Anda di halaman 1dari 18

ASUHAN KEPERAWATAN

CORONARY ARTERY BYPASS GRAFITING

(CABG)

OLEH :

BAWENDU SURIANTI YULIANA

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN XVI


STIKES IMANUEL BANDUNG
2016
A. PENGERTIAN
Coronary Artery Bypass Grafiting (CABG) merupakan salah satu penanganan interfensi dari
penyakit jantuk koroner, dengan cara membuat saluran baru melewati arteri coroner yang
mengalami peyempitan atau penyumbatan (Feriawati, 2005).

Coronary Artery Bypass Grafiting (CABG) atau bedah pintas koroner merupakan salah satu
upaya atau tindakan yang dilakukan untuk revaskularisasi pada penderita penyakit jantung
koroner.Upaya ini bertujuan untuk mengatasi berkurang atau terhambatnya aliran arteri
koroner akibat adanya penyempitan bahkan penyumbtan ke otot jantung dengan
memberikan aliran drah baru ke otot jantung yang mengalami gangguan pembuluh darah
suplai akibat tersumbatnya aliran darah koroner.

B. ANATOMI DAN FISIOLOGI CABG

Gbr.1. Anatomi Jantung Normal dan CABG

Struktur anatomi dari CABG yaitu Arteri Radialis, Arteri Mammaria Interna dan Vena
Saphenous.
1. Arteri Radialis
Muncul dari rami lateralis yang lebih kecil dari arteri brachialis dalam fossa cubiti.
pada bagian bawah lateralnya ditutupi oleh musculus brachioradialis dengan nervus
radialis superficialis pada sisi lateralnya, di depan musculus supinator dan musculus
flexor pollicis longus.arteri ini melengkung melintasi sisi radialis tulang-tulang
carpalia di bawah tendo musculus abductor pollicis longus dan tendo musculus
extensor pollicis longus dan brevis.

Memasuki palmar manus melalui Foveola Radialis (anatomical snuff box), yaitu
daerah triangularis yang dibatasisebelah dorsal oleh tendo musculus Extensor Pollicis
Longusdan pada sisi palmaris oleh tendo Musculus Extensor Pollicis Brevis dan
Musculus Abductor Pollicis Longus. Dan berakhir sebagai Arcus Volaris Profundus.

Memberikan cabang-cabang Arteri recurrent radialis, Rami musculares , Ramus


volaris superficialis, Ramus carpeus volaris, Ramus carpeus dorsalis dan Arteri
metacarpea dorsalis.
Arteri recurrent radialis muncul sedikit di bawah origo dari Arteri radialis. Berjalan di
depan dari Epycondylus lateralis dan beranastomosis dengan rami kollateralis radialis
arteri profunda brachii.

Ramus volaris superficialis berjalan melalui otot-otot thenar dan beranastomosis


dengan rami superficialis arteri ulnaris untuk melengkapi Arcus arterialis volaris
superficialis. Ramus carpeus volaris bergabung denagn rami carpeus volaris dari
Arteri ulnaris dan membentuk Arcus carpalis volaris.

Ramus carpeus dorsalis bergabung dengan rami carpeus dorsalis dari Arteri ulnaris
dan cabang terminal dorsalis dari Arteri Interossea anterior untuk membentuk Arcus
carpalis dorsalis

2. Arteri Mammaria Interna


Biasanya berasal dari dinding bawah dari arteri subclavia, pada belakang bawah dari
vena subclavia, melewati bagian atas pleura dan kemudian menurun secara tegak
lurus langsung di belakang cartilage costa 1 sampai 7, tepat lateral terhadap sternum.
Mempercabangkan sepasang Arteri intercostalis anterior pada masing-masing enam
spatium interkostalis yang teratas. Pada spatium interkostalis keenam akan berakhir
dan mempercabangkan dua cabang terminal yaitu Arteri epigastrica superior dan
Arteri musculophrenica.

Arteri epigastrica superior berjalan diantara Processus xiphoideus dan cartilage costa
ke tujuh, menurun pada permukaan dalam Musculus rectus abdominis dalam Vagina
musculus recti, memperdarahi otot tersebut dan beranastomosis dengan Arteri
epigastrica inferior. Juga memperdarahi sebagian diaphragma, peritoneum dan
dinding anterior abdomen.

