Anda di halaman 1dari 40

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala


limpahan rahmatnya serta karunianya, sehingga syukur Alhamdulillah
penulis dapat menyelesaikan referat dengan judul Gambaran CT-Scan
Kepala. Referat ini disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan
kepaniteraan klinik bagian Radiologi di RSUD Cilegon.
Penulis menyadari bahwa referat ini dapat terselesaikan berkat bantuan
dari berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat para konsulen
bagian Radiologi yaitu dr. Kesuma Mulya Sp.Rad, atas keluangan waktu
dan bimbingan yang telah diberikan, serta kepada teman sesama
kepaniteraan klinik bagian radiologi dan staf bagian radiologi yang selalu
mendukung, memberi saran, motivasi, bimbingan dan kerjasama yang baik
sehingga dapat terselesaikannya referat ini.
Penulis menyadari bahwa dalam menyusun referat ini masih memiliki
banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami sangat terbuka untuk menerima
segala kritik dan saran yang diberikan demi kesempurnaan referat ini.
Akhirnya semoga referat ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak dan
setiap pembaca pada umumnya. Amin.
Cilegon,
Agustus 2017

Penyusun

1
BAB I

PENDAHULUAN

CT-Scan Kepala adalah suatu pemeriksaan radiologi dengan menggunakan


alat CT-Scan baik dengan atau tanpa menggunakan media kontras guna
mengetahui kelainan atau penyakit di daerah kepala (cranium). Pada pemeriksaan
ct scan kepala non kontras dilakukan dengan dua tahapan yaitu pertama plan
scanning kepala dibuat dengan posisi tabung detektor berada di samping kepala
pasien yang berbaring terlentang. Kemudian di buatlah scan slice per slice
menurut program, barulah dalam hal ini pasien diatas meja pemeriksaan bergerak
sesuai dengan gerakan tabung detektor berputar mengelilingi sambil exposed.
CT-scan saat ini paling banyak digunakan untuk melihat potongan
penampang lintang dari susunan syaraf pusat (otak) manusia. Seperti halnya pada
diagnostik sinar-X konvensional, CT-scan ini juga kurang baik untuk pemeriksaan
bagian/organ tubuh yang bergerak. Sehingga sampai saat ini CT-scan lebih
banyak digunakan untuk pemeriksaan bagian kepala. Dengan dilakukannya
teknik pemeriksaan CT Scan maka hasil gambaran radiograf akan memberikan
informasi yang lebih jelas yang tidak didapat pada foto rontgen konvensional
biasa.
Kelainan patologi yang dapat dilihat melalui CT-Scan kepala adalah
Tumor otak, Kelainan Cerebrovaskular, Anomali, Penyakit Infeksi, Atrofi serebral
/ penyakit degeneratif.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1.1. CT-SCAN
1.1.1. Definisi CT-Scan
Computerized tomography (CT) adalah suatu teknik tomografi
sinar X dimana pancaran sinar X melewati sebuah potongan aksial yang
tipis dari berbagai tujuan terhadap pasien.
CT-Scan merupakan perpaduan antara teknologi sinar-x, komputer
dan televisi sehingga mampu menampilkan gambar anatomis tubuh
manusia dalam bentuk irisan atau slice.
CT Scan kepala atau pemindaian cranial adalah teknologi
pemindaian tomografi terkomputasi dengan atau tanpa menggunakan
media kontras yang berfungsi untuk mengetahui kelainan atau penyakit di
daerah kepala (cranium).
1.1.2. Komponen Dasar CT-Scan
CT-Scan mempunyai dua komponen utama yaitu scan unit dan operator
konsul. Scan unit biasanya berada didalam ruang pemeriksaan sedangkan
operator konsul letaknya terpisah dalam ruang kontrol.
Scan unit terdiri dari dua bagian yaitu gentry dan couch (meja
pemeriksaan).
A. Gentry
Didalam CT-Scan, pasien berada di atas meja pemeriksaan dan meja
tersebut bergerak menuju gentry. Gentry ini terdiri dari beberapa
perangkat yang keberadaannya sangat diperlukan untuk menghasilkan
suatu gambaran, perangkat keras tersebut antara lain tabung sinar-x,
kolimator dan detector.
1. Tabung Sinar-x
Berdasarkan strukturnya, tabung sinar-x sangat mirip dengan
tabung sinar-x konvensional namun perbedaannya terletak pada
kemampuannya untuk menahan panas dan output yang tinggi.

3
2. Kolimator
Kolimator berfungsi untuk mengurangi radiasi hambur membatasi
jumlah sinar-x yang sampai ke tubuh pasien serta untuk
meningkatkan kualitas gambaran. Tidak seperti pada pesawat
radiografi konvensional, CT-Scan menggunakan dua buah
kolimator. Kolimator pertama diletakkan pada rumah tabung sinar-
x yang disebut pre-pasien kolimator. Dan kolimator kedua
diletakkan diantara pasien dan detector yang disebut pre-detektor
kolimator atau post pasien kolimator.
3. Detektor
Selama eksposi berkas sinar-x (foton) menembus pasien dan
mengalami perlemahan (atenuasi). Sisa-sisa foton yang telah ter-
atenuasi kemudian ditangkap oleh detector. Detector memiliki dua
tipe, yaitu detektorsolide state dan detektor isian gas.

B. Couch (Meja Pemeriksaan)


Meja pemeriksaan merupakan tempat untuk memposisikan pasien.
Meja ini biasanya terbuat dari fiber karbon. Dengan adanya bahan ini
maka sinar-x yang menembus pasien tidak terhalangi jalannya untuk
menuju ke detector. Meja ini harus kuat dan kokoh mengingat
fungsinya untuk menopang tubuh pasien selama meja bergerak
kedalam gentry.
Konsul tersedia dalam beberapa variasi. Model yang lama msih
menggunakan dua sistem konsul yaitu untuk pengoperasian CT-Scan
sendiri dan untuk perekaman dan percetakan gambar. Model yang
baru sudah memakai sistem satu konsul dimana banyak memiliki
kelebihan dan fungsi. Bagian dari sistem konsul yaitu: sistem control,
sistem pencetak gambar, dan sistem perekam gambar.

