Anda di halaman 1dari 24

Kata Pengantar

Assalamualaikum Wr.Wb

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan anugerah-Nya
penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan tepat waktu. Tak lupa penulis
mengucapkan terima kasih kepada Bapak Agus Wiyono,S.Pd., MT. selaku dosen mata kuliah
bahan bangunan yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk bisa menyelesaikan
makalah ini dengan baik. Selain itu penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu dalam pembuatan makalah ini.

Makalah ini berisi tentang Bahan Pengikat Hidrolis yang sebagaimana kita ketahui sangat
berkaitan erat terhadap bangunan. Dalam makalah ini juga terdapat berbagai Sub pokok bahasan
diantaranya:

1. Kapur
2. Gips
3. Tras dan semen merah
4. Posolan
5. Semen Portland dan semen Portland putih
6. Adukan

Penulis menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan
kritik dan saran agar makalah ini menjadi lebih baik kedepan.

Demikian kata pengantar yang penulis buat. Penulis mohon maaf apabila terdapat
kesalahan dalam pembuatan makalah ini, baik yang disengaja maupun tidak. Sekian dan Terima
kasih.

Wassalamualaikum Wr.Wb

Surabaya,22 Oktober 2013

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Batu merupakan salah satu hasil alam yang sangat melimpah di dunia khususnya
di Indonesia . Bukan hanya melimpah dalam hal jumlahnya tetapi juga jenis dan cara
pembentukannya pula yang sangat beragam. Hal ini menyebabkan setiap daerah di
Indonesia banyak ditemukan batu khususnya batu alam yang berbeda-beda bentuk dan
jenisnya. Hal ini dikarenakan kondisi geologis masing-masing daerah yang berbeda-beda.
Pada zaman dahulu manusia menganggap batu tidak memiliki nilai dan hanya
dibiarkan begitu saja tanpa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bernilai . Tetapi seiring
perkembangan zaman , kini batu berubah menjadi salah satu bahan bangunan yang sangat
penting dalam suatu bangunan . Batu menjadi salah satu komponen yang tidak dapat
dipisahkan dari suatu bangunan baik sebagai pondasi,pengisi kerangka bangunan sampai
sebagai nilai estetika dari bangunan tersebut .
Begitu pentingnya batu dalam bangunan hingga menjadikannya salah satu bahan
bangunan yang komersil untuk diperjual belikan . Sehingga perlu kiranya latar belakang
penulis dalam pembuatan makalah ini selain untuk memenuhi tugas dari dosen pengajar
juga ingin memaparkan hal-hal yang berkaitan dengan batu karena begitu pentingnya
peranan batu sebagai salah satu komponen bangunan . Adapun hal-hal yang perlu dibahas
dalam makalah ini adalah mengenai peredaran batu alam , jenis-jenis batu alam , susunan
besar butir , batu bata , batako , dan conblock .

1.2. Rumusan Masalah


1. Bagaimanakah kapur ?
2. Bagaimanakah gips ?
3. Bagaimanakah tras dan semen merah ?
4. Bagaimanakah posolan ?
5. Bagaimanakah semen Portland dan semen Portland putih ?
6. Bagaimanakah adukan ?

1.3. Tujuan dan Manfaat

1.3.1. Tujuan

Untuk mengetahui bagaimanakah kapur.


Untuk mengetahui bagaimanakah gips.
Untuk mengetahui bagaimanakah tras dan semen merah.
Untuk mengetahui bagaimanakah posolan.
Untuk mengetahui bagaimanakah semen Portland dan semen
Portland putih .
Untuk mengetahui bagaimanakah adukan .

1.3.2. Manfaat

Dapat mengerti bagaimanakah kapur.


Dapat mengerti bagaimanakah gips.
Dapat mengerti bagaimanakah tras dan semen merah.
Dapat mengerti bagaimanakah posolan.
Dapat mengerti bagaimanakah semen Portland dan semen Portland
putih.
Dapat mengerti bagaimanakah adukan .

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Bahan pengikat hidrolis


2.1.1. Pengertian Bahan Pengikat Hidrolis

Bahan pengikat hidrolis adalah bahan pengikat yang proses pengerasannya lebih baik dalam
rendaman air, serta menghasilkan produk yang tahan air. Bahan pengikat hidrolis biasanya
berbentuk bubuk, bilamana dicampur dengan air dalam waktu tertentu akan mengeras serta
mengikat bahan tambahan(pasir = adukan pasir, kerikil = beton) menjadi semacam batuan baru.
Bahan pengikat hidrolis biasanya akan mengeras pada tempat yang kering/terbuka maupun di
dalamair.

2.1.2. Kapur

Di Indonesia terdapat beberapa batuan yang mengandung senyawa karbonat, antara lain : batu
kapur, batu kapur kerang dan batu kapur magnesia. Sebagian besar dari batu-batuan ini terdapat
dalam bentuk senyawa kalsium karbonat(CaCO3).

Ada bermacam-macam cara pembakaran dan pemadamannya, sehingga terdapat bermacam-


macam mutu kapur tohor(kapur hidup) dan kapur padam(kapur mati/setelah disiram
air).Pembakaran pada umumnya dilakukan dalam dapur-dapur lading(field kilns) dan dapur-
dapur cemuk (shaft kilns) dengan kayu atau batu bata sebagai bahan bakar.

