Anda di halaman 1dari 5

Pemeriksaan penunjang Asma

1. Pemeriksaan fungsi paru paru


Pemeriskaan dapat dilakukan menggunakan peak expiratory flow rate
(PEFR) atau aruspuncak ekspirasi (APE), pulse oxymetry, spirometri,
muscle strength testing, volume paru absolut, kapasitas difusi. Pada uji
fungsi jalan nafas, hal terpenting adalah melakukan manuver ekspirasi
paksa secara maksimal. Pengukuran dengan manuver ini yang dapat
dilakukan pada anak >6tahun adalah forced expiratory volume in 1
second (FeV1) dan vital capacity (VC) dengan spirometer serta
pengukuran peak expiratory flow (PEF) atau arus puncak ekspirasi (APE)
dengan peak flow meter
Pada Pedoman Nasional Asma Anak (PNAA), untuk mendukung
diagnosis asma anak, dipakai batasan :
Variabilitas PEF atau FEV1>15%,
Kenaikan PEF atau FEV1>15% setelah pemberian inhalasi
bronkodilator,
Penurunan PEF atau FEV1>20% setelah provokasi bronkus.
Penilaian variabilitas sebaiknya dilakukan dengan mengukur selama >2
minggu.
2. Pemeriksaan hiper reativitas saluran nafas
Uji provokasi bronkus dengan histamin, metakolin, latihan atau olahraga,
udara kering dan dingin, atau dengan salin hipertonik sangat menunjang
diagnosis asma pada anak.
3. Pengukur petanda inflamasi saluran nafas non-invasif
Dapat dilakukan dengan cara memeriksa eosinofil sputum (dahak) dengan
mengukur kadar NO ekshalasi.
4. Penilaian status alergi
Pemeriksaan ini dapat membantu menentukan faktor risiko atau pencetus
asma. Pada serangan asma berat, pemeriksaan penunjang yang diperlukan
adalah analisis gas darah (AGD) dan foto rontgen toraks proyeksi anterior
posterior (AP). Pada AGD dapat dijumpai peningkatan pCO2 dan
rendahnya pO2 (hipoksemia).

Pencegahan asma

Upaya pencegahan asma dapat ditujukan pada pencegahan sensitisasi alergi


(terbentuknya atopi, nampaknya paling relevan waktu prenatal dan perinatal)
atau mencegah terbentuknya asma pada individu yang tersensitisasi. Selain
mencegah paparan tembakau / rokok waktu dalam kandungan atau setelah
kelahiran, tidak ada intervensi yang terbukti dan diterima luas dapat mencegah
terbentuknya asma. Hygiene hypothesis asma.
Walaupun kontroversi nama telah membawa penegasan bahwa mencegah
sensitisasi alergi harus fokus mengarahkan kembali repons imun dari bayi ke
Th1 atau modulasi T regulator cell. Tetapi strategi tersebut saat ini masuh
merupakan alam hipotesis dan perlu penelitianlebih banyak.

Prognosa

Asma biasanya kronis, meskipun kadang-kadang masuk ke periode


panjang remisi. Prospek jangka panjang umumnya tergantung pada tingkat
keparahan. Dalam kasus-kasus ringan sampai sedang, asma dapat meningkatkan
dari waktu ke waktu, dan banyak orang dewasa bahkan bebas dari gejala.
Bahkan dalam beberapa kasus yang parah, orang dewasa mungkin
mengalami perbaikan tergantung pada derajat obstruksi di paru-paru dan
ketepatan waktu dan efektivitas pengobatan. Pada sekitar 10 % kasus persisten
berat, perubahan dalam struktur dinding saluran udara menyebabkan masalah
progresif dan ireversibel dalam fungsi paru-paru, bahkan pada pasien yang
diobati secara agresif. Fungsi paru-paru menurun lebih cepat daripada rata-rata
pada orang dengan asma, terutama pada mereka yang merokok dan pada mereka
dengan produksi lendir yang berlebihan (indikator kontrol perlakuan buruk).
Kematian dari asma adalah peristiwa yang relatif jarang, dan kematian asma
yang paling dapat dicegah. Hal ini sangat jarang orang yang menerima
perawatan yang tepat untuk mati asma. Namun, bahkan jika tidak mengancam
nyawa, asma dapat melemahkan dan menakutkan.

