Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat,
Inayah, Taufik dan Hinayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah
dalam rangka pemenuhan tugas mata kuliah TUMBUH KEMBANG ANAK ini dalam bentuk
maupun isinya yang sangat sederhana tentang Draw A Man Test. Semoga makalah ini dapat
dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca.
Kami berharap semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi
makalah ini sehingga kedepannya lebih baik lagi.
Dalam penyusunan tugas atau makalah ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi.
Namun kami menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan makalah ini tidak lain berkat
dorongan-dorongan dan kerjasama tim.
Kami mengakui bahwasannya dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu kami mengharapkan para pembaca untuk memberikan sumbang
saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Palangkaraya, September 2017

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pentingnya gambar anak-anak telah dieksplorasi secara ekstensif sejak akhir abad
ke-19, dan mereka berpikir untuk memberikan indikasi pengembangan visual-motor,
tingkat fungsi kognitif dan kematangan intelektual, proyeksi kepribadian dan konsep diri,
dan penilaian dari keadaan emosi dan gangguan. Menggambar adalah kegiatan yang
anak-anak cenderung untuk menikmati dan mereka rela menghasilkan coretan spontan
dan gambar dari usia muda (Koppitz, 1968), sehingga metode yang menarik untuk
digunakan dalam pengaturan klinis. Metode ini dapat digunakan secara informal, di
mana anak diminta untuk menggambar apapun yang mereka suka untuk membuat
mereka merasa nyaman, atau untuk memberikan landasan untuk wawancara klinis. Atau,
gambar dapat digunakan sebagai bagian dari alat diagnostik formal dan berbagai gambar
tes yang digunakan untuk tujuan ini, dengan fokus pada dua elemen inti dari proses
menggambar: perkembangan kognitif, dan proyeksi simbolis bawah sadar (Bekhit,
Thomas dan Jolley, 2005), yang memungkinkan untuk penilaian masalah emosional dan
perilaku.
Salah satu tes gambar paling awal adalah tes draw-A-Man dirancang oleh
Goodenough (1926) untuk menilai kreativitas anak-anak, usia mental dan visual-motor
kematangan intelektual dengan coding fitur gambar mereka manusia (Goodenough,
1926; Knoff, 1990 ). Poin ditugaskan sesuai dengan kehadiran atribut tertentu seperti
telinga; kualitas gambar, misalnya bagaimana garis bertemu dan apakah mereka kaku;
dan proporsionalitas kepala, kaki, tangan, dll (Goodenough, 1926).
Tes draw a person atau tes DAP adalah tes psikologi yang digunakan untuk
mengetahui pengalaman kreatif individu, kepribadian dengan cara meminta individu
untuk menggambar orang. Gambar yang dibentuk oleh individu walaupun tidak persis
sama tetapi memiliki kesamaan aspek yang menjadi ciri khas individu tersebut seperti
ukuran, garis, letak, struktur bentuk tubuh yang biasanya tidak begitu bervariasi atau
lebih stabil. Meskipun digunakan pada anak usia 0-3 tahun hingga 11-15 tahun, namun
dari pengalaman penggunaan tes ini diketahui bahwa hasil yang paling akurat adalah
untuk anak usia 0-11 tahun.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Draw a man test?
2. Siapa saja yang dapat di nilai menggunakan Draw a man test?
3. Kapan Draw a man test dapat digunakan?
4. Bagaimana langkah-langkah dalam menggunakan Draw a man test?

C. Tujuan
1. Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui pengertian Draw a man test
2. Diharapkan mahasiswa dapat memilah siapa saja yang dapat di nilai dengan
menggunakan Draw a man test
3. Diharapkan mahasiswa mengetahui kapan menggunakan Draw a man test
4. Diharapkan mahasiswa mengetahui langkah-langkah dalam menggunakan Draw a
man test.

