Anda di halaman 1dari 34

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

keperawatan komunitas merupakan suatu sistem dari praktek keperawatan dan praktik
kesehatan masyarakat yang diterapkan untuk meningkatkan serta memelihara kesehatan
penduduk.

Seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya kebutuhan pelayanan kesehatan


menuntut perawat saat ini memiliki pengetahuan dan keterampilan di berbagai bidang.
Saat ini dunia keperawatan semakin berkembang, dimana perawat memiliki peran yang
lebih luas dengan penekanan pada peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit, juga
memandang klien secara komprehensif. Perawat dianggap sebagai salah satu profesi
kesehatan yang harus dilibatkan dalam pencapaian tujuan pembangunan kesehatan baik di
dunia maupun di Indonesia.

Dalam menjalankan visi misinya tentu perawat komunitas memiliki peran dan fungsi.
Diataranya Peran yang dapat dilaksanakan adalah sebagai pelaksana pelayanan
keperawatan, pendidik, koordinator pelayananan kesehatan, pembaharu(innovator),
pengorganisasian pelayanan kesehatan (organizer), panutan (role model), sebagai
fasilitator (tempat bertanya), dan sebagai pengelola (manager). Selain peran perawat juga
memiliki fungsi, diantaranya adalah fungsi independen, fungsi dependen dan fungsi
interdependen. Dengan tanggung jawab fungsi dan peran tersebut kehadiran perawat
diharapkan mampu meningkatkan status kesehatan masyarakat indonesia.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apakah definisi Keperawatan Komunitas ?

1.2.2 Bagaimanakah Sejarah Perkembangan Keperawatan Komunitas Indonesia ?

1.2.3 Apakah Tujuan Keperawatan Komunitas ?

1.2.4 Bagaimana Peran Perawat Komunitas ?

1
1.2.5 Apa sajakah Fungsi Keperawatan Komunitas ?

1.2.6 Apakah pengertian Komunitas Sebagai Klien serta penatalaksanaannya dalam praktik
keperawatan komunitas ?

1.3 Tujuan

1.3.1 Untuk mengetahui definisi keperawatan komunitas

1.3.2 Untuk mengetahui sejarah perkembangan keperawatan komunitas indonesia

1.3.3 Untuk mengetahui tujuan keperawatan komunitas

1.3.4 Untuk mengetahui peran perawat komunitas

1.3.5 Untuk mengetahui fungsi keperawatan komunitas

1.3.6 Untuk mengetahui pengertian komunitas sebagai klien serta penatalaksanaanya dalam
praktik keperawatan komunitas.

1.4 Manfaat

Dengan disusunnya makalah yang berjudul konsep keperawatan komunitas diharapkan


mahasiswa dapat memahami konsep keperawatan komunitas serta mampu
mengaplikasikan asuhan keperawatan komunitas dengan baik dan benar

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Definisi komunitas

Para ahli mendefinisikan komunitas dari berbagai sudut pandang, yaitu sebagai berikut :

1. Komunitas berarti sekelompok individu yang tinggal pada wilayah tertentu, memiliki
nilai-nilai keakinan dan minat yang relatif sama, serta berinteraksi satu sama lain
dengan mencapai tujuan.

2. WHO tahun 1974 mendefinisikan komunitas sebagai suatu kelompok sosial yang
ditentukan oleh batas-batas wilayah, nilai-nilai keyakinan dan minat yang sama, serta

3
ada rasa saling mengenal dan interaksi antara anggota masyarakat yang stu dan yang
lainnya.

3. Spradley (1985), komunitas sebagai sekumpulan orang yang saling bertukar


pengalaman penting dalam hidupnya.

4. Koentjaradiningrat (1990), komunitas sebagai suatu kesatuan hidup manusia yang


menempati suatu wilayah nyata dan berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat,
serta terikat oleh rasa identitas suatu komunitas.

5. Sounders (1991), komunitas sebagai tempat atau kumpulan orang-orang atau sitem
sosial.

Definisi keperawatan komunitas

1. Menurut WHO (1959), keperawatan komunitas adalah bidang perawatan khusus yang
merupakan gabungan keterampilan ilmu keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat dan
bantuan sosial, sebagai bagian dari program kesehatan masyarakat secara keseluruhan
guna meningkatkan kesehatan, penyempurnaan kondisi sosial, perbaikan lingkungan
fisik, rehabilitasi, pencegahan penyakit dan bahaya yang lebih besar ditujukan kepada
individu, keluarga yang mempunyai masalah dimana hal itu mempengaruhi
masyarakat secara keseluruhan

2. American Nursis Association (1973), keperawatan komunitas merupakan suatu sistem


dari praktek kepeawatan dan praktik kesehatan masyarakat yang diterapkan untuk
meningkatkan serta memelihara kesehatan penduduk.

3. WHO (1974), keperawatan komunitas adalah kesaatuan mencakup perawatan


kesehatan kerluarga (nurse health family) juga kesehatan dan kesejahteraan
masayarakat luas, membantu masyarakat tersebut sesuai dengan kemampuan yang ada
pada mereka sebelum mereka meminta bantuan kepada orang lain.

4. Ruth B.Freeman (1981), keperawtan komunitas adalah kesatuan yang unik dari
praktik keperawatan dan kesehatan masayarakat yang ditujukan pada pengembanagn
serta peningkatan kemampuan kesehatan, baik diri sendiri sebagai perorangan
maupun secara kolektif sebagai keluarga, kelompok khusus, atau masyarakat.
Pelayanan kesehatan untuk masyarakat.

4
5. Departmen kesehatan RI (1986), keperawatan kesehatan masyarakat adalah suatu
uapaya pelayanan keperawatan yang merupakan bagian integral dari pelayanan
kesehatan yang dialaksanakan oleh perawat dengan mengikutsertakan tim kesehatan
lainnya dan masyarakat untuk memperoleh tim kesehatan individu, keluaraga, dan
masyarakat yang lebih tinggi.

6. Pradley (1985), Logan dan Dawkin (1987), keperawtan komunitas adalah pelayanan
keperawatan profesional ynag ditujukan kepada masyarakat dengan penekanan pada
kelompok resiko tinggi, dalam upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal yang
melalui pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan. Dengan menjamin
keterjangkauan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan, jugan melibatkan klien sebagai
mitra dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pelayanan keperawatan

7. Rapat Kerja Keperawatan Kesehatan Masyarakat (1990) mendefinisikan keperawatan


komunitas sebagai suatu bidang keperawatan yang merupakan perpaduan antara
keperawatan dan keadaan masyarakat (public health) dengan dukungan peran serta
masyarakat secara aktif serta mengutamakan pelayanan promotif dan preventif secara
berkesinambungan tanpa mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif secara
menyeluruh dan terpadu yang ditujukan pada individu, kelompok, serta masyarakat
sebagai kesatuan utuh melalui proses keperawatan (nursing process) untuk
meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara optimal, sehingga mampu mandiri
dalam upaya kesehatan

8. Menurut IOM (2003), Praktik pelayanan komunitas adalah layanan keperawatan


profesional yang diberikan oleh perawat yang telah memperoleh pendidikan
keperawatan komunitas atau disiplin lain yang berkaitan dan bekerja untuk
meningkatkan derajat kesehatan yang berfokus pada masyarakat

9. Perawatan komunitas adalah perawatan yang diberian dari luar suatu institusi yang
berfokus pada masyarakat atau individu dan keluarga (Elisabeth, 2007)

10. Winslow (1920), seorang ahli kesehatan adalah ilmu dan senio mencegah penyakit,
memperpanjang hidup, serta meningkatkan efisiensi hidup melalui usaha-usaha
pengorganisasian masyarakat untuk hal-hal berikut ini:

a. Kelompok-kelompok masyarakat yang terkoordinir

5
b. Perbaikan kesehatan liongkungan

c. Mencegah dan memberantas penyakit menular

d. Memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat / perseorangan

e. Dilaksanakan dengan mengkoordinasikan tenaga kesehatan dalam satu


wadah pelayanan kesehatan masyarakat yang mampu menumbuhkan
swadaya masyarakat untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara
optimal.

