Anda di halaman 1dari 6

STUDI CASE-CONTROL

Studi kasus kontrol merupakan penelitian epidemiologi analitik observasional yang


dapat digunakan untuk menelaah hubungan antara efek (penyakit/masalah kesehatan) dan
faktor risiko tertentu. Desain kasus kontrol dapat digunakan untuk menilaii berapa besar
faktor risiko untuk terjadinya suatu penyakit. Dalam urutan kekuatan hubungan sebab akibat,
namun lebih kuat dibandingkan dengan desain cross sectional/potong lintang.

Studi kasus kontrol adalah studi yang dimulai dengan mengidentifikasi sekelompok
subjek dengan efek (penyakit/masalah kesehatan) sebagai kasus dan sekelompok subjek tanpa
efek sebagai kontrol kemudian secara retrospektif diteliti ada atau tidaknya faktor risiko yang
diduga berperan. Studi ini dapat difunakan untuk menentukan apakah kelompok yang sakit
(kasus) dan kelompok yang sehat (kontrol) memiliki proporsi yang berbeda pada mereka
yang telah terpapar faktor risiko yang diteliti.

Hasil dari studi kasus kontrol lebih diutamakan untuk menetapkan hubungan sebab
akibat (hubungan etiologis) daripada untuk melakukan generalisasi pada populasi umum.
Misalnya karakteristik atau perilaku tertentu dapat diduga sebagai penyebab terjadinya suatu
penyakit, seperti kegemukan dan kebiasaan merokok sebagai risiko terjadinya penyakit
hipertensi, dan berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, didapatkan bahwa terdapat
hubungan yang signifikan (adanya hubungan etiologis) sehingga dapat diartikan bahwa
kegemukan dan kebiasaan merokok sebaga penyebab terjaadinya hipertensi.

Kelebihan dan Kelemahan

Kelebuhan :

1. Relatif murah dan mudah dilakukan dibandingkan dengan desain analitik lainnya,
seperti kohort dan eksperimen.
2. Cocok untuk meneliti penyakit dengan periode laten yang panjang. Peneliti tidak
perlu mengikuti perkembangan penyakit sampai penyakit bermanifestasi, cukup
dengan mengidentifikasi subyek penelitian yang telah menderita penyakit dan tidak
mengalami penyakit, kemudian mencatat riwayat paparan pada kedua kelompok.
3. Adanya keleluasaan menentukan perbandingan ukuran sampel kasus dan kontrol, dan
dengan demikian tepat untuk meneliti penyakit langka.
4. Dapat meneliti sejumlah paparan terhadap satu penyakit. Dengan demikian desain
studi kasus kontrol tidak saja cocok untuk menguji hubungan paparan dan penyakit,
tetapi juga dapat memastikan adanya hubungan sejumlah paparan yang masih belum
jelas.

Kelemahan :

1. Pemilihan subjek berdasarkan status penyakit dilakukan saat paparan telah


berlangsung sehingga rawan bias, khususnya bias seleksi (yaitu kesalahan dalam
pemilihan subjek penelitian) dan recall bias (kesalahan dalam mengingat paparan).
2. Tidak efisien mempelajari paparan yang langka.
3. Subjek penelitian dipilih berdasarkan status penyakit sehingga tidak dapat
menghitung laju insidensi (kecepatan kejadian penyakit), baik pada kelompok
berisiko atau pada kelompok yang tidak berisiko.
4. Kadang-kadang sulit memastikan hubungan temporer/sesaat antara paparan dan
penyakit, oleh sebab itu dalam penelitian etiologi, untuk meyakinkan bahwa paparan
mendahului penyakit, dianjurkan untuk menggunakan data insidensi daripada
prevalensi.
5. Hanya dapat meneliti sebuah penyakit.

