Anda di halaman 1dari 16

2013

Menutup Aib Sesama Muslim

Kelompok Dua
[Type the company name]
9/16/2013
Kata Pengantar
Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada
Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya kami mampu menyelesaikan tugas
makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Aqidah Akhlak yang berjudul Menutub Aib
Sesama Muslim.

Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi.
Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat
bantuan, dorongan, dan bimbingan dari bapak dosen, sehingga kendala-kendala yang penulis
hadapi teratasi.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang kaitan Aqidah
Akhlak, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi dan
refaransi. Makalah ini kami susun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri kami
maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari
Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi
sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa STEI SEBI. kami sadar
bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu, kepada dosen
pembimbing saya meminta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah saya di masa
yang akan datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca

2
Daftar isi
Kata pengantar 2

Daftar isi. 3

Pengertian aib. 4

Penjelasan ringkas tentang aib 4

Makna menutup aib sesame muslim . 6

Macam-macam aib.. 7

Hadits tentang menutup aib sesame muslim 10

3
MENUTuP AIB SESAMA MUSLIM
Pengertian :

Aib adalah suatu cela atau kondisi yang tidak baik tentang seseorang jika diketahui oleh
orang lain akan membuat rasa malu, rasa malu ini membawa kepada efek sikologi yang negatif
jika tersebar.

Namun banyak kita dapati di tengah keseharian kita, pembicaraan dan obrolan itu
sepertinya tidak asyik kalau tidak membicarakan aib, cacat dan kekurangan yang ada pada orang
lain, padahal obrolan itu bukanlah perkara ringan dalam pandangan Islam.

Penjelasan ringkas:

Allah Subhanahu wa Taala senang untuk menutupi kesalahan hamba-hambaNya, dan


Dia menganjurkan agar para hamba-Nya juga melakukannya di antara sesama mereka.

Untuk itu Allah Taala telah menyediakan bagi mereka pahala yang sesuai dengan
amalan baik mereka, yaitu Allah Taala akan menyembunyikan aib dan mengampuni dosa
mereka pada hari kiamat karena mereka telah menyembunyikan aib saudaranya di dunia.

Al-Qadhi Iyadh rahimahullah berkata, Tentang ditutupnya aib si hamba pada hari
kiamat, maka ada dua kemungkinan makna:

1. Allah akan menutupi kemaksiatan dan aibnya dengan cara tidak


mengumumkannya kepada manusia di padang mahsyar.

2. Allah Taala tidak akan menghisab aibnya dan tidak akan menyebut aibnya tersebut.

Makna pertama di atas di dukung oleh hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu
anhuma, ia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu SAW bersabda:

4

:


:
. :
.

Sesungguhnya (pada hari kiamat) Allah akan mendekatkan seorang mukmin, lalu
Allah meletakkan tabir dan menutupinya. Lalu Allah berfirman, Apakah kamu
mengetahui dosa ini? Apakah engkau tahu dosa itu? Dia menjawab, Ia, betul saya
tahu wahai Rabbku. Hingga ketika Allah telah membuat dia mengakui semua
dosanya dan dia mengira dirinya sudah akan binasa,, Allah berfirman kepadanya,
Aku telah menutupi dosa-dosa ini di dunia, maka pada hari ini Aku mengampuni
dosa-dosamu itu. Lalu diberikanlah padanya catatan kebaikan-kebaikannya. (HR.
Al-Bukhari no. 2261)

Sebaliknya, Allah Taala telah melarang dan mengharamkan untuk memata-matai dan
mencari-cari aib seorang muslim, walaupun itu dalam rangka amar maruf nahi mungkar.

Dan Allah telah mempersiapkan hukuman yang menghinakan bagi pelakunya di dunia
dan di akhirat. Adapun di dunia maka Allah pasti akan menghinakan dirinya walaupun dia
tengah bersembunyi di dalam rumahnya. Adapun di akhirat, maka siksaan akhirat lebih besar dan
lebih hina, yaitu Allah akan membuka secara terang-terangan semua dosa dan aibnya ketika di
dunia, agar seluruh makhluk di padang mahsyar bisa melihatnya, wal iyadzu billah.
Ini dosa jika dia sekedar mencari-cari aib sesama muslim, walaupun dia tidak
menceritakannya kepada orang lain. Akan tetapi jika setelah dia mencari-cari tahu aib
saudaranya lalu dia menceritakannya kepada orang lain, maka dia telah terjatuh ke dalam dosa
besar kedua yang tidak kalah kecil dosanya dibandingkan dosa yang pertama, yaitu dosa ghibah.
Karena sungguh, barangsiapa yang melakukan hal itu maka dia adalah termasuk orang-orang
yang menghendaki kejelekan tersebar di tengah-tengah kaum muslimin.