Tatalaksana
Tatalaksana anak dibagi menjadi tatalaksana komunikasi, informasi, edukasi
(KIE). Pada penderita dan keluarganya, penghindaran terhadap faktor pencetus,
dan medikamentosa. Tatalaksana medikamentosa dibagi menjadi 2 kelompok,
yaitu tatalaksana saat serangan dan tatalaksana jangka panjang.

Tahapan tatalaksana serangan asma


1. Tatalaksana di klinik/IGD
Semua anak yang mengalami serangan asma harus dinilai derajat
serangan apakah serangan ringan sedang berat atau ancaman henti nafas.
Cara nebulasi dan jenis obat yang digunakan bergantung pada derajat
asma yang terjadi dan kemudian dinilai dari hasil nebulisasi yang
diberikan. Pertimbangan obat untuk nebulisasi adalah sebagai berikut:
a. Serangan asma derajat ringan dan sedang
Untuk serangan asma derajat ringan dan sedang nebulisasi dilakukan
dengan obat tunggal yaitu beta agonis, dapat dilakukan dengan 2 kali
berturut turut. Bergantung pada respon terapi dengan jarak selama
nebulisasi satu dan dua adalah 20 menit. Setelah nebulisasi kedua
dinilai selama 20 menit. Dilakukan penilaian perbaikan klinis setiap
selesai nebulisasi. Jika dengan nebulisasi serangan mereda, penderita
di observasi selama 1 jam di IGD. Jika selama observasi di IGD
serangan berulang, maka penderita dipindah ke ruangan rawat sehari.
b. Serangan asma berat
Bila semenjak awal dinilai sebagai serangan berat, maka nebulisasi
awal langsung digunakan dengan kombinasi B-Agonis dan anti
kolinergik disertai pemberian oksigen 2-4Lpm yang diberikan sejak
awal termasuk saat nebulisasi. Pasang jalur aprenteral dan lakukan
foto rontgen thoraks. Penderita langsung di alih rawat ke ruang rawat
inap.
c. Serangan asma dengan ancaman henti nafas
Bila penderita mendunjukkan gejala ancaman henti nafas harus
dipindah ke PICU.
2. Tatalaksana di ruang rawat sehari
Pemberian oksigen sejak dari IGD diteruskan. Sesudah 2 kali nebulisasi
di IGD dengan respon parsial, di RRS diteruskan. Pemberian nebulisasi
kombinasi B-Agonis dan antikolinergik dapat dilakukan tiap 2 jam.
Diberikan steroid sistemik oral berupa metil prednisolon atau prednison
dilanjutkan 3-5 hari. Jika dalam 8-12 jam klinis tetap baik, penderita
dipulangkan dibekali obat B-Agonis dan steroid untuk rawat jalan. Bila
dalam 12 jam respon tidak membaik di alih ke rawat inap.
3. Tatalaksana di ruang rawat inap
Teruskan pemberian oksigen. Jika terdapat dehidrasi dilakukan rehidrasi
dan koreksi asidosis bila ada. Steroid diberkan IV dengan cara bolus tiap
6-8 jam dengan dosis 0,5-1mg/KgBB/hari.
Di RRI nebulisasi dilakukan dengan B-Agonis dan anti kolinergik. Jarak
nebulisasi tiap 1-2 jam. Jika dalam 4-6 kali pemberian terdapat berbaikan
klinis, jarak di perlebar menjadi setiap 4-6 jam. Pemberian aminofilin
sesuai dengan dosis inisial dan dosis rumatan.
Dosis inisial :
Belum mendapat aminofilin sebelumnya, dosis aminofilin yang
diberikan 6-8mg/KgBB yang dilarutkan dalam larutan dextrosa atau
NaCL fisiologis 20ml, diberikan dalam 20-30 menit. Bila sudah
mendapat aminofilin kurang dari 8 jam, dosis aminofilin dikurangi
separuhnya.
Dosis rumatan :
Untuk rumatan aminofilin diberikan 0,5-1mg/KgBB/jam.
Selama perawatan di RRI, pemberian di observasi apakah terjadi
perbaikan atau tidak. Bila terjadi perbaikan klinis, nebulisasi di teruskan 6-24
jam. Pemberian steroid dan aminofilin diganti adri pemberian iv menjadi p.o
jika dalam 24 jam penderita tetap stabil dapat dipulangkan. Jika tidak ada
perbaikan selama tatalaksana di RRI, penderita dialih rawat ke PICU.
4. Tatalaksana di ruang PICU
Penderita yang sejak awal masuk UGD sudah memperlihatkan tanda
ancaman henti nafas langsung di rawat di PICU, Kriteria nya sebagai
berikut :
Tidak ada respon sama sekali terhadap tatalaksana awal di UGD
dan atau perburukan asma yang cepat.
Kebingungan, disorientasi dan tanda lain ancaman henti nafas atau
kehilangan kesadaran.
Tidak ada perbaikan di tatalaksana RRI

