Anda di halaman 1dari 13

PROPOSAL PENELITIAN

MENGUJI EFEKTIVITAS DARI SEDIAAN GEL EKSTRAK


BUNGA CENGKEH (EUGENIA AROMATICUM) DALAM
TERAPI PIODERMA YANG DIAKIBATKAN OLEH
STAPHYLOCOCCUS AUREUS

Disusun oleh:
Dr. Dewi Gotama
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit infeksi masih merupakan suatu masalah yang cukup serius di negara
berkembang. Penyakit kulit karena infeksi bakteri yang sering terjadi disebut
Pioderma. Pioderma disebabkan oleh bakteri gram positif Staphyllococcus, terutama
S. Aureus dan Streptococcus atau keduanya. Infeksi bakteri pada kulit melibatkan tiga
faktor utama yaitu portal masuk, pertahanan host dan sifat organisme patogen. 1
Pengobatan yang dilakukan pada pioderma karena bakteri Staphyllococcus
Aureus adalah dengan menggunakan antibiotik secara topikal atau parenteral. 1
Penemuan antibiotik baru masih dianggap lambat bila dibandingkan dengan masalah
resistensi bakteri karena penggunaan antibiotik. Akhir-akhir ini ada kecenderungan
untuk mengubah pengobatan dari penggunaan antibiotik dengan menggunakan
tanaman yang berkhasiat sebagai obat antibakteri. Hal ini mungkin disebabkan karena
daya beli yang rendah, sehingga pada umumnya masyarakat pedesaan lebih
menggunakan obat tradisional. Salah satu tanaman yang dipercaya sebagai obat
tradisional yang digunakan sebagai antibakteri oleh masyarakat adalah cengkeh
(Eugenia Aromaticum).
Sediaan topikal antibakteri telah banyak beredar di pasaran dalam bentuk krim,
salep dan gel. Sediaan dalam bentuk gel lebih banyak digunakan karena bening,
mudang mengering, membentuk lapisan lilin yang mudah dicuci dan memberikan rasa
dingin dikulit. Gel mempunyai aliran pseudoplastik, yaitu gel berbentuk padat apabila
disimpan dan akan segera mencair bila dikocok. Sediaan gel mempunyai kadar air
yang tinggi, sehingga dapat menghidrasi stratum korneum dan mengurangi resiko
peradangan lebih lanjut akibat menumpuknya minyak di pori-pori (Gibson, 2001)
Sebagai negara penghasil cengkeh (Eugenia Aromaticum) terbesar di dunia,
Indonesia telah mampu mengekspor tanaman cengkeh (Eugenia Aromaticum) ke
berbagai penjuru dunia. Produksi cengkeh Indonesia pada tahun 2010 mencapai
70.000 ton per tahun (Kompas, 2 Februari 2012). Cengkeh (Eugenia Aromaticum)
mengandung beberapa zat gizi seperti vitamin K, zat besi, magnesium, dan kalsium.
Selain itu cengkeh juga mengandung zat aktif, salah satunya yaitu eugenol yang
berfungsi sebagai antiinflamasi dan antibakteri serta berbagai manfaat lain.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin membuat gel dengan menggunakan
ekstrak bunga cengkeh (Eugenia Aromaticum) serta menguji efektivitas dalam terapi
pioderma yang disebabkan oleh Staphylococcus Aureus.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian dalam latar belakang diatas, dapat dirumuskan pertanyaan
seperti berikut :
Apakah ekstrak bunga cengkeh (Eugenia Aromaticum) dapat diformulasikan
dalam bentuk sediaan gel dan efektif dalam terapi infeksi kulit seperti pioderma yang
disebabkan oleh Staphylococcus Aureus?

1.3 Tujuan Penelitian


Untuk menguji efektivitas ekstrak bunga cengkeh (Eugenia Aromaticum) dalam
bentuk sediaan gel dalam terapi pioderma yang disebabkan oleh Staphylococcus
Aureus

1.4 Manfaat Penelitian


Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi ilmiah kepada pembaca
tentang khasiat ekstak bunga cengkeh (Eugenia Aromaticum) dan sediaan gel ekstrak
bunga cengkeh (Eugenia Aromaticum) dalam terapi pioderma yang disebabkan oleh
Staphylococcus Aureus

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PIODERMA
Pioderma adalah Kesehatan seksual adalah kemampuan seseorang mencapai
kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang terkait dengan seksualitas, hal ini
tercermin dari ekspresi yang bebas namun bertanggung jawab dalam kehidupan
pribadi dan sosialnya. Bukan hanya kecacatan, penyakit atau gangguan lainnya.
Kondisi ini hanya bisa dicapai bila hak seksual individu perempuan dan laki-laki
diakui dan dihormati. 6