Dengan membakar batu kapur kita menaril CO2 dari batu kapur sehingga menjadi kapur tohor.
Dalam bahasa kimia kita dapatkan proses sebagai berikut :

Dalam pembakaran :

CaCO3 + panas CaO + CO2

Batu kapur + api kapur tohor + asam arang

2.1.2.1. Bahan-Bahan Pembentuk Kapur

Kapur untuk bahan adukan berfungsi sebagai bahan pengikat. Pada umumnya kapur yang ada di
Indonesia adalah kapur yang mengeras di udara, yang berasal dari pegunungan batu kapur , kulit-
kulit kerang , karang dan lain-lainnya. Batu kapur yang dalam bahasa inggrisnya disebut line
stone , dan bagian terbesar dari batu-batuan ini terdapat dalam bentuk senyawa kalsium
karbonat dengan rumus kimianya CaCO3. Batu kapur pada umumnya bukan CaCO3 murni, akan
tetapi juga mengandung oxid-oxid lain dalam jumlah tertentu.

Sebagai contoh susunan kimia batu kapur :

Jumlah karbonat (CO3) 97%


Kapur tohor (CaO) 29,77 55,56%
Magnesia (MgO) 21 - 31%
Silika (SiO2) 0,14 - 2,41%
Alumina dan oxid besi (Al2O3 dan Fe2O3) 0,5%

2.1.2.2. Pembuatan dan Penyiraman Kapur

Batu-batu kapur yang telah diperiksa, sebelum dimasukkan ke dalam dapur pembakaran,
harus dibelah-belah dahulu menjadi potongan-potongan kecil sebesar kepalan tangan, dengan
maksud untuk mendapatkan hasil pembakaran yang sebaik mungkin.Pembakaran kapur
biasanya dilakukan dengan sederhana yaitu dengan menggunakan dapur cerobong.
Pembakaran kapur dilakukan di dekat tempat di mana didapat batu-batu kapur, guna
mengurangi ongkos pengangkutan. Pada pembakaran dengan tekanan atmosfer pada
temperature kira-kira 900 terjadi disosiasi antara batu kapur dengan kalsium. Oksida
dan karbon dioksida, seperti berikut :

CaCO3 CaO + CO2

900

Karena pembakaran warna kapur akan berubah, umumnya menjadi warna kuning muda, abu-
abu atau putih, apabila batu-batu itu terbakar dengan baik perlu diketahui bahwa warna putih
pun belum tentu menunjukkan batu-batu kapur itu telah terbakar sempurna. Ini perlu
dibuktikan dengan cara penyiraman batu-batu tersebut dengan air. Bila setelah disiram
seluruh gumpalan batu kapur berubah menjadi tepung, tanpa meninggalkan butiran-butiran
batu kapur, maka dapat dikatakan pembakarannya telah sempurna. CaO (kapur tohor) yang
murni sebagai hasil dari pembakaran batu kapur(CaCO3), berubah zat padat berwarna putih,
yang dapat lebur pada panas 2570 dan apabila CaO yang cair didinginkan, ia akan
merupakan kristal yang berbentuk kubus. Karbon dioksida (CO 2 yang ada, dapat dihilangkan
dengan cara pembakaran pada temperature antara 1000 - 1200 .

2.1.2.3. Pemadaman Kapur

a. Cara kering

Pada pemadaman :

CaO + H2O Ca(OH)2

Kapur tohor + air Kapur padam

Batu-batu kapur hidup dimasukkan ke dalam keranjang bambu atau kawat kasa

Kemudian dimasukkan ke dalam air dan diangkat keras, biarkan hingga jatuh hancur
menjadi tepung sekalian diayak.
Cara lain batu kapur hidup disebarkan diatas suatu lantai papan atau batu.

Tebal lapisan antara 5-7 cm, batu yang agak besar dipecahkan, disiram dengan air
secukupnya, supaya jadi tepung seluruhnya.

Air yang digunakan kira-kira setengah berat kapur yang akan disiram. Batu-batu
dibolak-balik dengan garpu kayu, sisa batu yang belum tersiram belum dikumpulkan
dan disiram lagi hingga hancur.

Setelah disiram dengan air, kapur dibiarkan dulu selama 7 hari hingga menjadi
sempurna dan memuai menjadi tepung.

b. Cara Basah

Digunakan bak-bak dari kayu atau dari pasangan batu dengan ukuran yang berbeda-
beda.

Batu kapur dimasukkan ke dalam bak-bak, disiram dengan air hingga menjadi
gembur. Diaduk sambil ditambahkan air sedikit demi sedikit. Banyaknya air yang
digunakan sekitar 3-4 kali berat batu kapur hidup.

Kualitas kapur di Indonesia harus memenuhi syarat-syarat untuk kapur bahan


bangunan Indonesia NI 7

Pada pengerasan :

Ca(OH)2 + CO2 CaCO3 + H2

Kapur padam + asam arang batu kapur + air

2.1.2.4. Jenis-Jenis Kapur

1. Ditinjau dan pengembangan, maka kapur dibagi dalam :

Kapur gemuk
Kapur yang pengembagan/pemuaiannya pada waktu penyiraman dapat
1
menghasilkan 2 - 4 kali isi semula, yang mempunyai sifat lunak
2
dan kalau dipegang seakan-akan berminyak.

Kapur kurus

Kapur yang pengembangannya pada waktu penyiramannya hanya


1
menghasilkan 1 sampai 2 kali isi semula dan memberikan
4
perasaan seperti berbutir apabila dipegang.

2. Ditinjau dan bentuknya kapur dibedakan menjadi :

Kapur tohor(quick lime = CaO)

Kapur sebagai hasil pembakaran batu kapur atau batu-batuan lainnya


pada suhu tertentu. Nama lain dari kapur tohor adalah kapur
hidup/kapur kembang. Kapur ini tidak dapat langsung dipakai sebagai
bahan pengikat, akan tetapi harus dipecah-pecah dulu kemudian
dipadamkan(disiram dengan air), sehingga menjadi serbuk kapur.
Kapur tohor ini dipakai untuk mengapur tembok rumah.

