Anda di halaman 1dari 2

Profetik berasal dari bahasa inggris prophetical yang mempunyai makna kenabian atau sifat yang

ada dalam diri seorang nabi (Kuntowijoyo). Yaitu sifat nabi yang mempunyai ciri sebagai
manusia yang ideal secara spiritual-individual, tetapi juga menjadi pelopor perubahan,
membimbing masyarakat ke arah perbaikan dan melakukan perjuangan tanpa henti melawan
penindasan.
Secara definitif, pendidikan profetik dapat dipahami sebagai seperangkat teori yang tidak hanya
mendeskripsikan dan mentransformasikan gejala sosial, dan tidak pula hanya mengubah suatu
hal demi perubahan, namun lebih dari itu, diharapkan dapat mengarahkan perubahan atas dasar
cita-cita etik dan profetik.
Secara normatif-konseptual, paradigma profetik versi Kuntowijoyo (alm) didasarkan pada Surat
Ali-Imran ayat 110 yang artinya: Engkau adalah ummat terbaik yang diturunkan/dilahirkan di
tengah-tengah manusia untuk menyuruh kepada yang maruf dan mencegah kemunkaran dan
beriman kepada Allah.
Terdapat tiga pilar utama dalam ilmu sosial profetik yaitu; amar maruf (humanisasi)
mengandung pengertian memanusiakan manusia. nahi munkar (liberasi) mengandung pengertian
pembebasan. dan tuminuna bilah (transendensi), dimensi keimanan manusia.
Pendidikan Berparadigma Profetik
Wacana pendidikan profetik sebenarnya telah lama berkembang baik di kalangan akademisi
ataupun non akademisi. Wacana ini muncul dilatarbelakangi oleh keprihatinan berbagai pihak
melihat kondisi pendidikan Indonesia yang semakin lama tidak memiliki identitasnya lagi. Selain
itu, juga menyikapi out put dari sistem pendidikan yang belum mampu berkontribusi bagi
perbaikan negeri muslim ini.
Ditengah geliat berbagai konsep pendidikan yang muncul saat ini, pendidikan profetik menjadi
suatu alternatif bagi pendidikan di Indonesia. Pendidikan profetik menjadi sebuah solusi atas
buruknya hasil pendidikan Indonesia yang hingga saat ini masih condong memihak pada
kapitalisme. Bagaimana pendidikan profetik mampu memberikan solusi tersebut?
Maka dalam sisi pendidikan, 3 hal dasar utama tersebut menjadi paradigma dalam
mengembangkan sistem pendidikan di Indonesia. Pengembangan tersebut hingga pada dataran
penyelenggaraan pendidikan di kelas. Selain itu, pendidikan profetik juga sekaligus
menghadirkan paradigma pendidikan baru yang mampu melahirkan kebijakan yang berpihak
pada masyarakat pinggiran, menumbuhkan pendidikan yang berjati diri keindonesiaan dan
beriringan dengan kontekstual kehidupan masyarakat.
Kuntowijoyo menjelaskan dengan humanisasi, Islam menekankan pentingnya memanusiakan
dalam proses perubahan. Sedangkan dengan liberasi, Islam mendorong gerakan pembebasan
terhadap segala bentuk determinasi kultural dan struktural seperti kemiskinan, kebodohan. Dan
dengan transendensi, perubahan dicoba diberi sentuhan yang lebih maknawi, yaitu perubahan
yang tetap berada dalam bingkai kemanusian dan ketuhanan. Maka didalam pendidikan profetik,
pendidikan tidak hanya dilakukan untuk mengejar standar kompetensi dan tujuan didalam
kurikulum saja. Siswa dalam setiap sesi mata pelajaran harus diajak berdialog, berdiskusi dan
mengkontekskan apa yang sedang dibahas dalam mata pelajaran tersebut dengan realitas sosial
yang sedang terjadi. Sehingga siswa memiliki wawasan dan pengetahuan akan kondisi
masyarakat dan lingkungan tempat ia berada selama ini.
Melalui penerapan pendidikan profetik out put yang diharapkan, yaitu mencetak generasi-
generasi muda Islam yang memiliki dan memahami jati dirinya sebagai Muslim. Kemudian
siswa diarahkan dan diajak berdiskusi, berdialog dan berfikir tentang realitas sosial, hingga ia
mampu memiliki sence of belonging akan masalah sosial yang muncul. Maka dengan
keberislamannya ia pun sadar bahwa Islam yang ia pilih merupakan sebuah petunjuk, arahan dan
solusi akan masalah sosial yang ia hadapi di lapangan.
Munculnya generasi-generasi tersebut seharusnya menjadi target besar umat Islam saat ini.
Karena pendidikan Islam tidak lagi dalam posisi sekedar mengekor, mengikuti atau memenuhi
kebutuhan zaman ini. Akan tetapi pendidikan Islam harus mampu menciptakan mainstream dan
tren mode agar bagaimana pendidikan itu berjalan. Maka pendidikan profetik merupakan salah
satu solusi dalam merekontruksi bagi pendidikan Indonesia saat ini yang sedang kehilangan arah
dan tidak memiliki jati diri keindonesiannya.