Dan jika demikian keadaannya, maka atasnya firman Allah Taala:


5



Sesungguhnya orang-orang yang menyenangi tersebarnya kekejian di tengah-tengah orang-


orang yang beriman, mereka akan memperoleh azab yang pedih di dunia dan di akhirat. (QS.
An-Nur: 19)

Makna Menutup Aib Sesama Muslim

Tertutup ada dua macam: hissi dan maknawi. Tertutup secara hissi adalah memakai kain
yang baik dan bagus untuk menutupi aurat sehingga tidak dilihat oleh pandangan orang.

Tertutup secara maknawi adalah menutupi aib dan perbuatan dosa dengan tidak
menceritakan dan menyebarkannya kepada orang lain. Ini juga berlaku atas orang yang melihat
saudara muslimnya telah melakukan perbuatan dosa atau melakukan tindakan hina maka
janganlah ia menyebarkannya kepada masyarakat, tapi hendaknya ia mencegahnya dari
perbuatan maksiat dan menyuruhnya bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karenanya
Islam melarang keras umatnya dari mencari-cari kesalahan kaum muslimin yang tersembunyi
untuk dia sebarkan ke tengah-tengah manusia. Perbuatan tersebut dapat mengundang murka
Allah kepadanya dan menyebabkannya mengerjakan perbuatan buruk saudaranya tadi. Karena
balasan sesuai dengan jenis amal. Maka siapa yang mencari-cari aib orang lain dan
menyebarkannya di tengah-tengah manusia maka Allah akan menyingkap aibnya dan
menyebarkannya di tengah-tengah makhluk-Nya. Bahkan dosa dan maksiat yang dikerjakannya
di dalam kamarnya di tengah malam akan juga diketahui orang. Wallahu Ta'ala A'lam.

6
Macam-macam aib :

Adapun aib yang ada pada seseorang bisa dibagi menjadi dua kategori:

1. aib yang sifatnya khalqiyah, yaitu aib yang sifatnya qodrati dan bukan merupakan
perbuatan maksiat. Seperti cacat di salah satu organ tubuh atau penyakit yang
membuatnya malu jika diketahui oleh orang lain.

Aib seperti ini adalah aurat yang harus dijaga, tidak boleh disebarkan atau dibicarakan,
baik secara terang-terangan atau dengan gunjingan, karena perbuatan tersebut adalah
dosa besar menurut mayoritas ulama, karena aib yang sifatnya penciptaan Allah yang
manusia tidak memiliki kuasa menolaknya, maka menyebarkannya berarti menghina dan
itu berarti menghina Penciptanya. (Imam al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin).

2. Aib berupa perbuatan maksiat, baik yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau
terang-terangan. Maksiat yang dilakukan sembunyi-sembunyi juga terbagi menjadi dua:

Pertama: Perbuatan maksiat yang hanya merusak hubungannya secara pribadi dengan Allah
seperti minum khamr, berzina dll. Jika seorang muslim mendapati saudaranya melakukan
perbuatan seperti ini hendaklah ia tidak menyebarluaskan hal tersebut, namun dia tetap memiliki
kewajiban untuk melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar. Imam Syafii berkata, Siapa yang
menasehati saudaranya dengan tetap menjaga kerahasiaannya berarti dia benar-benar
menasehatinya dan memperbaikinya. Sedang yang menasehati tanpa menjaga kerahasiaannya,
berarti telah mengekspos aibnya dan mengkhianatinya." (Syarh Shahih Muslim,)

Kedua: Perbuatan maksiat yang dilakukan sembunyi-sembunyi tapi merugikan orang lain
seperti mencuri, korupsi dan lain sebagainya. Maka perbuatan seperti ini diperbolehkan untuk
diselidiki dan diungkap, karena hal ini sangat berbahaya jika dibiarkan, karena akan lebih banyak
lagi merugikan orang lain.