Arteri musculophrenica berjalan mengikuti arcus costalis pada permukaan dalam


cartilage costalis. Mempercabangkan sepasang arteri intercostalis anterior pada
spatium intercostalis ketujuh, kedelapan dan kesembilan, menembus diaphragma dan
berakhir pada spatium intercostalis kesepuluh. Pada tempat ini beranastomosis
dengan Arteri circumflexia ilium profunda. Memperdarahi juga pericardium,
diaphragma dan otot-otot dinding abdomen.

3. Vena Saphenous
Vena superficial tungkai bawah adalah Vena saphena magna dan parva. Dalam hal ini
yang dibahas adalah Vena saphena magna karena vena inilah yang biasanya dipakai
sebagai saluran baru pada operasi CABG.

Vena saphena magna mengangkut pergi darah dari ujung medial Arcus venosus
dorsalis pedis dan berjalan naik tepat di depan malleolus medialis. Vena ini kemudian
naik bersama-sama Nervus saphenus dalam fascia superficialis di atas sisi medial
tungkai bawah. Vena ini berjalan di belakang lutut, melengkung ke depanmelalui sisi
medial paha. Ia berjalan melalui bagian bawah hiatus saphenus pada fascia profunda
dan bergabung dengan Vena Femoralis lebih kurang 4 centimeter di bawah dan lateral
terhadap Tuberculum pubicum.
Vena saphena magna memiliki banyak katup, vena ini berhubungan dengan Vena
saphena parva melalui satu atau dua cabang yang berjalan di belakang lutut.Sejumlah
Vena perforans menghubungkan Vena saphena magna dengan Vena profunda
sepanjang sisi medial betis.

Pada Hiatus saphenus di fascia profunda, Vena saphena magna biasanya mendapat
tiga cabang berbagai ukuran dan susunan, yaitu Vena epigastrica superficialis, Vena
circumflexa ilium superficialis dan Vena pudenda interna superficialis. Sebuah vena
tambahan, dikenal sebagai Vena accessoria biasanya bergabung dengan vena utama
lebih kurang pada pertengahan paha atau lebih ke atas pada muara Vena saphena
magna.

C. ETIOLOGI
Operasi CABG merupakan salah satu penanganan penyakit jantung koroner.Penyakit jantung
koroner di sebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:
1. Faktor yang tidak dapat di ubah: usia,jenis kelamin,riwayat keluarga,ras.
2. Faktor yang dapat diubah:
a) Mayor: peninkatan lipid serum,hipertensi, merokok,gangguan toleransi
glukosa,diet tinggi lemak jenuh kolestrol,dan kalori.
b) Minor: Gaya hidup yang kurang bergerak,stres dan tipe kepribadian.

D. TUJUAN PEMASANGAN
Pengobatan penyakit jantung adalah untuk memaksimalkan curah jantung.Melalui
pembedahan ini dapat di lakukan memperbaiki fungsi otot miokardiac dan aliran darah
melalui tandur bypass arteri koroner (CABG) dan atau penggantian katup yang rusak.
Coronary Artery Bypass Grafiting (CABG) bertujuan utuk mengatasi terhambatnya aliran
arteri koronaria akibat adanya penyempitan bahkan penyumbatan ke otot jantung.
E. INDIKASI CABG
Pasien penyakit jantung koroner yang dianjurkan oprasi bypass adalah mereka yang hasil
katerisasi jantung ditemukan adanya :
1. Penyempitan >50% dari arteri koroner kiiri utama (left main disease) yaitu penyempitan
yang mempunyai left main arteri misalnya penyempitan dibagian proksimal di bagian
anterior desenden dan arteri sikumflex.
2. Penderita dengan 3 vesel disease yaitu tiga arteri koroner semuanya mengalami
penyempitan sehingga menyebabkan fungsi jantung mulai menurun (ejection fraction
<50%)
3. Penderita yang gagal dilakukan blonisasi da sent. Penyempitan 1 atau2 pembuluh
namun perna mengalami henti jantung. Anatomi pembuluh darah sesuai oprasi bypass.

F. KONTRAINDIKASI
Pasien penyakit jantung koroner (PJK) Yang tidak dianjurkan untuk operasi bypass adalah
usia lanjut, fungsi ventrikle kiri jelek (<30%) struktur arteri koroner yang tidak
memungkinkan untuk disambung.

G. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KEGAGALAN


1. Diabetes melitus
2. Usia yang sudah tua
3. Penurunan fraksi ejeksi
4. Infeksi paska operasi : COPD
5. Tidak adanya revaskulerisasi dari penyambungan arteri yang dilakukan.