2.2 Sejarah Perkembangan Keperawatan Komunitas

Perkembangan kesehatan masyarakat di indonesia dimulai pada abad ke-16,yaitu


dimulai dengan adanya upaya pembatasan penyakit cacar dan kolera yang sangat ditakuti
oleh masyarakat saat itu. Penyakit kolera masuk ke indonesia tahun 1927, dan pada pada
tahun 1937 terjadi wabah kolera eltor. Selanjutnya tahun 1948 cacar masuk ke indonesia
melalui singapura dan mulai berkembang di indonesia, sehingga berawal dari wabah
kolera tersebut pemerintah Belanda (pada waktu itu indonesia dalam penjajahan Belanda)
melakukan upaya-upaya kesehatan masyarakat. Gubernur Jendral Deandles pada tahun
1807 telah melakukan upaya pelatihan dukun bayi dalam praktik persalinan. Upaya ini
dilakukan dalam rangka menurunkan angka kematian bayi dalam praktik persalinan.
Upaya ini dilakukan dalam rangka menurunkan angka kematian bayi (infan mortality
rate) yang tinggi. Namun, upaya ini tidak bertahan lama, akibat langkanya tenaga pelatih
kebidanan. Baru kemudian di tahun 1930, program ini dimulai lagi dengan
didaftarkannya para dukun bayi sebagai penolong dan perawat persalinan.pada tahun
1851 berdiri sekolah dokter jawa oleh dr. Bosch dan dr. Blekker-kepala pelayanan
kesehatan sipil dan militer di indonesia. Sekolah ini dikenal dengan nama STOVIA
(SCHOOL Tot Oplelding van Indiche Arsten) atau sekolah pendidikan dokter pribumi.
Pada tahun 1913 didirikan sekolah dokter yang ke-2 di S urabaya dengan nama NIAS
( Nederland Indische Artsen School). Pada tahun 1927 STOVIA berubah menjadi sekolah
kedokteran dan sejak berdirinya universitas indonesia tahun 1947, STOVIA berubah
menjadi Fakulitas Kedokteran Universitas Indonesia.

Selain itu, perkembangan kesehatan masyarakat di indonesia juga ditandai dengan


berdirinya pusat laboratorium Kedokteran di Bandung tahun 1888- tahun 1938 pusat
laboratorium ini berubah menjadi lembaga Eykman. Selanjutnya, laboratorium-

6
laboratorium lain juga didirikan di kota-kota seperti medan, Semarang, makasar,
surabaya, dan Yokyakarta dalam rangka menunjang pemberantasan penyakit malaria,
lepra, cacar serta penyakit lainnya. Bahkan lembaga gizi dan sanitasi juga didirikan.

Pada tahun 1922, penyakit pes masuk ke indonesia dan tahun 1933-1935 penyakit ini
menjadi epidemis di beberapa tempat, terutama dipulau jawa. Pada tahun 1935 dilakukan
program pemberantasan penyakit pes dengan cara melakukan penyemprotan DDT
terhadap rumah-rumah penduduk dan vaksinasi masal. Tercatat sampai pada tahun 1941,
15 juta orang telah di vaksinasi. Pada tahun 1945, hydrich- seorang petugas kesehatan
pemerintah Belanda- melakukan pengamatan terhadap masalah tingginya angka kematian
dan kesakitan di Banyumas purwokerto. Dari hasil pengamatan dan analisisnya,
disimpulkan bahwa tingginya angka kesakitan dan kematian dikedua daerah tersebut
dikarenakan buruknya kondisi sanitasi lingkungan, masyarakat buang air besar di
sembarangan tempat, dan pengguna air minum dari sungai yang telah tercemar.
Kesimpulan yang diperoleh adalah bahwa rendahnya sanitasi lingkungan dikarenakan
perilaku penduduk yang kurang baik, sehingga Hydrich memulai upaya kesehatan
masyarakat dengan mengembangkan daerah percontohan, yaitu dengan cara melakukan
promosi mengenai pendidikan kesehatan. Sampai sekarang usaha Hydrich ini dianggap
sebagai awal kesehatan masyarakat di indonesia.

Memasuki zaman kemerdekaan, salah satu tonggak perkembangan kesehatan


masyarakat di Indonesia adalah saat diperkenalkannya Konsep Bandung ( Bandung plane)
pada tahun 1951 oleh dr. Y. Leimena dan dr.Patah-yang selanjutnya dikenalkan dengan
nama Patah-Leimena. Dalam konsep ini,diperkenalkan bahwa dalam upaya pelayanan
kesehatan masyarakat ,aspek preventif dan kuratif tidak dapat dipisahkan. Hal ini berarti
dalam mengembangkan sistem pelayanan kesehatan, kedua aspek ini tidak boleh
dipisahkan, baik dirumah sakit maupun dipuskesmas. Selanjutnya pada tahun 1956
dimulai kegiatan pengembangan kesehatan masyarakat oleh dr. Y. Susanti dengan
berdirinya proyek Bekasi ( lemah abang ) sebagai proyek percontohan/ model pelayanan
bagi pengembangan kesehatan masyarakat pedesaan di indonesia dan sebagai pusat
pelatihan tenaga kesehatan. Proyek ini juga menekankan pada pendekatan tim dalam
pengelolaan program kesehatan. Untuk melancarkan penerapan konsep pelayanan terpadu
ini, terpilih delapan desa wilayah pengembangan masyarakat.

1. Sumatra utara : indrapura

7
2. Lampung

3. Jawa Barat: Bojong Loa

4. Jawa tengah : Sleman

5. Yokyakarta : Godean

6. Jawa timur : Mojosari

7. Bali : Kesiman

8. Kalimantan Selatan : Barabai

Kedelapan wilayah tersebut merupakan cikal bakal sistem puskesmas sekarang ini. Pada
bulan november 1967, dilakukan seminar yang membahas dan merumuskan program
kesehatan masyarakat terpadu sesuai dengan kondisi dan kemampuan rakyat indonesia, yaitu
mengenai konsep puskesmas- yang dipaparkan oleh dr. Achmad Dipodilogo- yang mengacu
pada konsep Bandung dan proyek Bekasi. Dalam seminar ini telah disimpulakan dan
disepakati mengenai sistem puskesmas yang terdiri atas tipe A,B, dan C. Akhirnya pada pada
tahun 1968 dalam rapat kerja kesehatan nasional, dicetuskan bahwa puskesmas merupakan
suatu sistem pelayanan kesehatan terpadu, yang kemudian dikembangkan oleh pemerintah
( Departemen Kesehatan ) menjadi pusat pelayanan kesehatan masyarakat (puskesmas).

