Anda di halaman 1dari 40

Case Report Session

NASKAH PSIKIATRI
F20.0 Skizofrenia Paranoid

Nama Dokter Muda : Irawati Fauziah Fiska P 2154 A


Fitri Sakinah P
Nama Perseptor : dr. Yaslinda Yaunin, Sp. KJ (K)

BAGIAN PSIKIATRI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RSUP. DR. M. DJAMIL
PADANG
2017

0
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam sejarah perkembangan skizofrenia sebagai suatu gangguan psikotik,

banyak tokoh psikiatri dan neurologi yang berperan. Pada awalnya, Benedict Morel

(1809-1926), seorang dokter psikiatrik dari Perancis, menggunakan istilah dmence

prcoce untuk pasien dengan penyakit yang dimulai pada masa remaja yang mengalami

perburukan. Kemudian, Emil Kreaplin (1856-1926) yang menerjemahkan istilah

dmence prcoce menjadi demensia prekoks yaitu suatu istilah yang menekankan

proses kognitif (demensia) dan awitan dini (prekoks) yang nyata. Istilah skizofrenia itu

sendiri mulai dicetuskan oleh Eugen Bleuler (1857-1939) sebagai pengganti demensia

prekoks. Bleuler mengidentifikasi simptom dasar dari skizofrenia yang dikenal dengan

4A, antara lain : Asosiasi, Afek, Autisme dan Ambivalensi.1


Skizofrenia merupakan salah satu gangguan psikotik yang paling sering terjadi.

Gangguan ini dapat terjadi baik pada wanita (usia awitan 25 - 35 tahun) maupun pria

(usia awitan 15 - 25 tahun). Skizofrenia sendiri adalah istilah psikosis yang

menggambarkan mispersepsi pikiran dan persepsi yang timbul dari pikiran/imajinasi

pasien sebagai kenyataan, dan mencakup waham dan halusinasi. Seorang pasien dapat

dikatakan pasien skizofrenia bila manifestasi klinis yang terjadi sudah selama 1 (satu)

bulan (berdasarkan PPDJI-III).1


Gejala yang ditimbulkan pada pasien skizofrenia mencakup beberapa fungsi,

seperti pada gangguan persepsi (halusinasi), keyakinan yang salah (waham), penurunan

dari proses berpikir dan berbicara (alogia), gangguan aktivitas motorik (katatonik atau

hyperactive behavior), gangguan dari pengungkapan emosi (afek tumpul), tidak mampu

merasakan kesenangan (anhedonia sehingga menyebabkan afek datar). Akan tetapi,

1
kesadaran dan kemampuan intelektual pada pasien masih dapat dipertahankan,

meskipun terjadi defisit kognitif.2


Terdapat beberapa klasifikasi atau subtipe skizofrenia yang diklasifikasikan oleh

Emil Kraepelin (1856-1926), salah satunya adalah skizofrenia paranoid. Skizofrenia

paranoid merupakan subtipe pada skizofrenia yang paling umum, dimana waham dan

halusinasi auditorik jelas terlihat. Skizofrenia bersifat kronis dan membutuhkan waktu

yang lama untuk menghilangkan gejala. Sekitar 90% dengan episode psikotik pertama,

sehat dalam waktu satu tahun, 80% mengalami episode selanjutnya dalam lima tahun,

dan 10% meninggal karena bunuh diri.1

1.2 Batasan Masalah

Makalah ini membahas tentang definisi, etiologi, gambaran klinis, diagnosis,

penatalaksanaan, dan prognosis skizofrenia paranoid.

1.3 Metode Penulisan

Metode yang dipakai dalam penulisan case ini berupa tinjauan pustaka yang

merujuk pada berbagi literatur

1.4 Tujuan Penulisan

Makalah ini bertujuan untuk menambah pengetahuan dan pemahaman tentang

definisi, etiologi, gambaran klinis, diagnosis, penatalaksanaan, dan prognosis

skizofrenia paranoid.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Skizofrenia

Skizofrenia berasal dari bahasa Yunani, schizen yang berarti terpisah atau

pecah, dan phren yang artinya jiwa. Pada skizofrenia terjadi pecahnya atau

ketidakserasian antara afeksi, kognitif dan perilaku. Skizofrenia merupakan suatu

sindrom psikotik kronis yang ditandai oleh gangguan pikiran dan persepsi, afek tumpul,

anhedonia, deteriorasi, serta dapat ditemukan uji kognitif yang buruk.2


Skizofrenia adalah istilah psikosis yang menggambarkan mispersepsi pikiran dan

persepsi yang timbul dari pikiran/imajinasi pasien sebagai kenyataan, dan mencakup

waham dan halusinasi. Emil Kraepelin membagi skizofrenia dalam beberapa jenis,

menurut gejala utama yang terdapat pada pasien, salah satunya adalah skizofrenia

paranoid.2 Skizofrenia paranoid merupakan subtipe yang paling umum (sering ditemui)

dan paling stabil, dimana waham dan halusinasi auditorik jelas terlihat. Pada pasien

skizofrenia paranoid, pasien mungkin tidak tampak sakit jiwa sampai muncul gejala-

gejala paranoid.3
2.2 Sejarah
Besarnya masalah klinis skizofrenia, secara terus-menerus telah menarik

perhatian tokoh-tokoh utama psikiatri dan neurologi sepanjang sejarah gangguan ini.

Tokoh-tokoh tersebut, yaitu 1,4:


Benedict Morel (1809-1926), seorang dokter psikiatrik dari Perancis,

menggunakan istilah dmence prcoce untuk pasien dengan penyakit yang

dimulai pada masa remaja yang mengalami perburukan.


Karl Ludwig Kahlbaum (1828-1899) menggambarkan gejala katatonia
Ewold Hacker (1843-1909) menulis mengenai perilaku aneh atau kacau (bizzzare)

pada pasien dengan hebefrenia.


Emil Kraepelin (1856-1926) merupakan seorang ahli kedokteran jiwa di kota

Munich (Jerman) dan ia mengumpulkan gejala-gejala serta sindrom,

menggolongkannya ke dalam satu kesatuan dan menerjemahkan istilah dmence

3
prcoce dari Morel menjadi demensia prekoks, suatu istilah yang menekankan

proses kognitif atau kemunduran inteligensi (demensia) dan awitan dini atau

sebelum waktunya (prekoks) yang nyata dari gangguan ini. Pasien dengan

demesia prekoks digambarkan memiliki perjalanan penyakit yang memburuk

dalam jangka waktu lama dan gejala klinis umum berupa halusinasi dan waham.

Dimana, demensia prekoks terkait dengan konsep saat ini tentang skizofrenia. 2

Emil Kraepelin membagi skizofrenia dalam beberapa jenis. Penderita

digolongkan ke dalam salah satu jenis menurut gejala utama yang terdapat

padanya.
Eugen Bleuler (1857-1939). Pada tahun 1911, Eugen Bleuler seorang psikiatri

dari swiss mengajukan istilah skizofrenia dan istilah tersebut menggantikan

demensia prekoks di dalam literatur, karena nama ini dengan tepat sekali

menonjolkan gejala utama penyakit ini, yaitu jiwa yang terpecah-belah, adanya

keretakan atau disharmoni antara proses berpikir, perasaan, dan perbuatan

(schizos = pecah belah atau bercabang, phren = jiwa).


Bleuler menggambarkan gejala fundamental (atau primer) spesifik untuk

skizofrenia, termasuk suatu gangguan asosiasi, khususnya kelonggaran asosiasi.

Gejala fundamental lainnya adalah gangguan afektif, autisme, dan ambivalensi.

Jadi terdapat empat A dari Bleuler yang terdiri dari asosiasi, afek, autisme dan

ambivalensi. Bleuler juga menggambarkan gejala pelengkap (sekunder), yang

termasuk halusinasi dan waham, gejala yang telah menjadi bagian penting dari

pengertian Kraepelin tentang gangguan.


