah Swt akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya
dengan hal itu, sebagaimana bergugurannya dedaunan dari
pohon (HR. Ahmad).

Juga disebutkan:



) (
"Jika seorang mukmin tertimpa penyakit dan selainnya maka
Allah hapuskan dengannya dosanya, sebagaimana rontoknya
dedaunan pohon" (Muttafaq Alaih).
Saat Nabi menjenguk Ummus Saib yang mengerang kesakitan
menanyakan: "Mengapa engkau mengerang, wahai Ummus Saib?
"Aku terkena demam yang tidak ada berkah Allah padanya." Nabi saw
berkata:

) (

"Janganlah engkau mencela demam karena ia menghapus dosa-


dosa anak Adam sebagaimana panas yang merontokkan karat
besi" (HR. Muslim).
Allah berfirman dalam hadis Qudsi:

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
4


) (
"Wahai anak Adam, jika diambil kedua matamu dan kamu
bersabar dan berharap pahala pada awal peristiwa, Aku tidak
ridha untukmu pahala selain surga" (HR. Muslim).
Diriwayatkan pula bahwa Nabi saw menjenguk orang yang sakit dan
bersabda,



) (

"Berilah kabar gembira, sesungguhnya Allah swt berfirman: "Itu
adalah apa yang Aku Kuasakan kepada hamba-Ku yang berdosa
di dunia sebagai pengurang dari api neraka di akhirat" (HR. Ibnu
Mjah)

Pahala dari musibah yang menimpanya, meliputi sakit berat atau


ringan, selama ia tetap sabar menghadapinya:

Tidak disangsikan lagi bahwa setiap kali musibahnya lebih besar


dan sakitnya sangat berat, maka akan bertambahlah pahalanya,
akan tetapi sakit ringan juga tetap akan mendapat pahala.

2. Sakit akan mengangkat derajat dan menambah kebaikan

Sakit akan mengangkat derajat dan menambah kebaikan. Dalil-dalil


tentang hal itu diantaranya hadits Aisyah ra, ia berkata, aku pernah
mendengar Rasulullah Saw bersabda:

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
5

Tidak ada seorang muslimpun yang tertusuk duri, atau yang lebih
dari itu, melainkan ditulis untuknya satu derajat dan dihapus
darinya satu kesalahan (HR. Muslim no. 2572).

Disamping menghapuskan kesalahan, juga diangkatderajat dan


tambahan kebaikan. An-Nawawi menyatakan, terdapat kabar gembira
yang besar bagi kaum muslimin, tidak berkurang sedikitpun dari diri
mereka, dan di dalamnya dijelaskan tentang penebus berbagai
kesalahan dengan segala penyakit, segala musibah dunia dan duka
citanya, sekalipun kesusahan itu hanyasedikit. Dijelaskan pula tentang
pengangkatan derajat dengan perkara-perkara ini dan tambahan
kebaikan (Syarh an-Nawawi atas Shahih Muslim 16/193).

3. Sakit merupakan sebab untuk mencapai kedudukan yang tinggi

Sakit merupakan sebab untuk mencapai kedudukan yang tinggi, sesuai


dengan hadis Nabi, dari Abi Hurairah r.a. ia berkata, Rasulullah Saw
bersabda:

Sesungguhnya seseorang akan memperoleh kedudukan di sisi Allah


Swt, ia tidaklah memperolehnya dengan amalan, Allah Swt
senantiasa terus mengujinya dengan sesuatu yang tidak disukainya,
hingga ia memperolehnya (HR. al-Hakim dan ia menshahihkannya
1/495).

4. Sakit merupakan bukti bahwa Allah Swt menghendaki kebaikan


terhadap hamba-Nya

Hal itu ditunjukkan oleh hadits-hadits yang sangat banyak,


diantaranya adalah:

1. Hadits Shuhaib bin Sinan r.a, ia berkata, Rasulullah Saw


bersabda:

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
6

Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin,


sesungguhnya semua perkaranya menjadi kebaikan, dan hal itu
tidak pernah terjadi kecuali bagi seorang mukmin: jika ia
mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka hal itu menjadi
kebaikan baginya, dan jika ia mendapatkan musibah, ia bersabar,
maka itu menjadi kebaikan baginya (HR. Muslim).

2. Hadits Abu Hurairah r.a. ia berkata, Rasulullah Saw bersabda:

Barangsiapa yang Allah Swt menghendaki kebaikan dengannya,


niscaya Dia menimpakan musibah kepadanya (HR. al-
Bukhari No.5645).

3. Hadits Anas bin Malik r.a. dari Nabi Saw, beliau bersabda:

Sesungguhnya besarnya balasan disertai besarnya cobaan, dan


sesungguhnya apabila Allah Swt mencintai suatu kaum, Dia
mencoba mereka, barangsiapa yang ridha maka untuknya
keridhaan dan barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan
(HR. at-Tirmidzi no. 5645).

5. Sakit membawa kepada Muhasabah (introspeksi diri)

Sesungguhnya sakit membawa kepada muhasabah (introspeksi diri)


dan tidak sakit membuat orang terperdaya. Hukum ini berdasarkan
kebiasaan, pengalaman dan realita. Sesungguhnya apabila seseorang
menderita sakit, ia akan kembali kepada Rabb-nya, kembali kepada

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
7

petunjuk-Nya, dan memulai untuk melakukan intropeksi terhadap


dirinya sendiri atas segala kekurangan dalam ketaatan, dan menyesali
tenggelamnya dia dalam nafsu syahwat, perbuatan haram serta
penyebab-penyebab yang mengarah kepadanya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: Musibah yang


engkau terima dengannya terhadap Allah Swt lebih baik bagimu
daripada nikmat yang membuatmu lupa untuk berdzikir kepada-
Nya. (Tasliyatu ahli al-Masha`ib).

6. Sakit menjadi penyebab kembalinya hamba kepada Rabb-Nya

Cobaan merupakan penyebab kembalinya hamba kepada Rabb


mereka, yaitu pada saat Dia menghendaki kebaikan terhadap mereka.
Karena inilah, Allah Swt berfirman:

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada


umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka
dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya
mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan
diri (Q.s. al-Anm (6): 42)

Dan Allah Swt berfirman:

Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan


(bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada
kebenaran)(Q.s. al-Arf: 168)

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
8

Para ulama menyebutkan 13 hikmah bagi orang yang sakit, yaitu:


1. Mendidik dan menyucikan jiwa dari keburukan.
2. Mendapatkan kebahagiaan (pahala) tak terhingga di akhirat.
3. Allah (berada) dekat dengan orang sakit.
4. Sebagai parameter kesabaran seorang.
5. Dapat memurnikan tauhid dan menautkan hati kepada Allah.
6. Memunculkan berbagai macam ibadah yang menyertainya.
7. Dapat mengikis sikap sombong, ujub, dan besar kepala.
8. Memperkuat harapan (raja) kepada Allah.
9. Merupakan indikasi bahwa Allah menghendaki kebaikan.
10. Allah tetap menulis pahala kebaikan yang biasa dilakukan oleh
orang yang sakit.
11. Sakit dapat menghantarkan ke kedudukan tertentu di Surga.
12. Dengan sakit akan disadari besarnya makna sehat.
13. Bagi seorang muslim, sakit merupakan rahmat bukan siksa.
Ahmad Yani dalam buku Panduan Menghadapi Sakit dan
Kematiandisebutkan, ada lima keutamaan sakit menurut Islam:
1. Menghapus dosa,
2. Tetap mendapatkan pahala dari kebaikan yang biasa dilakukannya
saat sehat,
3. Memperoleh pahala kebaikan,
4. Memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah SWT.
5. Memperoleh ganjaran surga
Semua pahala dan keutamaan yang dijanjikan diberikan kepada
orang yang sakit tersebut bukan semata pada sakitnya, tetapi kepada
cara menyikapinya dengan sabar, itulah yang dalam Alquran
menjanjikan pahala tiada terduga. Di samping itu, syaratnya mesti
orang yang beriman.

