Anda di halaman 1dari 13

IMPLIKASI DAN HUBUNGAN KULTUR JARINGAN DENGAN

BIODIVERSITAS

DI TULIS OLEH:

1. ANISYAH AYU SURYANINGSIH (1610421020)


2. AZMI WAHYUNI (1610421023)
3. SUNDARI SUKMA WARDHANI (1610421014)

JURUSAN BIOLOGI
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah
ini dapat tersusun hingga selesai.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
para pembaca. Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah
agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak
kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang
membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Padang
November 2016

Penulis

1
DAFTAR ISI

Kata pengantar1

Bab 1

A. Latar belakang..2
B. Rumusan masalah.3
C. Tujuan...3
Bab 2....
A. pengertian kultur jaringan.4
B. syarat-syarat kultur jaringan..4
C. media kultur jaringan.4
D. pengolahan kultur jaringan5
E. Teknik kultur jaringan...5
F. kelebihan dan kekurangan dari kultur jaringan.7
G. macam bentuk keanekaragaman hayati.8
H. teori dasar kultur jaringan dan teori dasar biodiversitas8
I. hubungan kultur jaringan dengan biodiversitas.8
Bab 3.
A. Daftar pustaka10
BAB I
PENDAHULUAN MAKALAH

A. Latar Belakang

Salah satu dampak dalam peningkatan ekspor komoditi pertanian adalah kebutuhan bibit
yang semakin meningkat. Bibit dari suatu varietas unggul yang dihasilkan jumlahnya sangat
terbatas, sedangkan bibit tanaman yang dibutuhkan jumlahnya sangat banyak.
Penyediaan bibit yang berkualitas baik merupakan salah satu faktor yang menentukan
keberhasilan dalam pengembangan pertanian di masa mendatang. Salah satu teknologi harapan
yang banyak dibicarakan dan telah terbukti memberikan keberhasilan adalah melalui teknik
kultur jaringan.

Melalui kultur jaringan tanaman dapat diperbanyak setiap waktu sesuai kebutuhan karena
faktor perbanyakannya yang tinggi. Bibit dari varietas unggul yang jumlahnya sangat sedikit
dapat segera dikembangkan melalui kultur jaringan. Pada tanaman perbanyakan melalui kultur
jaringan, bila berhasil dapat lebih menguntungkan karena sifatnya akan sama dengan induknya
(seragam) dan dalam waktu yang singkat bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak dan bebas
penyakit.

Kultur jaringan adalah metode perbanyakan vegetatif dengan menumbuhkan sel, organ atau
bagian tanaman dalam media buatan secara steril dengan lingkungan yang terkendali.

Tanaman bisa melakukan kultur jaringan jika memiliki sifat totipotensi, yaitu kemampuan sel
untuk beregenerasi menjadi tanaman lengkap kembali.

Keanekaragaman hayati atau biodiversitas adalah suatu istilah pembahasan yang


mencakup semua bentuk kehidupan, yang secara ilmiah dapat dikelompokkan menurut skala
organisasi biologisnya, yaitu mencakup gen, spesies tumbuhan,hewan,
dan mikroorganisme serta ekosistem dan proses-proses ekologi dimana bentuk kehidupan ini
merupakan bagiannya. Dapat juga diartikan sebagai kondisi keanekaragaman bentuk kehidupan
dalam ekosistem atau bioma tertentu. Keanekaragaman hayati seringkali digunakan sebagai
ukuran kesehatan 4 period biologis.
Keanekaragaman hayati adalah keanekaragaman makhluk hidup yang menunjukkan
keseluruhan variasi gen, spesies dan ekosistem di suatu daerah. Ada dua 4eriod penyebab
keanekaragaman hayati, yaitu 4 period 4 periodi dan 4 period luar. Faktor 4eriodi bersifat
4eriodic konstan atau stabil pengaruhnya terhadap morfologi organisme. Sebaliknya, 4eriod luar
4eriodic stabil pengaruhnya terhadap morfologi organisme. Lingkungan atau 4period eksternal
seperti makanan, suhu, cahaya matahari, kelembaban, curah hujan dan 4eriod lainnya
bersamasama 4eriod menurun yang diwariskan dari kedua induknya sangat berpengaruh terhadap
fenotip
2
suatu individu. Dengan demikian fenotip suatu individu merupakan hasil interaksi antara
genotip dengan lingkungannya Keanekaragaman hayati dapat terjadi pada berbagai tingkat
kehidupan, mulai dari organisme tingkat rendah sampai organisme tingkat tinggi. Misalnya dari
mahluk bersel satu hingga mahluk bersel banyak dan tingkat organisasi kehidupan individu
sampai tingkat interaksi kompleks, misalnya dari spesies sampai ekosistem.

