Anda di halaman 1dari 28

BAB I

SELAYANG PANDANG TENTANG OIKUMENE

1. Pengertian Oikumene

Mengomunikasikan mengenai oikumene dalam kaitan erat dengan konsep

kesatuan gereja di Indonesia secara khusus dan di dunia secara umum. Pandangan

senada dikutip dari Wikipedia bahwa Ekumenisme dapat disebut juga sebagai

oikoumenisme atau oikumenisme.

Chris Hartono menegaskan: Dengan demikian maka, gerakan ekumenis

berarti gerakan yang bersangkut-paut dengan ekumene, atau gerakan yang

bertujuan untuk mewujudkan dan menghayati keesaan gereja-gereja. Kata

Oikoumene mempunyai dua arti yang saling terkait. Dari beberapa pengertian di

atas, dapat ditarik benang merah, bahwa di dalam agama Kristen ada sebuah

konsep yang merupakan solusi untuk para pemeluknya dalam menyikapi adanya

pluralisme agama, yaitu gerakan Oikoumene.

2. Tujuan Oikumene

Oikumene bertujuan untuk mewujudkan dan menghayati keesaan gereja-gereja.

1
BAB II

OIKUMENE DAN KEESAAN GEREJA

A. Awal Mulanya Oikumene

Seperti halnya dengan kekristenan di Indonesia yang merupakan barang

impor dari Eropa, demikian juga dengan Oikumene. Para ahli sejarah gereja

cenderung memilih konferensi Pekabaran Injil Sedunia di Edinburgh, Skotlandia

1910, sebagai titik mula lahirnya gerakan Oikumene Internasional.

Pada tanggal 22 Agustus 1948 diadakan pembentukan DGD di Amsterdam,

yang merupakan penggabungan dari Gerakan Life and Work dan Gerakan Faith

and Order. Dewan ini mengadakan sidang raya I yang dihadiri oleh 351 utusan

dari 147 gereja dan di dalamnya termasuk perutusan dari Indonesia. Dewan gereja-

gereja sedunia (DGD) yang merupakan hasil dari Gerakan Oikumene, memberikan

suatu perkembangan yang baru bagi Gerakan Oikumene.

B. Kepelbagaian Arti Keesaan Gereja

Berbicara perihal Oikumene, maka juga harus berbicara mengenai Keesaan

gereja. Wujud keesaan yang dirindukan dan yang berhasil ditetapkan oleh PGI

adalah suatu gereja dengan mempunyai wadah bersama di tingkat lokal, wilayah

dan nasional yang dapat berunding, mengambil keputusan bersama; dengan

mempunyai satu pengakuan iman dan tata gereja yang berlaku bagi semua; serta

setiap gereja saling menerima, saling mengakui sebagai sama-sama wujud

pernyataan diri dari gereja Tuhan yang kudus dan am.

2
1. Keesaan Gereja secara rohani

Pandangan ini sejalan dengan pernahaman akan arti gereja yaitu adanya

gereja yang kelihatan dan gereja yang tidak kelihatan. Gereja yang

sesungguhnya yang terdiri dari orang yang percaya kepada Tuhan Yesus,

sudah mempunyai satu kesatuan dalam Kristus.

2. Keesaan gereja terletak dalam berkata dan berbuat

Seperti yang difirmankan dan diperbuat oleh Bapa dan Anak; atau

dengan kata lain, kesatuan dalam karya/tugas sesuai dengan kehendak Bapa

dan Anak. Pandangan mengenai keesaan gereja ada bermacam-macam. Maka

Lukas Vischer seorang tokoh Oikumene Internasional dalam tulisannya

mengungkapkan masih ada berbagai pandangan yang berbeda mengenai

keesaan gereja.

C. Sikap Gereja

Di dunia Internasional dan secara khusus di Amerika Serikat, gereja

menjadi ajang pergulatan pengaruh antara golongan Oikumene dan golongan Injili.

Golongan Injili mulai menjauhi gerakan Oikumene dan membuat organisasi/kubu

sendiri (di Indonesia menyebut diri PII), karena menyadari gerakan Oikumene

telah menyimpang dan menganggap tujuan Gerakan Oikumene itu utopis dan tidak

realistis. Dalam perkembangan Gerakan Oikumene di dunia Internasional memang

terjadi pergeseran dalam tujuan dan cara kerjanya. Namun jika menyimak melalui

sejarah, perintis Gerakan Oikumene adalah John R. Mott yang merupakan pendiri

Badan Misi Dunia. Gerakan Oikumene di Indonesia agak berbeda

3
perkembangannya dengan Gerakan Oikumene di dunia Internasional. Penginjilan

merupakan suatu ujian bagi gerakan Oikumene. Tugas gereja yang paling urgen

adalah penginjilan. Maka gereja-gereja seharusnya bekerja sama, bersatu untuk

penginjilan.

D. TANTANGAN DAN HAMBATAN GERAKAN OIKUMENE

Memang konflik agama dan politik merupakan bagian integral setiap yang

dialami masyarakat. Pada uraian sebelumnya, sudah disinyalir tentang adanya

tantangan dan hambatan di dalam gerakan Oikumene. Dalam bidang diskusi

Oikumene, Dewan Gereja se-Dunia telah menjadi sadar akan adanya rasa

ketidakpuasan yang cukup tersebar, terutama antara ahli-ahli kitab, tentang cara

kitab yang digunakan dalam paper-paper (kertas-kertas kerja) penelitian Oikumene

sesudah perang. Bahkan pada puncaknya, rasa ketidakpuasan itu mengakibatkan

suatu keretakan yang cukup mendalam antara ahli-ahli Evangelis dan teolog-

teolog.