2. Tuntunan Islam Bagi Orang Sakit


Syariat Islam memberikan tuntunan umum terhadap orang
yang sakit, apa pun jenis penyakitnya maupun kondisinya, termasuk
kepada orang yang berada di sekitarnya, baik keluarga, perawat, atau
penjenguknya. Tema-tema Islam yang terkait dengan mereka, antara
lain, menerima qada dan qadar Allah, agar tetap optimis, bersabar,
bersyukur, Husnuzh Zhan, bertawakkal, bertobat, beramal salih,
berharap dan cemas (khauf dan raja), memperbanyak zikir dan
Istighfar, berwasiat, jika masih ada urusan tertentu dengan orang lain

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
9

untuk segera diselesaikan, men-talqin, membimbing beribadah,


menjaga agar pakaiannya tetap bersih dan suci, menjaganya agar
tidak terganggu, dan sebagainya.
Dalam banyak Hadis terdapat anjuran khusus bagi orang sakit
seperti agar berobat, tidak mengeluhkan sakitnya, tidak berharap atau
meminta mati akibat pedihnya penderitaan yang dialami dan tetap
berbaik sangka (Husn al-Zhann) kepada Allah. Seperti disebutkan
dalam Hadis:





:
)(
Janganlah berharap kematian karena derita yang dihadapi,
namun jika tidak bisa tidak maka berdoalah: Ya Allah, hidupkan
saya sekiranya hidup baik bagi saya, dan matikan saya sekiranya
mati itu baik bagi saya" (HR. al-Bukhri, Muslim, al-Turmudzi,
Ahmad, Ibn Hibbn, dan Ab Dwd dari Anas bin Mlik).
Agar tetap berbaik sangka kepada Allah, antara lain disebutkan
dalam Hadis:

(

)
Janganlah mati, keculai ia berbaik sangka kepada Allah Ta'ala"
(HR. Muslim, Ibn Hibbn, Ibn Mjah, dan Ahmad dari Jbir).
Tidak berputus asa dari rahmat Allah, bersabar atas sakit yang
diderita, sebagaimana Nabi pernah menganjurkannya kepada Ummi
Zufar.

Tetap Berupaya Mengupayakan Kesembuhan


Dalam kondisi dimungkinkan ada harapan sembuh, pasien
dianjurkan mengupayakan kesembuhan. Berobat dengan yang halal,
menjauhkan diri dari yang haram, atau berobat dengan sesuatu yang

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
10

merusak aqidah, misalnya, seperti datang kepada dukun, tukang sihir


atau ke tempat lainnya.Nabi Saw., bersabda:

( (


Allah tidak menurunkan suatu penyakit, kecuali Allah turunkan
juga obatnya (HR.al-Bukhri).

Dalam hadis yang lain, Nabi Saw. bersabda:



) (


Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya, maka
berobatlah kalian, dan jangan berobat dengan sesuatu yang
haram (HR.al- Haitsami).
Di samping menggunakan kata al-Muharram, dalam hadits lain
digunakan kosa kata al-Khabts atau bentuk jamaknya al-Khubuts,
seperti:

) (





Rasulullah saw melarang berobat dengan al-Khubuts" (HR.
Ahmad, Muslim, Ibn Mjah, dan at-Turmudzi)
Dalam hadits lain dinyatakan:

) (
Rasulullah saw melarang berobat dengan al-Khabits" (HR.
Ahmad, Ibn Mjah, dan Abu Dwd).
Jika bertambah parah sakitnya, separah apa pun, tetap tidak boleh
berputus asa atau mengharapkankematian. Rasulullah Saw bersabda:

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
11




) (
Janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan
kematian, dan janganlah meminta kematian sebelum datang
waktunya. Apabila seorang di antara kalian meninggal, maka
terputus amalnya. Dan umur seorang mukmin tidak akan
menambah baginya kecuali kebaikan (HR. Muslim).

Namun demikian, sekiranya tak tertahankan lagi nyeri atau pedihnya


sakit maka diperkenankan berdoa memohon dipilihkan yang terbaik,
mati atau atau hidup, seperti disebutkan dalam hadis Nabi:

:
:


:


) (



Janganlah ada salah seorang dari kalian yang mengharap
kematian karena musibah yang menimpanya. Jika memang
tidak tahan dengan musibahnya itu, hendaknya berdoa Ya
Allh, hidupkanlah aku seandainya hidup itu baik bagiku. Dan
wafatkanlah aku seandainya wafat itu lebih baik bagiku (HR.
al-Bukhari dan Muslim).

Ibadah Bagi Orang Sakit

Pada prinsipnya, kewajiban ibadah yang ditujukan kepada setiap


orang mukallaf mesti ditunaikan sesuai dengan cara yang sudah diatur
(azimah), terpenuhi syarat dan rukunnya, namun jika tidak dapat
ditunaikan secara azimah, dapat dilakukan sesuai dengan
kemampuannya secara rukhshah yang cara-caranya sudah diatur pula
dalam syariah.

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
12

Wudhu dicari sudah ada


A. Salat bagi Orang Sakit
Syarat salat adalah semua perbuatan yang mesti dipenuhi di luar
perbuatan pelaksanaan salat. Syarat sahnya salat:
1. Suci pakaian, badan, dan tempat dari najis.
2. Suci dari hadas, hadas besar dan hadas kecil.
Setiap orang yang akan salat harus berwudhu untuk menghingkan
hadas kecil, dan mandi untuk menghilangkan hadas besar karena
keluar sperma, haid, nifas, melahirkan, dan berhubungan badan.
Jika tidak ditemukan air atau tidak boleh terkenan air, dilakukan
tayammum.
3. Menutup aurat.
Batasan aurat bagi lai-laki adalah pusar sampai lutut, dan bagi
perempuan adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak
tangan. Menutup aurat wajib hukumnya sesuai dengan
kemampuannya, jika tidak sanggup maka dilakukan sesuai
dengan kemampuannya.
4. Menghadap Kiblat.
Batasan menentukan arah kiblat, bagi orang yang jauh dari
kabah, cukup dengan menghadapkan muka ke arah kiblat. Arah
kiblat diketahui mengikuti batasan umum suatu wilayah atau
menggunakan alat bantu kompas. Jika hal tersebut tidak dapat
dilakukan, dilakukan dengan ijtihad dengan berupaya
menentukan mata angin, bertanya, dan sebagainya. Boleh tidak
menghadap kiblat, dalam kondisi tertentu:
1. Berada dalam keadaan dan kondisi yang tidak normal, seperti
ketakutan, peperangan, keterpaksaan, dan sakit.
2. Melaksanakan sunnah dalam perjalanan.
5. Masuk Waktu salat.
Cara menentuannya, banyak caranya, seperti dapat mengikuti
jadwal salat di kalender, mendengarkan kumandang azan, melalui
radio atau televisi.

Bersabar dan Bersyukur


Dalam menghadapi penyakit, dianjurkan tetap rela, ridha
terhadap qadha dan qadar Allah, sabar, dan tetap berprasangka baik
kepada-Nya. Penjenguk, keluarga, atau yang merawatnya, hendaknya

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
13

pula tetap bersabar dan bersyukur. Secara bahasa, sabar berarti


menahan dan mencegah. Lawan katanya, keluh kesah, atau putus asa.
Maksudnya secara etimologis, tegar dan tidak berkeluh-kesah,
menunggu, menahan diri dan mengekangnya. Makna sabar secara
terminologis adalah mencegah dan menahan diri dari berkeluh kesah,
tidak mengamuk, seperti menampar pipi, merobek baju atau saku
baju, dan semisalnya. Sabar merupakan kekuatan jiwa yang dengannya
jiwa menjadi baik dan lurus tingkah lakunya.
Sabar tidak dapat dipisahkan dengan syukur dalam kehidupan
orang mukmin, dua-duanya selalu disikapi dengan baik.Sebagaimana
disebutkan dalam hadis, dalam kondisi apa pun selalu baik, selalu
sabar dan syukur. Jika ditimpa kemalangan ia bersabar dan itu baik
baginya, dan jika mendapatkan kesenangan dia bersyukur dan itu baik


baginya, sebagaimana disebutkan dalam Hadis Nabi:

:


( )