2.3 Epidemiologi
Skizofrenia ditemukan pada semua masyarakat dan area geografis dan angka

insidens serta prevalensinya secara kasar merata di seluruh dunia. Menurut DSM-IV-

TR, insidensi tahunan skizofrenia berkisar antara 0,5 sampai 5,0 per 10.000 dengan

beberapa variasi geografik. Skizofrenia yang menyerang kurang lebih 1 persen

4
populasi, biasanya bermula di bawah usia 25 tahun, berlangsung seumur hidup, dan

mengenai orang dari semua kelas sosial. Awitan skizofrenia di bawah usia 10 tahun atau

di atas usia 60 tahun sangat jarang. Laki-laki memiliki onset skizofrenia yang lebih

awal daripada wanita. Usia puncak onset untuk laki-laki adalah 15 sampai 25 tahun, dan

untuk wanita usia puncak onsetnya adalah 25 sampai 35 tahun.3,4


Menurut hasil analisis yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO)

pada tahun 2016 terdapat sekitar 21 juta orang menderita skizofrenia 3. Berdasarkan data

dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) prevalensi skizofrenia di Indonesia adalah 1,7

per mil. DI Yogyakarta dan Aceh memiliki prevalensi tertinggi yaitu 2,7 per mil

sedangkan Kalimantan Barat memiliki prevalensi terendah yaitu0,7 per mil. Untuk

Sumatera Barat prevalensi skizofrenia tahun 2013 sebesar 1,9 per mil.5
2.4 Etiologi
Sampai saat ini, belum ditemukan etiologi pasti penyebab skizofrenia. Namun,

skizofrenia tidak hanya disebabkan oleh satu etiologi, melainkan gabungan antara

berbagai faktor yang dapat mendorong munculnya gejala. Hipotesis terjadinya

skizofrenia adalah1,3:

a. Diatesis-Stres Model

Teori ini menggabungkan antara faktor biologis, psikososial, dan lingkungan yang

secara khusus mempengaruhi diri seseorang sehingga dapat menyebabkan

berkembangnya gejala skizofrenia. Dimana ketiga faktor tersebut saling berpengaruh

secara dinamis.

b. Faktor Biologis

Dari faktor biologis dikenal suatu hipotesis dopamin yang menyatakan bahwa

skizofrenia disebabkan oleh aktivitas dopaminergik yang berlebihan di bagian kortikal

otak, dan berkaitan dengan gejala positif dari skizofrenia. Penelitian terbaru juga

menunjukkan pentingnya neurotransmiter lain termasuk serotonin, norepinefrin,

5
glutamat dan GABA. Selain perubahan yang sifatnya neurokimiawi, penelitian

menggunakan CT Scan ternyata ditemukan perubahan anatomi otak seperti pelebaran

lateral ventrikel, atropi koteks atau atropi otak kecil (cerebellum), terutama pada

penderita kronis skizofrenia.

c. Genetika

Faktor genetika telah dibuktikan secara meyakinkan. Resiko masyarakat umum

1%, pada orang tua resiko 5%, pada saudara kandung 8% dan pada anak 12% apabila

salah satu orang tua menderita skizofrenia, walaupun anak telah dipisahkan dari orang

tua sejak lahir, anak dari kedua orang tua skizofrenia 40%. Pada kembar monozigot

47%, sedangkan untuk kembar dizigot sebesar 12% .

d. Faktor Psikososial

Pada faktor ini menandakan adanya tekanan psikososial yang terjadi pada orang

tertentu yang bisa memicu terjadinya skizofrenia, seperti permasalahan keluarga,

hubungan intrapersonal, konflik dan frustasi dalam lingkungan1,3.

2.5 Perjalanan Gangguan Skizofrenia

Perjalanan berkembangnya skizofrenia sangatlah beragam pada setiap kasus.

Namun, secara umum melewati tiga fase utama, yaitu3:

a. Fase Prodromal

Fase prodromal ditandai dengan deteriorasi yang jelas dalam fungsi kehidupan,

sebelum fase aktif gejala gangguan, dan tidak disebabkan oleh gangguan afek atau

akibat gangguan penggunaan zat, serta mencakup paling sedikit dua gejala dari kriteria

A pada kriteria diagnosis skizofrenia. Awal munculnya skizofrenia dapat terjadi setelah

melewati suatu periode yang sangat panjang, yaitu ketika seorang individu mulai

menarik diri secara sosial dari lingkungannya.

6
Individu yang mengalami fase prodromal dapat berlangsung selama beberapa

minggu hingga bertahun-tahun, sebelum gejala lain yang memenuhi kriteria untuk

menegakkan diagnosis skizorenia muncul. Individu dengan fase prodromal singkat,

perkembangan gejala gangguannya lebih jelas terlihat daripada individu yang

mengalami fase prodromal panjang.

b. Fase Aktif Gejala

Fase aktif gejala ditandai dengan munculnya gejala-gejala skizofrenia secara

jelas. Sebagian besar penderita gangguan skizofrenia memiliki kelainan pada

kemampuannya untuk melihat realitas dan kesulitan dalam mencapai insight. Sebagai

akibatnya episode psikosis dapat ditandai oleh adanya kesenjangan yang semakin besar

antara individu dengan lingkungan sosialnya.

c. Fase Residual

Fase residual terjadi setelah fase aktif gejala paling sedikit terdapat dua gejala A

dari kriteria. Pada kriteria diagnosis skizofrenia yang bersifat menetap dan tidak

disebabkan oleh gangguan afek atau gangguan penggunaan zat. Dalam perjalanan

gangguannya, beberapa pasien skizofrenia mengalami kekambuhan hingga lebih dari

lima kali. Oleh karena itu, tantangan terapi saat ini adalah untuk mengurangi dan

mencegah terjadinya kekambuhan.


2.6 Patofisiologi

Ketidakseimbangan yang terjadi pada neurotransmiter juga diidentifikasi sebagai

penyebab skizofrenia. Ketidakseimbangan terjadi antara lain pada dopamin yang

mengalami peningkatan dalam aktivitasnya. Selain itu, terjadi juga penurunan pada

serotonin, norepinefrin, dan asam amio gamma-aminobutyric acid (GABA) yang pada

akhirnya juga mengakibatkan peningkatkan dopaminergik. Neuroanatomi dari jalur

neuronal dopamin pada otak dapat menjelaskan gejala-gejala skizofrenia1,8.

7
Gambar 2.1. Terdapat 5 (lima) jalur dopamin pada otak.
Sumber : Psychosis and Schizophrenia. Antipsychotics and Mood Stabilizers : Stahls Essential
Psychopharmacology. 3rd Edition. Page 26.
Terdapat lima jalur dopamin dalam otak, yaitu:

a. Jalur Mesolimbik
Jalur ini berproyeksi dari area midbrain ventral tegmental ke batang otak menuju

nucleus akumbens di ventral striatum. Jalur ini memiliki fungsi berhubungan dengan

memori, indera pembau, efek viseral automatis, dan perilaku emosional. Hiperaktivitas

pada jalur mesolimbik akan menyebabkan gangguan berupa gejala positif seperti

waham dan halusinasi.

8
Gambar 2.2. Jalur mesolimbik dopamin pada otak yang menyebabkan gejala positif.
Sumber : Psychosis and Schizophrenia. Antipsychotics and Mood Stabilizers : Stahls Essential
Psychopharmacology. 3rd Edition. Page 27.
b. Jalur Mesokortikal
Jalur ini berproyeksi dari daerah tegmental ventral ke korteks prefrontal.

Berfungsi pada insight, penilaian, kesadaran sosial, menahan diri, dan aktifitas kognisi.

Hipofungsi pada jalur mesokortikal akan menyebabkan gangguan berupa gejala negatif

dan kognitif pada skizofrenia. Jalur mesokortikal terdiri dari mediasi gejala kognitif

(dorsolateral prefrontal cortex / DLPFC ) dan gejala afektif (ventromedial prefrontal

cortex / VMPFC) skizofrenia.

Gambar 2.3. Jalur mesokortical dopamin pada otak

9
Sumber : 12Psychosis and Schizophrenia. Antipsychotics and Mood Stabilizers : Stahls Essential
Psychopharmacology. 3rd Edition. Page 29.

c. Jalur Nigrostriatal
Sistem nigrostriatal mengandung sekitar 80% dari dopamin otak. Jalur ini

berproyeksi dari substansia nigra ke basal ganglia atau striatum (kauda dan putamen).

