Anda di halaman 1dari 9

Definisi Benthos

Bentos merupakan organisme yang hidup atau mendiami dasar perairan atau
pada sedimen dasar perairan. Menurut Payne (1986) zoobentos adalah hewan yang
sebagian atau seluruh siklus hidupnya berada di dasar perairan, baik sesil, merayap
maupun menggali lubang. Hewan bentos mempunyai peranan dalam proses
dekomposisi dan mineralisasi material organik di dalam perairan, serta menduduki
beberapa tingkatan tropik dalam rantai makanan (Odum, 1993; Lind, 1985).
Bentos adalah organisme dasar perairan yang hidup di permukaan
(epifauna) atau di dalam dasar substrat (infauna) (Odum 1994). Infauna adalah
kelompok makrozoobentos yang hidup terbenam di dalam lumpur (berada di dalam
substrat), sedangkan epifauna adalah kelompok makrozoobentos yang hidup
menempel di permukaan dasar perairan (Hutchinshon 1993).

2.2 Jenis Benthos


Menurut Barnes dan Mann (1980) ukuran bentos diklasifikasikan menjadi
tiga golongan, yaitu :
1. Mikrobentos, yaitu bentos yang berukuran <0,1 mm, biasanya didominasi
oleh bakteri, fungi, dan protozoa.
2. Meiobentos, yaitu bentos yang berukuran antara 0,1-1,0 mm, biasanya
didominasi cacing nematoda dan crustacea kecil.
3. Makrobentos, yaitu bentos yang berukuran >1mm, biasanya didominasi
oleh larva, cacing oligochaeta dan molusca bivalvae.
Berdasarkan cara makan, makrozoobentos di kelompokan menjadi dua.
Kelompok pertama, filter feeder atau disebut juga dengan suspension feeder adalah
bentos yang mendapatkan makanan dengan cara menyaring partikel-partikel
detritus yang melayang di perairan. Kelompok ke dua, deposit feeder adalah hewan
yang mendapatkan makanan dengan cara memakan detritus yang mengendap pada
permukaan dasar perairan (Odum, 1971).
Sebagai organisme dasar perairan, bentos memiliki habitat yang relatif tetap.
Dengan sifat yang demikian, perubahan-perubahan kualitas air dan substrat tempat
hidupnya sangat mempengaruhi komposisi maupun kemelimpahannya. Komposisi
maupun kemelimpahan makroinvertebrata tergantung kepada kepekaan/
toleransinya terhadap perubahan lingkungan. Setiap komunitas memberikan respon
terhadap perubahan kualitas habitat dengan cara penyesuaian diri pada struktur
komunitas. Dalam lingkungan yang relatif stabil, komposisi dan kemelimpahan
makroinvertebrata air relatif tetap ( Apha 1992 ).
Berdasarkan kepekaannya terhadap perubahan kondisi perairan,
makrozoobentos ini diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok (Wilhm 1975), yaitu :
1. Organisme intoleran, yaitu organisme yang bisa tumbuh hanya dalam kisaran
perubahan kondisi lingkungan yang sempit.
2. Organisme fakultatif, yaitu organisme yang bertahan hidup pada kisaran
perubahan kondisi lingkungan yang lebih besar.
3. Organisme toleran, yaitu organisme yang dapat tumbuh dan berkembang
dalam kisaran perubahan kondisi lingkungan yang luas.