4
1. Sistem Kontrol
Pada bagian ini petugas dapat mengontrol parameter-parameter
yang berhubungan dengan beroperasinya CT-Scan seperti
pengaturan kV, mA, waktu scanning, ketebalan irisan (slice
thicknes), dan lain-lain. Juga dilengkapi dengan keyboard untuk
memasukkan data pasien dan pengontrolan fungsi tertentu pada
komputer.
2. Sistem Pencetakan Gambar
Setelah gambaran CT-Scan diperoleh, gambaran tersebut
dipindahkan ke dalam bentuk film. Pemindahan ini dengan
menggunakan kamera multiformat. Cara kerjanya yaitu kamera
merekam gambaran di monitor dan memindahkannya ke dalam
film. Tampilan gambar di film dapat mencapai 2-24 gambar
tergantung ukuran filmnya (biasanya 8x10 inchi atau 14x17 inchi).
3. Sistem Perekaman Gambar
Merupakan bagian penting yang lain dari CT-Scan. Data-data
pasien yang telah ada disimpan dan dapat dipanggil kembali
dengan cepat.

Gambar 1. Gantry dan Couc

5
1.1.3. Prosedur Pemeriksaan CT-Scan
Pemotretan awal atau permulaan dilakukan dengan tabung yang
dibiarkan diam, sedangkan pasien dengan mejanya yang tidak digerakkan.
Hasilnya adalah sama dengan foto Rntgen biasa, dan disebut sebagai
topogram atau skanogram.
Skanogram ini dibuat untuk memogramkan potongan-potongan
mana saja yang akan dibuat. Kemudian satu per satu dibuat scan-nya
menurut program tersebut. Dalam hal inilah pasien tetap diam di tempat,
sehingga arah scan dapat ditentukan dengan tepat, sedangkan tabung-
detektornya (generasi ketiga) atau tabung (generasi keempat) memutari
pasien.
Prosedur CT dapat dijalankan dengan atau tanpa menggunakan
kontras. Maksud pemberian kontras pada umumnya adalah untuk melihat
apakah ada jaringan, yang menyerap kontras banyak, sedikit, ataukah tidak
sama sekali, dibandingkan dengan jaringan sehat sekitarnya. Hal ini biasa
disebut dengan penyangatan atau dalam bahasa asing enhancement.
Penyangatan dapat dibagi atas penyangatan normal dan
penyangatan patologis. Umpamanya setelah suntikan terjadi penyangatan
normal pada hepar, limpa, ginjal, dan pankreas. Penyangatan patologis
dapat sangat membantu dalam pemeriksaan scaning.
1.1.4. Risiko Pemeriksaan CT-Scan
Risiko terhadap pemeriksaan CT-Scan terdiri dari risiko terhadap
paparan radiasi sinar X dan risiko reaksi alergi terhadap pemakaian
kontras. CT-Scan memberikan paparan sinar X yang lebih besar daripada
foto Rntgen biasa. Penggunaan sinar X dan CT-Scan yang berkali-kali
dapat meningkatkan risiko terkena kanker. Akan tetapi, risiko dari sekali
pemeriksaan CT-Scan adalah kecil. Seseorang yang mempunyai riwayat
alergi terhadap pemakaian kontras sebelumnya harus berhati-hati bila akan
menjalani prosedur pemeriksaan CT-Scan dengan kontras. Umumnya
kontras yang digunakan untuk penggunaan melalui vena mengandung
iodine.

6
1.1.5. Manfaat CT-Scan
Alat ini dapat digunakan untuk mendiagnosis dan memonitor beragam
kondisi kesehatan yaitu:
Melakukan diagnosis kelainan otot dan tulang, seperti tumor atau
retak pada tulang.
Menentukan lokasi tumor, infeksi, atau bekuan darah.
Memandu prosedur medis ketika melakukan operasi, biopsi, atau
terapi radiasi.
Mendeteksi dan memonitor kondisi dan penyakit tertentu, seperti
kanker, sakit jantung, nodul pada paru-paru, dan massa pada hati.
Mencari tahu cedera atau pendarahan internal.
2.2 CT Scan Kepala
CT-Scan Kepala adalah suatu pemeriksaan radiologi dengan
menggunakan pesawat CT-Scan baik dengan atau tanpa menggunakan
media kontras guna mengetahui kelainan atau penyakit di daerah kepala
(cranium). Pada pemeriksaan ct scan kepala non kontras dilakukan dengan
dua tahapan yaitu pertama plan scanning kepala dibuat dengan posisi
tabung detektor berada di samping kepala pasien yang berbaring
terlentang. Kemudian di buatlah scan slice per slice menurut program,
barulah dalam hal ini pasien diatas meja pemeriksaan bergerak sesuai
dengan gerakan tabung detektor berputar mengelilingi sambil exposed
TEHNIK PEMERIKSAAN

a. Posisi pasien
Pasien supine diatas meja pemeriksaan dengan posisi kepala dekat dengan gantry.

b. Posisi Objek
Kepala hiperfleksi dan diletakkan pada head holder. Kepala diposisikan sehingga mid
sagital plane tubuh sejajar dengan lampu indikator longitudinal dan interpupilary line
sejajar dengan lampu indikator horizontal. Lengan pasien diletakkan diatas perut atau
disamping tubuh. Untuk mengurangi pergerakan dahi dan tubuh pasien sebaiknya

7
difikasasi dengan sabuk khusus pada head holder dan meja pemeriksaan. Lutut diberi
pengganjal untuk kenyamanan pasien.