Hambatan lain terlihat dari perlawanan terhadap penggabungan antara IMC

dan DGD muncul di kalangan gereja-gereja Ortodoks dan kaum Evangelikal.

Perlawanan itu juga muncul dari sikap gereja Katolik-Roma yang dengan tegas

menyatakan bahwa keesaan Kristen itu terlihat dari kepaulusan artinya Paus

sendiri adalah merupakan lambang dari oranglambang Kristen yang bersatu.

Hambatan dari dalam muncul ketika berhadapan dengan persoalan

konferensional di dalam gerakan Oikumene. Pemahaman yang lebih menjurus

menuju kepada pemahaman baru muncul pada abad pertengahan lalu, ketika kata

4
Oikumene mulai diartikan sebagai rela untuk melampaui dan mengatasi batas-

batas konfensional yang memisahkan orang-roang Kristen.

Jadi, arti dari kata Oikumene tidak lagi menunjuk kepada seuatu kenyataan,

seperti dahulu, tetapi kepada suatu tujuan yang hendak dicapai melalui suatu usaha

dan pergumulan atau melalui suatu wadah yang terorganisir dengan baik.

5
BAB III

LANDASAN ALKITAB MENGENAI OIKUMENE

Ada segudang pandangan mengenai Oikumene. Jadi mana yang benar? Tak

mudah untuk segera mendapat jawaban tetapi yang pasti dalam memahami Oikumene

dengan benar, maka Alkitablah harus menjadi satu-satunya tolok ukur.

A. Istilah Oikumene

Dr. W.H. Visser't Hufft mendaftarkan beberapa arti kata Oikumene seperti

yang didapati di dalam sejarah, yaitu Oikumene adalah seluruh dunia yang

didiami; seluruh kekaisaran Roma; gereja seluruhnya; gereja yang sah; hubungan-

hubungan beberapa gereja atau orang Kristen yang pengakuannya berbeda-beda;

usaha dan keinginan untuk mendapatkan keesaan Kristen. Dalam septuaginta, kata

Oikumene diterjemahkan dari bahasa Ibrani untuk kata dunia atau bumi.

B. Keesaan Gereja menurut Yohanes 17:20-26

Tujuan utama Gerakan Oikumene yakni terwujudnya keesaan gereja. Dan

sebagai landasan Alkitabnya sering menggunakan Yohanes 17:21. Tetapi apa yang

dimaksud kesatuan di sini? Kesatuan orang percaya dibandingkan dengan kesatuan

antara Bapa dan Anak (ay. 21a).

1) Keberadaan kesatuan di antara orang percaya dan kesatuan antara Bapa dan

Anak ada dalam kekekalan. Keduanya ini jelas sifat dasar kesatuan antara

Bapa dan Anak yang rohani dapat bersatu menghadapi dunia ini.

6
2) Kesatuan yang diutarakan oleh Berkouwer, yaitu yang dimaksud dalam bagian

ini (Yoh. 17:21).

Kedua cara/pandangan di atas mempunyai hubungan satu dengan yang

lain. Kesatuan di antara orang percaya dalam realitas itu akan mungkin karena

terlebih dahulu ada kesatuan kepercayaan dalam Kristus.

Pemahaman tentang kesatuan di antara orang percaya/gereja di atas,

hampir sejalan dengan pandangan yang dikemukakan oleh Dr. Harun Hadiwijono

yakni bahwa kesatuan yang dirindukan oleh Kristus dalam doanya itu, adalah

terletak dalam berkata dan berbuat seperti yang difirmankan dan diperbuat oleh

Bapa dan Anak: Perkataan dan perbuatan mereka harus mendemonstrasikan

Firman dan karya Kristus dan Bapa. Di situlah mereka dipersatukan dengan Bapa

dan Anak. Jikalau semua itu terjadi, maka dunia akan percaya bahwa Allah Bapa

benar-benar telah mengutus Kristus untuk menyelamatkan dunia ini.

C. Keesaan gereja menuju Kedewasaan Iman

Dalam meneropong hal ini, Firman Tuhan akan dilandaskan

menurut Efesus 4:1-16, di mana bagian ini juga sering dipergunakan para

ahli/tokoh Oikumene dalam membahas mengenai Keesaan Gereja. Keesaan atau

kesatuan gereja adalah pekerjaan Roh Kudus. Hanya pekerjaan Roh Kudus sendiri

yang memungkinkan kesatuan itu terwujud. Kesatuan di antara orang

percaya/gereja bukan merupakan tujuan akhir, melainkan kesatuan itu mempunyai

tujuan untuk pengembangan pelayanan yaitu pembangunan tubuh Kristus. Jadi

keesaan itu dapat terwujud dalam kepelbagaian karunia (ay. 11-12).

7
BAB IV

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN GERAKAN OIKOUMENE

Oikoumene adalah kata dari bahasa Yunani, yaitu Partitium Preasentis

passivum femium dari kata kerja oikeo, yang berarti tinggal, berdiman atau yang

mendiami. Oleh karena itu arti harfiah kata Oikoumene adalah yang didiami.

Kemudian kata Oikoumene juga mendapat arti politik: kekaisaran Romawi (Kis.

24:5) dan semua penduduknya (Kis. 17:6). Oikoumene sesungguhnya merupakan

istilah untuk menggambarkan keKristenan. Penggunaan dan pemahaman istilah

Oikoumene mengalami proses yang sangat dinamis.

Perpecahan itu terlihat secara nyata, pada zaman reformasi gereja Katolik

Roma untuk pertama kali (sejak Khisma dengan gereja ortodoks Yunani tahun 1054),

umat Kristen dihadapkan pada ancaman perpecahan secara besar-besaran.