Puskesmas disepakati sebagai suatu unit yang memberikan pelayanan kuratif dan preventif
secara terpadu, menyeluruh, dan mudah dijangkau, dalam wilayah kerja kecamatan atau
sebagian kecamatan di kotamadya atau kabupaten. Sebagai lini terdepan pembangunan
kesehatan, puskesmas diharapkan selalu tegar. Untuk itu, diperkenalkanlah program untuk
selalu menguatkan puskesmas (strengthening puskesmas). Di negara berkembang seperti
Indonesia, fasilitas kesehatan berlandaskan masyarakat disarankan lebih efektif dan penting.

Departemen kesehatan telah membuat usaha intensif untuk membangun puskesmas yang
kemudian dimasukkan ke dalam master plan untuk operasi penguatan pelayanan kesehatan
nasional. Kegiatan pokok dalam program dasar dan utama puskesmas mencakup 18 kegiatan,
yaitu :

1. Kesehatan ibu dan anak (KIA)

2. Keluarga berencana (KB)

8
3. Gizi

4. Kesehatan Lingkungan

5. Pencegahan dan Pemberantasan penyakit menular serta imunisasi,

6. Penyuluhan kesehatan masyarakat

7. Pengobatan

8. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)

9. Perawatan kesehatan masyarakat

10. Kesehatan gigi dan mulit

11. Usaha kesehatan jiwa

12. Optometri

13. Kesehatan geriatrik

14. Latuhan dan olahraga

15. Pengembangan obat-obatan tradisional

16. Keselamatan dan kesehatan kerja (K3)

17. Laboratorium dasar

18. Pengumpulan informasi dan pelaporan untuk sistem informasi kesehatan.

Pada tahun1969, sistem puskesmas hanya disepakati dua saja, yaitu puskesmas tipe A
yang dikelola oleh dokter dan puskesmas tipe B yang dikelola oleh seorang paramedis.
Dengan adanya perkembangan tenaga medis, maka pada tahun 1979btidak diadakan
perbedaan puskesmas tipe A atau tipe B- hanya ada satu puskesmas saja, yang dikepalai
oleh seorang dokter. Namun, kebijakan tentang pimpinan puskesmas mulai mengalami
perubahan tahun 2000, yaitu puskesmas tidak harus dipimpin oleh seorang dokter,tapi
dapat juga dipimpin oleh Sarjana Kesehatan Masyarakat. Hal ini tentunya diharapkan
dapat membawa perubahan yang positif,dimana tenaga medis lebih diarahkan pada
pelayanan langsung pada klien dan tidak disibukkan dengan urusan
administratif/manajerial, sehingga mutu pelayanan dapat ditingkatkan. Di provinsi Jawa

9
Timur misalnya, sudah dijumpai kepala puskesmas dari lulusan sarjana kesehatan
masyarakat seperti di kabupaten Gresik, Bojonegoro, dan lain sebagainya. Pada tahun
1979 dikembangkan satu peranti manajerial guna penilaian puskesmas, yaitu stratifikasi
puskesmas,sehingga dibedakan adanya :

1. Strata 1, puskesmas dengan prestasi sangat baik

2. Strata 2 , puskesmas dengan prestasi rata-rata atau standar

3. Strata 3 , puskesmas dengan prestasi dibawah rata-rata

Peranti manajerial puskesmas yang lain berupa microplanning untuk perencanaan dan
lokakrya mini untuk pengorganisasian kegiatan dan pengembangan kerjasama tim. Pada
tahun 1984, tanggung jawab puskesmas ditingkatkan lagi dengan berkembangnya
program paket terpadu kesehatan dan keluarga berencana (posyandu) yang mencakup
kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, gizi, penanggulangan penyakit diare, dan
imunisasi.

Sampai dengan tahun 2002, jumlah puskesmas di Indonesia mencapai 7.309. hal ini
berarti 3,6 puskesmas per 100.000 penduduk atau satu puskesmas melayani sekitar 28.144
penduduk.

Sementara itu, jumlah desa di Indonesia mencapai 70.921 pada tahun 2003, yang berarti
setidaknya satu puskesmas untuk tiap sepuluh desa-dibandingkan dengan rumah sakit
yang harus melayani 28.000 penduduk. Jumlah puskesmas masih teus dikembangkan dan
diatur lebih lanjut untuk memenuhi kebutuhan pelayanan yang prima. Jumlah puskesmas
masih jauh dari memadai, terutama di daerah tepencil. Diluar jawa dan sumatra,
puskesmas harus menangani wilayah yang uas,( terkadang beberapa kali lebih luas dari
satu kabupaten di Jawa) dengan jumlah penduduk yang lebih sedikit. Sebuah puskesmas
terkadang hanya melayani 10.000 penduduk. Selain itu, bagi sebagian penduduk
puskesmas terlalu jauh untuk dicapai.

2.3 Tujuan Keperawatan Komunitas

Tujuan Umum
Meningkatkan derajat kesehatan dan kemampuan masyarakat secara menyeluruh
dalam memelihara kesehatannya untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal
secara mandiri.

10
Tujuan Khusus
a. Dipahaminya pengertian sehat dan sakit oleh masyarakat
b. Meningkatkannya kemampuan individu, keluarga, dan masyarakat untuk
melaksanakan upaya perawatan dasar dalam rangka mengatasi masalah
keperawatan
c. Tertanganinya kelompok keluarga rawan yang memerlukan pembinaan dan
asuhan keperawatan.
d. Tertanganinya kelompok masyarakat khusus/rawan yang memerlukan pembinaan
dan asuhan di rumah, panti dan di masyaraka
e. Tertanganinya kasus-kasus yang memelukan penanganan tindak lanjut dan asuhan
keperawatan di rumah
f. Terlayaninya kasus-kasus tertentu yang termasuk kelompok resiko tinggi yang
memerlukan penanganan dan asuhan keperawatan di rumah dan di puskesmas
g. Teratasi dan terkendalinya keadaan lingkungan fisik dan sosial untuk menuju
keadaan sehat optimal.

2.4 Peran Keperawatan Komunitas

Dari beberapa peran yang telah dikemukakan di atas,dapat disimpulkan bahwa banyak
sekali peran yang dijalankan oleh perawat komunitas dalam mengorganisasikan upaya-upaya
kesehatan yang dijalankan melalui pusat kesehatan masyarakat(puskesmas), yang merupakan
bagian dari institusi pelayanan dasar utama, baik melalui program di dalam atau di luar
gedung, pada keluarga, kelompok-kelompok khusus, dan sebagainya sesuai dengan peran,
fungsi, dan tanggung jawabnya. Peran yang dapat dilaksanakan di antaranya adalah sebagai

pelaksana pelayanan keperawatan, pendidik, koordinator pelayananan kesehatan,


pembaharu(innovator), pengorganisasian pelayanan kesehatan (organizer), panutan (role
model),sebagai fasilitator (tempat bertanya), dan sebagai pengelola(manager).

Peran pada individu atau keluarga

Peran perawat komunitas pada individu atau keluarga adalah sebagai berikut.