Kapur padam kering

Berbentuk serbuk dihasilkan dengan pembakaran kapur tohor secara


kering.

3. Menurut cara mengerasnya kapur dibedakan menjadi :

Kapur Udara

Kapur padam(kapur mati) yang bila dicampur dengan air setelah


beberapa waktu hanya dapat mengeras di udara, karena pengikatan
karbon dioksida (CO2). Kapur yang kita kenal di Indonesia, pada
umumnya kapur yang mengeras di udara. Kapur ini berasal dari
pembakaran batu-batu kapur, kulit kerang, dan karang.

Kapur Hydrolis

Kapur padam yang bila dicampur dengan air setelah beberapa waktu
dapat mengeras di dalam air maupun di udara. Kapur ini mengandung
sedikit bahan-bahan lain seperti tanah liat yang teah menyatu dalam
proses pembakaran.

4. Ditinjau dari penggunaannya

Kapur pemutih

Yaitu kapur yang digunakan untuk memutihkan dinding

Kapur adukan

Yaitu kapur yang digunakan untuk membuat adukan

Kapur magnesia

Yaitu kapur yang mengandung lebih dan 15% magnesium


oksida(MgO) dihitung dari contoh kapur yang dipijarkan.

2.1.2.5. Cara Menyimpan Kapur Tohor

Penyimpanan ini dimasudkan untuk menjaga agar kapur yang telah dibakar(kapur
tohor) tidak kemasukan air atau lembab. Cara menyimpannya sebagai berikut :
ruangan yang akan dipakai untuk menyimpan kapur, lantainya diberi alas dari
papan/anyaman bambu. Di atas anyaman bambu diberi lapisan dari kapur padam
setebal 15 cm. Di atas lapisan inin baru ditumpukkan batu-batu kapur tohor
(batu kapur yang belum disiram) dan seluruhnya ditutup dengan kapur padam
(tepung), sehingga terisi penuh celah-celah batu kapur yang ditumpuk tadi.
Tepung kapur mati ini sebagai pembungkus, yang dapat menahan masuknya udara
yang mengandung uap air.

2.1.3. Gips

2.1.3.1. Pengertian

Gips adalah batu kapur asam belerang yang mengandung air dan pada mulanya
berwarna putih, kemudian dibakar dengan temperatur tertentu dan setelah itu digiling
halus.
Gips mirip dengan batu kapur, tetapi dapat dibedakan dengan cara :

Gips akan melekat pada jari tangan yang basah, tidak larut asam garam. Sedangkan kapur
tidak melekat pada jari tangan yang basah dan larut pada asam garam.

Gips kalau dicampur dengan air akan mengembang, mengikat keras dan harus disimpan
di tempat-tempat yang kering dan terhindar dari udara lembab.

2.1.3.2. Pembakaran gips

Bongkahan-bongkahan batu kapur asam belerang dipecah-pecah. Kemudian


dimasukkan ke dalam dapur pembakaran, setelah terlebih dahulu dapurnya dikosongkan
dan dibersihkan dari api pembakaran . Pembakaran dilakukan udara panas.

Pembakaran dengan temperatur 130 , akan menghasilkan gips untuk plesteran dan
cepat mengikat air dan menjadi keras.

1 1
CaSO4 2H2O CaSO4 H2O + 1 H2O
2 2

1
CaSO4 H2O , berupa serbuk putih yang halus mudah menarik dari udara dan
2
membentuk CaSO4 2H2O

Pembakaran dengan temperatur 200 , akan menghasilkan gips yang bebas air dan
bial dicampur dengan air akan terjadi

1 1
CaSO4 H2O CaSO4 + H2O
2 2

Pembakaran dengan temperature 400 , gips yang dihasilkan bila dicampur dengan
air akan menjadi keras seperti batu dan tahan terhadap iklim.

2.1.3.3. Pemakaian gips dalam bahan bangunan

Untuk adukan dan beton gips jarang digunakan, oleh karena gips mudah larut dalam air
dan membahayakan karena mengurangi sifat kekal bentuk.

Biasanya gips dipergunakan pada pembuatab lis-lis dinding, langit-langit.

Disamping itu juga digunakan untuk campuran dalam pembuatan semen.

2.1.4. Tras dan Semen Merah


Tras itu adalah sejenis tanah posolan yang mempunyai kemampuan mengeras bial dicampur
dengan bahan lain seperti kapur. Tras ini merupakan hasil lapukan batu-batuan yang berasal
dari gunung berapi yang paling banyak mengandung silika(SiO 2), di samping unsur-unsur
lain seperti : oxid besi(Fe2O3), Alumina (Al2O3), kalsium oksida(CaO) dan lain sebagainya.
Penghasil tras yang banyak dikenal adalah tras Gembong(Surabaya),Ciumbuleuit-Nagrek-
Lembang(Jawa Barat). Tras banyak digunakan orang untuk campuran adukan maupun untuk
pembuatan batako/batu cetak. Dilihat dari unsure-unsur kimia yang terkandung dalam tras,
maka dapat dikatakan tras hampir sama denagn semen merah karena semen merah berasal
dari hasil bakaran tanah liat. Dan tanah liat itu sendiri mengandung unsur-unsur kimia seperti
yang terkandung dalam tras. Semen merah ini bila dicampur dengan kapur dan air akan
mengeras seperti halnya dengan tras-tras lainnya.Semen merah ini biasa digunakan sebagai
campuran adukan, misalnya campuran : 1 kapur : 1 semen merah : 3 pasir. Pada
proyek/pekerjaan-pekerjaan yang memakai bata merah sebagai dinding bangunan, pecahan-
pecahannya biasanya dimanfaatkan dengan menumbuknya menjadi tepung halus semen
merah.