Teknik Penelitian

1. Menetapkan Kelompok yang diteliti


Kelompok yang akan diteliti adalah kelompok kasus, yaitu kelompok subjek yang
mempunyai efek (berpenyakit) dan kelompok kontrol, yaitu kelompok subjek yang
tanpa efek (tidak berpenyakit). Baik kasus maupun kontrol harus diseleksi dan diatur
berdasarkan klasifikasi yang sama, mempunyai sifat yang sama, kecuali penyakit
yang ditelitu.
a. Memilih kasus. Dalam memilih kasus perlu diperhatikan beberapa hal, yaitu :
1) Kriteria diagnosis suatu penyakit yang akan kita teliti dan definisi operasional
harus jelas, agar tidak menimbulkan bias dalam melakukan pengukuran.
2) Populasi sumber kasus dapat berasal dari rumah sakit (hospital based), dapat
berasal dari populasi masyarakat atau komunitas tertentu (population based).
3) Jenis data penyakit, apakah data prevalensi atau insidensi.
b. Memilih kontrol. Kelompok kontrol dimaksud untuk membandingkan proporsi
terpapar faktor risiko pada kelompok kasus dengan proporsi terpapar faktor risiko
pada kelompok kasus dengan proporsi terpapar faktor risiko pada kelompok
kontrol. Kelompok kontrol harus komparabel terhadap keompok kasus. Agar
dapat digunakan sebagai kelompok pembanding terhadap kasus, sekelompok
kontrol harus mempunyai beberapa ciri, yaitu :
1) Tidak menderita penyakit/masalah kesehatan yang sedang diteliti.
2) Mempunyai kemungkinan terpapar faktor risiko yang sedang duteliti seperti
yang terjadi pada kelompok kasus.
3) Merupakan sampel yang representatif terhadap populasi kasus.
Kontrol harus dipilih dari populasi yang memiliki karakteristik serupa dengan
populasi kasus sehingga mempunyai kesempatan yang sama untuk terpapar faktor
risiko yang diteliti. Misalnya, jika peneliti ingin mengetahui apakah kanker
payudara disebabkan oleh penggunaan pil KB maka untuk kontrol adalah subjek
yang memiliki peluang yang sama untuk menggunakan pil KB, yaitu wanita usia
subur dan menikah (wanita yang belum menikah atau tidak mempunyai anak
tidak akan minum pil KB).
Pada desain kasus kontrol, tujuannya bukan untuk mendeskripsikan disttribusi
efek dan faktor risiko pada populasi umum, melainkan menaksir hubungan faktor
risiko dan efek pada populasi. Dengan demikian yang penting bukan
keterwakilannya, tetapi keserupan antara kasus dan kontrol dalam semua ffkator
yang merancukan penaksiran hubungan antara paparan dan penyakit. Kontrol
dapat diperoleh dari beberapa sumber, diantaranya adlah pasien rumah sakit,
populasi umum, tetangga, teman, atau kerabat keluarga.
2. Menetapkan besarnya sampel
Besar sampel yang digunakan dalam studi kasus kontrol dapat dihitung dengan
menggunakan rumus sampel.
Keterangan :
n = besar sampel minimal
Z/2 = nilai Z pada derajat kepercayaan 1
Z = 1,64 untuk derajat kepercayaan 90%
1,96 untuk derajat kepercayaan 95%
2,58 untuk derajat kepercayaan 99%
Z1- = nilai Z pada kekuatan uji (power) 1
Z = 1,28 untuk kekuatan uji 90%
1,64 untuk kekuatan uji 95%
2,33 untuk kekuatan uji 99%
P1 = Proporsi subjek terpapar pada kelompok kasus
P2 = Proporsi subjek terpapar pada kelompok kontrol

Pada perhitungan untuk mendapatkan jumlah sampel mnimal dengan menggunakan rumus di
atas, di cari terlebih dahulu P1 dengan menggunakan rumus :

()2
1 =
()2 + (1 2)

OP pada P2 dapat dihitung dari hasil proporsi subjek terpapar pada keompok kontrol
berdasarkan penelitian yang telah ada sebelumnya. P2 dapat dicari dengan perhitungan
berikut.

Efek
Faktor risiko Total
Kasus Kontrol
Faktor risiko (+) a b a+b
Faktor risiko (-) c d c+d
total a+c b+d a+b+c+d=N

2 =
+

Sementara P adalah rata-rata subjek terpapar pada kelompok kasus dan kontrol dengan
perhitungan :

1 + 2
=
2

3. Pengambilan Data dan Pencetakan


Pengumpulan semua keterangan masa lampau yang pernah dialami subjek penelitian
sebelum terjadinya penyakit, dapat dilakukan dengan memeriksa catatan medik yang
pernah dilakukan oleh subjek, dan memeriksa hasil pemeriksaan laboratorium
4. Pengolahan dan analisis data hasil penelitian
Setelah semua data hasil penelitian terkumpul, yaitu data keterpaparan faktor
penelitian yang dialami kasus kontrol, dilakukan pengolahan data. Dengan demikian,
data dapat ditangani dengan mudah meliputi kegiatan editing, coding, processing dan
cleaning.
Setelah data diolah kemudian dilakukan analisis data baik univariat, bivariat
dan multivariat. Untuk menilai apakah faktor risiko (faktor penelitian) yang dialami
subjek sebagai penyebab timbulnya efek (penyakit/masalah kesehatan), dilakukan
melalui tes kemaknaan dengan menggunakan uji statistik yang disesuaikan dengan
data hasil penelitian, seperti regresi dan korelasi, X2, uji t, Anova, Rank Spearmen,
regresi linier sederhana ataupun regresi logistk ganda. Hasil pengujian statistik akan
menghasilkan dua kemungkinan kpeutusan, yaitu menolak hipotesis 0 (Ho) dan gagal
menolak hipotesis 0.
Pada desain kasus kontrol, kita dapat menghitung besarnya risiko terkena
penyakit yang mungkin terjadi karena adanya paparan. Dalam desain studi kasus
kontrol untuk menilai besarnya risiko terkena penyakit tidak dapat menggunakan
perbandingan insidensi penyakit tidak dapat menggunakan perbandingan insidensi
penyakit, karena tidak dapat menghitung kecepatan kejadina penyakit baik pada
kelompok dengan faktor risiko maupun kelompok dugaan, dilakukan perhitungan
Odds ratio (OR).
1. Jika nilai OR = 1 berarti variabel yang diduga sebagai faktor risiko ada
pengaruh dalam terjadinya efek atau bukan sebagai faktor risiko terjadinya
efek.
2. Jika nilai OR > 1 dan rentang interval kepercayaan tidak mencakup angka
1, berarti variabel tersebut sebagai faktor risiko terjadinya efek.
3. Jika nilai OR < 1 dan rentang interval kepercayaan tidak mencakup angka
satu, berarti faktor yang kita teliti merupakan faktor protektif untuk
terjadinya efek.
4. Jika nilai iterval kepercayaan OR mencakup nilai 1 maka berarti mungkin
nilai OR = 1, sehingga belum dapat disimpulkan bahwa faktor yang kita
teliti sebagai faktor risiko atau faktor protektif.

Sumber : nungraheni, Dyan Kunthi. 2011. Konsep Dasar Epidemiologi. Jakarta; EGC