D. Manfaat
Sebagai bahan wawasan ilmu pengetahuan bagi mahasiswa untuk mengetahui
tentang penggunaan Draw a man test sebagai salah satu test psikologi yang digunakan
sebagai gambaran tumbuh kembang terhadap anak.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah
Tes DAP (Draw A Person) atau juga sering disebut DAM (Draw A Man)
merupakan salah satu bentuk alat tes Psikologi yang sering kita jumpai di saat proses
assessment psikologi. Tes DAP atau DAM termasuk tes individual. Pada tahun
1926, Goodenough mengembangkan Draw-A-Man (DAM) Test untuk memprediksi
kemampuan kognitif anak yang direfleksikan dari kualitas hasil gambarnya. Asumsinya:
akurasi dan detail gambar yang dihasilkan menunjukkan tingkat kematangan intelektual
anak. DAM test ini digunakan untuk anak usia 3 10 tahun.
Pada tahun 1948, Buck mengembangkan House-Tree-Person (HTP) Test, gambar
rumah dan pohon yang memiliki kedekatan dengan kehidupan seseorang yang juga
termasuk tes proyeksi.
Tahun 1949, Machover mengembangkan Draw-A-Person (DAP) Test, sebagai
teknik untuk mengukur kepribadian. Machover mengembangkan sejumlah hipotesis
berdasarkan obeservasi klinis dan penilaian intuitif. Misal, ukuran gambar berkaitan
dengan tingkat self-esteem, penempatan gambar dalam kertas merefleksikan suasana hati
dan orientasi sosial seseorang.
Selanjutnya tahun 1951, Hulse mengembangkan Draw-A-Family (DAF) Test,
DAP secara luas kemudian dikembangkan oleh Hammer (1958), Headler (1985), Urban
(1963), Koppitz (1968, 1984).
Tahun 1963, Harris membuat revisi DAM Test dengan menambahkan dua form
baru (anak bukan hanya diminta untuk menggambar seorang laki-laki, tetapi juga
seorang wanita, dan gambar dirinya sendiri, sistem skoring yang lebih detail, dan
standarisasi yang lebih luas.

B. Pengertian
DAP atau Draw a Person adalah salah satu jenis tes menggambar. Tes ini mudah
diinterpretasikan dan banyak digunakan di berbagai negara karena tidak ada hambatan
bahasa, hambatan budaya dan komunikasi antara penguji dan peserta tes. Biasannya,
DAP digunakan dalam berbagai tujuan sehingga bersifat universal. Tes Draw a Person
menurut Machover (1949), adalah tes pertama yang secara formal memperluas teknik
menggambar dari perkembangan kognitif ke dalam interpretasi kepribadian berdasarkan
teori tes proyektif.
Tes ini pada awalnya mengungkap kemampuan IQ anak dan psikologi anak.
Selain itu juga untuk mengetahui bakat, minat dan kemampuan dalam menuangkan ide
dan perhatian anak terhadap objek yang digambar. Test ini berasumsi bahwa dengan
dasar sebelum orang dapat membaca dan menulis, maka yang dilakukan adalah
menggambar atau melakukan coretan.
Tes ini meminta subjek untuk menggambar figur manusia, karena adanya asumsi
bahwa gambar yang mudah dikenali dari suatu objek adalah bentuk manusia dan
semenjak dini individu sudah seringkali menggambar manusia dibandingkan
menggambar bentuk atau objek lain.
Menurut Florence Laura Goodenough, individu melakukan coretan karena
adanya proses mental berdasarkan perkembangan intelektual. Gambaran anak kecil
terkait erat antara konsep perkembangan mental dan kemampuan intelegensi secara
umum. Goresan atau coretan anak lebih menunjukkan ekspresi diri dibandingkan
keindahan. Gambar yang dibuat cenderung apa yang diketahui dan bukan apa yang
dilihat. Dasar tersebut merupakan landasan perkembangan intelegensi dan mental anak
yang dapat diamati mengacu pada standar normatif yang harus dibuat.
Spesifikasi dari tes ini yaitu individu diberikan kertas kosong tanpa coretan
apapun dan diminta untuk menggambar orang lengkap tanpa ada aturan apapun dan
dibebaskan sesuai keinginan masing-masing. Tes ini dapat digunakan pada anak-anak,
remaja dan lansia.
Tes ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara apa yang digambar dengan
kepribadian orang yang menggambar, ekspresi diri atau body images seseorang yang
dibentuk pengalaman pribadi, menggambarkan kebutuhan tubuh dan konflik yang
dialami, mengetahui emosionalitas, pshychosexual maturity, kecemasan, guilt
(kesalahan), tingkat agresif individu, dan untuk menggambarkan bagaimana individu
dalam lingkungan kelompok sosialnya.