Tras dan Semen Merah, harus memenuhi syarat-syarat seperti berikut :

Batuan-batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari pemecahan batu. Yang
dimaksudkan dengan agregat kasar umumnya adalah agregrat denagn besar butir
lebih dari 5 mm. Sesuai dengan syarat-syarat pengawasan mutu agregrat untuk
berbagai mutu beton, agregat kasar harus memenuhi satu, beberapa atau semua ayat
berikut ini.

Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang keras dan tidak berpori.Agregat
kasar yang mengandung butir-butir pipih hanya dapat dipakai, apabila jumlah butir-
butir pipih tersebut tidak melampaui 20% dari berat agregat seluruhnya. Butir-butir
agregat kasar harus bersifat kekal, artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh-
pengaruh cuaca seperti terik mataharidan hujan.

Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 % (ditentukan terhadap
berat kering).Yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melalui
ayakan 0,063 mm. Apabila kadar lumpur melampaui 1 % , maka agregat kasar harus
dicuci.

Agregat kasar tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak beton,seperti zat-
zat yang reaktif alkali.

Kekerasan dari butir-butir agregat kasar diperiksa dengan bejana penguji dari
Rudeloff dengan beban penguji 20 ton, dan harus memenuhi syarat-syarat berikut :

o Tidak terjadi pembubukan sampai fraksi 9,5 19 mm, lebih dari 24% berat;
o Tidak terjadi pembubuhan sampai fraksi 19 30 mm. lebih dari 22 % atau
dengan mesin Pengaus Los Angelos, yang tidak boleh kehilangan berat lebih
dari 50 %

Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam besarnya dan apabila
diayak dengan susunan ayakan yang ditentukan untuk pasir, harus memenuhi syarat-
syarat berikut :

o Sisa di atas ayakan 31,5 mm, harus 0% berat;

o Sisa di atas ayakan 4 mm, harus berkisar antara 90 % dan 98% berat;

o Selisih antara sisa-sisa kumulatif di atas dua ayakan yang berurutan,


adalah maksimum 60 % dan minimum10 % berat.

Besar butir agregat tidak boleh lebih daripada seperlima jarak terkecil antara bidang-
bidang samping dari cetakan, sepertiga dari tebal pelat atau tiga perempat dari jarak
bersih minium di antara batang-batang atau berkas-berkas tulangan. Penyimpangan
dari pembatasan ini diijinkan, apabila menurut penilaian pengawas Ahli cara-cara
pengecoran beton adalah sedemikian rupa sehingga menjamin tidak terjadinya
sarang-sarang kerikil

2.1.4.1. TRAS

2.1.4.1.1. Tras Alam

Tras alam adalah lapukan batu-batuan yang berasal dari gunung berapi yang
banyak mengandung silika, yang dalam keadaan halus bila dicampur dengan
kapur dan air, setelah beberapa waktu dapat mengeras pada suhu kamar,
membentuk massa yang padat dan sukar larut dalam air.

a. Bahan Dasar

Lapukan batu-batu yang berasal dari gunung berapi, banyak


mengandung silika.

Batu tuf.

b. Proses Pembuatan

Bahan-bahan tersebut digiling halus, kemudian diayak dengan


ayakan, lolos diameter ayakan 2,5 mm dan diatas ayakan 0,21
mm.
c. Penggunaan Tras

Hampir semua komponen-komponen bangunan dapat dibuat


dengan campuran tras, terutama untuk konstruksi tidak beret.
Pada umumnya campuran-campuran tras tersebut digunakan
untuk pekerjaan antara lain: pondasi, adukan, plesteran,
maupun adukan mortel dan juga batu cetak.

d. Keuntungan dalam Pemakaian tras

Pencampuran tras menyebabkan semen menjadi lebih tahan


terhadap serangan-serangan ion sulfat.

Dapat memperbaiki atau melengkapi reaksi antara semen


dengan bahan-bahan tambahan lain.

Mempengaruhi derajat panas yang timbul dalam pengecoran


beton semen Portland.

Menghambat pemakaian semen Portland, sehingga lebih


ekonomis.

2.1.4.1.2. Tras Buatan

Tras buatan disebut juga semen merah adalah suatu bahan yang didapat
dengan menggiling halus batu bata merah, genting dan barang-barang bakaran
tanah liat lainnya, yang mempunyai sifat-sifat seperti tras.

a. Bahan Dasar

Bakaran tanah liat

Pecahan batu bata atau genteng

Kerak tanur timggi

b. Proses Pembuatan

Bahan-bahan tersebut digiling halus kemudian diayak dengan


ayakan, lolos diameter ayakan 2,5 mm dan diatas ayakan 0,21
mm.

c. Sifat-sifat Tras
Bahan dasar tras banyak mengandung silika baik dalam
struktur amorf atau Kristal oval yang halus, yang terjadi karena
pengendapan proses pelapukan bumi.

Bahan ini sama sekali tidak mempunyai sifat dapat mengikat


atau mengeras tanah adanya kapur dan air.

2.1.4.2. Semen Merah

Semen merah berasal dari batu merah yang digiling atau ditumbuk halus. Berdasarkan
susunan kimia, semen merah bereaksi terhadap asam sebab terdiri dari oksida-oksida asam
seperti SiO2 dan aluminia. Semen merah bila dicampur dengan kapur dan air akan mengeras.
Karena bahan tersebut mengandung silika amorf di dalam mineral-mineralnya yang membentuk
senyawa kalsium hidrosilikat.