Jalur ini berfungsi menginervasi sistem motorik dan ekstrapiramidal. Dopamin pada

jalur nigrostriatal berhubungan dengan efek neurologis (Ekstrapiramidal / EPS) yang

disebabkan oleh obat-obatan antipsikotik tipikal / APG-I (Dopamin D2 antagonis).

Gambar 2.4. Jalur nigrostriatal dopamin pada otak.


d. Jalur Tuberoinfundibular
Organisasi dalam hipotalamus dan memproyeksikan pada anterior glandula

pituitari. Fungsi dopamin disini mengambil andil dalam fungsi endokrin, menimbulkan

rasa lapar, haus, fungsi metabolisme, kontrol temperatur, pencernaan, gairah seksual,

dan ritme sirkardian. Obat- obat antipsikotik mempunyai efek samping pada fungsi ini

dimana terdapat gangguan endokrin.

10
Gambar 2.5. Jalur tuberoinfundibular dopamin pada otak.
Sumber : Psychosis and Schizophrenia. Antipsychotics and Mood Stabilizers : Stahls Essential
Psychopharmacology. 3rd Edition. Page 32.
e. Jalur Thalamus
Jalur kelima berasal dari berbagai tempat, termasuk periaqueductal gray, ventral

mesencephalon, hypothalamus nukleus, nukleus parabrachial lateral, yang berproyeksi

ke thalamus. Namun, fungsinya masih belum diketahui.12


Rumusan yang paling sederhana untuk mengungkapkan patofisiologi dari

skizofrenia adalah hipotesa dopamin. Hipotesa ini secara sederhana menyatakan bahwa

skizofrenia disebabkan karena terlalu banyaknya aktivitas dopaminergik. Hipotesis ini

disokong dari hasil observasi pada beberapa obat antipsikotik yang digunakan untuk

mengobati skizofrenia dimana berhubungan dengan kemampuannya menghambat

dopamin (D2) reseptor.

11
Gambar 2.6 Hipotesis dopamin pada skizofrenia.7
Sumber : Psychosis and Schizophrenia. Antipsychotics and Mood Stabilizers : Stahls Essential
Psychopharmacology. 3rd Edition. Page 34.

2.7 Manifestasi Klinis



Dapat kehilangan pekerjaan dan teman akibat tidak berminat dan tidak mampu

berbuat sesuatu atau karena sikap yang aneh4



Pembicaraan dan pemikiran dapat samar samar sehingga kadang kadang tidak

dapat dimenegerti4

Dapat mempunyai keyakinan yang salah dan tidak dapat dikoreksi4

Penampilan dan kebiasaan kebiasaan penderita dapat mengalami kemunduran

serta afek penderita terlihat tumpul4



Sebagian besar penderita uji kognitif dapat buruk4

Penderita dapat mengalami anhedonia yaitu ketidakmampuan rasa senang4

Penderita dapat juga mengalami deteriorasi yaitu perburukan yang terjadi secara

berangsur angsur4

Episode pertama psikotik sering didahului oleh suatu periode tertentu, misalnya

perilaku dan pikiran eksentrik (fase prodormal)4

12

Dapat ditemukan kepribadian prepsikotik seperti penarikan diri dan terlalu kaku

(rigid) secara sosial, sangat pemalu dan sering mengalami kesulitan di sekolah

meskipun IQ nya normal4


2.8 Diagnosis

Pedoman diagnostik skizofrenia menurut ppdgj-III:6

a. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua

gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas) :
Thought echo
Isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak

keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isi sama, namun kualitasnya berbeda;

atau
Thought insertion or withdrawal
Isi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi

pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan
Thought broadcasting
Isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya;
Delusion of control
Waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar;

atau
Delusion of influence
Waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau
Delusion of passivity
Waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan

tertentu dari luar; (tentang dirinya = secara jelas merujuk ke pergerakan

tubuh atau anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus)
Delusional perception
Pengalaman inderawi yang tak wajar, yang bermakna, sangat khas bagi

dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat;


Halusinasi auditorik:
Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku

pasien, atau
Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara berbagai

suara yang berbicara), atau


Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh

13
Wahamwaham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat

dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan

agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia

biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan

makhluk asing dari dunia lain).


b. Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas :
Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja, apabila disertai baik oleh

waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan

afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide ide berlebihan (over loaded

ideas) yang menetap, atau yang apabila terjadi setiap hari selama berminggu

minggu atau berbulan bulan terus menerus;


Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan

(interpolation), yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak

relevan atau neologisme;


Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi tubuh

tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme dan stupor;


Gejalagejala negatif, seperti sangat apatis, bicara yang jarang, dan respons

emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan

penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus

jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi

neuroleptika.
c. Adanya gejala gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu

satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodormal);
d. Harus ada suatu perbuatan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan

(overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal behaviour),

bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat

sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed attitude), dan penarikan diri

secara sosial.

DIAGNOSIS SKIZOFRENIA PARANOID :

14
a. Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia
b. Sebagai tambahan :
Halusinasi dan/atau waham harus menonjol;
Suara suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah,

atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit (whistling),

mendengung (humming), atau bunyi tawa (laughing);


Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual, atau lain

lain perasaan tubuh; halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol;
Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan

(delusion of control), dipengaruhi (deusion of influence), atau passivity

(delusion of passivity), dan keyakinan dikejar kejar beraneka ragam,

adalah yang paling khas;


Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala

katatonik secara relatif tidak nyata/tidak menonjol.

2.9 Diagnosis banding


Diagnosis banding pada pasien skizofrenia paranoid adalah gangguan psikotik

lain, dapat berupa gangguan skizofreniform dan gangguan skizoafektif. Pada gangguan

skizofreniform, gejalanya sama dengan skizofrenia, namun berlangsung sekurang-

kurangnya 1 bulan, tetapi kurang dari 6 bulan.3 Pada pasien dengan skizofreniform,

akan kembali ke fungsi normal ketika gangguan hilang. Bila suatu sindrom manik atau

depresif terjadi bersamaan dengan gejala utama skizofrenia, maka hal itu adalah

gangguan skizoafektif, yang mempunyai gambaran baik skizofrenia maupun gangguan

afektif (gangguan mood).3


2.10 Penatalaksanaan

a. Terapi biologik1,4,7
Skizofrenia diobati dengan antipsikotika. Obat ini dibagi dalam dua kelompok,

berdasarkan mekanisme kerjanya, yaitu dopamine receptor antagonist (DRA) atau

antipsikotika generasi I (APG-I) dan serotonin-dopamine antagonist (SDA) atau

antipsikotika generasi II (APG-II). Obat APG-I disebut juga antipsikotika tipikal

sedangkan obat APG-II disebut juga antipsikotika atipikal.

15
Tabel 2.1 Jenis jenis obat APG-I
Nama Generik Nama Dosis Akut Dosis Pemeliharaan
Dagang (mg/hari) (mg/hari)
Phenotiazine
- Chlorpromazine Promactil 200 1000 50 400
- Thioridazine Melleril 200 800 50 400
- Perphenazine Trilafon 12 64 8 24
- Trifluoperazine Stelazine 10 - 60 4 30

Butyrophenones
- Haloperidol Haldol 5 - 20 1 - 15

Diphenylbutylpiperidines
- Pimozide Orap 2 - 10 2 10

Long-acting injectable
preparation
- Fluphenazine *Modecate
decaanoate inj.
- Halopeidole **Haldol
decanoate decanoate

* dosis 12,5 mg setiap 1 4 minggu


** dosis 25 200 setiap 2 4 minggu

Tabel 2.2 Jenis jenis obat APG II


Nama Obat Dosis anjuran per hari
Risperidone 2 8 mg
Olanzapine 10 20 mg
Quentiapine 200 800 mg
Clozapin 150 450 mg
Paliperidone 6 mg
Aripiprazole 10 30 mg2

Dasar pemilihan suatu jenis obat antipsikotik adalah atas pertimbangan manfaat

dan resiko secara individual yang mencakup farmakokinetik dan farmakodinamik.