C. Persiapan Tes Draw A Person (DAP)


Lubis (2014), menyampaikan bahwa persiapan yang perlu dilakukan dalam
administrasi tes ini adalah:
a. Sarana
1) Testi duduk senyaman mungkin dengan ruang yang cukup lega untuk
menggerakkan tangan selama menggambar
2) Kertas HVS A4
3) Pensil 2B yang runcing dan karet penghapus
4) Jika gambar berwarna, disediakan krayon, pensil warna, atau pen warna warni.

b. Waktu
Tanpa batas untuk tes individual, tetapi biasanya 5-10 menit lalu diambil rata-rata 7
menit(biasanya untuk kelompok). jadi tes ini biasanya tidak untuk secara clasikal,
tetapi individu karena tidak dapat di lakukan observasi pada testee.

c. Observasi
1) Hal-hal yang penting dicatat, misalnya :
2) Tingkah laku yang spontan atau tidak dalam menggambar
3) Bagian mana yang sering dihapus atau garis dikoreksi / diulang
4) Bagian mana yang paling dahulu ditekankan.

Setelah anda selesai menggambar, anda akan diminta untuk mendeskripsikan gambar
yang anda buat. Deskripsi yang sering diminta adalah:
a. Usia orang pada gambar
b. Jenis kelamin orang pada gambar
c. Aktifitas yang dilakukan orang pada gambar
d. Kelemahan dan kelebihan orang pada gambar.