Ancaman henti nafas : hipoksemia tetap terjadi setelah diberikan


oksigen ( kadar pao2 <60 mmhg dan atau pao2 >45 mmhg, walau
tentusaja gagal nafas dapat terjadi dalam kadar pa02 yang lebih
tinggi atau lebih rendah).

Pemerian Obat Saat Dipulangkan


Untuk serangan ringan atau sedang yang dengan satu atau 2x nebulisasi
terjadi perbaika/ respon yang baik yang sempurna dan setelah observasi di
UGD tidak muncul serangan ulang. Penderita dengan serangan berat dan
yang mengalami perbaikan sempurna setelah di rawat di RRI.
Obat yang digunakan pada waktu di pulangkan sama untuk semua
penderita, baik yang tidak mengalami perawatan maupun yang sempat di
rawat di RRS atau RRI. Obat tersebut adalah :
b-agonis (hirupan atau oral ) yang diberikan tiap 4-6 jam.
Steroid oral diberian jika pencetus serangan infeksi virus, hanya diberikan
untuk jangka pendek 3-5 hari
penderita dianjurkan untuk kontrol ke klinik rawat jalan dalam waktu 24 -48
jam untuk evaluasi tatalaksana.

Tatalaksana Jangka Panjang


Asma Episodik Jarang
asma episodik jarang cukup diobati dengan obat pereda berupa
bronkodilator b-agonis hirupan kerja pendek atau golongan santin kerja
cepat bila diperlukan saja, yaitu jika ada gejala atau serangan. Bila obat
hirupan tidak ada bisa di berikan per Oral.
Asma Episodik Sering
jika penggunaan b-agonis hirupan sudah lebih dari 3 minggu, atau terjadi
serangan sedang/berat terjadi lebih dari satu kali dalam satu bulan, maka
penggunaan antiinflamasi pengendali sudah teridikasi. Tahapan pertama,
steroid hirupan dosis rendah budesonid, dengan dosis 100-200g/hari dan
50-100 g/hari flutikason untuk anak kurang dari 12 tahun. budesonid 200-
400g/hari dan 100-200 g/hari flutikason untuk anak lebih dari 12 tahun
dengan waktu selama 6-8 minggu sebagai waktu pengendalian. Jika setelah
itu tidak berespon maka lakukan tahap kedua menaikan dosis steroid
hirupan 400g/hari yang termasuk dalam tatalaksana asma persisten. Jika
tatalaksana dalam satu derajat asma sudah adekuat tetapi responnya tidak
baik dalam 6-8 minggu maka tatalaksana berpindah keyang lebih berat , step
up, sebaliknya jika terkendali dalam 6-8 minggu maka ke yang lebih ringan
step down, bila memungkinkan steroid hirupan dihentikan. Sebelum
melakukan step up erlu dilakukan evaluasi penatalaksanaan, penghindaran
pencetus, cara penggunaan obat dan faktor komorbid yang mempersulit
pengendalian asma.

Asma Persisten
Pemberian dosis steroin hirupan dari mulai disis rendah ke tinggi atau dari
tinggi ke rendah tergantung dari kasus nya. Khusus nya pada anak dengan
penyakit berat, diamjurkan menggukan dosis tinggi terlebih dahuludisertai
steroid oral jangka pendek 3-5 hari. Selanjutnya dosis di turunkan menjadi
dosis terkecil yang masih optimal.dosis yg masih dianggap aman adalah
budesonid 400g/hari.