2.3 Benthos sebagai Bioindikator


Bioindikator adalah kelompok atau komunitas organisme yang
keberadaannya dan perilakunya di alam berhubungan dengan kondisi lingkungan,
apabila terjadi perubahan kualitas air maka akan berpengaruh terhadap keberadaan
dan perilaku organisme tersebut, sehingga dapat digunakan sebagai penunjuk
kualitas lingkungan (Triadmodjo 2008).
Pengkajian kualitas perairan dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti
dengan analisis fisika dan kimia air serta analisis biologi. Untuk perairan yang
dinamis, analisis fisika dan kimia air kurang memberikan gambaran sesungguhnya
akan kualitas perairan, sedangkan analisis biologi khususnya analisis struktur
komunitas hewan bentos, dapat memberikan gambaran yang jelas tentang kualitas
perairan. Hewan bentos hidup relatif menetap, sehingga baik digunakan sebagai
petunjuk kualitas lingkungan, karena selalu kontak dengan limbah yang masuk ke
habitatnya. Di antara hewan bentos yang relatif mudah diidentifikasi dan peka
terhadap perubahan lingkungan perairan adalah jenis-jenis yang termasuk
makrozoobentos (Pradinda 2008).
Makrozoobentos sering dipakai untuk menduga ketidakseimbangan
lingkungan fisik, kimiawi dan biologis perairan. Perairan yang tercemar akan
mempengaruhi kelangsungan hidup organisme makrozoobentos karena
makrozoobentos merupakan biota yang mudah terpengaruh oleh adanya bahan
pencemar, baik kimiawi maupun fisik (Odum, 1994). Peranan makrozoobentos
dalam ekosistem perairan cukup penting karena mampu mengubah materi
autokhton dan alokhton, sehingga memudahkan mikroba-mikroba untuk
menguraikan materi organik menjadi materi anorganik yang merupakan nutrien
bagi produsen di perairan. Menurut Wilhm (1975) perubahan sifat substrat dan
penambahan pencemaran akan berpengaruh terhadap kelimpahan dan
keanekaragaman makrozoobentos.
Menurut Wilhm (1975) dan Oey et al (1980) dalam Wargadinata (1995),
makrozoobentos dapat dipergunakan sebagai indikator ekologis dengan
pertimbangan sebagai berikut:
1. Mobilitas terbatas sehingga memudahkan dalam pengambilan sampel.
2. Ukuran tubuh relatif besar sehingga memudahkan untuk identifikasi.
3. Hidup di dasar perairan, relatif diam sehingga secara terus menerus terdedah
(exposed) oleh air sekitarnya.
4. Pendedahan yang terus menerus mengakibatkan makrozoobentos
dipengaruhi oleh keadaan lingkungan.
5. Menurut Purnomo (1989) kelebihan penggunaan makrozoobentos sebagai
bioindikator pencemaran organik adalah mudah diidentifikasi, bersifat
immobile dan memberikan tanggapan yang berbeda terhadap berbagai
kandungan bahan organik, sedangkan kelemahannya adalah karena
penyebaran dipengaruhi oleh faktor hidrologis seperti arus dan kondisi
substrat dasar.
Makrozoobentos umumnya sangat peka rerhadap perubahan lingkungan
perairan yang ditempatinya, karena itu makroinvertebrata ini sering dijadikan sebagai
indikator ekologi di suatu perairan dikarenakan cara hidup, ukuran tubuh dan
perbedaan kisaran toleransi diantara spesies di dalam lingkungan perairan (Tabel 13).
Tabel 13. Struktur Komunitas Makrozoobentos pada berbagai Kondisi Perairan
Keadaan Perairan Struktur Komunitas Makrozoobenthos
Tidak tercemar Tidak ada satu pun spesies yang dominan,
komunitas makrozoobentos seimbang dengan
beberapa populasi intoleran yang diselingi
beberapa populasi fakultatif.
Tercemar moderat Banyak spesies intoleran yang hilang atau
berkurang dan berbagai spesies fakultatif dengan
satu atau dua spesies dari kelompok toleran yang
mendominasi.
Tercemar Jumlah spesies dari komunitas makrozoobentos
yang terbatas, diikuti berkurangnya kelompok
toleran yang fakultatif. Jumlah spesies toleran akan
melimpah.
Tercemar berat Hampir seluruh komunitas makrozoobentos hilang
kecuali cacing oligochaeta dan kelompok yang
bernafas ke udara. Seluruh kehidupan mungkin saja
hilang.
Sumber: Wilhm (1975)
Benthos sebagai biondikator perairan juga dapat dilihat dari tingkat
kenakeragaman jenisnya. Untuk mengetahui keanekaragaman jenis adalah dengan
menghitung kelimpahan relative masing-masing jenis atau genera dalam suatu
komunitas (South-World, 1976 dalam Ina, 1989). Selanjutnya dikatakan bahwa
nilai indeks keanekaragaman (H). Kategori yang dikemukakan oleh Shannon-
Wiener (1949 dalam Dahuri 1994) adalah :
H < 1 : Keragaman spesiesnya / Generah rendah, pentebaran jumlah
individu tiap spesies atau genera rendah, kestabilan komunitas rendah dan
keadaan perairan telah tercemar berat.
1 < H < 3 : Keragaman sedang penyebaran jumlah individu tiap spesies
atau genera sedang, kestabilan komunitas sedang dan keadaan perairan telah
tercemar sedang.
H > 3 : Keragaman tinggi, penyebaran jumlah individu tiap spesies atau
genera tinggi dan perairannya masih bersih/ belum tercemar.
2.4 Parameter-Parameter yang Mempengaruhi Keberadaan Benthos
Keberadaan Makrozoobentos di suatu perairan dipengaruhi oleh faktor
lingkungan perairan dimana makrozoobentos hidup (Odum 1998), parameter fisik
dan kimiawi perairan dapat digunakan untuk menduga kualitas lingkungan
perairan. Parameter fisika dan kimia dari lingkungan perairan dan pengaruhnya
terhadap hewan benthos dapat dilihat dari tabel .