1. Peran sebagai pelaksana kesehatan

Peran ini meliputi seluruh kegiatan / upaya pelayanan kesehatan masyarakat dan
puskesmas dalam mencapai tujuan kesehatan melalui ker ja sama dengan tim

11
kesehatan lain, sehingga tercipta keterpaduan dalam sistem pelayanan kesehatan.
Peran sebagai pelaksana dapat berupa clinical nurse specialist (CNS) dan family nurse
practitioner (FNS).CNS atau perawat spesialis klinik memberikan pelayanan pada
tingkat individu, keluarga dan kelompok, dan bentuk tanggung jawab pada peran ini
adalah melalui upaya promotif dan preventif dalam kaitannya untuk meningkatkan
status kesehatan masyarakat. Perawat spesialis klinik memberikan perawatan
kesehatan pada klien, biasanya di unit rawat jalan atau tempat praktik komunitas pada
klien dengan masalah kompleks, dan memberikan perhatian yang lebih pada gejala
kondisi nonpatologis, kenyamanan, dan perawatan komprehensif(roy &
obloy,1979).tujuan dari perawat spesialis klinik adalah untuk menurunkan jumlah

morbiditas, menurunkan infact mortality rate atau angka kematian bayi, serta
mencegah terjadinya gangguan dan kecacatan pada anggota masyarakat. Sedangkan
bentuk pelaksanaannya di fokuskan pada identifikasi masyarakat yang beresiko.
Sementara family nurse practitioner memberikan perawatan ambulasi untuk keluarga.
Biasanya berkolaborasi dengan dokter keluarga. Perawat pada kelompok ini
memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan umum, mengatasi masalah kesehatan
dengan memberikan perawatan langsung, dan memberikan bimbingan / konseling
pada keluarga jika dibutuhkan. Tujuan family nurse practitioner adalah untuk
peningkatan kesehatan(promotif). Mencegah terjadinya penyakit(preventif).
Melaksanakan pengelolaan pada penyakit yang bersifat kronis, dan menghindari
adanya pembatasan kecacatan. Bentuk tanggung jawabnya meliputi pengelolaan
masalah kesehtan dan penyakit yang umum terjadi pada segala usia baik pria maupun
wanita. Sedangkan pelaksanaannya dapat berupa pengkajian fisik, psikologi dan
lingkungan, mengkaji status kesehatan dan resiko terhadap penyakit baik individu/
keluarga, mendiagnosis masalah aktual dan potensial , serta mengambil keputusan
untuk memecahkan tindakan bersama klien dan keluarga. Dalam melaksanakan peran
tersebut, perawat menggunakan pendekatan pemecahan masalah klien melalui proses
keperawatan. Perawat bertindak selaku:

a. Pemberi rasa nyaman (comforter)

b. Pelindung dan pembeda (profector and advocat)

c. Komunikator

12
d. Mediator

e. Rehabilitator

2. Peran sebagai pendidik

Perawat dalam memberikan pendidikan dan pemahaman kepada individu, keluarga,


kelompok dan masyarakat, baik dirumah, puskesmas, dan masyarakat dilakukan
sec\ara terorganisasi dalam rangka menanamkan perilaku sehat, sehingga terjadi
perubahan-perubahan perilaku seperti yang diharapkan dalam mencapai tingkat
kesehatan yang optimal. Peran ini dapat dilakukan oleh petugas kesehatan(perawat
komunitas) dan anggota profesi lain, baik dalam bentuk formal ataupun nonformal.
Pengajaran yang dilakukan bertujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan
kesehatan masyarakat. Fokus pengajaran dapat berbentuk:

a. Penanaman perilaku sehat

b. Peningkatan nutrisi dan pengaturan diet

c. Olahraga

d. Pengelolaan atau managemen stres

e. Pendidikan tentang proses penyakit dan pentingnya pengobatan yang


berkelanjutan

f. Pendidikan tentangpenggunaan obat

g. Pedidikan tentang perawatan mandiri

3. Peran sebagai administrator

Perawat kesehatan masyarakat diharapkan dapat mengelola berbagai kegiatan


pelayanan kesehatan puskesmas dan masyarakat sesuai dengan beban tugas dan
tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Tanggung jawabnya adalah melakukan
pengelolaan terhadap suatu permasalahan, mengambil keputusan dalam pemecahan
maslah, pengelolaan tenaga membuat kualitas mekanisme kontrol, kerja sama sektoral
dan lintas program, serta bersosialisasi dengan masyarakat dan pemsaran.

13
4. Peran sebagai konselor

Perawat komunitas dapat dijadikan sebagai tempat bertanya oleh


individu,keluarga,kelompok dan masyarakat untuk memecahkan berbagai
permasalahan dalam bidang kesehatan dan keperawatan yang dihadapi. Peran ini
dapat dilaksanakan dengan cara berkonsultasi dengan anggota masyarakat,anggota
profesi, petugas kesehatan, organisasi sosial, dan rapat pendidikan. Sebagai konselor,
perawat menjelaskan kepada klien konsep dan data-data tntang kesehatan,
mendemonstrasikan prosedur seperti aktivitas perawatan diri, menilai apakah klien
memahami hal-hal yang dijelaskan dan mengevaluasi kemajuan dalam pembelajaran.
Perawat menggunakan metode pengajaran yang sesuai dengan kemampuan dan
kebutuhan klien, serta sumber-sumber yang lain, misalnya keluarga dalam pengajaran
yang direncanakan(pery & potterr, 2005).

5. Peran sebagai peneliti

Peran sebagai peneliti, yaitu melakukan identifikasi terhadap fenomena yang terjadi
di masyarakat dapat berpengaruh pada penurunan kesehatan, bahkan mengancam
kesehatan. Selanjutnya, penelitian dilaksanakan dalam kaitannya untuk menemukan
faktor yang menjadi pencetus atau penyebab terjadinya permasalahan tersebut melalui
kegiatan penilitian dan hasil dari penelitian di aplikasikan dalam praktik keperawatan

Peran manajerial

Manajemen berarti suatu proses yang merupakan rangkaian dari kegiatan-kegiatan


yang sistematis. Manajemen adalah administrasi untuk mencapai tujuan. Tugas tugas
manajer antara lain sebagai berikut.

1. Pengambil keputusan

2. Pemikul tanggung jawab

3. Mengerahkan sumber daya untuk mencapai tujuan

4. Pemikir konseptual

5. Bekerjasama dengan dan melalui orang lain

6. Mediator, politikus, dan diplomat

14
Fungsi menajemen adalah masing-masing bentuk kegiatan manajemen dengan
spesifikasi tertentu dan dilaksanakan pada periode-periode tertentu.lima fungsi
utama dalam proses manajerialYaitu perencanaan (planning), organisasi
(organizing), penggerakan (actuating), pengawasan dan pengendalian (controling),
serta penilaian (evaluation).

1) Perencanaan (planning)

Kegiatan yang di lakukan adalah sebagai berikut.

a. Measurement dan assesment, yaitu kegiatan mengumpulkan atau mengukur


data-data.Langkah-langjahnya adalah dengan merumuskan semua data yang di
kumpulkan , mengelompokkan indikator-indikator / instrument data yang akan
di cari dalam kelompok, dan melakukan pengumpulan data pada masing-
masing sumber datanya, dengan mengikuti kaidah kaidah metodologi
penelitian.

b. Analisis data. Ada tiga langkah yang di lakukan, yaitu pengelompokkan


pengorganisasian data, penyajian data dan perumusan / identifikasi masalah
kesehatan. Masalah kesehatan dapat dirumuskan dalam suatu model:

Problem = Gap X Concern X Responsibility

Jadi, masalah (problem) kesehatan dinyatakan apabila terdapat pemenuhan kriteria


sebagai berikut.