Gambar 2. Posisi pasien pada pemeriksaan CT-scan kepala

c. Gambar yang dihasilkan dalam pemeriksaan CT-scan kepala pada umumnya:


1) Potongan Axial I
Merupakan bagian paling superior dari otak yang disebut hemisphere. Kriteria
gambarnya adalah tampak :
a) Bagian anterior sinus superior sagital
b) Centrum semi ovale (yang berisi materi cerebrum)
c) Fissura longitudinal (bagian dari falks cerebri)
d) Sulcus
e) Gyrus
f) Bagian posterior sinus superior sagital

Gambar 3. Posisi Irisan Otak

8
Gambar 4. Gambar Irisan CT-Scan dan Jaringan Otak

2) Potongan Axial IV
Merupakan irisan axial yang ke empat yang disebut tingkat medial ventrikel.
Kriteria gambarnya tampak :
a) Anterior corpus collosum
b) Anterior horn dari ventrikel lateral kiri
c) Nucleus caudate
d) Thalamus
e) Ventrikel tiga
f) Kelenjar pineal (agak sedikit mengalami kalsifikasi)
g) Posterior horn dari ventrikel lateral kiri

Gambar 5. Posisi Irisan otak

9
Gambar 6. Irisan CT-Scan dan Jaringan Otak

3) Potongan Axial V
Menggambarkan jaringan otak dalam ventrikel medial tiga. Kriteria gambar yang
tampak :
a) Anterior corpus collosum
b) Anterior horn ventrikel lateral kiri
c) Ventrikel tiga
d) Kelenjar pineal
e) Protuberantia occipital interna

Gambar 7. Posisi Irisan Otak

10
Gambar 8. Irisan CT-Scan dan Jaringan Otak

4) Potongan Axial VII


Irisan ke tujuh merupakan penggambaran jaringan dari bidang orbita. Struktur
dalam irisan ini sulit untuk ditampakkan dengan baik dalam CT-scan. Modifikasi-
modifikasi sudut posisi kepala dilakukan untuk mendapatkan gambarannya adalah
tampak :
a) Bola mata / occular bulb
b) Nervus optic kanan
c) Optic chiasma
d) Lobus temporal
e) Otak tengah
f) Cerebellum
g) Lobus oksipitalis
h) Air cell mastoid
i) Sinus ethmoid dan atau sinus sphenoid

Gambar 9. Posisi Irisan Otak

11
Gambar 10. Irisan CT-Scan dan Jaringan Otak

Indikasi Pemeriksaan CT kepala


Primer:
a. Trauma kepala akut
b. Suspek perdarahan intracranial akut
c. Penyakit vascular obstruktif/ vasculitis (termasuk
penggunaan CT angiografi dan atau venografi
d. Evaluasi aneurisme
e. Deteksi atau evaluasi kalsifikasi
f. Evaluasi post operasi imediet akibat tumor, perdarahan
intracranial atau lesi perdarahan
g. Lesi vaskuler yang diobati atau tidak diobati
h. Suspek malfungsi shunt atau shunt revisi
i. Perubahan status mental
j. Tekanan intracranial yang meningkat
k. Sakit kepala
l. Deficit neurologis akut
m. Suspek infeksi intracranial
n. Suspek hidrosefalus
o. Lesi kongenital (makrocefali, mikrocefali dan
craniosinostosis)
p. Evaluasi penyakit psikiatrik
q. Herniasi otak
r. Suspek tumor atau massa, abses
s. Metastasis otak

12
Sekunder:
a) Bila MRI tidak tersedia atau kontraindikasi atau bila CT
lebih dianjurkan untuk digunakan.
b) Diplopia
c) Disfungsi saraf kranial
d) Kejang
e) Apnea
f) Sinkop
g) Ataksia
h) Suspek penyakit neurodegenerative
i) Disfungsi neuroendokrin
j) Ensefalitis
k) Keracunan obat
l) Dysplasia kortikal dan abnormalitas migrasi atau
abnormalitas morfologi otak.

3. Anatomi dan Fisiologis

A. KULIT KEPALA

Gambar 3. Lapisan Kulit Kepala

Lapian Kulit Kepala jika diurut dari luar ke dalam biasa disingkat
dengan SCALP, yang merupakan singkatan dari :

13
Skin atau kulit
Connective Tissue atau jaringan penyambung
Aponeurosis atau galea aponeurotika, merupakan jaringan ikat
yang berhubungan langsung dengan tulang tengkorak
Loose areolar tissue atau jaringan penunjang longgar,
Merupakan tempat yang biasa terjadinya perdarahan subgaleal
(hematom subgaleal) pada trauma/benturan kepala.
Perikranium, merupakan lapisan yang membungkus dan
berhubungan langsung dengan permukaan luar tulang tengkorak.

B. TULANG TENGKORAK
Terdiri atas Kalvarium dan basis kranii. Rongga tengkorak dasar
dibagi 3 fosa :
Fosa Anterior, yaitu tempat lobus frontalis
Fosa Media, yaitu tempat lobus temporalis
Fosa Posterior, yaitu tempat batang otak bawah dan serebelum

C. MENINGEN
Meningen merupakan selaput yang membungkus otak dan sumsum
tulang belakang. Fungsi meningia yaitu melindungi struktur saraf
halus yang membawa pembuluh darah dan cairan sekresi (cairan
serebrospinal), dan memperkecil benturan atau getaran. Meningen
terdiri atas 3 lapisan, yaitu :
a. Duramater (Lapisan sebelah luar)
Duramater adalah selaput keras pembungkus otak yang berasal
dari jaringan ikat tebal dan kuat, dibagian tengkorak terdiri dari
selaput tulang tengkorak dan duramater propia di bagian dalam.
Duramater pada tempat tertentu mengandung rongga yang
mengalirkan darah vena dari otak, rongga ini dinamakan sinus
longitudinal superior yang terletak diantara kedua hemisfer otak.