Sungguh menakjubkan urusan kaum mukmin, sesungguhnya
semua urusannya adalah baik, dan itu tidak akan terjadi kecuali
bagi orang mukmin. Jika ia dianugerahi nikmat ia bersyukur
dan itu baik baginya, dan jika ia tertimpa musibah ia bersabar
maka itu baik baginya (HR. Muslim ).
Sabar terealisir dengan tiga tindakan, yaitu:
1. Menahan diri dari membenci apa yang ditakdirkan oleh Allah
SWT.
2. Menjaga ucapan dari mengeluhkan ketentuan Allah SWT.
3. Menjaga anggota badan untuk tidak bermaksiat saat datangnya
musibah, seperti menampar pipi, menyobek baju, mencabuti
rambut atau semacamnya, Rasulullah saw bersabda:


P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
14

Bukan dari kalangan kami, mereka yang menampar pipi,


mengoyakkan baju dan menyeru dengan seruan Jahiliah (HR.
al-Bukhri dan muslim).
Kiat-kiat Islami agar dapat selalu bersabar, antara lain, dengan
mengetahui hakikat kehidupan dunia, kesulitan, kesusahan yang ada,
sebab manusia memang diciptakan berada dalam susah payah.
Beriman bahwa dunia seluruhnya adalah milik Allah, Dia memberi dan
menahannya dari orang yang disukai-Nya. Mengetahui besarnya
pahala atas kesabaran tersebut
Syukur sering disamakan dengan kata al-hamdu (pujian).
Bedanya, kata syukur lebih ditujukan pada pengucapan verbal, rasa
terima kasih terhadap nikmat Allah, sedangkan kata al-hamdu
merupakan ungkapan rasa terimakasih dalam bentuk umum. Secara
aplikatif syukur berarti menggunakan semua yang dianugerahkan
Allah swt sesuai dengan tujuan penciptaan anugerah itu.Jika
sakit,disikapi dengan sabar dan syukur, di balik sakit ada rahmat,
sebagaimana banyak disebutkan dalam hadis Nabi, misalnya:
1. Sakit sebagai penebus dosa dan kesalahan,
2. Sakit sebagai balasan keburukan dari apa yang telah dilakukan,
sehingga dosanya dihapus dari catatan amalnya.
3. Sakit akan mengangkat derajat dan menambah kebaikan.
4. Tetapnya amal ibadah orang yang sakit bagi org yang
istiqamah, diganjar penuh sungguhpun selama sakit tak
mampu melakukannya.
5. Penyakit merupakan sebab untuk mencapai kedudukan yang
tinggi.
6. Sakit merupakan bukti bahwa Allah menghendaki kebaikan
terhadap hamba-Nya.
7. Sakit merupakan penyebab masuk surga dan selamat dari
neraka.
8. Dan sebagainya.

Bertawakkal
Pasien dianjurkan terus bertawakkal dan berkeyakinan bahwa
hakikat kesembuhan datangnya dari Allah, dengan tidak menafikan
usaha-usaha syari untuk kesembuhannya, seperti berobat. Tawakkal

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
15

berarti menyerahkan, mempercayakan, atau mewakili urusan kepada


orang lain. Menurut istilah, tawakkal adalah menyerahkan segala
urusan, berikhtiar dan berusaha, serta berserah diri sepenuhnya
kepada-Nya guna mendapatkan manfaat atau menolak mudarat.
Dalam definisi lain disebutkan, tawakkal adalah menyerahkan segala
urusan kepada Allah dengan penuh kepercayaan kepada-Nya disertai
melakukan sebab yang diizinkan syariat. Meskipun tempat tawakkal
dalam hati dan pekerjaan batin, namunaktivitaslahiriah yang
berbentuk usaha dan ikhtiar tidak menafikannya.Manakala seseorang
yakin bahwa takdir itu datangnya dari Allah SWT., jika usahanya tidak
tercapai maka dia melihat itulah ketentuan takdir yang berlaku
kepadanya dan pasti ada kebaikan di balik itu, dan jika berhasil, itu
juga takdir, yang berbentuk rahmat dan pertolongan dari Allah SWT.
Berdasarkan definisi dan batasan di atas, maka syarat tawakkal
adalah adanya kesungguhan hati bersandar kepada Allah dan
melakukan sebab (hukum kausalitas) yang diizinkan syariat.Secara
normatif, sekurangnya ada empat hal yang mesti dilakukan oleh orang
yang bertawakkal:
(1) Berusaha memperoleh sesuatu yang dapat memberi manfaat
kepadanya.
(2) Berusaha memelihara manfaat sesuatu yang dimilikinya.
(3) Berusaha menolak dan menghindarkan diri dari hal-hal yang akan
menimbulkan mudarat (bahaya).
(4) Berusaha menghilangkan mudarat yang menimpa dirinya.
Terhadap pasien terminal, jika penyakit yang dideritanya akibat
tertulari bukan karena kesalahannya, hendaknya bersabar dan
bertawakkal kepada Allah dan menerimanya sebagai cobaan, musibah,
dan ujian atas kualitas keimanannya. Sikap demikian dianjurkan
dalam Alquran:

- :

yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka


mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka
itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
16

dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang


mendapat petunjuk (Q.s. al-Baqarah (2):156-157).
Tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah, apalagi ingin melakukan
euthanasia, hukumnya haram. Di samping itu, dalam keadaan apa pun
dan dengan tujuan apa pun, tindakan euthanasia tidak dapat
dibenarkan dalam syariat Islam.

5. Segera Bertobat dan Bersungguh-sungguh Beramal Salih


Juga disarankan agar pasien segera bertobat dan beramal saleh.
Kata tobat berasal dari akar kata t-w-b dalam bahasa Arab
menunjukkan pengertian: Pulang dan kembali. Tobat kepada Allah
Swt berarti pulang dan kembali ke haribaan-Nya serta tetap di pintu-
Nya. Definisi lain, tobat adalah pengakuan atas dosa, penyesalan,
berhenti, dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi di masa yang
akan datang. Kembali (kepada Allah) tidak berbuat dosa, kembali
mendekatkan diri kepada Allah setelah menjauh dari-Nya). Menyesal
terhadap apa yang telah terjadi, meninggalkan perbuatan tersebut saat
itu juga, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya di masa yang
akan datang, dan melakukan kebaikan-kebaikan.Tujuan bertobat,
adalah memohon diampunidosa-dosanya.
Bagi pasien, dianjurkan agar segera bertobat nash (tobat yang
sungguh-sungguh), dengan cara menyucikan diri dari kekhilafan,
kesalahan, dan dosa yang pernah dilakukannya, sebagaimana
dianjurkan dalam sejumlah ayat Alquran (Q.s. an-Nr (24):31, at-
Tahrm (66):8, al-Baqarah (2): 222) dan lain-lain. Tobat nasuha
berarti sungguh-sungguh menyesal dalam hati, meminta ampunan
dengan lisan, meninggalkannyadengan perilaku dan berniat untuk
tidak mengulanginya.
Realisasi bentuk tobat mesti dibuktikan dengan kebaikan-
kebaikan, di antaranya:
a. Mengingat-ingat kesalahan dan dosa masa lalu.
b. Menyesal atas kesalahan dan dosa yang pernah dilakukannya.
c. Berjanji dalam hati untuk tidak akan mengulangi lagi kesalahan
dan dosa yang pernah dilakukan.
d. Minta maaf kepada orang yang pernah dizaliminya dan mohon
ampun kepada Allah.
e. Memperbanyak ibadah dan amal kebajikan.

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
17

Banyak ayat Alquran dengan berbagai redaksi yang menyatakan


akan diterimanya tobat orang-orang yang bertobat, meskipun
kemaksiatan mereka telah demikian besar, jika tobat mereka tulus.
Dilihat dari segi obyek kesalahan, tobat terbagi atas dua obyek:
Dengan Allah dan dengan sesama manusia, dan keduanya sekaligus.
Jika mempunyai kesalahan yang menyangkut hak orang lain, bentuk
tobatnya, segera meminta kehalalan atas kesalahan yang pernah
dilakukannya, dan segera menunaikan hak-hak serta kewajiban
kepada yang berhak, menyampaikan amanat kepada yang berhak
menerimanya jika masih hidup, atau kepadapewarisnya jika telah
mati. Ghibah dan celaan, dengan meminta maaf dan diganti dengan
memuji serta menampilkan kebaikan mereka dan orang-orang
semacamnya.
Dosa atas kezaliman kepada manusia, di dalamnya terdapat
kemaksiatan dan pelanggaran terhadap hak Allah SWT., karena Allah
juga melarang melakukan kezaliman kepada manusia. Dosa yang
berkaitan dengan hak Allah dapat dihapuskan dengan penyesalan,
merasakan kerugian, serta tidak akan melakukan perbuatan semacam
itu lagi nantinya. Kemudian mengerjakan kebaikan yang menjadi
lawan dari keburukan tersebut.