Walaupun Luther dengan cepat dikucilkan dari gereja (1612), namun tetap

diusahakan mencari perdamaian dengan pengikut-pengikutnya kaum Injil demi

kesatuan kaum Kristen terhadap ancaman Turki. Usaha-usaha ini yang didorong oleh

pertimbangan-pertimbangan politik menghasilkan pembicaraan-pembicaraan agama

di Leipzig (1539), Hagenau (1540), Worms (1540) dan Regensburg Ratizbon (1561)

di wilayah kekaisaran Jerman dan Colloguium di Poissy (1561) di Perancis tetapi

persetujuan tidak dicapai. Pada puncaknya gereja ternyata menyalahgunakan

wewenangnya, antara lain karena menjual idulgensi (penghapusan siksa, dosa) dan

absolusi kepada para jemaat gereja. Hal ini menyebabkan kejengkelan para anggota

8
jemaat dan pemimpin gereja, terutama di Jerman yang dipelopori oleh Marthin

Luther.

Demikianlah sekilas gambaran penyebab perpecahan yang ada di kalangan

umat Kristen yang kemudian memunculkan konsep gerakan Oikoumene yang muncul

di kalangan orang-orang Kristen Protestan. Kembali kepada pembahasan gerakan

Oikoumene, seperti yang dijelaskan di atas, bahwa meskipun kaum Injili memisahkan

diri dari Roma, namun tetap ada kesadaran, baik di kalangan Protestan maupun di

kalangan Katolik-Roma bahwa satu warisan menjadi milik bersama, yaitu warisan

gereja kuno. Pada abad ke-17 dan ke-18 pertama-tama usaha-usaha dari abad

reformasi dilanjutkan. Dapat disebutkan dua macam usaha, yang pertama dalam

mencari titik persatuan dalam warisan gereja kuno.

Usaha kedua, adalah untuk merumuskan semacam daftar pasal-pasal iman

yang dianggap azazi untuk iman Kristen (artikel-artikel fundamental), yang harus

diterima secara mutlak, sedangkan pasal-pasal iman yang dianggap tidak azazi tidak

boleh menjadi alasan perpecahan di antara orang-orang Kristen. Metode ini antara

lain diusahakan oleh John Dury (Duraeus, 1595 1680).

Usaha pertama seperti dikatakan di atas, terlalu intelektualistis untuk diterima

secara umum di gereja-gereja, sedangkan untuk usaha kedua waktunya belum

matang. Gereja-gereja masih terlalu mengindahkan rumusan-rumusan konfesional

masing-masing.

Usaha ketiga adalah apa yang disebut Voluntary Movement (gerakan-gerakan

sukarela). Gerakan ini mempunyai pandangan, bahwa bukan konferensi gereja yang

9
penting, melainkan iman murni kepada Juruselamat. Usaha yang keempat berkaitan

dengan yang ketiga, yaitu usaha untuk bekerjsama di bidang pengabaran Injil

1. Pengabaran Injil di seluruh dunia;

2. Gereja di lapangan pengabaran Injil;

3. Pendidikan dan pengkristenan;

4. Berita Kristen dan agama-agama bukan Kristen;

5. Persiapan para pengabar Injil;

6. Hubungan dengan pangkal di dalam negeri (homebase).

Hubungan dengan pemerintah; kerjasama dan keesaan. Disepakati untuk

menunjuk suatu continuation committe (Panitia penerus, panitia yang melanjutkan)

yang diberi tugas meneliti kemungkinan-kemungkinan untuk membentuk suatu

panitia pengabaran Injil internasional.

Keputusan ini di kemudian hari ternyata berarti langkah awal di sejarah

Oikoumene, sehingga konperensi pengabaran Injil sedunia di Edinburg 1910 dilihat

sebagai saat kelahiran gerakan Oikoumene.

A. Edinburg I: International Missionary Council 1921-1961

Continuation committe yang ditunjuk di Edinburg 1910 mulai

pekerjaannya, namun karena pecahnya perang dunia pertama (1914-1918)

pembentukan panitia pengabaran Injil terlambat. Baru pada tahun 1921 di Lake

Mohorik, New York, dapat didirikan Internasional Missionary Council (IMC),

Dewan Pengabaran Injil Internasional yang berpusat di London dan New York

10
ketuanya adalah John Mott, sekretarisnya J.H. Oldham, Meskipun demikian masih

terlihat adanya usaha baik untuk kesatuan orang-orang Kristen ataupun kesatuan

pengabaran Injil, hal ini terlihat dari terlaksananya komperensi yang dipelopori

oleh International Missionary Council (IMC) di Yerussalem, 23 Maret-8 April

1928. Jumlah peserta dari gereja-gereja muda (istilah-istilah yang dipergunakan

untuk pertama kali) adalah 50, seperlima dari 250 peserta. Dari Indonesia T.S.

Gunung Mulia yang hadir. Gagasan komprehensif bertolak dari pendapat bahwa

Injil menyangkut seluruh manusia, yaitu jiwanya, hubungannya dengan sesama

manusia dan dunia sekitarnya. Pengabaran Injil juga termasuk pekerjaan seosial,

medis, pendidikan, singkatnya kegiatan-kegiatan yang mencakup segala bidang

kehidupan (pelayanan total dengan Injil total, kepada manusia total).

Usaha kedua, terlihat di Tambaran 12-29 Desember 1938. Di sini

perwakilan gereja-gereja muda seimbang dengan perwakilan gereja-gereja tua.

Usaha ketiga, diadakannya komperensi Whitby (Kanada), 5-24 Juni 1947. Usaha

keempat, konperensi Willingen (Jerman) 5-12 Juli 1952, dengan tema The

Missionary Obligation of the Church (kewajiban gereja untuk mengabarkan Injil).