H. RESIKO DAN KOMPLIKASI


Keseluruhan tingkat kematian mencapai 4%, selama dan segera setelah dilakukan CABG 5-
10% pasien mengalami serangan jantung yang mengalami penyebab kematin utama. Sekitar
5% pasien memerlukan pembedahan ulang karena terjadi perdarahan, namun pembedahan
kedua meningkatkan resiko infeksi pada dada dan komplikasi pada paru. Stroke terjadi pada
1-2 % pasien, terutama pada pasien yang berusia tua. Kematian dan komplikasi meningkat
sesuai dengan umur (terutama pada umur diatas 70 tahun), kelemahan fungsi otot jantung,
penyumbatan pada arteri utama, diabetes melitus, penyakit paru kronis dan gagal ginjal
kronis. Kematian juga dua kali lebih tinggi pada wanita, karena arteri koroner yang lebih
kecil. Arteri yang kecil membuat CABG sulit dilakukan dan memakan waktu yang lama.
Selain itu juga akan menurunkan fungsi jangka pendek dan jangka panjang dari graft.

I. PATOFISIOLOGI

Faktor-faktor resiko Terdapat plak pada dinding


asterosklerosis arteri korroner

Penyempitan lumen arteri,


Kolesterol, merokok, ruptur plak, trombosis,
obesitas, hipertensi, DM, spasme arteri
gaya hidup

Penyumbatan arteri koronaria

aterosklerosis

Nyeri akut Oprasi CABG Resiko infeksi


(Coronary
Artery Bypass
Grafth)
Ansietas Perdarahan di
jantung
Oprasi CABG
(Coronary Artery
Penurunan curah Penyempitan
Bypass Grafth)
jantung pembuluh darah
Lapisan endotel pembuluh arteri koroner yang normal akan mengalami kerusakan oleh
adannya faktor resiko antara lain; hipertensi, asap rokok, diet, diabetes militus,
hiperkolestrolemia, obesitas, merokok, dan kepribadian. Akibat kerusakan endotel tersebut
maka terbentuk plak aterosklerosik pada dinding arteri koroner. Plak tersebut
mengakibatkan penyempitan arteri, ruptur plak, trombosis dan spasme arteri. Kemudian
terjadi penyumbatan arteri koronaria sehingga perlu dilakukan oprasi CABG.

J. TEKNIK CORONARY ARTERY BYPASS GRAFT (CABG)


Ada 2 teknik yang digunakan pada operasi CABG yaitu tindakan CABG yang menggunakan
mesin Cardio Pulmonary Bypass(CPB) sering disebut On-Pump Coroanary Artery Bypass
atau tanpa menggunakan mesin CPB yang sering disebut Off-Pump Coronary Artery
Bypass(OPCAB). Penggunaan mesin CPB merupakan standar CABG. Di RS Dr Kariadi
Semarang, dari 46 operasi CABG selama tahun 2006-2008, sebanyak dua kasus dilakukan
dengan Off-Pump Coronary Bypass Graft, selebihnya menggunakan mesin CPB.

Ada beberapa parameter dalam memilih tehnik operasi off-pump atau on-pump antara lain
yaitu, status hemodinamik harus stabil, karena status hemodinamik yang tidak stabil,
memerlukan pemberian obat, dan apabila pemberian obat tidak memberikan hasil yang baik,
maka menggunakan tehnik operasi on-pump lebih dipilih.Kemudian evaluasi pembuluh
darah yang akan dioperasi, karena pada pasien obesitas dengan lapisan lemak epikardium
yang tebal atau pembuluh darah target yang terlalu dalam di lapisan miokardium atau
pembuluh darah yang terlalu kecil. Keadaan ini akan mempersulit penggunaan tehnik
operasi off-pump.