Kesenjangan (gap), adalah adanya kesenjangan antara kenyataan atau hasil terhadap
harapan atau standar, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, sehingga
menimbulkan suatu keadaan yang tidak di harapkan atau merugikan.

Perhatian (concren), artinya terdapat suatu perhatian atau ketidakpuasan administrator


terhadap adanya kesenjangan tersebut, dengan kata lain bahwa kesenjangan tersebut
berkonotasi negatif.

Tanggung jawab (responsibility), administrator merasa tanggung jawab untuk


memperkecil atau meniadakan kesenjangan tersebut dan masih berada dalam ruang
lingkup tanggung jawabnya, yaitu dalam sektor kesehatan.

15
c. Prioritas masalah kesehatan. Ada dua hal yang perlu di pikirkan pada tahap
ini, yaitu pertimbangan yang lazim digunakan untuk menilai prioritas masalah
kesehatan. Beberapa pertimbangan untuk mengurutkan masalah berdasarkan
prioritasnya adalah sebagai berikut.

Kegawatan masalah (emergency).

Keparahan akibat (severity), yaitu ukuran berat ringannya akibat yang


ditimbulkan oleh suatu kejadian.

Anggota terbanyak (magnitude/greatest member ), yaitu ukuran dimana


seberapa bagian masyarakat telah terkena resiko.

Kecepatan peningkatan (rate of increase), yaitu ukuran cepat


berkembangnya suatu peristiwa atau kejadian dan sering diukur dengan
kenaikan prevalensi.

Luasnya perkembangan (expanding scope), yaitu ukuran meluasnya


masalah.

Persepsi masyarakat (public concren), yaitu ukuran besarnya perhatian


atau rasa prihatin masyarakat terhadap kejadian atau peristiwa tersebut.

Derajat kebutuhan (degree of unmeet need), yaitu ukuran besarnya


keinginan atau partisipasi masyarakat untuk ikut menyelesaikan masalah
tersebut.

Kemungkinan di kerjakan (feasibility), yaitu dapat tidaknya masalah


tersebut diselesaikan sesuai dengan kemampuan teknologi yang tersedia.

Sumber daya yang tersedia (resources avaibility), yaitu tersedianya


sumber daya yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Keuntungan ekonomi atau sosial (economical/social benefit), yaitu


besarnya keuntungan ekonomi atau sosial yang akan di peroleh akibat
penyelesaian masalah tersebut.

16
Keterpaduan, yaitu apabila penanggulangan suatu masalah dapat dilakukan
secara terpadu dengan masalah-masalah lain, maka prioritasnya sebaiknya
diutamakan.

Pertimbangan politik dan mandat khusus, yaitu adanya pertimbangan


politik atau adanya mandat dari induk organisasi.

d. Solusi alternatif. Hasil penentuan skala prioritas masalah dipilih untuk


ditanggulangi lebih dahulu, dicari pemecahan lebih lanjut fase ini disebut
problem solving atau program selanjutnya, sehingga perlu dilakukan satu
kesempatan untuk mengambil keputusan terhadap pemilihan suatu solusi
alternatif yang dianggap terbaik. Misalnya dalam penggulangan kasus Demam
Berdarah Dengue (DBD) melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN),
abatisasi, pengasapan (fogging), penyuluhan kesehatan, dan 3 M (menutup,
menguras dan mengubur). Berapa pendekatan yang dapat digunakan dalam
pemecahan masalah, antara lain :

pendekatan yang bersifat analitis dan terprogram melalui percobaan


atau pemecahan masalah secara historis;

pendekatan heuristik atau melelui coba-coba.

e. Pengambilan keputusan (decision makingprocess)

f. Penetapan tujuan. Tujuan adalah penjabaran yang spesifik dari pemecahan


masalah dan hasil pengambilan keputusan, dan sering dituliskan dalam tujuan umum.
Oleh karena itu, tujuan harus ditulis secara jelas dan sebaiknya mengikuti kaidah 5W-
1H yaitu :

What? Apa yangingin dicapai?


Whom? Populasi yang ingin dituju (sasaran).
Who? Siapa yang bertanggung jawab?
Where? Daerah atau tempat pelaksanaan.
When? Kapan tujuan tersebut harus dicapai?
How many? Seberapa banyak yang ingin dicapai (target).
g. Penyusunan rencana operasional. Penyusunsn rencana operasional sangat
bergantung pada penjabaran tujuan pada tingkat tertentu. Isi dari perencanaan
operasional harus dirinci secara lengkap, jelas, dan spesifik sebagai berikut :

17
Identifikasi dan perumusan semua kegiatan secara jelas.

Merumuskan pendekatan-pendekatan yang akan digunakan pada setiap


kegiatan.

Membuat daftar kebutuhan semua sumber daya yang akan digunakan, termasuk
besar atau jumlah dan lokasinya.

Mendefinisikan tanggung jawab fungsional menurut sikap hierarki pelaksana.

Mengadakan hubungan timbal balik tiap kegiatan.

2) Organisasi (organizing)

Organisasi adalah proses pengelompokan orang alat-alat, tugas, wewenang dan


tanggung jawab yang seimbang dan sesuai dengan rencana operasional, sehingga
organisasi dapat digerakkan sebagai suatu kesatuan untuk mencapai tujuan.

3) Penggerakan (actuating)

Penggerakan adalah rangkaian kegiatan yang berhubungan dengan aktivitas


mempengaruhi orang lain agar mereka suka melaksanakan usaha-usaha kea rah pencpaian
sasaran atau tujuan atministrasi. Alat yang dapat digunakan dalam actuating adalah perintah,
petunjuk, bimbingan, surat edaran, rapat koorganisasi, dan pertemuan atau lokakarya. Untuk
dapat melaksanakan actuating diperlukan motivasi dan kepemimpinan (leadership).
Kepemimpinan adalah cara mempengaruhi orang lain agar ikut serta dalam mencapai tujuan
umum. Dan kepemimpinan di gambarkan dalam bentuk matematis sebagai berikut.

Leadership= f (leader, follower, situation)

Menurut model tersebut dikatakan bahwa:

a) Sebagai manajer, seseorang harus menggunakan atribut kepemimpinan yang


merupakan fungsi matematis dari pengaturan sosok diri sang pemimpin. Leader harus

18
menata penampilan , gaya bicara, gaya jalan, dan gaya dalam hal-hal yang berkaitan
dengan mengatur organisasi.

b) Mengatur follower adalah pengaturan anggota-anggota organisasinya. Dia harus


menempatkan para anggota organisasinya sedemikian rupa, sehingga menunjang
kepemimpinannya.

c) Mengatur situasi, artinya dia bisa membuat suasana kerja yang memberikan rasa
nyaman bekerja, menimbulkan gairah kerja, dan rasa bangga bagi kariyawannya
untuk bekerja.