Kalau kita meninjau kembali sejarah IMC sampai Achimota, perubahan

zaman dapat dilihat dalam pokok-pokok pembahasan dan tema-tema sebelum

perang dunia kedua dapat dilihat pengaruh dekolonisasi dan nasionalisme di dunia

ketiga pada kalangan perkabaran Injil.

11
B. Edinburg II: Gerakan Faith and Order (iman dan tata Gereja)

Komperensi pekabaran Injil sedunia di Edinburg (1910) adalah komperensi

untuk membicarakan soal-soal yang dihadapi bersama di bidang perkabaran Injil.

Untuk usaha menyelenggarakan suatu konperensi sedunia mengenai iman

dan tata negara (world conference in Faith and Order) dipelopori oleh Charles

H. Brent (1862-1929) seorang uskup dari Protestan Episcopal Church di

Amerika. Tujuan Faith and Order, yang dirumuskan oleh Brent, adalah jalan

menuju keesaan gereja. Konperensi persiapan sempat diadakan di Amerika,

tetapi baru sesudah perang dunia pertama panitia dapat mengunjungi Eropa. Akan

tetapi selama perang di Amerika penitia tetap bekerja untuk mempersiapkan

usaha-usaha lebih lanjut sesudah perang. Pada tahun 1919 delegasi dari Episcopal

Churgh pergi ke Eropa dan mengunjungi banyak gereja, yaitu gereja Anglikan,

gereja-gereja Kristen, tetapi juga gereja-gereja ortodoks dan gereja Katolik Roma.

Dari 12-20 Agustus 1920 diadakan di Jenewa konperensi persiapan untuk

konperensi sedunia mengenai iman dan tata gereja. Diundang wakil-wakil dari

panitia-panitia dan komisi yang ikut serta dalam pekerjaan panitia Episcopal

Church. Pada 3-20 Agustus 1927 konperensi pertama Faith and Order

diselenggarakan di Lausanne, Swis, dengan Brent sebagai ketua dan A.E. Garwie

sebagai wakil ketua (karena kesehatan Brent terlalu lemah) yang hadir 394 orang,

sebagian besar mewakili 108 gereja dari semua latar belakang konperensional

kecuali Katolik Roma.

12
Dibicarakan beberapa pokok yang telah dipersiapkan oleh continuation

committee Jenewa, yaitu:

a. Panggilan Untuk Keesaan

b. Amanat Gereja Bagi Dunia Injil

c. Sifat Gereja

d. Pelayanan Gereja

e. Sakramen-Sacramen

f. Keesaan Kekristenan dan tempat gereja-gereja yang berbeda di dalamnya,

tentu masih banyak perbedaan pendapat sehingga konperensi lebih sibuk

dengan inventarisasi perbedaan-perbedaan.

Pada konperensi Faith and Order yang pertama perbedaan yang paling

banyak dibicarakan adalah pertanyaan pokok. Komperensi Faith and Order yang

kedua diadakan di Edinburg dari 3-10 Agustus 1937 yang hadir adalah 504

peserta, 443 wakil resmi dari gereja-gereja dan tamu-tamu. Pokok-pokok yang

dibicarakan:

1. Kasih Karunia Tuhan Kita Yesus Kristus

2. Gereja Kristus dalam firman Allah

3. Gereja kristus adalah pelayanan dan sakramen-sakramen

4. Keesaan gereja di dalam kehidupan dan peribadatan

5. Persekutuan orang-orang kudus

Jelas suasana di gerakan Faith and Order telah menjadi lebih terbuka.

Pembicaraan tentang perbedaan-perbedaan lebih terbuka juga tentang kasih

karunia Kristus dicapai kesepakatan. Di Edinburg, ekklesiologi merupakan pokok

13
diskusi yang paling hangat. T. Tatlow, seorang teolog dari gereja Anglikan yang

terlibat dalam Faith and Order, menyebutkan 12 hal sebagai hasil gerakan Faith

and Order antara lain:

1. Faith and Order berhasil menciptakan suasana dimana wakil-wakil dari

gereja-gereja yang berbeda-beda dapat berdiskusi bersama pokok-pokok yang

sensitif;

2. Peserta-peserta konperensi-konperensi Faith and Order mengalami keesaan

rohani dalam Kristus, tanda una sancta (gereja yang satu dan kudus) yang

dikejar;

3. Faith and Order menyadarkan peserta bahwa perpecahan-perpecahan gerejani

bukan hal biasa melainkan dosa;

4. Dimulai proses perkenalan; orang belajar menganai tradisi-tradisi yag sangat

berbeda dari gereja asal mereka, dan sekaligus menyadari dengan lebih dalam

warisan gereja sendiri;

5. Tumbuh kesadaran bahwa di belakang perbedaan-perbedaan besar ada

keesaan, seperti menjadi nyata dalam pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan

di Lausanne dan Edinburg;

6. Pernyataan ini bukan hasil kompromi, sebab perbedaan-perbedaan tidak

disembunyikan.