Teknik operasi Off-Pump Coronary Bypass Graft belum banyak digunakan karena teknik ini
merupakan teknik baru,tanpa menggunakanmesin CPB. Tehnik ini mempunyai tingkat
mortalitas dan morbiditas yang rendah. Namun bukan berarti teknik ini lebih
baik.Penggunaan teknik On-pump Coronary Artery Bypass Graft lebih banyak dari pada
teknik Off-Pump Coronary Bypass Graft. Pada operasi On-pump Coronary Artery Bypass
Graft, prosedur dilakukan dengan alat mekanis mesin jantung paru atau CPB. Mesin ini
meminimalkan perdarahan saat operasi berlangsung, dan perfusi jantung dapat
dipertahankan untuk jaringan dan organ lain di tubuh.
K. REHABILITASI PASIEN POST CABG
1. Pemulihan tulang dada membutuhkan waktu sekitar enam minggu, selama masa
pemulihan ini pasien dianjurkan untuk tidak mengangkat benda atau apapun yang
bertanya lebih 10 pound.
2. Pasien bisa kembali melakukan aktivitas seks normal selama bisa mengatur posisi
sehingga tidak menempatkan beban pasangan didadanya.
3. Pasien dapat kembali bekerja pada enam minggu pasca penyembuhan.
4. Latihan stres rutin dilakukan pada empat sampai enam minggu pasca penyembuhan
CABG dan sebagai tanda mulai program rehabilitasi jantung.
5. Rehabilitasi selama 12 minggu yang secaraberangsur-angsur terus meningkat selama satu
jam tiga kali seminggu
6. Pasien diberi penjelasan untuk merungubah gaya hidupnya untuk mencega CAD lebih
lanjut, seperti berhenti merokok mengurangi berat badan, mengendalikan tekanan darah
dan diabetes melitus serta menurunkan kadar kolesterol.
ASUHAN KEPERAWATAN POST CABG

1. PENGKAJIAN
a. Identitas klien
Nama, Umur, Alamat, Agama, Status perkawinan, Pendidikan, Pekerjaan, Suku,
Diagnosa Medis, dan Keluarga/ Penanggung jawab.
b. Riwayat kesehatan
1) Riwayat penyakit sekarang : pasien mengeluh nyeri, sesak nafas, palpitasi,
singkop.
2) Riwayat penyakit dahulu :
- Kaji riwayat DM memicu aterosklerosis, menghambat penyembuhan luka dan
predisposisi infeksi.
- Hipertensi dan obesitas meningkatkan beban kerja jantung
- Obesitas meningkatkan resiko infeksi karena jaringan adiposa mengandung
sedikit vaskularisasi.
3) Riwayat penyakit keluarga :
Riwayat penyakit yang pernah diderita keluarga seperti DM, hipertensi, penyakit
jantung koroner.
4) Riwayat psikologis :
Pasien yang akan dilakukan CABG dapat mengalami kecemasan sampai
ketakutan akan kematian.
c. Pemeriksaan Penunjang
1) EKG
Adanya gelombang patologik disertai peninggian S-T segmen yang konveks dan
diikuti gelombang T yang negative dan simetrik. Kelainan Q menjadi lebar (lebih
dari 0,04 sec) dan dalam (Q/R lebih dari )
2) Laboratorium
a) Creatinin fosfaksinase (CPK). Iso enzim CKMB meningkat. Hal ini terjadi
karena kerusakan otot, maka enzim intra sel dkeluarkan ke dalam aliran darah
Normal 0-1 mU/ml.
b) SGOT
Normal kurang dari 12 mU/ml, kadar enzim ini naik pada 12-24 jam setelah
serangan.
c) LDH
Normal kurang dari 195 mU/ml, kadar enzim biasanya baru mulai naik setelah
48 jam.
d) Pemeriksaan lain : ditemukan peninggian LED, leukositosis ringan, dan
kadang hiperglikemik ringan
e) Katerisasi : angiografi koroner untuk mengetahui derajat obstruksi
f) Radiologi : pembesaran dari jantung.