Tabel 14. Faktor lingkungan perairan dan pengaruhnya terhadap hewan benthos
Parameter Pengaruh
Fisika
1. Suhu Migrasi, laju metabolisme, mortalitas
2. Kedalaman Jumlah jenis, jumlah individu, biomassa
3. Kekeruhan Jumlah dan jenis
4. Sedimen Jumlah dan jenis
Kimia
1. pH Menurunnya daya tahan terhadap stress
2. DO Jumlah dan jenis
Sumber: Setyobudiandi (1997) dalam Ayu (2009)

2.4.1 Parameter Fisika


a. Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mengontrol
kehidupan dan penyebaran organisme dalam suatu perairan. Suhu akan
mempengaruhi aktivitas metabolisme dan perkembangbiakan dari organisme
tersebut (Nybakken 1988). Perubahan suhu akan mempengaruhi pola kehidupan
dan aktivitas biologi di dalam air termasuk pengaruhnya terhadap penyebaran biota
menurut batas kisaran toleransinya. Perubahan suhu juga menghasilkan pola
sirkulasi dan stratifikasi yang berperan dalam perairan.
Organisme akuatik memiliki kisaran suhu tertentu yang disukai bagi
pertumbuhannya. Menurut Effendi (2003), aktivitas mikroorganisme memerlukan
suhu optimum yang berbeda-beda. Setiap peningkatan suhu sebesar 10oC akan
meningkatkan proses dekomposisi dan konsumsi oksigen menjadi 2-3 kali lipat.
Namun, peningkatan suhu ini disertai dengan penurunan kadar oksigan terlarut
sehingga keberadaan oksigen sering kali tidak mampu memenuhi kebutuhan
oksigen bagi organisme akuatik untuk melakukan metabolisme dan respirasi
(Effendi 2003). Dengan kata lain, makin tinggi kenaikan suhu air, makin sedikit
oksigen yang terkandung di dalamnya. Welch (1980) dalam Retnowati (2003)
menyebutkan bahwa suhu yang berbahaya bagi makrozoobenthos berkisar antara
35oC-40oC.

b. Kekeruhan
Menurut Jenie dan Rahayu (1993) menyatakan bahwa kekeruhan biasanya
disebabkan oleh adanya bahan tersuspensi (bahan organik, mikroorganisme dan
partikel-partikel cemaran lain). Effendi (2003) menyatakan bahwa kekeruhan pada
perairan tergenang (lentik), misalnya situ lebih banyak disebabkan oleh bahan
tersuspensi yang berupa koloid dan partikel-partikel halus. Perairan yang keruh
tidak disukai oleh organisme akuatik karena mengganggu perkembangan dan
sistem pernapasan sehingga menghambat pertumbuhan terutama bagi
makrozoobenthos. Kekeruhan dapat menyebabkan terhambatnya penetrasi cahaya
ke dalam air sehingga akan menurunkan nilai kecerahan perairan (Nybakken,
1988). Selanjutnya Odum (1993) juga menyebutkan bahwa kekeruhan dapat
berperan sebagai indikator bagi produktivitas hayati perairan jika kekeruhan itu
disebabkan oleh bahan-bahan organik dari organisme hidup. Batas maksimum
kekeruhan bagi kehidupan biota air adalah 30 NTU (Pescod 1973 dalam Retnowati
2003).

c. Sedimen
Sedimen di perairan merupakan endapan yang terdiri dari bahan organik
yang membusuk kemudian turun ke dasar perairan dan bercampur dengan lumpur
serta bahan organik yang umumnya berasal dari pelapukan batu (Svendrup, 1966).
Substrat dasar perairan akan menentukan kepadatan, komposisi, dan penyebaran
makrozoobentos di suatu perairan. Bentos biasanya dapat dijumpai bersistirahat
atau bergerak pada dasar, hal ini berkaitan dengan cara makan, dimana bentos
dibagi ke dalam filter feeder dan deposit feeder (Odum 1998). Struktur komunitas
makrozoobentos disuatu perairan erat hubungannnya denga teskstur sedimen di
perairan tersebut. Sedimen yang berstrukur lunak dihuni oleh makrozoobentos dari
ordo Ephemeroptera, kelas Oligochaeta dan beberapa larva Chironomid.
Sedangkan pada sedimen yang bertekstur keras dihuni oleh ordo Trichoptera,
Plecoptera, dan sebagian Ephemeroptera (Patrcik dan Vannote, 1973).