Keanekaragaman hayati tidak terdistribusi secara merata di bumi;


wilayah tropis memiliki keanekaragaman hayati yang lebih kaya, dan jumlah keanekaragaman
hayati terus menurun jika semakin jauh dari ekuator. Keanekaragaman hayati yang ditemukan di
bumi adalah hasil dari miliaran tahun proses evolusi. Asal muasal kehidupan belum diketahui
secara pasti dalam sains. Hingga sekitar 600 juta tahun yang lalu, kehidupan di bumi hanya
berupa archaea, bakteri, protozoa, danorganisme uniseluler lainnya sebelum organisme
multiseluler muncul dan menyebabkan ledakan keanekaragaman hayati yang begitu cepat,
namun secara 5 periodic dan eventual juga terjadi kepunahan secara besar-besaran akibat
aktivitas bumi,iklim, dan luar angkasa.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian kultur jaringan?
2. Apakah syarat-syarat kultur jaringan?
3. Bagaimana media kultur jaringan?
4. Bagaimana cara pengolahan kultur jaringan?
5. Apakah kelebihan dan kekurangan dari kultur jaringan?
6. Bagaimana macam bentuk keanekaragaman hayati?
7. Bagaimana teori dasar kultur jaringan dan teori dasar biodiversitas?
8. Bagaimana hubungan kultur jaringan dengan biodiversitas?

C. Tujuan
Untuk mengetahui hubungan kultur jaringan terhadap biodiversitas

3
BAB II
PEMBAHASAN

Kultur jaringan adalah membudidayakan suatu jaringan tanaman baru yang mempunyai
sifat seperti induknya. Sel-sel pada tumbuhan mempunyai sifat totipotensi yaitu kemampuan
untuk tumbuh menjadi tanaman yang sempurna jika disimpan di lingkungan yang sesuai.
Kemampuan inilah yang dikembangkan sebagai dasar dalam teknikk kultur jaringan. Teori yang
melandasi kultur jaringan ini adalah teori totipotensi sel (Schwann dan Schleiden) yang
menyatakan bahwa sel memiliki sifat totipotensi, yaitu bahwa setiap sel tanaman yang hidup
dilengkapi dengan informasi genetik dan perangkat fisiologis yang lengkap untuk tumbuh dan
berkembang menjadi tanaman utuh, jika kondisinya sesuai. Teori ini mempercayai bahwa setiap
bagian tanaman dapat berkembangbiak karena seluruh bagian tanaman terdiri atas jaringan-
jaringan hidup.

Syarat-syarat kultur jaringan adalah:


1. Jaringan tersebut sedang aktif pertumbuhannya, diharapkan masih terdapat zat
tumbuh yang masih aktif sehingga membantu perkembangan jaringan selanjutnya.
2. Eksplan yang diambil berasal dari bagian daun, akar, mata tunas, kuncup, ujung
batang, dan umbi yang dijaga kelestariannya.
3. Eksplan yang diambil dari bagian yang masih muda (bila ditusuk pisau akan terasa
lunak sekali).

Media kultur jaringan

Ada dua penggolongan media tumbuh : media padat dan media cair.

1. Media padat pada umumnya berupa padatan gel, seperti agar-agar, dimana nutrisi
dicampurkan pada agar.
2. Media cair adalah nutrisi yang dilarutkan di air. Media cair dapat bersifat tenang atau
dalam kondisi selalu bergerak, tergantung kebutuhan.

4
Cara pengolahan kultur jaringan:

1. Kultur jaringan hanya memerlukan sedikit bagian pucuk tumbuhan yang mengandung
jaringan muda yang bersifat merismatik. Bagian tumbuhan yang dikultur disebut
eksplan.
2. Mula-mula eksplan dicuci dengan alcohol 70% agar steril kemudian dimasukkan
dalam medium atau kultur dan dihindarkan dari kontaminasi mikroorganisme.
3. Eksplan tadi sel-selnya akan berkembang menjadi callus (gumpalan sel yang belum
berdiferesiensi).
4. Sel-sel callus diambil, kemudian dikultur selanjutnya sel callus akan membelah diri
dan menghasilkan jutaan sel callus baru.
5. Sel callus itu kemudian ditumbuhkan membentuk akar, batang, dan daun hingga jadi
tanaman baru yang sifatnya identic dengan induknya.

Teknik kultur jaringan :


1. meristem kultur : yaitu budidaya jaringan dengan menggunakan eksplan dari jaringan muda
atau meristem
2. pollen kultur : yaitu menggunakan eksplandari pollen atau benang sari
3. protoplas kultur : yaitu menggunakan eksplan dari protoplas
4. kloroplas kultur : yaitu mengggunakan koroplas untuk keperluan difusi protoplas
5. somatic cross : yaitu menyilangkan dua macam protoplas , kemudian dibudidayakan hingga
menjadi tanaman kecil yang mepunyai sifat baru

Teknik kultur jaringan Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara
vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi
bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam
media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup
yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi
tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan
menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat
steril.Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman,
khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit yang dihasilkan
dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik
dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu
membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu
yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat
dibandingkan dengan perbanyakan konvensional.