Sebuah kisah masyhur yang ditulis oleh Imam Ibnu Qudamah dalam kitab "Tawwabin" dapat
dijadikan pelajaran bagi kita untuk menutup aib diri sendiri dan aib orang lain serta mengakuinya
dihadapan Allah dengan bertaubat atas dosa tersebut.

7
Disebutkan bahwa pada zaman nabi Musa 'alaihis salam, Bani Israil ditimpa musim kemarau
yang berkepanjangan. Mereka pun berkumpul mendatangi Nabi mereka. Mereka berkata ,
"Wahai Kaliimallah, berdoalah kepada Rabbmu agar Dia menurunkan hujan kepada
kami." Maka berangkatlah nabi Musa 'alaihis salam bersama kaumnya menuju padang pasir
yang luas bersama lebih dari 70 ribu orang. Mulailah mereka berdoa dengan kondisi yang lusuh
penuh debu, haus dan lapar.

Musa berdoa, "Wahai Tuhan kami turunkanlah hujan kepada kami, tebarkanlah rahmat-Mu,
kasihilah anak-anak dan orang-orang yang mengandung, hewan-hewan dan orang-orang tua
yang rukuk dan sujud."

Setelah itu langit tetap saja terang benderang, matahari pun bersinar makin kemilau. Kemudian
Musa berdoa lagi, "Wahai Tuhanku berilah kami hujan".

Allah pun berfirman kepada Musa, "Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian
sedangkan di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat sejak 40 tahun yang
lalu. Keluarkanlah ia di depan manusia agar dia berdiri di depan kalian semua. Karena dialah,
Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian. "

Maka Musa pun berteriak di tengah-tengah kaumnya, "Wahai hamba yang bermaksiat kepada
Allah sejak 40 tahun, keluarlah ke hadapan kami, karena engkaulah hujan tak kunjung turun."

Seorang laki-laki melirik ke kanan dan kiri, maka tak seorang pun yang keluar di depan manusia,
saat itu pula ia sadar kalau dirinyalah yang dimaksud.

Ia berkata dalam hatinya, "Kalau aku keluar ke depan manusia, maka akan terbuka
rahasiaku. Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tak akan turun. "

Maka kepalanya tertunduk malu dan menyesal, air matanya pun menetes, sambil berdoa kepada
Allah, "Ya Allah, Aku telah bermaksiat kepadamu selama 40 tahun, selama itu pula Engkau
menutupi aibku. Sungguh sekarang aku bertobat kepada-Mu, maka terimalah taubatku. "

Belum sempat ia mengakhiri doanya maka awan-awan tebalpun bergumpal, semakin tebal
menghitam lalu turunlah hujan.

8
Nabi Musa pun keheranan dan berkata, "Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami,
namun tak seorang pun yang keluar di depan manusia."

Allah berfirman, "Aku menurunkan hujan karena seorang hamba yang karenanya hujan tak
kunjung turun."

Musa berkata, "Ya Allah, Tunjukkan padaku hamba yang taat itu."

Allah berfirman, "Wahai Musa, Aku tidak membuka aibnya padahal ia bermaksiat kepada-Ku,
apakah Aku membuka akan aibnya sedangkan ia taat kepada-Ku?!"

Setiap orang pasti memiliki kekurangan, cela dan dosa tertentu pada dirinya, maka suatu aib
yang ada pada seseorang dapat dijadikan pelajaran bagi orang lain untuk dapat belajar dan
memperbaiki diri agar tidak melakukan hal serupa yang akan menimpa dirinya dan orang lain
akibat perbuatannya tersebut.

Maka beruntung dan berbahagialah orang yang disibukkan oleh aibnya sendiri dari disibukkan
dengan aib orang lain. Begitulah Rasulullah Saw menyampaikan dalam sabdanya:
"Berbahagialah orang yang disibukkan dengan aibnya sendiri, sehingga ia tidak sempat
memperhatikan aib orang lain." (HR Al-Bazzar dengan Sanad hasan).

Sungguh indahnya ajaran Islam yang menuntun kita agar menjaga aib kita sendiri dan menjaga
aib orang lain, dan terus berupaya memperbaiki diri. Wallahu a'lam bishowab.