6. Berdoa dan Taqarrub Ilallah


Pasien disarankan agar banyak berdoa, memohon rahmat dan
karunia dan segala sesuatu yang diridlai Allah, tercapai harapan yang
diinginkannya, serta mendapatkan perlindungan dari segala bala
bencana. Anjuran agar berdoa, antara lain, terdapat dalam Q.s. Ghfir
(40):60, al-Baqarah (2):186). Berdoa bagi dirinya sendiri dan bagi
kaum muslimin, sehingga dimasukkan dalam kelompok mereka,
sehingga Allah Swt. menyayangi dan mengampuninya dengan berkah
mereka dan masuk dalam kelompok mereka.
Sebaiknya, berdoa dengan redaksi yang disebutkan dalam
Alquran dan sunnah,karena redaksinya yang terbaik, paling besar
nilainya, paling luas maknanya, serta paling merasuk dalam hati.
Berdoa dengan Alqurandan hadis akan mendapatkan dua balasan
sekaligus, balasan doa serta balasan mengikuti Alqurandan sunnah.
Berdoa dengan rasa takut (khauf) serta harapan (raja), takut akan
siksaan Allah karena adanya dosa-dosa yang telah dilakukan, serta
berharap akan rahmat Allah.

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
18

Diriwayatkan dari Anas Ra., Nabi Saw. Pernah mendatangi


seorang pemuda yang dalam keadaan sakaratul maut; kemudian
Beliau bertanya: Bagaimana engkau menjumpai dirimu? Dia
menjawab: Ya Rasulullah! Demi Allah, aku hanya berharap kepada
Allah, dan aku takut akan dosa-dosaku. Kemudian Rasulullah saw


bersabda:













) (
Tidaklah berkumpul dua hal ini ( yaitu khauf dan raja') di dalam
hati seseorang, dalam kondisi seperti ini, kecuali pasti Allah akan
berikan dari harapannya dan Allah berikan rasa aman dari
ketakutannya (HR. at-Tirmidzi).
Selain berdoa, juga disarankan banyak mendekatkan diri kepada
Allah (Taqarrub Ilallh), antara lain, dengan cara memperbanyak zikr
Allh (ingat dan menyebut Asma Allah), seperti membaca istighfr,
tasbh, tahmd, membaca Alquran dan sebagainya, sebagaimana
dianjurkan dalam banyak ayat Alquran (Q.s. al-Ahzb (33):41-4, al-
Baqarah (2):152, al-Rad (13):28).
Untuk kesempurnaan doa, ada sejumlah adab yang sebaiknya
dilakukan, antara lain:
1. Memilih waktu dan keadaan yang utama, tengah malam, saat
sujud, ketika azan, antara azan dan iqamat, hari Jumat, doa
seseorang untuk orang lain tanpa sepengetahuannya.
2. Berdoa menghadap kiblat dan mengangkat doa tangan.
3. Berdoa dengan suara pelan, tidak keras dan tidak terlalu
pelan.
4. Tidak melampaui batas dalam berdoa.
5. Rendah diri dan khusyu.
6. Sadar ketika berdoa, yakin akan dikabulkan dan benar-benar
dalam pengharapan.
7. Berdoa dengan ekspresif, menganggap besar apa yang
didoakan dan diulang tiga kali.
8. Dimulai dengan zikir kepada Allah dan memujinya dan agar
mengakhirinya dengan shalawat Nabi.

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
19

1. Memperbanyak Zikir dan Istighfar


Juga disarankan agar pasien memperbanyak zikir, antara lain,
membaca istighfar (minta ampun), tasbih, dan lain-lain. Istighfar
adalah meminta ampunan, ataumemohon dihapus dosanya dan
menghilangkan bekasnya, serta menjaga dari keburukannya.
Cara dan bentuk zikir melipti tiga cara: Lisan, kalbu (hati, akal),
dan dengan perbuatan. Zikir lisan dengan cara memperbanyak
melafalkan kalimat-kalimat thayyibah seperti: Istighfar, tasbih,
tahmid, takbir, tahlil, dll.Zikir dengan kalbu (hati, akal) dengan cara
senantiasa memperbanyak tafakkur (berpikir), murqabah
(merenung), dan muhsabah (introspeksi diri). Zikir dengan
perbuatan dengan cara menyelaraskan ucapan dan tindakan pada
hukum-hukum Allah dan melakukan amal yang baik (hasan al-amal).
Istighfar yang diperintahkan Allah, disertai syarat-syarat dan
etika, antara lain:
1. Niat yang benar dan ikhlas semata ditujukan kepada Allah SWT.,
karena Allah SWT tidak menerima amal perbuatan manusia kecuali
jika amal itu dilakukan dengan ikhlas semata untuk-Nya.
2. Hati dan lidah secara serempak ber-istighfar.
3. Berada dalam keadaan suci, sehingga ia berada dalam kondisi yang
paling sempurna, lahir dan batin.
4. Ber-istighfar dalam kondisi takut dan mengharap.
5. Memilih waktu yang utama, seperti saat menjelang Subuh (di waktu
Sahur), atau sepertiga terakhir waktu malam.

8. Tetap Husnuzh Zhan dan Berusaha Menjadi Husnul


Khtimah
Pasien juga disarankan untuk tetap berprasangka baik
(husnuzh Zhan) kepada Allah SWT.dalam arti, pengharapannya
kepada rahmat Allah melebihi perasaan takutnya kepada
azab.Diupayakan kepada setiap pasien, bila ajal akan tiba tetap dalam
keadaan iman dan Islam, penghujung kehidupan yang baik (Husnul
Khtimah), sebagaimana ditekankan dalam firman Allah:

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
20

:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali
kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam (Q.s. Ali
Imrn (3):102).
Hendaknya segera berwasiat sebelum datang tanda-tanda
kematian.Rasulullah Saw. bersabda:






) (
Tidak sepatutnya bagi seorang muslim yang masih memiliki
sesuatu yang akan diwasiatkan untuk tidur dua malam kecuali
wasiatnya sudah tertulis di dekatnya (HR. al-Bukhri).
Hukum berwasiat dalam Islam terbagi atas dua kategori, wajib dan
sunnah. Wasiat wajib menyangkut hubungan kepada Allah seperti
penunaian zakat atau kaffarat, dan yang hubungannya dengan orang
lain seperti pembayaran hutang, atau simpan pinjam. Wasiat sunnah
menyangkut harta dan pesan-pesan yang bersifat ketakwaan. Apabila
hendak berwasiat menyangkut harta, maka tidak boleh melebihi
sepertiga hartanya, dan tidak boleh diwasiatkan kepada ahli waris.
Tidak boleh merugikan orang lain dengan wasiatnya, dengan tujuan
untuk menghalangi bagian dari salah seorang ahli waris, atau
melebihkan bagian seorang ahli waris dari yang lain.