4) Pengawasan dan pengendalian (controlling)

Pengawasan terdiri atas tindakan peneliti apakah segala sesuatu tercapai atau berjalan
sesuai rencana yang telah ditetapkan, intruksi-intruksi yang telah dikeluarkan , dan prinsip-
prinsip yng sudah di tetapkan. Syarat atau prinsip pengawasan adalah:

a. Harus ada rencana yang jelas

b. Mampu menjamin adanya tindakan perbaikan

c. Bersifat fleksibel

d. Ada pemberian intruksi yang jelas serta kewenangan pada bawahan

e. Harus ekonomis

f. Dapat dimengerti, merefleksipola organisasi

Standart yang digunakan dalam pengawasan adalah norma dan criteria. Standar norma
ditatapkan atas dasar pengalaman masa lalu. Sedangkan standar criteria ditetapka dan
diharapkan sebagai ukuran pelaksanaan program secara memuaskan pada tingkat kepuasan

19
tertentu. Dalam hal ini, penyimpangan pelaksanaan terhadap standar masih memerlukan suatu
batasan toleransi

5) Penilaian ( evaluating)

Evaluasi adalah prosedur penilaian pelaksanaan/hasil kerja atau dampak secara


sistematis dengan membandingkan hasil dan standar,serta dengan mengikuti kriteria atau
metode/tujuan tertentu guna menilai dan mengambil keputusan selanjutnya.tujuan evaluasi
antara lain :

a. Alat memperbaiki kebijaksanaan pelaksanaan program dan perencanaan program


yang akan datang.

b. Alat untuk memperbaiki alokasi sumber daya.

c. Alat untuk memperbaiki pelaksanaan suatu kegiatan yang sedang berjalan.

d. Alat untuk mengadakan peencanaan kembali yang lebih baik daripada suatu program.

Jenis evaluasi bedasarkan waktunya antara lain.

a) Evaluasi formatif, yaitu evaluasi yang dilakukan pada saat pelaksanaan kegiatan
program sedang berlangsung.dibedakan menjadi dua,critical review evaluation (
evaluasi pada saat program belum dilaksanakan)dan midterm evaluation (evaluasi
pada saat program sedang dikerjakan,biasanya dalam bentuk evaluasi proses dan
pengawasan).

b) Evaluasi sumatif,yaitu evaluasi yang dilakukan pada saat kegiatan program sudah
selesai dilakukan.dikelompokkan dalam bentuk,yaitu evaluasi output dan evaluasi
dampak (impact/outcome) .

Peran Konsultan

Konsultan merupakan suatu interaksi interpesonal untuk membuat perubahan perilaku yang
konstruktif.tujuan nya adalah untuk merangsang klien agar lebih bertanggung jawab,merasa
lebih aman,dan membimbing perilaku yang konstruktif.adapun model konsultasinya adalah
sebagai berikut.

1 Konsultasi ahli : Berarti sumber masalah berasal atau ditentukan klien


2 Model proses politikal : Hubungan dipengaruhi oleh kekuatan dan kewenangan

20
3 Model dokter-klien : Konsultasi dilakukan untuk menemukan masalah dengan
menanyakan pada klien.
4 Model proses : Pemecahan masalah merupakan kunci.
5 Model kesehatan : Peningkatan efektifits dalam lingkungan kerja melalui
mental komunikasi.

Peran advokator

Kaitan dengan legal aspek,bukan pemberi layanan hukum.misalnya kerusakan


lingkungan,apa dampak terhadap kesehatan,penyelesaian apa yang perlu dilakukan oleh
masyarakat.

Perawat kesehatan masyarakat sekolah

Permasalahan kesehatan yag dilaksanakan sesuai dengan tahap perkembangan pada


anak,yaitu usia prasekolah( 4-6th),usia sekolah(6-12th)dan adolescent (13--19th).kegiatan
yang dilakukan adalah screening,penemuan kasus,surveilance status imunisasi,pengelolaan
keluhan ringan dan pemberian obat-obatan.

Peran dalam bidang kesehatan kerja

Peran perawat kesehatan masyarakat di tempat kerja dapat berupa pelayanan langsung dan
pengelolaan layanan kesehatan. Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh perawat antara lain:

1. Karakteristik demografi dan geografis

2. Karakteristik pekerjaan

3. Interaksi antara pekerjaan dan layanan pekerjaan

4. Elemen epidemiologi dari kesehatan kerja yang meliputi:

a. Agent:biologi ,kimia,ergonomi,fisik, dan psikologis

b. Lingkungan

21
c. Interaksi antar host-agent-enviroment

Perawatan kesehatan di rumah/ hospice care

Perawatan kesehatan di rumah adalah bagian dari rangkaian perawatan kesehatan umum yang
di sediakan bagi individu dan keluarga untuk meningkatkan, memelihara,dan memulihkan
kesehatan guna memaksimalkan kesehatan dan meminimalkan penyakit.

2.5 Fungsi Keperawatan Komunitas

Definisi Fungsi

Fungsi adalah suatu pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai dengan peran seseorang.
Fungsi dapat berubah dari suatu keadaan ke keadaan lain. Dalam menjalankan perannya,
parawat akan melaksanakan berbagai fungsi, antara lain : fungsi independen, fungsi
dependen dan fungsi interdependen.

Fungsi Perawat Dalam Melaksanakn Perannya

1. Fungsi Independen

Fungsi independen perawat adalah fungsi dimana perawat melaksanakan perannya


secara mandiri, tidak tergantung pada orang lain, atau tim kesehatan lainnya. Perawat
harus dapat memberikan bantuan terhadap adanya penyimpangan atau tidak
terpenuhinya kebutuhan dasar manusia baik bio-psiko-sosio-kultural, maupun
spiritual, mulai dari individuyang utuh mencangkupseluruh siklus kehidupan, sampai
pada tingkat masyarakat yang mencerminkan tidak terpenuhinya kebutuhan dasar
pada tingkat sistem organ fungsional sampai molekuler, seperti pemenuhankebutuhan
fisiologis ()pemenuhan kebutuhan oksigenasi, pemenuhan kebutuhan cairan dan
elektrolitpemenuhan kebutuhan nutrisi,pemenuhan kebutuhan aktivitas dan istirahat,
pemenuhan kebutuhan eliminasi alvi dan urin), pemenuhan kebutuhan rasa aman dan
nyaman, pemenuhan kebutuhan cinta dan mencintai, pemenuhan kebutuhan harga
diri. Kegiatan ini di lakukan dengan diprakarsai oleh perawat, dimana
perawatbertanggung jawab serta bertanggung gugat atas rencana dan keputusan
tindakannya.

2. Fungsi Dependen

22
Kegiatan ini dilakukan dan dilaksanakan oleh seorang perawat ats instruksi dari tim
kesehatan lain atau tindakan pelimpahan tugas yang diberikan, seperti pelimpahan
dari dokter, ahli gizi, radiologi dag sebagainya.

3. Fungsi Interdependen

Fungsi Interdependen berupa kerja tim yang bersifat ketergantumgan, baik dalam
keperawatan maupun kesehatan. Fungsi ini dapat terjadi apabila bentuk pelayanan
membutuhkan kerja sama tim dalam pembaerian pelayanan sepertidalam memberikan
asuhan keperawatan pada penderita yang mempunyai penyakit kompleks. Keadaan
tersebut diatas tidak dapat diatasi haya oleh perawat, tetapai juga membutuhkan kerja
sama dengan timkesehatan lainnya.