5
Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan adalah:
1) Pembuatan media
2) Inisiasi
3) Sterilisasi
4) Multiplikasi
5) Pengakaran
6) Aklimatisasi

Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Komposisi media
yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan
biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan
tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan
juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan
yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca.
Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.

Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan.
Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas.

Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di
tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril. Sterilisasi
juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata
pada peralatan yang digunakan. Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.

Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan


pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk menghindari adanya kontaminasi yang
menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Tabung reaksi yang telah ditanami ekplan
diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar.

Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang
menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik. Pengamatan
dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat
adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan
gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri).
Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke
bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan
sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit
karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar.
Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup
dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit
generatif.

6
Keunggulan inilah yang menarik bagi produsen bibit untuk mulai mengembangkan usaha kultur
jaringan ini. Saat ini sudah terdapat beberapa tanaman kehutanan yang dikembangbiakkan
dengan teknik kultur jaringan, antara lain adalah: jati, sengon, akasia, dll.

Bibit hasil kultur jaringan yang ditanam di beberapa areal menunjukkan pertumbuhan yang baik,
bahkan jati hasil kultur jaringan yang sering disebut dengan jati emas dapat dipanen dalam
jangka waktu yang relatif lebih pendek dibandingkan dengan tanaman jati yang berasal dari
benih generatif, terlepas dari kualitas kayunya yang belum teruji di Indonesia. Hal ini sangat
menguntungkan pengusaha karena akan memperoleh hasil yang lebih cepat.

Manfaat teknik kultur jaringan :


Beberapa manfaat teknik kultur jaringan adalah sebagai berikut,
1. Untuk menghasilkan tanaman baru dalam jumlah besar dalam waktu singkat dengan sifat
dan kualitas sama dengan induknya.
2. Mendapatkan tanaman yang bebas dari virus dan penyakit.
3. Menciptakan varietas baru, yaitu dengan cara menggabungkan plasma dari sel-sel yang
berbeda dalam satu spesies, lalu menumbuhkannya melalui kultur jaringan.
4. Melestarikan jenis tanaman yang hampir punah.
5. Mempertahankan keaslian sifat-sifat tanaman.
6. Penggadaan bibit tidak tergantung musim
7. Bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak dengan waktu yang relatif cepat.

Kekurangan pemanfaatan kultur jaringan :


1. Bagi orang tertentu, cara kultur jaringan dinilai mahal dan sulit.
2. Dibutuhkan modal investasi yang tinggi untuk membangun laboratorum khusus,
peralatan dan perlengkapan.
3. Diperlukan persiapan sumber daya manusia (SDM) yang handal untuk mengerjakan
perbanyakan kultur jaringan agar dapat memperoleh hasil yang memuaskan.
4. Produk kultur jaringan pada akarnya kurang kokoh.
Keanekaragaman hayati (biodiversitas) adalah keseluruhan variasi organisme, baik
bentuk, penampilan, jumlah, maupun sifat yang dapat ditemukan pada tingkatgen, tingkat
spesies, dan tingkat ekosistem. Setiap makhluk hidup memiliki ciri dan tempat hidup yang
berbeda. Melalui pengamatan, kita dapat membedakan jenis-jenis makhluk hidup. Pembedaan
makhluk hidup tanpa dibuat berdasarkan bentuk, ukuran, warna, tempat hidup, tingka laku, cara
berkembang biak, dan jenis makanan. Perbedaan biodiversitas dapat disebabkan oleh faktor
abiotic maupun oleh factor biotik. Perbedaan keadaan udara, cuaca, tanah, kandungan air, dan
intensitas cahaya matahari menyebabkan adanya perbedaan hewan dan tumbuhan yang hidup.
Hal tersebut mengakibatkan adanya keanekaragaman hayati.
7
Pada umumnya pola distribusi penyebaran tumbuhan dan hewan dikendalikan oleh
faktor abiotik seperti yang tekah disebutkan sebelumnya. Perubahan pada faktor abiotic dapat
menyebabkan organisme berkembang dan melakukan spesialisasi. Tiga macam keanekaragaman
hayati :
1. Keanekaragaman gen
yaitu keanekaragaman yang dapat ditemukan di antara organisme dalam satu
spesies. Keanekaragaman tingkat genetic pada suatu organisme dikendalikan oleh
gen-gen yang terdapat di dalam kromosom yang dimilikinya. Peningkatan
keanekaragaman tingkat gen dapat terjadi melalui hibridasi (perkawinan silang)
antara organisme satu spesies yang berbeda sifat, atau melalui proses domestikasi
(budidaya hewan atau tumbuhan liar oleh manusia).
2. Keanekaragaman jenis
yaitu keanekaragaman di antara organisme yang tergolong dalam spesies berbeda.
Misalnya, keanekaragman diantara tanaman padi, jagung, manga, dan kelapa
ataupun di antara kucing, ayam dan burung merpati.
3. Keanekaragaman ekosistem
yaitu keanekaragaman yang dapat ditemukan di antara ekosistem. Susunan biotik
dan abiotik setiap jenis ekosistem si permukaan bumi tidaklah sama. Lingkungan
abiotik sangat berpengaruh terhadap komposisi biotik suatu ekosistem. Oleh
karena itu, dua wilayah dengan kondisi abiotik berbeda umumnya mngandung
komposisi organisme yang berbeda pula.