9
Hadits-Hadits Tentang Menutup Aib Sesama Muslim :

Ajaran Islam melarang keras aib seseorang diceritakan, dan tidak boleh sekali-kali
menyebarkan tentang apa ataubagaimana kondisi yang tidak baik tentang seseorang, bahkan
islam mengajarkan untuk menutupinya.Allah berfirman dalam SuratAl Hujarat ayat 12 yang
artinya:

"Wahai orang-orang yang beriman!Jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sesungguhnya


sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari
kesalahan dan aib orang lain; dan janganlah kamu mengumpat sebagian yang lain. Apakah
seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka sudah tentu
kamu jijik kepadanya. (Oleh itu, jauhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertakwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang."

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda yang artinya:"Wahai orangyang beriman


dengan lisannya, tetapi tidak beriman dengan hatinya. Janganlah kamu mengumpat kaum
muslimin dan janganlah mengintip aib mereka, maka barang siapa yang mengintip aib
saudaranya, niscaya Allah akan mengintip aibnya dan siapa yang diintip Allah akan aibnya,
maka Allah akan membuka aibnya meskipun dirahasiakan di lubang kendaraannya."(HR. at-
Tirmidzi)

Bahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam juga melarang seseorang untuk


membuka aib dirinya sendiri kepada orang lain, sebagaimana sabdanya: "Setiap umatku
dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan (melakukan maksiat). Dan termasuk terang-
terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari, kemudian di
paginya ia berkata: wahai fulan, kemarin aku telah melakukan ini dan itu padahal Allah telah
menutupnya- dan di pagi harinya ia membuka tutupan Allah atas dirinya." (HR. Bukhori
Muslim)

Sebaliknya, Rasulullah memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang menutup aib
saudara-saudara mereka, dengan menutup aib mereka di dunia dan akhirat, seperti dalam hadits

10
shahih: "Dan barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, niscaya Allah menutup aibnya di
dunia dan akhirat." (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau
bersabda:





Tidaklah seorang hamba menutupi aib hamba lainnya di dunia, melainkan Allah akan
menutupi aibnya di hari kiamat kelak. (HR. Muslim no. 2590)

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
bersabda:

Seorang muslim dengan muslim yang lain adalah bersaudara, dia tidak boleh berbuat zhalim
dan aniaya kepada saudaranya. Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka
Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa yanga membebaskan seorang muslim dari
suatu kesulitan, maka Allah akan membebaskannya dari kesulitan pada hari kiamat. Dan
barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari
kiamat kelak. (HR. Muslim no. 2850)

Dari Ibnu Umar radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam menaiki
mimbar lalu menyeru dengan suara yang lantang:

11






Wahai sekalian orang yang hanya berislam dengan lisannya namun keimanan belum tertancap
di dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, jangan pula kalian memperolok
mereka, dan jangan pula kalian menelusuri.mencari-cari aib mereka. Karena barangsiapa yang
mencari-cari aib saudaranya niscaya Allah akan mencari-cari aibnya, dan barang siapa yang
aibnya dicari-cari oleh Allah niscaya Allah akan mempermalukan dia meskipun dia berada di
dalam rumahnya sendiri. (HR. Abu Daud no. 4236 dan At-Tirmizi no. 2032)

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya


sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan
janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara
kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik
kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi
Maha Penyayang. [Al Hujarat (49), ayat 12]

Sahabat, mari kita nikmati beberapa sabda Rasulullah saw dibawah ini :

Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda, Tidak seorangpun hamba yang
berusaha menutup aib orang lain di dunia, melainkan aibnya akan ditutupi oleh Allah
pada Hari Kiamat nanti (HR. Muslim) Hadis Sahih.

Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda, Siapa yang menolong sesama
muslim dalam menghadapi suatu kesulitan di dunia, maka Allah akan melapangkannya
dalam menghadapi huru-hara Hari Kiamat; siapa yang memudahkan urusan seorang

12
muslim di dunia, maka Allah akan Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan di
akhirat; siapa yang berusaha menutupi aib atau kekurangan seorang muslim di dunia,
maka Allah akan menutupi kekurangannya di dunia dan akhirat; Allah akan selalu
menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya (HR. Muslim)
Hadis Sahih.