Pada kenyataannya, perawat dalam menjalankan peran dan fungsinya masihjauh dari
harapan yaitu sebagai perawat yang mampu mandiri dan [profesional dalam tatanan praktik
keperawatan secara langsung di rumah sakitmaupun puskesmas, oleh karena itu, setiap
perawat harus memahami fungsi dan kompetensinyaseperti yang telah tercantumdalam
hasillokakarya Nosional Keperawatan tahun1983, yaitu sebagai berikut :

1. Fungsi I

Mengkaji kebutuhan klien , keluarga,kelompok dan masyarakat akan pelayanan


keperawatan, serata sumber-sumberyang tersedia dan potensi untuk memenuhi
kebutuhan tersebut. Kompetensi perawat dalam fungsi ini adalah:

a) Mengunpulkan data

b) Menganalisis dan mengiterprestasikan data dalam rangka mengidentifikasi


kebutuhan keperawatan klien, termasuk sumber-sumber yang tersedia dan
potensial (diagnosis keperawatan)

2. Fungsi II

Merencanakan tidakan dan tujuan asuhan keperawatan sesuai denagan keadaan klien.
Kopetensi perawat dalam fungsi ini adalah mengembangkan rencana tindakan
keperawatan untuk individu, keluarga, kelompok dan masyarakat berdasarkan
diagnosis keperawatan dan kebutuhan.

3. Fungsi III

23
Melaksanakan rencana keperawatan yang mencanagkup upaya peningkatan
kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan, pemulihan, pemeliharaan
kesehatandan termasuk pelayanan klien dalam keadaan terminal. Kopetensi perawat
dalam fungsi ini adalah sebagai berikut :

a) Menggunakan dan menerapkan kosepserta prinsip ilmu prilaku, ilmu sosial


budaya dan ilmu biomedik dasr dalam melaksakan asuhan keperawatan
kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.

b) Menerapkan ketrampilan keperawatan untuk memenuhi kebutuhan manusiawi


klien, antara lain :

Kebutuhan bio-psiko-sosial-spiritual

Kebutuhan nutrisi

Kebutuhan eliminasi

Kebutuhan oksigenasi

Kebutuhan aktivitas dan istirahat

Kebutuhan keselamatan dan keamanan

c) Merawat klien dengan gangguan fungsi tubuh, antara lain :

Gangguan sistem pernapasan

Gangguan sistem kardiovaskular

Gangguan sistem perncernaan

Gangguan bicara

Gangguan sistem pendengaran

Gangguan sistem reproduksi

Gangguan sistem integumen

Gangguan sistem perkemihan

24
Gangguan sistem endokrin

Gangguan sistem muskuloskeletal.

d) Merawat klien dengan masalah mental yang berhubungan dengan


penyesuaian dan adaptasi psikososial.

e) Merawat klien yang memerlukan pelayanan kebidanan dan penyakit


kandungan.

f) Memberi pelayanan kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok, dan


masyarakat dengan menggunakan sumber yang ada secara optimal.

g) Berperan serta dalam merumuskan kebijakan, merencanakan progam, dan


melaksanankan pelayanan kesehatan.

h) Merawat klien lanjut usia.

i) Merawat klien dengan keadaan atau penyakit terminal.

j) Melaksanakan kegiatan keperawatan sesuai kewenangan dan tanggung


jawabnya serta etika profesi.

4. Fungsi IV

Mengevaluasi hasil asuhan keperawatan. Kompetensi perawat dalam fungsi ini


adalah:

a) Menentukan kriteria yang dapat diukur dalam menilai rencana keperawatan

b) Menilai tingkat pencapaian tujuan berdasarkan kriteria

c) Mengidentifikasi perubahan-perubahan yang perlu diadakan dalam rencana


keperawatan.

5. Fungsi V

Mendokumentasi proses keperawatan. Kompetensi perawat dalam fungsi ini adalah :

a) Mengevaluasi data tentang masalah klien

b) Mencatat data proses keperawatan secara sistematis

25
c) Menggunakan catatan klien dalam memantau kualitas asuhan keperawatan.

6. Fungsi VI

Mengidentifikasi hal-hal yang perlu diteliti atau dipelajari atau merencanakan studi
khusus untuk meningkatkan pengetahuan serta mengembangkan ketrampilan dalam
praktik keperawatan. Kompetensi perawat dalam fungsi ini adalah :

a) Mengidentifikasi masalah penelitian dalam bidang keperawatan

b) Membuat usulan recana penelitian keperawatan

c) Menerapkan hasil penelitian dalam praktik keperawatan denagn tepat.

7. Fungsi VII

Berpartisipasi dalam melaksanakan penyuluhan kesehatan kepada klien, keluarga,


kelompok dan masyarakat. Kopetensi perawat dalam fungsi ini adalah :

a) Mengidentifikasi kebutuhan pendidikan kesehatan bagi individu, keluarga,


kelompok dan masyarakat

b) Membuat rancangan penyuluhan kesehatan dengan menggunakan pendekatan


yang sistematis

c) Melaksanakan penyuluhan kesehatan dengan metode tepat guna

d) Mengevaluasi hasil penyuluhan kesehatan berdasrkan hasil yang diharapkan.

8. Fungsi VIII

Bekerja sama dengan profesi lain yang terlibat dalam memberikan pelayanan
kesehatan kepada klien, keluarga, kelompok dan masyarakat. Kompetensi perawat
dalam fungsi ini adalah :

a) Berperan serta dalam pelayanan kesehatan individu, keluarga, kelompok dan


masyarakat sebagai bagian dari tim kesehatan

b) Menciptakan komunikasi yang efektif, baik dalam tim perawat maupaun


dengan anggota tim kesehatan lain

26
c) Menyesuaikan diri dengan konflik peran dan kesulitan lingkungan agar
pelayanan yang diberikan dapt efektif.

9. Fungsi IX

Pengelola perawatan klien dan berperan serta sebagai tim dalam melaksanakan
kegiatan perawatan. Kompetensi perawat dalam fungsi ini adalah :

a) Menciptakan komunikasi yang efektif dengan sejawat dan petugas lainnya

b) Memelopori perubahan di lingkungannya secara efektif (sesuai lingkup


tanggung jawab) sesuai dengan perannya sebagai pembaharu.

10. Fungsi X

Mengelola institusi pendidikan keperawatan. Kompetensi perawat dalam fungsi ini


adalah :

a) Mengembangkan dan mengevaluasi kurikulum

b) Menyusun rencana fasilitas pendidikan

c) Menyusun kebijakan institusi pendidikan

d) Menyusun uraian kerja karyawan

e) Menetapkan fasilitas proses belajar mengajar

f) Menyusu n rencana dan jadwal rotasi

g) Memprakarsai program pengembangan staf

h) Kepemimpinan

11. Fungsi XI

Berperan serta dalam merumuskan kebijaksanaan perencanaan pelaksanaan perawatan


kesehatan primer. Kompetensi perawat dalam fungsi ini adalah :

a) Mengkaji status individu keluarga, kelompok dan masyarakat.

27
b) Mengidentifikasi kelompok resiko fungsi

c) Menghubungkan keperawatan dengan kegiatan pelayanan kesehatan

d) Menyusun rencana keperawatan secara menyeluruh

e) Meningkatkan jangkauanpelayanan keperawatan

f) Mengatur penggunaan sumber-sumber

g) Melaksanakan asuhan keperawatan

h) Membina kerja sama dengan individu, keluarga dan masyarakat serata


mengidentifikasipelayanan yang dibutuhkan

i) Bekerja sama dalam melatih dan mengelola kerja sama

2.6 Sasaran Keperawatan Komunitas

Seluruh masyarakat termasuk individu, keluarga dan kelompok baik yang sehat maupun
yang sakit khususnya mereka yang beresiko tinggi dalam masyarakat.