14
Sinus sagitalis superior mengalirkan darah vena ke sinus
transverses dan sinus sigmoideus.
Arteri-arteri meningea terletak pada ruang epidural, dimana yang
sering mengalami cedera adalah arteri meningea media yang
terletak pada fosa temporalis dapat menimbulkan perdarahan
epidural.
b. Arachnoid (Lapisan tengah)
Arachnoid adalah membran impermeabel halus, tipis, dan
transparan yang meliputi otak dan terletak diantara piamater di
sebelah dalam dan duramater di sebelah luar. Arachnoid
berbentuk seperti jaring laba-laba. Antara arachnoid dan piameter
terdapat ruangan berisi cairan yang berfungsi untuk melindungi
otak bila terjadi benturan. Baik arachnoid dan piameter kadang-
kadang disebut sebagai leptomeninges.
Lapisan arachnoid mempunyai 2 (dua) bagian, yaitu suatu lapisan
yang berhubungan dengan duramater dan suatu sistem trabekula
yang menghubungkan lapisan tersebut dengan piamater. Ruangan
di antara trabekula membentuk ruang subarachnoid yang berisi
cairan serebrospinal dan sama sekali dipisahkan dari ruang
subdural. Pada beberapa daerah, arachnoid menembus duramater,
dengan membentuk penonjolan yang membentuk trabekula di
dalam sinus venous duramater. Bagian ini dikenal dengan vilus
arachnoidalis yang berfungsi memindahkan cairan serebrospinal
ke darah sinus venous.
c. Piamater (Lapisan sebelah dalam)
Merupakan membran yang sangat lembut dan tipis. Lapisan ini
melekat pada kortek serebri. Piamater mengandung sedikit
serabut kolagen dan membungkus seluruh permukaan sistem saraf
pusat dan vaskula besar yang menembus otak. Cairan serebro
spinal bersirkulasi diantara arachnoid dan piameter dalam ruang

15
subarahnoid. Perdarahan di tempat ini akibat pecahnya aneurysma
intra cranial.

D. OTAK
Otak merupakan suatu organ tubuh yang sangat penting karena
merupakan pusat dari semua organ tubuh, bagian dari saraf sentral
yang terletak di dalam rongga tengkorak (kranium) yang dibungkus
oleh selaput otak yang kuat. Otak terdiri dari otak besar (cerebrum),
otak kecil (cerebellum), dan batang otak (Trunkus serebri). Besar otak
orang dewasa kira-kira 1300 gram, 7/8 bagian berat terdiri dari otak
besar

Gambar 4. Cerebrum dan Cerebellum

a. Otak besar (cerebrum)


Otak besar adalah bagian terbesar dari otak dan terdiri dari dua
hemispherium cerebri yang dihubungkan oleh massa substansia
alba yang disebut corpus callosum. Setiap hemisfer terbentang
dari os frontale sampai ke os occipitale, diatas fossa cranii
anterior, media, dan posterior, diatas tentorium cerebelli.
Hemisfer dipisahkan oleh sebuah celah dalam, yaitu fossa
longitudinalis cerebri, tempat menonjolnya falx cerebri.

16
Otak mempunyai 2 permukaan, permukaan atas dan permukaan
bawah. Kedua lapisan ini dilapisi oleh lapisan kelabu (substansia
grisea) yaitu pada bagian korteks serebral dan substansia alba
yang terdapat pada bagian dalam yang mengandung serabut saraf.
Fungsi otak besar yaitu sebagai pusat berpikir (kepandaian),
kecerdasan dan kehendak. Selain itu otak besar juga
mengendalikan semua kegiatan yang disadari seperti bergerak,
mendengar, melihat, berbicara.
b. Otak kecil (cerebellum)
Otak kecil terletak dibawah otak besar. Terdiri dari dua belahan
yang dihubungkan oleh jembatan varol, yang menyampaikan
rangsangan pada kedua belahan dan menyampaikan rangsangan
dari bagian lain. Fungsi otak kecil adalah untuk mengatur
keseimbangan tubuh serta mengkoordinasikan kerja otot ketika
bergerak.
c. Batang Otak
Batang otak terdiri dari :
1. Diensefalon
Bagian batang otak paling atas terdapat diantara serebellum
dengan mesensefalon, kumpulan dari sel saraf yang terdapat
dibagian depan lobus temporalis terdapat kapsula interna
dengan sudut menghadap kesamping. Diensefalon ini berperan
dalam proses vasokonstriksi (memperkecil pembuluh darah),
respiratorik (membantu proses pernafasan), mengontrol
kegiatan refleks, dan membantu pekerjaan jantung.
2. Mesensefalon
Atap dari mesensefalon terdiri dari empat bagian yang
menonjol ke atas, dua di sebelah atas disebut korpus
kuadrigeminus superior dan dua disebelah bawah disebut
korpus kuadrigeminus inferior. Mesensefalon ini berfungsi

17
sebagai pusat pergerakan mata, mengangkat kelopak mata, dan
memutar mata.

3. Pons varoli
Pons varoli merupakan bagian tengah batang otak dan arena itu
memiliki jalur lintas naik dan turun seperti otak tengah. Selain
itu terdapat banyak serabut yang berjalan menyilang
menghubungkan kedua lobus cerebellum dan menghubungkan
cerebellum dengan korteks serebri.
4. Medula Oblongata
Medula oblongata merupakan bagian dari batang otak yang
paling bawah yang menghubungkan pons varoli dengan
medulla spinalis. Medulla oblongata memiliki fungsi yang
sama dengan diensefalon.