Dasar teori keanekaragaman hayati (biodiversitas) adalah keseluruhan variasi organisme,


baik bentuk, penampilan, jumlah, maupun sifat yang dapat ditemukan pada tingkat gen, tingkat
spesies dan tingkat ekosistem. Setiap makhluk hidup memiliki ciri dan tempat hidup yang
berbeda. Pembedaan makhluk hidup tanpa dibuat berdasarkan bentuk, ukuran, warna, tempat
hidup, tingkah laku, cara berkembang biak dan jenis makanan.

Mengenai hubungan antara kultur jaringan dengan biodiversitas ini sebenarnya


tergantung dari kebutuhan manusia, dengan adanya kultur jaringan disatu sisi banyak
manfaat yang diperoleh untuk manusia diantaranya seperti menghasilkan tanaman baru
yang sifatnya mirip dengan induknya dalam waktu yang relatif singkat hingga menciptakan
varietas baru dengan modal produksi yang cukup murah. Tetapi, tanpa kita sadari dibalik
semua ini ada dampaknya bagi keanekaragaman hayati (biodiversitas) seperti
berkurangnya plasma nutfah, sebagai mana yang kita ketahui bahwa plasa nutfah adalah
suatu bagian dari hewan maupun mikroorganisme yang berfungsi untuk mewariskan sifat.
Dengan adanya plasma nutfah ini maka tumbuhan, hewan ataupun mikroorganisme bias
merakit varietas yang unggul dalam spesiesnya dan juga mempertahankan sifat dari
generasi ke generasi.
8
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian ari tanaman seerti
protoplasma, sel, kelompok sel, jaringan dan organ, serta menumbuhkannya dalam kondisi
aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi
tanaman utuh kembali.Terdapat macam-macam tipe kultur jaringan yang sering dipakai kultur
kalus, kultur suspensi sel, kultur organ, kultur meristem ujung dan kultur protoplas.

Sejarah perkembangan teknik kultur jaringan dimulai pada tahun 1838 ketika Schwann dan
Schleiden mengemukakan teori totipotensi yang menyatakan bahwa sel-sel bersifat otonom, dan
pada prinsipnya mampu beregenerasi menjadi tanaman lengkap. Teori yang dikemukakan ini
merupakan dasar dari spekulasi Haberlandt pada awal abad ke-20 yang menyatakan bahwa
jaringan tanaman dapat diisolasi dan dikultur dan berkembang menjadi tanaman normal dengan
melakukan manipulasi terhadap kondisi lingkungan dan nutrisinya.

Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan adalah :
Pembuatan media, Intisiasi, Sterilisasi, Multipikasi, Pengakaran, dan Aklimatisasi

Kegunaan utama dari kultur jaringan adalah untuk mendapatkan tanaman baru dalam jumlah
banyak dalam waktu yang relatif singkat, yang mempunyai sifat fisiologi dan morfologi sama
persis dengan induknya.

Masalah-masalah yang terjadi dalam kultur jaringan yaitu :

1. Kontaminasi, kontaminasi adalah gangguan yang sangat umum terjadi dalam kegiatan
kultur jaringan.

2. Vitrifikasi, vitrifikasi adalah suatu istilah problem pada kultur.

3. Praperlakuan masalah pada kegiatan in vitro bukan hanya dari penanaman eksplan saja atau
pertumbuhan dan perkembangannya dalam botol saja, tetapi juga sangat bisa dipengaruhi oleh
persyaratan kegiatan prapelakuan.

4. Lingkungan Mikro

Hubungan antara kultur jaringan dengan biodiversitas adalah jika eksplan yang
diproduksi semakin banyak maka keberadaan plasma nutfah di lingkungan semakin sedikit
sehingga biodiversitas atau keanekaragaman hayati itu sedikit pula.

9
DAFTAR PUSTAKA

Pratiwi, D.A., dkk. 2007. Biologi. Jakarta: Erlangga.

Hapsoro, Drs. Biologi. Surakarta: Aspirasi.

Catatan hasil study tour ke Mekarsari, 26 Oktober 2010

10