1. Individu

Individu adalah anggota keluarga sebagai kesatuhan utuh dari aspek biologis,
psikologis, sosial, dan spiritual. Apabila individu tersebut mempunyai masalah
kesehatan kerena ketidakmampuan merawat dirinya sendiri oleh karena
sesuatau hal dan sebab, maka akan dapat mempengaruhi anggota keluarga
lainnya dan keluarga yang ada dilingkungan sekitar tempat tinggal mereka.
Maka disini peran perawat komunitas adalah membantu individu agar dapat
memenuhi kebutuhan dasarnya karena adanya kelemahan fisik dan mental
yang dialami, keterbatasan pengetahuanya dan kurangannya kemauan menuju
kemandirian.

2. Keluarga

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala
keluarga, anggota keluarga lainnya yang berkumpul dan tinggal dalam satu
rumah tangga karena pertalian darah dan ikatan perkawinan atau adopsi.
Antara keluarga satu dengan yang lainnyasaling tergantung dan berinteraksi,

28
bila salah satu atau beberapa anggota keluaga mempunyai masalah kesehatan
maka akan berpengaruh terhadap anggota yang lainnya dan keluarga yang ada
di sekitarnya. Dari permasalahan tersebut diatas maka keluarga merupakan
focus pelayanan kesehatan yang strategis :

a) Keluarga sebagai lembaga yang perlu diperhitungkan

b) Keluarga mempunyai peran utama dalam pemeliharaan kesehatan


seluruh anggota keluarga.

c) Masalah kesehatan dalam keluarga saling berkaitan.

d) Keluarga sebagai tempat penagambilan keputusan (dicision making)


dalam keperawatan kesehatan.

e) Keluarga merupakan perantara yang efektif dalam berbagai usaha


usaha kesehatan masyarakat.

3. Kelompok Khusus

Yang dimaksud kelompok khusus adalah sekumpulan individu yang


mempunyai kesamaan jenis kelamin, umur, permasalahan (problem), kegiatan
yang terorganisasi yang sangat rawan terhadap masalah kesehatan antara lain :

a) Kelompok khusus dengan kebutuhan kesehatan khusus sebagai akibat


perkembangan dan pertumbuhan (growth and development) seperti :
ibu hamil, bayi baru lahir, anak balita, anak usia sekolah dan usia
lansia atau usia lanjut.

b) Kelompok dengan kesehatan khusus yang memerlukan pengawasan


dan bimbingan serta asuhan keperawatan, antara lain : kasus penyakit
kelamin. Tuberculosis, AID, kusta dan lain-lain.

Komunitas sebagai klien

Keperawatn kesehatan komunitas berorientasi pada proses pemecahan masalah yang


dikenal dengan proses keperawatan. Dalam penerapan proses keperawatan Klien atau
komunitas diberi kebebasan dalam memilih atau melaksanakan beberapa alternatif terbaik
dalam menyelesaikan masalah kesehatan yang ada (Mubarak, 2005).

29
Model kumunitas sebagat mitra

Berdasarkan pada model pendekatan totalitas individu dari nueman (1972) untuk
melihat masalah pasien, model kumunitas sebagai kloien dikembangkan oleh penulis untuk
menggambarkan batasan keperawatan kesehatan masyarakat sebagai sintesis kesehatan
masyarakat dan keperawatan. Model tersebut telah diganti namanya sebgai model komunitas
sebagai mitra, untuk menekankan filosofi pelayanan kesehatan primer yang menjadi
landasanyya.

Dalam model komunitas sebagai mitra, ada faktor sentral: pertama, fokus pada
komunitas sebagai mitra ditandai dengan rodal pengkajian komunitas dibagian atas, dengan
menyatukan anggota masyarakat sebagai intinya, dan ke dua penerapan proses keperawatan.
Model ini dijelaskan secara rinci untuk membantu anda memahami setiap pembagiannya.,
agar anda dapat menggunakannya sebagai pedoman praktik komunitas.

Inti roda pengkajian adalah individu yang membentuk komunitas inti meliputi
demografik, nilai, keyakinan, dan sejarah penduduk setempat. Sebagai anggota masyaraka,
penduduk setempat dipengaruhi oleh delapan subsistem komunitas, dan sebaliknya. Delapan
subsistem ini terdiri dari lingkungan, pendidikan, keamanan dan transportasi, politik dan
pemerintahan, pelayanan kesehatan dan sosial, komunikasi, ekonomi, dan rekreasi.

Garis tebal yang mengelilingi komunitas menunjukan garis pertahanan normal, atau
tingkat kesehatn komunitas yang dicapai setiap saat. Garis pertahanan normal meliputi
barbagai ciri misalnya angka imunitas yang tinggi, moralitas bayi yang rendah, atau tingkat
pendapatan kelas menengah. Garis pertahanan normal juga mencakup pola koping, disertai
kemampuan menyelesaikan masalah, ini menunjukan keadaan sehat dari komunitas.

Garis pertahanan fleksibel, digambarkan dengan garis putus- putus yang mengelilingi
komunitas dan garis pertahanan normal. Garis ini merupakan bufer zone (area penengah)
yang menunjkan suatu tingkat kesehatan dinamis akibat respon sementara terhadap stressor.
Respon ini mungkin saja terjadi karena adanya mobilisasi anggota masyarakat sekitar karena
stresor lingkungan, seperti banjir atau stresor sosial seperti penjualan buku purno.

Kedelapan subsistem dibatasi dengan garis putus putus untuk mengingatkan kita
bahwa subsistem tersebut tidak terpisah, tetapi saling mempengaruhi. Kedelapan bagian
tersebut menjelaskan garis besar subsistem suatu komunitas dan memberikan gambaran
kerangka kerja bagi perawat kesehatan komunitas dalam pengkajian.

30
31
32
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
keperawatan komunitas adalah bidang perawatan khusus yang merupakan
gabungan keterampilan ilmu keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat dan bantuan
sosial, sebagai bagian dari program kesehatan masyarakat secara keseluruhan guna
meningkatkan kesehatan, penyempurnaan kondisi sosial, perbaikan lingkungan fisik,
rehabilitasi, pencegahan penyakit dan bahaya yang lebih besar ditujukan kepada
individu, keluarga yang mempunyai masalah dimana hal itu mempengaruhi
masyarakat secara keseluruhan.
Dalam menjalankan visi misinya tentu perawat komunitas memiliki peran dan
fungsi. Diataranya Peran yang dapat dilaksanakan di antaranya adalah sebagai
pelaksana pelayanan keperawatan, pendidik, koordinator pelayananan kesehatan,
pembaharu(innovator), pengorganisasian pelayanan kesehatan (organizer), panutan
(role model), sebagai fasilitator (tempat bertanya), dan sebagai pengelola (manager).
Selain peran perawat juga memiliki fungsi, diantaranya adalah fungsi independen,
fungsi dependen dan fungsi interdependen.

3.2 Saran

Penyusun senantiasa mengharapkan kritik saran yang membangun guna


penyempurna makalah kami selanjutnya, selain itu penyusun juga menyarankan
kepada rekan-rekan calon perawat dan perawat untuk memahami peran dan fungsi
perawat sehingga kita dapat menjalankan tugas dengan baik tanpa menyalahi aturan
yang sudah di tentukan.

33
DAFTAR PUSTAKA

Iqbal Mubarak,W.2009.Ilmu Keperawatan Komunitas.jakarta:Salemba Medika


Anderson Elizabeth. 2006. Buku Ajar Keperawatan Komunitas Teori dan Praktik.
Edisi 3.EGC.Jakartas

34