7. Ternyata sulit bagi gereja-gereja untuk merumuskan apa yang membedakan

mereka, namun jelas bahwa gereja, jabatan serta sakramen dan kasih karunia

merupakan persoalan pokok;

14
8. Yang menjadikan diskusi mengenai pokok-pokok di atas sulit, adalah

kenyataan bahwa teologi gereja berakar dari kehidupannya. Orang tidak dapat

mengganti teologi gereja lain, kalau mereka tidak ikut serta dalam

kehidupannya;

9. Berhubungan dengan itu semakin disadari bahwa faktor-faktor non teologis

(historis, sosial, ekonomi, etnis) memainkan peranan penting dalam perbedaan-

perbedaan antara gejala-gejala;

10. Karena pengaruh faktor-faktor non teologis ini, maka sulit untuk menentukan

sampai dimana diskusi-diskusi teologis di Faith and Order memajukan

persatuan antara gereja-gereja dan memainkan peranan dalam persatuan-

persatuan yang terjadi. Faith and Order sendiri tidak mau menyatukan gereja-

gereja, hanya mendorong gereja-gereja untuk bersatu;

11. Faith and Order memajukan hubungan Oikumene antara teolog-teolog dari

gereja-gereja yang berbeda;

12. Gerakan Faith and Order memperlihatkan perkembangan-perkembangan

menuju keesaan yang terjadi di banyak gereja yang masih terjadi.

Segi kuat dari Faith and Order adalah bahwa sejak awalnya sudah

melibatkan gereja-gereja dalam pembicaraan-pembicaraannya dan untuk

memperoleh bagi peserta-peserta status wakil resmi dari gerejagereja mereka

masing-masing.

15
C. Edinburg III: Gerakan Life and Work (Kehidupan dan Usaha) 1919-1937;

World Alliance 1914-1948

Pra sejarah Life and Work terdapat dalam aksi Kristen dibidang sosial pada

abad ke-19, banyak organisasi Kristen melibatkan diri dalam aksi sosial pada

waktu itu. Timbullah kesadaran bahwa dalam menghadapi soal sosial orang-orang

Kristen harus bekerjasama.

Seorang pelopor yang patut disebut adalah J.H. Wicher (1808-1881) yang

terlibat dalam pekabaran Injil. Gerakan kekristenan praktis bekerja pada dua

bidang yaitu, bidang sosial ekonomi dan bidang perdamaian internasional.

Sebagai contoh dapat disebut tokoh-tokoh sosialisme Kristen di Swiss,

Hermann Kutter (1869-1931) dan Leonhard Ragas (1868-1945), dan gerakan

sosial Gospel (Injil Sosial) dengan pelopornya Water Raunchenbusch (1861-1918)

di Amerika Serikat. Di bidang perdamaian internasional diusahaka untuk

menonjolkan peranan bersama gereja-gereja dalam mencari penyelesaian

persoalan-persoalan politik. World Alliance adalah salah satu organisasi di bidang

ini. Sejarah lahirnya Life and Work berhubungan erat dengan suatu organisasi

Kristen Internasional yang lain yaitu World Alliance for Promoting International

Friendship Through the Churches (persekutuan sedunia untuk memajukan

persahabatan internasional melalui gereja-gereja) yang didirikan pada tahun 1914-

1948.

16
Lima pokok dibicarakan oleh Nicaea Etika ini (penunjuk kepada konsili

Oikoumene) yakni:

1. Kewajiban umum gereja dalam terang rencana Allah bagi dunia

2. Gereja dan masalah-masalah ekonomi dan industri

3. Gereja dan hubungan-hubungan internasional

4. Gereja dan pendidikan Kristen

5. Metode-metode tentang usaha-usaha kerjasama dan federasi oleh persekutuan-

persekutuan Kristen

Gerakan untuk kehidupan dan usaha telah dimengerti, juga bahwa dalam

memperbincangkan masalah-masalah praktik, perbedaan ajaran perlu diperhatikan.

Pada tahun 1937 gerakan ini mengadakan lagi suatu konperensi sedunia, sekarang

di Oxford (dihadiri oleh 425 wakil dari 40 negeri). Di Praha ditentukan bahwa

world Alliance mencoba mempengaruhi melalui dewan-dewan gereja-gereja

nasional dan kerjasama antar gereja-gereja, parlemen-parlemen dan pemerintah-

pemerintah untuk mencari hubungan baik dan damai dengan negara-negara lain.

Usaha-usaha yang diperlukan adalah:

1. Memperjuangkan kebebesan agama-agama;

2. Melawan halangan untuk gereja-gereja, sekolah-sekolah dan institusi-institusi

Kristen;

3. Mencari penyelesaian untuk konflik-konflik gerejani dan politik yang

memecahkan gereja-gereja;

4. Memajukan hubungan-hubungan persahabatan internasional antara gereja-

gereja dan jemaat-jemaat;

17
5. Mencari perdamaian;

6. Mendukung usaha-usaha yang memajukan keadilan dalam hubungan antar

bangsa.

Segi Faith and Order dan Life and Work serta world Alliance dalam

gerakan Oikoumene dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Dalam sejarah

gerakan tersebut juga dapat disimpulkan bahwa kerjasama praktis lebih mudah

dibanding dengan kesepakatan teologis jelas dari sejarah Oikumene, tetapi juga

tidak semata-mata karena doctrine devides but service unites (ajaran

memisahkan tetapi pelayanan memersatukan). Ajaran menyangkut akar-akar iman,

sehingga khususnya di sana kesepakatan sulit tercapai.

D. IMPLIKASI GERAKAN OIKUMENE

Dari pembicaraan mengenai sejarah dan perkembangan gerakan Oikumene,

dapat ditemukan adanya perubahan atau pergeseran pemahaman gerakan

Oikumene. Untuk lebih jelasnya pembahasan tentang implikasi gerakan Oikumene

akan terlihat dari uraian berikut.

Istilah Oikoumene mulai muncul dari berabad-abad yang lalu. Oikumene

digunakan untuk menyebut wilayah persatuan orang-orang Kristen di lingkungan

kerajaan Romawi. Usaha dari masa reformasi ini terus diupayakan pada abad ke-

17 sampai pada abad ke-19. Pada masa ini orang-orang Kristen berbicara tentang

gereja di seluruh dunia, yaitu dunia mediterranian kuno.