1. Tuntunan Merawat Orang Sakit

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
21

Merawat orang sakit merupakan kewajiban setiap Muslim, dan


khusus bagi dokter muslim merupakan tugas profesi dan dapat pula
bernilai sebagai tugas agama sekaligus. Dengan demikian, merawat
orang sakit, sebagaimana diatur dalam syariat Islam, termasuk bagian
dari kedokteran Islami. Hal ini juga tampak pada penggabungan
masalah ini dalam sebagian buku Hadis di satu bab yang berhubungan
dengan kedokteran, sakit, dan jenazah.
Dalam konteks berhubungan sesama muslim, sesuai dengan
Sunnah, orang sakit memiliki hak dan kewajiban, di antaranya
dikunjungi dan mengunjungi, antara lain, terdapat dalam Hadis:








(


)
Hak muslim atas muslim lainnya ada lima: menjawab salam,
mengunjungi yang sakit, mengantar jenazah, menghadiri
undangan, dan mendoakan yang bersin" (HR. al-Bukhri, Muslim,
Ibn Hibbn, al-Nasi, Ibn Mjah, dan Ahmad dari Ab Hurairah).
Perintah menjenguk orang sakit di sini bersifat umum, berarti
menjenguk setiap orang yang sakit, tidak dibedakan oleh status sosial,
usia, jenis kelamin, hubungan darah, agama, maupun kualitas
keimanan orang yang sakit, bahkan menurut sebagian ulama, dikenal
atau tidak dikenalnya.
Dalam kondisi tertentu agar orang yang sakit tidak banyak ditanya.
Namun, diperbolehkan menanyakan apa yang sangat diinginkan,
sebagaimana biasa dilakukan Nabi saat menjenguk orang sakit, Nabi
akan memberikannya sekiranya tidak membahayakan. Jika
menginginkan jenis makanan tertentu agar diupayakan. Agar
mendoakannya dengan ikhlas, membangkitkan rasa optimisme,
menganjurkan agar bersabar dan melarang berputus asa. Jika Nabi
menjenguk orang sakit atau ada orang sakit yang dibawa menghadap,
segera mendoakannya. Di antara doa yang sering dibaca Nabi:

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
22







) (

Ya Allah) hilangkan penyakit (nya) ya Tuhan manusia,
sembuhkan, Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada
penyembuhan kecuali penyembuahan-Mu, kesembuhan yang
tidak meninggalkan sakit" (HR. al-Bukhri dan Ibn Hibbn dari
'isyah).
Penjenguk orang sakit, jika dimungkinkan sunnah duduk di
samping kepala yang sakit dan menanyakan keadaannya, sebagaimana
biasa dilakukan Nabi saat menjenguk orang sakit. Menjenguk,
menanyakan keadaan, dan mendoakannya menjadi hiburan tersendiri
bagi orang yang sakit. Dengan demikian, menjenguk orang sakit
termasuk bagian dari pengobatan. Banyak Hadis menganjurkannya,
dan Nabi selalu menjenguk para sahabatnya yang sakit. Bahkan, Nabi
pernah menjenguk seorang budak Yahudi dan mendakwahinya yang
akhirnya masuk Islam.
Hendaknya pada saat menjenguk tidak duduk terlalu lama
kecuali sangat diperlukan, karena akan menyebabkan yang sakit jenuh,
merasa repot, dapat mengurangi masa istirahat, dan kurang bebas
untuk berbuat sesuatu. Untuk menguatkan jiwanya, ada baiknya
menyebutkan kisah-kisah orang saleh dalam menghadapi cobaan sakit.
Sebaliknya, tidak baik bercerita atau menyebut kisah (keburukan)
orang sakit atau yang telah meninggal di hadapan orang sakit yang
sedang dijenguknya, karena akan mengecilkan harapannya untuk
sembuh.
Dengan tetap memperhatikan kondisinya, bagi orang yang
menjenguk orang sakit juga dianjurkan menuntunnya mengerjakan
kewajiban-kewajibannya sebagai seorang muslim, termasuk untuk
segera bertobat sebagimana dianjurkan dalam ayat Alquran (Q.s. an-
Nr (24): 31). Jika belum berwasiat, agar segera berwasiat (Q.s. al-
Baqarah (2): 180), jika diperlukan hendaknya ditulis. Di samping itu,
menggirangkannya supaya bersabar, karena bersabar saat menderita
sakit menghapuskan dosa, sebagaimana gugurnya dedaunan dari
pohon.

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
23

Jika diindikasikan ajal sudah dekat, atau sedang menghadapi


sakaratul maut, seyogyanya orang yang menjenguk atau keluarganya
menuntunnya mengucapkan kalimat thayyibah. Sesuai dengan Hadis:

(


)
Talkinkan orang mati dengan L ilha illallh"(HR. Muslim, Ibn
Hibbn, al-Turmudzi, Ab Dwd, Ibn Mjah, Ahmad, dan al-
Haitsami dari Ab Sa'd al-Khudri).
Berdasarkan zhhir Hadis di atas, yang diperintahkan hanya kalimat:



" saja, karena pada hakikatnya pengakuan terhadap kalimat
tahll ini berarti pengakuan terhadap yang lain. Hikmah lain, agar
tidak terlalu banyak kalimat yang diajarkan karena memungkinkan
akan merasa jenuh. Sebagian ulama berpendapat agar men-talqn-nya
dengan dua kalimat syahadat. Ada pula yang membolehkan
mengucapkan zikir yang lain, seperti bacaan tasbih:

Jika telah mengucapkannya sekali, maka sudah cukup dan tidak perlu
diulang, kecuali jika sesudah itu masih mengucapkan kata-kata lain,
maka perlu mengulanginya dengan lemah lembut dan persuasif.
Pengulangan itu dimaksudkan agar perkataan terakhir yang diucapkan
adalah:

sehingga termasuk dalam kelompok orang yang disebutkan dalam
Hadis di atas. Ulama berbeda pendapat tentang hukumnya. Perbedaan
itu berpangkal pada memahami perintah (al-amr) dalam Hadis di
atas, antara sunnah atau wajib. Anjuran mengucapkan kalimat tauhid
di atas dipersyaratkan pada saat orang yang sakit masih dapat diajak
berbicara. Sedangkan pada orang yang tidak lagi mampu, tidak
disunnahkan, karena dikhawatirkan akan terucap kalimat yang tidak
benar akibat terputus, atau akan keseleo lidah pada saat
melafalkannya.
Pihak yang diprioritaskan untuk menuntunnya adalah familinya
yang paling dicintai atau yang terdekat dengan si sakit. Ada juga

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
24

anjuran dibacakan surat Ysn. Menurut sebagian ulama, maksudnya


sesudah meninggal. Perbedaan pandangan ini berpangkal pada
pemahaman Hadis:

(


)
Al-Hkim mengshahihkan Hadis ini. Ibn Hibbn menegaskan,
menurut AbHtim, kata mautkum di atas dipahami sebelum mati,
dibacakan kepada orang yang berada di ambang kematian, bukan
kepada orang yang telah meninggal. Namun, sebagian ulama
menyataka, Hadis initidak bisa dijadikan sebagai hujjah, karena
peringkatnya tidak shahh, bahkan tidak mencapai hasan.
Bagi yang menungguinya agar mendoakannya dan menghindari
berkata-kata yang tidak baik. Ummu Salamah menuturkan, Nabi
pernah menganjurkan agar orang yang mengunjungi orang sakit atau
jenazah berkata-kata yang baik karena di-amin-kan oleh para
Malaikat.
Posisi si sakit dihadapkan ke kiblat. Badan diterlentangkan,
kedua telapak kakinya diarahkan ke arah kiblat, kepalanya diangkat
sedikit agar wajahnya menghadap ke kiblat, atau dengan cara
ditidurkan miring menghadap kiblat, seperti posisi mayat di liang
lahat, atau posisi tidur Nabi. Cara pertama, menurut pendapat yang
dipilih oleh ulama Mazhab Syfi'i dan satu pendapat dalam Mazhab
Hanbali, posisi badan orang sakit diterlentangkan, kedua kakinya
diarahkan ke kiblat, kepala diangkat sedikit agar wajahnya menghadap
ke kiblat.Cara kedua adalah pendapat Mazhab Hanafi, Mliki, sebagian
ulama Mazhab Syfi'i, dan pendapat yang mu'tamad di kalangan
Mazhab Hanbali. Sebagian ulama membolehkan memilih kedua cara
tersebut, posisi mana saja yang lebih mungkin dan lebih mudah
dikerjakan. Namun, menurut al-Albni yang mengutip pendapat Sa'd
Ibn al-Musayyab bahwa menghadapkan ke kiblat hukumnya makruh.