D. Interpretasi Tes Menggambar Orang


Ada beberapa rambu-rambu yang digunakan untuk menginterpretasi tes menggambar
orang, antara lain sebagai berikut :
1. Lokasi dan letak gambar. Letak gambar yang normal adalah ditengah. Dengan
memperhatikan letak gambar dapat digunakan untuk mengetahui apakah anak mampu
memahami dan memapu berorientasi dengan lingkungannya, dapat digunakan untuk
memperkirakan apakah ada depresi, memiliki kegairahan dalam bekerja atau penuh
semangat.
2. Proporsi atau ukuran badan. Ukuran badan dapat digunakan untuk mengetahui apakah
anak memiliki semangat, memiliki penghargaan terhadap diri sendiri atau
penghargaan terhadap diri yang rendah, depresi, merasa kecil, dan tidak berarti.
3. Urutan gambar, kebanyakan anak mulai menggambar dari bagian kepala dengan
memperhatikan urutan-urutan bagian badan yang digambar dapat diketahui
kemungkinan anak mempunyai masalah yang berhubungan dengan rasa aman, ada
hambatan dalam melakukan hubungan sosial, fokus perhatian dan rasa takut.
4. Kepala dan leher. Kepala merupakan symbol ego, gambar kepala dapat digunakan
untuk memperkirakan apakah ada perhatian terhadap identiras diri, ada kecemasan,
perasaan tidak nyaman, dan tidak aman. Gambar kepala yang detail dan dilengkapi
dengan rambut atau asesoris yang biasa digunakan dikepala menunjukkan tingkat
intelektual yang tinggi. Gambar leher dapat digunakan untuk memperkirakan apakah
ada control diri, prilaku impulsife, perasaan selalu diawasi dan merasa dikekang.
5. Muka. Gambar muka yang lengkap (ada mata, alis, hidung, mulut, telinga) dan detail
menunjukan anak yang cerdas, mampu mengidentifikasi lingkungan sekitar, memiliki
konsentrasi dan perhatian yang mendetail serta terfokus. Selain itu muka biasanya
menunjukan perasaan subjek yang diekspresikan melalui gambar mulut. Gambar
mulut dapat menunjukan kebutuhan akan makan, minum, ketergantungan kepada
orang dewasa, ekspresi kemarahan, kekecewaan, penolakan, kegembiraan dan
keriangan. Gambar mata juga dapat menunjukan ketidakberdaya, menutup diri,
egosentris, agresif dan suka menentang.
6. Lengan dan tangan, digunakan untuk menginterprestasi kemampuan melakukan
hubungan sosial, ekspresi rasa takut, menunjukan adanya bakatnumerical, tingkat
inteligensi yang tinggi, spatial konsep yang yang baik, kemampuan koordinasi
motorik yang baik. Gambar kuku juga dapat digunakan untuk mengindikasi adanya
sifat agresif dan kurang mampu melakukan hubungan sosial .
7. Kaki dan telapak kaki. Kaki merupakan symbol yang berhungan dengan rasa aman.
Kakaki yang digambarkan kokoh dan proporsional lengkap dengan sepatu dan kaos
kaki diperkirakan adanya rasa aman dan percaya diri, serta memiliki Accuracy
aptitude yang tinggi. Gambar telapak dan jari kaki juga dapat digunakan untuk
menunjukan adanya rasa aman, percaya diri, bakat numerical, adanya perhatian dan
daya konsentrasi yang baik.
8. Tubuh sebagai lambing kekuatan dan keinginan untuk mengaktualisasi dirinya.
Gambar tubuh dan dilengkapi dengan pakaian dapat digunakan untuk mengetahui
kemempuan dalam mengaktualisasikan dirinya, rasa percaya diri yang tinggi, maupun
untuk mengetahui desakan hati yang lemah, keragu-raguan dalam bertindak, maupun
rasa tidak berdaya.
9. Kualitas garis dapat menunjukan : adanya rasa percaya diri, sifat ragu-ragu, takut,
adanya koordinasi motorik yang kurang baik atau baik, banyaknya aturan yang harus
ditaati, sifat hati-hati dan menunjukan adanya pengawasan yang kuat dari luar dirinya.
10. Gambar orang secara keseluruhan termasuk pakaian dan asesoris lainnya, dapat
digunakan utnuk memperkirakan apakah anak mampu berkonsentrasi dengan biak,
perhatiannya mendetail, terfukos, ketepatan yang tinggi, ketelitian, koordinasi
motoriknya baik, kemampuan intelektualnya tinggi, daya abstraksinya tinggi, anak
mampu memahami perintah, mampu bekerja secara mandiri serta mampu
mengaktualisasikan dirinya dengan baik (Mardianti Busono :1998; Anastasi Anne:
1990).
Ada beberapa variasi dalam memberikan instruksi dalam tes ini. Ada versi
administrasi yang menggambarkan instruksi : saya ingin kamu menggambar orang.
Petunjuk yang diberikan adalah menggamabr orang bukan seorang laki-laki atau
perempuan, testee sendiri yang menunjukkan jenis kelamin orang yang akan digambar.
Penggunaan test DAP yang lengkap, testee diminta menggambar 2 kali, jika test yang
pertma sudah selesai testee ditanya apakah yang digambar tersebut berjenis kelamin laki-
laki atau perempuan, kemudian gambar kedua minta anak untuk menggambar orang
dengan jenis kelamin yang berbeda dari gambar pertama. Dalam kenyataannya,
informasi tentang keadaan psikologis anak lebih banyak terdapat pada gambar pertama.
Dengan demikian untuk menghemat waktu, biaya dan tenaga pemberian test DAP
sebaiknya anak hanya disuruh menggambar satu kali saja dan langsung dianalisis atau di
beri skor.