E. CAIRAN SEREBROSPINAL
Cairan serebrospinal adalah hasil sekresi plexus choroideus. Cairan ini
bersifat alkali, bening mirip plasma dengan tekanannya 60-140
mmH2O. Sirkulasi cairan serebrospinal yaitu cairan ini disalurkan oleh
plexus choroideus ke dalam ventrikel-ventrikel yang ada di dalam
otak. Cairan itu masuk ke dalam kanalis sentralis sumsum tulang
belakang dan juga ke dalam ruang subaraknoid melalui celah-celah
yang terdapat pada ventrikel IV. Setelah itu cairan ini dapat melintasi
ruangan di atas seluruh permukaan otak dan sumsum tulang belakang
hingga akhirnya kembali ke sirkulasi vena melalui granulasi araknoid
pada sinus sagitalis superior. Oleh karena susunan ini maka bagian
saraf otak dan sumsum tulang belakang yang sangat halus terletak
diantara dua lapisan cairan. Dengan adanya kedua bantalan air ini
maka sistem persarafan terlindungi dengan baik. Cairan serebrospinal
ini berfungsi sebagai buffer, melindungi otak dan sumsum tulang

18
belakang dan menghantarkan makanan ke jaringan sistem persarafan
pusat.

Tekanan intrakranial (TIK) dipengaruhi oleh volume darah


intrakranial, cairan secebrospinal dan parenkim otak. Dalam keadaan
normal TIK orang dewasa dalam posisi terlentang sama dengan
tekanan CSS yang diperoleh dari lumbal pungsi yaitu 4 10 mmHg.
Kenaikan TIK dapat menurunkan perfusi otak dan menyebabkan atau
memperberat iskemia. Prognosis yang buruk terjadi pada penderita
dengan TIK lebih dari 20 mmHg, terutama bila menetap. Pada saat
cedera, segera terjadi massa seperti gumpalan darah dapat terus
bertambah sementara TIK masih dalam keadaan normal. Saat
pengaliran CSS dan darah intravaskuler mencapai titik dekompensasi
maka TIK secara cepat akan meningkat. Sebuah konsep sederhana
dapat menerangkan tentang dinamika TIK. Konsep utamanya adalah
bahwa volume intrakranial harus selalu konstan, konsep ini dikenal
dengan Doktrin Monro-Kellie. Otak memperoleh suplai darah yang
besar yaitu sekitar 800ml/min atau 16% dari cardiac output, untuk
menyuplai oksigen dan glukosa yang cukup. Aliran darah otak (ADO)
normal ke dalam otak pada orang dewasa antara 50-55 ml per 100
gram jaringan otak per menit. Pada anak, ADO bisa lebih besar
tergantung pada usainya. ADO dapat menurun 50% dalam 6-12 jam
pertama sejak cedera pada keadaan cedera otak berat dan koma. ADO
akan meningkat dalam 2-3 hari berikutnya, tetapi pada penderita yang
tetap koma ADO tetap di bawah normal sampai beberapa hari atau
minggu setelah cedera. Mempertahankan tekanan perfusi otak/TPO
(MAP-TIK) pada level 60-70 mmHg sangat direkomendasikan untuk
meningkatkan ADO.

19
4. Kelainan pada CT- Scan Kepala
4.1 Anomali
4.1.1 Hidrosefalus Kongenital
Hidrosefalus adalah suatu keadaan dimana terjadi penambahan volume
dari cairan serebrospinal(CSS) di dalam ruangan ventrikel dan ruangan
sub arakhnoid. Keadaan ini disebabkan olehkarena terdapat produksi
cairan serebrospinal yang berlebihan, obstruksi jalur cairancerebrospinal
maupun gangguan absorpsi cairan serebrospinal.
Ada dua jenis hidrosefalus yaitu hidrosefalus nonkomunikans dan
hidrosefalus komunikans.
Hidrosefalus nonkomunikans/hidrosefalus obstruktif merupakan
masalah bedah saraf pediatrik yang paling sering ditemukan dan
biasanya mulai timbul segera setelah lahir, hidrosefalus obstruktif
biasanya disebabkan oleh kelainan kongenital. Disebabkan
stenosis aquaductus / foramen-foramen magendie dan luschka
serta anomali struktur fossa cerebri posterior.
Hidrosefalus komunikans dimana aliran cairan dari sistem
ventrikel ke ruang sub arakhnoid tidak mengalami sumbatan,
biasanya terjadi karena lebih banyak produksi CSS dibanding
direabsorpsi.

Gambar 3. Hidrosefalus dengan dilatasi ventrikel lateralis dan ventrikel III

20
4.1.2 Agenesis Korpus Callosum
Agenesis Korpus Callosum adalah suatu kondisi yang ditandai dengan
kegagalan berkembang sebagian atau seluruh bagian korpus kalosum saat
masih dalam tahap embrio. Biasanya disebabkan oleh trauma trisemester I
graviditas.

Gambar 4. Agenesis Korpus Callosum dengan genesis corpus callosum,


agenesis septum pellucidum

21
4.2 TRAUMA
1.2.1. 4.2.1 Gambaran CT-Scan pada Trauma Kepala
A. Fraktur Tulang Kepala (Fraktur Basis Cranii)
Fraktur pada dasar tengkorak seringkali sukar dilihat. Fraktur dasar
tengkorak (basis kranii) biasanya memerlukan pemeriksaan CT Scan
dengan teknik Jendela Tulang (bone window) untuk
mengidentifikasi garis frakturnya. Fraktur dasar tengkorak yang
melintang kanalis karotikus dapat mencederai arteri karotis (diseksi,
pseuoaneurisma ataupun trombosis) perlu dipertimbangkan untuk
dilakukan pemeriksaan angiography cerebral.