2.Tuntunan Merawat Orang Sakit


Merawat orang sakit merupakan kewajiban setiap Muslim, dan
khusus bagi dokter muslim merupakan tugas profesi dan dapat pula
bernilai sebagai tugas agama sekaligus. Dengan demikian, merawat
orang sakit, sebagaimana diatur dalam syariat Islam, termasuk bagian

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
25

dari kedokteran Islami. Hal ini juga tampak pada penggabungan


masalah ini dalam sebagian buku Hadis di satu bab yang berhubungan
dengan kedokteran, sakit, dan jenazah. Uraian ini sangat penting,
karena terkait dengan keharusan menghormati jenazah dan
memperlakukannya, baik dalam kaitan dengan pendidikan kedokteran
maupun karena kehati-hatian menghindari penularan penyakit.
Dalam konteks berhubungan sesama muslim, sesuai dengan
Sunnah, orang sakit memiliki hak dan kewajiban, di antaranya
dikunjungi dan mengunjungi, antara lain terdapat dalam Hadis:








(

)
Hak muslim atas muslim lainnya ada lima: Menjawab salam,
mengunjungi yang sakit, mengantar jenazah, menghadiri
undangan, dan mendoakan yang bersin" (HR. al-Bukhri, Muslim,
Ibn Hibbn, an-Nasi, Ibn Mjah, dan Ahmad dari Ab Hurairah).
Perintah menjenguk orang sakit di sini bersifat umum, berarti
menjenguk setiap orang yang sakit, tidak dibedakan oleh status sosial,
usia, jenis kelamin, hubungan darah, agama, maupun kualitas
keimanan orang yang sakit, bahkan menurut sebagian ulama, dikenal
atau tidak dikenalnya.

Hukum Mengujungi Orang Sakit


Berdasarkan perintah mengunjungi orang sakit dalam hadis-
hadis Nabi, Ulama berbeda pendapat tentang hukumnya. Pendapat
mereka berkisar pada hukum wajib, fardhu kifayah, sunnah, dan
dalam kondisi tertentu hanya mubah. Mayoritas Ulama menyatakan,
hukum asalnya adalah sunnah, tetapi bisa menjadi wajib bagi orang
tertentu. Ath-Thabari (Ulama Tafsir) menyatakan bahwa menjenguk
orang sakit merupakan kewajiban bagi orang yang diharapkan
berkahnya.Imam an-Nawawi menyatakan, berdasarkan pada
kesepakatan ulama, tidak termasuk wajib ain. Al-Bukhri termasuk
yang berpendapat wajib, ditegaskannya di bab Wujb 'Iydat al-
Mardl (Bab Wajib Mengunjungi Orang sakit) dalam kitab shahihnya.

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
26

Ibn Baththl dan Ysuf al-Qaradlwi menyatakan hukumnya fardu


kifayah, dasarnya adalah makna zahir Hadis. Dengan demikian, wajib
bagi masyarakat muslim ada yang mewakilinya, menjenguk dan
mendoakannya agar segera sembuh dan sehat kembali. Hukumnya
bagi masyarakat secara umum adalah sunnah muakkadah, namun
dalam kondisi tertentu dapat menjadi wajib, khususnya bagi seseorang
yang mempunyai hubungan khusus dan erat dengan pasien, misalnya,
kerabat, famili, tetangga, kawan, dan sebagainya, sekiranya tidak
menjenguknya, pasien akan merasa kehilangan kepada yang
bersangkutan.
Tentang berapa kali batas minimal, dan berapa lama batas atau
tenggang waktu untuk mengunjunginya terdapat perbedaan pendapat
ulama. Perbedaan tersebut karena adanya Sunnah yang berbeda,
kadang Nabi menjenguk Sahabat yang sakit setiap dua hari, kadang
seminggu sekali. Menurut sebagian ulama, hukum menjenguk orang
sakit tergantung pada kebiasaan yang berlaku, kondisi penjenguk dan
si sakit, dan seberapa jauh hubungan yang bersangkutan dengan
pasien. Orang yang telah lama sakit, bisa dijenguk kapan saja, tidak
dibatasi pada waktu tertentu. Sebagian ulama menyatakan, hendaknya
penjengukan dilakukan secara berkala, tidak setiap hari, kecuali bagi
yang sudah akrab. Sebagian ulama menyatakan seminggu sekali.
Tentang berapa kali batas minimal orang diwajibkan atau
disunnahkannya, dan berapa lama batas atau tenggang waktu untuk
mengunjunginya, tidak ada batasan pasti secara mutlak. Merujuk pada
hadis Nabi, kadang-kadang beliau menjenguk sahabatnya yang sakit
setiap dua hari sekali, dan kadang-kadang seminggu sekali. Sebagian
ulama menyatakan bahwa menjenguk orang sakit diserahkan kepada
kebiasaan yang berlaku, kondisi penjenguk, kondisi pasien, dan
seberapa dekat hubungan yang bersangkutan dengan pasien. Orang
yang telah lama sakit, bisa dijenguk kapan saja, tidak dibatasi pada
waktu tertentu. Sebagian ulama menyatakan, hendaknya penjengukan
dilakukan secara berkala, tidak setiap hari, kecuali bagi yang sudah
akrab. Sebagian ulama menyatakan seminggu sekali. Adapun bagi
masyarakat umum, hukumnya sunnah muakkadah, namun dalam
kondisi tertentu dapat menjadi wajib, khususnya bagi yang
mempunyai hubungan khusus dan erat dengan si sakit, seperti kerabat,
famili, tetangga, kawan, dan seterusnya yang jika tidak dijenguk, orang
yang sakit akan merasa kehilangan.

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
27

2. Adab Mengunjungi Orang Sakit


Di antara adab bagi orang yang mengunjungi orang sakit,
termasuk pasien yang sudah menunjukkan indikasi mendekati
kematian, selain batasan di atas:
1. Tidak berkunjung pada waktu yang tidak tepat, seperti pada saat
pasien harus minum obat, atau saat mengganti pembalut luka
dan yang sejenisnya, waktu istirahat, atau waktu tidur.
2. Tidak mengunjunginya terlalu lama, kecuali bagi orang yang
mempunyai hubungan khusus. Di samping itu, hendaknya pada
saat menjenguk tidak duduk terlalu lama kecuali jika sangat
diperlukan, karena akan menyebabkan pasien jenuh, merasa
repot, dapat mengurangi masa istirahat, dan kurang bebas untuk
berbuat sesuatu.
3. Tidak banyak bertanya.
4. Duduk di samping kepala pasien dan menanyakan keadaannya
sebagaimana biasanya Nabi saat menjenguk orang sakit.
5. Boleh menanyakan apa yang diinginkan pasien, sebagaimana
biasa dilakukan Nabi saat menjenguk orang sakit, jika
memungkinkan Nabi memberikannya sekiranya tidak akan
membahayakannya.

3. Mendoakan Pasien
Penjenguk orang sakit disunnahkan berkata-kata dengan baik dan


mendoakannya, disebutkan dalam hadis Rasulullah Saw. :







) (
Apabila kalian mendatangi orang sakit atau orang mati, maka
janganlah berkata kecuali yang baik, karena sesungguhnya
malaikat mengamini yang kalian ucapkan (HR. Muslim, al-
Baihaqi, dan lainnya).
Secara khusus Nabi menganjurkan agar mendokan orang yang
sedangsakit. Rasulullah saw. jika menjenguk orang sakit atau ada
orang sakit yang dibawa menghadap, beliau membaca doa:

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
28







) (

Dari 'Aisyah ra, bahwa Rasulullah Saw. jika mengunjungi orang
sakit atau orang sakit dibawa kepadanya, Nabi berdoa:
Hilangkanlah penyakit ini, ya Tuhan manusia, sembuhkanlah,
Engkau Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan selain
kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan
penyakit (HR. al-Bukhri).