E. Skoring Tes Draw A Person (DAP)

Koppitz (1968, dalam Groth-Marnat, 1999) memperluas aspek-aspek


perkembangan dan kepribadian dari gambar figur manusia dengan membuat sistem
skoring yang obyektif untuk tingkatan perkembangan dan indikator-indikator
emosional. Belakangan, Mitchel, Trent dan McArthur (1993, dalam Groth-Marnat,
1999) mengembangkan sistem interpretasi dan skoring untuk orang dewasa sebagai
skoring untuk kerusakan kognitif yang disebabkan psikopatologi, disfungsi
neuropsikologis atau retardasi mental.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam interpretasi secara umum, antara
lain:
a. The body image hypothesis : bahwa gambar yang dihasilkan adalah merupakan citra
tubuh individu sendiri.
b. The healthy drawing : perlu diperhatikan apakah gambar yang dibuat memenuhi
ciri-ciri gambar yang sehat atau sebaliknya mengindikasikan patologi. Gambar yang
sehat memberikan kesan desain yang manusiawi, mampu interaksi dengan dunia,
tidak ada perasaan palsu, kosong, atau kaku.
c. Age consideration : gambar yang dihasilkan perlu dilihat usianya dan dibandingkan
dengan usia testi. Jika mendekati usia testi sesungguhnya akan memberikan makna
yang lebih positif dibandingkan yang sebaliknya.
Dalam melakukan interpretasi DAP, langkah yang dilakukan adalah:
1) Objective scoring adalah pemberian skor secara obyektif kuantitatif terhadap
fungsi-fungsi psikologis diantaranya cognitive maturity, maladjustment and
emotional disturbance, impulsiveness, and cognitive impairment.
2) Overall impression merupakan penilaian terhadap kesan gambar secara umum
terhadap kualitas garis, ukuran, proporsi, letak, kebersihan, kesan yang
menonjol, yang dapat menggambarkan mood, konsep diri, sikap terhadap tubuh,
persepsi pada lawan jenis, dan reseptivitas dalam relasi interpersonal.
3) Consideration of specific details berarti pemberian skor terhadap detil-detil dari
gambar seperti bagian tubuh, hidung, tangan, kepala, hingga pakaian, aksesoris,
ataupun aspek lingkungan dari orang yang digambar.
4) Integration merupakan penilaian terhadap penyatuan dari semua komponen
orang yang kemudian membentuk gambar orang apakah tergolong baik, sangat
terintegrasi, ataupun kurang baik.

Levy mengemukakan beberapa kemungkinan dalam penggunaan Tes


DAM/DAP (Draw A Man/Person), sebagai berikut:
1) Gambar orang tersebut merupakan proyeksi dariself concept
2) Proyeksi dari sikap individu terhadap lingkungan
3) Proyeks dari ideal self image-nya
4) DAM sebagai suatu hasil pengamatan individu terhadap lingkungan
5) Sebagai ekspresi dari pola-pola kebiasaan(habit pattern)
6) Ekspresi dari keadaan emosinya(emotional tone)
7) Sebagai sikap subjek terhadap tester dan situasi tes tersebut
8) Sebagai ekspresi dari sikap individu terhadap kehidupan/masyarakat pada
umumnya
9) Ekspresi sadar dan ketidaksadarannya.

F. Keunggulan dan Keterbatasan Draw a Man Test


Kelebihan dari tes ini diantarany culture fair atau bisa digunakan pada orang-orang
dengan kultur yang berbeda, dapat mengukur potensi kognitif seorang anak, dapat
mengukur g-factor seseorang, mudah untuk diadministrasikan, dan tester bisa
mengobservasi keterampilan motorik testee. Sementara keterbatasan dari tes ini yaitu
seperti tes proyektif lainnya, DAP dianggap kurang akurat dikarenakan terlalu banyak
spekulasi psikoanalisis, kurang didasari penelitian scientific, dan tes ini lebih cocok
untuk anak kecil.