Pada abad ke-20 kata Oikoumene memperoleh makna yang baru, kata ini

diterapkan pada kelahiran gerakan baru untuk menjembatani erpecahan historis

18
gereja-gereja Kristen yang berbeda, untuk mengekspresikan penyatuan keimanan

orang Kristen dengan keseluruhan dunia yang di dalanmnya terdapat banyak

agama selain agama Kristen.

Sebelum perang dunia II, gerakan Oikumene sangat ditekankan pada

penyatuan dalam tindakan-tindakan di dunia. Walaupun hal itu penting sekali,

tetapi tidak dapat dihindari kesan bahwa dengan demikian persoalan-persoalan

eklesiologis sedikit dihindari. Penting untuk perkembangan pemahaman mengenai

Oikumene adalah pernyataan yang ditetapkan oleh Sidang Raya di New Delhi

yang biasanya dikutip sebagai pernyataan All In Each Place.

Bertolak dari pemahaman ini, gereja-gereja mulai mencari perluasan dasar

keesaan dan perwujudan keesaan yang nampak pada penerimaan pihak-pihak lain,

baik yang berasal dari gereja lain maupun dari agama-agama lain. Disadari bahwa

keesaan yang nampak secara sempurna tidak mungkin segera tercapai, tetapi

hanya terwujud melalui suatu proses. Tahap pertama adalah Cooperative Action,

aksi bersama. Tahap kedua adalah Mutual Recognition and Intercommonion,

yaitu saling mengakui dan merayakan perjamuan Kudus bersama. Tahap terakhir

dan tujuan utama dalam mengusahakan keesaan gereja adalah Corperate or

Organic Union , yang dipahami sebagai keesaan dalam keanekaragaman

sebagaimana terdapat dalam suatu tubuh. Setiap anggota tubuh memiliki ciri yang

berbeda-beda, tetapi tetap anggota seluruh tubuh, sedangkan keesaan tubuh tidak

menghalangi keanekaragaman dalam karunia-karunia yang dimiliki masing-

masing anggota.

19
Dalam makalahnya Ecumenis as Reflections on Models of Cristian Unity

(Oikuomene sebagai refleksi tentang model-model keesaan Kristen), Paul Crow

menyebut lima model keesaan gereja yang telah dikembangkan di kalangan

Oikumene. Istilah Corporate dipakai untuk menolak keseragaman. Ditekankan

tugas panggilan yang harus dilakukan bersama, dan diharapkan bahwa setiap

gereja dapat mengembang pada pelaksanaan tugas ini sesuai dengan ciri khas

masing-masing gereja. Model ketiga adalah Reconciled Diversity, kepelbagaian

yang diperdalam. Istilah ini muncul pada tahun 70-an di kalangan World

Confensional Familier. Dari uraian di atas jelas bahwa pemahaman mengenai

Oikumene mengalami perubahan. Dua macam pergeseran dapat diamati. Pertama

terlihat pergeseran dari keseragaman ke arah keanekaragaman.

Pergeseran kedua adalah pergeseran dari segi institusional kepada segi

pelayanan. Dirasa bahwa mencari kesepakatan mengenai ajaran, tata gereja, dan

sebagainya masih terlalu melihat gereja terlepas dari dunia.

1. Tujuan internal di kalangan orang-orang Kristen yang terpecah dengan

mengupayakan kesatuan. Kesatuan yang dimaksud bukanlah terwujud ketika

di dunia ini hanya terdapat satu gereja saja, melainkan kesatuan dalam hal

pengakuan iman;

2. Untuk mendapatkan kesepakatan dalam bertindak atau sikap keberagamaan

umat Kristen terhadap umat beragama lain untuk bersama-sama mewujudkan

perdamaian dunia.

20
E. Pembentukan Dewan Gereja-gereja Sedunia 1937-1948 Sebagai Lembaga

Gerakan Oikumene

Gagasan-gagasan untuk mendirikan suatu dewan gereja-gereja mulai

dikemukakan sejak perang dunia pertama. Semangat untuk mendirikan dewan

karena dirasa perlu untuk mendirikan suatu persekutuan gereja-gereja sebagai jiwa

untuk kerjasama antara bangsa-bangsa.

Namun suatu persekutuan waktu untuk itu belum tiba. Kedua organisasi

Oikumene yang mempunyai relasi yang paling resmi dengan gereja-gereja, Faith

and Order dan Life and Work, dua-duanya merasa bahwa sebaiknya kedua

organisasi untuk sementara waktu bekerja secara terpisah supaya tujuan mereka

bersama, yaitu mempersatukan gereja-gereja jangan dibahayakan. Akan tetapi

sejak tahun 1928 iklim berubah dan orang mulai mencari jalan untuk mewujudkan

kerjasama yang lebih akrab. Sejak 1933 organisasi-organisasi Oikumene seperti

Faith and Order dan Life and Work, bersama dengan IMC, Worl Alliance, WSCF

dan YMCA sedunia mulai membicarakan kemungkinan untuk mendirikan suatu

organisasi Oikumene yang menckaup semua bidang pelayanan gereja.

Faktor-faktor yang mendukung perkembangan ini adalah resesi ekonomi

dan keadaan politik internasional. Yang menjadi pelopor usaha ini adalah William

Temple dari gerakan Faith and Order, yang mengusulkan pada tahun 1935 untuk

membentuk suatu dewan Oikoumene internasional gereja-geerja, dan Joseph

Oldham yang pada tahun 1936 mengusulkan dalam rapat Life and Work bahwa

konperensi Life and Work di Oxford dan konperensi Faith and Order di Edinburg

dimanfaatkan juga untuk membicarakan masa depan gerakan Oikoumene. Baik di

21
Oxford maupun Edinburg menerima rencana ini dan masing-masing sidang

menunjuk tujuh wakil dan tujuh pengganti untuk duduk dalam panitia empat belas

yang harus mempersiapkan Dewan gereja-gereja sedunia dan mencari dukungan

gereja-gereja untuk rencana ini.