2.2 Perilaku Pencegahan Infeksi Menular


Psikologi memandang perilaku manusia (human behavior) sebagai reaksi yang
dapat bersifat sederhana maupun bersifat kompleks. Kurt Lewin (1951), merumuskan
suatu model hubungan perilaku yang mengatakan bahwa perilaku adalah fungsi
karakteristik individu dan lingkungan. Karakteristik individu meliputi berbagai
variabel seperti motif, nilai nilai, sifat kepribadian dan sikap yang saling
berinteraksi pula dengan faktor faktor lingkungan dalam menentukan perilaku.
Faktor lingkungan memiliki kekuatan besar dalam menentukan perilaku, bahkan
kadang kadang kekuatannya lebih besar dari pada karakteristik individu. Hal inilah
yang menjadikan prediksi perilaku lebih kompleks.7

Menurut Green (1980) menganalisis bahwa perilaku manusia dari tingkatan


kesehatan. Kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh 2 faktor pokok
yakni faktor perilaku (behaviour causer) dan faktor dari luar perilaku (non behaviour
causer). Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor yaitu :8
1. Faktor faktor predisposisi (predisposing factors), yang terwujud dalam
pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai nilai dan sebagainya.
2. Faktor faktor pendukung (enabling factors), yang terwujud dalam lingkungan
fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas fasilitas atau sarana - sarana kesehatan
misalnya Puskesmas, obat obatan, alat alat kontrasepsi, jamban dan sebagainya.
3. Faktor faktor pendorong (reinforcing factors), yang terwujud dalam sikap dan
perilaku petugas kesehatan atau petugas yang lain, yang merupakan kelompok
referensi dari perilaku masyarakat.
Disimpulkan bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan
ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi dan sebagainya dari orang
atau masyarakat yang bersangkutan. Disamping itu ketersediaan fasilitas, sikap dan
perilaku para petugas kesehatan terhadap kesehatan juga akan mendukung dan
memperkuat terbentuknya perilaku.
Menurut Leavel dan Clark yang disebut pencegahan adalah segala kegiatan yang
dilakukan baik langsung maupun tidak langsung untuk mencegah suatu masalah
kesehatan atau penyakit. Pencegahan berhubungan dengan masalah kesehatan atau
penyakit yang spesifik dan meliputi perilaku menghindar. 9
Tingkatan pencegahan penyakit menurut Leavel dan Clark ada 5 tingkatan yaitu :
10

A. Peningkatan kesehatan (Health Promotion)


B. Perlindungan umum dan khusus terhadap penyakit tertentu (Spesific
Protection).
C. Menggunakan diagnosa secara dini dan pengobatan yang cepat dan tepat
( Early Diagnosis and Promotion).
D. Pembatasan kecacatan (Dissability Limitation)
E. Pemulihan kesehatan (Rehabilitation)
2.3 Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil 'tahu', dan ini terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui
pancaindera manusia, yakni : indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa,
dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan
telinga.8
Pengetahuan tentang IMS merupakan sarana yang penting dalam mengambil
sikap untuk pencegahan IMS. Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif
mempunyai 6 tingkat, yakni :8
A. Tahu (know)
Tahu artinya sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah
mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh
bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
B. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui, dan daoat menginterpretasi materi tersebut
secara benar.
C. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang
telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya).
D. Analisis (analysis)
Analisis diartikan sebagai kemampuan untuk menjabarkan materi atau
suatu objek ke dalam komponen - komponen, tetapi masih dalam suatu
struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
E. Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian - bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang
baru.
F. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi
atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket
yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau
responden.

2.4 Infeksi Menular Seksual


2.4.1 Definisi
IMS adalah penyakit yang sebagian besar penularannya melalui hubungan
seksual. Kebanyakan IMS membahayakan organ - organ reproduksi. Pada wanita,
IMS menghancurkan diding vagina atau leher rahim, biasanya tanpa tanda-tanda
infeksi. Pada pria, yang terinfeksi lebih dulu adalah saluran air kencing. Jika IMS
tidak diobati dapat menyebabkan keluarnya cairan yang tidak normal dari penis dan
berakibat sakit pada waktu buang air kecil. IMS yang tidak diobati dapat
mempengaruhi organ - organ reproduksi bagian dalam dan menyebabkan kemandulan
baik pada pria atau wanita. 2