Gambar 5. Non-depressed Fracture dan Depressed Fracture

Tanda suspek fraktur basis cranii:


Brill hematoma / racoons eyes / hematom periorbita
Battles sign / Hematom retroauricula
Otorrhea / Rhinorrea

B. Perdarahan Epidural
Hematoma epidural didefinisikan sebagai perdarahan ke dalam ruang
antara duramater, yang tidak dapat dipisahkan dari periosteum
tengkorak dan tulang yang berdekatan. Hematoma epidural biasanya
dapat dibedakan dari hematoma subdural dengan bentuk bikonveks

22
dibandingkan dengan crescent-shape dari hematoma subdural. Selain
itu, tidak seperti hematoma subdural, hematoma epidural biasanya
tidak melewati sutura. Hematoma epidural sangat sulit dibedakan
dengan hematoma subdural jika ukurannya kecil. Dengan bentuk
bikonveks yang khas,elips, gambaran CT scan pada hematoma
epidural tergantung pada sumber perdarahan, waktu berlalu sejak
cedera, dan tingkat keparahan perdarahan. Karena dibutuhkan
diagnosis yang akurat dan perawatan yang cepat, diperlukan
pemeriksaan CT scan dengan cepat dan intervensi bedah saraf

Gambar 6. Perdarahan Epidural

Gambar diatas terlihat peningkatan kepadatan (hiperdens) di daerah


lenticular pada CT Scan aksial non kontras di wilayah parietalis
kanan. Ini biasanya terjadi akibat pecahnya arteri meningeal media.

C. Perdarahan Subdural
Sebelum CT-scan dan teknologi pencitraan magnetik (MRI),
hematoma subdural didiagnosis hanya berdasarkan efek massa, yang
digambarkan sebagai perpindahan dari pembuluh darah pada
angiogram atau sebagai kalsifikasi kelenjar hipofisis pada foto polos
kepala. Munculnya CT scan dan MRI telah menjadi pilihan diagnosik
rutin bahkan untuk perdarahan kecil.

23
Pada fase akut, hematoma subdural muncul berbentuk bulan sabit,
ketika cukup besar, hematoma subdural menyebabkan pergeseran
garis tengah. Pergeseran dari gray matter-white matter junction
merupakan tanda penting yang menunjukkan adanya lesi.

Gambar 7. Perdarahan Subdural

Jika ditemukan hematoma subdural pada CT scan, penting untuk


memeriksa adanya cedera terkait lainnya, seperti patah tulang
tengkorak, kontusio intra parenkimal, dan darah pada subaraknoid.
Adanya cedera parenkim pada pasien dengan hematoma subdural
adalah faktor yang paling penting dalam memprediksi hasil klinis
mereka.

D. Perdarahan subarakhnoid
Pada CT scan, perdarahan subaraknoid (SAH) terlihat mengisi
ruangan subaraknoid yang biasanya terlihat gelap dan terisi CSF di
sekitar otak. Rongga subaraknoid yang biasanya hitam mungkin
tampak putih di perdarahan akut. Temuan ini paling jelas terlihat
dalam rongga subaraknoid yang besar.

24
Gambar 8. Perdarahan Subarakhnoid

Ketika CT scan dilakukan beberapa hari atau minggu setelah


perdarahan awal, temuan akan tampak lebih halus. Gambaran putih
darah dan bekuan cenderung menurun, dan tampak sebagai abu-abu.
Sebagai tambahan dalam mendeteksi SAH, CT scan berguna untuk
melokalisir sumber perdarahan.

E. Perdarahan Intracerebral

Perdarahan intraserebral biasanya disebabkan oleh trauma terhadap


pembuluh darah, timbul hematoma intraparenkim dalam waktu -6
jam setelah terjadinya trauma. Hematoma ini bisa timbul pada area
kontralateral trauma. Pada CT scan sesudah beberapa jam akan
tampak daerah hematoma (hiperdens), dengan tepi yang tidak rata.

25
Gambar 9. Perdarahan Intracerebral

F. Perdarahan Intraventricular
Perdarahan intraventrikular merupakan penumpukan darah pada
ventrikel otak. Perdarahan intraventrikular selalu timbul apabila
terjadi perdarahan intraserebral. Pada perdarahan intraventrikular akan
terlihat peningkatan densitas dari gambaran CT scan kepala. Jika
terlambat ditangani, perdarahan intraventrikular akan menyebabkan
terjadinya ventrikulomegali pada sistem ventrikel (hidrosefalus) dari
gambaran CT scan.

Gambar 10. Perdarahan Intraventrikular


5. KELAINAN CEREBROVASKULAR
5.1 STROKE
5.1.1 HEMORAGIC INTRASEREBRAL
Stroke hemoragik adalah stroke karena pecahnya pembuluh darah
sehingga menghambat aliran darah yang normal dan darah merembes ke
dalam suatu daerah otak dan merusaknya. Hampir 70% kasus stroke
hemoragik diderita oleh penderita hipertensi.

26
Gambar 11. Hemoragic Intraserebral hematoma menjadi isodens atau
hipodens, ventrikel sistem dan sulcus akan melebar akibat atrofi.

5.1.2 INFARK CEREBRI


Infark Cerebri adalah Pembentukan daerah nekrosis di otak yang
disebabkan oleh iskemia yang berkepanjangan.
Infark cerebri dapat disebabkan oleh :

1. Trombosis otak
2. Emboli otak
Infark Hiperakut
Pada kasus stroke iskemik hiperakut (0-6 jam setelah onset), CT scan biasanya
tidak sensitif mengidentifikasi infark serebri karena terlihat normal pada
>50% pasien.
Gambaran pendangkalan sulcus serebri (sulcal effacement)
Gambaran ini tampak akibat adanya edema difus di hemisfer serebri.

27
Gambar 12. Infark Cerebri Hiperakut
Tanda hiperdensitas arteri serebri media
Gambaran ekstraparenkimal dapat ditemukan paling cepat 90 menit setelah
gejala timbul, yaitu gambaran hiperdensitas pada pembuluh darah besar, yang
biasanya terlihat pada cabang proksimal arteri serebri media, walaupun
sebenarnya bisa didapatkan pada semua arteri. Peningkatan densitas ini
diduga akibat melambatnya aliran pembuluh darah lokal karena adanya
trombus intravaskular atau menggambarkan secara langsung trombus yang
menyumbat itu sendiri.

Gambar 13. Infark Cerebri Hiperakut

28
Tanda Sylvian dot menggambarkan adanya oklusi distal arteri serebri media
yang tampak sebagai titik hiperdens pada fisura Sylvii.