Semua antipsikotik yang saat ini tersedia (tipikal maupun atipikal) adalah bersifat

antagonis reseptor dopamin D2 dalam mesokortikal. Blokader reseptor D2 ini

cenderung menyebabkan symptom ekstrapiramidal walaupun secara umum golongan

atipikal mempunyai resiko efek samping neurologik yang lebih rendah (dibandingkan

antipsikotik tipikal).

16
Antipsikotik golongan atipikal dengan efek samping neuromotorik relatif sedikit

tersebut merupakan suatu kemauan terapi terhadap skizofrenia. Meskipun demikian

tetap harus dipertimbangkan bahwa efek samping lain yang tidak diinginkan dari

golongan atipikal tersebut yaitu peningkatan berat badan, hiperprolaktinemia,

hiperglikemia, dan dislipidemia. Akibat kurang baik lainnya seperti dislipidemia,

ketoasidosis diabetika, diabetes melitus, dan perubahan elektrokardiografi (EKG) serta

resiko kanker payudara akibat hiperprolaktinemia juga telah dicatat pada penggunaan

antipsikotik atipikal.

b. Terapi Kejang Listrik


Dapat juga bermanfaat untuk mengontrol dengan cepat beberapa psikosis akut.

Beberapa pasien skizofrenia yang tidak berespons dengan obat obatan dapat membaik

dengan terapi ini.


c. Psikoterapi

Terapi psikososial dimaksudkan agar pasien skizofrenia mampu kembali

beradaptasi dengan lingkungan sosial sekitarnya dan mampu merawat diri, mandiri,

serta tidak menjadi beban bagi keluarga dan masyarakat). Termasuk dalam terapi

psikososial adalah terapi perilaku, terapi berorientasi keluarga, terapi kelompok, dan

psikoterapi individual.

2.11 Prognosis
Penilaian terhadap prognosis dapat dilakukan berdasarkan onset gangguan, faktor

pencetus, riwayat premorbid, dan dukungan dari keluarga. Hal ini dapat disimpulkan

melalui tabel berikut.


Tabel 2.3. Prognosis Baik dan Buruk dalam Skizofrenia.1

Prognosis Baik Prognosis Buruk


Onset lambat Onset muda
Faktor pencetus yang jelas Tidak ada faktor pencetus
Onset akut Onset tidak jelas
Riwayat sosial, seksual, dan pekerjaan Riwayat sosial, seksual, dan pekerjaan
pramorbid yang baik pramorbid yang buruk
Gejala gangguan mood (terutama Perilaku menarik diri, autistic
gangguan depresif)

17
Menikah dan telah berkeluarga Tidak menikah, bercerai, atau
janda/duda
Riwayat keluarga gangguan mood Riwayat keluarga skizofrenia
(tidak ada keluarga yang menderita
skizofrenia)
Sistem pendukung yang baik (terutama Sistem pendukung yang buruk untuk
dari keluarga) untuk kesembuhan kesembuhan pasien
pasien
Gejala positif Gejala negative
Jenis kelamin perempuan Tanda dan gejala neurologis
Riwayat trauma perinatal
Tidak ada remisi dalam tiga tahun
Sering timbul relaps
Riwayat penyerangan
Sumber : Skizofrenia. Kaplan & Sadock - Buku Ajar Psikiatri Klinis. Edisi 2. Hal 156.

18
BAB III
LAPORAN KASUS

3.1. Identitas Pasien


Nama : Tn. A
Jenis Kelamin : Laki-laki
MR :
Umur : 32 tahun
Tempat Tanggal Lahir :
Status Perkawinan : Belum menikah
Agama : Islam
Pekerjaan :
Pendidikan : Tamat SMP
Warga Negara : Indonesia
Suku Bangsa : Minangkabau
Alamat :

Keterangan Diri Allo/ Informan


Nama (inisial) : Ny.M
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 63 tahun
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat :
Hubungan dengan pasien : Ibu Kandung
Keakraban dengan pasien : Akrab

3.2. Riwayat Psikiatri


Keterangan/ anamnesis di bawah ini diperoleh dari : Autoanamnesis pada tanggal
15 Agustus 2017 dan alloanamnesis pada tanggal 18 Agustus 2017
3.2.1. Sebab Utama
Pasien datang ke RSUP dr. M. Djamil Padang, dibawa oleh kakak kandung pasien
karena gelisah dan bingung setelah menghilang sejak 10 hari sebelum masuk rumah
sakit.

19
3.2.2. Riwayat Penyakit Sekarang
Alloanamnesis
Pasien gelisah dan menghilang sejak 10 hari sebelum masuk rumah sakit.
Awalnya pasien di rawat di bagian penyakit dalam RSUP dr. M djamil padang Karena
DBD. Kemudian saat pasien pulang ke rumah, pasien kabur dari rumah dan tidak
pulang selama 10 hari. Pasien ditemukan oleh teman kakak pasien dalam kondisi
bingung dan kaki yang terluka. Pasien sering gelisah, berbicara sendiri dan mengaku
melihat bayangan sejak 12 tahun yang lalu. Pasien jarang kontrol ke rumah sakit dan
tidak teratur meminum obat. Pasien dahulu tinggal bersama orang tua dan pernah di
rantai di rumah kemudian pasien tinggal di rumah kakaknya setelah di rawat di rumah
sakit karena DBD. Pasien tidak mau tidur dan makan, hanya berdiam diri. Pasien sering
berbicara dan tertawa sendiri. Pasien sering berbicara tidak jelas.
Autoanamnesis
Awalnya pasien ada masalah di tempat kerja, namun sering dipendam sendiri.
Kemudian pasien juga sempat berselisih dengan teman kerja pasien sehingga pasien
merasa tertekan. Pertama kali melihat bayangan, pasien melihat langit berwarna merah
dan semut-semut hitam besar dilangit yang mengejar pasien. Pasien juga pernah
bermimpi di datangi oleh wanita berbaju putih yang akan mencabut nyawanya dan
bayangan hitam yang memegang kepalanya serta mendengar suara-suara berbisik yang
tidak tau sumbernya dari mana.

3.2.3. Riwayat Penyakit Dahulu


a. Riwayat Gangguan Psikiatri
Pasien pertama kali melihat bayangan kira-kira 12 tahun yang lalu. Pasien sempat
diruqiyah oleh keluarga karena sering menyendiri dan berbicara sendiri serta
melihat bayangan-bayangan. Pasien pernah dirawat di RS Puti Bungsu sebanyak 2
kali pada tahun 2007 dan 2008. Setelah itu pasien tidak pernah control dan
meminum obat.
b. Riwayat Gangguan Medis
Pasien menderita penyakit DBD dan sempat dirawat di bangsal penyakit dalam
RSUP dr. M. Djamil Padang
c. Riwayat Penggunaan Napza
Pasien seorang perokok dan pernah mengkonsumsi alcohol.

3.2.4. Riwayat Keluarga

20
a. Identitas orang tua/ pendamping

Identitas Orang Tua Keterangan


Bapak Ibu
Kewarganegara Indonesia Indonesia
an
Suku bangsa Minang Minang
Pendidikan SD SD
Pekerjaan Tani Ibu rumah tangga
Umur Alm alm
Alamat - -
Hubungan Biasa Akrab

b. Sifat / Perilaku Orang Tua Kandung


1.Bapak (Dijelaskan oleh pasien dan keluarga dapat dipercaya / diragukan)
**Pemalas (-), Pendiam (-), Pemarah (-), Mudah tersinggung (-), Tak suka
bergaul (-), Banyak teman (-), Pemalu (-), Perokok berat (-), Penjudi (-),
Peminum (-), Pencemas (-), Penyedih (-), Perfeksionis (-), Dramatisasi (-),
Pencuriga (-), Pencemburu (-), Egois (-), Penakut (-), Tidak bertanggung jawab
(-).
2.Ibu (Dijelaskan oleh pasien dan keluarga dapat dipercaya / diragukan)
**Pemalas (-), Pendiam (-), Pemarah (-), Mudah tersinggung (-), Tak suka
bergaul (-), Banyak teman (-), Pemalu (-), Perokok berat (-), Penjudi (-),
Peminum (-), Pencemas (-), Penyedih (-), Perfeksionis (-), Dramatisasi (-),
Pencuriga (-), Pencemburu (-), Egois (-), Penakut (-), Tidak bertanggung jawab
(-).
Ket: ** diisi dengan tanda (+) atau (-)
c. Saudara
Jumlah saudara empat dan pasien anak ketiga
d. Urutan bersaudara dan cantumkan usianya
1. Perempuan (35 th) 2. Laki-laki (31 th) 3. Pasien (30 th)
4. Laki-laki (24 tahun)
e. Gambaran sikap/prilaku masing-masing saudara pasien dan hubungan pasien terhadap
masing-masing saudara tersebut