Rencana untuk mengadakan sidang raya DGD yang pertama pada tahun

1941 digagalkan karena perang dunia kedua (1939-1945). Diusahakan untuk

menolong pengungsi-pengungsi, khususnya orang-orang Yahudi, yang melarikan

diri ke Swis, juga diusahakan, bersama dengan organisasi-organisasi Kristen dan

umum (seperti palang merah) untuk membantu dimana saja bantuan diperlukan.

Untuk tawanan-tawanan perang diadakan persediaan literatur Kristen yang dapat

dipakai untuk ibadah-ibadah di kamp-kamp tawanan. Didirikan Departement of

Reconstruction and Inter Church Aid (Departemen Rekontruksi dan Bantuan

Antar Gereja) untuk pembangunan sesudah perang. Karena semua kegiatan ini

hubungan antara gereja-gereja di negara-negara yang berperang tidak terputus.

Hal ini berbeda dengan perang dunia pertama, ketika gereja-gereja begitu

mendukung pemerintahannya masing-masing sehingga hubungan dengan orang-

orang Kristen dari pihak lain hampir dianggap penghianatan. Pada tahun 1948

DGD didirikan yang merupakan a fellowship of churches which accept our Lord

Jesus Christ as God and saviar (persekutuan gereja-gereja yang menerima Tuhan

kita Yesus Kristus sebagai Allah dan Juruselamat). Sidang raya DGD II diadakan

di Evanston (USA dekat Chicago) 15-31 Agustus 1954.

22
Ada enam saksi, yaitu:

1. Iman dan tata gereja keesaan kita dalam kristus dan perpecahan kita

sebagai gereja

2. Penginjilan Pengabaran Injil gereja kepada orang-orang yang ada di luar

kehidupannya

3. Masalah-masalah sosial masyarakat yang bertanggung jawab di dalam

perspektif seluruh dunia

4. Perkara-perkara internasional orang-orang Kristen dalam pergumulan

terhadap masyarakat Dunia

5. Hubungan-hubungan antar kelompok gereja di tengah-tengah ketegangan

ras dan suku

6. Kaum awam orang Kristen dalam panggilannya

Sidang raya DGD III New Delhi (19 Noveber-15 Desember 1961)

adalah sidang raya pertama yang diadakan di luar dunia Barat. Oleh sebab itu

sangat disadari bahwa di dunia masih banyak agama lain dan bahwa gereja

berada di tengah-tengah dunia dengan banyak agama dan banyak kebudayaan.

Temanya adalah Jesus Christ, the light of the world.

Beberapa peristiwa penting yang terjadi pada sidang raya New Delhi:

1. Penggabungan antara IMC dan DGD. Kerjasama antara kedua lembaga

Oikumene ini sejak permulaan erat dan telah menjadi semakin erat,

sehingga central committe DGD pada rapatnya di New Hoven,. Amerika

Serikat (1957) dan IMC pada konperensi di Graha (1958) telah

memutuskan untuk bergabung. Dalam penggabungan ini menjadi nyata

23
bahwa gereja-gereja Barat dan gereja-gereja dari Asia serta Afrika sama

penting di gerakan Oikumene.

2. Gereja-gereja Ortodoks Rusia, Rumania, Bulgaria, Polandia menjadi

anggota, sehingga unsur ortodoks sangat diperkuat (sebelumnya hanya

gereja Ortodoks Yunani yang menjadi anggota) dan menjadi lebih nyata

bahwa gerakan Oikumene bukan hal Kristen saja.

3. Selain itu beberapa gereja dari dunia ketiga menjadi anggota dan juga satu

gereja Pentakosta dari Chili. Dengan demikian keanggotaan DGD

diperluas ke arah dunia ketiga dan ke arah kekristenan Pentakostal.

4. Karena gereja-gereja ortodoks menjadi anggota DGD, dirasa perlu untuk

memperluas dasar DGD. Dasar 1948 berbunyi: persekutuan gereja-gereja

yang mengaku Tuhan kita Yesus Kristus sebagai Allah dan Juruselamat

sesuai dengan Alkitab dan oleh sebab itu mencoba memenuhi panggilan

mereka demi kemuliaan Allah yang Esa, Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

5. Hadir untuk pertama kali pada sidang raya DGD peninjau-peninjau dari

gereja Katolik-Roma, sebagai hasil sikap lebih terbuka gereja ini.

6. Didiskusikan apakah DGD harus membicarakan soal-soal politik yang

menyebabkan perbedaan pendapat antara gereja-gereja anggota, seperti

soal Israel, yang membedakan gereja-gereja Barat dan gereja-gereja Arab,

dan masalah Afrika Selatan (Apartheid; pembunuhan orang-orang hitam

dalam peristiwa sharpeville, 1960).

7. Di keluarkan pernyataan tentang keesaan Oikoumene gereja-gereja yang

biasanya dikutip sebagai All in Each place. Penting untuk dicatat bahwa

24
melalui dokumen ini DGD untuk pertama kalinya menunjuk ke arah mana

keesaan gereja dapat diwujudnyatakan.

8. gerakan-gerakan kemerdekaan.

Ada lima seksi yaitu:

1. Roh Kudus dan katolisitas gereja

2. Pembaharuan dalam perkabaran Injil

3. Ekonomi dunia dan perkembangan masyarakat

4. Menuju keadilan dan perdamaian dalam perkaraperkara internasional

5. Menuju gaya hidup baru, seksi ini membahas lingkungan hidup,

penghematan dan pendobrakan pola hidup yang konsumtif.