Pengkajian lainnya
Sistem neurologis
Tingkat responsensivitas, ukuran pupil, dan reaksi terhadap cahaya, kekuatan
genggaman dan gerakan ekstremitas, refleks pada CABG dengan arteri mamaria
interna akan mengalami parasitesis sementara atau permanen. Pada CABG dengan
arteri gastroepiploika akan mengalami illeus beberapa waktu pasca operasi dan
nyeri abdomen selain nyeri dada
Status jantung
Frekuensi, irama, suara, jantung, tekanan darah arteri, tekanan darah central
(CVP), tekana arteri paru, tekanan arteri baji paru (PAWP : pulmonary artery
wedge pressure), tekanan arteri atrium kiri (LAP), bentuk gelombang dari pipa
tekanan darah invasive curah jantung atau indeks, tahanan pembuluh darah
sitemik dan paru, saturasi oksigen arteri paru (SvO2), bila ada drainase rongga
dada, dan status serta fungsi pace maker.
Status respiratorik
Gerakan dada, suara nafas, penentuan ventilator (frekuensi, volume tidal,
kosentrasi oksigen, mode ( missal, SIMV), tekanan positif akhir ekspirasi (SaO2),
CO2 akhir tidal, pipa drainase rongga dada, gas darah arteri
System pembuluh darah perifer
Denyut nadi perifer, sianosis, suhu, edema, kondisi balutan dan pipa invasive
Fungsi ginjal
Saluran urine, jenis dan osmolaritasnya
Status cairan dan elektrolit
Input, saluran pipa drainase semua parameter curah jantung, dan indikasi
keseimbangan elektrolit, hiperglekemia (konvulsi, mental, tidak tenang, mual,
lemah, parasitesis, ekstremitas, disritmia, gelombang P puncak, meningkatnya
amplitudo, pelebaran kompleks PQRS, perpanjangan interval (QT).
Hypokalemia (intoksikasi digitalis, disritmia : gelombang U, AV Blok,
gelombang T yang datar atau terbalik).
Hyponatremia : lemah, lelah, bingung, kejang, koma
Hypoklasemia : parestesia, spasmen tangan dan kaki, kram otot tetani
Hyperklasemia : intoksikasi digitalis asistole
Nyeri
Jenis, lokasi, durasi ( bedakan nyeri bedah angina) ; aprehensi, respon terhadap
analgetik

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan kehilangan darah dan gangguan fungsi
jantung.
b. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera ditandai dengan adanya trauma operasi
dan iritasi akibat selang dada.
c. Ansietas berhubungan dengan rasa takut akan kematian, penurunan kesehatan, kurang
pengetahuan terhadap tindakan CABG.
d. Resiko infeksi berhubungan dengan port de entry kuman.
No Diagnosa Keperawatan Tujuan kriteria & hasil Intervensi Rasional
1. Penurunan curah jantung NOC : a. Pantau kecenderungan frekuensi
berhubungan dengan - Cardiac pump jantung dan tekanan darah. a. Hipertensi dapat terjadi
kehilangan darah dan effectiveness gangguan stres pada garis
gangguan fungsi jantung. - Circulation status jahitan tandur baru dan
- Vital sign status mengubah aliran darah atau
Kriteria hasil : tekanan dalam serambi
1. Tanda vital jantung dan melewati katup,
dalam rentang dengan peningkatan resiko
normal (tekanan b. Pantau disritmia jantung, komplikasi
darah, nadi, observasi, respon pasien b. Disritmia yang mengancam
respirasi) terhadap disritmia contoh hidup dapat terjadi
2. Dapat penurunan tekanan darah. sehubungan dengan
mentoleransi ketidakseimbangan elektrolit,
aktivitas, tidak iskemia, miokardia atau
ada kelelahan. c. Catat suhu kulit atau warna, gangguan pada konduksi
3. Tidak ada edema kualitas atau kesamaan perifer. elektrika jantung.
paru, perifer, dan c. Kulit hangat, merah muda,
tidak ada asites. d. Ukur atau catat pemasukan, dan nadi kuat indikator
4. Tidak ada pengeluaran, dan keseimbangan umum curah jantung adekuat
penurunan cairan. d. Menentukan kebutuhan
kesadaran. cairan atau mengidentifikasi
e. Jadwalkan istirahat atau periode kelebihan cairan yang dapat
pemasukan, pengeluaran, dan mempengaruhi curah
keseimbangan cairan. jantung.
e. Mencegah kelemahan atau
f. Kaji ulang EKG terlalu lelah dan stres
kardiovaskuler berlebihan.