Saudara ke Gambaran sikap dan prilaku Kualitas hubungan dengan saudara

21
1 Baik Biasa
2 Baik Biasa
4 Baik Biasa

Skema Pedegree

Keterangan :
: Meninggal

: Meninggal

: Pasien

: Keluarga yang sakit

: Laki-laki

: Perempuan

22
f. Orang lain yang tinggal di rumah pasien dengan gambaran sikap dan tingkah laku dan
bagaimana pasien dengan mereka
No Hubungan dengan pasien Gambaran sikap Kualitas hubungan
dan tingkah laku
1. Ayah Baik Akrab
2. Ibu Baik Akrab
3. Kakak Baik Akrab
4. Istri Kakak Baik Akrab

g. Riwayat penyakit jiwa, kebiasaan-kebiasaan dan penyakit fisik pada anggota keluarga
Anggota Penyakit Jiwa Kebiasaan- Penyakit fisik
Keluarga Kebiasaan
Bapak Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Ibu Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Saudara 1 Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Saudara 2 Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Saudara 3 Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Nenek Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Kakek Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Bibi Ada Tidak ada Tidak ada
(Sepupu
Ibu)
h. Riwayat tempat tinggal yang pernah di diami pasien

No. Rumah Tempat Keadaan Rumah


Tinggal
Tenang Cocok Nyaman Tidak Nyaman
1 Rumah Orang Tua V V
2 Rumah Kakak V V

3.2.5. Riwayat Kehidupan Pribadi


a) Riwayat sewaktu dalam kandungan dan dilahirkan
- Keadaan ibu sewaktu hamil (sebutkan penyakit-penyakit fisik dan atau
kondisi-kondisi mental yang diderita si ibu)
o Kesehatan fisik : baik
o Kesehatan mental : baik
- Keadaan melahirkan
o Aterm (+), Partus spontan (+)
o Pasien adalah anak yang direncanakan/diinginkan (Ya / Tidak)
b) Riwayat masa bayi dan kanak-kanak

23
- Pertumbuhan Fisik : baik, biasa, kurang*
- Minum ASI : (+) sampai usia 2 tahun
**Sukar makan (-), anoreksia nervosa (-), bulimia (-), pika (-), gangguan
hubungan ibu-anak (-), pola tidur baik (+), cemas terhadap orang asing
sesuai umum (-), cemas perpisahan (-), dan lain-lain.
c) Simptom-simptom sehubungan dengan problem perilaku yang dijumpai pada
masa kanak-kanak, misalnya: **mengisap jari (-), ngompol (-), BAB di tempat
tidur (-), night terror (-), temper tantrum (-), gagap (-), tik (-), masturbasi (-),
mutisme selektif (-), dan lain.lain.
b) Kesehatan fisik masa kanak-kanak: **demam tinggi disertai mengigau (-),
kejang-kejang (-), demam berlangsung lama (-), trauma kapitis disertai hilangnya
kesadaran (-), dan lain-lain.
c) Tempramen sewaktu kanak-kanak: **pemalu (-), gelisah (-), overaktif (-),
menarik diri (-), suka bergaul (+), suka berolahraga (+), dan lain-lain.
d) Masa sekolah

Perihal SD SMP SMA PT


Umur 6 - 12 tahun 13-16 tahun - -
Prestasi* Baik Baik - -
Sedang Sedang
Kurang Kurang
Aktivitas sekolah* Baik Baik - -
Sedang Sedang
Kurang Kurang
Sikap terhadap Baik Baik - -
teman* Kurang Kurang
Sikap terhadap Baik Baik - -
guru* Kurang Kurang
Kemampuan khusus - - -
(bakat)
Tingkah laku Baik Baik -
g) Masa remaja: **Fobia (-), masturbasi (-), ngompol (-), lari dari rumah (-),
kenakalan remaja (-), perokok berat (-), penggunaan obat terlarang (-), peminum
minuman keras (-), problem berat badan (-), anoreksia nervosa (-), bulimia (-),
perasaan depresi (-), rasa rendah diri (-), cemas (-), gangguan tidur (-), sering sakit
kepala (-), dan lain-lain.

24
e) Riwayat pekerjaan
Pasien seorang pekerja serabutan
f) Percintaan, perkawinan, kehidupan seksual dan rumah tangga
- Haid pertama (-)
- Hubungan seks sebelum menikah (-)
- Riwayat pelecehan seksual (-)
- Orientasi seksual (normal)
- Pasien belum menikah
j) Situasi sosial saat ini:
- Tempat tinggal: rumah sendiri (-), rumah kontrak (-), rumah susun (-),
apartemen (-), rumah orang tua (+), serumah dengan mertua (-), di asrama
(-), dan lain-lain.
- Polusi lingkungan: bising (-), kotor (-), bau (-), ramai (-), dan lain-lain.

k) Ciri kepribadian sebelumnya/ gangguan kepribadian (untuk aksis II)


Keterangan : Beri tanda (+) atau (-)

Kepribadian Gambaran Klinis


Skizoid Emosi dingin (-), tidak acuh pada orang lain (-), perasaan hangat
atau lembut pada orang lain (-), peduli terhadap pujian maupun
kecaman (-), kurang teman (-), pemalu (-), sering melamun (-),
kurang tertarik untuk mengalami pengalaman seksual (-), suka
aktivitas yang dilakukan sendiri (-)
Paranoid Merasa akan ditipu atau dirugikan (-), kewaspadaan berlebihan
(-), sikap berjaga-jaga atau menutup-nutupi (-), tidak mau
menerima kritik (-), meragukan kesetiaan orang lain (-), secara
intensif mencari-cari kesalahan dan bukti tentang prasangkanya
(-), perhatian yang berlebihan terhadap motif-motif yang
tersembunyi (-), cemburu patologik (-), hipersensitifitas (+),
keterbatasan kehidupan afektif (-)
Skizotipial Pikiran gaib (-), ideas of reference (-). Isolasi sosial (-), ilusi
berulang (-), pembicaraan yang ganjil (-), bila bertatap muka
dengan orang lain tampak dingin atau tak acuh (-)
Siklotimik Ambisi berlebihan (-), optimis berlebihan (-), aktivitas seksual
berlebihan tanpa menghiraukan akibat yang merugikan (-),
melibatkan dirinya secara berlebihan dalam aktivitas yang
menyenangkan tanpa menghiraukan kemungkinan yang
merugikan dirinya (-), melucu berlebihan (-), kurangnya
kebutuhan tidur (-), pesimis (-), putus asa (-), insomnia (-),
hipersomnia (-), kurang bersemangat (-) rasa rendah diri (-),