G. Contoh Informasi Psikologis Hasil Analisis Kasus Tes DAP Pada Anak Tunarungu
Adapun hal yang perlu kita persiapkan untuk melakukan Draw A Man Test pada anak
tunarungu, yaitu :
1. Anak dipersilahkan duduk senyaman mungkin dengan ruang yang cukup lega untuk
menggerakkan tangan selama menggambar
2. Sediakan kertas HVS A4 untuk anak menggambar
3. Sediakan Pensil 2B yang runcing dan karet penghapus
4. Jika gambar berwarna, disediakan krayon, pensil warna, atau pen warna warni.
Setelah semua persiapan alat gambar telah lengkap, persilahkan anak untuk
menggambar dengan instruksi : anak-anak saya ingin kamu menggambar orang.
Petunjuk yang diberikan adalah menggambar orang bukan seorang laki-laki atau
perempuan, biarkan anak sendiri yang menunjukkan jenis kelamin orang yang akan
digambar.
Setelah anak selesai menggambar, maka hasil gambaran anak akan dianalisis dan
terdapat beberapa aspek psikologis yang dapat diungkapkan dari hasil gambar anak
tunarungu tersebut diantaranya :
1. Persepsi yaitu kemampuan anak untuk memahami dan menginterpretasikan
informasi sensoris, anak tunarungu yang persepsinya baik dia tanggap akan apa
yang diperintahkan oleh instruktur, sehingga mampu melakukan tugas sesuai
dengan perintah.
2. Persepsi visual yaitu kemampuan memahami objek visual dan mampu
membedakan berbagai macam bentuk. Anak tunarungu mampu menggambarkan
orang secara lengkap dan detail berarti persepsi visualnya baik.
3. Pengenalan terhadap objek, ini dimanifestasikan dalam bentuk gambar yang
sesuai dengan keadaan senyatanya. Jadi anak tunarungu yang mampu
menggambar orang secara lengkap berarti pengenalan terhadap objek,
dikategorikan baik.
4. Keterampilan motorik halus, yaitu kegiatan yang berkaitan dengan motorik halus.
Anak yang mampu menggambar orang dengan secara lengkap dan detail berarti
memiliki keterampilan motorik halus anak tersebut termasuk baik.
5. Ketelitian tinggi jika anak mampu menggambar orang secara detail yaitu meliputi
seluruh bagian tubuh obyek yang digambar.
6. Konsentrasi, ini dapat dilihat pada waktu anak menggambar dan hasil gambaran
anak akan diketahui apakah anak berkonsentrasi atau tidak.
7. Rasa percaya diri dikategorikan tinggi apabila anak menggambar dengan goresan
yang jelas dan mantap, dan tidak ragu-ragu dalam mengerjakan tugas, bekerja
penuh semangat, merasa senang dan menikmati kegiatannya.
8. Aspek emosi anak dapat dimaknai melalui posisi gambar atau gambar mulut yang
menampilkan ekspresi dari gambar orang yang dibuat maupun goresan garis yang
dibuat oleh anak.
9. Kecakapan berpikir konseptual, ini dapat dilihat dari gambar orang yang dibuat
oleh anak lengkap dan detail.
10. Kecakapan numerical, anak memahami tentang berhitung, dia mampu mengenal
jumlah konsep, yaitu satu untuk hidung, mulut, dan dua untuk mata, telinga,
tangan dan kaki, serta lima yang dilambangkan dengan gambar jari-jari, apabila
anak mampu menggambar orang secara detail.
11. Aspek kepribadian anak, hal ini dapat diungkapkan dengan memaknai letak
gambar dan membandingkan proporsi gambar orang yang dibuat dengan ukuran
kertas, dapat menunjukan apakah anak merasa anak atau tidak, ada
kecenderungan depresi atau tidak, bersifat pemalu atau terbuka, percaya diri atau
tidak, apakah ada ketakutan, kecemasa, maupun was-was.
Berdasarkan hasil interprestasi tes DAP dapat digukan untuk menentukan kondisi
psikologis anak tunarungu. Informasi psikologis yang diperoleh melalui tes
menggambar akhirnya dapat digunakan untuk mengdiagnosis psikologisnya.
Apabila anak mampu menggambar secara proporsional dan detail makan
diagnosis psikologis yang dapat dibuat antara lain :
1. Anak memiliki kemampuan intelektual yang tinggi
2. Perceptual accuracy termasuk baik
3. Kemampuan numericalnya baik
4. Perkembangan kepribadiannya baik