Di antara doa yang diajarkan Nabi Saw:









)(



Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Nabi saw pernah menjenguk seorang
Arab Badui, Ibnu Abbas melanjutkan; "Setiap kali beliau
menjenguk orang sakit, maka beliau akan mengatakan
kepadanya: "Tidak apa-apa, Insya Allah baik-baik saja
atauMudah-mudahan tidak apa-apa, mudah-mudahan dapat
mensucikan, insya Alla (HR. al-Bukhri).
Ketika Nabi menjenguk Sad, sambil mengusap muka dan perutnya,
beliau berdoa:

((
Ya Allah sembuhkanlah Sa'd, dan sempurnakanlah hijrahnya"
(HR. al-Bukhri).
Pada kesempatan lain, Rasulullah saw bersabda:

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
29









) (

Dari Ibnu Abbas dari Nabi saw., beliau bersabda:" Barang siapa
yang membesuk orang sakit selama ajalnya belum tiba, lalu ia
membacakan doa untuk si sakit sebanyak tujuh kali, aku
memohon kepada Allah Dzat yang Agung, Tuhan yang memiliki
Arasy yang agung; supaya Dia memberikan kesembuhan
kepadamu', maka Allah akan memberikan kesehatan dari
sakitnya"(HR. Abu Dwud).

Disebutkan dalam Thibb Nabawi, dianjurkan pula bagi


penjenguk pasien terminal, sebagaimana Nabi saw melakukannya, me-
ruqyah yang merupakan bagian dari doa dengan berbagai bacaan,
misalnya: Al-Muawwidzat, al-Fatihah, dan lain-lan.

4. Membangkitkan Rasa Optimisme kepada Pasien


Penjenguk, keluarga, atau yang merawat pasien, hendaknya
berusaha membangkitkan rasa optimisnya untuk sembuh, jangan
sampai berputus asa dari rahmat Allah. Ada baiknya menyebutkan
kisah-kisah orang saleh dalam menghadapi cobaan sakit, karena jika
bersabar, insya Allah akan diberi kesehatan dan kekuatan. Ucapan
yang sebaiknya diucapkan kepada pasien, seperti: Insya Allah anda
akan sembuh, mudah-mudahan Allah akan memanjangkan umurmu,
dan yang sejenisnya. Sebaliknya, dihindari bercerita atau menyebut
kisah (keburukan) orang sakit atau yang telah meninggal di hadapan
orang sakit yang sedang dijenguknya, karena akan mengecilkan
harapannya untuk sembuh. Namun, kepada orang yang sudah tidak
dapat diharapkan lagi kesembuhannya, hendaklah berharap mudah-
mudahan Allah meringankan penderitaannya dan senantiasa
mendapatkan rahmat-Nya.
Dengan tetap memperhatikan kondisi pasien, bagi penjenguk,
keluarga, atau yang merawatnya, dianjurkan amar maruf nahi

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
30

munkar. Misalnya, pasien tidak mengerti atau malas mengerjakan


salat, hendaknya menuntunnya sehingga mau mengerjakan salat
sesuai dengan kemampuan dan kondisi sakitnya. Kalau tidak boleh
terkena air atau tidak mampu berwudhu misalnya, hendaknya
dituntun bertayammum. Jika tidak mampu berdiri, salat dikerjakan
dengan semampunya, duduk, berbaring, atau cukup dengan isyarat
hati.

5. Melepas Alat Bantu Pengobatan


Ulama membolehkan bagi pasien yang telah lama menggunakan
peralatan medis untuk membantu keberlangsungan hidupnya, seperti
infus, oksigen, respirator, ventilator, dan berbagai alat bantu lainnya
yang tidak membawa kemajuan sama sekali, bahkan jika para dokter
yang merawatnya menetapkan kesembuhannya tidak lagi dapat
diharapkan, meneruskan penggunaan peralatan tersebut sudah tidak
ada manfaatnya, dan yang menjadikannya tampak hidup adalah
ketergantungan pada peralaran tersebut, jika dilepas tidak lama lagi
akan meninggal, maka keluarganya diperbolehkan melepas peralatan
tersebut dari si sakit dan membiarkannya menurut kadar
kemampuannya sendiri tanpa campur tangan orang lain. Tindakan ini
tidak termasuk kategori euthanasia, sejauh tidak diniati atau diembel-
embeli agar cepat mati. Penghentikan penggunaan berbagai alat bantu
medis di sini harus diniati dan dialihkan menggunakan metode
pengobatan yang lain, dengan pengobatan alternatif di luar medis,
termasuk melalui doa, sabar, tawakkal dan lain-lain. Tindakan
tersebut tidak lebih kecuali hanya sekadar meninggalkan hal yang
mubah. Bahkan, sebagian ulama ada yang mewajibkannya.
Berdasarkan Kompilasi Hukum Islam pada Muktamar Omman
dalam konteks melakukan tindakan pelepasan berbagai alat bantu
medis disebutkan:
1. Apabila jantungnya telah berhenti dan tidak bernafas lagi secara
sempurna dan para dokter ahli telah memastikan bahwa
berhentinya pernafasan itu tidak dapat kembali lagi (irreversible).
2. Apabila seluruh organ otak telah tidak berfungsi lagi secara total
(mati batang otak) dan para dokter ahli telah memastikan tidak
dapat kembali lagi (irreversible), sementara otaknya mulai
mengurai.

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
31

Dalam keadaan demikian patut mengangkat (melepaskan) atau


mencabut respirator dari pasien, meskipun sebagian organnya, seperti
jantung masih dapat bekerja dengan bantuan alat tersebut.

3. Merawat Pasien Sakaratul Maut


a. Tindakan terhadap Pasien Mendekati Sakaratul Maut
Sakaratul Maut merupakan sesuatu yang ditakuti manusia.
Digambarkan dalam Alquran bahwa Sakratul Maut merupakan
sesuatu yang hak, dan orang ingin lari darinya, seperti dikatakan
dalam Alquran:

)
:
:
)
Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya.Itulah
yang kamu selalu lari daripadanya(Q.s. Qf (50):19).
Fase Sakaratul Maut dalam Islam, sangat menentukan baik
atau tidaknya seseorang terhadap kematiannya untuk menemui Allah
dan bagi seorang dokter pun akan dimintai pertanggungjawabannya
nanti untuk tugasnya terhadap pasien di rumah sakit. Fase Sakaratul
Maut adalah fase yang sangat berat dan menyakitkan, seperti yang
disebutkan Rasulullah saw., berbeda bagi orang yang mengerjakan
amal saleh yang bisa menghadapinya dengan tenang dan senang hati.
Alquran menggambarkan suasana Sakaratul Maut bagi orang zalim
sebagai sesuatu yang dahsyat, sebagaimana terdapat dalam firman
Allah SWT:

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
32

) : )
Alangkah dahsyatnya ketika orang-orang yang zalim (berada)
dalam tekanan-tekanan sakaratul maut (Q.s. al-Anm (6):93).
Apabila keadaan pasien telah memasuki fase Sakaratul
Maut,pintu gerbang ihtidhar (detik-detik kedatangan tanda kematian),
seyogyanya pihakkeluarganya mengajarinya atau menuntunnya
mengucapkan kalimat tauhid, atau mentalkinnya dengan kalimat:

Tidak ada tuhanselain Allah
Kalimat inilah yang seharusnya diikrarkan oleh seorang muslim pada
saat dilahirkan dan kalimat ini pula yang diucapkan untuk mengakhiri
kehidupan dunia. Dengan demikian, dia menghadapi atau memasuki
dan meninggalkan kehidupan dengan kalimat tauhid. Sesuai dengan
pesan Nabi saw, agar akhir ucapanketika seseorang meninggal dunia
adalah kalimat tersebut, baginya dijanjikan masuk surga. Mentalqin
(menuntun) dengan bacaan l ilhaill llh, sesuai dengan hadis
Rasulullah Saw.:




Tuntunlah orang yang akan mati di antara kalian dengan
bacaan Laa ilaha illallah (HR. Muslim).