25
penurunan aktivitas (-), mudah merasa sedih dan menangis (-)
dan lain-lain

Histrionik Dramatisasi (-), selalu berusaha menarik perhatian bagi dirinya


(-), mendambakan rangsangan aktivitas yang menggairahkan (-),
bereaksi berlebihan terhadap hal-hal yang sepele (-), egosentris
(-), suka menuntut (-), dependen (-), dan lain-lain
Narsisistik Merasa bangga berlebihan terhadap kehebatan dirinya (-),
preokupasi dengan fantasi tentang sukses, kekuasaan, dan
kecantikan (-), ekshibisionisme (-), membutuhkan perhatian dan
pujian yang terus menerus (-) hubungan interpersonal yang
eksploitatif (-), merasa marah, malu, terhina, dan rendah diri bila
dikritik (-), dan lain-lain
Dissosial Tidak peduli dengan perasaan orang lain (-), sikap yang amat
tidak bertanggung jawab dan berlangsung terus menerus (-),
tidak mampu mengalami rasa bersalah dan menarik manfaat dari
pengalaman (-), tidak peduli pada norma-norma, peraturan dan
kewajiban seseorang (-), tidak mampu memelihara suatu
hubungan agar berlangsung lama (-), iritabilitas (-), agresivitas
(-), impulsif (-),sering berbohong (-), sangat cenderung
menyalahkan orang lain atau menawarkan rasionalisasi yang
masuk akal untuk perlaku yang membuat pasien konfil dengan
masyarakat (-)
Ambang Pola hubungan interpersonal yang mendalam dan tidak stabil (-),
kurangnya pengendalian terhadap kemarahan (-), gangguan
identitas (-), afek yang tidak mantap (-), tidak tahan untuk
berada sendirian (-), tindakan mencederai diri sendiri(-), rasa
bosan kronik (-), dan lain-lain
Menghindar Perasaan tegang dan takut yang pervasif (-), merasa dirinya
tidak mampu (-), tidak menarik atau lebih rendah dari orang lain
(-), keengganan untuk terlibat dengan orang lain kecuali merasa
yakin disukai (-), preokupasi yang berlebihan terhadap kritik
dan penolakan dalam situasi sosial (-), menghindari aktivitas
sosial atau pekerjaan yang banyak melibatkan kontak
interpersonal karena takut dikritik, tidak didukung, atau ditolak
(-)

26
Anankastik Perasaan ragu-ragu yang hati-hati dan berlebihan (-), preokupasi
pada hal-hal yang rinci (details), peraturan daftar, urutan,
organisasi dan jadwal (-), perfeksionisme (-), ketelitian yang
berlebihan (-), kaku dan keras kepala (-), pengabdian yang
berlebihan terhadap pekerjaan sehingga menyampingkan
kesenangan dan nilai-nilai hubungan interpersonal (-),
pemaksaan yang berlebihan agar orang lain mengikuti persis
caranya melakukan sesuatu (-), keterpakuan yang berlebihan
pada kebiasaan sosial (-), dan lain-lain
Dependen Mengalami kesulitan untuk membuat keputusan sehari-hari
tanpa nasehat dan masukan dari orang lain (-), membutuhkan
orang lain untuk mengambil tanggung jawab pada banyak hal
dalam hidupnya (-), perasaan tidak enak atau tidak berdaya
apabila sendirian, karena ketakutan yang dibesar-besarkan
tentang ketidakmampuan mengurus diri sendiri (-), takut
ditinggalkan oleh orang yang dekat dengannya (-)

3.2.6. Stressor Psikososial (Aksis IV)


Masalah lingkungan social dengan teman kerja
3.2.7. Pernah suicide (-)
3.2.8. Riwayat agama: pasien beragama islam
3.2.9. Riwayat psikoseksual: tidak ada gangguan orientasi seksual.
3.2.10. Riwayat pelanggaran hukum: tidak pernah ditangkap ataupun terlibat masalah
hukum.
3.2.11. Persepsi dan Harapan Keluarga: keluarga pasien berharap pasien sembuh
3.2.12. Persepsi dan Harapan Pasien: pasien berharap sembuh.

GRAFIK PERJALANAN PENYAKIT

Pasien Pasien
dirawat di RS dirawat di
Puti Bungsu Puti Bungsu
pada tahun pada tahun Pasien saat ini
Pasien 2007 karena 2008 karena dirawat di
pertama kali sering sering RSUP dr M.
melihat berbicara, berbicara dan Djamil Padang
bayangan tertawa 27tertawa dengan keluhan
kira-kira 12 sendiri, dan sendiri serta gelisah dan
tahun yang melihat masih melihat masih melihat
lalu. bayangan bayangan bayangan
3.3. Status Internus
Keadaan Umum : Sedang
Kesadaran : Komposmentis
Tekanan Darah : 130/80 mmHg
Nadi : Teraba kuat, teratur, frekuensi 83x/menit
Nafas : Teratur, frekuensi 15x/menit
Suhu : 36,70 C
Tinggi Badan : 150 cm
Berat Badan : 60 kg
Bentuk Badan : Normal
Status Gizi : Gizi baik
Sistem respiratorik : Inspeksi : simetris kiri dan kanan, statis dan dinamis
Palpasi : fremitus kiri dan kanan simetris
Perkusi : sonor
Auskultasi : suara nafas vesikuler, ronkhi (-), wheezing
(-)
Kardiovaskular : Inspeksi : iktus tidak terlihat
Palpasi : iktus tidak teraba
Perkusi : batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : S1,S2 reguler, Murmur (-)
Abdomen : Inspeksi : distensi (-)
Palpasi : hepar dan lien tidak teraba
Perkusi : timpani
Auskultasi : bising usus (+) normal
Kelainan Khusus : tidak ditemukan kelainan khusus
28
3.4. Status Neurologikus
GCS : 15 (E4M6V5)
Tanda Rangsang Meningeal : kaku kuduk (-)
Tanda-tanda efek samping ekstrapiramidal
a) Tremor tangan : tidak ada
b) Akatisia : tidak ada
c) Bradikinesia : tidak ada
d) Cara berjalan : Normogait
e) Keseimbangan : tidak terganggu
f) Rigiditas : tidak ada
Motorik :
a) Tonus : eutonus
b) Turgor : baik
c) Kekuatan : 555 555
555 555
d) Koordinasi : baik
Sensorik : proprioseptif dan eksterioseptif normal
Refleks :
a) Refleks Fisiologis : ++/++
b) Refleks Patologis : -/-

3.5. Status Mental


3.5.1. Keadaan Umum
1. Kesadaran / sensorium: composmentis (+), somnolen (-), stupor (-), kesadaran
berkabut (-), koma (-), delirium (-), kesadaran berubah (-), dan lain-lain.
2. Penampilan:
Sikap tubuh: biasa (+), diam (-), aneh (-), sikap tegang (-), kaku (-), gelisah
(-), kelihatan seperti tua (-), kelihatan seperti muda (-), berpakaian sesuai
gender (+)
Cara berpakaian: rapi (+), biasa (-), tak menentu (-), sesuai dengan situasi
(-), kotor (-), kesan (dapat/tidak dapat mengurus diri)
Kesehatan fisik: sehat (+), pucat (-), lemas (-), apatis (-), telapak tangan
basah (-), dahi berkeringat (-), mata terbelalak (-)
3. Kontak psikis: Dapat dilakukan (+), tidak dapat dilakukan (-), wajar (-), kurang
wajar (-), sebentar (-), lama (-)

29
3. Sikap: kooperatif (+), penuh perhatian (-), berterus terang (-), menggoda (-),
bermusuhan (-), suka main-main (-), berusaha supaya disayang (-), selalu
menghindar (-), berhati-hati (-), dependen (-), infantil (-), curiga (-), pasif (-), dan
lain-lain.
4. Tingkah laku dan aktifitas psikomotor
Cara berjalan: biasa (+), sempoyongan (-), kaku (-), dan lain-lain
Ekhopraksia (-), katalepsi (-), luapan katatonik (-), stupor katatonik (-),
rigiditas katatonik (-), posturing katatonik (-), cerea fleksibilitas (-),
negativisme (-), katapleksi (-), stereotipik (-), mannerisme (-), otomatisme (-),
otomatisme perintah (-), mutisme (-), agitasi psikomotor (-),
hiperaktivitas/hiperkinesis (-), tik (-), somnabulisme (-), akathisia (-),
kompulsi (-), ataksia (-), hipoaktivitas (-), mimikri (-)
Agresi (-), acting out (-), abulia (-), tremor (-), ataksia (-), chorea (-), distonia
(-), bradikinesia (-), rigiditas otot (-),diskinesia (-),konvulsi (-), seizure (-),
piomanisa (-), vagabondage (-)
3.5.2. Verbalisasi dan cara berbicara
Arus pembicaraan* : biasa
Produktivitas pembicaraan* : banyak
Perbendaharaan* : biasa
Nada pembicaraan* : biasa
Volume pembicaraan* : biasa
Isi pembicaraan* : kurang sesuai
Penekanan pada pembicaraan* : ada
Spontanitas pembicaraan * : spontan
Logorrhea (- ), poverty of speech (-), diprosodi (-), disatria (-), gagap(-),
afasia (-), bicara kacau (-)
3.5.3. Emosi
Hidup emosi*: stabilitas (stabil), pengendalian (adekuat), arus emosi (biasa)
1. Afek
Afek appropriate/ serasi (-), afek inappropriate/ tidak serasi(+), afek tumpul
(-), afek yang terbatas (-), afek datar (-), afek yang labil (-).
2. Mood