Abdullah bin Amr meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda, Seorang muslim adalah
saudara bagi muslim yang lain. Dia tidak akan menganiaya dan menyerahkannya kepada
musuh-musuhnya. Siapa saja yang selalu siap memenuhi kebutuhan saudaranya niscaya
Allah akan selalu siap memenuhi kebutuhannya. Siapa saja yang melapangkan seorang
muslim dalam menghadapi kesulitan maka Allah akan melapangkannya dalam
menghadapi kesulitan pada Hari Kiamat. Dan siapa saja yang berusaha menutupi
kekurangan seorang muslim, maka Allah akan menutupi kekurangannya pada Hari
Kiamat nanti (HR. Abu Dawud) Hadis Sahih.

Ibn Abbas meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda, Siapa saja yang berusaha menutupi
aib saudaranya, niscaya Allah akan menutupi aibnya pada Hari Kiamat. Dan, siapa yang
berusaha menyingkap aib saudaranya, maka Allah akan membeberkan aibnya bahkan
sampai pada aib dan rahasia rumah tangganya serta keluarganya (HR. Ibn Majah)
Hadis Sahih.

Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW bersabda, Barang siapa melepaskan seorang mukmin dari
kesusahan hidup di dunia, niscaya Alloh akan melepaskan darinya kesusahan di hari kiamat,
barang siapa memudahkan urusan (mukmin) yang sulit niscaya Alloh akan memudahkan
urusannya di dunia dan akhirat. Barang siapa menutup aib seorang muslim, maka Alloh akan
menutup aibnya di dunia dan akhirat. Alloh akan menolong seorang hamba, selama hamba itu
senantiasa menolong saudaranya. Barang siapa menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka
Alloh akan memudahkan jalan baginya menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah
satu rumah Alloh untuk membaca Kitabulloh dan mempelajarinya bersama-sama, melainkan
akan turun kepada mereka ketenteraman, rahmat Alloh akan menyelimuti mereka, dan Alloh
memuji mereka di hadapan (para malaikat) yang berada di sisi-Nya. Barang siapa amalnya

13
lambat, maka tidak akan disempurnakan oleh kemuliaan nasabnya. (Hadits dengan redaksi
seperti ini diriwayatkan oleh Muslim)

Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak
mengurusi (membicarakan) aib-aib orang lain. (HR. Ad-Dailami)

Ada pun Ustad Dayat pada ceramah Minggu menyatakan seharusnya kita menjaga aurat para
pemimpin dan ulama kita selama masalahnya masih Furuiyah. Jangan sampai aib ulama
dibongkar sehingga ummat tidak mau lagi mendengar ceramahnya. Ini merusak Dakwah Islam.

Sesungguhnya pemuka agama lain juga punya aib, namun mereka pandai menjaga aurat mereka
sehingga tetap berwibawa.

Jika memberi nasehat, sebaiknya berikan secara langsung. Jangan di depan umum. Sebab jika di
depan umum, itu namanya menghina. Menjatuhkan orang.

Dari Abu Ruqayyah Tamim ad-Dari, bahwa Nabi telah bersabda, Agama (Islam) itu adalah
nasehat. (beliau mengulanginya tiga kali), Kami bertanya, Untuk siapa, wahai Rasulullah?
Beliau menjawab, Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, imam-imam kaum muslimin, dan kaum
muslimin umumnya. [HR Bukhari-Muslim]

Lihat bagaimana Allah menutupi kesalahan orang-orang yang beriman. Sebab sebaik-baiknya
orang, dia bukan Nabi yang maksum. Tetap punya kesalahan entah karena tak disengaja atau pun
kejahilannya:

Supaya Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia
menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang
besar di sisi Allah [Al Fath 5]

Hendaknya kita mudah memaafkan kesalahan seseorang:

14
(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan
orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai
orang-orang yang berbuat kebajikan. [Ali 'Imran 134]

Lihat bagaimana Allah yang Maha Pengampun mengampuni kesalahan-kesalahan hambaNya:

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman,
(yaitu): Berimanlah kamu kepada Tuhanmu, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami,
ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami,
dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. [Ali 'Imran 193]

Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan


kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki
(dirinya), sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. [An Nahl 119]

15
Daftar pustaka

16