Reaksi diduga sebagai berikut :

CO(OH)2 + SiO2 + (n-1)H2O CaO SiO2 n H2O

Di samping itu juga terjadi reaksi antara aluminia dengan kapur dan air membentuk senyawa
kalsium hidroaluminat sebagai berikut:

CO(OH)2 + Al2O2 + 5 H2O CaO Al2O3 6 H2O

Semen merah biasanya digunakan sebagai campuran adukan, misalnya dengan campuran:
1 bagian semen merah : 1 bagian kapur : 3 bagian pasir. Para pembuat semen merah harus
memperhatikan peraturan tras dan semen merah NI-20

2.1.5. Pozolan

2.1.5.1. Definisi

Pozolan : adalah suatu bahan alarn atau buatan yang sebagian besar terdiri dari unsur -
unsur silikat dan atau aluminat yang reaktif, dalam keadaan tersendiri tidak mempunyai sifat -
sifat seperti semen, tetapi jika berupa bahan halus dan dicampur dengan kapur padam dan air
setelah beberapa uraktu dapat mengeras pada suhu kamar dan membentuk suatu masa yang padat
dan sukar rnelarut dalam air. Kapur pardam: adalah hasil pemadaman kapur-tohor (adalah kapur
tohor yang telah bersenyawa dengan air dan membentuk suatu hidrat).

Semen prozolan kapur adalah suatu bahan pengikat hidrolis yang dibuat dengan
menggiling bersama suatu bahan pozolan dengan kapur padam atau yang dibuat dengan
mengaduk secara cermat dan merata suatu bahan pozolan halus dengan kapur padam. Nama
Pozoaln Pozzolana, Pozzuolana, Puzzolane seperti telah diterangkan berasal dari nama suatu
desa,yaitu desa Pozzuoli di lereng gunung Vesuvius, Italia. Pozolan yang dicampur dengan air,
tak dpat menjadi keras, maka ia harus dicampur dengan suatu bahan iakt lain seperti
kapur.Pozolan, tanah Santorin dan tras berasal dari penghancuran dari batu-batu tuf, yang
disebabkan oleh pengaruh iklim, juga penghancuran dari batu-batu alam (andesit, basalt, dan
sebagainya) dapat bersifat seperti posolan itu. Di Indonesia pun banyak terdapat posolan, maka
banyak juga dipergunakan dalam adukan kapur atau adukan semen. Tujuan penggunaan Semen
pozolan kapur dapat dipakai rrntuk adukan, plesteran dan beton dengan rnutu selinggi-tingginya
Bo, sesuai dengan ketentuadna lam Peraturan Beton Indonesia Nl-2 th.1971

2.1.5.2. Standar Mutu

Sifat-Sifat yang diuji Syarat-Syarat

a.Kehalusan

Sisa di atas ayakan 1,2 mm dalam %. 0

Sisa maksimum di atas ayakan 0,09

mm dalam % 10

b.Kekekalan bentuk Kueh-kueh tidak boleh memperhatikan


peristiwa kerja (retak, pecah, atau perubahan
bentuk lainnya)

c.Pengikatan awal

Benda uji harus mengeras dalam waktu

maksimum jam. 3 x 24

d.Kuat tekan

Sesudah 3 + 4 hari, minimum rata-rata kg

gaya/ m2 50

Sesudah 3 +25 hari, minimum

Rata-rata kg gaya/ m2 100

Cara penyimpanan Semen pozolan kapur harus disimpan atau ditimbun di dalam gudang yang
tahan pengaruh cuaca dan terlindung dari basah yang dapat menyebabkan kerusakan. Cara
penyimpanan dilakukan sedemikian rupa, sehingga dapat mudah diambil contoh untuk
pengujian.
Syarat penandaan jika semen pozolan kapur diperdagangkan dalam bungkusan, pembungkus
harus diberi tanda - tanda yang jelas, sehingga rrudah terlihat oleh setiap orang, mengenai pabrik
yang membuatnya nama semen pozolan kapur, keterangan-keterangan tentang penggunaanya
serta berat bersih dari isinya dalam satuan kg.

2.1.5.3. Tempat Asal Posolan

Posolan alam adalah hasil penghancuran batu-batu tuf dan juga batu-batuan lain. Batu-batuan
lain. Batu-batu ini butiran-butirannya tidak berbentuk Kristal, merupakan masssa kaca alam dan
juga sebagai lelehan dari gunung berapi. Pozolan di Indonesia ialah di Gunung Muria, di dekat
Surabaya(Gembong) dan di Nagrek.

2.1.5. Semen Portland dan Semen Portland Putih

Dalam kehidupan sehari-hari Portland cement (=pc) biasa disebut dengan semen saja.
Semen adalah suatu bahan pengikat hidrolis (dapat mengeras/membatu jika dicampur air), yang
berupa serbuk yang sangat halus berwarna abu-abu atau cokelat abu, maupun abu-abu kehijau-
hijauan yang terdiri dari kristal-kristal silikat, kalsium, dan aluminium.

a. Bahan Utama Semen

Sebagai bahan dasar dari semen adalah batu kapur(CaO), silika(SiO2), Alumina(Al2O3), oxid
besi(Fe2O3), dan bahan-bahan lain dalam jumlah yang kecil seperti trioxide belirang(SO 3),
belerang(S), dan sebagainya. Oxid besi bersama alumina dan silika selalu terdapat dalam tanah
liat, maka itu ia selalu terdapat di dalam semen. Pada semen yang baik akan terdapat bahan-
bahan utama dengan komposisi sebagai berikut :