2.4.2 Parameter Kimia


a. Oksigen Terlarut (DO)
Oksigen terlarut merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan tanaman dan
hewan di dalam air. Menurut APHA (1989) dalam Retnowati (2003), oksigen
terlarut di dalam air dapat berasal dari hasil fotosintesis fitoplankton atau tumbuhan
air serta difusi dari udara. Konsentrasi O2 yang terlarut di dalam air dapat
disebabkan oleh koloidal yang melayang di dalam air maupun oleh jumlah larutan
limbah yang terlarut di dalam air. Pada umumnya air pada perairan yang telah
tercemar, kandungan oksigennya sangat rendah. Dekomposisi dan oksidasi bahan
organik dapat mengurangi kadar oksigen terlarut hingga mencapai nol (anaerob).
Peningkatan suhu sebesar 1oC akan meningkatkan konsumsi O2 sekitar 10%
(Brown 1987 dalam Effendi 2003).
Oksigen terlarut sangat penting bagi pernapasan hewan benthos dan organisme-
organisme akuatik lainnya (Odum, 1993). Retnowati (2003) menyatakan bahwa
keberadaan O2 terlarut di dalam substrat sangat berkurang. Tingginya kandungan
bahan organik dan tingginya populasi bakteri pada sedimen menyebabkan besarnya
kebutuhan akan O2 terlarut. Kadar O2 terlarut pada perairan alami biasanya kurang
dari 10 mg/l (Effendi, 2003).

c. Derajat Keasaman (pH)


Derajat keasaman (pH) adalah kadar asam atau basa dalam suatu larutan,
melalui konsentrasi ion hidrogen (Santika dan Aleart, 1987). pH merupakan faktor
pembatas bagi organisme yang hidup di suatu perairan. Perairan dengan pH yang
terlalu tinggi atau rendah akan mempengaruhi ketahanan hidup organisme yang
hidup didalamnya (Odum, 1993). Organisme perairan mempunyai kemampuan
berbeda dalam menolerir pH perairan. Batas toleransi organisme terhadap pH
bervariasi dan dipengaruhi banyak faktor antara lain suhu, oksigen terlarut,
alkalinitas, adanya berbagai anion dan kation serta jenis dan stadia organisme
(Pescod, 1973).
Sebagian besar biota akuatik menyukai nilai pH berkisar antara 5,0-9,0 hal
ini menunjukkan adanya kelimpahan dari organisme makrozoobenthos, dimana
sebagian besar organisme dasar perairan seperti polychaeta, moluska dan bivalvia
memiliki tingkat asosiasi terhadap derajat keasaman yang berbeda-beda (Hawkes,
1978). Wardoyo (1975) menyatakan bahwa perairan dengan pH lebih kecil dari 4,0
merupakan perairan yang sangat asam dan dapat menyebabkan kematian,
sedangkan lebih dari 9,5 merupakan perairan yang sangat basa yang juga dapat
menyebabkan kematian dan mengurangi produktivitas perairan.

2.5 Alat untuk Mengambil Benthos


Alat pengambil contoh untuk pemeriksaan hewan benthos disesuaikan
dengan jenis habitat hewan benthos yang akan diambil, beberapa contoh alat untuk
jenis habitat tertentu, antara lain Eckman grab dan Jala surber.
Eckman Grab, merupakan alat untuk mengambil bentos yang ada di dasar
perairan. Eckman Grab terbuat dari baja tahan karat dengan berat 3.2 kg denga
ukuran 30 cm x 30 cm; 23 cm x 23 cm ; dan 15 cm x 15 cm (APHA, 2005). Eckman
grab dipergunakan untuk pengambilan contoh pada sumber air yang alirannya
relatif kecil dan mempunyai dasar lumpur dan pasir.

Gambar 1. Eckman Grab


(Sumber: Badan Standardisasi Nasional)

Eckman grab merupakan salah satu grab sampler yang berfungsi untuk
mengambil sedimen permukaan yang ketebalannya tergantung dari tinggi dan
dalamnya grab masuk kedalam lapisan sedimen. Alat ini biasa digunakan untuk
mengambil sampel sedimen pada perairan dangkal maupun perairan dalam. Alat
ini menggunakan satu atau dua rahang/jepitan untuk menyekop sedimen. Grab
diturunkan dengan posisi rahang/jepitan terbuka sampai mencapai dasar perairan
dan sewaktu diangkat keatas rahang ini tertutup dan sample sedimen akan terambil.

Gambar 2. Jala Surber


(Sumber: Badan Standardisasi Nasional)

Pengambilan sampel bentos dengan menggunakan Jala Surber dilakukan dengan


meletakkan Jala Surber di dasar perairan dan jala terbuka melawan arus sungai.
Jala Surber, terbuat dari benang nilon yang ditenun dan mempunyai ukuran mata
jaring 0,595 mm dalam keadaan terbuka, panjang jala 69 cm dan ukuran
permukaan depan 30,5 cm x 30,5 cm, alat ini biasa dipergunakan pada sumber air
yang alirannya deras dan mempunyai dasar berbatu-batu