Gambar 14. Infark Cerebri Hiperakut

Infark Subakut dan Kronis


Selama subakut (1-7 hari), edema meluas & didapatkan efek massa yang
menyebabkan pergeseran jaringan infark ke lateral dan vertikal. Hal ini terjadi
pada infark yang melibatkan pembuluh darah besar. Infark kronis ditandai dengan
hipodensitas dan berkurangnya efek massa. Densitas infark = cairan serebrospinal

29
6. TUMOR
Tumor otak adalah suatu lesi ekspansif yang bersifat jinak (benigna) atau
pun ganas (maligna), membentuk massa dalam ruang tengkorak kepala (intra
cranial) atau di sumsum tulang belakang (medulla spinalis). Neoplasma pada
jaringan otak dan selaputnya dapat berupa tumor primer maupun metastase.
Apabila sel-sel tumor berasal dari jaringan otak itu sendiri, disebut tumor otak
primer dan bila berasal dari organ-organ lain (metastase) seperti ; kanker paru,
payudara, prostate, ginjal dan lain-lain, disebut tumor otak sekunder.
Klasifikasi tumor otak menurut lokasi, yaitu:
1.Supratentorial, yaituTumor yang terletak di atas tentorium serebelli
2.Infratentorial : terletak dibawah tentorium serebelli dalam fossa Kranni
Posterior

Gambar 16. Gambaran letak supratentorial dan infratentorial


6.1 ASTROSITOMA
a) ASTROSITOMA
Astrositoma adalah glioma yang paling umum, terhitung sekitar setengah dari
seluruh otak primer dan tumor sumsum tulang belakang.
Astrositomasberkembang dari sel glia yang berbentuk seperti bintang disebut
astrosit, bagian dari jaringan yang mendukung otak. Tampak sebagai area
hipodens,batas agak tegas,dengan edema ringan dan efek massa.

30
Gambar 17. ASTROSITOMA

b) GLIOBLASTOMA MULTIFORM
Glioblastoma Multiforme, yaitu tumor otak yang tumbuh cepat. Multiforme
glioblastoma berkembang dari sel glial yang berbentuk seperti bintang yang
mendukung sel saraf. . Hal ini juga disebut sebagai glioblastoma atau GBM.
Glioblastoma multiforme (GBM) adalah yang paling umum dan paling ganas
dari tumor glia. Banyak pada usia 45 55 tahun dengan prognosis yang buruk.
Tumor ini memiliki kecepatan pertumbuhan yang sangat tinggi.

Gambar 18. GLIOBALASTOMA MULTIFORM

31
c) EPENDIMOMA
Ependimoma, berasal dari sel ependim yang ada di dinding ventrikel, dapat
juga terjadi di Medulla spinalis. Bisa terdapat pada semua umur, terutama pada
anak-anak dan dewasa. Ependimoma adalah tumor ganas yang jarang terjadi
dan berasal dari hubungan erat pada ependim yang menutupi ventrikel, paling
sering terjadi pada fossa posterior, tetapi dapat terjadi dari setiap bagian fossa
ventrikularis. Tumor ini lebih sering terjadi pada anak maupun orang dewasa.
Mikroskopik
Dikenal tiga jenis :
Jenis Epitelial :
terdiri atas sel-sel yang membentuk roset sejati (Roset Flexner
Wintersteiner), kadang-kadang ditemukan rongga-rongga yang dilapisi
oleh sel kuboid atau torak yang menyerupai ventrikel blepharoplas dapat
dilihat dengan pengecatan PTAH (Rubinstein), jenis ini merupakan
gambaran khas yang sering dijumpai.
Jenis Papiler :
Sel-sel berstruktur papiler dengan stromamyxomatous (myxopapillary
ependymoma). Bentuk lain pa-pilloma plexus choroideus.
Jenis Seluler :
Tumor dibentuk sel-sel ependim mengeliling pembuluh darah, atau masa
tanpa gambaran khas

Gambar 19. EPENDYMOMA pada supratentorial

32
d) OLIGODENDROGLIOMA
Oligodendroglioma merupakan lesi yang tumbuh lambat menyerupai
astrositoma, tetapi terdiri dari sel-sel oligodendroglia. Tumor relatif avaskular
dan cenderung mengalami kalsifikasi; biasanya dijumpai pada hemisfer otak
dewasa muda.

Gambar 20. OLIGODENDROGLIOMA


Kalsifikasi pada daerah lesi sangat sering ditemukan
Pada plain CT tampak area hiperdens oleh kalsifikasi dikelilingi area
hipodens.Kebanyakan tidak tampak enhancement pada pemberian kontras.

e) MEDULLOBLASTOMA
Medulloblastoma adalah tumor cerebellum yang bertumbuh sangat cepat pada
bagian, bawah belakang otak. Juga disebut "fossa, posterior" di mana daerah
ini mengontrol keseimbangan, postur, dan fungsi komplek mototrik seperti
berbicara dan keseimbangan. Tumor terletak di otak kecil yang disebut sebagai
"Infratentorial" tumor. Itu berarti tumor terletak di bawah "tentorium. Paling
sering pada anak anak.

33
Gambar 21. MEDULLABLASTOMA
Pada ct scan non kontras, medullablastoma memiliki densitas homogeny
yang lebih besar di bandingkan otak normal.
Insidens tinggi pada anak-anak
Banyak terdapat difossa posterior bagian medial berupa area
hiperdens/isodens bentuk noduler,batas tegas.
f) MENINGIOMA
Meningioma berasal dari sel-sel yang terdapat pada lapisan meningeal serta
derivat-derivatnya.Tumbuhnva meningioma kebanyakan di tempat yang
ditemukan banyak villi arachnoid. Meningioma bersifat jinak karena
tumbuhnya sangat lambat dan otak mampu untuk menerima adanya
meningioma, sering tumbuh sampai cukup besar baru memberikan gejala.
Banyak terdapat pada wanita antara 30 50 tahun.