-Kapur(CaO) 58 - 65%

-Silika(SiO2) 20 - 26%

-Alumina(Al2O3) 5 - 9%

-Oxid-besi(Fe2O3) 1 - 5%

-Magnesia(MgO) 1 - 4%

Bahan-Bahan lain seperti :

-Trioxid-belerang(SO3) 0,5 2%

-Belerang(S) 0 2%
Kemampuan dari suatu bahan ikat untuk mengeras di dalam air ditentukan oleh modulus-
hidroliknya, yaitu perbandingan bahan-bahan utama seperti antara CaO, SiO2, Al2O3, dan Fe2O3.

b. Pembuatan dan Pengikatan Semen

Proses pembuatan semen secara garis besarnya sebagai berikut :

Pertama-tama bahan dasar tanah liat dan kapur dalam keadaan kering dengan perbandingan
tertentu dicampur dan digiling bersama-sama sampai menjadi tepung halus. Selanjutnya tepung
halus ini dicampur dengan sedikit air sehingga menjadi suatu massa yang basah yang disebut
bubur (slurry) dengan kadar airnya 35 40%. Slurry ini disimpan dalam tangki-tangki koreksi
(Correction tank), di mana komposisinya diatur dengan penambahan bahan-bahan tambahan
yang dianggap masih kurang. Kemudian slurry yang ada di dalam tangki dimasukkan ke dalam
dapur pembakaran dengan suhu berkisar 1100 dan gas panas yang keluar dari ujung atas
dapur akan memanasi dan mengeringkan slurry tadi, sehingga menghasilkan batu keras dengan
permukaan seperti kaca yang disebut Klinker(clinker).

Klinker ini kemudian digiling hingga halus dan bila perlu ditambahkan dengan bahan
penghambat pengerasan berupa gips sebesar kurang dari 3%, serta dihaluskan kembali bersama-
sama dan terjalinlah semen. Dalam perdagangan serbuk semen ini dimasukkan dalam kantong-
kantong kertas dengan berat bersih berkisar 42,5 kg atau 0,0288 m3 , serta
tercantum nama pabrik yang memproduksinya.

Bobot isi (volume weight) semen dalam keadaan gembur berkisar 0,9 1,1 gr/ cm 3 .
Mengingat kehalusan serbuk semen akan mempengaruhi kecepatan pengikatan, pengerasan, dan
kekuatannya, maka kehalusan serbuk semen haruslah menjadi perhatian secara khusus. Makin
halus itu serbuk semen makin cepat dan lebih efektif terjadinya interaksi dengan air. Suatu
perubahan semen dari keadaan lunak (karena dicampur dengan air) hingga menjadi keras
dinamakan pengikatan, dan waktu yang dibutuhkan untuk pengikatan disebut waktu ikat.
Pengikatan semen dikatakan lambat bila waktu ikatnya selama 2 jam atau lebih. Pengikatan
semen yang terlalu cepat akan dapat menimbulkan pengikatan palsu (premature setting), yaitu
suatu pengerasan sementara (dalam waktu singkat 10 memit) dan tidak sesungguhnya.
Pengikatan palsu tersebut terutama disebabkan oleh berubahnya gips yang dicampur serbuk
semen, sehingga menjadi gips yang aktif (gips terlalu banyak dapat mengeras cepat), bila
dicampur dengan air. Pemakaian pengikatan palsu ini akan dapat merugikan, misalnya pada saat
pekerjaan pengecoran beton yang harus dikerjakan cepat, karena mengakibatkan kesukaran
dalam mengeluarkan adukan beton dari mesin aduknya. Jadi makin lambat pengikatan itu makin
baik. Kekerasan semen dapat menjadi kurang sempurna, bila pemuaian dan penyusutan yang
tidak merata pada senyawa-senyawa atau bagian-bagian dari semen tersebut. Hal ini dapat
menyebabkan terjadinya retak-retak dan cacat-cacat lain pada semen. Setelah selesai proses
pengikatan maka mulailah terjadi proses membatu yang berlangsung dalam waktu yang cukup
lama atau beberapa tahun untuk proses membatu yang sempurna.
c. Kekuatan Semen

Untuk mengetahui mutu semen biasanya dibuat kubus-kubus percobaan untuk kuat desak/tekan,
yang campuran adukannya terdiri dari 1 bagian berat, semen dan 3 bagian pasir standard(pasir
kwarsa), dengan konsistensi tertentu. Pembuatan benda ini berupa kubus dengan rusuk 7,1 cm
(7,1 x 7,1 x 7,1 cm ) serta pengujiannya dilakukan menurut cara-cara tertentu dalam
laboratorium. Kubus percobaan ini diuji pada umur-umur tertentu pula, misalnya 1 hari, 26 dan
27 hari. Biasanya benda uji ini dibiarkan 1 hari dalam cetakannya, kemudian disimpan dalam
ruangan lembab dengan temperature tertentu selama 26 dan 27 hari sebelum benda itu diuji.
Untuk lebih jelasnya mengenai syarat pengujian dan kekuatan desak semen Portland dapat dilihat
pada Peraturan Semen Portland Indonesia (NI-8) dari Yayasan Dana Normalisasi Indonesia
(YDNI)

d. Penggunaan Semen

Semen sebagai hasil produksi pabrik yang banyak diperjual belikan di toko-toko,dapat digunakan
sebagai :

Bahan pengikat dalam pembuatan beton dengan campuran sesuai dengan kebutuhan,
misalnya dengan campuran : 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil dan bila untuk adukan plester
kedap air : 1 semen : 2 pasir.