30
Mood eutimik (+), mood disforik (-), mood yang meluap-luap (expansive
mood) (-), mood yang iritabel (-), mood yang labil (swing mood) (-), mood
meninggi (elevated mood/ hipertim) (-), euforia (-), ectasy (-), mood depresi
(hipotim) (-), anhedonia (-), dukacita (-), aleksitimia (-), elasi (-), hipomania
(-), mania(-), melankolia(-), La belle indifference (-), tidak ada harapan (-).
3. Emosi lainnya
Ansietas (-), free floating anxiety (-), ketakutan (-), agitasi (-), tension
(ketegangan) (-), panic (-), apati (-), ambivalensi (-), abreaksional (-), rasa
malu (-), rasa berdosa/ bersalah (-), kontrol impuls (-).

4. Gangguan fisiologis yang berhubungan dengan mood


Anoreksia (-), hiperfagia (-), insomnia (-), hipersomnia (-), variasi diurnal
(-), penurunan libido (-), konstispasi (-), fatigue (-), pica (-), pseudocyesis
(-), bulimia (-).
3.5.4. Pikiran/ Proses Pikir (Thinking)
Kecepatan proses pikir (biasa/cepat/lambat)
Mutu proses pikir (jelas/tajam)
1. Gangguan Umum dalam Bentuk Pikiran
Gangguan mental (-), psikosis (+), tes realitas (terganggu/tidak), gangguan
pikiran formal (-), berpikir tidak logis (-), pikiran autistik (-), dereisme (-),
berpikir magis (-), proses berpikir primer (-).
2. Gangguan Spesifik dalam Bentuk Pikiran
Neologisme (-), word salad (-), sirkumstansialitas (-), tangensialitas (-),
inkohenrensia (-), perseverasi (-), verbigerasi (-), ekolalia (-), kondensasi (-),
jawaban yang tidak relevan (-), pengenduran asosiasi (-), derailment (-),
flight of ideas (-), clang association (-), blocking (-), glossolalia (-).
3. Gangguan Spesifik dalam Isi Pikiran
Kemiskinan isi pikiran (-), Gagasan yang berlebihan (-)
Delusi/ waham
Waham bizarre (+), waham tersistematisasi (-), waham yang sejalan
dengan mood (-), waham yang tidak sejalan dengan mood (-), waham
nihilistik (-), waham kemiskinan (-), waham somatik (-), waham

31
persekutorik (-), waham kebesaran (-), waham referensi (-), though of
withdrawal (-), though of broadcasting (-), though of insertion (-), though
of control (-), waham cemburu/ waham ketidaksetiaan (-), waham
menyalahkan diri sendiri (-), erotomania (-), pseudologia fantastika (-),
waham agama (-)
Idea of reference (-)
Preokupasi pikiran (-), egomania (-), hipokondria (-), obsesi (-),
kompulsi (-), koprolalia (-), hipokondria (-), obsesi (-), koprolalia (-),
fobia (-), noesis (-), unio mystica (-).
3.5.5. Persepsi
Halusinasi
Non patologis: Halusinasi hipnagogik (-), halusinasi hipnopompik (-),
Halusinasi auditorik (+), halusinasi visual (+), halusinasi olfaktorik (-),
halusinasi gustatorik (-), halusinasi taktil (-), halusinasi somatik (-),
halusinasi liliput (-), halusinasi sejalan dengan mood (-), halusinasi yang
tidak sejalan dengan mood (-), halusinosis (-), sinestesia (-), halusinasi
perintah (command halusination), trailing phenomenon (-).
Ilusi (-)
Depersonalisasi (-), derealisasi (-)
3.5.6. Mimpi dan Fantasi
Mimpi : -
Fantasi : -
3.5.7. Fungsi kognitif dan fungsi intelektual
1. Orientasi waktu (kurang baik), orientasi tempat (baik), orientasi personal
(baik), orientasi situasi (baik).
2. Atensi (perhatian) (+), distractibilty (-), inatensi selektif (-), hipervigilance
(-), dan lain-lain.
3. Konsentrasi (baik), kalkulasi (baik)
4. Memori (daya ingat) : gangguan memori jangka lama/ remote (-), gangguan
memori jangka menengah/ recent past (-), gangguan memori jangka pendek/
baru saja/ recent (-), gangguan memori segera/ immediate (-), amnesia (-),
konfabulasi (-), paramnesia (-).
5. Luas pengetahuan umum: baik

32
6. Pikiran konkrit: baik
7. Pikiran abstrak: baik
8. Kemunduran intelek: (tidak), retardasi mental (-), demensia (-),
pseudodemensia (-).
3.5.8. DI / DJ
Discriminative insight : derajat I
Discriminative Judgment : judgment tes baik, judgment sosial baik

3.6. Ikhtisar Penemuan Bermakna


Telah diperiksa Tn. A usia 30 tahun jenis kelamin laki-laki. Pada pemeriksaan
status mental didapatkan pasien dengan penampilan rapi, sikap kooperatif, psikomotor
normoaktif, verbalisasi jelas dan lancar, orientasi kurang baik, kontak psikis dapat
dilakukan, afek inappropriate, mood eutim, proses pikir inkoheren, isi pikir waham
bizzare, persepsi halusinasi auditorik dan visual, discriminative insight I dan
discriminative judgement terganggu.

3.7. Diagnosis Multiaksial


Aksis I : F20.0 Skizofrenia Paranoid
Aksis II : tidak ada diagnosis
Aksis III : tidak ada diagnosis
Aksis IV : masalah berkaitan dengan lingkungan sosial
Aksis V : GAF 70-61

3.8. Diagnosis Banding Axis I


Skizoafektif tipe depresi

3.9. Daftar Masalah


a) Organobiologik : tidak ada
b) Psikologis : waham bizzare, halusinasi auditorik dan visual
c) Lingkungan dan psikososial : ada

3.10. Penatalaksanaan
a) Farmakoterapi
CPZ 1x100 mg
Diazepam 1x2 mg

33
b) Psikoterapi
1. Kepada pasien
Psikoterapi supportif
Berempati pada pasien, memahami keadaan pasien,
mengidentifikasi faktor pencetus dan memecahkan masalah
secara terarah.

3.11. PROGNOSIS
Quo ad vitam : bonam
Quo ad fungsionam : bonam
Quo ad sanactionam : dubia at bonam

34
BAB IV
DISKUSI/ ANALISIS KASUS

Diagnosis pasien ditegakkan berdasarkan anamnesis, riwayat perjalanan penyakit,

dan pemeriksaan pada pasien, ditemukan adanya perubahan pola perilaku dan perasaan

yang secara klinis bermakna dan hendaya (disability) dalam fungsi sosial. Dengan

demikian, berdasarkan PPDGJ III dapat disimpulkan bahwa pasien ini mengalami suatu

gangguan jiwa. Pada pasien ini ditemukan gejala klinis yang mengarah pada

Skizofrenia Paranoid. Pada pasien saat ini ditemukan waham curiga (+), adanya riwayat

halusinasi auditori (+), halusinasi visual (+) dan perilaku kacau.

Waham bizarre pasien ditandai dengan pasien melihat langit berwarna merah dan

semut-semut hitam besar dilangit yang mengejar pasien. Pasien juga pernah bermimpi

di datangi oleh wanita berbaju putih yang akan mencabut nyawanya dan bayangan

hitam yang memegang. Halusinasi auditorik berupa suara-suara bisikan yang tidak jelas

sumbernya dan halusinasi visual yaitu pasien melihat langit berwarna merah dan semut-

semut hitam besar dilangit yang mengejar pasien. Pasien juga pernah bermimpi di

datangi oleh wanita berbaju putih yang akan mencabut nyawanya dan bayangan hitam

yang memegang kepalanya. Pada pasien juga terdapat riwayat perilaku yang kacau,

yaitu ketika pasien sempat dirawat rumah sakit Puti Bungsu sebanyak 2 kali pada tahun

2007 dan 2008 akibat suka berbicara sendiri dan marah-marah.