2.4.2 Jenis Infeksi Menular Seksual yang sering dialami:2


1. Gonore
Tipe : Bakterial (Neisseria Gonorrhoeae)
Cara penularan: Hubungan seks vaginal, anal dan oral.
Gejala:
Walaupun beberapa kasus tidak menunjukkan gejala, jika gejala muncul,
sering hanya ringan dan muncul dalam 2-10 hari setelah terpapar.
Gejala - gejala meliputi discharge dari penis, vagina, atau rektum dan rasa panas
atau gatal saat buang air kecil.
2. Klamidiasis
Tipe: Bakterial (Clamydia Trachomatis)
Cara Penularan: Hubungan seks vaginal dan anal.
Gejala: Meliputi keputihan yang abnormal, dan rasa nyeri saat kencing baik pada
laki- laki maupun perempuan. Perempuan juga dapat mengalami rasa nyeri pada
perut bagian bawah atau nyeri saat hubungan seksual, pada laki- laki mungkin
akan mengalami pembengkakan atau nyeri pada testis.
3. Herpes Genitalis
Tipe: Viral (Virus Herpes Simplex-2)
Cara Penularan: Herpes menyebar melalui kontak seksual antar kulit dengan
bagian- bagian tubuh yang terinfeksi saat melakukan hubungan seks vaginal, anal
atau oral.
Gejala- gejala: Rasa gatal atau terbakar; rasa nyeri di kaki, pantat atau daerah
kelamin; atau keputihan. Bintil -bintil berair atau luka terbuka yang terasa nyeri
juga mungkin terjadi, biasanya di daerah kelamin, pantat, anus dan paha.
4. Sifilis
Tipe: Bakterial(Treponema Pallidum)
Cara Penularan: Hubungan seks vaginal, anal atau oral. Namun, penyakit ini juga
dapat ditularkan melalui hubungan non - seksual jika ulkus atau lapisan mukosa
yang disebabkan oleh sifilis kontak dengan lapisan kulit yang tidak utuh dengan
orang yang tidak terinfeksi.
Gejala-gejala: Pada fase awal, penyakit ini menimbulkan luka yang tidak terasa
sakit atau " chancroid " yang biasanya muncul di daerah kelamin tetapi dapat juga
muncul di bagian tubuh yang lain, jika tidak diobati penyakit akan berkembang
ke fase berikutnya yang dapat meliputi adanya gejala ruam kulit, demam, luka
pada tenggorokan, rambut rontok dan pembengkakan kelenjar di seluruh tubuh
5. Trikomonisasis
Tipe : Disebabkan oleh protozoa (Trichomonas vaginalis).
Cara Penularan: Trikomoniasis menular melalui kontak seksual. Trichomonas
vaginalis dapat bertahan hidup pada benda - benda seperti baju - baju yang dicuci,
dan dapat menular dengan pinjam meminjam pakaian tersebut.
Gejala- gejala: Pada perempuan biasa terjadi keputihan yang banyak, berbusa, dan
berwarna kuning - hijau. Kesulitan atau rasa sakit pada saat buang air kecil dan atau saat
berhubungan seksual juga sering terjadi, nyeri vagina dan gatal atau mungkin tidak ada
gejala sama sekali. Pada laki - laki mungkin akan terjadi radang pada saluran kencing,
kelenjar, atau kulup dan/atau luka pada penis
6. HIV/AIDS
Tipe: Viral (Human Immunodeficiency Virus)
Cara Penularan: Hubungan seks vaginal, oral dan khususnya anal; darah atau
produk darah yang terinfeksi; memakai jarum suntik bergantian pada pengguna
narkoba; dan dari ibu yang terinfeksi kepada janin dalam kandungannya, saat
persalinan, atau saat menyusui.
Gejala-gejala: Umumnya tidak ada gejala saat terinfeksi pertama kali, Namun
tanda dan gejala utama tampak pada seseorang yang sudah sampai pada tahapan
AIDS yaitu: berat badan menurun lebih dari 10% dalam yaktu singkat, demam
tinggi, diare, batuk berkepanjangan (lebih dari satu bulan), kelainan kulit/ iritasi,
pembengkakan kelenjar getah bening di seluruh tubuh.