Untuk pembuatan elemen-elemen bangunan, seperti bahan penutup atap (genteng beton,
atap semen asbes gelombang), tegel, bataco/ batu cetak.
Sebagai campuran pembuatan bata-bata tanah standard an lain sebagainya.

e. Penyimpanan Semen

Agar supaya semen selalu dalam keadaan siap pakai, maka penyimpanannya harus dengan
sebaik-baiknya.

Cara penyimpanan semen dapat dilakukan sebagai berikut :

Semen harus disimpan pada tempat yang kering, tidak langsung di atas tanah yang
lembab dan berada dalam ruangan yang beratap baik, agar terlindung dari air hujan.
Bila dikehendaki penyimpanan semen di lokasi pekerjaan, maka dapat dilakukan dngan
membuat gudang bahan bangunan dari dinding papan yang lantai dan atapnya dilapisi
dengan suatu lapisan yang tidak tembus lembab/air (dibuat kedap air).
Jarak penimbunan sebaiknya lebih kurang 50 cm dari sisi dalam dinding, sedang lantai
yang telah dilapisi berada di atas tanah sekurang-kurangnya 30 cm.
Kalau penyimpanan semen itu harus ditumpuk karena kekurangan tempat, maka tinggi
tumpukan sebaiknya kurang dari 2m. Bila tumpukan itu lebih dari 2m akan
mengakibatkan pembebanan yang berlebihan pada deretan semen di bagian bawah, yang
nantinya bisa menjadi bergumpal-gumpal. Gumpalan semen yang diakibatkan oleh
penumpukan yang terlalu tinggi dan bukan bukan oleh lembab (air), masih dapat
digunakan setelah ditumbuk atau dihaluskan kembali. Bila mutunya diragukan, maka
sebelum dipakai harus dibuktikan terlebih dahulu bahwa semen tersebut masih memenuhi
syarat.
Semen yang berasal dari berbagai jenis harus disimpan sedemikian rupa, sehingga tidak
mungkin semen dari jenis yang satu tertukar dengan jenis yang lain.
Pada pemakaian semen yang dibungkus dalam kantong-kantong, penimbunan semen
yang baru dating tidak boleh disimpan di atas timbunan semen yang sudah lama dan
biasanya pemakaian semen harus dilakukan menurut urutan pengirimannya.

f. Syarat semen Portland dan semen putih

Semen
Semen portland Portland putih
Uraian Tipe I Tipe II Tipe III Tipe IV Syarat
Hasil tes fisis

Sisa diatas ayakan 2,0 2,2 1,3 2,2 10


0,09 mm (%)
Maksimum

Waktu pengikatan
Awal (menit) 150 155 155 230 45
Akhir(menit) 5 : 40 5 : 50 5 : 35 7 : 10 8
Penyekatan
Semu :

Penetrasi
akhir,
minimum 50
Kekuatan tekan %
1 hari, N/ mm2 , - - 14,1 -
min 21,2 16,0 29,5 15,0 -
3 hari, N/ mm , 29,8
2 22,1 36,1 21,8 Dengan warna
min Putih
7 hari, N/ mm2 , 40,7 33,4 46,4 30,9 dibandingkan
min MgO, min
80%
28 hari, N/ mm2 ,
min Rumah- Bangunan Konstruk- Konstruksi
Perkantoran- di si bangunan Semua tujuan
Pabrik pinggir laut, bangunan pada tanah didalam
Gedung konstruksi yang atau air pembuatan
Kegunaan bertingkat irigasi, kekuatan yang adukan semen
jembatan tekan mengan- serta beton
dam-dam tinggi dung sulfat yang tidak
(Gedung jembatan memerlukan
bertingkat terowong- persyaratan
an, khusus,
pelabuhan kecuali warna
putih.

2.1.5.1. Semen Portland

Semen Portland adalah bahan pengikat hidrolis yang digiling halus dan dibakar. Untuk membuat
1 ton semen Portland membutuhkan :

Batu kapur 1.200 kg


Lempung 250 kg
Pasir silika 100 kg
Pasir besi 10 kg
gaps 30 kg

Semen Portland ditemukan dengan membakar batu kapur sampai terjadi peleburan sebagian,
pada tahun 1824 oleh tukang batu Joseph Aspdin do Leeds, Inggris. Karena ia menggunakan batu
kapur yang menyerupai batu dari Portland, maka diberi nama semen Portland. Akan tetapi baru
sekitar dua puluh tahun kemudian Johnson menemukan cara pembuatan semen Portland yang
cukup sederhana, sehingga dapat diproduksi dalam pabrik.

2.1.5.1.1. Proses pembuatan semen Portland yang modern dapat dibagi atas tiga cara yaitu :

a. Cara basah dengan dapur putar yang berbaring


Pada cara basah bahan baku melalui penggilingan dan dengan tambahan air menjadi
lumpur. Kemudian lumpur bahan baku akan terbakar dalam kapur.
b. Cara kering dengan dapur putar yang berbaring
Cara pembuatan semen Portland tersebut yang biasanya dilakukan di Indonesia.
c. Cara kering dengan dapur putar yang berdiri
Cara kering dengan dapur berdiri sangat ekonomis untuk perusahaan semen yang agak
kecil. Juga penggunaan tanah jauhlebih kecil daripada dapur putar yang berbaring dengan
panjang .>70 m. Akan tetapi dari dapur yang berdiri jauh lebih kecil.