34
Gambar 22. MENINGIOMA
Insidens tinggi terutama pada orang dewasa
Pada plain CT tampak area hiperdens homogen berbatas tegas, tepi smooth
melekat pada dura,kadang disertai kalsifikasi dan destruksi tulang.
G) METASTASE TUMOR

Gambar 23 METASTASE TUMOR PAYUDARA


Bisa soliter atau multiple

35
7. INFEKSI
7.1 MENINGITIS BAKTERIA
Meningitis adalah inflamasi yang terjadi pada meninges, suatu
membran yang menyelimuti otak dan spinal cord (sumsum tulang
belakang). Meningitis dapat terjadi karena infeksi bakteri, virus, fungi.
Meningitis bakteri juga dapat muncul akibat infeksi telinga, gigi, atau
paraspinal
Pada meningitis fase akut, Pemeriksaan CT-Scan biasanya norma. Lesi
pada parenkim tidak mudah terlihat pada gambaran CT-Scan, kecuali pada
iskemik yang disebankan oleh vaskulitis sekunder yang merupakan
komplikasi pada lebih dari 20% kasus (Gambar 1). CT-Scan penting dan
cukup untuk mengetahui kelainan pada basis cranii yang mungkin sebagai
penyebab dan menentukan penanganan yang cepat dan konsultasi bedah
jika diperlukan. Sumber infeksi yang potensial diantaranya adalah fraktur
sinus paranasal dan os petrosa maupun infeksi telinga bagian dalam dan
mastoitis.

Gambar 24. MENINGITIS BAKTERI

36
7.2 ENCEPHALITIS
Ensefalitis adalah infeksi jaringan otak oleh berbagai macam mikro-
organisme. Ensefalitis ditegakkan melalui pemeriksaan mikroskopis
jaringan otak. Dalam prakteknya di klinik, diagnosis sering dibuat
berdasarkan manifestasi-manifestasi neurologis dan temuan-temuan
epidemiologis, tanpa bahan histologis.

Gambar 25 ENCEPHALITIS

7.3 ABSES SEREBRI


Abses otak adalah suatu proses infeksi dengan pernanahan yang terlokalisir
diantara jaringan otak yang disebabkan oleh berbagai macam bakteri, fungus.

Gambar 26 ABSES SEREBRI

Disebabkan terutama oleh penyebaran infeksi telinga tengah mastoiditis.


Bisa soliter atau multipel.
Pada CT tampak area hipodens

37
Pada CT kontras tampak enhancement berbentuk cincin disekeliling
daerah hipodens diluar daerah enhancement tampak edema perifokal.
8. DEGENERATIF
8.1 ATROFI SEREBRI
Atrofi otak menyusut dari otak yang disebabkan oleh hilangnya sel,
yangdisebut neuron. Dua jenis atrofi otak dapat terjadi; umum dan fokus.
Atrofi umum mengacu pada hilangnya neuron seluruh seluruh otak, dan
atrofi fokus mengacu pada hilangnya neuron di daerah otak tertentu.

Gambar 27 ATROFI SEREBRI

Pada CT tampak jarak antara tabula interna dan tepi luar korteks serebri
menjadi lebih lebar.
Sulkus, fisura lateralis sylvii, sistem ventrikel dan sisterna basalis juga
melebar.

38
1. Aliah A, Kuswara F F, Limoa A, Wuysang G. Gambaran umum tentang
gangguan peredaran darah otak dalam Kapita selekta neurology cetakan
keenam editor Harsono. Gadjah Mada university press, Yogyakarta. 2012.
Hal: 81-115.
2. Glioblastoma multiform . Di akses tanggal 27 Agustus 2017 di
http://www.physio-pedia.com/Glioblastoma_Multiforme
3. Hansen J.T, Netter H.s, Netters Clinical Anatomy 2nd Edition. Sauders
Elsevier 2010. Head and Neck.Page 349-377.
4. Hassmann KA. Stroke Ischemic. [Online]. 2010 May 1st available from:
http://emedicine.medscape.com/article/793904-followup
5. Kennedy.B . Astrositoma. Akses tanggal 28 Agustus 2017 di
http://emedicine.medscape.com/article/283453-overview#a0101
Yogyakarta
6. Kestle JR, Cambrin-Riva J, Wellons JC, Kulkarni AV, et al. A
standardized protocol to reduce cerebrospinal fluid shunt infection: The
Hydrocephalus Clinical Research Network Quality Improvement
Initiative. J neurosurg [Internet]. Jul 2011 [cited 2017 AUG 28]; 8(1): 22-
29. Available from: http://thejns.org/doi/full/10.3171/2011.4.PEDS10551
7. Mardjono, Mahar. Mekanisme gangguan vaskuler susunan saraf dalam
Neurologi klinis dasar edisi Kesebelas. Dian Rakyat. 2006. Hal: 270-93.
8. Melo JR, de Melo EN, de Vasconcellos AG, Pacheco P. Congenital
hydrocephalus in the northeast of Brazil: epidemiological aspects, prenatal
diagnosis, and treatment. Child Nerv Syst [internet]. 2013 [cited 2017
AUG28]. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23609898
9. National Institute of Neurosurgical Disorders and Stroke [internet].
Bethesda: National Institutes of Health; 2013 [cited 2017 AUG 28].
Availablefrom:
http://www.ninds.nih.gov/disorders/hydrocephalus/hydrocephalus.htm
10. Price, A. Sylvia. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit edisi
4. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2011 Hal: 966-71.

39
11. Yadav YR, Parihar V, Pande S, Namdev H, Agarwal M. Endoscopic third
ventriculostomy. J Neurosci Rural Pract [Internet]. 2012 May-Aug [cited
2017 AUG 28]; 3(2): 163173. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3409989/

40

Anda mungkin juga menyukai