Anda di halaman 1dari 9

ACARA II

PENGARUH PEMANASAN SUBLETAL DAN PENYEMBUHAN PERTUMBUHAN BAKTERI

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Setiap mahkluk hidup yang sedang dalam pertumbuhannya membutuhkan nutrisi yang

mencukupi serta kondisi lingkungan yang mendukung proses tersebut, termasuk juga bakteri.

Pertumbuhan bakteri pada umumnya akan dipengaruhi faktor lingkungan. Pengaruh faktor ini

memberika gambaran yang memperlihatkan peningkatan jumlah sel yang berbeda dan pada

akhirnya memberikan gambar pula terhadap kurva pertumbuhannya. Faktor temperatur

merupakan faktor lingkungan terpenting yang mengalami pertumbuhan dan kehidupan mikroba

(Suhaimi,2009).

Pemanasan yang dilkukan pada mikroorganisme dapat menyebabkan terjadi kematian

bakteri terutama sel-sel mikroorganisme yang sensitif terhadap panas atau hanya

menyebabkan sel megalami kerusakan (subletal) tetapi tidak mati. Kerusakan subletal dapat

disebabkan oleh pemanasan subletal. Jumlah mikroorganisme yang mengalami kerusakan

subletal dapat dihitung dengan menggunakan media selektif mauoun selektif. Dengan

mengurangi julah bakteri yang tumbuh pada media non selektif dan dapat dihitung jumlah

bakteri yang mengalami kerusakan subletal (Handayani,2017).

Sel mikroba atau bakteri mekanisme adaptasi seluler terhadap berbagai macam

ngangguan yang terjadi. Kerusakan didalam sel dapat bersifat sementara (subletal) ataupun

pemanasan (menetap). Pada kerusakan yang bersifat sementara, sel bakteri mengalami

perubahan untuk beradaptasi agar tetap hidup yang dinamakan degenari atau penyumbuhan.
Oleh karena itu, praktikum ini penting dilakukan untuk mengetahui dan mempelajari kerusakan

subletal dan waktu penyembuhan terhadap pertumbuhan bakteri.

Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui pemanasan subletal terhadap

pertumbuhan bakteri
TINJAUN PUSTAKA

Pertubuhan bakteri sangat tergantung dan dipengaruhi oleh factor lingkungan perubhan

factor lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat fisiologi dan morfologi. Hal ini

dikarenakan mikroba selain menyediakan nutrient yang sesuai untuk kultivasinya, juga

diperlukan factor lingkungan yang memungkinkan pertumbuhan optimumnya. Bakteri tidak

hanya bervariasi dalam persyaratan nutrisinya, tetapi juga menunjukkan respon yang berbeda-

beda. Untuk bahan mikroorganisme meliputi suplai zat gizi, waktu, suhu, air, pH dan dan

tersedianya oksige. Kemampuan mikroorganisme untuk tumbuh dan tetap hidup merupakan

suatu hal penting untuk diketahui.

Sel yang mengalami subletal adalah sel yang mengalami aktivasinya pada ondisi yang

dapat dilakukan oleh sel-sel normal. Sel yang mengalami kerusakan subletal tidak dapat

menyerap nutrient secara normal tidak dapat mampu tumbuh pada medium yang mengandung

senyawa selektif. Perubahan dapat terjadi pada sel yang mengalami subletal diantaranya

antara sel, dan perubahan aktivitas metabolisme. Proses penyembuhan yang rusak atau

pengembalian senyawa yang hilang dapat dikendalikan pada keadaan normal setelah inkubasi

pada medium penyembuhan (Fawla,2006)

Kerusakan bakteri dapat disefinisikan secara sederhana sebagai efek dari suatu atau

lebih perlakuan subletal pada mikroorganisme. Dengan kata lain, Kerusakan subletal

merupakan knsentrasi dari paparan proses kimia atau fisik merusak tetapi tidak membunuh

mikroorganisme. Istilah stress telah digunakan untuk menjelaskan akibat dari perlakuan

subletal. Pada industry pengolah pangn penggunaan digunakan untuk membunuh mikroba dan

mengurangi aktivitas air yang ada dalam bahan pangan (Sulaiman,2012)

Bakteri Staphylococcus aereus adalah bakteri gram positif yang banyak menyerang

manusia maupun hewan mamalia lainnya. Dalam jumlah 105 CFU/ml bakteri staphylococcus
berpotensi menghasilkan toksin dan dalam jumlah 106 CFU/ml. Bakteri Escherichia colii

berpotensi menyebabkan toksin (SNI.2009). Bakteri Escherichia coli adalah bakteri berbentuk

batang dan merupakan salah satu bakteri aerob atau fakultatif anaerob (Karlina,2013).
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat Praktikum


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, 12 April 2017 di Laboratorium Mikrobiologi

Pangan Fakultas Teknologi Pangan dan Angroindustri Unuversitas Mataram.

Alat dan Bahan Praktikum


a. Alat-alat Praktikum

Adapun alat praktikum yang digunakan dalam praktikum ini adalah tabung reaksi, rak tabung

reaksi, votrex, pipet mikro, blie tip, cawan petri, botol UC, tisu, kertas labe, inkubator dan

bunsen.

b. Bahan-bahan Praktikum

Adapun bahan-bahan yang digunakan dalamprkatikum adalah kultur murni

staphylococcus aereus, Escherichia coli, larutan buffer fosfat, media Trypticase Soy Agar

(TSA), media Trypticase Soy Agar Salt (TSAS + 7% Nacl), Trypticase Soy Broth (TSB), media

Trypticase Sot Broth Salt (Tseb + 7% Nacl).

Prosedur Kerja
a. Penerapan kultur

1. Diambil 1 ose kultur murni Staphylococcus aereus kedalam 30 ml larutan buffer

fosfat kedalam 10 ml nutruen Broth (NB).