BAB 3
KERANGKA TEORI, KONSEP, HIPOTESIS, DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Teori

Faktor Predisposisi
-Pengetahuan
-Sikap
-Keyakinan
-Kepercayaan
-Karakteristik Pekerja
Tambang (umur, pendidikan)

Faktor Pendukung
Perilaku pencegahan IMS
- Pola Tinggal
pada para pekerja tambang
- Ketersediaan Fasilitas
Kesehatan

Faktor Penguat
-Sikap dan perilaku petugas
kesehatan

Gambar 2.1 Modifikasi Lawrence Green (1980) dalam Notoatmodjo (2007)


3.2 Kerangka Konsep
Secara sistematis kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Variabel Independen Variabel Dependen


SIKAP DALAM
PENGETAHUAN PENCEGAHAN
INFEKSI MENULAR
SEKSUAL

Gambar 2.2 Kerangka konsep

3.3 Hipotesis
Dari uraian diatas, maka peneliti merumuskan hipotesis sebagai berikut: ada
hubungan antara pengetahuan dengan sikap pekerja tambang dalam pencegahan
Infeksi Menular Seksual.

3.4 Variabel dan Definisi Operasional


1. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui oleh responden tentang
bagaimana cara mencegah infeksi menular seksual
Cara ukur : wawancara
Alat ukur : kuesioner
Hasil ukur : 1 : baik
2 : tidak baik
Skala ukur : Data numerik skala interval yang diubah menjadi data kategorik skala
nominal
2. Sikap adalah tanggapan atau reaksi responden tentang upaya dalam
pencegahan infeksi menular seksual
Cara ukur : wawancara
Alat ukur : kuesioner
Hasil ukur : 1 : baik
2 : tidak baik
Skala ukur : Data numerik skala interval yang diubah menjadi data kategorik
skala nominal
BAB 4
METODE PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian dan Variabel


Jenis penelitian yang dilakukan adalah experimental dengan desain studi cross-
sectional dimana sebagai variabel bebas (independent) adalah pengetahuan dan
variabel terikat (dependent) adalah sikap dalam pencegahan infeksi menular seksual.

4.2 Lokasi dan Waktu


Penelitian dilakukan di RSUD Kabupaten Sumbawa Barat. Waktu pelaksanaan
penelitian ini adalah setelah pembuatan proposal yaitu April 2015 - Desember 2015

4.3 Populasi dan Sampel


4.3.1 Populasi
Populasi target : semua pria yang bekerja sebagai pekerja tambang di wilayah
Kabupaten Sumbawa Barat.
Populasi Terjangkau : semua pasien pria yang bekerja sebagai pekerja tambang yang
datang dan berobat ke poli umum RSUD Kabupaten Sumbawa Barat selama waktu
penelitian
Kriteria inklusi :
- Pasien dengan jenis kelamin pria
- Memiliki pekerjaan sebagai pekerja tambang
4.3.2 Sampel
Semua pasien yang datang berobat ke poli umum RSUD Kabupaten Sumbawa Barat
selama waktu penelitian dan memenuhi kriteria inklusi yang dilakukan secara
consecutive non-random sampling.

4.4 Tata cara pengumpulan data


Penelitian dilakukan setelah mendapat izin dari Kepala RSUD Kabupaten Sumbawa
Barat. Pasien yang memenuhi kriteria inklusi selama waktu penelitian ditanyakan
persetujuannya untuk mengikuti penelitian sebagai responden. Kemudian masing-
masing responden yang telah menyetujui untuk mengikuti penelitian akan
diwawancara dengan menggunakan kuesioner.

4.5 Pengolahan Data


Data yang diperoleh akan dimasukkan kedalam komputer untuk dianalisa.
Analisis statistik dilakukan segera dengan menggunakan program komputer SPSS
(Statistical Package for Social Science).
DAFTAR PUSTAKA

1. Daili, dkk. Infeksi Menular Seksual. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2011.
2. Djuanda. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-5. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI, 2007.
3. Holmes, K.K., Sexually Transmitted Diseases. 2005. In: Kasper, D. Et al.
Harisson's Principles of Internal Medicine. 16thed. USA: McGraw Hill, 2005.
4. Da Ros, Schmitt, C.S., Global Epidemiology of Sexually Transmitted Diseases.
Brazil : Urology Department, Mae de Deus Hospital, Porto Alegre, 2008.
Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18087650.
5. Jazan, Saiful. Prevalensi infeksi saluran reproduksi pada wanita penjaja seks di
Jayapura, Banyuwangi, Semarang, Medan, Palembang, Tanjung Pinang, dan
Bitung, Indonesia. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan
Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Indonesia. 2003.
6. Maulana. Promosi Kesehatan. Jakarta : EGC, 2007.
7. Azwar, S. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Belajar, 2012.
8. Notoatmodjo, Soekidjo. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka
Cipta, 2007.
9. Romauli. Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta : Nuha Medika, 2009.
10. Maryati. Buku Ajaran Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta : Nuha Medika, 2009.
11. Widyastuti. Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta : Fitramaya, 2009.

Anda mungkin juga menyukai