Maka perlakuan yang tepat bagi mereka yaitu mengembangkan
kemampuan dan potensi anak secara optimal. Namun apabila anak belum
mampu menggambar secara proporsional, dan gambar yang dibuat tidak
lengkap, maka diagnosis yang dibuat antara lain : kemampuan
intelektualnya rendah dan tidak percaya diri.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. DAP atau Draw a Person adalah salah satu jenis tes menggambar. Tes DAP (Draw A
Person) atau juga sering disebut DAM (Draw A Man) merupakan salah satu bentuk
alat tes Psikologi yang sering kita jumpai di saat proses assessment psikologi. Tes
DAP atau DAM termasuk tes individual.
2. Tes ini digunakan untuk mengungkap kemampuan IQ anak dan psikologi anak. Selain
itu juga untuk mengetahui bakat, minat dan kemampuan dalam menuangkan ide dan
perhatian anak terhadap objek yang digambar.
3. Tes ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara apa yang digambar dengan
kepribadian orang yang menggambar, ekspresi diri atau body images seseorang yang
dibentuk pengalaman pribadi, menggambarkan kebutuhan tubuh dan konflik yang
dialami, mengetahui emosionalitas, pshychosexual maturity, kecemasan, guilt
(kesalahan), tingkat agresif individu, dan untuk menggambarkan bagaimana individu
dalam lingkungan kelompok sosialnya.
4. Tes ini dapat digunakan pada anak-anak, remaja dan lansia. Meskipun digunakan pada
anak usia 0-3 tahun hingga 11-15 tahun, namun dari pengalaman penggunaan tes ini
diketahui bahwa hasil yang paling akurat adalah untuk anak usia 0-11 tahun.
5. Sebelum melakukan langkah-langkah dalam menggunakan test a draw person, perlu
dilakukan persiapan mengenai sarana, waktu dan observasi.
6. Adapun rambu-rambu yang perlu diperhatikan dalam menginterpretasi tes gambar
orang seperti: lokasi dan letak gambar, proporsi atau ukuran tubuh, urutan gambar,
kepala dan leher, muka, lengan dan tangan, kaki dan telapak kaki, tubuh, kualitas
garis dan gambar orang secara keseluruhan.
7. Kelebihan dari tes ini diantarany culture fair atau bisa digunakan pada orang-orang
dengan kultur yang berbeda, dapat mengukur potensi kognitif seorang anak, dapat
mengukur g-factor seseorang, mudah untuk diadministrasikan, dan tester bisa
mengobservasi keterampilan motorik testee. Sementara keterbatasan dari tes ini yaitu
seperti tes proyektif lainnya, DAP dianggap kurang akurat dikarenakan terlalu banyak
spekulasi psikoanalisis, kurang didasari penelitian scientific, dan tes ini lebih cocok
untuk anak kecil
B. Saran
Diharapkan dengan pelaksanaan Draw A Man Test pada anak-anak yang sedang
mengalami tumbuh kembang ini dapat memberikan gambaran psikologis dan IQ anak
secara akurat. Selain itu juga, kita dapat melakukan jenis test psikologi lain pada anak
sehingga mampu lebih menggambarkan keadaan psikologi sang anak.
Hal ini penting dilakukan supaya informasi tentang aspek psikologis anak yang
dikumpulkan valid dan reliable, sehingga diagnosis psikologis yang dibuat sesuai dengan
kondisi anak.

DAFTAR PUSTAKA

Anastasi, Anne. 2007. Tes Psikologi. Jakarta. Penerbit: PT Indeks.


Nanik Setiono, Vivi. 2007. Diktat Mata kuliah Tes Grafis DAP. Surabaya. Penerbit: Fakultas
Psikologi SURABAYA.

http://rakhamgn.blogspot.com/2012/06/psikotes-gambar-orang.html

Mpangane, Elmon Musa. 2015. Draw a Person Test. (Diakses pada tanggal 2 September
2017). https://www.researchgate.net/publication/281241824_Draw_a_Person_test

Tes DAP (Draw A Person Test). (Diakses pada tanggal 2 September 2017)
http://www.psychologymania.com/2011/07/tes-dap-tes-draw-person.html

Machover, K. (1949). Persolality Projection in The Drawing oh The Human


Figure (A Method of Personality Investigation). Illinos: Charles C Thomas.
Draw A Person Test. (Diakses pada tanggal 2 September 2017).
http://www.jonahlehrer.com/blog/2014/8/27/the-draw-a-person-test