Berdasarkan anamnesis gejala dan perjalanan penyakit pasien maka diagnosis

pada aksis I untuk pasien pada saat ini yaitu skizofrenia paranoid (F20.0).

Sebelum dikenal mengalami gangguan jiwa, tidak didapatkan gangguan

kepribadian sebelumnya. Axis II tidak ada diagnosis.

Pada pasien ini juga tidak ditemukan gangguan kondisi medis umum, sehingga

aksis III tidak ada diagnosis. Pada pasien ini didapatkan masalah utama yang

35
menyebabkan perubahan perilaku pada pasien adalah masalah lingkungan sosial

sehingga pada aksis IV, diagnosisnya adalah masalah berkaitan dengan lingkungan

sosial.

Pada aksis V, pasien memiliki gejala sedang dan disabilitas sedang, sehingga

berdasarkan penilaian GAF (Global Assessment of Functional Scale) saat ini pasien

berada pada nilai 70-61.

Pada pasien diberikan chlorpromazine 1 x 100 mg tab, diazepam 1 x 2 mg tab.

Chlorpromazine merupakan anti-psikotik yang tipikal. Efek samping sedatif

chlorpromazine cukup kuat sehingga menjadi pilihan pada sindrom psikosis dengan

gejala dominan, gaduh gelisah, hiperaktif, dan sulit tidur. Namun mengingat efek

samping irreversibel yang dapat terjadi, yaitu tardive dyskinesia, yang biasa terjadi pada

pemakaian jangka panjang dan usia lanjut (pasien berusia 56 tahun), obat ini dinilai

kurang aman bagi pasien. Diazepam merupakan obat penenang dan anti-insomnia yang

diberikan agar pasien bisa beristirahat dan tidur.

Terapi non farmakologis memegang peranan yang juga penting pada pasien ini.

Jenis terapi non farmakologis yang bisa dilakukan terhadap pasien ini adalah

psikoterapi suportif, psikoedukasi saat kondisi pasien stabil dan bisa berkomunikasi.

Psikoterapi suportif bertujuan untuk memperlihatkan minat kita pada pasien,

memberikan perhatian, dukungan, dan optimis. Dalam psikoterapi suportif, terapis

menunjukkan penerimaan terhadap kasus dengan cara menunjukkan perilaku yang

hangat, ramah namun tetap berwibawa. Tujuannya adalah agar pasien merasa aman,

diterima dan dilindungi.

Lampiran wawancara

Pertanyaan Jawaban Interpretasi


Selamat pagi, perkenalkan Afdhali Komposmentis

36
saya dokter muda Ira
dan Kina. Sia namo
lengkap bapak?

Kini ko kami nio Yo, buliah. Kooperatif


mamariso bapak untuak
mancaliak perkembangan
bapak yo. Lai buliah, Pak?
Tanggal bara apak lahir? Orientasi Baik
Bara umur apak kini? 30 tahun
Alamat apak dima? Di Pasaman, tp kini di
Padang samo kakak
Asli dari ma apak? Pasaman
Lai tau apak dima apak kini? Lai, di RSJ
Apo yang taraso kini? Ndak ado taraso apo-apo
do, lai sehat-sehat se
Bilo pertamo kali apak Alah sepuluh hari Orientasi baik
masuak ka siko?
Dek apo apak dibaok kasiko? Dibaok kakak waktu tu Keluhan Utama
Baa kok di baok nyo apak Ndak tau do, keceknyo
dek kakak apak tu? ambo karajonyo berang-
berang se
Baa kok berang-berang apak Faktor pencetus
waktu tu?
Waham curiga
Pernah apak sebelumnyo Pernah, dulu pernah Riwayat gangguan
bantuak iko? dirawat di Puti Bungsu psikiatri sebelumnya
Bara lamo apak dirawat Ndak ingaik do, lah lamo
waktu tu? dirawat di situ
Sudah dirawat lai ado apak ndak ado minum-minum
control ka poli? ubek sudaj tu do, ka poli
ndak lo ado do
Baa kok ndak apak lanjut an Ambo ndak ado maraso Discriminative
minum obatnyo? sakik do Insight derajat I
Ado pernah mandanga Lai Halusinasi auditori
suaro-suaro yang ndak tau (+), halusinasi visual
sumbernyo dari ma, Pak? (+)
Apo yang apak danga? Ado yang maajak
mangecek, tapi kadang
ndak lo jaleh do, kadang
bisiak-bisiak se
Apak pernah caliak-caliak Ado lo tu, patang ko ado
bayangan ndak? baying hitam yang
mamacik kapalo apak ko,
bantuak ka dicabut nyo
nyawa awak

37
Selain itu apo se bayangan Ado pernah waktu tu ambo
yang pernah apak caliak lai? mancaliak samuik-samuik
gadang di langik, tu di kaja
nyo ambo, langik tu warna
merah-merah
Karajo apak apo? Montir di bengkel Riwayat social dan
pekerjaan
Manga se apak disitu? Mamelok an oto, beko oto Discriminative
tu bisa tabang Judgement
Ma ado oto bisa tabang pak? Bisa, ambo bisa mambuek terganggu
oto tu tabang, ambo buek
an sayok nyo
Ado apak sakik yang lain? Dulu pernah lo di rawat
Yang sampai dirawat? disiko, dek damam
Ado apak masalah di rumah Ado, banyak masalah samo Axis IV
atau di tamek karajo? kawan-kawan
Apo sajo masalah nyo pak? Banyak pokok nyo, kawan-
kawan tu mancari berang
se taruih
Ado yang ka apak tanyoan? Ndak ado do
Apak harus makan ubek Iyo Edukasi
taruih yo pak, yang rutin,
ndak buliah ubek nyo di
andok an do. Jago kesehatan
apak yo
Jadi pak, pemeriksaan nyo Iyo Kesimpulan
lah salasai. Tadi apak wawancara
mangacek an kalo apak di
baok ka siko dek marabo tu
maninju mama di rumah, tu
ado lo curiga ke keluarga,
samo ado mandanga susro-
suaro yang ndak tau asalnyo.
Iyo mode tu, Pak?
Terima kasih yo, Pak Samo-samo

DAFTAR PUSTAKA

1. Skizofrenia. Editor : Husny Muttaqin dan Tiara Mahatmi Nisa. Kaplan &
Sadock - Buku Ajar Psikiatri Klinis. Edisi 2. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.
2014:147-68.
2. Psikiatri : Skizofrenia (F2). Editor : Chris Tanto, Frans Liwang, dkk. Kapita
Selekta Kedokteran. Edisi 4. Jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius. 2014:910-3

38
3. Skizofrenia. Editor : I. Made Wiguna S. Kaplan - Sadock, Sinopsis Psikiatri -
Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Jilid 1. Tanggerang : Binarupa
Aksara Publisher. 2010:699-744.
4. Amir N. Skizofrenia. Dalam: Buku Ajar Psikiatri. Edisi kedua. Jakarta: Badan
Penerbit FKUI: 2014; 173: 173-203.
5. Idaiani S, Yunita I, Prihatini S, Indrawati L. Gangguan Mental Berat. Dalam:
Riset Kesehatan Dasar 2013. Indonesia: Kementrian Kesehatan RI; 2013: 125-
127.
6. Maslim R. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-
III dan DSM-5. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya:
2013; 46-48.
7. Benjamin J., Sadock MD. Virginia A. Kaplan & Sadocks Pocket Handbook of
Psychiatric Drug Treatment
8. Psychosis and Schizophrenia. Editor : Stahl, Stephen M. Antipsychotics and
Mood Stabilizers : Stahls Essential Psychopharmacology. 3rd Edition. England :
Cambridge University Press. 2008:26-34.

39