Sidang raya DGD V diadakan di Nairobi, Kenya, dari 23 Novmeber-10

Desember 1975. yang hadir sekitar 2300 orang, diantaranya 676 utusan resmi

286 gereja anggota. Untuk pertama kalinya utusan-utusan/wakil-wakil dari

agama lain diundang. Ada enam seksi yaitu:

1. Confessing christ today, mengaku Kristus dewasa ini (perkabaran Injil).

2. What unity requires, apa yang dibutuhkan oleh untuk keesaan.

3. Seeking community, mencari persekutuan (dialog antar

kepercayaankepercayaan, kebudayaan-kebudayaan dan ideologi-ideologi).

4. Education for Liberation and community (pendidikan untuk pembebasan

dan persekutuan).

5. Structures of injustice and struggles for liberation (struktur-struktur

ketidakadilan dan perjuangan-perjuangan untuk pembebesan).

25
6. Human development, pembangunan manusia (kekuasaan, teknologi,

kualitas hidup).

Sidang raya DGD VI diadakan di Vancouver, Kanada, 24 Juli-10

Agustus 1983, yang hadir sekitar 3000 peserta, diantaranya wakil-wakil 314

gereja. Temanya adalah Jesus christ, the life of the world (Yesus Kristus,

kehidupan dunia). Tema ini dibahas dalam 8 seksi yaitu:

1. Witnessing in a Devided world, bersaksi dalam dunia yang terbagi-bagi

(pekabaran Injil);

2. Taking steps toword unity, mengambil langkah-langkah menuju keesaan;

3. Moving toward participation, bergerak menuju ke partisipasi (dibahas

diskriminasi, pengangguran, emansipasi wanita);

4. Heading and sharing life in community, menyembuhkan dan membagikan

kehidupan di dalam persekutuan;

5. Confronting threats ti peace and survival, menghadapi ancaman-ancaman

demi perdamaian dan kelangsungan hidup;

6. Struggling for justice and human dignity, berjuang demi keadilan dan

martabat manusia;

7. Learning in community, belajar dalam persekutuan (pendidikan);

8. Communicating with conviction, berkomunikasi dengan keyakinan.

26
BAB V

APLIKASI KONSEP GERAKAN OIKUMENE

Lahirnya gerakan Oikumene membawa angin segar untuk dapat mewujudkan

perdamaian dan kerukunan antar umat beragama. Meskipun implikasi dari konsep

gerakan Oikumene beranekaragam melalui serangkaian proses dalam mencari format

yang tepat sesuai dengan perkembangannya, namun aplikasinya sudah dirasakan

manfaatnya.

Hal ini terlihat pada tahun-tahun perang, kontak Oikumene itu telah

menunjukkan manfaat yang sangat besar di dalam praktiknya. Dari pusat organisasi-

organisasi Oikumene di Jenewa, dan juga oleh gereja-gereja sendiri banyak

pertolongan diberikan kepada kaum pengungsi, orang-orang tawanan dari daerah

Zending yang ditinggalkan dengan tidak mempunyai pengantar-pengantar, juga

mengadakan hubungan antar negara-negara yang terpisah oleh garis peperangan.

Selain manfaat yang telah disebutkan di atas, gerakan ini menimbulkan

gagasan untuk mengadakan dialog dengan umat beragama lain. Timbul kesadaran

bahwa kesaksian mengenai Kristus bukan gerakan satu arah saja, dari yang bersaksi

kepada yang menerima saksi ini, seakan-akan orang Kristen sudah tahu segala-

galanya dan orang-orang yang bukan Kristen tidaki tahu apa-apa. Orang-orang bukan

Kristen juga mempunyai iman serta keyakinan dan tidak mungkin memberitakan Injil

tanpa memberi perhatian penuh kepada keyakinan dan iman ini.

Hal itu pada saat sekarang menumbuhkan ide Oikumene global, yang tidak

hanya membawa bentuk penyatuan antara orang-orang Kristen tetapi juga penyatuan

27
seluruh keyakinan yang berbeda di dunia. Dialog antar iman antar anggota keimanan

yang berbeda telah meningkatkan kesadaran dimensi global dalam persoalan agama

Gagasan untuk mengadakan dialog dengan orang-orang dari agama lain

sebenarnya terdengar sejak permulaan gerakan Oikumene pada konperensi pekabaran

Injil di Edinburgh (1910) dan dapat didengar juga pada konperensi IMC di

Yerussalem (1928) dan Tambaran (1938).

Dalam diskusi tentang peranan orang-orang Kristen di Nattion-Building

timbul kesadaran bahwa selain ideologi juga agama memainkan peran penting. Pada

tahun 1967 diadakan konsultasi di Kandy (Sri Langka) tentang Christians in

Dialogue With Man of Other Faiths (orang-orang Kristen dalam dialog dengan

orang-orang yang berkepercayaan lain). Pada tahun 1970 untuk pertama kalinya dapat

diadakan konsultasi dengan penganut agama-agama lain (Hindu, Budha, Islam) yang

diadakan di kota Ajaltun di Libanon. Sebelumnya hanya diadakan konperensi-

konperensi bilateral khususnya dengan orang-orang Islam (Bharndoun, Libanon

1955; Alexaderia, Mesir 1955, diadakan World Fellowship of Muslim and

Christians, persekutuan orang-orang Islam Kristen sedunia. Pada tahun 1971

diputuskan untuk membentuk sub unit khusus, dalam unit Faith and Witness untuk

dialog dengan nama Dialogue With People of Ulang Faiths and Ideologies, yang

diperoleh oleh Sumartha.

28