2.1.5.2. Semen Portland Putih

Semen Portland putih adalah semen hidrolis yang berwarna putih, dihasilkan dengan cara
menghaluskan klinker yang terutama terdiri dari silikat-silikat kalsium yang bersifat hidrolis,
bersama bahan tambahan yang biasanya adalah gips. Karena dari proses pembakaran bahan batu
semen, terak (klinker) tidak dapat kembali pada alam (irreversible), maka semen (Portland/putih)
termasuk bahan bangunan yang tidak ekologis.

2.1.6. Adukan

2.1.6.1. Bahan-Bahan Pembentuk Adukan

Di antara sekian banyak penyebab rusaknya suatu bangunan salah satu di antaranya adalah
akibat dari penggunaan bahan-bahan pembentuk adukan yang tidak dapat lagi memenuhi syarat,
oleh karenanya masalah adukan haruslah menjadi perhatian secara tersendiri.

Adukan yang dimaksudkan di sini adalah suatu campuran yang terdiri dari bahan pengikat dan
bahan pengisi dengan ditambah air, sehingga menjadi suatu masa dengan konsistensi tertentu.
Biasanya adukan itu terbuat dari campuran kapur/semen, pasir dan air atau ditambah bahan
tambahan lainnya.

2.1.6.2. Macam-Macam Adukan

Nama adukan ditentukan oleh bahan ikatnya :

a. Adukan kapur adalah jenis bahan perekat tersusun oleh bahan ikat kapur, bahan tambah
hidrolik semen merah ata tras, dan bahan isian pasir, yang ditambah air.
b. Adukan semen Portland adalah jenis bahan perekat tersusun oleh bahan ikat semen
Portland dan bahan isian pasir, yang ditambah air.

Perbandingan takaran (jumlah) dari masing-masing bahan tergantung kepada penggunaannya,


dan jenis pasangan.

Kwalitas (mutu) tiap jenis bahan susun juga mempengaruhi perbandingan campurannya. Pada
perbandingan campuran yang sama, tetapi di tempat yang berlainan, tidak akan didapat kwalitas
yang sama, karena sifat-sifat bahan susunnya tidak sama. Tetapi umumnya perbandingan-
perbandingan berikut ini digunakan sebagai pegangan.

1. Adukan biasa
a. Adukan kapur
1 kp : 1 sm : 2 ps
1 kp : 1 sm : 3 ps untuk pasangan bata
1
1 kp : 1 sm : 2 ps tembok serta plesteran
2
1 kp : 1 sm : 1 ps
3
1 kp : 1 sm :1 untuk pasangan batu fondasi
4
1 kp : 2 ps untuk pasangan ubin
1
1 kp : 1 a 1 lantai bata
2
b. Adukan semen Portland
1 SP : 2 ps
1 SP : 3 ps
1SP : 4 ps 1. Pasangan bingkai tras

2. Pasangan pada pilaster dan plesteran beton

3. Pasangan batu muka

4. Plesteran tahan air/tahan lumut,

5. Pasangan pada bendungan/pintu air

6. Plesteran sudut

1
1 SP : kp : 2 ps 1. Untuk plesteran tembok tanpa atap
2
1
1 SP : kp : 3 ps
2
1
1 SP : kp : 4 ps 2. Untuk lantai (plesteran lantai kasar)
2
1 SP : 3 ps Untuk pasangan ubin/ubin plint.
ubin lantai kamar mandi/WC dan ubin
porselin.

c. Adukan kapur tras

3
1 Kp : 1 tras : 1 ps untuk pasangan biasa
4
1 Kp : 1 tras : 2 ps
3
1 Kp : 1 tras : 2 ps untuk bingkai tras
4

d. Adukan semen Portland tras

1 SP : 1 tras : 4 ps untuk bingkai tras


1 SP : 1 tras : 3 ps
1 SP : 1 tras : 4 ps untuk pasangan yang kena air laut.
2. Adukan (spesi) pearpih

a. 1 kp : 1 sm untuk menghaluskan

b. 1 kp : 1 sm : 2 ps plesteran untuk perapihan sudut sponing


(halus)

c. Air semen Portland (air semen) untuk :

Sambungan pasangan ubin


Perapihan sponing
Mengikat plesteran
Perapihan plesteran tahan lumut

3. Adukan Beton

Beton merupakan jenis buatan, yang terdiri dari campuran bahan ikat (SP) dan bahan-bahan pasir
dan kerikil, dengan perbandingan tertentu dan dengan air secukupnya, yang selanjutnya akan
mengeras seperti batu.

Aduakn (spesi) dibagi atas bagian-bagian sebagai berikut :

a. Pc : pasir ; dinamakan spesi semen - pasir


b. Pc : tras : pasir ; dinamakan spesi semen tras - pasir
c. Kp : pasir ; dinamakan spesi kapur - pasir
d. Kp : semen : pasir ; dinamakan spesi kapur semem merah - pasir
e. Kp : tras : pasir ; dinamakan spesi kapur tras - pasir
f. Pc : kp : pasir ; dinamakan spesi semen kapur - pasir
g. Pc : pasir : kerikil (batu pecah) ; dinamakan spesi beton, dan lain sebagainya

Bahan dasar dan perbandingan campuran dari adukan yang akan digunakan untuk suatu
bangunan, akan mempengaruhi kekuatannya maupun letak penggunaannya.
Bab III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Daftar Pustaka

Ringsun, I Nyoman. 2012. Buku Ajar Ilmu Bahan. Surabaya: Unipres Unesa

Supriadi, I K. tanpa tahun. Ilmu Bangunan Gedung. tanpa kota: Armico

Subarkah,Iman. 1980. Konstruksi Bangunan Gedung. Bandung: Idea Dharma

https://sites.google.com/site/materipembelajarantekniksipil/