f. Untuk mengikuti kemajuan


normalisasi pola konduksi
g. Berikan cairan IV atau tranfusi elektrikal atau fungsi
darah sesuai indikasi. ventrikel setelah pembedahan
atau mengidentifikasi
komplikasi.
h. Berikan oksigen tambahan g. Untuk memperbaiki atau
sesuai indikasi. mempertahankan sirkulasi
adekuat dan meningkatkan
kapasitas pembawa oksigen.
h. Meningkatkan oksigenasi
maksimal
2. Nyeri akut berhubungan NOC : a. Observasi cemas, menangis,
dengan trauma operasi dan - Pain level gelisah, gangguan tidur. a. Menunjukkan derajat nyeri
iritasi akibat selang dada - Pain control b. Tingkatkan posisi nyaman yang dialami pasien.
- Comfort level menggunakan alat batu bila
Kriteria hasil : perlu b. Meningkatkan kenyaman
1. Mampu c. Berikan tindakan nyaman dan
mengontrol nyeri bantu aktivitas perawatan diri
(tahu penyebab d. Jadwalkan aktivitas perawatan c. Meningkatkan relaksasi dan
nyeri, mampu untuk seimbang dengan periode menurunkan frekuensi
menggunakan tidur atau istirahat adekuat keutuhan dosis analgetik
teknik e. Mengidentifikasi atau dorong d. Dapat meningkatkan koping
nonfarmakologis berlaku seperti bimbingan dengan stres
untuk imajinasi, distraksi, visualisasi, ketidaknyamanan.
mengurangi dan nafas dalam.
nyeri, mencari f. Kolaborasi pemberian obat e. Meningkatkan rasa sehat,
bantuan) sesuai indikasi contoh menurunkan kebutuhan
2. Melaporkan profolsifene dan asetaminofen analgesik dan meningkatkan
bahwa nyeri (Darvocet N), asetaminofen dan penyembuhan.
berkurang oksikodon (Tylox)
dengan f. Untuk kontrol nyeri adekuat
menggunakan dan dorong tegangan otot,
manajemen nyeri yang memperbaiki kenyaman
3. Mampu pasien dan meningkatkan
mengenali nyeri penyembuhan.
(skala, intensitas,
frekuensi, dan
tanda nyeri)
4. Menyatakan rasa
nyaman setelah
nyeri berkurang.
3. Ansietas berhubungan NOC : a. Kaji tanda-tanda dan ekspresi a. Cemas dapat merangsang
dengan rasa takut akan - Anxiety self-control verbal dari kecemasan respon simpatik dengan
kematian, penurunan Kriteria hasil : melepaskan katekolamin,
kesehatan, kurang 1. Gelisah hilang atau sehingga menyebabkan
pengetahuan terhadap berkurang. peningkatan kebutuhan
tindakan CABG. 2. Klien kooperatif jantung akan oksigen.
3. Mengungkapkan b. Berikan kesempatan pada klien b. Mengungkapkan perasaan
perasaannya pada untuk mengungkapkan perasaan dapat mengurangi ansietas
perawat tentang dan kecemasannya dan dapat membuat klien
tindakan yang c. Jelaskan kepada klien tentang lebih tenang
diprogramkan. prosedur tindakan CABG c. Pengetahuan yang adekuat
4. Klien dapat (pengertian, manfaat, indikasi, dapat mengurangi
mengidentifikasi komplikasi, dan resiko apabila kecemasan.
penyebab atau tidak dilakukan CABG)
faktor yang d. Berikan posisi nyaman,
mempengaruhinya. lingkungan yang tenang bagi
5. Menyatakan cemas klien d. Siatuasi yang tenang dapat
berkurang/hilang e. Beri kesempatan pihak keluarga mengurangi kecemasan klien
untuk mendampingi klien
e. Keluarga dapat membantu
klien untuk mengungkapkan
perasaan cemas.
4. Resiko infeksi NOC : a. Cuci tangan sebelum dan a. Mencegah infeksi
berhubungan dengan port - Infection control sesudah melakukan tindakan
de entry kuman. Kriteria hasil : perawatan luka.
1. Klien bebas dari b. Kaji daerah sekitar luka operasi, b. Gejala dini infeksi diketahui
tanda dan gejala observasi adanya pus, bau.
infeksi c. Pantau suhu tubuh dan nadi c. Hipertermi dan takikardia
dapat menjadi tanda infeksi
d. Kolaborasi pemberian antibiotik d. Membunuh bakteri/ kuman
e. Beri nutrisi yang adekuat e. Membantu meningkatkan
imunitas.
DAFTAR PUSTAKA

Feriyawati, L. 2005. CABG dengan Menggunakan Vena Shapenous, Arteri Mammaria


Interna dan Arteri Radialis. FK USU.

Mutaqqin, Arif. 2009. Buku Ajar Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem
Kardiovaskuler dan Hematologi. Jakarta : Salemba Medika.

https://www.scribd.com/mobile/document/343079588/LP-LK-CABG

Muttaqin, A.2009.Buku Ajar Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler


dan Hematologi.Jakarta:Salemba Medika