2. Diinkubasi selama 24 jam.

b. Perlakuan Pemanasan

1. Dimasukkan sebanyak 10 ml kultur bakteri kedalam 30 ml laritan buffer fosfsat

2. Diinkunasi pada suhu 550C selama 10 menit.


3. Dimasukkan 1ml suspense mikroba ke dalam 4 tabung reaksi berisi 9 ml buffer

fosfat

4. Diinkubasi pada suhu 370C dengan variasi waktu 0, 30, 60, dan 90

5. Diambil 1 ml kultur kemudian dibuat pengenceran sampai 10-6

6. Diambil 1 ml dari 3 pengenceran terakhir

7. Ditumbuhkan pada media TSA dengan metode tuang secara duplo

8. Diinkubasi pada suhu 370C selam 48 jam.

c. Proses Penyembuhan

1. Diambil masing 5 ml sisa suspense mikroba Stapylococcus aereus dan

Escherichia coli yang telah diinkubasi selama 10 menit dimasukkankedalam 45

ml media TSB

2. Divortex hingga homogen

3. Diambil suspense sebanyak 10 ml kemudian dimasukkan kedalam masing-

masing tabung dengan variasi waktu inkubasi 30, 60 dan 90 pada suhu 370C

4. Diambil 1 ml sisa suspensi mikroba kemudian dimasukkan ke dalam botol 9 ml

buffer fosfta

5. Dibuat pengenceran sampai 10-5 untuk TsB dan 10-4 untuk TSBS

6. Ditumbuhkan pada media TSA untuk TSB dan TSAS untuk TSB dan metode

tuang secara duplo

7. Diinkubasi pada suhu 370C selama 48 jam.


PEMBAHASAN

Kerusakan subletas mikroorganisme merupakan kondisi dimana sel mikroorganisme

mengalami luka sebagai akibat dari perlkuan fisik maupun kima. Bahan paangan yang diolah

dengan pemansan yang kurang baik, setelah beberapa waktu dalam penyimpanan dengan

kodisi yang terlindungi dari kondisi kontaminasi dan mengalami perubahan-perubahan yang

tidak terkendali. Bahan olahan makanan yang mengandung se-sel mikroba yang sebgai akibat

perlakuan subletal, dam menyebabkan kerugian yang sangat besar terhadap produk olahan

tersebut dalam penyimpanan yang cukup lama. Hal tersebut terjadi karena penyimpanan

produk olahan sebagai akibat terjadinya aktivitas hidup sel-sel yang terluka, sehigga tidak baik

untuk dikonsumsi (Soekarto,2008).

Mikroorganisme atau sel bakteri yang mengalami kerusakan (subletal) akibat

pemanasan kemudian akan disembuhkan dengan menggunakan media. Media yang digunakan

untuk mengetahui jumlah mikroorganisme yang mengalami subletal ada 2 jenis, yaitu media

non selektif dan media selektif. Media selektif digunakan untuk menghambat pertumbuhan sel

yang rusak, sedangkan sel normal akan tumbuh. Media non selektif meruapak media yang

dapat menumbuhkan baik sel normal maupun sel yang mengalami kerusakan subletal. Media

yang digunakan dalam praktikum ini Trypticase Soy Broth (TSB) media yang diperkaya untuk

tujuan umum, yakni untuk isolasi dan pertumbuhan bermacam-macam mikroorganisme dan

media Trypticase Soy Agar (TSA) digunakan untuk pertumbuhan bakteri.

Staphylococcus aereus adalah bakteri positif yang menghasilkan pigmen kuning bersifat

aerob fakultatif, tidak menghasilkan spora dan tidak motif, umunya tumbuh berpasangan

maupun kelompok, dengan diameter sekitar 0,8-1,0 m. Stapylococcus tumbuh dengan

optimum pada suhu 370C dengan waktu pembelahan 0,47 jam. Staphylococcus aereus

merupakan mikroflora normal manusia. Bakteri ini biasanya terdapat pada saluran pernapasan
atas dan kulit. Staphylococcus aereus termasuk balteri osmotoleran , yaitu bakteri yang dapat

idup dilingkngan dengan rentang konsentrasi zat terlarut (contohnya garam) yang luas dan

dapat hidup pada konsentrasi Nacl sekitar 3 molar. Habitat alami Staphylococcus aereus pada

manusia didaerah kulit, hidung, mulut dan usus besar, diamana pada keadaan system imun

normal, Staphylococcus aereus tidak bersifat pathogen (Dwijosaputro,2008)

Praktikum kali ini adalah pengamatan terhadap pengaruh pemanasan subletal dan

penyembuhan terhadap pertumbuhan tumbuhan. Adapun bakteri yang digunakan yaitu

Staphylococcus aereus dan Escherichia coli. Media yang digunakan untuk mengetahui jumlah

mikrorganisme yang mengalami kerusakan subletal ada 2 jeni, yaitu media selektif dan media

non selektif. Media selektif yaitu media yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan sel

yang rusak, dimana pada praktikum ini yang digunakan adalah Trypticase Soy Broth Salt.

Sedang media non selektif adalah media yang digunakan untuk pertumbuhan sel normal

maupun sel yang telah mengalami kerusakan, dimana pada praktikum ini menggunakan

Trypticase Soy Broth Salt (TSBAS). Media TSB dan TSBS adalah media yang sama-sama

mengandung kasein dan pepton kedelai sebagai sumber asam amino dan nitrogen, dektrose

sebagai energi dan kalium fosfat sebagai buffer untuk mepertahankan pH. Hanya untuk

menghambat penyembuhan cidera pada bakteri yang mengalami kerusakan subletal.