Anda di halaman 1dari 3

ASPEK MEDIKOLEGAL PELAYANAN GAWAT DARURAT

a. Karakteristik Pelayanan Gawat Darurat


Pelayanan gawat darurat berbeda dengan pelayanan non gawat darurat.
Di dalam pelayanan gadar ditemukan beberapa isu yaitu periode waktu
pengamanan yang singkat. Hal tersebut dapat memberikan dampak pada
pasien kecacatan sampai kematian. Emosional dari pihak yang dapat
menimbulkan konflik, agara secepatnya pasien mendapatkan pelayanan oleh
tenaga medis.
b. Hubungan Dokter-Pasien Dalam Keadaan Gawat Darurat
Dalam keadaan non-gadar, pasien bisa dengan bebas untuk memilih
dengan dokter siapa pasien ditangani dokter. Akan tetapi dalam keadaan gadar
tidak seperti itu. Apabila dokter menolong orang dalam keadaan darurat, maka
harus diselesaikan sampai tuntas.
c. Pengaturan Dalam Instalasi Gawat Darurat
Di IGD, tenaga kesehatan harus terpenuhi dengan baik. Selain terdapat
dokter yang harus selalu berada di IGD, rumah sakit jga harus menyiapkan
dokter spesialis dan harus selalu siap jika menerima rujukan dari IGD.
d. Pengaturan Perundang-undangan yang Berkaitan Ddengan Pelayanan Gawat
Darurat
Diatur dalam UU No. 23/1992 tentang kesehatan PerMenKes. No
585/1989 tentang persetujuan tindakan medis. PerMenKes No. 159b/1988
tentang rumah sakit.
e. Pengaturan Penyelengaraan Pelayanan Gawat Darurat
Pemberian pertolongan telah diatur dalam pasal 51 UU No. 29/2004
tentang prsktik kedokteran, dimana seorang dokter wajib melakukan
pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan. Di Indonesia, rumah
sakit wajib melayani 24 jam sehari. Untuk pelayanannya tidak
diperkenankan meminta uang muka terlebih dahulu untuk dapat diberi
pelayanan.
f. Masalah Lingkup Kewenangan Personil dalam Pelayanan Gawat Darurat
Profesi kesehatan memerlukan kompetensi dan kewenangan khusus,
karena tindakan yang dilakukan mengandung resiko yang tidak kecil
dan dapat membahayakan kesehatan pasien.
g. Masalah Medikolegal pada Penanganan Pasien Gawat Darurat
Dalam penenaganan untuk menentukan nilai dan prioritas pasien
dalam keadaan gawat darurat dengan diselenggarakan triage. Selain
itu, adapula fase pra rumah sakit dengan fase di rumah sakit. Dimana
fase pra rumah sakit terlibat pula pertolongan oleh orang awam yang
selanjutnya fase di rumah sakit dilakukan oleh dokter dan perawat.
h. Hubungan Hukuman dalam Pelayanan Gawat Darurat
Di USA dikenal adanya doktrin GOOD SAMARITAN . Doktrin
tersebut diberlakukan untuk fase pra rumah sakit untuk melindungi
pihak yang sukarela menolong dalam keadaan gawat darurat. Terdapat
2 syarat doktrin yaitu kesukarelaan dan itikad baik.
Setiap tindakan medis perlu mendapatkan informed concent. Tetapi
dalam keadaan darurat, tidak perlu persetujuan dari siapapun sesuai
pasal (pasal 11 permenkes No. 585/1989).
i. Kematian pada IGD
Kematian secara mendadak atau tidak terduga di Indonesia, diserahkan
pada pihak POLRI dan akan ditentukan apakah jenazah akan diotopsi
atau tidak. Dokter IGD tidak boleh menerbitkan surat kematian pasien.
j. Pembiayaan dalam Pelayanan Gawat Darurat
Pembiayaan pasien disini diatasi oleh pasien dan bias juga ditanggung
perusahaan asuransi kerugian.
Komentar

Dalam masalah ini, terdapat rumah sakit yang meminta biaya terlebih dahulu
sebelum pelayanan diberikan. Tetapi untuk sekarang tidak diperkenankan melakukan
hal seperti itu. Karena pada dasarnya banyak sekali orang yang setiap harinya di IGD
membutuhkan pelayanan cepat agar nyawa seseorang bisa tertolong. Penanganan
gadar lebih diprioritaskan dibanding dengan non-gadar. Selain itu, profesi kesehatan
juga diberikan kewenangan yang pasti untuk menjamin jika suatu saat nanti ada
resiko kecil maupun besar yang terjadi.