Terdapat jaminan bagi yang akhir ucapannya l ilhaillallh, akan


dimasukkan surga, seperti diceritakan oleh Muadz bin Jabal Ra.,
bahwa Rasulullah Saw. bersabda:



((

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
33

Barang siapa yang akhir perkataannya l ilha ill llh, dia akan
masuk surga (HR.al-Bukhari).
Dicukupkannya dengan kalimatl ilha ill llhkarena
pengakuan atas isi kalimat ini berarti pengakuan terhadap yang lain, di
samping itu, agar jangan terlalu banyak ucapan yang diajarkan
kepadanya.
Ulama berbeda pendapat tentang hukum mentalqin di
sini. Mayoritas ulama berpendapat hukumnya sunnah, ada yang
mewajibkannya. Seyogyanya dalam mentalkinkan kalimat tersebut
tidak diperbanyak dan tidak diulang-ulang, karena dikhawatirkan
pasien merasa dibentak sehingga merasa jenuh, atau mengucapkan
perkataan lain yang tidak layak. Boleh juga mengucapkan zikir


dantasbih:




Maha Suci Allah, dan pujian adalah milik Allah, tidak ada tuhan
selain Allah, dan Allah Maha Besar
Apabila pasien sudah mengucapkannya, makasudah cukup dan tidak
perlu diulang, kecuali jika pasien mengucapkan perkataan lain sesudah
itu, maka perlu diulangmentalkinnya dengan lemah lembut dan
dengan persuasif. Pengulangan ini bertujuan agar perkataan terakhir
yangdiucapkannya benar-benar kalimat l ilha ill llh.Anjuran
mengucapkan kalimat tauhid ini dengan syarat pada saat orang yang
sakit itu masih dapat diajak berbicara. Sedangkan pada pasien yang
tidak lagi mampu diajak berbicara, maka tidak disunnahkan, karena
dikhawatirkan akan terucap kalimat yang tidak benar akibat terputus,
atau akan keseleo lidah pada saat melafalkannya.
Tujuan dilakukan itu semua agar yang bersangkutan meninggal
secara Husnul Khatimah. Ulama merumuskan, di antara indikasi dan
tanda seseorang meninggal secara husnul khatimah, adalah sebagai
berikut:
1. Mengucapkan syahadat saat meninggal.
2. Mati dalam sabilillah.
3. Mati dalam keadaan terkait dengan sabilillah,
4. Mati karena membela agama, nyawa, harta, keluarga yang
dizalimi.
5. Mati karena bencana alam

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
34

6. Mati karena wabah penyakit


7. Mati karena kehamilan atau kelahiran anak.
8. Mati saat menjalankan amal saleh.
Sebagian ulama menyarankanpula dibacakan surat Yasin,
berdasarkan hadis Nabi.

Bacakan Yasin kepada orang-orang yang mati

Namun peringkat hadis ini tidak sahih, bahkan tidakmencapai


peringkat hasan, kebanyakan ulama mengatakan dhaif, sehingga tidak
dapat dijadikan hujjah (dalil).
Disunnahkan bagi orang-orang yang hadir membasahi
kerongkongan orang yang tengah menghadapi Sakaratul Maut dengan
air atau minuman. Disunahkan juga membasahi bibirnya dengan
kapas yang telah dibasahi air. Karena, bisa saja kerongkongannya
kering karena rasa sakit yang semakin menderanya yang dapat
membuatnya sulit berbicara dan meminta. Dengan air dan kapas
tersebut, setidaknya dapat meredam rasa sakit yang dialami orang
yang sedang mengalami sakaratul maut, sehingga dapat
mempermudahnya mengucapkan dua kalimat Tauhid.
Sebaiknya, orang-orang yang berada di sekeliling orang yang
tengah mengalami Sakaratul Maut berbicara tentang yang baik-baik
saja. Karena, pada saat itu, para Malaikat mengamini yang mereka
katakan. Hal ini sesuai dengan riwayat dari Ummu Salamah Ra., ia


berkata: Rasulullah Saw.bersabda:









(


)

Dari Ummu Salamah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Jika


kalian menghadiri mayat, maka berkatalah yang baik-baik saja,
sesungguhnya malaikat meng-amin-kan terhadap apa yang kalian
katakan" (HR. Muslim, Abu Dwud, danIbnu Mjah).

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
35

Imam an-Nawawi berkata: Menurut para ulama, mengucapkan


kata yang baik-baik, seperti mendoakan, memohonkan ampunan,
kelonggaran, keringanan dan lain sebagainya untuk orang yang tengah
Sakaratul Maut hukumnya. Karena, saat itu para Malaikat ikut hadir di
tempat tersebut dan mengamini ucapan mereka.
Disunnahkan pula menghadapkan orang yang tengah sakaratul
maut ke arah kiblat, meskipun tidak terdapat penegasannyadalam
hadits Rasulullah Saw. Hanya saja, dalam beberapa Atsar yang sahih
disebutkan bahwa para Salafus Shalih melakukan hal tersebut.
Dibolehkan mendatangi pasien non-muslim yang dalam keadaan
sakaratul maut untuk mengajaknya masuk Islam. Diriwayatkan dari
dari Anas Ra., beliau berkata: Ketika ada seorang budak Yahudi yang
melayani Rasulullah Saw. ketika dia sakit, Rasulullah menjenguknya,


duduk di dekat kepalanya, kemudian bersabda:







) (


Masuklah ke dalam agama Islam, maka dia melihat ke arah
bapaknya yang berada di sampingnya. Bapaknya berkata:
Taatilah Abul Qasim (Nabi Muhammad Saw.). Maka dia masuk
Islam, kemudian Rasulullah keluar, dan Beliau berkata: Segala
puji bagi Allah Yang telah menyelamatkan dia dari neraka" (HR.
al-Bukhri).

b. Tanda-tanda Seseorang Mendekati Ajal


Para pakar kedokteran menyebutkan beberapa gejala yang
dapat dikenali saat seseorang menjelang ajalnya, di antaranya :
a). Pernapasan dangkal, frekuensi cepat, makin lama makin berkurang
akhirnya berhenti.
b) Denyut nadi kecil, tidak teratur, sering tidak teraba.
c) Refleks dan tonus otot berkurang.
d) Tampak pucat,sering disertai sianosis,terlihat pada jari-jari, bibir
dan kuku-kuku tangan dan kaki terasa dingin.
e) Kesadaran makin lama makin berkurang dan akhirnya hilang.

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
36

f) Pasien kadang-kadang gelisah dan berkeringat.


Para ulama menyebutkan beberapa tanda kematian, secara visual
dapat dilihat, di antaranya:
1.Terhentinya nafas.
2. Kedua pelipisnya melemas.
3. Hidung menjadi lunak.
4. Kulit wajahnya menjadi lebih panjang.
5. Terpisahnya kedua telapak tangan dari kedua lengannya.
6. Kedua kakinya melemas dan terpisah dari kedua mata kaki.
7. Tubuh menjadi dingin.
8. Tanda yang sangat jelas, yaitu adanya perubahan bau pada
tubuhnya.
Majma Fiqh Islami al-Alami (Internasional), sebuah lembaga
milik Organisasi Konferensi Islam, dalam muktamar yang
diselenggarakan di Amman, Yordania, pada tanggal 11-16 Oktober
1986 menyepakati bahwa: "Menurut syarak, seseorang dianggap telah
mati dan diberlakukan semua hukum syarak yang berkenaan dengan
kematian, apabila telah nyata padanya salah satu dari dua indikasi
berikut ini:
1. Apabila denyut jantung dan pernapasannya sudah berhenti secara
total, dan para dokter telah menetapkan bahwa keberhentian ini
tidak akan pulih kembali.
2. Apabila seluruh aktivitas otaknya sudah berhenti sama sekali, dan
para dokter ahli sudah menetapkan tidak akan pulih kembali,
otaknya sudah tidak berfungsi.
Dalam kondisi seperti ini, jika pasien masih dipasang berbagai alat
bantu medis, maka diperbolehkan melepaskannya, meskipun sebagian
organnya, seperti jantungnya masih berdenyut karena kerja instrumen
tersebut. Bahkan, Yusuf al-Qaradhawi menetapkan hukumnya wajib,
sebab, jika tetap mempergunakan alat-alat tersebut maka
bertentangan dengan syariah, seperti masalah tertundanya
pengurusan jenazah, penguburan, pembagian warisan, mengundurkan
masa iddah istrinya jika dia seorang suami beristri, dan lain-lain
hukum yang berkaitan dengan kematian tanpa alasan darurat. Juga
termasuk tindakan menyia-nyiakan dan membelanjakan harta untuk
sesuatu yang tidak berguna.

P era watan Pa si en dan Jen az ah


Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan Kesehatan Kontemporer
37

P era watan Pa si en dan Jen az ah